Laporan Mixer - Print

download Laporan Mixer - Print

If you can't read please download the document

  • date post

    17-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    233
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Rangkaian Mixer

Transcript of Laporan Mixer - Print

PENGUKURAN MIXER1.1 TujuanMenguji dan mengukur mixer sebagai salah satu perangkat sistem komunikasi1.2 Peralatan Yang Di Gunakan Spektrum analyzer1 buah Synthesized Signal Genearator2 buah Mini circuit mixer1 buah Cabel RF Koaksial3 buah BNC, N-konektor3 buah

1.3 Teori DasarPerangkat RF mixer terdiri atas 3 terminal yang biasaya di notasikan denga R adalah sinyal input, Ladalah osilator lokal dan I adalah IF. Outputnya merupakan hasil penjumlahan dan selisih frekuensi dari kedua input. Mixer dapat juga digunakan sebagai detektor fasa atau sebagai demodulator.

Gambar 1.1 Simbol MixerDua sinyal yang di masukkan pada kedua terminal input umumnya adalah osilator lokal dan sinyal dari antena pada pesawat penerima, atau sinyal keluar dari pemancar. Untuk menghasilkan frekuensi baru di perlukan perangkat non linear. Dalam proses pencampuran dapat di hasilkan frekuensi output lebih rendah dari sinyal input ini disebut down-conversation dan jika kita menginginkan outputnya lebi tinggi dari frekuensi sinyal input disebut up-conversation.

Konversi ke bawah

Konversi ke atas

Set-up diagram pengukuran mixer

1.4 Langkah Percobaan1. Buatlah rangkaian diagram seperti yang di tunjuk di atas. Atur frekuensi signal geneartor 102 MHz dengan level -20 dBm, hubungkan pada input R dan frekuensi 250 MHz dengan level 0 dBm pada input L. 2. Atur level input RF dari -20 dBm hingga +8 dBm dengan step 2 dB, 3. Amati output pada terminal I dan perhatikan level spektrum frekuensi pada layar yaitu untuk hasil IF selisih dan IF jumlah.4. Amati spectrum frekuensi dan ukur level absolute sinyal IF selisih dan hitung coversation lossnya (dB), yaitu selisih level antara sinyal input R terhadap sinyal input I. Catat setiap hasil pengukuran pada tabel 1 Buatlah grafik conversation loss (dB) sebagai fungsi dari level input RF.5. Amati output pada terminal I dan perhatikan level spektrum frekuensi pada layar yaitu untuk hasil IF selisih dan IF jumlah.6. Pasanglah LPF 100 MHz pada terminal output I, amati frekuensi IF selisih dan IF jumlah setelah di pasang LPF7. Pasanglah LPF 300 MHz pada terminal output I, amati frekuensi IF selisih dan IF jumlah setelah di pasang LPF8. Atur level input RF dari -20 dBm hingga +8 dBm dengan step 2 dB, ukur level absolute sinyal IF selisih dan hitung coversation lossnya (dB), yaitu selisih level antara sinyal input R terhadap sinyal input I. Catat setiap hasil pengukuran pada tabel 1.1. Buatlah grafik conversation loss (dB) sebagai fungsi dari level input RF. Bagaimana interpretasi saudara tentang grafik tersebut.9. Ukurlah RF - LO isolation, dengan cara terminal I pada mixer diterminasi dengan terminator 50 , RF input 0 dBm dan ukur level daya pada terminal LO. Catat hasil pengukuran pada table 1.210. Dengan cara yang sama seperti langkah 4 ukurlah LO - RF isolation, caranya sinyal input diberikan pada terminal LO dan ukur level output pada terminal RF pada mixer dengan terminal I diterminasi 50 .

