Kumpulan Materi Perpajakan

of 676/676
KUMPULAN MATERI PERPAJAKAN (Untuk Umum) Disusun oleh: Mohammad Fauzi Nugraha www.campur-aduk.com
  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    239
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Perpajakan

Transcript of Kumpulan Materi Perpajakan

  • KUMPULAN MATERI PERPAJAKAN

    (Untuk Umum)

    Disusun oleh: Mohammad Fauzi Nugraha

    www.campur-aduk.com

  • ii

    DISCLAIMER

    Penyusun tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun

    terhadap keputusan yang diambil dalam bentuk apapun berdasarkan materi di dalam kumpulan materi ini.

    Kumpulan materi ini tidak dapat digunakan sebagai rujukan hukum. Rujukan agar tetap mengacu pada ketentuan perpajakan atau ketentuan lainnya yang berlaku.

    Dilarang keras mengkomersialkan kumpulan materi ini dalam bentuk apapun.

    Kumpulan materi ini hanya menyajikan sebagian kecil dari ruang lingkup perpajakan yang ada. Wajib Pajak atau calon Wajib Pajak yang memerlukan informasi, bantuan atau konsultasi lebih lanjut dapat merujuk ke peraturan terkait dan atau menghubungi: Petugas Account Representative yang ada di Seksi

    Pengawasan dan Konsultasi dan atau petugas di Help Desk pada Kantor Pelayanan Pajak di tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat calon Wajib Pajak berdomisili/berkedudukan;

    Petugas Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan; atau

    Petugas Call Center Kring Pajak 500200. Isi kumpulan materi ini dapat diubah sewaktu-waktu tanpa

    pemberitahuan terlebih dahulu demi penyempurnaan & perbaikan. Rilis terakhir dapat diunduh di www.campur-aduk.com.

    Rilis terakhir: 2014-11-14

    Kumpulan Materi Perpajakan (Untuk Umum) Nugraha, Mohammad Fauzi Jakarta: www.campur-aduk.com, 2014 1 jil., 14,8 x 21 cm, xxvi + 630 hal.

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Taala, karena dengan rahmat, taufik

    dan hidayah-Nya penyusun tetap dapat terus memperbaharui Kumpulan Materi Perpajakan

    Ringkas ini. Penyusunan kumpulan materi ini disusun pertama kali pada bulan Desember 2012 dan

    diupayakan di-update tiap bulan. Kumpulan materi ini disusun dari berbagai sumber (tercantum di

    daftar pustaka) terutama dari aturan perpajakan terkait, situs Tax Knowledge Base Direktorat

    P2Humas DJP dan situs www.ortax.org.

    Ide penyusunan kumpulan materi ini berawal dari kesulitan penyusun menemukan

    kumpulan materi perpajakan umum sebagai informasi awal dalam satu kesatuan yang up-to-date

    yang dapat dibawa kemana-mana dalam bentuk softcopy untuk mendukung tugas penyusun

    sebagai seorang Account Representative dan untuk memudahkan para Wajib Pajak yang berada di

    bawah pengawasan penyusun dalam memahami ketentuan perpajakan dengan praktis namun

    dengan tetap tidak mengesampingkan aturan terkait dan literatur lainnya.

    Penyusun menyadari bahwa kumpulan materi ini masih jauh dari sempurna dan masih

    banyak kekurangan serta kelemahan. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan pengalaman,

    waktu, dan tenaga yang penyusun miliki. Banyaknya kata yang disingkat oleh penyusun semata-

    mata hanya untuk mengurangi jumlah halaman kumpulan materi ini. Khusus untuk materi PBB

    Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan sampai saat ini belum dapat penyusun kerjakan.

    Kritik dan saran yang membangun bagi penyempurnaan kumpulan materi ini dapat dikirim melalui

    email: mfn0309[at]gmail[dot]com.

    Akhir kata, penyusun berharap semoga kumpulan materi yang sederhana ini dapat

    memberikan manfaat walaupun secuil bagi berbagai pihak. Semoga Allah Subhanahu wa Taala

    membalas segala amal kebaikan yang kita kerjakan. Amin.

    Jakarta, November 2014 M. Fauzi Nugraha

  • iv

    DAFTAR ISI

    Cover i Disclaimer ii Kata Pengantar iii Daftar Isi iv Singkatan yg Digunakan ix Bbrp Aturan Penting Terbaru xvi A. Pendahuluan 01. Pengantar Hukum Pajak A-01-1 02. UU Perpajakan A-02-1 03. Jenis Pajak A-03-1 A. Pajak Pusat A-03-1 B. Pajak Daerah A-03-1 04. Kewajiban & Hak WP A-04-1 05. Struktur Organisasi DJP A-05-1 A. Kantor Pusat A-05-1 B. Instansi Vertikal A-05-5 C. UPT A-05-6 06. Nilai Kemenkeu dan Visi Misi & Kode Etik DJP A-06-1 B. KUP 01. Poin UU KUP B-01-1 02. NPWP, PKP & NE B-02-1 A. Administrasi NPWP B-02-1 B Pendaftaran & Pelaporan Kegiatan Usaha, Pendaftaran &

    Penghapusan NPWP, Pengukuhan & Pencabutan PKP B-02-3

    C. Tempat Pendaftaran NPWP WP Tertentu B-02-21 D. Pemusatan Tempat Terutang PPN B-02-26 E. Tempat Pendaftaran/Pelaporan PKP bagi WP Real Estat B-02-31 03. Surat Kuasa Khusus B-03-1 04. Kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) B-04-1 05. Batas Waktu Pembayaran & Pelaporan dan Terkait Pelaporan SPT B-05-1 06. Sanksi B-06-1 A. Sanksi Administrasi B-06-1 B. Sanksi Pidana B-06-5 C. Contoh Perhitungan Sanksi B-06-8 D. Aturan Sanksi dan Penjelasan Terkait Sunset Policy B-06-11 07. Kode Perpajakan B-07-1 A. Kode Akun Pajak & Kode Jenis Setoran B-07-1 B. Kode Ketetapan B-07-15 C. Kode Nota Penghitungan B-07-17 D. Kode Pemeriksaan B-07-18 08. Sistem Pembayaran Pajak scr Elektronik (Billing System) B-08-1 09. SPT Masa PPh B-09-1 10. SPT Masa PPN B-10-1 11. SPT Tahunan PPh OP-Badan B-11-1 A. SPT Tahunan PPh B-11-1 B. Contoh Kasus Khusus ttg PTKP B-11-5 C. Penerimaan & Pengolahan SPT Tahunan PPh B-11-12 12. e-SPT B-12-1 A. Tata Cara & Persyaratan B-12-1 B. Jenis e-SPT B-12-2 C. Daftar Menu e-SPT Masa B-12-3 D. Daftar Menu e-SPT Tahunan PPh Badan B-12-9 E. FAQ Ttg e-SPT B-12-10 13. e-FIN & e-Filing B-13-1 A. Penyampaian SPT (Masa/Tahunan) & Perpanjangan SPT Tahunan

    Scr e-Filing Melalui ASP B-13-1

  • v

    B. Penyampaian SPT 1770 S / 1770 SS Scr e-Filing melalui Website DJP (www.pajak.go.id)

    B-13-2

    C. Permohonan e-FIN Melalui Pemberi Kerja Tertentu B-13-3 D. FAQ Ttg e-Filing Melalui Website DJP B-13-4 14. Pembukuan & Pencatatan B-14-1 A. Pembukuan & Pencatatan B-14-1 B. Perubahan Metode Pembukuan dan atau Thn Buku B-14-3 C. Pembukuan dgn Mata Uang Asing B-14-4 15. Pemindahbukuan (Pbk) B-15-1 16. Pengembalian Kelebihan Pajak yg Seharusnya Tdk Terutang B-16-1 17. Pengembalian Pendahuluan B-17-1 A. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk WP dgn Kriteria

    Tertentu B-17-1

    B. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk WP dgn Persyaratan Tertentu

    B-17-3

    C. Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk PKP Berisiko Rendah

    B-17-6

    18. Kelebihan Pembayaran Pajak B-18-1 A. Penghitungan Kelebihan Pembayaran Pajak B-18-1 B. Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak B-18-3 19. Pengurangan, Keberatan, Banding, dan Gugatan B-19-1 A. Pembetulan Kesalahan Tulis, Kesalahan Hitung, dan atau

    Kekeliruan Penerapan Ketentuan Tertentu dlm Perpu Perpajakan B-19-1

    B. Keberatan B-19-4 C. Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dan

    Pengurangan atau Pembatalan skp atau STP B-19-11

    D. Banding B-19-23 E. Gugatan B-19-27 F. Peninjauan Kembali (PK) B-19-31 20. Imbalan Bunga B-20-1 21. Tata Cara Verifikasi B-21-1 A. Verifikasi dlm Rangka Menerbitkan NPWP scr Jabatan dan

    Menghapuskan NPWP scr Jabatan/Berdasarkan Permohonan WP B-21-4

    B. Verifikasi dlm Rangka Mengukuhkan PKP scr Jabatan/ Berdasarkan Permohonan WP dan Mencabut Pengukuhan PKP scr Jabatan/Berdasarkan Permohonan PKP

    B-21-6

    C. Verifikasi dlm Rangka Menerbitkan skp B-21-7 22. Tata Cara Pemeriksaan B-22-1 23. Tata Cara Penerbitan skp & STP B-23-1 24. Angsuran & Penundaan Pembayaran Pajak B-24-1 25. Penagihan Pajak B-25-1 A. Ketentuan Terkait Penagihan Pajak B-25-1 B. Jangka Waktu Pelunasan STP, SKPKB, SKPKBT, dan SK atau

    Ketetapan Lainnya B-25-3

    C. Jadwal Waktu Penagihan Pajak B-25-4 D. Biaya Penagihan Pajak B-25-5 26. Surat Keterangan Fiskal (SKF) B-26-1 C. PPh 01. Poin UU PPh C-01-1 02. Ringkasan UU PPh C-02-1 03. Penentuan SPDN & SPLN C-03-1 04. Saat Terutang PPh C-04-1 05. Tarif C-05-1 06. Kompensasi Kerugian Fiskal & PTKP C-06-1 A. Kompensasi Kerugian Fiskal C-06-1 B. PTKP C-06-1 07. Harta & Persediaan C-07-1 A. Perolehan atau Pengalihan Harta C-07-1

