laporan pemicu 4

download laporan pemicu 4

of 24

  • date post

    24-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    118
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of laporan pemicu 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Klarifikasi dan Definisi 1. Nyeri Suatu sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan/ berpotensial menimbulkan kerusakan jaringan. 2. Infeksi Proses inflasi oleh mikroorganisme dan berproliferasidalam tubuh dan menyebabkan sakit. 3. Dosis Kadar obat yang mempengaruhi suatu organisme secara biologis untuk tujuan terapi.

Kata kunci: 1. Laki-laki 40 tahun 2. Luka infeksi 3. Nyeri pada otot tungkai 1 tahun yang lalu 4. Penanganan obat sendiri 5. Dosisnya ditingkatkan 6. Ketergantungan obat 7. Pusing, mual dan nyeri berlebihan.

1.2.Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh konsumsi obat yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama terhadap sistem saraf dan respon nyeri akibat luka infeksi?

1.3.Analisis Masalah

Neuroregenerasi

Tidak diberi obat

Patogenesis infeksi

Laki-laki 40 tahun

Obat analgesik dengan peningkatan dosis

Mediator jenis fisiologi gated control theoryluka terinfeksi

nyeri

hilang

kembali

sembuh

efek samping

Ketergantungan: 1. faktor 2. penganggulangan 3. mekanisme

pengobatan

farmakologik

nonfarmakologik

farmakokinetik

farmakodinamik

1.4. Hipotesis Konsumsi obat yang terus menerus dalam jangka waktu lama mengakibatkan neuron dan neurotransmitter beradaptasi terhadap kondisi tersebut sehingga menyebabkan respon nyeri pada luka infeksi dapat menurun.

1.5. Pertanyaan Diskusi 1. Infeksi a. Patogenesis infeksi b. Reaksi imunologik 2. Nyeri a. Klasifikasi b. Proses nyeri c. Reseptor d. Mediator e. Gated control theory 3. Pengobatan nyeri a. Farmakologik b. Nonfarmakologik 4. Apakah usia mempengaruhi lamanya keluhan nyeri?

5. Pengaruh konsumsi obat dalam jangka waktu yang lama serta peningkatan dosisnya terhadap sistem saraf dan respon nyeri. 6. Prinsip kerja obat adiktif. 7. Proses neuroregenerasi pada saraf yang mengalami kerusakan.

BAB II PEMBAHASAN 1. Infeksi a. Patogenesis infeksi Tahapan dalam patogenesis masuknya virus ke dalam tubuh inang pembawa sering terjadi melalui selaput lendir saluran napas dan dapat pula terjadi melalui selaput lendir pencernaan atau saluran kemih, namun terkadang dapat pula akibat suntikan langsung virus ke dalam aliran darah melalui suntikan atau gigitan serangga Sedangkan tahapan patogenesis bakteri: 1. Bakteri masuk ke dalam tubuh 2. Adhesi-kolonisasi 3. Invasi 4. Kehidupan intraselular 5. Perusakan organ/ jaringan Pada keadaan normal, otak dan medula spinalis dilindungi dari lingkunga eksternal oleh tulang penutup, jaringan ikat, dan kulit. Agen infeksius dapat memperoleh akses ke sistem saraf melalui salah satu dari beberapa rute.rute tersebut antara lain: 1. Hematogen 2. Implantasi langsung saat trauma atau pada malformasi kongenital SSP (misal, defek neuralis tube)

3. Perluasanj lokal infeksi di struktur sekitar (misal telinga tengah dan sinus) 4. Invasi melaluisaraf perifer seperti pada kasus rabies. Terjadinya infeksi di dalam SSP dipengaruhi oleh paling sedikit dua faktor, yang bekerja sendiri-sendiri ataupun bersamaan yaitu: 1. Sifat agen infeksius 2. Integritas pertahanan normla penjamu. Adapun contohnya pada infeksi sistem saraf antara lain 1. Infeksi epidural dan subdural 2. Leptomeningitis a) Leptomeningitis akut (purulen) b) Meningitis limfositik (virus) akut c) Menignitis kronik 3. Infeksi parenkim (termasuk ensefalitis) a) Abses otak b) Tuberkulosis dan toksoplasmosis c) Ensefalitis virus d) Ensefalopati spongioform b. Reaksi imunologik Sistem Imun merupakan semua sel dan molekul sebagai suatu kesatuan fungsional untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam tubuh. Respon Imun merupakan Tanggapan terhadap substansi asing yang masuk ke dalam tubuh. 2 aktifitas yang saling mempengaruhi, yaitu: 1) Pengenalan (recognition), untuk: Mengenal dan mendeterminasi substansi asing secara spesifik Menyeleksi molekul yang bersifat imunogenik Membedakan komponen sendiri (self) dari substansi asing (nonself)

2) Tanggapan (respon), untuk: Mengerahkan bermacam-macam sel dan molekul sehingga menghasilkan reaksi yang sesuai dan tepat untuk melawan dan menetralkan substansi/organisme yang masuk. Komponen Imunitas Tubuh terdiri dari dua yaitu: 1) Imunitas natural (Innate immunity) Udah ada sejak fetus/dilahirkan Bersifat nonspesifik Berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap invansi substansi asing 2) Imunitas didapat (Acquired/adaptive immunity) Bersifat spesifik Berkembang karena diinduksi oleh intervensi substansi asing yang masuk (= antigen) Imunitas natural Resistensi Resistensi tidak berubah pada interaksi berikutnya Soluble factors Cells Lisozim, komplemen, interferon Epitel permukaan & mukosa, fagosit, sel NK Imunitas didapat Resistensi menjadi lebih baik pada infeksi berikutnya Antibodi, sitokin Limfosit T dan Limfosit B

