Laporan Individu PBL

of 23 /23

Click here to load reader

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Individu PBL

Laporan Individu PBL

MODUL BERAT BADAN MENURUN

Nama: Wenda Anastasia NIM Kelompok Tutor : C 111 07 166 :B8 : Prof. dr. Dali Amiruddin, Sp. KK dr. Ilhamuddin

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2008

SKENARIO 2Seorang wanita, umur 35 tahun berkunjung ke puskesmas dengan keluhan berat badan menurun lebih dari 10 kg dalam 6 bulan terakhir. Ia juga mengeluh jantung berdebar, gelisah, dan mata sering terasa perih.

KATA KUNCI Wanita, 35 tahun Bb turun >10 kg dalam 6 bulan Jantung berdebar, gelisah, dan mata terasa perih

PERTANYAAN1. Diferensial diagnosis apa saja yang dapat diajukan untuk skenario di atas ? 2. Apa yang menyebabkan berat badan menurun, jantung berdebar, gelisah dan mata terasa perih ? 3. Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi organ yang berhubungan dengan skenario di atas ?

JAWABAN1. Dari gejala gejala yang diberikan, ada 4 DD yang didiskusikan : Graves Disease ( Goiter Diffuse Toxic ) Goiter Nodular Toxic DM tipe 2 Usia Jenis Kelamin Umumny a wanita Tidak spesifik Umumny a wanita Berat Badan Menurun + + + Jantung Berdeb ar + + + Gelisa h + + + Mata perih + + -

Diferensial Diagnosis Graves Disease Goiter Nodular Toxic DM tipe 2

30 50 tahun >40 tahun tidak spesifik

Graves Disease ( Goiter Diffuse Toxic )

- Definisi Graves Disease ( GD ) adalah sebuah penyakit pada tiroid yang ditandai dengan adanya gondok, exophthalmus, kulit seperti kulit jeruk, dan hipertiroidisme. Disebabkan oleh reaksi autoimun, tetapi pencetus reaksi ini masih belum diketahui. GD merupakan penyebab paling sering untuk hipertiroidisme dan pembesaran tiroid di dunia. Di beberapa negara di Eropa, GD disebut juga Basedows disease atau GravesBasedows disease. - Etiologi Pencetus dari produksi antibodi yang menyerang reseptor TSH pada kelenjar tiroid ini belum diketahui. Munculnya GD ini cenderung bersifat genetik, karena beberapa orang lebih mudah untuk memproduksi antibodi terhadap reseptor TSH dibanding yang lain karena genetik. Dalam hal ini, HLA DR ( khususnya DR3 ) memainkan peran penting. - Epidemiologi GD umumnya terjadi pada wanita, dengan perbandingan wanita : pria adalah 7 : 1, terjadi pada umur sekitar 30 50 tahun, tapi tidak terjadi pada remaja, pada saat hamil, pada waktu menopause dan orang orang di atas 50 tahun. - Patofisiologi GD adalah sebuah penyakit autoimun, yaitu tubuh secara serampangan membentuk thyroid-stimulating immunoglobulin ( TSI ), suatu antibody yang sasarannya adalah reseptor TSH di sel tiroid.imunoglobulin perangsang tiroid (TSI) merangsang sekresi dan pertumbuhan tiroid dengan cara yang serupa dengan yang dilakukan oleh TSH. Namun, tidak seperti TSH, TSI tidak dipengaruhi oleh inhibisi umpan balik negative oleh hormone tiroid, sehingga sekresi dan pertumbuhan tiroid terus berlangsung. Hal ini menyebabkan hipertiroidisme. Pasien hipertiroidisme mengalami peningkatan laju metabolic basal. Terjadi peningkatan pembentukan panas yang menyebabkan pengeluaran keringat berlebihan dan penurunan toleransi terhadap panas. Walaupun nafsu makan dan asupan makanan meningkat terjadi sebagai akibat meningkatnya kebutuhan metabolic, berat badan biasanya berkurang karena tubuh membakar bahan bakar dengan kecepatan abnormal. Terjadi degradasi netto simpanan karbohidrat, lemak, dan protein. Penurunan massa protein otot rangka menyebabkan kelemahan. Hipertiroidisme menimbulkan berbagai kelainan kardiovaskuler, yang disebabkan baik oleh efek langsung hormone tiroid maupun oleh interaksinya dengan katekolamin. Kecepatan dan kekuatan denyut jantung dapat menjadi sangat meningkat, sehingga individu mengalami palpitasi ( menyadari ketidaknyamanan aktivitas jantung sendiri, berdebar debar ). Pada kasus yang parah, jantung mungkin tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh yang sangat meningkat walaupun curah jantung meningkat. Keterlibatan susunan saraf ditandai oleh kewaspadaan mental yang berlebihan