  • vi

    B. Penyusutan C-07-2 C. Amortisasi C-07-4 D. Kelompok Harta C-07-5 E. Perangkat Lunak (Software) Komputer C-07-8 F. HP, Telepon Seluler , Pager C-07-9 G. Kendaraan Milik Perusahaan C-07-9 08. Hubungan Istimewa & Transfer Pricing C-08-1 A. Hubungan Istimewa C-08-1 B. Transfer Pricing C-08-2 09. Contoh Pemakaian Norma C-09-1 10. PPh Pasal 4 ayat (2) C-10-1 11. PPh Pasal 15 C-11-1 12. PPh Pasal 21/26 C-12-1 13. PPh Pasal 22 C-13-1 14. PPh Pasal 23 C-14-1 15. PPh Pasal 24 Atas Penghasilan WP DN dari LN C-15-1 16. PPh Pasal 25 C-16-1 A. Angsuran PPh Pasal 25 dlm Thn Pajak Berjalan yg Hrs Dibayar

    Sendiri C-16-1

    B. Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25 C-16-2 C. Angsuran Pajak dlm Thn Pajak Berjalan dlm Hal-hal Tertentu C-16-3 17. PPh Pasal 26 C-17-1 18. Badan Usaha Tetap (BUT) C-18-1 19. DGT C-19-1 A. DGT C-19-1 B. Nama Unit Organisasi & Jabatan utk Keperluan SKD C-19-6 20. Tabel Terkait P3B C-20-1 A. P3B yg Berlaku Efektif C-20-1 B. Time Test P3B yg Berlaku Efektif (BUT) C-20-2 C. Tarif PPh Pasal 26 utk P3B yg Berlaku Efektif C-20-5 D. Dependent Personal Services (Hubungan Kerja) C-20-7 E. Independent Personal Services (Pekerjaan Bebas) C-20-8 F. Hak Pemajakan atas Penghasilan Tertentu C-20-9 G. Daftar Competent Authority dari Negara-negara Treaty Partner C-20-12 21. WP yg Memiliki Peredaran Bruto Tertentu C-21-1 A. Penghasilan dari Usaha yg Diterima atau Diperoleh WP yg Memiliki

    Peredaran Bruto Tertentu C-21-1

    B. FAQ atas Penghasilan dari Usaha WP dgn Peredaran Bruto Tertentu

    C-21-11

    22. Penggunaan Nilai Buku atas Pengalihan Harta dlm Rangka Restrukturisasi

    C-22-1

    23. Dividen yg Diperoleh WP DN atas Penyertaan Modal pd Badan Usaha di LN Selain Badan Usaha yg Menjual Sahamnya di Bursa Efek

    C-23-1

    24. PSAK 46 C-24-1 25. Fasilitas PPh C-25-1 A. SKB PPh Potput (PPh Pasal 21, 22, 22 Impor, 23) C-25-1 B. SKB PPh Potput (PPh Pasal 21, 22, 22 Impor, 23) atas WP yg

    Memiliki Peredaran Bruto Tertentu C-25-2

    C. SKB Pemotongan PPh atas Bunga Deposito, Tabungan, Diskonto SBI yg Diterima/Diperoleh Dana Pensiun yg Pendiriannya Tlh Disahkan oleh Menkeu

    C-25-3

    D. SKB atas Impor Emas Batangan yg Akan Diproses Utk Menghasilkan Brg Perhiasan dari Emas utk Tujuan Ekspor

    C-25-4

    E. SKB Kewajiban Pembayaran/Pemungutan PPh atas Penghasilan dari Penghasilan Hak atas Tanah & Bangunan (PHTB)

    C-25-5

    F. SKB Kewajiban PPh atas Penghasilan dari PHTB bagi WP yg Usaha Pokoknya Melakukan PHTB

    C-25-6

    G. Pembebasan atau Pengurangan PPh Badan C-25-7

  • vii

    H. Fasilitas PPh utk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah Tertentu

    C-25-7

    I. Pengurangan Besarnya PPh Pasal 25 dan Penundaan Pembayaran PPh Pasal 29 bagi WP Industri Tertentu

    C-25-7

    D. PPN & PPnBM 01. Poin UU PPN D-01-1 02. Ringkasan UU PPN D-02-1 03. Saat Terutang PPN D-03-1 04. BKP Tdk Berwujud & JKP D-04-1 A. Pemanfaatan BKP Tdk Berwujud atau JKP dari Luar Daerah

    Pabean D-04-1

    B. Ekspor JKP dan/atau BKP Tdk Berwujud D-04-6 05. Faktur Pajak (FP) D-05-1 A. Saat Pembuatan FP D-05-1 B. Saat Penyerahan/Ekspor D-05-3 C. Bentuk FP D-05-7 D. FP PKP Selain Pedagang Eceran D-05-16 E. FP PKP Pedagang Eceran D-05-30 F. Dokumen Tertentu yg Dipersamakan dgn FP D-05-32 G. Pemberian Kode Aktivasi & Nomor Seri Melalui Aplikasi e-Nofa D-05-34 06. Nota Retur & Nota Pembatalan D-06-1 07. Nilai Lain D-07-1 08. Pemakaian Sendiri & Pemberian Cuma-Cuma D-08-1 A. Pemakaian Sendiri D-08-1 B. Pemberian Cuma-Cuma D-08-2 09 Kegiatan Membanguan Sendiri (KMS) D-09-1 10. Aktiva yg Mnr Tujuan Semula Tdk Utk Diperjualbelikan D-10-1 11. Toko Bebas Bea D-11-1 12. VAT Refund bagi Turis Asing D-12-1 13. Pemungut PPN D-13-1 14. Pedoman Pengkreditan PM D-14-1 A. Bagi PKP yg Peredaran Usahanya Tdk Melebihi Jml Tertentu D-14-1 B. Bagi PKP yg Melakukan Penyerahan Terutang & Tdk Terutang/

    Dibebaskan PPN D-14-2

    C. Bagi PKP Usaha Tertentu (Emas & Kendaraaan Bekas) D-14-7 15. Restitusi PPN D-15-1 A. Restitusi PPN D-15-1 B. Pembayaran Kembali PM Bagi PKP yg Gagal Berproduksi D-15-1 16. Pengawasan PKP D-16-1 17. PPnBM D-17-1 18. Fasilitas PPN & PPnBM D-18-1 A. Fasilitas Pembebasan PPN D-18-1 B. Fasilitas PPN Tdk Dipungut D-18-16 C. Fasilitas PPnBM D-18-29 E. Bea Meterai 01. Poin UU Bea Meterai E-01-1 02. Bea Meterai E-02-1 F. Kapita Selekta 01. Kewajiban Perpajakan Bendahara F-01-1 02. Reimbursable Items F-02-1 03. Transaksi Swap & Forward F-03-1 04. Jenis Usaha Tertentu F-04-1 A. Leasing (Sewa Guna Usaha) F-04-1 B. Build, Operate, and Transfer F-04-6 C. Joint Operation (JO) / Kerja Sama Operasi F-04-8 D. Reksa Dana F-04-10 05. e-Commerce F-05-1 A. Online Marketplace F-05-1

  • viii

    B. Classified Ads F-05-5 C. Daily Deals F-05-7 D. Online Retail F-05-9 Daftar Pustaka Riwayat Hidup

  • ix

    DAFTAR SINGKATAN YG DIGUNAKAN

    Singkatan [email protected] Masing-masing 3M Mendapatkan, menagih dan memelihara & Dan

    a.l. Antara Lain a.n. Atas Nama

    Agust Agustus AJB Akta Jual Beli ALP Arms Length Principle APA Advance Price Agreement

    APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

    Apr April AR Account Representative AS Amerika Serikat

    ATM Anjungan Tunai Mandiri ATPM Agen Tunggal Pemegang Merek

    BA Berita Acara BAPEPAM-LK Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan

    BBM Bahan Bakar Minyak BBG Bahan Bakar Gas Bbrp Beberapa

    BI Bank Indonesia Bid Bidang

    BKP Barang Kena Pajak Bln Bulan

    BOS Bantuan Operasional Sekolah BOT Build, Operate and Transfer BPE Bukti Penerimaan Elektronik

    BPHTB Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPN Bukti Penerimaan Negara BPS Bukti Penerimaan Surat; Biro Pusat Statistik tergantung materi BPT Branch Proft Tax Brg Barang Brp Berapa

    BUD Bendahara Umum Daerah BUT Bentuk Usaha Tetap

    DepAg Departemen Agama DepDikNas Departemen Pendidikan Nasional

    DepHan Departemen Pertanahan DepHub Departemen Perhubungan DepKes Departemen Kesehatan

    Des Desember

  • x

    Singkatan UraianDgn Dengan

    Dirjen Direktur Jenderal Ditjen Direktorat Jenderal DJA Direktorat Jenderal Anggaran

    DJBC Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJP Direktorat Jenderal Pajak Dlm Dalam DN Dalam Negeri Dpt Dapat Dsb Dan sebagainya Dst Dan seterusnya Feb Februari FC Fotokopi

    FIFO First-in, First-out FLN Fiskal Luar Negeri Form Formulir FP Faktur Pajak Gol. Golongan HGB Hak Guna Bangunan HGU Hak Guna Usaha HP Handphone

    HPP Harga Pokok Penjualan Hrg Harga Hrs Harus Hub Hubungan IB Imbalan Bunga

    IFRS International Financial Reporting Standards JAMSOSTEK Jaminan Sosial Tenaga Kerja

    Jan Januari Jgn Jangan JHT Jaminan Hari Tua JK Jaminan Kematian

    JKK Jaminan Kecelakaan Kerja JKP Jasa Kena Pajak Jml Jumlah JO Joint Operation Jo Juncto

