Lapkas Eko

download Lapkas Eko

of 17

  • date post

    26-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    13
  • download

    0

Embed Size (px)

description

d

Transcript of Lapkas Eko

BAB IPENDAHULUANKusta atau Morbus Hansen merupakan penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. Istilah kusta berasal dari bahasa India, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen karena sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit, dan mukosa traktus respiratorius atas, kemudian ke organ lain kecuaili susunan saraf pusat. Penyebaran penyakit kusta dari suatu benua, negeri dan tempat lain sampai tersebar ke seluruh dunia tampaknya disebabkan oleh perpindahan orang yang telah terkena penyakit tersebut. Masuknya kusta ke pulau-pulau Melanesia termasuk Indonesia diperkirakan terbawa oleh orang-orang Cina (Kosasih, 2003). Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenitas kuman penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan-perubahan imunitas, dan kemungkinan-kemungkinan adanya Reservoir diluar manusia (Linuwih, 2003).Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) telah menetapkan 33 provinsi di indonesia kedalam dua kelompok beban kusta yaitu kelompok dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low endemic). Jika dilihat dari data di atas, terjadi perbedaan distribusi penyebaran penyakit ini. Perbedan distribusi tersebut diperkuat dengan data dari Ditjen PP&PL, Kemenkes RI tahun 2011 mengenai jumlah penderita kusta (baik tipe Multi Basiler, maupun tipe Pausi Basiler) dengan jumlah penderita terbanyak pada Provinsi Jawa Timur sebanyak 4653 jiwa.

BAB IISTATUS PASIEN DERMATOLOGII. IDENTITAS PASIENNama : Ny. SutinahJenis Kelamin: PerempuanUmur : 42 tahunAgama: IslamSuku: MaduraPekerjaan : tukang cuci pakaian

II. ANAMNESISAnamnesis dilakukan pada tanggal 19 agustus 2014 pukul 12.00 WIBKeluhan utama: ada bercak putih dan benjolan di seluruh badan disertai rasa panas.

Riwayat penyakit sekarang:Pasien menyatakan bercak putih pada kulitnya sudah timbul sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Benjolan-benjolan yang ada muncul kira-kira 1 bulan yang lalu dan terasa panas. Selain itu pasien juga merasa nafsu makan menurun, lemah, lesu, kesulitan dalam meluruskan jari kelingking, kesulitan berjalan dan kaki terasa berat.

Riwayat penyakit dahulu :Selain keluhan yang timbul sejak 4 bulan yang lalu, pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga :Tidak ada anggota keluarga pasien menderita penyakit yang sama dengan pasien.

Riwayat kebiasaan/lingkungan :Pasien mandi menggunakan air kolam/sumur. Pasien biasanya membuang sampah (bungkus makanan dan lain-lain) tidak pada tempatnya.

Riwayat sosial ekonomi :Pasien tinggal bersama kedua adiknya. Sebelum sakit, pasien bekerja sebagai tukang cuci pakaian di sekitar rumahnya, begitu juga adik perempuannya, sementara adik laki-lakinya bekerja sebagai supir angkot. Menu makanan sehari-hari adalah sayur dan ikan.

Resume anamnesis :Pasien wanita, 42 tahun dengan keluhan ada bercak putih dan benjolan di seluruh badan disertai rasa panas. Pasien menyatakan bercak putih pada kulitnya sudah timbul sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Benjolan-benjolan yang ada muncul kira-kira 1 bulan yang lalu dan terasa panas. Selain itu pasien juga merasa nafsu makan menurun, lemah, lesu, kesulitan dalam berjalan dan kaki terasa berat. Dahulu pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama. Keluarga pasien juga tidak ada menderita penyakit yang sama.

III. PEMERIKSAAN DERMATOLOGILokasi dan Ujud Kelainan Kulit :1. Makula hipopigmentasi yang difus pada seluruh tubuh.2. Nodul eritem ukuran lentikuler pada bagian wajah, punggung, tangan.

IV. DIAGNOSIS BANDING1. Kusta (Morbus Hansen) dan Eritema Nodosum Leprosum (ENL)2. Tinea versikolor3. Anemia

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG1. Pemeriksaan anestesi dengan kapas/jarum dan air panas2. Pemeriksaan bakteriologis

VI. DIAGNOSIS1. Kusta (Morbus Hansen) dan Eritema Nodosum Leprosum (ENL)2. Anemia

VII. TATALAKSANAA. Non medikamentosa1. Menjaga kebersihan tubuh dan kebersihan lingkungan.2. Menjaga asupan makanan agar tetap mengandung gizi dan nutrisi yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh.B. Medikamentosa1. Prednison 40 mg/hari2. Neurodex 2-3 kali 1 tablet per hari3. Analgesik : Asam mefenamat, 500 mg tablet, pemakaian 3x1 per hari per oral

