LAPORAN FARMAKO nefro

Click here to load reader

download LAPORAN FARMAKO nefro

of 31

  • date post

    14-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    449
  • download

    15

Embed Size (px)

Transcript of LAPORAN FARMAKO nefro

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI KEDOKTERAN PENGARUH OBAT-OBAT DIURETIK

Asisten : Mufti Akbar G1A008040

Kelompok III Gelombang C

Fariza Zumala Laili Radita Ikapratiwi Gesa Gestana A. Fauziah Rizki I. Rostikawaty Azizah Noni Minty Belantric Noeray Pratiwi M. Siska Lia Kisdiyanti

G1A009087 G1A009103 G1A009124 G1A009132 G1A009022 G1A009028 G1A009039 G1A009065

BLOK NEFROURINARY JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2011

LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Kelompok III Gelombang C

Fariza Zumala Laili Radita Ikapratiwi Gesa Gestana A. Fauziah Rizki I. Rostikawaty Azizah Noni Minty Belantric Noeray Pratiwi M. Siska Lia Kisdiyanti

G1A009087 G1A009103 G1A009124 G1A009132 G1A009022 G1A009028 G1A009028 G1A009065

disusun untuk memenuhi persyaratan tugas praktikum Farmakologi Kedokteran Blok Nefrourinary Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

diterima dan disahkan Purwokerto, September 2011 Asisten

Mufti Akbar G1A008040

BAB I PANDAHULUAN

I.

Judul Praktikum Pengaruh Obat-obat Diuretik

II.

Hari dan Tanggal Praktikum Selasa, 20 September 2011

III.

Tujuan Instruksional A. Umum Setelah menyelesaikan praktikum farmakologi dan teurapetik II ini mahasiswa akan dapat menerapkan prinsip-prinsip farmakologi berbagai macam obat dan memiliki keterampilan dalam memberi dan mengaplikasikan obat secara rasional untuk kepentingan klinik. B. Khusus Setelah menyelesaikanpercobaan ini mahasiswa akan dapat : 1. Menjelaskan efek dieresis furosemid 2. Menjelaskan efek dieresis aminofilin 3. Menjelaskan perbedaan efek dieresis furosemid dengan aminofilin 4. Memiliki keterampilan dalam memasang kateter uretra dan injeksi intravena 5. Memiliki keterampilan dalam menghitung dosis obat

IV.

Definisi Diuresis adalah efek meningkatnya produksi urin

V.

Dasar Teori A. Diuretik Osmotik 1. Sediaan dan dosis Manitol pada suntikan intravena digunakan larutan 5-25% dengan volume antara 50-1000 ml. Dosis untuk menimbulkan dieresis ialah 50-200sg yang diberikan dalam cairan infus selama 24 jam dengan kecepatan infus sedemikian, sehingga diperoleh dieresis sebanyak 30-50 ml per jam. Untuk penderita dengan oliguria hebat diberikan dosis percobaan yaitu 200 mg/kgBB yang diberikan

melalui infus selama 3-5 menit. Bila dengan 1-2kali dosis percobaan diuresis masih kurang dari 30 ml per jam dalam 2-3 jam, maka status pasien harus dievaluasi kembali sebelum pengobatan dilanjutkan. Untuk mencegah gagal ginjal akut pada tindakan operasi atau untuk mengatasi oliguria, dosis manitol total untuk orang dewasa ialah 50100g. Untuk menurunkan tekanan intrakranial yang meninggi, menurunkan tekanan intraokuler pada serangan akut glaokoma kongestif atau sebelum operasi mata, digunakan manitol 1,5-2 g/kgBB sebagai larutan 15-20%, yang diberikan melalui infus selama 30-60 menit (Sunaryo, 2007). Urea dapat dilakukan pada tindakan bedah saraf. Urea diberikan secara intravena dengan dosis 1-1,5 g/kgBB. Gliserin

diberikan per oral sebelum suatu tindakan optalmologi dengan tujuan menurunkan tekanan intraokuler. Efek maksimal terlihat 1 jam sesudah pemberian obat dan menghilang sesudah 5 jam. Dosis untuk orang dewasa yaitu 1-1,5 g/kgBB dalam larutan 50 atau 75%. Isosorbid diberikan secara oral. Dosis berkisar antara 1-3 g/kgBB dan dapat diberikan 2-4 kali sehari (Sunaryo, 2007). 2. Cara Pemberian Manitol cara pemberiannya dapat dilakukan secara infus intravena dan pada gliserin cara pemberian obatnya dapat dilakukan secara peroral (Setiabudy, 2008). 3. Farmakokinetik Manitol tidak dimetabolisme terutama oleh Glomerulus Filtrasi, sedikit atau tampa mengalami reabsobsi dan sekresi di tubulus atau bahkan praktis dianggap tidak direabsrbsi. Manitol meningkatkan tekanan osmotik pada glomerulus filtrasi dan

mencegah tubulus mereabsorbsi air dan sodium. Sehingga manitol paling sering digunakan diantara obat ini. Sesuai dengan definisi, diuretik osmotik absorbsinya jelek bila diberikan peroral, yang berarti bahwa obat ini harus diberikan secara parenteral. Manitol diekresikan melalui filtrasi Glomerulus dalam waktu 30 60 menit

setelah pemberian. Efek yang segera dirasakan klien adalah peningkatan jumlah urine. Bila diberikan peroral manitol

menyebabkan diare osmotik. Karena efek ini maka manitol dapat juga digunakan untuk meningkatkan efek pengikatan K+ dan resin atau menghilangkan bahan-bahan toksin dari saluran cerna yang berhubungan dengan zat arang aktif (Sulistia, 2005). 4. Farmakodinamik Diuretik osmotik (manitol) mempunyai tempat utama yaitu: pada tubulus proksimal, ansa henle dan duktus kolingens (Sunaryo, 2007). Diuresis osmotik digunakan untuk mengatasi kelebihan cairan di jaringan (intra sel) otak . diuretik osmotik yang tetap berada dalam kompartemen intravaskuler efektif dalam mengurangi