    JPK Jaminan Pemeliharaan Kesehatan JPT/FF Jasa Pengurusan Transportasi/Freight Forwarding

    KA Kereta Api KAI Kereta Api Indonesia Kab. Kabupaten

    Kanwil Kantor Wilayah KAPET Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu

    Kasi Kepala Seksi

  • xi

    Singkatan UraianKB Kurang Bayar

    KEK Kawasan Ekonomi Khusus Kemenkeu Kementrian Keuangan

    Ket. Keterangan KGB Keadaan Gagal Berproduksi KIK Kontrak Investasi Kolektif

    KITAP Kartu Izin Tinggal Tetap KITAS Kartu Izin Tinggal Terbatas KITE Kemudahan Impor Tujuan Ekspor KJS Kode Jenis Setoran

    KKKS Kontraktor Kontrak Kerja Sama KKP Kertas Kerja Pemeriksaan KKPt Kertas Kerja Penelitian

    KLIP DJP Kantor Layanan Informasi Dan Pengaduan Direktorat Jenderal Pajak KLU Klasifikasi Lapangan Usaha KMS Kegiatan Membangun Sendiri

    KP2KP Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan Kpd Kepada KPA Kuasa Pengguna Anggaran

    KPDDP Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan KPDE Kantor Pengolahan Data Eksternal KPDJP Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak

    KPP Kantor Pelayanan Pajak KPP Badora Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asing KPP Migas Kantor Pelayanan Pajak Minyak dan Gas Bumi KPP PMA Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing KPP PMB Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Masuk Bursa KPPBC Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai KPPN Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

    Krn Karena KSO Kerja Sama Operasi KTP Kartu Tanda Penduduk KUP Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Lamp Lampiran

    LB Lebih Bayar Lbh Lebih LHP Laporan Hasil Pemeriksaan LHPt Laporan Hasil Penelitian LHV Laporan Hasil Verifikasi LIFO Last-in First-out LK Laporan Keuangan LN Luar Negeri

    LPAD Lembar Pengawasan Arus Dokumen LPJK Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Lsg Langsung

  • xii

    Singkatan UraianM Milyar

    MAP Mutual Agreement Procedure; Mata Anggaran Penerimaan tergantung materi

    Max Maksimal Mekanisme LS Mekanisme Langsung Mekanisme UP Mekanisme Uang Persediaan

    MenKeu/Menkeu Menteri Keuangan Migas Miinyak dan Gas Bumi; Minyak Bumi dan Gas Bumi Min Minimal Mnr Menurut MPN Modul Penerimaan Negara NE Non Efektif NIK Nomor Induk Kependudukan

    NJOPTKP Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak No. Nomor

    NOP Nomor Objek Pajak Nothit Nota Penghitungan Nov November

    NPOPTKP Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak NPP Nomor Penerimaan Potongan

    NPPN Norma Penghitungan Penghasilan Neto NPWP Nomor Pokok Wajib Pajak NSB Nilai Sisa Buku

    NSFP Nomor Seri Faktur Pajak NTB Nomor Transaksi Bank NTP Nomor Transaksi Pos

    NTPA Nomor Transaksi Pengiriman ASP NTPN Nomor Transaksi Penerimaan Negara

    NTPPP Nomor Transaksi Pembayaran Pajak NTTE Nomor Tanda Terima Elektronik OECD Organization for Economic Cooperation and Development OJK Otoritas Jasa Keuangan Okt Oktober

    OPPT Orang Pribadi Pengusaha Tertentu Org Orang OP Orang Pribadi

    PAHP Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan PAHV Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi P3B Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda PBB Pajak Bumi dan Bangunan Pbk Pemindahbukuan Pd Pada

    PDKB Penyelenggara di Kawasan Berikat PDRD Pajak Daerah dan Retribusi Daerah PER- Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-

  • xiii

    Singkatan UraianPemda Pemerintah Daerah Pempus Pemerintah Pusat Perda Peraturan Daerah Perpu Peraturan perundang-undangan PHTB Pengalihan Hak atas Tanah & Bangunan PIN Personal Identification Number PK Peninjauan Kembali; Pajak Masukan tergantung materi

    PKP Pengusaha Kena Pajak; Penghasilan Kena Pajak tergantung materi PKP PE Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran

    PLI Profit Level indicator PM Pajak Masukan

    PMB Perusahaan masuk bursa PNBP Penerimaan Negara Bukan Pajak PMK- Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

    Potput/Pot-Put Pemotongan Pemungutan PPAT Pejabat Pembuat Akta Tanah

    PPBTT Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu PPDDP Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan

    PPh Pajak Penghasilan PPJB Perjanjian Pengikatan Jual Beli PPN Pajak Pertambangan Nilai

    PPnBM Pajak Penjualan atas Barang Mewah PPSP Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

    Ps. Pasal PSAK Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

    PT Perseroan Terbatas PTLL Pajak Tidak Langsung Lainnya PTUN Pengadilan Tata Usaha Negara

    QA Quality Assurance RI Republik Indonesia

    RIKI Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal Rp Rupiah

    RUPS Rapat Umum Pemegang Saham RUSUNAMI Rumah Susun Sederhana Milik

    s.d. Sampai dengan SAK Standar Akuntansi Keuangan Sbb sebagai berikut Sbg Sebagai Sbl Sebelum Seb Sebesar Sept September Scr Secara

    SDA Sumber Daya Alam SDM Sumber Daya Manusia SGU Sewa Guna Usaha

  • xiv

    Singkatan UraianSHU Sisa Hasil Usaha

    SI Sistem Informasi SIUP Surat izin Usaha Perdagangan

    SIUPP Surat Izin Perusahaan Pelayaran SK Surat Keputusan

    SKB Surat Keterangan Bebas SKD Surat Keterangan Domisili SKF Surat Keterangan Fiskal

    SKKPPBB Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Skp/SKP Surat Ketetapan Pajak

    SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah SKPIB Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga SKPKB Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

    SKPKBT Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan SKPKPP Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak SKPLB Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar SKPN Surat Ketetapan Pajak Nihil

    SKPPIB Surat Keputusan Perhitungan Pemberian Imbalan Bunga SKPPKP Surat Keputusaan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak

    SKT Surat Keterangan Terdaftar Slr Seluruh

    SMT Saat Mulai Terdaftar SP2 Surat Perintah Pemeriksaan

    SP2D Surat Perintah Pencairan Dana SPD Surat Pengiriman Dokumen

    SPDN Subjek Pajak Dalam Negeri SPHP Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan SPHV Surat Pemberitahuan Hasil Verifikasi SPK Surat Perintah Kerja

    SPLN Subjek Pajak Luar Negeri SPM Surat Perintah Membayar

    SPMIB Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga SPMKP Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak SPMP Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan SPPKP Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak SPPT Surat Pemberitahuan Pajak Terutang SPT Surat Pemberitahuan

    SPUH Surat Pemberitahuan Untuk Hadir SPV Special Purpose Vehicle SRO Self Regulatory Organization SSBP Surat Setoran Bukan Pajak SSP Surat Setoran Pajak

    SSPBB Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan ST Surat Tugas

    Stdd Sebagaimana telah diubah dengan

  • xv

    Singkatan UraianStdtd Sebagaimana telah diubah terakhir dengan

    Stl Setelah STP Surat Tagihan Pajak

    STTS Surat Tanda Terima Setoran Tdk Tidak Tgl Tanggal Thd Terhadap Thn Tahun THR Tunjangan Hari Raya THT Tunjangan Hari Tua TI Teknologi Informasi

    TLDDP Tempat Lain dalam Daerah Pabean Tlh Telah

    TNMM Transactional Net Margin Method TP Transfer Pricing

    TPB Tempat Penimbunan Berikat TPPB Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat TPT Tempat Pelayanan Terpadu Tsb Tersebut Ttg Tentang UP2 Unit Pelaksana Pemeriksaan UPT Unit Pelaksana Teknis US$ Dollar Amerika Serikat Utk Untuk UU Undang-Undang

    Waskon Pengawasan dan Konsultasi WDP Wajar Dengan Pengecualian WIBB Waktu Indonesia Bagian Barat WP Wajib Pajak

    WTP Wajar Tanpa Pengecualian YBDI Yang Berhubungan Dengan Itu

    Yg Yang

  • xvi

    BBRP ATURAN PENTING TERBARU

    Thn 2014: Perihal, Nomor, dan Tanggal Peraturan Referensi

    RALAT SURAT EDARAN NOMOR SE-32/PJ/2014 TENTANG PENEGASAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU SE-38/PJ/2014, 22 Okt 2014

    C-21

    TATA CARA PEMBERSIHAN DATA (DATA CLEANSING) WAJIB PAJAK SE-37/PJ/2014, 22 Okt 2014

    PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-27/PJ/2014 TENTANG TATA CARA PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SE-36/PJ/2014, 13 Okt 2014

    TATA CARA PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PER-27/PJ/2014, 13 Okt 2014

    SISTEM PEMBAYARAN PAJAK SECARA ELEKTRONIK PER-26/PJ/2014, 13 Okt 2014 mencabut PER-47/PJ/2011 jo PER-19/PJ/2012

    B-08

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 130/PMK.011/2011 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS PEMBEBASAN ATAU PENGURANGAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PMK-192/PMK.03/2014, 06 Okt 2014

    C-25

    PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2013 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN PMK-191/PMK.03/2014, 02 Okt 2014

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-44/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) PER-25/PJ/2014, 23 Sept 2014

    B-17, B-10

    TATA CARA PELAKSANAAN PEMBLOKIRAN DAN PENYITAAN HARTA KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK YANG TERSIMPAN PADA BANK DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA PER-24/PJ/2014, 17 Sept 2014

    B-25

    PENEGASAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU SE-32/PJ/2014, 17 Sept 2014

