Laporan Akhir Praktikum Farmakologi IV Edit Resmi

download Laporan Akhir Praktikum Farmakologi IV Edit Resmi

of 22

  • date post

    16-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    58
  • download

    1

Embed Size (px)

description

FARMAKOLOGI

Transcript of Laporan Akhir Praktikum Farmakologi IV Edit Resmi

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PERCOBAAN IVANTI INFLAMASI

Disusun Oleh :Golongan IV Kelompok 4 1. Ananda Dwi Rahayu(G1F013034)2. Syaeful Eko P(G1F013036)3. Murti Setiati(G1F013038)4. Feni Amalia F(G1F013040)5. M. Imaduddin S(G1F013042)Tanggal Praktikum: Jumat, 30 Mei 2014Nama Dosen Pembimbing Praktikum: Hanif NNama Asisten Praktikum : 1. Panggih S 2. Farah

JURUSAN FARMASIFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANPURWOKERTO2014PERCOBAAN IVANTI INFLAMASI

I. PENDAHULUANA. Latar BelakangTubuh kita terus diancam oleh penyakit dari sumber eksternal (misal : invasi bakteri dan virus) dan sumber internal (misal : sel yang bermutasi, seperti sel kanker). Jika ancaman dari luar dapat menerobos baris pertama pertahanan tubuh, mereka akan menghadapi baris pertahanan kedua dalam bentuk sel fagosit dan mati karena serangan kimiawi yang toksik. Hal ini merupakan bagian dari respon inflamasi yang akan terjadi setiap kali terdapat kerusakan jaringan dengan sebab apapun. (Chang dan Dally. 2009).Selama hidup seseorang,jaringan maupun organ tubuh pasti pernah cedera. Agar semua dapat berjalan dengan baik, maka terjadi perbaikan dan pemulihan pada jaringan dan organ tersebut. Banyak faktor lingkungan dan perorangan yang dapat memodifikasi dan mempengaruhi proses pemulihan. Pemulihan atau penyembuhan biasanya didahului dan diawali suatu proses peradangan (Tembayong 2000).Bila sel-sel atau jaringan-jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama pejamu masih bertahan hidup, jaringan hidup disekitarnya membuat suatu respon mencolok yang disebut peradangan. Yang lebih khusus, peradangan adalah reaksi vaskuler yang menimbulkan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstisial di daerah cedera atau nekrosis (Price dan wilson, 2005).Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, Zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik. Iflamasi adalah usaha tubuh untuk mengaktivasi tubuh atau . organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap,proses peradangan biasanya reda. Namun, kadang kadang inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti tepung sari, atau oleh suatu respon imun, seperti asma atau artistis rematoid. Pada kasus seperti ini, Reaksi pertahanan tubuh mereka sendiri mungkin menyebabakan luka-luka jaringan progresif, dan obat-obat anti inflamasi atau imunosupresi mungkin dipergunakan untuk memodulasi proses peradangan. Inflamasi dicetuskan oleh pelepasan mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel. Mediator kimiawi spesifik berpariasi dengan tipe proses peradangan dan meliputi amin, seperti histamin dan 5- hidroksitritamin , lipid seperti prostagladin, peptida kecil, seperti bradiki inin dan peptida besar seperti interleukin 1. Penemuan yang luas diantaranya mediator kimiawi telah menerangkan paradoks yang tampak bahwa obat-obat anti-inflamasi dapat mempengaruhi kerja mediator utama yang penting untuk satu tipe inflamasi tetapi tanpa efek pada proses inflamasi yang penting pada satu tipe inflamasi yang melibatkan mediator target obat (Mycek, M.J.,2001).NSAIDs berkhasiat analgetis, antipiretik, serta antiradang dan sering kali digunakan untuk menghalau gejala rema,seperti A. R., artrosis, dan spondylosis.Obat ini efektif untuk peradangan lain akibat trauma (pukulan, benturan, kecelakaan), juga misalnya setelah pembedahan, atau pada memar akibat olahraga. Obat ini dipakai pula untuk mencegah pembengkakan bbila diminum sedini mungkin dalam dosis yang cukup tinggi. Selanjutnya, NSAIDs juga digunakan untuk kolik saluran empedu dan kemih serta keluhan tulang pinggang dan nyeri haid (dysmenorroe). Akhirnya, NSAIDs juga berguna untuk myeri kanker akibat metastase tulang. Yang banyak digunakan untuk kasus ini adalah zat-zat dengan efek samping relative sedikit, yakni ibuprofen, naproksen, dan diklofenak (T.H. Tjay dan K. Rahardja, 2002).Banyaknya kasus peradangan yang terjadi memacu para ahli farmasi untuk memformulasikan suatu obat anti inflamasi yang kerjanya dapat meringankan atau mengurangi gejala peradangan pada jaringan yang terluka.Oleh karena itu, untuk mengerahui bagaimana cara kerja atau efek obat obat antiinflamasi tersebut pada manusia, maka perlu dilakukan suatu uji praklinik terhadap hewan coba mencit, Untuk membuktikan apakah obat antiiflamasi yang digunakan benar-benar efektif dalam mengurangi peradangan yang terjadi