pembengkakan otak. Manitol adalah larutan Hiperosmolar yang digunakan untuk terapi meningkatkan osmolalitas serum (Ellen Barker. 2002). Cara kerja diuretik osmotik (Manitol) ialah meningkatkan osmolalitas plasma dan menarik cairan normal dari dalam sel otak yang osmolarnya rendah ke intravaskuler yang olmolar tinggi, untuk menurunkan oedema otak. Pada sistem ginjal bekerja membatasi reabsobsi air terutama pada segmen dimana nefron sangat permeable terhadap air, yaitu tubulus proksimal dan ansa henle desenden. Adanya bahan yang tidak dapat direabsobsi air normal dengan masukkan tekanan osmotik yang melawan keseimbangan.

Akibatnya, volume urine meningkat bersamaan dengan ekskresi manitol. Pemberian Manitol untuk menurunkan Tekanan Intrakranial masih terus dipelajari dan merupakan objek penelitian, untuk mengetahui efek, mekanisme kerja dan efektifitas secara klinis manitol untuk menurunkan PTIK. Telah diketahui pemberian manitol banyak mekanisme aksi yang terjadi pada sistim sirkulasi dan darah dalam mengatur haemostasis dan haemodinamik tubuh, sehingga menjadi obat pilihan dalam menurunkan Peningkatan tekanan intra cranial. Berdasarkan Farmakokinetik dan

farmakodimik diketahui beberapa Mekanisme aksi dari kerja Manitol sekarang ini adalah sebagai berikut (Sulistia, 2005): a. Menurunkan viskositas darah dengan mengurangi hematokrit, yang penting untuk mengurangi tahanan pada pembuluh darah otak dan meningkatkan aliran darahj ke otak, yang diikuti dengan cepat vasokontriksi dari pembuluh darah arteriola dan

menurunkan volume darah otak. Efek ini terjadi dengan cepat (menit). b. Manitol tidak terbukti bekerja menurunkan kandungan air dalam jaringan otak yang mengalami injuri, manitol menurunkan kandungan air pada bagian otak yang yang tidak mengalami injuri, yang mana bisa memberikan ruangan lebih untuk bagian otak yang injuri untuk pembengkakan (membesar). c. Cepatnya pemberian dengan bolus intravena lebih efektif dari pada infuse lambat dalam menurunkan peningkatan tekanan intra cranial. d. Terlalu sering pemberian manitol dosis tinggi bisa menimbulkan gagal ginjal. ini dikarenakan efek osmolalitas yang segera merangsang aktivitas tubulus dalam mensekresi urine dan dapat menurunkan sirkulasi ginjal. e. Pemberian manitol bersama lasik (furosemid) mengalami efek yang sinergis dalam menurunkan PTIK. Respon paling baik akan terjadi jika Manitol diberikan 15 menit sebelum lasik diberikan. Hal ini harus diikuti dengan perawatan managemen status volume cairan dan elektrolit selama terapi diuretik. 5. Indikasi Diuretik osmotik terutama bermanfaat pada pasien oliguria akut akibat syok hipovolemik yang telah dikoreksi, reaksi tranfusi atau sebab lain yang menimbulkan nekrosis tubuli, karena dalam keadaan ini obat yang kerjanya mempengaruhi fungsi tubuli tidak efektif. Manitol digunakan misalnya (Setiabudy, 2008):

a.

untuk profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat operasi jantung, luka traumatik berat, atau tindakan operatif dengan penderita yang juga menderita ikterus berat.

b. c.

untuk menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler untuk menurunkan tekanan atau volume cairan serebrospinal. Dengan meninggikan tekanan osmotik plasma, maka iar dari cairan bpla mata atau dari cairan otak akan berdifusi kembali ke plasma dan ke dalam ruangan ekstrasel.

d.

Pengobatan sindrom disekuilibrium pada hemodialisis. Pada proses dialisis dapat terjadi penarikan cairan dan elektrolit yang berlebihan sehingga menurunkan cairan ekstrasel (Setiabudy, 2008).

6. Kontraindikasi Manitol dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anuria atau pada keadaan oliguria yang tidak responsif dengan percobaan, kongesti atau edem paru yang berat, dehidrasi hebat, dan perdarahan intrakranial kecuali bila akan dilakukan kraniotomi. Infus manitol harus segera dihentikan apabila terdapat tanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif, payah jantung atau kongestif paru. Urea tidak boleh diberikan pada gangguan fungsi hati berat karena ada risiko terjadinya peningkatan kadar amoniak. Manitol dan urea dikontraindikasikan pada perdarahan serebral aktif (Setiabudy, 2008). 7. Interaksi Obat Pada penggunaan diuretik bersama obat-obat lain harus selalu dipikirkan adanya interaksi yang mungkin terjadi. Pada diuretik osmotik dan kemungkinan diuretik lainnya apabila dipakai bersama dengan antikoagulan oral akan menurunkan efek

antikoagulan

akibat

konsentrasi

faktor-faktor

pembekuan. dapat

Sedangkan bila dipakai bersama dengan tetrasiklin

meningkatkan azotemia pada penderita gagal ginjal, hal ini juga memungkinkan terjadi pada semua diuretik lainnya (Sunaryo, 2007). 8. Efek Samping Obat Manitol didistribusikan ke cairan ekstrasel, oleh karena itu pemberian larutan manitol hipertonis yang berlebihan akan meningkatkan osmolaritas cairan ek