    C-21

    PENGGUNAAN DOKUMEN PELENGKAP PABEAN DALAM BENTUK DATA ELEKTRONIK PMK-175/PMK.04/2014, 28 Agust 2014

    PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-27/PJ/2012 TENTANG BENTUK DAN ISI NOTA PENGHITUNGAN, BENTUK DAN ISI SURAT KETETAPAN PAJAK SERTA BENTUK DAN ISI SURAT TAGIHAN PAJAK PER-23/PJ/2014, 14 Agust 2014

    B-07

    PEMBERITAHUAN BERLAKUNYA PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B) ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA BERDAULAT PAPUA NUGINI SE-31/PJ/2014, 14 Agust 2014

    C-20

  • xvii

    PENGAWASAN ATAS TRANSAKSI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN MELALUI JUAL BELI SE-30/PJ/2014, 14 Agust 2014

    C-10

    TATA CARA PENERBITAN SURAT KETERANGAN BEBAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH KEPADA PERWAKILAN NEGARA ASING DAN BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA PMK-162/PMK.03/2014, 13 Agust 2014

    D-18

    TATA CARA PENGEMBALIAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH YANG TELAH DIPUNGUT KEPADA PERWAKILAN NEGARA ASING DAN BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA PMK-161/PMK.03/2014, 13 Agust 2014

    D-18

    TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH YANG SEHARUSNYA TIDAK DIBERIKAN PEMBEBASAN OLEH PERWAKILAN NEGARA ASING DAN BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA PMK-160/PMK.03/2014, 13 Agust 2014

    D-18

    UJI COBA PELAKSANAAN PEMBINAAN WAJIB PAJAK BARU MELALUI PROGRAM TRIPLE ONE KEP-167/PJ/2014, 04 Agust 2014

    PERUBAHAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-17/PJ/2012 TENTANG TATA CARA PENGAWASAN PENERBITAN SURAT PERINTAH MEMBAYAR KELEBIHAN PAJAK SE-25/PJ/2014, 25 Juli 2014 Mengubah form konfirmasi utang pajak

    B-18

    PELAKSANAAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70P/HUM/2013 MENGENAI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS BARANG HASIL PERTANIAN YANG DIHASILKAN DARI KEGIATAN USAHA DI BIDANG PERTANIAN, PERKEBUNAN, DAN KEHUTANAN SEBAGAIMANA DIATUR DALAM PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 31 TAHUN 2007 SE-24/PJ/2014, 25 Juli 2014

    D-18

    PENYELENGGARAAN PELAYANAN PADA KANTOR LAYANAN INFORMASI DAN PENGADUAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PER-22/PJ/2014, 25 Juli 2014

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-1/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN OLEH PIHAK LAIN PER-21/PJ/2014, 25 Juli 2014

    C-25

    TATA CARA PERMOHONAN DAN PENETAPAN MASA MANFAAT YANG SESUNGGUHNYA ATAS HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN PENYUSUTAN PER-20/PJ/2014, 25 Juli 2014

    C-07

    KLASIFIKASI DAN PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PMK-139/PMK.03/2014, 10 Juli 2014 Mencabut PMK-10/PMK.03/2010

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-34/PJ/2010 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DAN WAJIB PAJAK BADAN BESERTA PETUNJUK PENGISIANNYA PER-19/PJ/2014, 03 Juli 2014

    B-11

    PETUNJUK PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DAN ANALISIS INFORMASI, DATA, LAPORAN, DAN PENGADUAN PER-18/PJ/2014, 02 Juli 2014 Mencabut PER-38/PJ/2010

    TATA CARA PERMINTAAN DATA FAKTUR PAJAK BERBENTUK ELEKTRONIK D-05

  • xviii

    SE-21/PJ/2014, 20 Juni 2014PENETAPAN PENGUSAHA KENA PAJAK YANG DIWAJIBKAN MEMBUAT FAKTUR PAJAK BERBENTUK ELEKTRONIK KEP-136/PJ/2014, 20 Juni 2014

    D-05

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-24/PJ/2012 TENTANG BENTUK, UKURAN, TATA CARA PENGISIAN KETERANGAN, PROSEDUR PEMBERITAHUAN DALAM RANGKA PEMBUATAN, TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN, DAN TATA CARA PEMBATALAN FAKTUR PAJAK PER-17/PJ/2014, 20 Juni 2014

    D-05

    TATA CARA PEMBUATAN DAN PELAPORAN FAKTUR PAJAK BERBENTUK ELEKTRONIK PER-16/PJ/2014, 20 Juni 2014

    D-05

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 78/PMK.03/2010 TENTANG PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MELAKUKAN PENYERAHAN YANG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YANG TIDAK TERUTANG PAJAK PMK-115/PMK.03/2014, 18 Juni 2014

    D-12

    PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 36/PMK.03/2007 TENTANG BATASAN RUMAH SEDERHANA, RUMAH SANGAT SEDERHANA, RUMAH SUSUN SEDERHANA, PONDOK BORO, ASRAMA MAHASISWA DAN PELAJAR, SERTA PERUMAHAN LAINNYA, YANG ATAS PENYERAHANNYA DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PMK-113/PMK.03/2014, 10 Juni 2014

    D-18

    KONSULTAN PAJAK PMK-111/PMK.03/2014, 09 Juni 2014

    B-03

    PEJABAT PENGGANTI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN PMK-110/PMK.01/2014, 09 Juni 2014

    PANDUAN PENYUSUNAN KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DJP DENGAN PIHAK LAIN DI DALAM NEGERI SE-19/PJ/2014, 16 Mei 2014

    PENGGUNAAN STEMPEL TANDA TANGAN PADA BUKTI PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PEMBAYARAN DIVIDEN KEPADA PARA PEMEGANG SAHAM PER-15/PJ/2014, 16 Mei 2014

    C-14

    TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN PMK-70/PMK.03/2014, 25 Apr 2014 Mencabut KMK-476/KMK.03/2002

    E-02

    BENTUK, UKURAN, DAN WARNA BENDA METERAI PMK-65/PMK.03/2014, 21 Apr 2014 Mencabut PMK-55/PMK.03/2009

    E-02

    JENIS KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH DAN TATA CARA PEMBERIAN PEMBEBASAN DARI PENGENAAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PMK-64/PMK.03/2014, 16 Apr 2014 Mencabut KMK-355/KMK.03/2003

    D-18

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-28/PJ/2012 TENTANG TEMPAT PENDAFTARAN DAN/ATAU TEMPAT PELAPORAN USAHA BAGI WAJIB PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB PAJAK BESAR, KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS, DAN KANTOR PELAYANAN PAJAK MADYA PER-13/PJ/2014, 11 Apr 2014

    B-02

    PETUNJUK PELAKSANAAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN

    B-19

  • xix

    PAJAK ATAU SURAT TAGIHAN PAJAK SE-17/PJ/2014, 07 Apr 2014 TATA CARA PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK SECARA JABATAN ATAS PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TAHUN 2014 PER-12/PJ/2014, 02 Apr 2014

    B-02

    TATA CARA PERTUKARAN INFORMASI (EXCHANGE OF INFORMATION) PMK-60/PMK.03/2014, 27 Mar 2014

    PENGECUALIAN PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA ATAS KETERLAMBATAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI SECARA E-FILING KEP-62/PJ/2014, 25 Mar 2014

    B-06, B-13

    BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PER-11/PJ/2014, 21 Mar 2014

    TATA CARA PERMOHONAN DAN PENETAPAN ATAS SAAT MULAINYA PENYUSUTAN HARTA BERWUJUD YANG DAPAT DILAKUKAN PADA BULAN DIGUNAKAN ATAU BULAN MULAI MENGHASILKAN PER-10/PJ/2014, 21 Mar 2014

    C-07

    RENCANA DAN STRATEGI PEMERIKSAAN TAHUN 2014 SE-15/PJ/2014, 21 Mar 2014

    PENGAWASAN TERHADAP PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH/KUASA BENDAHARA UMUM DAERAH PER-08/PJ/2014, 21 Mar 2014

    F-01-01

    RALAT SE-09/PJ/2014 TENTANG PELAYANAN SEHUBUNGAN DENGAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN (SPT TAHUNAN PPh) SE-13/PJ/2014, 17 Mar 2014

    TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU SE-12/PJ/2014, 13 Mar 2014

    B-17

    TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU 1770SS SECARA e-FILING DAN MERUPAKAN PEGAWAI TETAP PADA PEMBERI KERJA TERTENTU PER-06/PJ/2014, 13 Mar 2014

    B-13

    PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KEBERATAN PAJAK PENGHASILAN, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SE-11/PJ/2014, 10 Mar 2014 Mencabut SE-122/PJ/2010

    B-19

    PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-04/PJ/2012 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN METODE DAN TEKNIK PEMERIKSAAN UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN PER-07/PJ/2014, 10 Mar 2014

    KEWENANGAN AKSES DATA PERPAJAKAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SE-10/PJ/2014, 25 Feb 2014

    PENETAPAN NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK PERMUKAAN BUMI OFFSHORE, NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK TUBUH BUMI EKSPLORASI, ANGKA KAPITALISASI, HARGA UAP, DAN HARGA LISTRIK, UNTUK PENENTUAN BESARNYA NILAI JUAL OBYEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN KEP-33/PJ/2014, 22 Feb 2014

    PELAYANAN SEHUBUNGAN DENGAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN (SPT TAHUNAN PPh) SE-09/PJ/2014, 17 Feb 2014

  • xx

    SAAT PENGHITUNGAN DAN TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI PAJAK MASUKAN YANG TELAH DIKREDITKAN DAN TELAH DIBERIKAN PENGEMBALIAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MENGALAMI KEADAAN GAGAL BERPRODUKSI PMK- 31/PMK.03/2014, 10 Feb 2014

    D-15

    PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN EMAS PERHIASAN PMK- 30/PMK.03/2014, 10 Feb 2014

    D-07

    PENYESUAIAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PMK-23/PMK.03/2014, 03 Feb 2014 mencabut PMK-67/PMK.03/2011

    PENCABUTAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-272/PJ/2002 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGAMATAN, PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN, DAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN PER-04/PJ/2014, 3 Feb 2014

    PETUNJUK PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN SE-06/PJ/2014, 3 Feb 2014

    PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-40/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU PER-03/PJ/2014, 3 Feb 2014

    B-17

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 78/PMK.03/2010 TENTANG PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MELAKUKAN PENYERAHAN YANG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YANG TIDAK TERUTANG PAJAK PMK-21/PMK.011/2014, 30 Jan 2014

    D-12

    PETUNJUK KEGIATAN EKSTENSIFIKASI, PENDATAAN, DAN PENILAIAN TAHUN 2014 SE-05/PJ/2014, 29 Jan 2014

    TATA CARA PENGELOLAAN PENGADUAN PELAYANAN PERPAJAKAN SE-04/PJ/2014, 21 Jan 2014

    TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN PELAYANAN PERPAJAKAN PER-02/PJ/2014, 21 Jan 2014

    PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU 1770SS SECARA e-FILING MELALUI WEBSITE DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (www.pajak.go.id) SE-1/PJ/2014, 6 Jan 2014

    B-13

    TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU 1770SS SECARA e-FILING MELALUI WEBSITE DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (www.pajak.go.id) PER-1/PJ/2014, 6 Jan 2014

    B-13

    Thn 2013:

    Perihal, Nomor, dan Tanggal Peraturan Referensi PEDOMAN PENGGUNAAN METODE DAN TEKNIK PEMERIKSAAN SE-65/PJ/2013, 31 Des 2013

    TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PEMBERIAN IMBALAN BUNGA PMK-226/PMK.03/2013, 31 Des 2013

    B-20

    TATA CARA PENATAUSAHAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI SE-64/PJ/2013, 31 Des 2013

  • xxi

    mencabut SE-21/PJ/2012 PENEGASAN KETENTUAN PERPAJAKAN ATAS TRANSAKSI E-COMMERCE SE-62/PJ/2013, 27 Des 2013

    F-05

    KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK SE-61/PJ/2013, 24 Des 2013 Penggabungan kode utk PPh Badan & PPh Pasal 26 Ayat (4) Minyak Bumi dan Gas Bumi, Penambahan kode utk PPN KMS (STP), Pajak Penjualan Batubara, dan Bea Materai

    B-07

    PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-20/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-38/PJ/2013 SE-60/PJ/2013, 24 Des 2013

    B-02

    PEMBERITAHUAN BERLAKUNYA PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B) ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK SURINAME SE-59/PJ/2013, 23 Des 2013

    C-20

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 68/PMK.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PMK-197/PMK.03/2013, 20 Des 2013

    B-02

    TATA CARA PENGENAAN PBB SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI PER-45/PJ/2013 , 20 Des 2013

    PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG DAN KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN USAHA DI BIDANG LAIN PMK-175/PMK.011/2013, 05 Des 2013

    C-13

    TATA CARA PEMBERIAN SURAT KETERANGAN FISKAL DALAM RANGKA PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA UNTUK KEPERLUAN INSTANSI PEMERINTAH PER-44/PJ/2013, 5 Des 2013

    B-26

    BENTUK DAN ISI SURAT SETORAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PER-43/PJ/2013, 5 Des 2013

    B-07

    TATA CARA PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN, PENETAPAN REALISASI PENANAMAN MODAL, PENYAMPAIAN KEWAJIBAN PELAPORAN, DAN PENCABUTAN KEPUTUSAN PERSETUJUAN PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK WAJIB PAJAK YANG MELAKUKAN PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU PER-41/PJ/2013, 27 Nov 2013

    PENGAWASAN PENGUSAHA KENA PAJAK PER-40/PJ/2013, 26 Nov 2013

    D-16

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-20/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK, PELAPORAN USAHA DAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK PER-38/PJ/2013, 8 Nov 2013

    B-02

    PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK.011/2013 TENTANG BUKU-BUKU PELAJARAN UMUM, KITAB SUCI, DAN BUKU-BUKU PELAJARAN AGAMA YANG ATAS IMPOR DAN/ATAU PENYERAHANNYA DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI SE-58/PJ/2013, 26 Nov 2013

    D-18

  • xxii

    PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 130/PMK.011/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 121/PMK.011/2013 TENTANG JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SE-57/PJ/2013, 26 Nov 2013

    D-17

    TATA CARA PEMBUATAN DAN TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK PMK-151/PMK.011/2013, 11 Nov 2013

    D-05

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG DAN KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN USAHA DI BIDANG LAIN PMK-146/PMK.011/2013, 4 Nov 2013

    C-13

    TATA CARA PENYETORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI ANJUNGAN TUNAI MANDIRI PER-37/PJ/2013, 30 Okt 2013

    C-21

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-47/PJ/2008 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN DAN PENYAMPAIAN PEMBERITAHUAN PERPANJANGAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN SECARA ELEKTRONIK (e-FILING) MELALUI PERUSAHAAN PENYEDIA JASA APLIKASI (ASP) PER-36/PJ/2013, 30 Okt 2013

    B-13

    TATA CARA EKSTENSIFIKASI PER-35/PJ/2013, 24 Okt 2013 mencabut PER-175/PJ./2006, PER-116/PJ./2007, PER-16/PJ./2007

    PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-35/PJ/2013 TENTANG TATA CARA EKSTENSIFIKASI SE-51/PJ/2013, 24 Okt 2013

    PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN TERHADAP WAJIB PAJAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA SE-50/PJ/2013, 24 Okt 2013

    PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN SE-49/PJ/2013, 24 Okt 2013

    PEJABAT YANG BERWENANG MENANDATANGANI SURAT KETERANGAN DOMISILI BAGI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI AMERIKA SERIKAT (FORM 6166) SE-48/PJ/2013, 22 Okt 2013

    C-19

    TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI (REIMBURSEMENT) PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PEROLEHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK KEPADA PENGUSAHA PANAS BUMI UNTUK PEMBANGKITAN ENERGI/LISTRIK PMK-142/PMK.02/2013, 18 Okt 2013

    PENEGASAN PETUNJUK PENGISIAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK OFFSHORE PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI SE-46/PJ/2013, 30 Sept 2013

    TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU PER-32/PJ/2013, 25 Sept 2013

    C-21, C-25

  • xxiii

    PROSEDUR PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN PEMUSATAN TEMPAT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG DALAM RANGKA PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR NOMOR PER-28/PJ/2012 SE-45/PJ/2013, 19 Sept 2013

    B-02

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 121/PMK.011/2013 TENTANG JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PMK-130/PMK.011/2013, 18 Sept 2013

    D-17

    PEDOMAN TEKNIS SENSUS PAJAK NASIONAL PER -31/PJ/2013, 17 Sept 2013

    TATA CARA PELAKSANAAN PENGURANGAN BESARNYA PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 29 TAHUN 2013 BAGI WAJIB PAJAK INDUSTRI TERTENTU PER-30/PJ/2013, 11 Sept 2013

    C-25

    PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU SE-42/PJ/2013, 2 Sept 2013

    C-10, C-21

    PENETAPAN STANDAR PELAYANAN PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK KEP-378/PJ/2013, 29 Agust 2013

    PENGURANGAN BESARNYA PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 29 TAHUN 2013 BAGI WAJIB PAJAK INDUSTRI TERTENTU PMK-124/PMK.011/2013, 27 Agust 2013

    BUKU-BUKU PELAJARAN UMUM, KITAB SUCI, DAN BUKU-BUKU PELAJARAN AGAMA YANG ATAS IMPOR DAN/ATAU PENYERAHANNYA DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PMK-122/PMK.011/2013, 27 Agust 2013

    D-18

    JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PMK-121/PMK.011/2013, 26 Agust 2013

    D-17

    PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 147/PMK.04/2011 TENTANG KAWASAN BERIKAT PMK-120/PMK.04/2013, 26 Agust 2013

    D-11, D-18

    TATA CARA PENGEMBALIAN DAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI KEPADA ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR NEGERI SE-39/PJ/2013, 2 Agust 2013

    D-13

    TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK ROKOK PMK-115/PMK.07/2013, 1 Agust 2013

    PAJAK PENGHASILAN DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS BUNGA ATAU IMBALAN SURAT BERHARGA NEGARA YANG DITERBITKAN DI PASAR INTERNASIONAL DAN PENGHASILAN PIHAK KETIGA ATAS JASA YANG DIBERIKAN KEPADA PEMERINTAH DALAM PENERBITAN DAN/ATAU PEMBELIAN KEMBALI/PENUKARAN SURAT BERHARGA NEGARA DI PASAR INTERNASIONAL TAHUN ANGGARAN 2013 PMK-112/PMK .011/2013, 1 Agust 2013

    TATA CARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU PMK-107/PMK.011/2013, 30 Juli 2013

    C-10, C-21

    TATA CARA PENDAFTARAN DAN KEWAJIBAN PENGUSAHA KENA PAJAK TOKO RETAIL SERTA PENGELOLAAN ADMINISTRASI PENGEMBALIAN PAJAK

    D-13

  • xxiv

    PERTAMBAHAN NILAI KEPADA ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR NEGERI PER-28/PJ/2013, 25 Juli 2013 PENGHITUNGAN ANGSURAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN BAGI WAJIB PAJAK YANG MENJALANKAN USAHA DI BIDANG PERTAMBANGAN MINERAL ATAU BATUBARA DALAM RANGKA KONTRAK BAGI HASIL, KONTRAK KARYA, ATAU PERJANJIAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN SE-36/PJ/2013, 25 Juli 2013

    PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA PENGURUSAN TRANSPORTASI (FREIGHT FORWARDING) YANG DI DALAM TAGIHANNYA TERDAPAT BIAYA TRANSPORTASI (FREIGHT CHARGES) SE-33/PJ/2013, 12 Juli 2013

    D-07

    PELAKSANA PEMBUBUHAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN PER-27/PJ/2013, 12 Juli 2013

    E-02

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 76/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMINTAAN KEMBALI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG BAWAAN ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR NEGERI PMK-100/PMK.03/2013, 5 Juli 2013

    D-13

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-34/PJ/2010 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DAN WAJIB PAJAK BADAN BESERTA PETUNJUK PENGISIANNYA PER-26/PJ/2013, 5 Juli 2013

