laporan dpt

download laporan dpt

of 54

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    53
  • download

    0

Embed Size (px)

description

laporan dpt agribisnis 2013

Transcript of laporan dpt

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangBerbagai masalah tentang kerusakan yang di alami oleh tanaman akibat serangan hama dan penyakit merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pembudidaya suatu tanaman. Manusia membudidayakan suatu tanaman bertujuan untuk mengambil dari hasil apa yang di tanam. Hasil dari budidaya tanaman digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka mulai dari sandang, pangan, dan papan. Seiring dengan bertambahnya populasi manusia dan perkembangan kebudayaan maka mengakibatkan pertambahan jumlah kebutuhan pangan. Saat ini, dengan adanya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pertanian seperti pengetahuan teknologi perlindungan dan pengendalian tanaman dapat meningkatkan hasil produk pertanian agar sesuai dengan apa yang diharapkan.Manusia selalu mengusahakan agar tanaman yang dibudidayakan mendapatkan hasil yang baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun di dalam praktek langsung lapangan terdapat hambatan dan gangguan yang dihadapi. Salah satu hambatan yang di alami adalah adanya serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan produk pertanian. Dewasa ini, semakin intensif manusia mengusahakan peningkatan produksi pertanian, gangguan hama dan penyakit semakin meningkatkan serangannya. Terkait dengan hal tersebut, maka dilakukan pengendalian terhadap gangguan agar tidak menimbulkan kerugian.Pada fieldtrip yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan lahan dan wawancara dengan petani di desa Junggo. Pengamatan dilakukan terhadap semua komoditas tanaman, hama dan penyakit yang menyerang tanaman, musuh alami yang terdapat dilokasi pengamatan, jenis pengendalian yang dilakukan petani dengan menggunakan pestisida, serta pemilihan verietas tahan yang digunakan, agar kedepannya kita dapat mengetahui bagaimana cara mengendalikan hama dan penyakit guna meningkatkan produk pertanian.1.2 TujuanAdapun tujuan dari pembuatan laporan akhir praktikum ini, yaitu :1. Untuk mengetahui kondisi lahan pada pertanian cabai, dan apel2. Untuk mengetahui budidaya cabai, dan apel yang dijalankan petani3. Untuk mengetahui hama dan penyakit yang terdapat pada pertanian cabai, dan apel4. Untuk mengetahui musuh alami yang dapat mengendalikan hama pada lahan cabai, dan apel5. Untuk mengetahui penggunaan pestisida oleh petani6. Untuk mengetahui pengolahan lahan yang diterapkan petani7. Untuk mengetahui penggunaan varietas tahan yang digunakan petani1.3 ManfaatManfaat dari pembuatan laporan akhir praktikum ini, yaitu :1. Agar dapat mengetahui keadaan lahan dengan memahami cara pembudidayaan tanaman2. Agar dapat mengaplikasikan pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman dengan menggunakan pestisida dan musuh alaminya3. Agar dapat memahami pengelolaan suatu lahan budidaya agar menghasilkan produk yang baik4. Agar dapat memilih varietas tahan yang baik bagi tanaman yang di budidayakan

