Laporan IPAL Karawaci Kelompok 7

download Laporan IPAL Karawaci Kelompok 7

of 23

  • date post

    26-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.937
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Laporan IPAL Karawaci Kelompok 7

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Berbagai aktivitas yang dilakukan manusia dapat menghasilkan suatu buangan berupa zat padat, cair maupun gas. Buangan yang dihasilkan dapat menimbulkan pengaruh terhadap kualitas lingkungan, baik menguntungkan maupun merugikan. Untuk menghindari kemungkinan timbulnya pengaruh yang merugikan, misalnya pencemaran, perlu dilakukan suatu pengolahan. Limbah dapat diolah hingga memenuhi standar effluen dalam suatu instalasi pengolahan air limbah. Dalam hal ini mahasiswa teknik lingkungan diharuskan dapat mendesain suatu instalasi pengolahan air limbah. Mata kuliah perencanaan bangunan pengolahan air limbah merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa tingkat 4 semester 7. Selain belajar teori dan hitungan secara teoritis, mahasiswa juga dapat menambah pengetahuan dengan kuliah lapangan mengunjungi site pengolahan air limbah karena pada kenyataannya di lapangan tidak akan sama persis dengan hasil perhitungan secara teoritis. Centralized Treatment Plant PT Lippo Karawaci Tbk merupakan salah satu instalasi pengolahan air limbah domestik di Indonesia yang menggunakan sistem lumpur aktif. Centralized Treatment Plant PT Lippo Karawaci Tbk melayani limbah domestik milik warga sekitar Lippo Karawaci dan juga melayani limbah domestic rumah sakit dan pusat perbelanjaan yang berada di sekitar kawasan Lippo Karawaci.

1.2 Tujuany y

Mengetahui kondisi lapangan suatu instalasi pengolahan air limbah. Mengetahui skema dan proses kerja unit - unit instalasi pengolahan air limbah Lippo Karawaci

y

Mengevaluasi sistem instalasi pengolahan air limbah Lippo Karawaci

1.3 Lokasi Dan Waktu Pelaksanaan . Kuliah Lapangan ini dilaksanakan di Centralized Treatment Plant PT Lippo

Karawaci Tbk, 2121 Bulevard Gajah Mada #0101, Lippo Karawaci Utara, pada tanggal 21 Oktober 2010

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengelolaan Air Limbah Air buangan domestik dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:y

Black Water, yaitu air buangan yang berasal dari toilet. Air buangan ini berupa kotoran manusia.

y

Grey Water, yaitu air buangan yang berasal dari kegiatan dapur, kamar mandi, pencucian, dan sebagainya.

Pengolahan limbah dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :y y

On site, yaitu limbah diolah pada sumber limbah. Off site, yaitu limbah diolah secara terpusat atau secara komunal.

Air limbah yang berasal dari bekas mandi, mencuci dan memasak umumnya dibuang ke saluran drainase yang kemudian diterima oleh badan air atau sungai, sehingga terjadi pencampuran dalam sistem pembuangan air hujan (drainase). Sementara air limbah yang berbentuk tinja umumnya dialirkan ke septic tank atau ke cubluk, meskipun sebagian kecil penduduk juga ada yang membuangnya ke saluran drainase atau sungai. Komponen air buangan yang mempengaruhi jumlah air buangan yang dihasilkan suatu daerah sangat tergantung dari sistem penyaluran air buangan yang digunakan. Komponen-komponen air buangan tersebut, yaitu : a. Air Buangan Domestik, air buangan yang berasal dari pemukiman, kegiatan komersial, institusi, dan fasilitas sejenis. b. Air Buangan Industri, air buangan yang berasal dari industri yang ada di daerah perencanaan. c. Infiltrasi/inflow, infiltrasi adalah air buangan yang berasal dari air yang masuk ke sistem penyaluran air buangan melalui sambungan yang bocor, retakan-retakan, atau dinding yang porous. Inflow adalah air hujan yang masuk ke sistem penyaluran air buangan dari drainase, gutter atap, atau dari penutup manhole. d. Storm water, air hujan atau lelehan salju.2

2.2 Pengolahan Air Buangan Secara garis besar pengolahan air buangan terdiri dari beberapa tahapan yaitu : 1. Pengolahan tingkat pertama (Primary Treatment), yaitu pengolahan secara fisis dengan tujun memisahkan bendabenda kasar, partikel partikel

tersuspensi secara gravitasi 2. Pengolahan tingkat (Secondary Treatment), yaitu pengolahan secara biologis dan kimiawi dengan tujuan untuk memisahkan substansi organik terlarut. 3. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment), yaitu pengolahan lumpur yang timbul dari unitunit pengolahan sebelumnya, dengan mengurangi kadar air yang dikandungnya sehingga volumenya lebih kecil dan lebih mudah untuk dilakukan pengeringan 2.2.1 Pengolahan Tingkat I (Primary Treatment) Pengolahan primer merupakan pengolahan secara fisik berupa perubahan bentuk atau berat. Pada pengolahan ini tidak terjadi perubahan secara kimia. Proses berlangsung pada mekanisme fisis dan diperhitungkan secara matematis.y

Sump Well Berfungsi untuk menampung air buangan dari ujung pipa induk air buangan sebelum dialirkan ke sistem pengolahan. Perencanaannya bergantung pada system pemompaan berkaitan dengan fluktuasi air buangan dan waktu detensi ( kurang dari 30 menit ) untuk mencegah pengendapan dan dekomposisi air buangan.

y

Saluran Pembawa Berupa saluran terbuka, dapat juga saluran tertutup yang berfungsi menyalurkan air buangan dari satu unit pengolahan ke unit pengolahan lainnya. Berbentuk segiempat dan terbuat dari beton.

y

Bar Screen Berupa rangkaian kisi-kisi besi untuk menyaring benda-benda kasar yang mengganggu proses pengolahan air buangan, juga melindungi pompa, value dan perpipaan dari clogging. Screen merupakan lubang-lubang seragam yang terdiri atas batang parallel, balok atau kawat, kisi / jeruji, mata lubang, atau plat penuh lubang.