    B-11

    PELAPORAN PEMUNGUTAN PPN DAN PPNBM ATAS PENYERAHAN KENDARAAN BERMOTOR SE-31/PJ/2013, 5 Juli 2013

    TEMPAT PENDAFTARAN DAN/ATAU TEMPAT PELAPORAN USAHA BAGI WAJIB PAJAK SEBAGAI PENGUSAHA YANG DIKENAI PAJAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 DAN PERUBAHANNYA YANG MELAKUKAN USAHA DI BIDANG PENGALIHAN TANAH DAN/ ATAU BANGUNAN PER-25/PJ/2013, 3 Juli 2013

    B-02

    PELAKSANAAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERSIFAT FINAL ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/AT AU BANGUNAN YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG USAHA POKOKNYA MELAKUKAN PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/AT AU BANGUNAN DAN PENENTUAN JUMLAH BRUTO NILAI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN OLEH WAJIB PAJAK YANG MELAKUKAN PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN SE-30/PJ/2013, 3 Juli 2013

    C-10

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-38/PJ/2009 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK PER-24/PJ/2013, 2 Juli 2013

    B-07

    PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU PP 46 TAHUN 2013, 12 Juni 2013

    C-10, C-21

    STANDAR PEMERIKSAAN PER-23/PJ/2013, 11 Juni 2013

    B-22

    KEBIJAKAN PEMERIKSAAN SE-28/PJ/2013, 11 Juni 2013

    B-22

    PEDOMAN PEMERIKSAAN TERHADAP WAJIB PAJAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA PER-22/PJ/2013, 30 Mei 2013

    C-08

    TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK, B-02

  • xxv

    PELAPORAN USAHA DAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK PER-20/PJ/2013, 30 Mei 2013 PENCABUTAN BEBERAPA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TERKAIT DENGAN PENERBITAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN DI BIDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN PER-19/PJ/2013, 30 Mei 2013

    B-16, B-17, B-19, C-19

    PEDOMAN e-AUDIT SE-25/PJ/2013, 30 Mei 2013

    BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH BERUPA KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PP 41 TAHUN 2013, 23 Mei 2013

    D-17

    PERSYARATAN PEMBERIAN KODE AKTIVASI DAN NOMOR SERI FAKTUR PAJAK MELALUI APLIKASI ENOFA S-840/PJ.10/2013, 17 Mei 2013

    D-05

    PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-5/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENELITIAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG BAGI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI PER-18/PJ/2013, 8 Mei 2013

    B-16

    KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK SE-24/PJ/2013, 24 Apr 2013 Penambahan kode utk PPh Badan Minyak Bumi, PPh Badan Gas Bumi, PPh Pasal 26 Ayat (4) Minyak Bumi, dan PPh Pasal 26 Ayat (4) Gas Bumi

    B-07

    BENTUK, ISI, TATA CARA PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26 SERTA BENTUK BUKTI PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26 PER-14/PJ/2013, 18 Apr 2013

    B-09

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-44/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) PER-11/PJ/2013, 12 Apr 2013

    B-10

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-45/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MENGGUNAKAN PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN PER-10/PJ/2013, 12 Apr 2013

    B-10

    PERUBAHAN ATAS SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-53/PJ/2012 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG BATASAN DAN TATA CARA PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI SE-22/PJ/2013, 12 April 2013 Mengubah ketentuan bagian B angka 4 dari SE-53/PJ/2012

    D-09

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2013 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN PMK-79/PMK.03/2013, 11 Apr 2013

    PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 231/KMK.03/2001 TENTANG PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS IMPOR BARANG KENA PAJAK YANG DIBEBASKAN DARI PUNGUTAN BEA MASUK

    D-18

  • xxvi

    PMK-70/PMK.011/2013, 2 Apr 2013 PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-24/PJ/2012 TENTANG BENTUK, UKURAN, TATA CARA PENGISIAN KETERANGAN, PROSEDUR PEMBERITAHUAN DALAM RANGKA PEMBUATAN, TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN, DAN TATA CARA PEMBATALAN FAKTUR PAJAK PER-08/PJ/2013, 27 Mar 2013

    D-05

    PEMERIKSAAN ATAS SPT TAHUNAN PPh RUGI DAN SPT MASA PPN LEBIH BAYAR KOMPENSASI YANG DALUWARSA PENETAPAN PADA TAHUN 2013 SE-12/PJ/2013, 26 Mar 2013

    MEKANISME PENGAWASAN TERHADAP PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH/KUASA BENDAHARA UMUM DAERAH PMK-64/PMK.05/2013, 15 Mar 2013

    F-01

    PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-57/PJ/2010 TENTANG TATA CARA DAN PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG DAN KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN USAHA DI BIDANG LAIN PER-06/PJ/2013, 7 Mar 2013

    C-13, C-25

    KEWAJIBAN PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN YANG TERUTANG KEPADA PIHAK LAIN OLEH PERUSAHAAN YANG TERIKAT DENGAN KONTRAK BAGI HASIL, KONTRAK KARYA, ATAU PERJANJIAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN PMK-39/PMK.011/2013, 27 Feb 2013

    NILAI LAIN SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK PMK-38/PMK.011/2013, 27 Feb 2013

    D-07

    PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 75/PMK.03/2010 TENTANG KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA WAJIB PAJAK SE-03/PJ/2013, 5 Feb 2013

    B-04

    TATA CARA PEMERIKSAAN PMK-17/PMK.03/2013, 7 Jan 2013

    B-22

    RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN PMK-16/PMK.03/2013, 6 Jan 2013 mengatur ttg kewajiban instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain memberikan data dan informasi yg berkaitan dengan perpajakan kpd DJP

    TATA CARA PEMBETULAN PMK-11/PMK.03/2013, 2 Jan 2013

    B-19

    TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG PMK-10/PMK.03/2013, 2 Jan 2013

    B-16

    TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PMK-9/PMK.03/2013, 2 Jan 2013

    B-19

    TATA CARA PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN PAJAK ATAU SURAT TAGIHAN PAJAK PMK-8/PMK.03/2013, 2 Jan 2013

    B-19

  • BAGIAN A

    PENDAHULUAN

  • A011

    PENGANTAR HUKUM PAJAK

    Dasar Hukum: Pasal 23A UUD 1945 Amandemen IV: Pajak dan pungutan lain yg bersifat memaksa utk keperluan negara diatur dgn UU. Definisi: Pajak: Kontribusi wajib kpd negara yg terutang oleh OP atau badan yg bersifat memaksa

    berdasarkan UU, dgn tdk mendapatkan imbalan scr lsg dan digunakan utk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (Pasal 1 Angka 1 UU KUP)

    WP: OP atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yg mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan. (Pasal 1 Angka 2 UU KUP)

    NPWP: Nomor yg diberikan kpd WP sbg sarana dlm administrasi perpajakan yg dipergunakan sbg tanda pengenal diri atau identitas WP dlm melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. (Pasal 1 Angka 6 UU KUP)

    Fungsi Pajak: 1. Fungsi Utama:

    Fungsi Anggaran (Budgetair) Sbg sumber dana yg diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran pemerintah baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.

    Fungsi Mengatur (Regularend) Sbg alat utk mengatur atau melaksanakan berbagai kebijakan pemerintah.

    2. Fungsi Tambahan: Fungsi Redistribusi menekankan unsur pemerataan dan keadilan dlm masyarakat, dpt

    dilakukan pemerintah dari si kaya kpd si miskin, dari daerah surplus ke daerah minus, dari kota ke desa, dsb.

    Fungsi Demokrasi Salah satu penjelmaan/wujud sistem gotong royong termasuk partisipasi masyaratkat di dlm kegiatan pemerintahan dan pembangunan, sering dikaitkan dgn tingkat pelayanan pemerintah kpd masyarakat, khususnya pembayar pajak.

    Jenis-jenis Pajak: 1. Mnr Sifatnya:

    a. Pajak Lsg Pajak yg pembebanannya tdk dpt dilimpahkan oleh pihak lain dan menjadi beban lsg WP yg bersangkutan. Contoh: PPh.

    b. Pajak Tdk Lsg Pajak yg pembebanannya dpt dilimpahkan oleh pihak lain. Contoh: PPN, PPnBM.

    2. Mnr Sasaran/Objeknya: a. Pajak Subjektif

    Pajak yg berpangkal/berdasarkan pd subjeknya yg selanjutnya dicari syrat objektifnya, dlm arti memperhatikan keadaan diri WP. Contoh: PPh.

    b. Pajak Objektif Pajak yg berpangkal/berdasarkan pd objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri WP. Contoh: PPN, PPnBM, PBB, Bea Meterai.

    3. Mnr Pemungutnya: a. Pajak Pusat

    Pajak yg dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan utk membiayai rumah tangga pemerintah pusat. Contoh: PPh, PPN, PPnBM, Bea Meterai.

    b. Pajak Daerah Pajak yg dipungut oleh pemda dan digunakan utk membiayai rumah tangga pemda. Contoh: Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Kendaraan Bermotor, PBB Pedesaan dan Perkotaan, BPHTB.

  • A012

    Sistem Pemungutan Pajak: 1. Official Assessment System

    Suatu sistem pajak yg memberi wewenang kpd pemerintah utk menentukan besarnya pajak yg terutang.

    2. Self Assessment System Suatu sistem pemungutan pajak yg memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kpd WP utk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yg terutang dan hrs dibayar.

    3. Witholding Assessment System Suatu sistem pemungutan pajak yg memberi wewenang kpd pihak ketiga utk memotong/memungut besarnya pajak yg terutang oleh WP. Pajak yg dipotong/dipungut oleh pihak lain ini, nanti dpt menjadi kredit pajak atau mrp pelunasan atas pajak terutang.

