LAPORAN KPM

of 59 /59
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman selalu menghasilkan penemuan- penemuan baru dalam berbagai bidang, baik ekonomi, hukum, teknik, sosial, maupun bidang seni budaya. Perkembangan dalam suatu bidang akan selalu mempengaruhi bidang lainnya sehingga satu sama lainnya saling berpengaruh dan saling menunjang. Dewasa ini perkembangan bidang teknik dan ekonomi sudah saling melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Perusahaan atau perindustrian tidak dapat melakukan kegiatan produksinya tanpa bantuan alat-alat atau teknologi. Seiring dengan meningkatnya perkembangan usaha dan semakin ketatnya persaingan usaha, para pengusaha dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi. Situasi tersebut akan mendorong para pelaku 1

Embed Size (px)

Transcript of LAPORAN KPM

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman selalu menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang, baik ekonomi, hukum, teknik, sosial, maupun bidang seni budaya. Perkembangan dalam suatu bidang akan selalu mempengaruhi bidang lainnya sehingga satu sama lainnya saling berpengaruh dan saling menunjang. Dewasa ini perkembangan bidang teknik dan ekonomi sudah saling melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Perusahaan atau perindustrian tidak dapat melakukan kegiatan produksinya tanpa bantuan alat-alat atau teknologi. Seiring dengan meningkatnya perkembangan usaha dan semakin ketatnya persaingan usaha, para pengusaha dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi. Situasi tersebut akan mendorong para pelaku bisnis bekerja ekstra keras, hati-hati, efektif, dan efisien agar kualitas produk atau jasa yang dihasilkan mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Kurangnya modal menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh para pelaku bisnis di dalam meningkatkan usahanya. Untuk itu, pemerintah memberikan fasilitas kredit modal kerja yang disalurkan melalui bank maupun lembaga perkreditan lainnya. Pengalaman bank-bank karena adanya kredit macet telah memacu kalangan perbankan untuk lebih berhati-hati dalam mengatur alokasi dana kredit. Rencana 1

2

kredit disusun lebih matang, analisis atas permohonan kredit lebih terarah dan pengamanan kredit lebih digalakkan di samping peningkatan sistem pembinaan nasabah. Lemahnya pengalaman, keterampilan, modal usaha, dan agunan yang seringkali dihadapi oleh pengusaha kecil menyebabkan bank dan lembaga perkreditan lainnya menolak memberikan fasilitas kredit karena kurang memenuhi persyaratan teknis perbankan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi segala resiko yang dihadapi oleh pihak bank dan pengusaha kecil, asuransi merupakan metode yang utama dalam pengelolaan resiko. Peranan industri asuransi sebagai lembaga keuangan tidak saja memberikan proteksi kepada masyarakat dan dunia usaha akan tetapi juga sebagai sumber dana atau investasi pada sektor industri lainnya. PT. Asuransi Kredit Indonesia merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkedudukan di Jalan Raya Puputan No. 9 Niti Mandala Renon Denpasar. PT. Asuransi Kredit Indonesia memberikan beberapa pelayanan dalam asuransi kredit, dimana salah satunya berupa Asuransi Kredit yaitu suatu jasa/layanan yang memberikan perlindungan kepada perbankan ataupun lembaga keuangan non bank lainnya atas resiko kerugian akibat kredit macet, khususnya kredit yang diberikan kepada pengusaha kecil. Apabila pengusaha kecil (debitur) yang dipertanggungkan ke PT. Asuransi Kredit Indonesia tidak dapat/gagal

mengembalikan kreditnya kepada pihak bank atau lembaga keuangan non bank lainnya (tertanggung) maka pihak bank atau lembaga keuangan non bank lainnya dapat mengajukan klaim kepada PT. Asuransi Kredit Indonesia (penanggung).

3

Berdasarkan

latar

belakang

di

atas,

maka

yang

menjadi

pokok

permasalahannya adalah Bagaimana prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar ? 1.2 Tujuan dan Kegunaan Laporan 1.2.1 Tujuan laporan Sesuai dengan pokok permasalahan yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar. 1.2.2 Kegunaan laporan Laporan ini diharapkan mampu bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait, yaitu: a. Bagi khasanah ilmu pengetahuan Dengan penulisan laporan ini, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan asuransi kredit. b. Bagi perusahaan Hasil laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan atau sumbangan bagi pihak PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar dalam pengambilan keputusan terutama dalam masalah penyelesaian klaim Asuransi Kredit.

4

c. Bagi mahasiswa Melalui Laporan Kerja Profesi Mahasiswa (KPM) ini diharapkan agar mahasiswa dapat memperluas dan menambah pengetahuan serta mengaplikasikan ilmu dan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan membandingkan kenyataan yang terjadi di lapangan. 1.3 Metode Penelitian 1.3.1 Lokasi penelitian Lokasi dari penelitian ini adalah pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar yang beralamat di Jalan Raya Puputan No. 9 Denpasar. 1.3.2 Jenis data dan sumber data 1. Data Menurut Sifatnya Data kualitatif adalah data yang dikumpulkan tidak berbentuk angka-angka dan tidak dapat dihitung (Sugiono, 1999:14). Data kualitatif dalam penelitian ini adalah sejarah berdirinya perusahaan atau gambaran umumnya, struktur organisasi dan keanggotaannya, serta prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit. Niti Mandala Renon,

5

2.