B. Tujuan Percobaan1. Mempelajari daya anti inflamasi obat pada hewan uji yang diinduksi radang buatan.

C. Dasar TeoriRadang adalah reaksi setempat dari jaringan hidup atau sel terhadap suatu rangsang atau injury. Radang terbagi dalam dua golongan, yaitu:1. Benda mati:a. Rangsang fisis; contohnya, trauma, benda asing, rangsang panas atau dingin yang berlebihan, tekanan, listrik, sinar matahari, sinar rontgen, dan radiasi.b. Rangsang kimia; contohnya, asam dan basa yang kuat dan juga keracunan obat.2. Benda hidup. Contohnya; kuman patogen, bakteri, parasit, dan virus. Selain itu juga ada reaksi imunologi dan gangguan vaskular serta hormonal yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.(Sudiono, J., 2003).Tanda utama radang yang ditetapkan oleh Cornelius Celsus antara lain:1. Rubor (merah), disebabkan karena adanya hiperemia aktif karena bertambah banyaknya vaskularisasi di daerah cedera tersebut.2. Kalor (panas), disebabkan karena hiperemia aktif.3. Tumor (bengkak), sebagian disebabkan karena hiperemia aktif dan sebagian lagi disebabkan karena edema setempat serta stasis darah.4. Dolor (sakit), disebabkan karena terangsangnya serabut saraf pada daerah radang. Belum jelas apakah karena adanya edema ataukah karena iritasi zat kimia yang terlepas, misalnya asetilkolin dan histamin. Tetapi sesungguhnya rasa nyeri ini mendahului proses radang. Hal ini mungkin karena terbentuknya suatu zat oleh sel mast. Zat ini berguna untuk meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah. Bahan lain yang berperan penting adalah bradikinin, di mana jika seseorang disuntik bradikinin tidak murni, zat ini menyebabkan rasa nyeri pada permukaan kulit sebelum terjadi migrasi sel darah putih.5. Kemudian oleh Galen, ditambahkan fungtio laesa, yaitu berkurangnya fungsi karena adanya rasa sakit akibat saraf yang terangsang sehingga bagian organ tubuh tidak berfungsi. Penyebab lain penurunan fungsi tubuh adalah edema.(Sudiono, J., 2003).Sejumlah besar zat yang disebut mediator radang dibentuk dan dilepaskan, dapat sekaligus atau dalam waktu yang berurutan pada tempat luka dari berbagai sumber berupa sel sebagai respons terhadap faktor etiologi. Berbagai sel berisi sejumlah mediator yang kuat dan dalam beberapa hal berisi inhibitor respons peradangan. Sumber-sumber berupa sel ini mungkin mencakup netrofil (leukosit netrofil berinti polimorf), basofil sel mast, platelet, makrofag, dan limfosit. Sejumlah mediator radang yang turut dalam proses peradangan dan diuraikan oleh sel tadi meliputi histamin, serotonin, leukokinin, zat anfilaksis yang bereaksi lambat (slow reacting substance of anaphylazis (SRS-A), enzim lisosom, limfokin, dan prostaglandin (Hamor, G.H., 1996).Obat antiradang merubah respon peradangan menjadi penyakit, tapi tidak menyembuhkan ataupun meghilangkan penyebab penyakit itu sendiri. Obat antiradang yang ideal harus bekerja terhadap radang yang tak terkendalikan dan merusak, serta tidak mempengaruhi respons peradangan yang normal yang merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang vital terhadap mikroorganisme yang menyerang dan pengaruh buruk lingkungan yang lain (Hamor, G.H., 1996).Uji utama yang sering dipakai dalam menapis zat antiradang nonsteroid baru, mengukur kemampuan suatu senyawa untuk mengurangi edema lokal pada cengkeraman tikus yang disebabkan oleh suntikan zat pengiritasi karagenan, yaitu suatu mukopolisakarida yang diperoleh dari lumut laut Irlandia, Chondrus crispus. Zat antiradang yang paling banyak digunakan di klinik untuk menekan edema macam ini. Sifat antiradang indometasin, yaitu zat antiradang nonsteroid yang banyak dipakai, pada mulanya ditentukan oleh uji karagenan (Hamor, G.H., 1996).Urutan peristiwa dalam edema akibat karagenan pada cengkeraman tikus telah dirancang. Mediator edema yang pertama-tama yaitu histamin dan serotonin, diikuti oleh fase kedua, yaitu pelepasan kinin yang mempertahankan peningkatan kepermeabelan pembuluh darah. Ini diikuti oleh fase ketiga, yaitu pelepasan prostaglandin yang bersamaan dengan migrasi leukosit ke lokasi radang. Zat antiradang nonsteroid menekan migrsi ini. Pengaktifan dan pelepasan semua mediator yang telah disebutkan di atas, tergantung pada sistem komplemen yang utuh (Hamor, G.H., 1996).Karagenan merupakan suatu istilah yang telah disepakati bersama untuk polisakarida yang diperoleh dengan ekstraksi dalam suasana basa (dan modifikasi) dari ganggang merah (Rhodophycae), yang pada umumnya berasal dari famili Chondrus, Eucheuma, Gigartina dan Iridaea. Ganggang yang berbeda akan menghasilkan karagenan yang berbeda pula. Karagenan merupakan suatu polimer linier yang terdiri dari 25.000 galaktosa yang mirip dengan regularnya, namun dalam struktur yang tidak akurat, tergantung pada sumber dan kondisi saat melakukan ekstraksi (Anonim, 2004).Obat antiradang bukan steroid telah digunakan dalam pengobatan sejak lebih dari satu abad yang lalu. Penemuan mekanisme kerja golongan obat ini, yaitu penghambatan enzim siklooksigenase yang terdapat dalam dua isoform - siklooksigenase-1 dan -2, telah mempercepat upaya pengembangan obat ini terutama penghambat selektif enzim siklooksigenase-2. Disamping itu, dengan diketahuinya efek protektif radikal oksida nitrat (NO) pada saluran cerna, telah membuka strategi lain dalam pengembangan golongan obat ini, yaitu melalui penambahan moieties donor NO pada molekul obat antiradang bukan steroid klasi