    Tarif Pajak: 1. Tarif Proporsional/Sebanding

    Tarif pajak berupa prosentase tetap thd jml brp pun yg menjadi DPP. Sering juga disebut dgn Tarif Tunggal krn hanya menggunakan 1 tarif dgn prosentase tetap. Contoh: Tarif PPN 10%, PBB 0,5%, Pph badan 28% (thn pjak 2009) atau 25% (thn pajak 2010 dan seterusnya).

    2. Tarif Progresif Tarif pajak yg prosentase nya menjadi lbh besar apabila jml yg menjadi DPP-nya semakin besar. Contoh: Tarif utk WP Badan dan UT (tahun pajak 2001 s.d. 2008): Lapisan s.d. Rp 50 juta, tarifnya 10% Lapisan di atas Rp 50 juta s.d. Rp 100 juta, tarifnya 15% Lapisan di atas Rp 100 juta, tarifnya 30%

    3. Tarif Degresif Tarif pajak yg prosentase nya menjadi lbh kecil apabila jml yg menjadi DPP-nya semakin besar.

    4. Tarif Tetap Tarif pajak yg berupa jml yg tetap thd brp pun jml yg menjadi DPP. Contoh: Tarif Bea Meterai dgn struktur tarif Rp 3 ribu dan Rp 6 ribu.

    5. Tarif Advalorem Tarif pajak dgn prosentase tertentu atas hrg barang atau nilai suatu barang. Contoh: Tarif Bea Masuk seb 10% dari nilai Cost Insurance Freigt (CIF) dlm transaksi impor.

    6. Tarif Pajak Spesifik Tarif pajak dgn jml tertentu atau suatu jenis/satuan jenis barang tertentu. Contoh: Tarif Bea Masuk yg besar Rupiahnya ditetapkan atas suatu barang yg diimpor.

    Asas Pemungutan Pajak: Pungutan pajak hendaknya didasarkan pd asas yg dikemukakan Adam Smith dlm buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations: 1. Equality

    Pemungutan pajak hrs bersifat adil dan merata.WP yg berada dlm kondisi yg sama hrs dikenai pajak yg sama besar. Asas keadilan dlm perinsip perpu perjakan maupun dlm hal pelaksanannya hrs dipegang teguh walaupun keadilan itu sangat relatif.

    2. Certainty Penetapan pajak tdk ditentukan sewenang-wenang. Hrs dpt diketahui scr jelas dan pasti pajak yg terutang, kapan hrs dibayar, serta batas waktu pembayaran shg memiliki kepastian hukum yg tinggi.

    3. Convenience Saat membayar pajak sebaknya sesuai dgn saat yg tdk menyulitkan WP. Contoh pd saat WP baru saja memperoleh penghasilan. Disebut juga dgn Pay As You Earn (PAYE).

    4. Economical Biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi WP diharapkan seminimum mungkin. Pajak yg dipungut hs lbh besar dari biaya pemungutan pajak.

    Dasar Teori Pemungutan Pajak: Teori-teori yg menjadi dasar bagi negara utk memungut pajak, a.l.: 1. Teori Asuransi

    Teori ini menyamakan pembayaran premi asuransi dgn pembayaran pajak. Masyarakat seakan mempertanggungkan keselamatan dan kemanan jiwanya kpd negara shg masyarakat hrs membayar

  • A013

    premi kpd negara. Pd kenyataannya menyamakan pajak dgn premi tdk tepat, krn jika masyarakat mengalami kerugian, negara tdk dpt memberikan penggantian layaknya perusahaan asuransi.

    2. Teori Kepentingan Teori ini diartikan bahwa negara yg melindungi kepentingan harta dan jiwa warga negara dgn memperhatikan pembagian beban yg hrs dipungut dari masyarakat. Pembebanan ini didasarkan pd kepentingan setiap orang termasuk perlindungan jiwa dan hartanya. Oleh krn itu, pengeluaran negara utk melindungintya dibebankan kpd masyarakat. Warga negara yg memiliki harta lbh banyak akan membayar pajak yg lbh besar, dan sebaliknya yg memiliki harta lbh sedikit akan membayar pajak lbh kecil utk melindungi kepentingannya.

    3. Teori Daya Pikul Teori ini berpangkal dari asas keadilan yaitu setiap orang dikenakan pajak dgn bobot sama. Pajak yg dibayar adalah mnr daya pikul dgn ukuran besarnya penghasilan dan pengeluaran seseorang. Kekuatan (daya pikul) utk membayar pajak baru ada stl terpenuhinya kebutuhan primer seseorang. Teori ini lbh menekankan unsur kemampuan seseorang dan rasa keadilan.

    4. Teori Bakti Teori ini mendasarkan bahwa negara mempunyai hak mutlak utk memungut pajak. Di lain pihak, masyarakat menyadari bahwa membayar pajak sbg suatu kewajiban utk membuktikan tanda baktinya thd negara krn negaralah yg bertugas menyelenggarakan kepentingan masyarakatnya. Dgn demikian dasar hukum pajak terletak pd hubungan masyarakat dgn negara. Teori ini disebut juga dgn teori kewajiban pajak mutlak.

    5. Teori Daya Beli Pembayaran pajak dimaksudkan utk memelihara masyarakatnya. Pembayaran pajak yg dilakukan kpd negara lbh ditekankan pd fungsi mengatur dari pajak agar masyarakat tetap eksis. Teori ini mendasarkan pd penyelenggaraan kepentingan masyarakat yg dianggap sbg dasar keadilan pemungutan pajak, bukan kepentingan individu/nagara, shg pajak lbh menitikberatkan pd fungsi mengatur. Dlm teori ini kemaslahatan masyarakat akan tetap terjamin dgn pembayaran pajak.

    Pembagian Hukum Pajak: Hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiskus) selaku pemungut pajak dgn WP. 1. Hukum Pajak Formal

    Memuat bentuk/tata cara utk mewujudkan hukum material menjadi kenyataan, meliputi: UU KUP, UU Penagihan Pajak dgn Surat Paksa, UU Pengadilan Pajak.

    2. Hukum Pajak Material Memuat norma-norma yg menerangkan keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yg dikenakan (objek pajak), siapa yg dikenakan pajak (subjek pajak), berapa besar pajak yg dikenakan, segala sesuatu yg timbul dan hapusnya pajak, dan hubungan hukum antara pemerintahan dan WP, meliputi: UU PPh, UU PPN dan PPnBM, UU PBB, UU BPHTB, UU Bea Meterai.

    Penafsiran dlm Hukum Pajak: 1. Penafsiran Autentik

    Penafsiran ketentuan dlm UU dgn melihat hal-hal yg tlh dijelaskan dlm UU tsb. Dlm suatu UU umumnya terdapat pasal mengenai ketentuan umum atau definisi-definisi, shg sering disebut terminologi mrp penafsiran autentik. Penafsiran ini memiliki kekuatan hukum tertinggi. Penjelasan suatu pasal yg dimuat dlm tambahan lembaran negara bukanlah mrp penafsiran autentik.

    2. Penafsiran Sistematik Penafsiran ketentuan tertentu dgn mengkaitkannya dgn ketentuan (pasal-pasal) lain dlm UU tsb atau dari UU lainnya. Ketentuan yg tdk jelas dpt dsiketahui dgn melihat/mengkaitkan dgn pasal lainnya. Dlm proses pembuatan sebuah UU selalu ada kesatuan konsep dan pemikiran serta dilakukan sinkronisasi dgn UU lain sbl diundankan oleh pemerintah.

    3. Penafsiran Historis Penafsiran UU dgn melihat sejarah dibuatnya UU tsb. Penafsiran ini dpt diketahui dari dokumen pd waktu proses dibuatnya UU. Dgn penafisran ini dpt diketahui maksud penyusun UU.

    4. Penafsiran Sosiologis Penafsiran atas ketentuan UU yg disesuaikan dgn kehidupan masyrakat yg selalu berkembang. Krn itu perlu penyesuaian antara UU dgn perkembangan kehidupan masyarakat.

    5. Penafsiran Tata Bahasa (Gramatikal) Penafsiran ketentuan dlm UU berdasarkan bunyi kata-kata scr keseluruhan dlm kalimat-kalimat yg disusun. Penfsiran ini mrp penafsiran yg kurang memperhatikan aturan lainnya, tetapi semata-mata

  • A014

    melihat bunyi atau redaksi pasal yg bersangkutan. Scr tata bahasa, sutau ketentuan UU hrs memberikan kepastian hukum, yaitu apabila kata-kata dlm kalimat suatu pasal tlh jelas maksudnya.

    6. Penafsiran Analogis Penfsiran ketentuan dgn cara memberi kiasan pd kata-kata yg tercantum dlm UU atau suatu model yg sejenis yg diatur di dlm ketentuan lain, shg suatu peristiwa yg sesungguhnya tdk termasuk dlm ketentuan menjadi termasuk berdasarkan analogi yg dibuat. Penafsiran ini dlm hukum pajak tdk diperbolehkan krn akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

    7. Penafsiran A Contrario Penafsiran ketentuan UU berdasarkan pd perlawanan pengertian (kebalikan) antara masalah yg dihadapi dan masalah yg diatur dlm UU. Diambil sutau kesimpulan bhawa atas masalah yg dihadapi yg tdk diatur dlm UU berada di luar ketentuan (tdk diatur). Penafsiran ini dlm hukum pajak tdk diperbolehkan krn akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

    Perlawanan Thd Pajak: 1. Perlawanan Pasif

    Perlawanan yg inisiatifnya bukan dari WP itu sendiri tetapi terjadi krn keadaan yg ada di sekitar WP itu. Hambatan-hambatan tsb biasanya terkait dgn struktur ekonomi suatu negara, perkembangan intelektual dan moral warga negara, dan sistem pemungutan pajak itu sendiri.

