laporan analisis proksimat

Click here to load reader

  • date post

    29-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    480
  • download

    60

Embed Size (px)

description

analisis proksimat

Transcript of laporan analisis proksimat

50

IPENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangPenyediaan bahan pakan pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat makanan yang diperlukan oleh ternak. Pemilihan bahan pakan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara menyusun ransum, diperlukan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai sifat kimia secara individual. Zat makanan sumber energi memiliki kandungan karbon, hidrogen dan oksigen, sedangkan protein terdiri dari asam amino dan mengandung sekitar 16 persen nitrogen. Secara garis besar jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisis kimia, seperti analisis proksimat dan analisis serat. Zat makanan dapat ditentukan dengan analisis proksimat, dan terhadap pakan berserat analisis proksimat lebih dikembangkan lagi menjadi analisis serat.Kandungan nutrien pangan atau pakan dapat diketahui dengan mengurai (menganalisis) komponen pangan dan pakan secara kimia. Teknik analisis yang umum untuk mengetahui kadar nutrien dalam pangan atau pakan adalah Analisis Proksimat (Proximate analysis) atau metode Weende. Analisis Proksimat ditemukan sekitar 100 tahun yang lalu di pusat eksperimen Weende (Weende Experiment Station) Jerman oleh dua ilmuwan Henneberg dan Stohmann. Metode ini tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci namun berupa nilai perkiraan sehingga disebut analisis proksimat. Metode Proksimat menggambarkan bahwa analisis dapat dilakukan terhadap kadar air, abu, lemak atau ether ekstrak, nitrogen total, dan kadar serat. Komponen bahan ekstrak tanpa nitrogen adalah hasil pengurangan bahan kering dengan komponen , abu, lemak, nitrogen total, dan serat. Komponen lemak, protein dan serat sering disebut lemak kasar, protein kasar dan serat kasar.

1.2. Identifikasi MakalahBerdasarkan uraian latar belakang diatas, identifikasi masalah dari pembuatan laporan akhir praktikum ini adalah sebagai berikut:1) Berapa kandungan air yang terkandung dalam onggok.2) Berapa kadar abu yang terkandung dalam onggok.3) Berapa kadar protein kasar yang terkandung dalam onggok.4) Berapa kadar lemak kasar yang terkandung dalam onggok.5) Berapa kadar serat kasar yang terkandung dalam onggok.6) Berapa energi yang terkandung dalam onggok.

1.3. TujuanBerdasarkan identifikasi masalah diatas, tujuan dari laporan akhir praktikum ini adalah:1) Untuk mengetahui kandungan air yang terkandung dalam onggok menggunakan analisis kadar air.2) Untuk mengetahui jumlah mineral yang terkandung dalam onggok melalui analisis kadar abu.3) Untuk mengetahui kadar protein kasar yang terkandung dalam onggok melalui analisis protein kasar.4) Untuk mengetahui kadar lemak kasar yang terkandung dalam onggok melalui analisis lemak kasar.5) Untuk mengetahui kadar serat kasar yang terdapat dalam onggok melalui analisis serat kasar.6) Untuk mengetahui energi yang terkandung dalam onggok melalui analisis energi.

1.4. Waktu dan Tempat PraktikumHari/ Tanggal: Kamis, 6 November 2014 - 20 November 2014Pukul: 13.30 WIB 14.30 WIBTempat: Laboratorium Nutrisi Ternak dan Kimia MakananTernak.

IIDESKRIPSI BAHAN

Onggok adalah sisa giling tapioka yang berasal dari singkong atau ubi kayu. Dalam bahasa jawa onggok seringkali di sebut gaber. Pada mulanya onggok hanya dianggap sebagai limbah, terlebih karena bau yang di timbulkan onggok sangat menyengat. Namun seiring berjalannya perkembangan kebutuhan manusia akan bahan pengganti pakan ternak dan bahan baku lainnya, maka jadilah onggok sebagai sumber penghasil tambahan.Ketersediaan onggok semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka. Hal ini diindikasikan dengan semakin meluasnya areal penanaman dan produksi ubi kayu. Luas areal tanam meningkat dari 1,3 juta hektar dengan produksi 13,3 juta ton pada tahun 1990 menjadi 1,8 hektar dengan produksi 19,4 juta ton pada tahun 1995 (BPS, 1996). ENIE (1989) melaporkan dari setiap ton ubi kayu akan dihasilkan 250 kg tapioka dan 114 kg onggok. Hal ini yang menyebabkan onggok berpotensi sebagai polutan disekitar pabrik. Ada 2 jenis onggok yang lazim beredar, yaitu onggok kering dan onggok basah. Beberapa fungsi dari onggok basah adalah sebagai bahan tambahan pakan untuk ternak sapi, babi, ataupun ternak lainnya yang mulai kesulitan mencari hijauan pakan terutama di musim kemarau. Karena harganya yang relatif terjangkau, jadilah onggok basah sebagai bahan pakan alternatif bagi pakan.Onggok kering sendiri merupakan onggok basah yang telah melalui proses pengeringan, baik pengeringan oleh matahari maupun pengeringan oleh oven. Fungsi onggok kering antara lain sebagai bahan baku saus, bahan baku obat nyamuk, bahan perekat lem kertas, campuran kecap.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi pada OnggokZat NutrisiKandungan Nutrisi

Protein Kasar (%)2,89

Lemak Kasar (%)0,38

Serat Kasar (%)14,73

Abu (%)1,21

BETN (%)80,80

Air20,31

Sumber : Sudarmadji (1996)Penggunaan onggok sebagai bahan pakan sangat terbatas, terutama bagi ternak poligastrik. Hal tersebut disebabkan karena kandungan protein kasar onggok yang cukup rendah dan disertai dengan kandungan serat kasar yang tinggi.