Data Menurut Sumbernya : a. Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh dan dicatat secara langsung dari sumbernya melalui wawancara (Sugiono, 1999:130), yaitu dengan karyawan PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar. Dalam hal ini mengenai penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar. b. Data Sekunder Data Sekunder adalah data yang bukan dari pengumpulan dan pengolahan sendiri tapi dilakukan oleh pihak-pihak lain dalam perusahaan dimana penelitian dilakukan (Sugiono, 1999:130) yaitu berupa data-data yang terdapat pada dokumen atau pustaka-pustaka dan dari sumber lainnya.

1.3.3 Metode pengumpulan data Terdapat tiga metode pengumpulan data, yaitu melalui: a. Observasi Observasi adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek laporan, serta pencatatan secara sistematis mengenai perkembangan data yang dibutuhkan (Sugiono, 1999:138) antara lain data mengenai proses penyelesaian klaim Asuransi Kredit dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan.

6

b.

Wawancara Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkaitan (Sugiono, 1999:130), yaitu karyawan PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar tentang masalah yang akan dilaporkan. Misalnya mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit. c. Pustaka Teknik ini ditempuh dengan jalan mempelajari buku-buku yang diperlukan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian ini. 1.3.4 Teknik analisis data Teknik analisis data yang digunakan dalam laporan ini adalah teknik analisis kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu suatu teknik analisis yang menggambarkan atau menjelaskan informasi mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar.

7

1.4 Sistematika Penyajian Untuk memberikan gambaran secara garis besar mengenai isi dan susunan laporan ini, maka berikut ini dikemukakan penjabaran masing-masing bab sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penyajian laporan. BAB II : TINJAUAN TEORITIS Pada bab ini diuraikan mengenai landasan teori yang relevan dengan judul laporan. BAB III : PEMBAHASAN Menguraikan tentang gambaran umum perusahaan, struktur

organisasi, deskripsi pekerjaan selama KPM, serta prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar. BAB IV : PENUTUP Bab ini menguraikan simpulan-simpulan yang didapat dari hasil penelitian dan saran-saran yang didasarkan atas simpulan yang ada.

8

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian Sistem Akuntansi Pengertian Sistem Akuntansi menurut Mulyadi (2001:3) adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa, untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan. Menurut Yusuf (2000:14) Sistem Akuntansi suatu organisasi terdiri dari metode, catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifikasikan, mengumpulkan, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan

menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban yang berkaitan. Sesuai dengan pengertian di atas, dapat kita ketahui bahwa elemen-elemen dari suatu Sistem Akuntansi adalah: a. Formulir b. Prosedur c. Catatan-catatan data d. Laporan Pembahasan tentang Sistem Akuntansi tidak bisa lepas dari sistem pengendalian intern, sebab sistem akuntansi yang ditetapkan dalam perusahaan harus dapat mencapai tingkat pengendalian intern itu sendiri.

8

9

2.2

Pengertian Prosedur Mulyadi (2001:5) memberikan definisi Prosedur sebagai suatu urutan kegiatan

klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen/lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang. Komaruddin (1994:27) mendefinisikan Prosedur sebagai suatu rangkaian tindakan yang ditetapkan lebih dahulu, yang harus dilalui untuk mengerjakan suatu tugas. Zaki Baridwan (2000:3) mendefinisikan Prosedur adalah suatu urutan-urutan klerikal yang biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau lebih disusun untuk menjamin adanya perlakuan yang sama terhadap transaksi-transaksi perusahaan yang sering terjadi. Dalam kaitannya dengan penulisan laporan ini, maka pembahasan yang dimaksud mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit adalah tata cara atau urutan kerja yang teratur yang harus dilakukan oleh PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar (penanggung) agar benar dan sesuai dengan ketentuan.

2.3

Pengertian Struktur Pengendalian Intern Pengertian Struktur Pengendalian Intern menurut Agoes (1999:16) adalah

kebijakan dan prosedur yang ditetapkan untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa tujuan satuan usaha yang spesifik dapat dicapai.

10

Menurut Yusuf (2000:174), Struktur Pengendalian Intern perusahaan terdiri dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan-tujuan perusahaan dapat dicapai. Struktur Pengendalian Intern terdiri dari tiga elemen yaitu: a. Lingkungan pengendalian Lingkungan pengendalian suatu organisasi merupakan dampak kolektif dari berbagai faktor dalam menerapkan, meningkatkan atau memperbaiki efektivitas kebijakan dan prosedur-prosedur tertentu. b. Sistem akuntansi Sistem akuntansi suatu organisasi terdiri dari metode dan catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifikasikan, mengumpulkan, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan

menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban yang berkaitan. Sistem akuntansi dalam suatu perusahaan dapat berbentuk kompleks maupun sederhana. c. Prosedur-prosedur pengendalian Prosedur-prosedur pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur-prosedur yang tercakup dalam lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang harus ditetapkan oleh manajemen untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa tujuan tertentu akan tercapai.

11

Konsep Struktur Pengendalian Intern didasarkan pada dua premis utama. Premis ini adalah: a. Tanggung Jawab Manajemen Manajemen sendiri bertanggungjawab untuk menetapkan dan

menyelenggarakan Struktur Pengendalian Intern. Meskipun tanggung jawab tertentu dapat didelegasikan kepada bawahan, tanggung jawab akhir tetaplah pada manajemen. b. Jaminan yang Memadai Konsep jaminan yang memadai dikaitkan dengan manfaat dan biaya pengendalian. Manajemen yang hati-hati tidak akan menghabiskan biaya untuk manfaat pengendalian yang lebih kecil dari biayanya. Struktur Pengendalian Intern bertujuan untuk: a. Menjaga kekayaan organisasi. b. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. c. Mendorong efisiensi. d. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Selain memiliki tujuan yang pasti, Struktur Pengendalian Intern didukung oleh unsur-unsur pokok, yaitu: a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. b. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya.

