Laporan PKL Dwiko HB 230210080058 Fix

download Laporan PKL Dwiko HB 230210080058 Fix

of 38

  • date post

    14-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    650
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Laporan PKL Dwiko HB 230210080058 Fix

MONITORING EKOSISTEM LAMUN MENGGUNAKAN METODE PERMANENT SAMPLE PLOTS DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

DWIKO HANDIKO BOWO 230210080058

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTASPERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JATINANGOR

2011

MONITORING EKOSISTEM LAMUN MENGGUNAKAN METODE PERMANENT SAMPLE PLOTS DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG diajukan untuk menempuh Ujian PKL DWIKO HANDIKO BOWO 230210080058

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTASPERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JATINANGOR

2011

JUDUL

: MONITORING EKOSISTEM LAMUN MENGGUNAKAN METODE PERMANENT SAMPLE PLOTS DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU

PENULIS NPM

: DWIKO HANDIKO BOWO : 230210080058

Jatinangor, 16 Februari 2011 Menyetujui Dosen Pembimbing,

Nama lengkap dosen pembimbing dan gelarnya NIP (terbaru)

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik laporan praktik kerja lapang ini. Serta tidak lupa shalawat dan salam penulis hanturkan kepada Rasulullah SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi kita semua. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Kepala Balai Taman Naional Laut Kepulauan Seribu beserta Staff khususnya kepada Bpk. Muhammad Mumin yang telah memberikan pembinaan serta pengetahuan selama menjalani Praktik Kerja Lapang di Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Pulau Pramuka dan Tim pembina praktik kerja lapangan juga kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan PKL ini. Adapun tujuan dari penulisan laporan praktik kerja lapang ini adalah sebagai salah satu persyaratan untuk menmpuh ujian praktik kerja lapang. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Penulis sadari laporan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik serta saran dari segala pihak akan penulis terima dengan senang hati sebagai pembelajaran kearah yang lebih baik.

Jatinangor, 16 Februari 2011

Dwiko Handiko Bowo 230210080058

DAFTAR ISIBab DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Tempat dan Waktu II. KEADAAN UMUM TEMPAT PKL 2.1 Lokasi 2.2 Organisasi Pengelolaan Taman Laut 2.3 Sistem Pengelolaan 2.4 Rencana Strategis Pengelolaan Taman Nasional Laut III. KEGIATAN YANG DILAKUKAN 3.1 Monitoring Ekosistem Lamun 3.2 Transplantasi Lamun Menggunakan Metode TERFs 3.3 Konservasi Mangrove 3.4 Pengecekan Karang Transplantasi 3.5 Konservasi Penyu Sisik 3.6 Monitoring Transplantasi Karang IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran DAFTAR ACUAN LAMPIRAN Halaman

i

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Data Koordinat PSP Lamun di SPTP Wilayah III P. Pramuka 21 2. Data Pengamatan PSPL P. Pramuka no.1 ... 25 3. Data Pengamatan PSPL P. Pramuka no.2 ... 26 4. Data Pengamatan PSPL P. Pramuka no.3 .. 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Peta Kepulauan Seribu.. 4 2. Pengamatan PSP Lamun Pulau Pramuka 20 3. Identifikasi Jenis Lamun Pulau Pramuka .... 22 4. Pengamatan Menggunakan Alat Snorkel . 23 5. Pengamatan Persentase Tutupan Lamun 24 6. Tali yang Terbuat Dari Tissue 29 7. Kotak Frame .... 30 8. Bibit Lamun yang Diikat Dalam Kotak Frame 30

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Judul

Halaman34 35

1. Contoh Transek Inventarisasi Lamun di Pulau Pramuka. 2. Permanent Sample Plot Ekosistem Lamun ..

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapang merupakan suatu kegiatan di luar fakultas yang dilakukan mahasiswa untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan. Praktik kerja lapang melatih mahasiswa untuk lebih berpartisipasi aktif dalam suatu kegiatan. Tujuan dari PKL adalah agar mahasiswa memperoleh ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di bangku kuliah dan memiliki wawasan yang luas dibidang disiplin ilmu yang dipelajarinya sehingga mempunyai banyak peluang dalam mencari materi untuk tugas akhirnya (skripsi), atau lebih jauh lagi mengetahui peluang untuk tempat bekerja nanti yang sesuai dengan minatnya. Diharapkan dalam menjalani praktik kerja lapang mahasiswa mendapatkan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Lamun di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu tumbuh dalam kelompok rumpun yang kecil-kecil dan tersebar tidak merata, namun kadang juga membentuk suatu padang yang luas dengan jenis homogen ataupun heterogen. Hal ini terkait dengan kondisi fisik substrat dasar perairan Kepulauan Seribu yang tidak stabil karena pengaruh arus dan gelombang. Di seluruh dunia telah teridentifikasi 60 jenis lamun, 20 jenis diantaranya ditemukan di perairan di Asia Tenggara dan terdapat 12 jenis lamun (7 genus) yang tumbuh di perairan Indonesia (Lee Long et al. 2000; Hutomo et al., 1988; Fortes, 1988 dalam Dahuri, 2003). Dari 12 jenis lamun yang dapat tumbuh di perairan Indonesia, 7 (tujuh) jenis diantaranya dapat ditemukan di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS, 2005).