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pengendalian Hama TerpaduSmith (1978) menyatakan PHT adalah pendekatan ekologi yang bersifat multidisplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beraneka ragam teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan kordinasi pengelolaan. Menurut pendapat Bottrell (1979) juga menekankan bahwa PHT adalah pemilihan secara cerdik dari penggunaan tindakan pengendalian hama, yang dapat menjamin hasil yang menguntungkan dilihat dari segi ekonomi, ekologi dan sosiologi. Sedangkan Kenmore (1989) memberikan definisi singkat PHT sebagai perpaduan yang terbaik. Yang dimaksud perpaduan terbaik ialah menggunakan berbagai metode pengendalian hama secara kompatibel. Sehingga melalui penerapan PHT, diharapkan kerusakan yang ditimbulkan hama tidak merugikan secara ekonomi, sekaligus menghindari kerugian bagi manusia, binatang, tanaman, dan lingkungan.Selain para ahli di atas, FAO juga memberikan pengertian terhadap PHT itu sendiri yakni PHT itu adalah suatu pengendalian hama yang dalam kaitannya dengan lingkungan dan dinamika populasi spesies hama, memanfaatkan semua teknik dan metode yang sesuai dan dipadukan sekompatibel mungkin serta mempertahankan populasi hama pada aras di bawah aras yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi atau kehilangan hasil yang tidak dapat diterima. Dari pengertian para ahli dan FAO diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa PHT tersebut adalah sebuah system pengendalian hama secara terpadu, yakni memadukan semua system pengendalian yang ada dengan tujuan untuk tidak merusak lingkungan, tidak mengganggu kesehatan dan tidak merusak ekologi, namun masih dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, baik dari segi kualitas produk maupun kuantitas produk itu sendiri.Dalam konsep PHT, pengendalian hama berorientasi kepada stabilitas ekosistem dan efisiensi ekonomi serta sosial. Dengan demikian, pengendalian hama dan penyakit harus memperhatikan keadaan populasi hama atau patogen dalam keadaan dinamik fluktuasi disekitar kedudukan kesimbangan umum dan semua biaya pengendalian harus mendatangkan keuntungan ekonomi yang maksimal (Agus, 2012).2.2 Pengertian dan Konsep Ambang EkonomiAmbang ekonomi adalah suatu tingkat/level kerusakan penyakit (keparahan penyakit) yang mengharuskan dilakukan pengendalian sehingga penyakit tidak berkembang mencapai ALE. Dengan kata lain AE adalah ambang tindakan (action threshold) ( Zadok dan Schein, 1979).Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi hama telah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada biaya pengendalian (Soejitno dan Edi, 1993).Pengendalian hama dengan insektisida dibenarkan apabila dari segi ekonomi, manfaat yang diperoleh sekurang-kurangnya sama dengan biaya pengendalian hama dan dari segi ekologi, apabila komponen ekosistem, baik fisik maupun biologis, tidak mampu menekan populasi hama dan mempertahankannya pada tingkat keseimbangan yang rendah. Kedua dasar penggunaan insektisida tersebut melahirkan gagasan tentang konsep ambang ekonomi (AE) atau economic threshold, yakni tingkat kepadatan populasi hama yang harus segera dikendalikan agar populasi hama tidak mencapai tingkat yang merugikan tanaman (Stern et al. 1959). Jadi, AE merupakan konsep yang dikembangkan oleh para pakar sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian hama dengan insektisida secara rasional.Untuk menentukan apakah populasi hama telah melampaui AE, maka harus dilakukan kegiatan pemantauan secara berkala terhadap populasi hama, populasi musuh alami, kondisi pertanaman, dan iklim. Hal ini dimaksudkan agar populasi hama tidak terlambat dikendalikan. Dalam kegiatan pemantauan tersebut, kepadatan populasi hama yang dikategorikan layak dikendalikan ditentukan dengan teknik penarikan contoh beruntun (sequential sampling) berdasarkan pola sebaran populasi, data AE, dan tingkat risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan pengendalian (Shepard 1980).2.3 Pengertian dan Konsep Ambang KerusakanAmbang Kerusakan adalah batas populasi hama atau kerusakan oleh hama yang digunakan sebagai dasar untuk digunakannya pestisida. Konsep aras luka (ambang kerusakan) ekonomi untuk pertama kalinya dikemukan oleh ahli entomologi. Dalam konsep aras luka ekonomi terdapat 3 komponen/element utama yaitu kerusakan ekonomi, aras luka ekonomi, dan ambang ekonomi. Aras Luka Ekonomi (Ambang Kerusakan), tujuan akhir dari tindakan pengendalian penyakit adalah untuk menekan penyakit pada level yang tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi baik pada jumlah maupun kulitas hasil, dengan demikian ambang kerusakan (tingkat kerusakan ekonomi) haruslah diketahui untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat adanya penyakit. Tingkat/level xt tertinggi yang dapat menimbulkan kerusakan ekonomi disebut juga dengan aras luka ekonomi atau dalam entomologi jumlah kepadatan populasi terendah yang dapat menyebabkan kerusakan secara ekonomi (Modul Penuntun Praktikum, 2005)2.4 Literatur Komoditas yang Diamati1. Apel ( Malus sylvestris Mill )Menurut sistematika, tanaman apel termasuk dalam:Divisio: SpermatophytaSubdivisio : AngiospermaeKlas: DicotyledonaeOrdo: RosalesFamili: RosaceaeGenus: MalusSpesies: Malus sylvestris MillDari spesies Malus sylvestris Mill ini, terdapat bermacam-macam varietas yang memiliki ciri-ciri atau kekhasan tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain: Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess Noble dan Wangli/Lali jiwo.

2. Cabai (Capsicum spp.)Linnaeus (1753) mengenal 2 jenis Capsicum yaitu C.annuum dan C. frutescens. Kemudian Irish (1898) merevisi marga tersebut yang menghasilkan jenis yang sama dengan Linnaeus, namun ada penambahan 7 varietas dalam C. annuum. Adapun ke tujuh varietas tersebut dapat dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran, posisi buah (tegak atau menggantung), warna dan rasanya.3. Brokoli ( Brassica oleracea)Kol bunga hijau/Broccoli merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga hijau) berupa tumbuhan berbatang lunak diduga berasal dari Eropa, pertama kali ditemukan di Cyprus, Italia Selatan dan Mediterania 2000 tahun yang lalu. Beberapa tahun terakhir banyak terjadi perbaikan warna maupun ukuran bunga terutama di Denmark. Di Indonesia broccoli dikenal dengan nama kubis bunga hijau atau Sprouting broccoli. Broccoli dari bahasa Italia, dimana broco berarti tunas.4. Tomat (Solanum lycopersicum L.)Tomat (Solanum lycopersicum) merupakan salah satu tanaman yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun pemanfaatannya hanya sebatas sebagai lalap dan bahan tambahan dalam masakan. Kandungan senyawa dalam buah tomat di antaranya solanin (0,007 %), saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, bioflavonoid (termasuk likopen, dan -karoten), protein, lemak, vitamin, mineral dan histamin (Canene-Adam, dkk., 2005). Likopen merupakan salah satu kandungan kimia paling banyak dalam tomat, dalam 100 gram tomat rata-rata mengandung likopen sebanyak 3-5 mg (Giovannucci, 1999). Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa tomat dapat bermanfaat sebagai obat diare, serangan empedu, gangguan pencernaan serta memulihkan fungsi liver (Fuhramn, 1997).

2.5 Hama dari Komoditas yang Diamati1