12

c. Praktek yang sehat dalam melaksanakan fungsi-fungsi setiap unit organisasi. d. Karyawan yang bermutu serta bertanggungjawab. 2.4 Pengertian Asuransi Asuransi timbul karena adanya perasaan was-was dan unsur ketidakpastian menyangkut hari-hari yang akan datang. Ketidakpastian menyangkut kemungkinan timbulnya kerugian yang belum pasti akan resiko yang terjadi. Dalam menanggulangi resiko yang mungkin terjadi , masyarakat dapat melimpahkan kepada pihak lain yang bersedia menerima pelimpahan resiko. Pihak yang menerima pelimpahan resiko disebut penanggung, sedangkan pihak yang melimpahkan resiko disebut tertanggung. Di dalam Pasal 426 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) disebut bahwa Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang tidak diharapkan, yang mungkin akan diderita karena suatu peristiwa yang tak tentu. Menurut Salim (2000:1) menyatakan bahwa Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil sedikitnya sudah pasti sebagai pengganti (substitusi) kerugian-kerugian besar yang belum pasti. Menurut Darmawi (2004:2), menyatakan bahwa definisi Asuransi bisa diberikan dari berbagai sudut pandang, yaitu:

13

1. Dalam sudut pandang ekonomi, Asuransi merupakan suatu metode untuk mengurangi resiko dengan jalan memindahkan dan mengkombinasikan ketidakpastian akan adanya kerugian keuangan (financial). 2. Dalam sudut pandang hukum, Asuransi merupakan suatu kontrak (perjanjian) pertanggungan resiko antara tertanggung dengan penanggung. Jadi,

tertanggung mempertukarkan kerugian besar yang mungkin terjadi dengan pembayaran tertentu yang relatif kecil. 3. Menurut pandangan bisnis, Asuransi adalah sebuah perusahaan yang usaha utamanya menerima atau menjual jasa, pemindahan resiko dari pihak lain, dan memperoleh keuntungan dengan berbagai resiko di antara sejumlah besar nasabahnya. 4. Dari sudut pandang sosial, Asuransi didefinisikan sebagai organisasi sosial yang menerima pemindahan resiko dan mengumpulkan dana dari anggotaanggotanya guna membayar kerugian yang mungkin terjadi pada masingmasing anggota tersebut. 5. Dalam pandangan matematika, Asuransi merupakan aplikasi matematika dalam memperhitungkan biaya dan faedah pertanggungan resiko. Hukum probabilitas dan teknik statistik dipergunakan untuk mencapai hasil yang dapat diramalkan.

14

Jadi, dari pengertian-pengertian di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa, Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada pihak tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian apabila pihak tertanggung mengalami kerugian, kerusakan atau kehilangan yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungjawabkan.

2.5

Pengertian Polis Menurut PT. Asuransi Kredit Indonesia, Polis didefinisikan sebagai akte

perjanjian asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi untuk nasabah. Kontrak asuransi dikenal dengan sebutan Polis Asuransi, dimana polis asuransi ini juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang pada dasarnya mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Hari diadakannya penutupan asuransi 2. Nama tertanggung 3. Objek pertanggungan 4. Nilai pertanggungan 5. Premi asuransi 6. Waktu mulai berlaku dan berakhirnya pertanggungan

15

7. Resiko yang dijamin 8. Persyaratan-persyaratan 9. Kondisi-kondisi

2.6

Pengertian Klaim Menurut Komaruddin (1994:32), Klaim adalah tagihan atau hak atas tagihan

yang belum lunas. Pengertian Klaim dan manfaat asuransi menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam PSAK (1999:36.3) adalah suatu beban yang terdiri dari: Klaim dan manfaat asuransi yang pembayarannya didasarkan pada terjadinya peristiwa yang

diasuransikan, yaitu klaim kematian, klaim cacat dan klaim jaminan kesehatan, klaim dan manfaat karena jatuh tempo, serta klaim dan manfaat karena pembatalan. Klaim meliputi klaim yang telah disetujui (Settled Claims), klaim dalam proses penyelesaian (Outstanding Claims), klaim yang terjadi namun belum dilaporkan, dan klaim yang ditolak.

2.7

Pengertian Kredit Menurut Undang-Undang Perbankan No.10 tahun 1998, Kredit adalah

penyediaan uang tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman meminjam antara bank dengan pihak lain

16

yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Dalam arti luas Kredit diartikan sebagai kepercayaan. Begitu pula dalam bahasa latin kredit berarti credere artinya percaya. Maksud dari percaya bagi si pemberi kredit adalah ia percaya kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkan pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Kredit merupakan kepercayaan dari orang atau suatu badan untuk meminjamkan sesuatu kepada orang atau suatu badan lain yang dipercaya dan berkewajiban untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati dalam suatu perjanjian. Selain itu dapat disimpulkan bahwa ada dua aspek yang timbul, yaitu aspek yuridis dan ekonomi. Aspek yuridis yaitu bahwa kedua belah pihak mengikat diri dalam suatu perjanjian kredit dimana kedua belah pihak mengikat diri dalam suatu perjanjian kredit dimana kedua belah pihak masing-masing mempunyai hak dan kewajiban, serta akan timbul sanksi jika perjanjian tersebut dilanggar. Aspek ekonomi yaitu adanya pembayaran bunga oleh yang menerima pinjaman sebagai keuntungan kreditur atas jasa yang diberikan.