Resep DokterRSUD Dr. SoedarsoPolilkinik Kulit dan KelaminDokter: dr. EkoSIP: 28301980925 Agustus 2014R/ klofazimin 50 mg S 1 dd 1 tabR/ dapson 100 mgS 1 dd 1 tab Pro: Ny. Sutinah Umur: 42 tahunResep DokterRSUD Dr. SoedarsoPolilkinik Kulit dan KelaminDokter: dr. EkoSIP: 28301980925 Agustus 2014R/ rifampisin 300 mg S 1x perbulan 2 tabR/ klofazimin 100 mgS 1x perbulan 3 tab Pro: Ny. Sutinah Umur: 42 tahun

C. Usulan pemeriksaan lanjutan1. Pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, SGOT/SGPT, ureum kreatinin.

VIII. PROGNOSISAd vitam: Ad functionam:Ad sanactionam:

BAB IIIPEMBAHASANA. Penyakit KustaA.1. DefinisiKusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus Hansen merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, melalui kulit dan mukosa hidung. Penyakit kusta terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat yang apabila tidak didiagnosis dan diobati secara dini dapat menimbulkan kecacatan.1A.2. EpidemiologiTahun 2008, prevalensi penderita kusta global yang terdata dari 118 negara sejumlah 212.802 kasus yang berarti mengalami penurunan sebanyak 19,6% dari tahun 2007. Penurunan sejumlah 4% pun juga tercatat dari tahun 2006 ke 2007. Catatan dari beberapa negara yang sebelumnya sangat endemik kebanyakan sekarang telah mencapai eliminasi atau hampir bebas kusta.2Menurut WHO Weekly Epidemiological Report mengenai kusta tahun 2010, prevalensi tertinggi penyakit kusta terdapat di India, dengan jumlah penderita sebanyak 87.190 jiwa pada tahun 2009. Peringkat kedua terdapat di Brazil, dengan jumlah penderita 38.179 jiwa pada tahun 2009. Indonesia sendiri berada di peringkat ketiga, dengan jumlah penderita sebanyak 21.026 jiwa pada tahun 2009 (WHO, 2010). Menurut laporan WHO tersebut, selama tahun 2009 terdapat 17.260 kasus baru di Indonesia, dengan 14.227 kasus teridentifikasi sebagai kasus kusta tipe Multi Basiler (MB) yang merupakan tipe yang menular. Berdasarkan data kasus kusta baru tahun 2009 tersebut, 6.887 kasus diantaranya oleh diderita oleh kaum perempuan, sedangkan 2.076 kasus diderita oleh anak-anak.2

A.3. KlasifikasiRidley dan Jopling (1962) memperkenalkan istilah spektrum Determinate pada penyakit kusta yang terdiri atas berbagai tipe atau bentuk, yaitu: 1. TT (Tuberkuloid Type)Lesi ini mengenai kulit maupun saraf perifer. Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula maupun plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau Central Healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyeruai gambaran psoriasis. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba dan kelemahan otot.2. BT (Borderlines Tuberculoid)Mirip gambaran pada tipe TT, tetapi terdapat gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama yang tidak jelas seperti pada tipe tuberkuloid. Adanya gangguan saraf yang tidak seberat tipe tuberkuloid, biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal.3. BB (Mid Borderline)Merupakan tipe yang paling tidak stabil diantara semua spektrum penyakit kusta, disebut juga bentuk dimorfik. Lesi berbentuk plak, permukaannya dapat berkilat, batas lesi kurang jelas dan cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi baik ukuran, bentuk maupun distribusinya. Bisa ditemukan lesi Punched Out, yaitu hipopigmentasi berbentuk bulat pada bagian tengah dengan batas jelas.4. BL (Borderline Lepramatous) Lesi dmulai dengan infiltrat yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Makula lebih kecil dan bervariasi bentuknya. Papul dan nodus lebih tegas walaupun lebih kecil dan distribusinya hampir simetris. Tanpa kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncul dibandingkan tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba di tempat predileksi.5. LL (Lepramatosa type)Jumlah lesi infiltrat sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa, berkilat, berbatas tidak tegas. Distribusi lesi khas yaitu di wajah, dahi, pelipis, dagu, cuping telinga, sedangkan pada bagian badan pada bagian belakang, lengan, punggung tangan dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Kerusakan saraf yang luas menyebabkan anestesi yang disebut Glove and Socking Anesthesi. Bila penyakit ini berlanjut, maka makula dan papul baru muncul, sedangkan lesi yang lama menjadi plakat dan nodus. Pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan atrofi otot tangan dan kaki.6. LI (Lepromatosa Indefinite)Tipe ini tidak termasuk dalam kriteria Ridley-Jopling, namun diterima secara luas oleh para ahli kusta. Lesi kulit biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit di sekitarnya normal. Lokasi berada di bagian ekstensor ekstremitas, bokong, atau muka. Kadang dapat ditemukan makula hipoestesi atau sedikit penebalan saraf. Tipe ini merupakan tanda pertama pada 20-80% kasus penderita kusta. Pada sebagian besar, tipe ini akan sembuh spontan.Menurut WHO, klasifikasi kusta dibagi menjadi :1. Pausibasilar (PB) Termasuk kusta tipe TT dan BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid dengan BTA negatif.2. Mul