1.5 Hasil Pengukuran1. Hasil pengukuran langkah 5 RF [R] = 102 MHz, RF [L] = 250 MHz (0 dBm)RF [R] (dBm)*RF [R] (dBm)IF(selisih) (dBm)(148 MHz)IF (jumlah) (dBm)(352 MHz)Convertion loss (dB)(IF selisih - RF)

-22-20-30.50-32.70-10.50

-20-18-28.50-30.60-10.50

-18-16-26.60-29.10-10.60

-16-14-24.50-27.00-10.50

-14-12-22.40-24.70-10.40

-12-10-20.40-22.70-10.40

-10-8-18.50-20.70-10.50

-8-6-16.50-18.60-10.50

-6-4-14.60-16.60-10.60

-4-2-12.30-14.40-10.30

-1.850-10.60-12.60-10.60

0.92-9.14-11.10-11.14

24-8.19-10.10-12.19

46-7.68-9.45-13.68

68-7.36-9.03-15.36

Catatan : * diukur langsung dari sinyal generator ke spectrum frekuensiAnalisa Data pada Tabel :Dari data table diatas, pengukuran yang dilakukan terhadap generator fungsi yang digunakan sebagai input terjadi perbedaan sebesar -2 dB hal ini disebabkan oleh perbedaan impedansi antara kabel koaksial, generator fungsi dan spectrum frekuensi yang digunakan sehingga ketika generator fungsi di set pada -20 dBm akan keluar pada spectrum frekuensi sebesar -22 dBm hal ini akan mempengaruhi hasil pengukuran IF yang kurang akurat.Pertambahan dBm sebanyak step 2 dB akan menghasilkan IF yang memiliki dBm yang semakin naik mendekati 0 dan convention loss yang naik turun, setelah input RF diatas 0 dBm convention loss semakin turun.

RF [R] = 100 MHz, RF [L] = 250 MHz (0 dBm), LPF [I] 100 MHzRF [R] (dBm)*RF [R] (dBm)IF(selisih) (dBm)(150 MHz)IF (jumlah) (dBm)(350 MHz)Convertion loss (dB) (IF selisih - RF)

-22-20-65.10-61.10-45.10

-20-18-61.00-61.30-43.00

-18-16-68.60-62.70-52.60

-16-14-63.10-60.20-49.10

-14-12-66.10-63.30-54.10

-12-10-59.70-63.40-49.70

-10-8-58.70-61.70-50.70

-8-6-65.30-63.30-59.30

-6-4-66.30-64.00-62.30

-4-2-61.90-58.80-59.90

-1.850-64.50-57.80-64.50

0.92-65.50-64.90-67.50

24-54.70-61.80-58.70

46-53.50-61.40-59.50

68-53.40-62.40-61.40

Catatan : * diukur langsung dari sinyal generator ke spectrum frekuensiAnalisa Data pada Tabel :Dari data table diatas, pengukuran yang dilakukan terhadap generator fungsi yang digunakan sebagai input terjadi perbedaan sebesar -2 dB hal ini disebabkan oleh perbedaan impedansi antara kabel koaksial, generator fungsi dan spectrum frekuensi yang digunakan sehingga ketika generator fungsi di set pada -20 dBm akan keluar pada spectrum frekuensi sebesar -22 dBm hal ini akan mempengaruhi hasil pengukuran IF yang kurang akurat.Pertambahan dBm sebanyak step 2 dB menghasilkan amplitude IF yang bervariasi dan convention loss yang naik turun, berbeda dengan sebelumnya, frekuensi RF disetting pada 100 MHz agar frekuensi masih bisa lolos terhadap filter LPF 100 MHz, amplitudo IF ketika dipasang LPF 100 MHz mengalami penurunan sampai -68 dBm.

RF [R] = 102 MHz, RF [L] = 250 MHz (0 dBm), LPF [I] 300 MHzRF [R] (dBm)*RF [R] (dBm)IF(selisih) (dBm)(148)IF (jumlah) (dBm)(352 MHz)Convertion loss (dB) (IF selisih - RF)