17

2.8

Pengertian Asuransi Kredit PT. Asuransi Kredit Indonesia memberikan definisi Asuransi Kredit sebagai

suatu perjanjian antara 2 pihak yaitu pihak pertama (penanggung) dimana dalam hal ini PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar memberikan jaminan kepada pihak kedua (tertanggung), yaitu Bank atau lembaga keuangan non Bank lainnya. Pihak tertanggung akan mempertanggungkan debiturnya kepada pihak penanggung untuk menghindari terjadinya kerugian yang besar akibat kredit macet. Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya, kerjasama antara PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar dengan perbankan atau lembaga keuangan non bank lainnya terlebih dahulu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Asuransi Kredit (PAK) guna mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam menjalin hubungan bisnis tersebut.

2.9

Manfaat Asuransi Kredit Bank Manfaat yang dapat dinikmati pengguna jasa Asuransi Kredit , yaitu : a) Membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka

pemenuhan kekurangan persyaratan atas penyerahan barang jaminan yang ditetapkan oleh lembaga pembiayaan keuangan baik bank maupun non bank. b) Membantu lembaga keuangan bank, non bank dan badan usaha

pemberi kredit untuk mengalihkan sebagian resiko finansial atas kegagalan kewajiban pengembalian kredit oleh UMKM.

18

2.10 Jenis Kredit Yang Dapat Dijamin Oleh PT Asuransi Kredit Indonesia a) Kredit dengan plafond per debitur diatas Rp. 500.000.000,00 b) Kredit dengan plafond per debitur dibawah Rp.

500.000.000,00; dengan persyaratan baik jumlah debitur maupun manajemen pengelolaan dikategorikan masal (berkelompok)

2.11 Syarat Syarat Permintaan Asuransi Kredit Permintaan Asuransi Kredit dilaksanakan secara kasus per kasus ke PT. Asuransi Kredit Indonesia dengan melampirkan dokumen sebagai berikut : a) b) Profil perusahaan calon debitur Copy atau tembusan permohonan kredit dari debitur kepada bank

atau lembaga pembiayaan keuangan lainnya c) terakhir d) (SPKMGR) Surat Pernyataan Kesanggupan Membayar Ganti Rugi Copy neraca keuangan, laba atau rugi dan cash flow untuk 2 tahun

2.12 Dokumen Dokumen Yang Diperlukan Dalam Mengajukan Klaim Asuransi Kredit

19

a)

Surat Tuntutan Ganti Rugi (STGR) atau surat klaim dari bank atau

lembaga keuangan non bank lainnya yang antara lain memuat besarnya kerugian b) Tembusan perjanjian kredit atau copy perjanjian kredit yang dilegalisir.

Biasanya disebut Surat Pengakuan Hutang (SPH) c) d) e) Rekening koran (R/C) atau kartu pinjaman Copy berita acara pemeriksaan setempat Data pendukung lainnya sesuai persyaratan dalam Perjanjian Asuransi

Kredit (PAK) dan Confirmation Letter (CL)

20

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Perusahaan 3.1.1 Sejarah berdirinya PT. Asuransi Kredit Indonesia. Perseroan Terbatas Asuransi Kredit Indonesia (PT. ASKRINDO) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 6 April 1971 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1971 tanggal 11 Januari 1971. PT. Asuransi Kredit Indonesia didirikan berdasarkan Akte Notaris Achmad Kadijono. Perusahaan ini memiliki struktur pemodalan antara lain Bank Indonesia dengan komposisi saham 55% dan Departemen Keuangan dengan komposisi saham 45%. Tujuan dari pendirian perusahaan ini adalah membantu kelancaran pengarahan dan pengamanan perkreditan bank-bank terutama di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dalam situasi dan Kondisi seperti saat ini, tidak sedikit UMKM yang menghadapi permasalahan dalam mengembangkan usaha, khususnya dalam permodalan. Kelemahan tersebut sulit ditutupi oleh pinjaman perbankan karena seringkali UMKM tidak dapat memenuhi persyaratan dalam pemberian pinjaman yang ditetapkan oleh pihak bank. Maka, untuk membantu

20

21

UMKM, Pemerintah mendirikan PT. Asuransi Kredit Indonesia yang biasa disingkat PT. ASKRINDO. Dengan menerima sejumlah premi, PT. Asuransi Kredit Indonesia akan memberikan ganti rugi kepada pihak pemberi kredit, apabila UMKM mengalami kegagalan dalam pengembalian kredit. Jasa ini disebut Asuransi Kredit. 3.1.2 Visi dan Misi PT. Asuransi Kredit Indonesia. 1.Visi Perusahaan adalah: "Menjadi perusahaan asuransi yang sehat, handal dan terpercaya yang berorientasi pada pengembangan UMKM". 2. Misi Perusahaan adalah: "Mendukung pelaksanaan dan kebijakan serta program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, terutama dalam menciptakan UMKM yang tangguh." 3.1.3 Struktur organisasi perusahaan Dalam suatu perusahaan, baik besar maupun kecil tentulah mempunyai struktur organisasi. Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Sedangkan struktur organisasi adalah wadah kerja yang harmonis antara setiap orang untuk mencapai tujuan bersama. Dari struktur organisasi akan terlihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing bagian. Dengan demikian akan meningkatkan adanya pembagian kerja dan spesialisasi pekerjaan diantara masing - masing bagian.