Adapun reaksi immunologik yang terjadi saat infeksi adalah mikroorganisme yang menginfeksi pertama akan dicerna oleh lisozim yang terdapat dalam epitel di permukaan kulit dan mukosa. Lisozim merupakan zat kimia yang mampu mengurai dinding sel

mikroorganisme. Apabila mikroorganisme tidak mampu di urai oleh lisozim maka, mikroorganisme akan masuk ke jaringan tubuh sistem respon innate akan bekerja dalam melawan mikroorganisme yang masuk. Sistem innate tubuh yang bekerja adalah sel granuler sel darah putih ( neutrofil ). Neutrofil akan pergi ke jaringan terinfeksi melalui pembuluh darah. Neutrofil dapat bermarginasi melalui pembuluh darah sehingga neutrofil dapat langsung pergi ke jaringan terinfeksi. Selain neutrofil, sel yang berperan dalam sistem innate adalah makrofag.

Makrofag akan pergi ke jaringan infeksi dan memfagositosis mikroorganisme dan menghancurkannya. Apabila makrofag tidak mampu menghancurkan mikroorganisme, maka makrofag akan menghasilkan sitokin-sitokin seperti TNF-alfa dan interleukin-1. Sitokin ini berfungsi sebagai sinyal proses inflamasi dan membantu proses dilatasi pembuluh darah sehingga proses marginasi neutrofil dapat berlangsung lebih gencar. Selain itu sel NK juga berperan dalam menghancurkan sel-sel yang terinfeksi mikroorganisme melalui sistem pengenalan MHC 1. Sel yang terinfeksi biasanya akan menghasilkan MHC kelas 1, melalui inilah sel NK dapat mengenali sel terinfeksi dan menghancurkan sel itu. menterminasi Apabila sistem innate tidak mampu maka respon imun selanjutnya

mikroorganisme,

dilakukan oleh sistem imun spesifik. Mikroorganisme yang masuk melalui epitel akan diikat oleh sel dendritik untuk selanjutnya di bawa ke kelenjar getah bening dam limpa. Selain sel dendritik, makrofag juga dapat berperan dalam mengantar mikroorganisme yang tidak mampu dia hancurkan ke kelenjar getah bening dan limpa. Di kelenjar getah bening dan limpa, mikroorganisme ini akan dikenalkan pada sel T immature. Fungsi sel dendritik dan makrofag sebagai pengenal mikroorganisme terhadap sel T immature merupakan fungsi sel sebagai Antigen Presenting Cell .

Selanjutny a sel T immature akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel T

helper dan sel T sitotoksik. Sel T helper yang

memiliki banyak fungsi seperti mengaktifkan sel B yang immature agar menjadi sel plasma yang menghasilkan antibody yang spesifik untuk menghancurkan mikroorganisme, berubah menjadi sel T helper memori, dan mengaktifkan sel T sitotoksik yang immature menjadi sel T sitotoksik aktif, an sel T sitotoksik memori. Sel T sitotoksik inilah yang nantinya akan keluar dari kelenjar getah bening ke jaringan terinfeksi untuk menghancurkan sel-sel yang terinfeksi mikroorganisme(reaksi selular). Sedangkan antibody yang dihasilkan oleh sel plasma berperan untuk menghancurkan mikrooorganisme bebas yang berada di luar sel pada jaringan terinfeksi.

(Abbas, litchman. 2004. Basic immunology. edisi ke 2. Elsevier) 2. Nyeri: a. Jenis nyeri dapat dinyatakan dalam beberapa hal, seperti: berdasarkan mekanisme nyeri, berdasarkan kemunculan nyeri dan berdasarkan klasifikasi nyeri wajah. Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu 1. Nyeri akut, nyeri yang biasanya berhubungan dengan kejadian atau kondisi yang dapat dideteksi dengan mudah. Nyeri akut merupakan suatu gejala biologis yang merespon stimuli nosiseptor (reseptor rasa nyeri) karena terjadinya kerusakan jaringan tubuh akibat penyakit atau trauma. Nyeri ini biasanya berlangsung sementara, kemudian akan mereda bila terjadi penurunan intensitas stimulus pada nosiseptor dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Contoh nyeri akut ialah nyeri akibat kecelakaan atau nyeri pasca bedah. 2. Nyeri kronik, nyeri yang dapat berhubungan ataupun tidak dengan fenomena patofisiologik yang dapat diidentifikasi dengan mudah, berlangsung dalam periode yang lama dan merupakan proses dari

suatu penyakit. Nyeri kronik berhubungan dengan kelainan patologis yang telah berlangsung terus menerus atau menetap setelah terjadi penyembuhan penyakit atau trauma dan biasanya tidak terlokalisir dengan jelas. Nyeri wajah atipikal adalah salah satu nyeri kronik.

Berdasarkan mekanisme nyeri dapat diklasifikasikan dalam 3 jenis yaitu 1. Nyeri fisiologis, terjadinya nyeri oleh karena stimulasi singkat yang tidak merusak jaringan, misalnya pukulan ringan akan menimbulkan nyeri yang ringan. Ciri khas nyeri sederhana adalah terdapatnya korelasi positif antara kuatnya stimuli dan persepsi nyeri, seperti semakin kuat stimuli maka semakin berat nyeri yang dialami. 2. Nyeri inflamasi, terjadinya nyeri oleh karena stimuli yang sangat kuat sehingga merusak jaringan. Jaringan yang dirusak mengalami inflamasi dan menyebabkan fungsi berbagai komponen nosiseptif berubah. Jaringan yang mengalami inflamasi mengeluarkan berbagai mediator inflamasi, seperti: bradikinin, leukotrin, prostaglandin, purin dan sitokin yang dapat mengaktivasi atau mens