-22-20-30.20-53.10-10.20

-20-18-28.20-55.80-10.20

-18-16-26.30-58.20-10.30

-16-14-24.40-55.20-10.40

-14-12-22.00-55.00-10.00

-12-10-20.20-48.60-10.20

-10-8-18.30-46.90-10.30

-8-6-16.4044.20-10.40

-6-4-14.50-41.00-10.50

-4-212.30-40.1014.30

-1.850-10.60-37.30-10.60

0.92-9.24-35.80-11.24

24-8.26-35.10-12.26

46-7.65-34.70-13.65

68-7.31-33.80-15.31

Catatan : * diukur langsung dari sinyal generator ke spectrum frekuensiAnalisa Data pada Tabel :Dari data table diatas, pengukuran yang dilakukan terhadap generator fungsi yang digunakan sebagai input terjadi perbedaan sebesar -2 dB hal ini disebabkan oleh perbedaan impedansi antara kabel koaksial, generator fungsi dan spectrum frekuensi yang digunakan sehingga ketika generator fungsi di set pada -20 dBm akan keluar pada spectrum frekuensi sebesar -22 dBm hal ini akan mempengaruhi hasil pengukuran IF yang kurang akurat.Pertambahan dBm sebanyak step 2 dB akan menghasilkan IF yang memiliki dBm yang semakin naik mendekati 0 dan convention loss yang naik turun, setelah input RF diatas 0 dBm convention loss semakin turun, berbeda dengan sebelumnya, frekuensi RF disetting pada 102 MHz frekuensi masih bisa lolos terhadap filter LPF 300 MHz, amplitudo IF ketika dipasang LPF 300 MHz memiliki kesamaan data seperti pada percobaan tanpa LPF.

2. Hasil pengukuran langkah 6 Terminasi 50 , RF [R] = 102 MHz, LO [L] = 204 MHzRF [R] (dBm)*RF [R] (dBm)RF [R] (dBm)**LO (dBm)RF-LO Isolation (dB)**RF-LO Isolation (dB)

-1.850-56.60-38.50-18.1038.50

-0.81-55.40-36.80-18.6037.80

0.92-54.20-35.20-19.0037.20

13-53.00-33.70-19.3036.70

24-51.70-32.40-19.3036.40

35-50.00-31.10-18.9036.10

46-48.90-30.00-18.9036.00

57-47.50-29.00-18.5036.00

Catatan : * diukur langsung dari generator fungsi ke spectrum frekuensi** diukur langsung dari mixer ke spectrum frekuensiAnalisa Data pada Tabel :Dari data table diatas, pengukuran yang dilakukan terhadap generator fungsi yang digunakan sebagai input terjadi perbedaan sebesar -2 dB hal ini disebabkan oleh perbedaan impedansi antara kabel koaksial, generator fungsi dan spectrum frekuensi yang digunakan sehingga ketika generator fungsi di set pada 0 dBm akan keluar pada spectrum frekuensi sebesar -1.85 dBm hal ini akan mempengaruhi hasil pengukuran IF yang kurang akurat.Dalam hal ini diamati amplitudo pada LO mengalami penurunan secara bertahap dengan menaikkan amplitude RF dari 0 dBm sampai 7 dBm dengan step 1 dBm. Semakin tinggi dBm akan membuat amplitudo LO semakin naik dan isolation dB mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan.

Terminasi 50 , RF [L] = 102 MHz, LO = 204 MHzRF [R] (dBm)*RF [R] (dBm)RF [R] (dBm)**LO (dBm)LO-RF Isolation (dB)**LO-RF Isolation (dB)

-1.850-57.50-57.400.10-57.40

-0.81-56.30-56.80-0.50-57.80

0.92-56.80-54.901.90-56.90

13-55.30-52.602.70-55.60

24-54.60-50.404.20-54.40

35-54.10-48.605.50-53.60

46-52.80-46.806.00-52.80

57-51.70-45.506.20-52.50

Catatan : * diukur langsung dari generator fungsi ke spectrum frekuensi** diukur langsung dari mixer ke spectrum frekuensiAnalisa Data pada Tabel :Dari data table diatas, pengukuran yang dilakukan terhadap generator fungsi yang digunakan sebagai input terjadi perbedaan sebesar -2 dB hal ini disebabkan oleh perbedaan impedansi antara kabel koaksial, generator fungsi dan spectrum frekuensi yang digunakan sehingga ketika generator fungsi di set pada 0 dBm akan keluar pada spectrum frekuensi sebesar -1.85 dBm hal ini akan mempengaruhi hasil pengukuran IF yang kurang akurat.Dalam hal ini diamati amplitudo pada LO mengalami penurunan secara bertahap dengan menaikkan amplitude RF dari 0 dBm sampai 7 dBm dengan step 1 dBm. Semak