22

Berdasarkan hubungan pola kerja dan tanggung jawab PT. ASKRINDO menggunakan struktur organisasi garis, yaitu suatu bentuk organisasi yang tugasnya datang dari atasan kepada bawahan dan tanggung jawab datangnya dari bawahan kepada atasan Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada struktur organisasi dibawah ini : Gambar 3.1 STRUKTUR ORGANISASI PT. ASURANSI KREDIT INDONESIA (PERSERO) KANTOR CABANG DENPASAR

DIREKSI

KEPALA KANTOR CABANG

KEPALA SEKSI PERTANGGUNGAN

KEPALA SEKSI KLAIM & SUBROGASI

KEPALA SEKSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI AKUNTANSI STAF/KARYAWAN

STAF/KARYAWAN

STAF/KARYAWAN

Sumber: Surat Keputusan Direksi PT. Asuransi Kredit Indonesia tahun 2005

23

Adapun tugas dan wewenang masing-masing bagian adalah sebagai berikut: a. Kepala Kantor Cabang 1) engusahakan kelancaran pelaksanaan operasional sehari-hari perusahaan. 2) engawasi dan mengendalikan pelaksanaan tugas-tugas pada semua bagian. 3) embangun dan membina citra baik perusahaan di wilayah kerja. 4) M M M M

engelola penggunaan dana, mempertanggungjawabkan keuangan dalam penyelenggaraan administrasi yang berkaitan dengan seluruh kegiatan Kantor Cabang yang dipimpinnya. 5) M

engelola pcnutupan pertanggungan baik secara individual/massal sesuai dengan sistem dan prosedur. 6) M

engelola proses penyelesaian klaim sesuai dengan sistem prosedur yang ditetapkan. b. Kepala Seksi Pertanggungan: 1) Melaksanakan akseptasi penutupan pertanggungan secara kasus demi kasus dan secara otomatis sesuai dengan perjanjian yang ada.

24

2) Melaksanakan produksi penutupan pertanggungan secara kasus demi kasus dan secara otornatis sesuai dengan perjanjian yang ada. 3) Mengupayakan pencapaian target premi asuransi kredit Surety Bond dan Custom Bond dan jasa lainnya sesuai dengan anggaran premi yang telah ditetapkan dalam kaitan penutupan pertanggungan secara kasus demi kasus dan secara otomatis. c. Kepala Seksi Klaim dan Subrogasi 1) Memelihara, menilai dan memberikan saran penyempurnaan terhadap sistem dan prosedur di lingkungan klaim dan subrogasi. 2) Melaksanakan analisa terhadap segenap surat tuntutan ganti rugi atau klaim. 3) Melaksanakan kegiatan administrasi piutang subrogasi dan penagihan recoveries. 4) Melaksanakan kearsipan seksi klaim dan subrogasi serta laporan lainnya secara periodik kepada atasan. d. Kepala Seksi Keuangan dan akuntansi. 1) Melakukan kegiatan pembukuan di wilayah Kantor Cabang. 2) Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan administrasi perpajakan. 3) Melaksanakan Kantor Cabang. 4) Melaksanakan kegiatan umum dan personalia di Kantor Cabang. kegiatan sekretariat dan hubungan masyarakat di

3.1.4 Bidang usaha

25

Produk PT. Asuransi Kredit Indonesia digolongkan dalam 2 jenis bidang usaha yaitu: 1. Penjaminan

a. Penjaminan Kredit Bank Merupakan salah satu layanan untuk memberikan penutupan

pertanggungan kepada perbankan atau lembaga keuangan non bank lainnya atas resiko kredit yang diberikan kepada UMKM. Manfaat Penjaminan Kredit Bank : 1) Memperbesar akses pengusaha kecil terhadap sumber pembiayaan. 2) Mengurangi resiko yang dihadapi bank atau lembaga keuangan non bank lainnya atas pemberian kredit kepada UMKM. b. Penjaminan Kredit Perdagangan Merupakan layanan untuk menutup resiko komersial akibat tidak

dibayarnya piutang dagang dari transaksi perdagangan secara kredit antara produsen dengan konsumen. Manfaat Penjaminan Kredit Perdagangan : 1) Mengurangi manajemen resiko produsen 2) Mengurangi piutang ragu-ragu produsen 3) Meningkatkan volume penjualan 4) Membantu perluasan pasar. 2. Askred dan Surety

26

a.

Surety Bond

Merupakan salah satu layanan yang memberikan jaminan kepada pemilik proyek (Obligee) terhadap kerugian yang timbul akibat Principal tidak dapat menyelesaikan kewajibannya. Manfaat Surety Bond: 1) Memperoleh kepastian bahwa Principal akan melaksanakan

kewajibannya kepada Obligee. 2) Membantu Principal untuk menjaga likuiditas keuangannya.

b.