sampai pada keadaan pasien yang mudah tersinggung, tegang, cemas, dan sangat emosional. Gambaran GD yang jelas mencolok dan tidak ditemukan pada jenis hipertiroidisme lain adalah eksoftalmus (mata menonjol). Tanpa alasan yang jelas, di belakang mata tertimbun karbohidrat kompleks yang menahan air. Retensi cairan di belakang mata mendorong bola mata ke depan sehingga mata keluar dari tulang orbita. Bola mata dapat menjadi sangat menonjol hingga kelopak mata tidak dapat menutup sempurna, dalam hal ini mata menjadi kering, teriritasi, dan rentan mengalami ulkus kornea. Bahkan setelah keadaan hipertiroidisme diperbaiki, gejala mata yang mengganggu ini dapat menetap. Kulit seperti kulit jeruk terjadi karena infiltrasi antibodi di bawah kulit, menyebabkan reaksi radang dan berikutnya pembentukan jaringan ikat. Ada 3 tipe autoantibodi terhadap reseptor TSH : TSI ( thyroid stimulating immunoglobulins ), menyebabkan peningkatan produksi hormon tiroid. TGI ( thyroid growth immunoglobulins ), berikatan langsung dengan reseptor TSH dan terlibat dalam pertumbuhan kelenjar tiroid. TBII ( thyrotrophin binding inhibiting immunoglobulins ), menghambat TSH untuk berikatan dengan reseptornya.

- Gejala Palpitations Increased Eye pain, irritation, tingling sensation behind the Tachycardia (rapidenergy eyes or the feeling of grit or heart rate: 100-120 beats Fatigue sand in the eyes per minute, or higher) Mental Swelling or redness of Arrhythmia (irregularimpairment, memory heart beat) lapses, diminishedeyes or eyelids/eyelid retraction Sensitivity to light Raised blood pressureattention span (Hypertension) Decreased Decrease in menstrual periods (oligomenorrhea), Tremor (usually fineconcentration shaking eg. hands) Nervousness, Irregular and scant menstrual flow (Amenorrhea) agitation Excessive sweating Difficulty Irritability Heat intolerance Restlessness conceiving/infertility/recurrent Increased appetite miscarriage Erratic Unexplained weight Hair loss loss despite increasedbehavior Itchy skin, hives appetite Emotional Chronic sinus infections lability Shortness of breath Lumpy, reddish skin of Brittle nails Muscle weakness the lower legs (pretibial (especially in the large Abnormal muscles of the arms andbreast enlargementmyxedema) Smooth, velvety skin legs) and degeneration (men)

Diminished/Changed sex drive

Goiter Increased bowel (enlarged thyroidmovements or Diarrhea gland) Insomnia (inability to Sometimes dizzines Protruding get enough sleep) eyeballs (Graves'occurs disease only)

Double vision

- Pemeriksaan Penunjang Tes untuk mengatur aktivitas/fungsi tiroid terdiri atas : T3 T4 serum FT3 FT4 Indeks T4 bebas (FT4I) Tes TSH Tes TRH Tes untuk monitoring terapi T4 T3 serum FT4 TSH Tes utk menunjukkan penyebab gangguan fungsi tiroid Antibodi antitiroid Antibodi Tiroglobulin Antibodi Mikrosomal Thyroid Stimulating Antibodies - Penatalaksanaan Tiga metode umum untuk menekan sekresi hormone tiroid yang berlebihan adalah pengangkatan secara bedah sebagian kelenjar tiroid yang hipersekrertif; pemberian iodium radioaktif yang, setelah terkumpul di kelenjar tiroid oleh pompa iodium, secara selektif menghancurkan jaringan kelenjar tiroid; dan penggunaan obat anti-tiroid yang secara spesifik mengganggu sintesis hormone tiroid.