ANALISIS AIR

IIITINJAUAN PUSTAKA

Air yang dimaksud dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap padapemanasandalambeberapawaktupadasuhu105-110C dengan tekanan udara bebas sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering daribahan tersebut(Kamal, 1998).Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan pangan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air yang tinggi menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Dwijosepputro, 1994).Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105C dalam peranti pemanas, seperti oven. Metode pengeringan melalui oven sangat memuaskan untuk sebagian besar makanan, akan tetapi beberapa makanan seperti silase, banyak sekali bahan-bahan atsiri (bahan yang mudah terbang) yang bisa hilang pada pemanasan tersebut (Winarno, 1997).Umur tanaman, kualitas dan lama penjemuran bahan pakan yang akan dianalisis dapat mempengaruhi data yang dihasilkan (Sutardi, 2009).Kadar air dalam bahan pakan terdapat dalam bentuk air bebas, air terikat lemah dan air terikat kuat. Besar kadar air ini bisa bisa dipengaruhi oleh proses pengeringaan dalam oven atau saat dikering udarakan(Tillmanet al., 1998).Kelemahan dalam analisis air ini adalah tidak hanya air yang menguap, tetapi terdapat juga senyawa-senyawa asam-basa organik sederhana yang ikut menguap seperti; asam asetat, butirat, propionat, ester atsiri sehingga terhitung sebagai komponen air. Selain itu, adapula air yang terikat dalam senyawa sukar untuk menguap, sehingga mengurangi total air.Rumus yang digunakan untuk menghitung analisis air adalah:

Air (%)= berat awal bahan sebelum dioven (gr)berat akhir bahan setelah dioven (gr)Berat awal bahan sebelum dioven

IVALAT BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

4.1. Alat dan Bahan4.1.1. Alat 1) Oven listrik berfungsi untuk mengeringkan sampel atau memanaskan alat- alat laboratrium seperti cawan aluminum.2) Eksikator berfungsi untuk mnyerapa penguapan dan mendinginkan sampel yang sudah dipanaskan.3) Cawan alumunium berfungsi untuk menyimpan sampel yang di analisis.4) Tang penjepit berfungsi untuk memindahkan sampel yang ada di cawan alumunium.5) Neraca analitik untuk menimbang berat sampel atau cawan yang digunakan.4.1.2. Bahan:1) Onggok4.2. Prosedur Kerja1) Mengeringkan Cawan alumunium dalam oven selama 1 jam pada suhu100 - 1050C.2) Kemudian dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang beratnya (Catat sebagai A gram)3) Menambahkan ke dalam cawan alumunium tersebut sejumlah sampel/bahan lebih kurang 2-5 gram, timbang dengan teliti. Dengan demikian berat sampel/bahan dapat diketahui dengan tepat (Catat sebagai B gram). Bila menggunakan timbangan analitik digital maka dapat langsung diketahui berat sampelnya dengan mensetzero balans,yaitu setelah berat alumunium diketahui beratnya dan telah dicatat, kemudian dizerokan sehingga penunjukan angka menjadi nol, lalu sampel langsung dimasukan ke dalam cawan dan kemudian timbang beratnya dan catat sebagai C gram.4) Memasukan cawan+sampel ke dalam oven selama 3 jam pada suhu 100 - 1050C sehingga seluruh air menguap. (Atau dapat pula dimasukan dalam oven dengan suhu 60oC selama 48 jam).5) Masukkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang. Ulangi pekerjaan ini dari tahap no 4 dan 5, sampai beratnya tidak berubah lagi. Catat sebagai D gram.6) Setiap kali memindahkan cawan alumunium (baik berisi sampel atau tidak, gunakan tang penjepit).

VHASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil PengamatanTabel 2. Hasil Pengamatan OnggokBerat cawanBerat cawan + sampel sebelum di ovenBerat cawan + sampel setelah di ovenHasil Perhitungan

7,315 gram11,904 gram11,524 gram8,28 %

5.2. PembahasanDalam menentukan kadar air dari onggok, dilakukan penguapan terhadap sampel onggok dengan cara memanaskannya di dalam oven selama 3 jam dengan suhu 105oC. Berat sampel + cawan berkurang setelah dioven yaitu dari 11,904 gr menjadi 11,524 gr dikarenakan air yang terkandung dalam onggok semuanya menguap menjadi gas dan menyisakan bahan kering dari onggok. Maka dapat diketahui bahwa berat air pada sampel adalah seisih dari perubahan berat tersebut. Untuk mengetahui kadar airnya dalam persen adalah dengan membagi berat air yaitu 0,38 gr dengan berat sampel yang diuji yaitu 4,59 gr dan dikalikan dengan 100% sehingg