Kegiatan penanaman dan pemulihan padang lamun di Kepulauan Seribu belum banyak dilakukan karena keberadaan lamun ini masih relatif kurang bermanfaat langsung bagi masyarakat Kepulauan Seribu. Fungsi ekologi

ekosistem lamun di perairan laut sangat potensial sebagai produktifitas primer

dan sumber makanan biota laut kecil dan biota tertentu, seperti ikan duyung (Dugong sp.), biota omnivora, dan biota pemakan hijauan. Untuk itu perlu adanya perhatian terhadap keberadaan ekosistem lamun di dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, karena ekosistem ini merupakan satu kesatuan fungsi ekologis dengan ekosistem terumbu karang dan mangrove. Kegiatan monitoring ekosistem lamun dapat memberikan suatu gambaran umum tentang pertumbuhan dan keberadaan lamun di suatu tempat. Monitoring ekosistem lamun menggunakan metode Permanent Sample Plots merupakan salah satu metode yang diterapkan di perairan pulau Pramuka oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu.

1.2 Tujuan Praktik kerja lapang di bidang lamun ini bertujuan mandapatkan ilmu pengetahuan serta pengalaman di bidang lamun dan juga meteri dalam menyusun laporan akhir (skripsi). Peluang kerja serta minat bidang ilmu yang akan di lanjutkan semoga di dapat dalam praktik kerja lapang ini.

1.3 Tempat dan Waktu Praktik kerja lapang ini bertempat di Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Pulau Pramuka pada tanggal 28 Juni 2010 sampai tanggal 28 Juli 2010.

BAB II KEADAAN UMUM TEMPAT PKL 2.1 LOKASI Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKpS) merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Indonesia terletak di utara Jakarta yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kawasan TNLKpS meliputi tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pulau Panggang, Keluahan Pulau Kelapa dan Kelurahan Pulau Harapan. Kawasan ini terbentang seluas 107.489 ha (SK. Menteri Kehutanan Nomor 6310/Kpts-II/2002) yang secara geografis terletak pada 524' - 545' LS dan 10625' - 106 40' BT. Pengelolaan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : 03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana teknis Taman Nasional). Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seluas 107.489 hektar, merupakan kawasan perairan laut sampai batas pasang tertinggi, pada geografis antara 524' - 545' LS dan 10625' - 10640' BT, termasuk kawasan darat Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran Timur seluas 39,50 hektar. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu tersusun oleh Ekosistem PulauPulau Sangat Kecil dan Perairan Laut Dangkal, yang terdiri dari Gugus Kepulauan dengan 78 pulau sangat kecil, 86 Gosong Pulau dan hamparan laut dangkal pasir karang pulau sekitar 2.136 hektar (Reef flat 1.994 ha, Laguna 119 ha, Selat 18 ha dan Teluk 5 ha), terumbu karang tipe fringing reef, Mangrove dan Lamun bermedia tumbuh sangat miskin hara/lumpur, dan kedalaman laut dangkal sekitar 20-40 m. Dari jumlah pulau yang berada di dalam kawasan TNKpS yang berjumlah 78 pulau, diantaranya 20 pulau sebagai pulau wisata, 6 pulau sebagai hunian penduduk dan sisanya dikelola perorangan atau badan usaha.

Gambar 1 : Peta Kepulaun Seribu

2.2 ORGANISASI PENGELOLAAN TAMAN LAUT 2.2.1 Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS) Balai TNKpS adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang berada dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Tugas Balai Taman Nasional adalah melaksanakan pengelolaan ekosistem kawasan taman nasional dalam rangka konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Fungsi dalam pelaksanaan tugas Balai Taman Nasional adalah : 1. Penyusunan rencana, program dan evaluasi pengelolaan taman nasional. 2. 3. 4. Pengelolaan taman nasional. Pengawetan dan pemanfaatan secara lestari taman nasional. Perlindungan, pengamanan dan penanggulangan kebakaran taman nasional. 5. Promosi dan informasi, bina wisata dan cinta alam, serta penyuluhan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 6. 7. Kerjasama pengelolaan taman nasional. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.2.2 SDM Penegak Hukum Sesuai Pasal 51 Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, terdapat pejabat kehutanan yang diberikan kewenangan KEPOLISIAN

KHUSUS, yaitu POLHUT TNKpS dan Struktural Balai TNKpS, dengan kewenangan untuk : 1. Mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan taman nasional atau wilayah hukumnya. 2. Memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan/laut di dalam kawasan tam