Goiter Nodular Toxic Definisi Goiter Nodular Toxic ( GNT ) adalah suatu pembesaran kelenjar tiroid yang berisi massa yang disebut nodul, yang memproduksi hormom tiroid yang sangat banyak, sehingga menyebabkan hipertiroidisme. Etiologi GNT timbul dari gondok sederhana yang sudah berjalan lama dan menjadi GNT pada saat usia lanjut.

Epidemiologi Umumnya, GNT ini terjadi pada usia > 40 tahun, dan dapat terjadi pada wanita atau pria. GNT ini belum pernah terjadi pada anak anak.

Patofisiologi Goiter Nodular Toxic (GNT) timbul dari gondok yang sederhana yang sudah ada sejak lama. Gondok yang sederhana ini menjadi GNT pada usia lanjut, menyebabkan hipersekresi hormone tiroid. Penyebab dari gondok yang sederhana menjadi GNT belum diketahui. Hipersekresi hormone tiroid menyebabkan peningkatan metabolisme basal. Terjadi peningkatan metabolisme panas sehingga menyebabkan pengeluaran keringat berlebihan dan penurunan toleransi terhadap panas. Walaupun nafsu makan dan asupan makanan meningkat terjadi sebagai akibat meningkatnya kebutuhan metabolic, berat badan biasanya berkurang karena tubuh membakar bahan bakar dengan kecepatan abnormal. Terjadi degradasi netto simpanan karbohidrat, lemak, dan protein. Penurunan massa protein otot rangka menyebabkan kelemahan. Hipertiroidisme menimbulkan berbagai kelainan kardiovaskuler, yang disebabkan baik oleh efek langsung hormone tiroid maupun oleh interaksinya dengan katekolamin. Kecepatan dan kekuatan denyut jantung dapat menjadi sangat meningkat, sehingga individu mengalami palpitasi ( menyadari ketidaknyamanan aktivitas jantung sendiri, berdebar debar ). Pada kasus yang parah, jantung mungkin tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh yang sangat meningkat walaupun curah jantung meningkat. Keterlibatan susunan saraf ditandai oleh kewaspadaan mental yang berlebihan sampai pada keadaan pasien yang mudah tersinggung, tegang, cemas, dan sangat emosional.

Gejala Penurunan berat badan Meningkatnya nafsu makan Gelisah Tidak tahan terhadap panas Keringat yang berlebihan Kelelahan Kram pada otot Menstruasi yang tidak teratur ( pada wanita )

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya nodul di kelenjar tiroid. Ada kemungkinan peningkatan denyut jantung. Pemeriksaan lainnya :

Thyroid scan memperlihatkan peningkatan iodine radioaktif pada nodul Uji serum TSH (thyroid stimulating hormone) Uji kadar T3/T4 dalam serum

Penatalaksanaan

Pemberian iodin radioaktif, operasi pengangkatan pemberian obat anti-tiroid (propylthiouracil, methimazole) Pemberian Beta-blockers, seperti beberapa gejala pada hipertiroidisme propranolol,dapat

nodul

atau

mengontrol

Diabetes Mellitus tipe 2 Definisi

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua duanya. Pada DM tipe 2, kelainan dasar yang terjadi adalah pada kerja insulin, dimana pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relative. Etiologi

Terjadi karena kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin" ( adanya defek respon jaringan terhadap insulin ) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Epidemiologi

Faktor resiko untuk DM tipe 2 antara lain sebagai berikut : a. Usia > 45 tahun b. Obesitas c. Hipertensi

d. e. f. g. h.

Riwayat keluarga DM Riwayat melahirkan bayi dengan BB > 4 kg Riwayat DM pada saat kehamilan Penderita PJK ( penyakit jantung koroner ), TBC, hipertiroidisme Kadar lipid yang tinggi Patofisiologi

Karena aktivitas insulin yang rendah menyebabkan hiperglikemia, yaitu tingginya kadar gula dalam darah akibat penurunan peneyerapan glukosa oleh sel sel, disertai pengeluaran glukosa oleh hati. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibatnya, maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi). Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Hal ini menyebabkan aliran darah ke seluruh tubuh berkurang karena adanya penimbunan lemak di pembuluh darah, sehingga jantung harus memompa suplai darah lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan tubuh, ini menyebabkan jantung harus lebih cepat memompa, sehingga jantung berdegup lebih cepat. DM tipe 2 merupakan jenis DM yang paling banyak dijumpai di masyarakat (90-95% kasus). Perkembangan penyakit dapat dibagi menjadi 4 tahap yaitu: 1. Normal/sehat Kadar glukosa darah normal. Perlu waktu bertahun tahun untuk berkembang menjadi DM.

