Lapkas Cardio

download Lapkas Cardio

of 30

  • date post

    04-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    42
  • download

    10

Embed Size (px)

description

lapkas kardio baru

Transcript of Lapkas Cardio

Laporan Kasus

ST-ELEVATION MYOCARDIAL INFARCTION (STEMI)

Disusun Oleh :

1. Devi Nafilah Yuzar(100100166)2. Rizki Masharida Nasution(100100216)3. Fatin Fatharani Erizal(100100339)

Pembimbing : dr. Anggia C. Lubis, Sp. JP

DEPARTEMEN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULARFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARARSUP H. ADAM MALIKMEDAN2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini dengan judul STEMIPenulisan laporan kasus ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Kardiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, dr. Anggia C. Lubis, Sp.JP, yang telah meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan dalam penyusunan laporan kasus ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai koreksi dalam penulisan laporan kasus selanjutnya. Semoga makalah laporan kasus ini bermanfaat, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 24 Agustus 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR1DAFTAR ISI2BAB 1 PENDAHULUAN3BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 2.1. Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST 52.1.1. Definisi STEMI52.1.2. Etiologi dan Faktor Resiko 62.1.3. Patofisiologi 82.1.4. Manifestasi Klinis 112.1.5. Diagnosa 122.1.6. Penatalaksanaan 172.1.7. Komplikasi222.1.8. Prognosis24 BAB 3 LAPORAN KASUS25BAB 4 PENUTUPDAFTAR PUSTAKA

BAB 1PENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangInfark miokard akut (IMA) atau yang lebih dikenal dengan serangan jantung adalah suatu keadaan dimana suplai darah pada suatu bagian jantung terhenti sehingga sel otot jantung mengalami kematian.1 Infark miokard sangat mencemaskan karena sering berupa serangan mendadak, umumnya pada pria usia 35-55 tahun, tanpa ada keluhan sebelumnya.1 Berdasarkan data dari SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1995 dan SURKESNAS 2001 menyebutkan bahwa penyebab kematian nomor satu di Indonesia adalah penyakit jantung dan sistem sirkulasi. Sindrom Koroner Akut merupakan salah satu jenis dari penyakit jantung dan sistem sirkulasi yang memiliki persentase tinggi sebagai penyebab kematian1.The American Heart Association (AHA) memperkirakan bahwa 13 juta orang di Amerika menderita Sindrom Koroner Akut (SKA) dan kurang lebih dari satu juta orang meninggal tiap tahunnya. Di Eropa, dilaporkan bahwa SKA pada tahun 2006 menyerang 234 orang/100.000 penduduk/tahun pada kelompok umur 30 sampai 69 tahun, lebih sering pada pria (50-75%), dan 10% diantaranya meninggal setiap tahun2. Sindrom koroner akut lebih lanjut diklasifikasikan menjadi Unstable Angina (UA), ST-segment Elevation Myocardial Infarct (STEMI) dan Non ST-segment Elevation Myocardial Infarct (NSTEMI). IMA tipe STEMI sering menyebabkan kematian mendadak, sehingga merupakan suatu kegawatdaruratan yang membutuhkan tindakan medis secepatnya.6 Oklusi total arteri koroner pada STEMI memerlukan tindakan segera yaitu tindakan reperfusi, berupa terapi fibrinolitik maupun Percutaneous Coronary Intervention (PCI), yang diberikan pada pasien STEMI dengan onset gejala 12 jam) dapat dilakukan terapi reperfusi bila pasien masih mengeluh nyeri dada yang khas infark (ongoing chest pain).American College of Cardiology/American Heart Association dan European Society of Cardiology merekomendasikan dalam tata laksana pasien dengan STEMI selain diberikan terapi reperfusi, juga diberikan terapi lain seperti anti-platelet (aspirin, clopidogrel, thienopyridin), anti-koagulan seperti Unfractionated Heparin (UFH) / Low Molecular Weight Heparin (LMWH), nitrat, penyekat beta, ACEinhibitor, dan Angiotensin Receptor Blocker.7,8,9

1.2. TujuanTujuan penulisan laporan kasus ini adalah 1. Untuk memahami tinjauan ilmu teoritis penyakit infark miokard elevasi segmen ST (STEMI).2. Untuk mengintegrasikan ilmu kedokteran yang telah didapat terhadap kasus infark miokard elevasi segmen ST (STEMI) serta melakukan penatalaksanaan yang tepat, cepat, dan akurat sehingga mendapatkan prognosis yang baik dan keselamatan pasien terjamin.

1.3. Manfaat PenulisanBeberapa manfaat yang didapat dari penulisan laporan kasus ini adalah:1. Untuk lebih memahami dan memperdalam secara teoritis tentang infark miokard elevasi segmen ST (STEMI).2. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi pembaca mengenai infark miokard elevasi segmen ST (STEMI).

