Laporan Pemicu 3

download Laporan Pemicu 3

of 35

  • date post

    12-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    127
  • download

    12

Embed Size (px)

description

laporan

Transcript of Laporan Pemicu 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap orang pasti mengetahui bagaimana rasa sakit, dan alasan untuk perawatan darurat endodontik adalah rasa sakit yang kadang-kadang terdapat juga pembengkakan. Diperlukan suatu pengetahuan dan keterampilan dalam beberapa aspek endodonsia karena ketidakberhasilan dalam pengaplikasiannya akan menimbulkan akibat yang serius bagi pasien. Nyeri tetap tidak akan hilang jika diagnosisnya tidak tepat atau perawatannya tidak benar, dan karenanya keadaan ini bisa memperparah keadaan. Penyebab kedaruratan seperti ini adalh kombinasi iritan yang mengiduksi inflamasi hebat di dalam pulpa dan jaringan periradikuler. Bakteri dan produk sampingnya telah diketahui merupakan salah satu elemen utama dalam kedaruratan dental. Bakteri adalah penyebab patosis jaringan pulpa dan periapeks yang penting. Iritasi pada jaringan periradikuler akan mengakibatkan inflamasi dan dilepaskannya kelompok mediator kimia yang akan mengawali inflamasi. Nyeri timbul akibat dua faktor yang terkait dengan infamasi yakni mediator kimia dan tekanan. Mediator kimia akan menyebabkan peningkatan tekanan cairan yang secara langsung akan menstimulasi reeseptor nyeri, sedangkan tekanan merupakan factor yang lebih penting.

1.2 Batasan Masalah A. Oral Biologi 1. Nyeri Klasifikasi Nyeri Akut dan Kronis Mekanisme Kualitas dan Intensitas 1. Hubungan Sakit Gigi dengan Penyakit Jantung 2. Immunopatogenesis B. Konservasi1. Etiologi dan Patogenesis

2. Diagnosis (Pemeriksaan Klinis) 3. Klasifikasi1

4. Rencana Perawatan Jenis Perawatan Triad Endodontik 5. Proses Penyembuhan 6. Evaluasi Pasca Perawatan C. Radiologi 1. Gambaran Radiografi D. Farmakologi 1. Analgesik a. b. c. 2. Antibiotik 3. Anastesi 4. Medikasi Saluran Akar E. Periodontologi1. Hubungan Oral Hygiene dengan Jaringan Periodontal dan Penyakit

Jenis Indikasi dan Kontraindikasi Mekanisme Kerja

Sistemik

2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 ORAL BIOLOGI 2.1.1 Nyeri 2.1.1.1 Klasifikasi Nyeri Akut dan Kronis Nyeri Akut Definisi : Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Dengan prediksi waktu kesembuhan kira-kira kurang dari 6 bulan. Batasan karakteristik : a. Laporan verbal dan nonverbal b. Laporan pengamatan c. Posisi pasien berhati-hati untuk menghindari nyeri d. Gerakan melindungi diri e. Tingkah laku berhati-hati f. Muka topeng g. Gangguan tidur (mata sayu, tampak lelah, pergerakan yang sulit atau kacau, menyeringai) h. Fokus pada diri sendiri i. Fokus menyempit (penurunan persepsi tentang waktu, kerusakan proses fikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) j. Aktivitas distraksi (jalan-jalan, menemui orang lain dan atau aktivitas, aktivitas yang berulang-ulang) k. Respon otonomi (diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil). l. Perubahan respon otonomi pada tonus otot (tampak dari lemah ke kaku) m. Tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang, berkeluh kesah) n. Perubahan nafsu makan minum Nyeri Kronis Definisi : Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini

3

dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Secara konstan atau hilang timbul, tanpa prediksi waktu kesembuhan, dan lebih dari 6 bulan. Batasan karakteristik : a. Perubahan berat badan b. Laporan secara verbal dan non verbal, atau laporan adanya tingkah laku melindungi, berjaga-jaga, muka topeng, iritabilitas, fokus pada diri sendiri, gelisah, depresi) c. Atropi pada sekumpulan otot d. Perubahan pola tidur e. Kelelahan f. Takut cedera kembali g. Berkurangnya interaksi dengan orang lain h. Ketidakmampuan untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya i. Respon simpatik (temperature, dingin, perubahan posisi tubuh, hipersensitivitas) j. Anoreksia 2.1.1.2 Mekanisme Nyeri Fisiologi perjalanan nyeri : Reseptor nyeri yang jumlahnya jutaan di tubuh, menerima sensasi yang kemudian dibawa ke spinal cord yaitu pada daerah kelabu dilanjutkan ke traktus spinothalamikus selanjutnya ke korteks serebral. Mekanismenya sebagai berikut:

Alur nyeri mengeluarkan zat kimia bradykinin, prostaglandin kemudian merangsang ujung reseptor saraf yang kemudian membantu transmisi nyeri ke otak. Impuls disampaikan ke otak melalui nervus ke kornu dorsalis pada spinal cord. Pesan diterima oleh thalamus sebagai pusat sensori pada otak. Impuls dikirim ke corteks dimana intensitas dan lokasi nyeri dirasakan. Penurunan nyeri dimulai sebagai signal dari otak, turun melalui spinal cord. Pada kornu dorsalis zat kimia seperti endorfin dikeluarkan untuk menurunkan nyeri. 2.1.1.3 Kualitas dan Intensitas Nyeri

Intensitas Nyeri Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007). Menurut Smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut : 1. Skala intensitas nyeri deskritif

4

Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Pasien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi operator dan pasien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan. 2. Skala identitas nyeri numerik Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, pasien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992). 3. Skala analog visual Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005). 4. Skala nyeri menurut bourbanis Keterangan: 0 : Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan; secara obyektif pasien dapat berkomunikasi dengan baik. 4-6 : Nyeri sedang; Secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. 7-9 : Nyeri berat; secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 : Nyeri sangat berat; Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul. Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Operator menunjukkan pasien skala tersebut dan meminta pasien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Operator juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan pasien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. 1

5

Kualitas Nyeri Menurut kualitasnya, nyeri dibedakan menjadi 2 yaitu: 1. Nyeri cepat (nyeri akut, tajam, tertusuk). Sinyal nyeri ini dijalarkan melalui saraf perifer menuju ke medula spinalis oleh saraf tipe A delta pada kecepatan penjalaran antara 6-30 m/dtk. 2. Nyeri lambat (nyeri kronik, terbakar, pegal). Sinyal nyeri ini dijalarkan serabut saraf tipe C dengan kecepatan penjalaran antara 0,5-2m/dtk (Guyton, 2000)2. 2.1.2 Hubungan Sakit Gigi dengan Penyakit Jantung Daerah anatomis diluar kepala dan leher dapat menyebabkan nyeri alihan pada gigi. Daerah yang sering adalah jantung. Nyeri dapat timbul dari :Penyempitan arteri koroner (angina pectoris) maupun infark miokardial dapat menyebabkan nyeri alihan disemua kuadran, yang paling sering adalah mandibula kiri. Nyeri pada jantung tidak selalu diikuti nyeri dada tetapi dapat dirsakan pada wajah dan rahang. 2.1.3 Immunopatogenesis masuknya karies ke pulpa,email dan sementum hilang bakteri masuk melalui tubuli dentin bakteri berkembang dan melakukan pembelahan terjadinya reaksi pulpadentinal kompleks pembentukan dentin peritubuler,penurunan permeabilitas dentin,pembentukan dentin reperatif, yg tdk teratur inflamsi pulpa adanya limfosit, sel plasma, dan makrofag tertarik PMN secara kemotaksis abses dalam jangka waktu yg lama berkembang menjadi kronik nekrosis.3 2.2 2.2.1 KONSERVASI Etiologi dan Patogenesis Etiologi Iritan Mikroba Mikroorganisme di dalam jaringan karies akan memproduksi toksin yang akan berpenetrasi ke dalam pulpa melalui tubulus, shingga jaringan pulpa akan terinfiltrasi secara lokal. Ketika karies meluas ke arah pulpa, intensitas dan karakter infiltrat akan berubah jika pulpa terbuka, jaringan pulpa akan difiltrasi oleh leukosit PMN untuk membentuk suatu daerah ne