Customs Bond

Merupakan salah satu layanan untuk memberikan jaminan atas fasilitas kepabeanan, fasilitas penangguhan/pembebasan bea masuk barang impor dan pungutan negara lainnya bagi kepentingan bea dan cukai. Jaminan diberikan kepada Principal/Importir/Produsen eksportir. Manfaat Customs Bond: 1) Principal dapat memelihara likuiditas keuangannya. 2) Principal dapat dengan mudah memperoleh customs bond. c. Penjamin Letter of Credit Impor (L/C) dan KMK ekspor

(Kredit Modal Kerja) Merupakan layanan perusahaan berupa jaminan yang diberikan kepada Bank Umum Devisa (Penerima jaminan) terhadap kemungkinan timbulnya kerugian akibat terjamin (Importir/Produsen Eksportir) tidak dapat memenuhi

27

kewajibannya melunasi pembayaran kepada penerima jaminan atas Letter Of Credit Impor dan Kredit modal kecil ekspor. Manfaat pinjaman L/C impor dan KMK Ekspor: 1) Mengurangi risiko financial yang dihadapi Bank devisa

pembuka L/C, yang timbul akibat ketidakmampuan importir melunasi L/C Importir. 2) Membantu eksportir memperoleh akses pembiayaan dari bank

untuk keperluan proses produksi barang untuk diekspor dan atau barang yang diimpor.

3.2 Deskripsi Pekerjaan selama Melaksanakan KPM Pekerjaan pekerjaan yang ditugaskan selama penulisan melaksanakan KPM di PT. Asuransi Kredit Indonesia adalah sebagai berikut : a. Memilah data arsip klaim yang disetujui dan di tolak berdasarkan nama bank, cabang, dan tahun. b. Menginput data arsip klaim yang telah dipilah tersebut ke dalam data arsip klaim disetujui dan data arsip klaim ditolak di komputer, kemudian diurutkan berdasarkan No. Claim Settlement. c. Mengetik amplop surat menggunakan mesin tik elektronik. d. Mengentry data recoveries ke dalam komputer menggunakan program Sistem Komputerisasi Terpadu (SKT).

28

e. Memilah dan menyesuaikan Kartu Penerimaan Recoveries (KPR) dengan bukti Bank. f. Memfile Laporan Nasabah Menunggak (LNM), Laporan Realisasi Kredit (LRK), dan bukti bank recoveries. g. Meregister surat klaim yang masuk, dan klaim yang disetujui. h. Memfotocopy Laporan Nasabah Menunggak (LNM), Laporan Realisasi Kredit (LRK), surat klaim yang masuk, dan lain sebagainya. i. Mencari Nota Penutupan Pertanggungan (NPP) beserta Deklarasi Jumlah Pertanggungan (DJP) dan difotocopy. j. Mengurutkan data arsip klaim yang masuk k. Memfaks surat klaim yang disetujui dan surat ucapan terima kasih. 3.3 Sebab sebab Terjadinya Klaim Asuransi Kredit Klaim Asuransi Kredit diajukan oleh tertanggung (Bank atau lembaga keuangan non bank lainnya) kepada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar apabila debitur yang dipertanggungkan tidak dapat melunasi kreditnya. Adapun sebab-sebab terjadinya klaim Asuransi Kredit, antara lain: a. Debitur tertanggung tidak dapat melunasi kreditnya pada saat kredit yang bersangkutan jatuh tempo dengan ketentuan usaha debitur terganggu sudah tidak dapat berjalan lagi b. Debitur dinyatakan pailit oleh pengadilan Negeri c. Debitur dinyatakan likuidasi berdasarkan keputusan pengadilan

29

d. Debitur ditetapkan dibawah pengampunan sepanjang debitur bukan badan hukum e. Debitur melarikan diri/hilang/tidak diketahui alamatnnya f. Terjadi penarikan kembali kredit sebelum jangka waktu kredit berakhir dengan syarat : 1. tahun 2. kerugian yang lebih besar 3. dilakukan oleh debitur 3.4 Prosedur Pengajuan dan Penerimaan Surat Klaim Asuransi Kredit Hak tertanggung (Bank atau lembaga keuangan non bank lainnya) mengajukan klaim mulai timbul pada saat setelah tiga (3) bulan terhitung dari tanggal jatuh tempo kredit atau setelah 3 (tiga) bulan dari tanggal penghentian fasilitas kredit. Tertanggung (Bank atau lembaga keuangan non bank lainnya) hanya berhak atas klaim apabila debitur yang bersangkutan telah dilaporkan menunggak pada periode Laporan Realisasi Kredit (LRK) atau Laporan Nasabah Menunggak (LNM) minimal tiga bulan sebelum timbulnya hak klaim. Adapun prosedur pengajuan dan penerimaan surat klaim pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar, yaitu : Terdapat penyimpangan yang Untuk mencegah / mengurangi Jangka waktu kredit lebih dari 2

30

a. Tertanggung mengajukan Surat Tuntutan Ganti Rugi (STGR) atau surat klaim yang dilampiri dengan : 1) Tembusan perjanjian kredit/copy perjanjian kredit yang dilegalisir.