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST2.1.1. DefinisiSindrom Koroner Akut (SKA) adalah suatu istilah atau terminologi yang digunakan untuk menggambarkan suatu spektrum keadaan atau kumpulan proses penyakit yang meliputi angina pektoris tidak stabil/APTS (unstable angina/UA), atau infark miokard tanpa elevasi segmen ST (Non-ST elevation myocardial infarction/ NSTEMI), atau infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST elevationmyocardial infarction/STEMI).Infark Miokard Akut (IMA) merupakan gangguan aliran darah ke jantung yang menyebabkan sel otot jantung mati. Aliran darah di pembuluh darah terhenti setelah terjadi sumbatan koroner akut, kecuali sejumlah kecil aliran kolateral dari pembuluh darah di sekitarnya. Daerah otot di sekitarnya yang sama sekali tidak mendapat aliran darah atau alirannya sangat sedikit sehingga tidak dapat mempertahankan fungsi otot jantung, dikatakan mengalami infark. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (ST Elevation Myocardial Infarct) merupakan bagian dari spektrum sindrom koroner akut (SKA) yang terdiri atas angina pektoris tak stabil, IMA tanpa elevasi ST, dan IMA dengan elevasi ST.Infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST-Elevation Myocardial Infarction, STEMI) merupakan bagian dari spektrum sindroma koroner akut yang terdiri dari angina tipikal dan disertai dengan gambaran elevasi segmen ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan pada EKG. Sebagian besar pasien STEMI akan mengalami peningkatan marka jantung, sehingga berlanjut menjadi infark miokard dengan elevasi segmen ST. Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut merupakan indicator kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner. Keadaan ini memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard secepatnya; secara medikamentosa menggunakan agen fibrinolitik atau secara mekanik, intervensi koroner perkutan primer9.Ketiga keadaan tersebut merupakan keadaan kegawatdaruratan kardiovaskular dan memerlukan tatalaksana yang adekuat untuk menghindari terjadinya sudden death10.Klasifikasi berdasarkan Killip digunakan pada penderita infark miokard akut, dengan pembagian:1. Derajat I : tanpa gagal jantung2. Derajat II : Gagal jantung dengan ronki basah halus di basal paru, S3 galopdan peningkatan tekanan venapulmonalis3. Derajat III :Gagal jantung beratdengan edema paruseluruh lapanganparu.4. Derajat IV : Syok kardiogenik dengan hipotensi (tekanan darah sistolik _90 mmHg)dan vasokonstriksi perifer (oliguria,sianosis dan diaforesis)10

Klasifikasi Infark Miokard Akut (IMA) diklasifikasikan berdasar EKG 12 sandapan menjadi:1. Infark miokard akut ST-elevasi (STEMI) : oklusi total dari arteri koroner yang menyebabkan area infark yang lebih luas meliputi seluruh ketebalan miokardium, yang ditandai dengan adanya elevasi segmen ST pada EKG.2. Infark miokard akut non ST-elevasi (NSTEMI) : oklusi sebagian dari arteri koroner tanpa melibatkan seluruh ketebalan miokardium, sehingga tidak ada elevasi segmen ST pada EKG.

2.1.2. Etiologi dan Faktor RisikoSeseorang untuk menderita SKA ditentukan melalui interaksi dua atau lebih faktor risiko antara lain: faktor yang tidak dapat dikendalikan (nonmodifiable factors) dan faktor yang dapat dikendalikan (modifiable factors).15Faktor risiko biologis yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu:a. Usia Risiko terjadinya penyakit arteri koroner meningkat dengan bertambahnya usia, diatas 45 tahun pada pria dan diatas 55 tahun pada wanita. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung juga merupakan faktor risiko, termasuk penyakit jantung pada ayah dan saudara pria yang didiagnosa sebelum umur 55 tahun, dan pada ibu atau saudara perempuan yang didiagnosa sebelum umur 65 tahun.Pasien usia lanjut lebih sering dari pada usia muda mengalami perubahan abnormalitas anatomi dan fisiologi kardiovaskular, termasuk respon simpatis beta yang terbatas, peningkatanafterload jantung karena penurunan compliance arteri dan hipertensi arterial, hipotensi ortostatik, hipertropi jantung, dan disfungsi ventrikular terutama disfungsi diastolik. b. Jenis kelaminLaki-laki memiliki risiko lebih tinggi daripada perempuan. Walaupun setelah menopause, tingkat kematian perempuan akibat penyakit jantung meningkat, tapi tetap tidak sebanyak tingkat kematian pada laki-laki.c. Riwayat keluargaAnak-anak dengan orang tua yang memiliki riwayat penyakit jantung, lebih berisiko untuk terkena penyakit jantung itu sendiri. d. Ras/SukuAfrika Amerika memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada Kaukasian, dan memiiki risiko lebih tinggi pada penyakit jantung. Risiko tinggi juga terdapat pada orang Mexican Amerika, American India, native Hawaiians dan Asian Amerika. Hal ini juga berhubungan dengan tingginya angka orang yang obesitas dan diabetes.Insidensi kematian pada penyakit jantung koroner pada orang Asia yang tinggal di inggris lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk lokal, sedangkan angka yang rendah terdapat pada ras Afro-Karibia.16e. Kelas sosialTingkat kematian akibat penyakit jantung koroner tiga kali lebih tinggi pada pekerja kasar laki-laki terlatih dibandingkan dengan kelompok pekerja pofesi (misal dokter, pengacara dll). Selain itu frekuensi