3

y

Comminutor Alat untuk menghancurkan atau memotong benda-benda kasar yang punya ukuran tertentu yang ikut terbawa atau terapung dan loss dari bar screen menjadi ukuran kecil tertentu atau hancur sama sekali.

y

Grit Chamber Bak untuk menangkap pasir supaya tidak ikut terbawa proses, sebab pasir tidak dapat dihancurkan secara proses biologis.

y

Proportional Weir Perlengkapan yang diperlukan pada bangunan pengolah air buangan untuk memudahkan pengoperasian dan pengontrolan besar aliran supaya tidak terjadi penggerusan pasir yang mudah mengendap pada grit chamber.

y

Bak Pengendap Pertama Mengurangi kandungan suspended solid dan sebagian padatan organik dalam air buangan ( antara 50%-65%) dan menurunkan BOD (25% - 40%) yang berlangsung secara fisis tanpa pembubuh zat kimia. Lumpur endapan masih mengandung material organic yang tinggi sehingga effluentnya dialirkan ke thickener sedangkan filtrate dialirkan ke pengolahan berikutnya. Bak pengendap I dibuat berbentuk persegi panjang agar efisiensinya tinggi.

y

Tangki Aliran Rata-rata Tangki reservoir yang berfungsi untuk merata-ratakan aliran, konsentrasi / beban. Dimana kondisi rata-rata ini akan bermanfaat untuk menghindari shock loading maupun masalah-masalah operasi akibat fluktuasi aliran.

2.2.2 Pengolahan Tingkat II (Secondary Treatment) Unit pengolahan tergantung dari satuan proses dan operasi. Pemilihan alternative didasarkan pada tingkat penyisihan ( > 90% ), konsistensi effluent, dan kemampuan lain. 1. Proses lumpur aktif (activated sludge) Sesudah dikembangkan pada 1910 an di Eropa dan Amerika Serikat, karena efisien dan ekonomis, proses Lumpur aktif mulai banyak digunakan dan menjadi proses aerobik yang paling popular.Istilah lumpur aktif sering diartikan sebagai nama proses

4

itu sendiri dan juga sering diartikan sebagai padatan biologik yang merupakan motor di dalam proses pengolahan.

Seperti pada gambar diatas, sesudah equalization tank di mana fluktuasi kwalitas/ kwantitas influen diratakan, limbah cair dimasukkan ke dalam tangki aerasi di mana terjadi pencampuran dengan mikroorganisme yang aktif (lumpur aktif). Mikroorganisme inilah yang melakukan penguraian dan menghilangkan kandungan organik dari limbah secara aerobik. Oksigen yang dibutuhkan untuk reaksi mikroorganisme tersebut diberikan dengan cara memasukkan udara ke dalam tangki aerasi dengan blower.Aerasi ini juga berfungsi untuk mencampur limbah cair dengan lumpur aktif, hingga terjadi kontak yang intensif.Sesudah tangki aerasi, campuran limbah cair yang sudah diolah dan lumpur aktif dimasukkan ke tangki sedimentasi di mana lumpur aktif diendapkan, sedangkan supernatant dikeluarkan sebagai effluen dari proses. Sebagian besar lumpur aktif yang diendapkan di tangki sedimentasi tersebut dikembalikan ke tangki aerasi sebagai return sludge supaya konsentrasi mikroorganisme dalam tangki aerasinya tetap sama dan sisanya dikeluarkan sebagai excess sludge. Permasalahan dalam lumpur aktif antara lain :y y

Membutuhkan energi yang besar Membutuhkan operator yang terampil dan disiplin dalam mengatur jumlah massa mikroba dalam reaktor

y

Membutuhkan penanganan lumpur lebih lanjut.

5

2. Completely Mixed Activated Sludge (CMAS) Completely Mixed Activated Sludge merupakan salah satu modifikasi dari proses lumpur aktif. Air buangan terlebih dahulu harus melalui bak pengendap pertama sebelum memasuki tangki aerasi. Influent dari bak pengendap pertama ini dimasukkan ke dalam suatu sistem inlet sehingga beban pengolahan dapat tersebar merata keseluruh tangki aerasi. Dengan cara ini diharapkan rasio antara su bstrat dan mikroorganisme cukup seimbang sehingga memungkinkan terjadinya adsorbsi material organik terlarut dalam biomassa dengan cepat. Proses selanjutnya adalah proses dekompossisi materi biodegradable secara aerob. Waktu detensi hidrolis dalam bak aerasi yang direncanakan harus mencukupi untuk terjadinya dekompoisisi aerob yaitu sekitar 4 sampai 36 jam dan biasanya 4 sampai 8 jam untuk air buangan domestik (Reynold, 1982). Peralatan yang banyak digunakan untuk aerasi adalah mekanikal aerator karena menghasilkan pengadukan yang lebih baik. Aliran resirkulasi yang biasa digunakan sebesar 35-100% dari aliran influen. Kelebihan sistem ini adalah mampu mengolah air buangan dengan konsentrasi yang tinggi ataupun yang mengandung zat toksik karena kondisi tangki yang homogen. Kondisi yang homogen inilah yang menye