Biasanya disebut Surat Pengakuan Hutang (SPH) 2) 3) 4) Rekening koran (R/C) / kartu pinjaman Copy Berita Acara Pemeriksaan setempat Data pendukung lainnya sesuai persyaratan dalam Perjanjian Asuransi

Kredit (PAK) dan Confirmation Letter (CL). Misalnya Rencana Usaha Bersama (RUB), Laporan Kunjungan Nasabah (LKN), surat permohonan kredit, surat peringatan tunggakan, dan lain sebagainya. Surat Tuntutan Ganti Rugi (STGR) beserta lampirannya masing-masing 1 rangkap diajukan oleh Tertanggung. b. Surat Tuntutan Ganti Rugi (STGR) atau surat klaim tersebut diterima oleh

seksi administrasi dan keuangan sesuai dengan prosedur penerimaan surat masuk, dan disampaikan ke seksi klaim dan subrogasi. c. Petugas Administrasi Klaim kemudian melakukan pencatatan data Tuntutan Ganti Rugi (diregistrasi) ke dalam buku register klaim masuk. d. Petugas Administrasi Klaim melakukan input data Tuntutan Ganti Rugi (TGR) dan mencetak Form Analisa untuk proses penyelesaian klaim. e. Form Analisa, berkas TGR, dan lampirannya diserahkan kepada Analis untuk proses penyelesaian klaim. (A)

31

Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai prosedur pengajuan dan penerimaan surat klaim dapat dilihat pada gambar 3.2.

Bank Tertanggung Seksi Administrasi dan Keuangan Seksi Klaim & Subrogasi

STGR1

Penerimaan STGR

STGR1

Lampiran1

Lampiran1

Gambar 3.2

Pencatatan ke BK Register Klaim Masuk

Prosedur Pengajuan Dan Penerimaan Surat Klaim

Input Data TGR dan Cetak Form Analisa Form Analisa TGR Lampiran

A

32

Sumber Keterangan

: PT. Asuransi Kredit Indonesia Tahun 1999 : STGR : Surat Tuntutan Ganti Rugi

3.5 Prosedur Penyelesaian Klaim Asuransi Kredit Dalam penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia, pihak tertanggung harus memenuhi persyaratan dalam menyerahkan dokumen -

dokumen yang diperlukan. Apabila data data atau dokumen tersebut belum lengkap maka seksi klaim berhak meminta pada pihak tertanggung untuk melengkapi data data yang kurang sesuai dengan yang tercantum dalam Perjanjian Asuransi Kredit

33

(PAK). Analis akan memulai proses penyelesaian klaim setelah data atau dokumen yang diperlukan lengkap dengan menggunakan Form Analisa. Terdapat dua (2) hasil analisa Tuntutan Ganti Rugi (TGR), yaitu : a. Klaim Disetujui 1) Apabila dari hasil penelitian ternyata Tuntutan Ganti Rugi / Klaim

memenuhi syarat, lakukan perhitungan ganti rugi dari hasil perhitungan ganti rugi sesuai dengan yang tercantum dalam Perjanjian Asuransi Kredit (PAK). 2) Apabila jumlah klaim tersebut Rp 200.000.000,00 ke bawah maka

keputusan berada dibawah wewenang Kantor Cabang. 3) Apabila jumlah klaim tersebut diatas Rp 200.000.000,00 maka

keputusan berada dibawah wewenang Kantor Pusat. Wewenang Kantor Cabang : a) Analis seksi klaim Kantor Cabang melakukan analisa

penyelesaian klaim berdasarkan Form Analisa, berkas TGR, dan lampirannya. b) Apabila dari hasil penelitian ternyata Tuntutan Ganti Rugi /

Klaim memenuhi syarat, lakukan perhitungan ganti rugi dari hasil perhitungan ganti rugi sesuai dengan yang tercantum dalam Perjanjian Asuransi Kredit (PAK). c) Analis kemudian membuat Usulan/Memorandum

Persetujuan Pembayaran Klaim yang akan diajukan kepada Kepala Cabang PT. ASKRINDO.

34

d)

Kepala Cabang memberikan persetujuan dalam hal Usulan

Pembayaran Klaim, Petugas administrasi klaim melakukan entry data persetujuan dan menerbitkan Claim Settlement serta Surat Perintah Transfer (SPT)/Surat Permintaan Pemindah Bukuan (SPPB) yang akan digunakan untuk proses transfer oleh seksi administrasi dan keuangan. e) Permintaan Claim Settlement serta Surat Perintah Transfer (SPT)/Surat Pemindah Bukuan (SPPB) setelah diterbitkan harus

ditandatangani oleh Kepala Cabang. f) Setelah ditandatangani, Claim Settlement serta Surat Perintah

Transfer (SPT)/Surat Permintaan Pemindah Bukuan (SPPB) diserahkan kepada seksi administrasi dan keuangan yang akan digunakan untuk proses transfer. g) Berdasarkan Surat Perintah Transfer (SPT)/Surat Permintaan

Pemindah Bukuan (SPPB), seksi administrasi dan keuangan melakukan pembayaran melalui transfer bank. h) Claim Settlement serta Surat Perintah Transfer (SPT)/Surat

Permintaan Pemindah Bukuan (SPPB) dibuat rangkap empat (4), dimana lampiran ke-1 dan 2 dikirim kepada Cabang Bank Tertanggung dan Kanwil Bank Tertanggung, lampiran ke-3 diserahkan kepada seksi klaim dan subrogasi sebagai arsip dari dokumen penyelesaian klaim dan lampiran ke-4 digunakan sebagai arsip oleh seksi administrasi dan keuangan. Wewenang Kantor Pusat :

35

a) Apabila keputusan tersebut menyangkut wewenang Kantor Pusat, maka Kantor Pusat yang akan memberikan persetujuan/keputusan atas analisa penyelesaian klaim yang dilakukan oleh Analis Kantor Cabang. b) Persetujuan klaim tersebut disampaikan ke Kantor Cabang untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan wewenang Kantor Cabang yang telah dijelaskan di atas. Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit yang disetujui dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Prosedur Persetujuan Klaim Asuransi Kredit Seksi Klaim dan Subrogasi AForm analisa