2. Pre Diabetes mulai bertahap terjadi peningkatan kadar glukosa darah secara

kadar glukosa darah tidak cukup tinggi untuk menimbulkan gejala tetapi cukup mampu menyebabkan kerusakan dan gangguan fungsi berbagai jaringan tubuh berisiko mengalami komplikasi misalnya hipertensi,

sering disertai faktor risiko lain dislipidemia dan kegemukan atau obesitas

dapat dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi dan perkembangan menjadi DM 3. Diabetes seringkali telah ditemukan komplikasi pada saat diagnosis

4. Komplikasi terutama Penyakit Jantung Koroner dan Stroke dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ misalnya mata, ginjal dan syaraf dapat berakibat fatal Gejala

Gejala klasik dari DM antara lain berat badan menurun, banyak buang air kecil (poliuria), banyak minum (polidipsi) dan banyak makan (polifagi). Gejala - gejala lain dapat berupa selalu merasa lelah (kekurangan energy), kesemutan, gangguan penglihatan, gatal, gangguan ereksi atau keputihan. Pemeriksaan Penunjang

Bagi orang sehat, untuk deteksi dini diabetes / Pre-Diabetes : Glukosa Puasa Glukosa 2 jam PP

Bagi orang yang berisiko tinggi (obesitas, keturunan, kurang aktivitas fisik, dll) :

Glukosa Puasa Glukosa 2 jam PP Cholesterol Total Cholesterol HDL Cholesterol LDL Direk Trigliserida Apo B Tekanan darah

IMT (berat badan, tinggi badan) Lingkar pinggang

Tambahan : hs-CRP Status Antioksidan Total

Jika seseorang memiliki gejala atau memiliki faktor risiko DM, disarankan untuk memeriksa kadar gula darahnya. Kadar gula darah puasa yang normal adalah 45 tahun Obesitas Hipertensi Riwayat keluarga DM Riwayat melahirkan bayi dengan BB > 4 kg Riwayat DM pada saat kehamilan Penderita PJK ( penyakit jantung koroner ), TBC, hipertiroidisme Kadar lipid yang tinggi

Karena aktivitas insulin yang rendah menyebabkan hiperglikemia, yaitu tingginya kadar gula dalam darah akibat penurunan peneyerapan glukosa oleh sel sel, disertai pengeluaran glukosa oleh hati. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibatnya, maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi). Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Hal ini menyebabkan aliran darah ke seluruh tubuh berkurang karena adanya penimbunan lemak di pembuluh darah, sehingga jantung harus memompa

suplai darah lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan tubuh, ini menyebabkan jantung harus lebih cepat memompa, sehingga jantung berdegup lebih cepat. DM tipe 2 merupakan jenis DM yang paling banyak dijumpai di masyarakat (9095% kasus). Perkembangan penyakit dapat dibagi menjadi 4 tahap yaitu : 1. Normal/sehat Kadar glukosa darah normal. Perlu waktu bertahun tahun untuk berkembang menjadi DM. 2. Pre Diabetes mulai terjadi peningkatan kadar glukosa darah secara bertahap

kadar glukosa darah tidak cukup tinggi untuk menimbulkan gejala tetapi cukup mampu menyebabkan kerusakan dan gangguan fungsi berbagai jaringan tubuh berisiko mengalami komplikasi

sering disertai faktor risiko lain misalnya hipertensi, dislipidemia dan kegemukan atau obesitas dapat dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi dan perkembangan menjadi DM 3. Diabetes seringkali telah ditemukan komplikasi pada saat diagnosis

4. Komplikasi terutama Penyakit Jantung Koroner dan Stroke dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ misalnya mata, ginjal dan syaraf dapat berakibat fatal

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.PAPDI. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

www.google.comwww.hon.ch www.medicastore.com

www.mediline.comwww.pensilwarna.blogspot.com

www.wikipedia.com