Seksi Administrasi dan Keuangan

36Claim Settlement Kirim ke Cabang bank 1 TGR lampiran Telaah & Disetuju i Disetujui / tidak Usulan Pembayaran Kirim ke Kanwil bank 2

Claim Settlement 1 2 3

SPT/SPPB 1 2 3

Usulan pembayaran disetujui

4

4 Transfer Pembayara nR

Penerbita n Claim Settlement 1 2 3 4 Ditandatanga ni oleh kepala cabang Claim settlement 3 SPT/SPPB 3 Pencatatan ke BK Register Arsip N SPT/SPPB 1 2 3 4 Claim settlement 4 SPT/SPPB 4

SPT/SPPB 1 2 3 4

Pencatatan ke BK register Arsip N

SPT/SPPB Kirim ke Cabang bank 1 Kirim ke Kanwil bank 2

b.

Klaim Ditolak 1)

Berdasarkan Form Analisa, berkas TGR, dan lampirannya, AnalisSumber : PT. Asuransi Kredit Indonesia Tahun 1999

melakukan analisa penyelesaian klaim. 2)

Apabila dari hasil penelitian ternyata : SPT : Surat Perintah Transfer Keterangan Tuntutan Ganti Rugi: SPPB : Surat Permintaan Pemindah Bukuan

(TGR)/klaim tidak memenuhi syarat maka permohonan klaim ditolak. 3)

Analis seksi klaim membuat usulan penolakan klaim kepada Kepala

Cabang PT. ASKRINDO.

37

4)

Apabila Kepala Cabang menyetujui penolakan klaim maka petugas

administrasi klaim menerbitkan surat penolakan TGR. Surat penolakan Tuntutan Ganti Rugi dikeluarkan oleh seksi klaim dan dibuat tiga (3) rangkap. Surat penolakan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) lampiran Ke-1 dan 2 dikirim kepada Cabang Bank tertanggung dan Kanwil bank tertanggung yang bersangkutan dan surat penolakan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) lampiran Ke-3 digunakan sebagai arsip oleh seksi klaim & subrogasi. Selanjutnya untuk lebih jelasnya mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit yang ditolak dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Prosedur Penolakan Klaim Asuransi Kredit Seksi Klaim dan Subrogasi

AForm analisa TGR lampiran Telaah & Disetuju i

38

Disetujui / tidak

Usulan penolakan

Usulan penolakan disetujui

Surat penolakan TGR 1 2 3

Ditandatanga ni oleh kepala cabang Surat penolakan TGR dikirim ke Cabang bank 1 Kirim ke Kanwil bank 2 3

Pencatatan ke IV BAB BK Register

Sumber : PT. Asuransi Kredit Indonesia Tahun 1999 Keterangan : TGR = Tuntutan Ganti Rugi

PENUTUPArsip N

4.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab bab sebelumnya mengenai prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Prosedur penyelesaian klaim Asuransi Kredit pada PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar didahului dengan mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengajuan penyelesaian klaim Asuransi Kredit.

39

2. Prosedur penyelesaian Asuransi Kredit didahului dengan pengajuan dokumen atau berkas-berkas yang berisi tentang pengajuan klaim sesuai dengan yang tercantum dalam Perjanjian Asuransi Kredit (PAK) antara penanggung dan tertanggung. Pihak tertanggung mengajukan langsung ke kantor cabang dan selanjutnya seksi klaim dan subrogasi akan menindaklanjuti dengan menganalisa dokumen tersebut. 3. Kantor Cabang dan seksi klaim & subrogasi akan segera memproses penyelesaian klaim dengan mengecek dokumen tersebut apakah tuntutan klaim yang diajukan merupakan wewenang kantor cabang atau kantor pusat, apabila dokumen atau berkas sudah lengkap. Setelah diketahui masing-masing keputusan kantor cabang atau kantor pusat, maka kantor cabang akan menerbitkan claim settlement dan SPT/SPPB bila klaim disetujui atau surat 38 penolakan klaim bila klaim ditolak. Pembayaran klaim dilakukan melalui bank yang dilaksanakan menggunakan SPT/SPPB. 4. Semua urutan kegiatan yang dimulai dari prosedur pengajuan klaim sampai prosedur penyelesaian klaim membentuk suatu sistem yang melibatkan beberapa orang dengan pembagian kewenangan yang jelas. Pembatasan pembayaran klaim juga dapat dilihat sebagai suatu usaha untuk mengadakan pengendalian intern dalam perusahaan, agar kegiatan perusahaan yang saling berkaitan tidak mengalami kekacauan. oleh seksi keuangan dan akuntansi dengan

40

4.2 Saran Saran Berdasarkan kesimpulan yang ada maka dapat dikemukakan beberapa saran yang kiranya dapat bermanfaat bagi PT Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar: 1. Sebaiknya kewenangan memutus besarnya penyelesaian klaim kepada PT Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar dapat lebih ditingkatkan, sehingga dapat mempercepat proses pelayanan klaim kepada mitra kerja PT. Askrindo. 2. Diharapkan PT. Asuransi Kredit Indonesia Cabang Denpasar melakukan usaha-usaha yang dapat meminimalkan klaim yang terjadi, misalnya dengan melakukan kunjungan kepada debitur. 3. Mengupayakan target pencapaian premi yang telah ditetapkan, bila perlu target dalam pencapaian premi tersebut dapat ditingkatkan.