    2. Perlawanan Aktif Scr nyata terlihat pd semua usaha dan perbuatan yg scr lsg ditujukan kpd pemerintah (fiskus) dgn tujuan utk menghindari pajak. a. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

    Suatu skema transaksi yg ditujukan utk meminimalkan beban pajak dgn tdk melanggar ketentuan perpajakan shg skema tsb diartikan sbg kegiatan yg lega). 1) Menahan diri WP tdk melakuana sesuatu yg dpt dikenai pajak. Contoh: Tdk merokok agar

    terhindar dari cukai tembakau. 2) Pindah lokasi memindahkan lokasi usaha/ domisili yg tarif pajaknya tinggi ke lokasi yg

    tarif pajaknya rendah. Contoh: Diberikan keringanan bagi investor yg ingin menanamkan modalnya di wilayah Indonesia Timur.

    3) Penghindaran pajak scr yuridis biasanya dilakukan dgn memanfaatkan kekosongan atau ketidakjelasan UU (loopholes).

    b. Pengelakan atau Penyelundupan Pajak (Tax Evasion) Suatu skema memperkecil pajak yg terutang dgn cara melanggar ketentuan perpajakan (illegal) yg dpt dihukum dgn sanksi pidana. Contoh: Tdk melaporkan sebagian penjualan, Memperbesar biaya dgn cara fiktif.

    c. Melalaikan Pajak Dilakukan dgn cara menolak membayar pajak yg tlh diitetapkan dan menolak memenuhi formalitas yg hrs dipenuhi, shg termasuk sbg pelanggaran thd ketentuan perpajakan.

  • A021

    UU PERPAJAKAN 1. UU 6 Thn 1983 ttg Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan jo UU 9 Thn 1994 jo UU 16 Thn

    2000 jo UU 28 Thn 2007 jo UU 16 Thn 2009 UU KUP Aturan Pelaksanaan: PP 74 Thn 2011

    2. UU 7 Thn 1983 ttg Pajak Penghasilan jo UU 7 Thn 1991 jo UU 10 Thn 1994 jo UU 17 Thn 2000 jo

    UU 36 Thn 2008 UU PPh Aturan Pelaksanaan: PP 94 Thn 2010

    3. UU 8 Thn 1983 ttg Pajak Pertambahan Nilai Brg dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang

    Mewah jo UU 11 Thn 1994 jo UU 18 Thn 2000 jo UU 42 Thn 2009 UU PPN Aturan Pelaksanaan: PP 1 Thn 2012

    4. UU 12 Thn 1985 ttg Pajak Bumi dan Bangunan jo UU 12 Thn 1994 UU PBB 5. UU 13 Thn 1985 ttg Bea Meterai 6. UU 19 Thn 1997 ttg Penagihan Pajak dgn Surat Paksa jo UU 19 Thn 2000 UU PPSP 7. UU 14 Thn 2002 ttg Pengadilan Pajak 8. UU 28 Thn 2009 ttg Pajak Daerah dan Retribusi Daerah UU PDRD

    9. UU 21 Thn 1997 ttg Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan jo UU 20 Thn 2000 UU

    BPHTB

  • A031

    JENIS PAJAK A. PAJAK PUSAT

    Pajak yg dipungut dan dikelola oleh Pempus (DJP):

    1. PPh Pajak yg dikenakan kpd OP atau badan atas penghasilan yg diterima atau diperoleh dlm suatu Thn Pajak. Penghasilan itu dpt berupa keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain sebagainya.

    2. PPN

    Pajak yg dikenakan atas konsumsi BKP atau JKP di dlm Daerah Pabean (dlm wilayah Indonesia). OP, perusahaan, maupun pemerintah yg mengkonsumsi BKP atau JKP dikenakan PPN. Pd dasarnya, setiap brg dan jasa adalah BKP atau JKP, kecuali ditentukan lain oleh UU PPN.

    3. PPnBM

    Selain dikenakan PPN, atas pengkonsumsian BKP tertentu yg tergolong mewah, juga dikenakan PPnBM.

    4. Bea Meterai

    Pajak yg dikenakan atas pemanfaatan dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, serta kwitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yg memuat jml uang atau nominal di atas jml tertentu sesuai dgn ketentuan.

    5. PBB Perkebunan, Perhutanan, Pertambangan

    Pajak yg dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB mrp Pajak Pusat namun demikian hampir slr realisasi penerimaan PBB diserahkan kpd Pemda baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

    Mulai 1 Jan 2010, PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah sepanjang Perda ttg PBB yg terkait dgn Perdesaan dan Perkotaan tlh diterbitkan. Apabila dlm jangka waktu dari 1 Jan 2010 s.d. paling lambat 31 Des 2013 Perda blm diterbitkan, maka PBB Perdesaan dan Perkotaan tsb masih tetap dipungut oleh Pempus. Mulai 1 Jan 2014, PBB Perdesaan dan Perkotaan mrp pajak daerah. Utk PBB Perkebunan, Perhutanan, Pertambangan masih tetap mrp Pajak Pusat.

    B. PAJAK DAERAH

    Pajak-pajak yg dipungut oleh Pemda baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota:

    1. Pajak Provinsi

    a. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 12

    UU PDRD) Kendaraan bermotor: Semua kendaraan beroda beserta gandengannya yg digunakan di

    semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yg berfungsi utk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yg bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yg dlm operasinya menggunakan roda dan motor dan tdk melekat scr permanen serta kendaraan bermotor yg dioperasikan di air. (Pasal 1 angka 13 UU PDRD)

    Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor: (Pasal 3 ayat (3) UU PDRD) Kereta api; Kendaraan Bermotor yg semata-mata digunakan utk keperluan pertahanan dan

    keamanan negara; Kendaraan bermotor yg dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan

    negara asing dgn asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yg memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah; dan

  • A032

    Objek Pajak lainnya ygditetapkan dlm Perda. Tarif PKB ditetapkan dgn Perda: (Pasal 6 UU PDRD & penjelasan)

    Tarif PKB pribadi: 9 utk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah seb 1% dan paling

    tinggi seb 2%; 9 utk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif dpt ditetapkan

    scr progresif paling rendah seb 2% dan paling tinggi seb 10%. Pajak progresif utk kepemilikan kedua dan seterusnya dibedakan menjadi kendaraan roda kurang dari 4 dan kendaraan roda 4 atau lbh.

    Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yg sama. Tarif PKB angkutan umum, ambulans, pemadam kebakaran, sosial keagamaan,

    lembaga sosial dan keagamaan, Pemerintah/TNI/POLRI, Pemda, dan kendaraan lain yg ditetapkan dgn Perda, ditetapkan paling rendah seb 0,5% dan paling tinggi seb 1%.

    Tarif PKB alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling rendah seb 0,1% dan paling tinggi seb 0,2%.

    b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)

    Pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sbg akibat perjanjian 2 pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yg terjadi krn jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dlm badan usaha. (Pasal 1 angka 14 UU PDRD)

    Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor: (Pasal 9 ayat (3) UU PDRD) Kereta api; Kendaraan Bermotor yg semata-mata digunakan utk keperluan pertahanan dan

    keamanan negara; Kendaraan Bermotor yg dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan

    negara asing dgn asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yg memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah; dan

    Objek pajak lainnya yg ditetapkan dlm Perda. Termasuk penyerahan Kendaraan Bermotor adalah pemasukan Kendaraan Bermotor

    dari LN utk dipakai scr tetap di Indonesia, kecuali: (Pasal 9 ayat (6) & (7) UU PDRD) utk dipakai sendiri oleh OP yg bersangkutan; utk diperdagangkan; utk dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia; tdk berlaku apabila

    selama 3 thn berturut-turut tdk dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia digunakan utk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan olahraga bertaraf

    internasional. Tarif BBNKB ditetapkan dgn Perda: (Pasal 12 UU PDRD)

    Tarif BBNKB ditetapkan paling tinggi @: 9 penyerahan pertama seb 20%; dan 9 penyerahan kedua dan seterusnya seb 1%.

    Khusus utk Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yg tdk menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi @: 9 penyerahan pertama seb 0,75%; dan 9 penyerahan kedua dan seterusnya seb 0,075%.

    c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor (PBBKB) Pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 15 UU PDRD) Bahan Bakar Kendaraan Bermotor: Semua jenis bahan bakar cair atau gas yg digunakan

    utk kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 16 UU PDRD) Tarif: (Pasal 19 UU PDRD)

    Tarif PBBKB ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. Khusus tarif PBBKB utk bahan bakar kendaraan umum dpt ditetapkan paling sedikit

    50% lbh rendah dari tarif PBBKB utk kendaraan pribadi. Pemerintah dpt mengubah tarif PBBKB yg sdh ditetapkan dlm Perda dgn Peraturan

    Presiden. Kewenangan Pemerintah utk mengubah tarif PBBKB dilakukan dlm hal:

  • A033

    9 terjadi kenaikan harga minyak dunia melebihi 130% dari asumsi harga minyak dunia yg ditetapkan dlm UU ttg APBN thn berjalan; dlm hal harga minyak dunia sdh normal kembali, Peraturan Presiden tsb dicabut dlm jangka waktu paling lama 2 bulan.

    atau 9 diperlukan stabilisasi harga bahan bakar minyak utk jangka waktu paling lama 3

    tahun sejak ditetapkannya UU PDRD.

    d. Pajak Air Permukaan Pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan. (Pasal 1 angka 17 UU

    PDRD) Air Permukaan: Semua air yg terdapat pd permukaan tanah, tdk termasuk air laut, baik

    yg berada di laut maupun di darat. (Pasal 1 angka 18 UU PDRD) Dikecualikan dari objek Pajak Air Permukaan: (Pasal 21 ayat (2) UU PDRD)

    pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan utk keperluan dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, dgn tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan perpu; dan

    pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan lainnya yg ditetapkan dlm Perda. Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 24 UU

    PDRD)

    e. Pajak Rokok Pungutan atas cukai rokok yg dipungut oleh Pemerintah. (Pasal 1 angka 19 UU PDRD) Dikecualikan dari objek Pajak Rokok adalah rokok yg tdk dikenai cukai berdasarkan

    perpu di bidang cukai. (Pasal 26 ayat (3) UU PDRD) Tarif Pajak Rokok ditetapkan seb 10% dari cukai rokok. (Pasal 29 UU PDRD)

    2. Pajak Kabupaten/Kota

    a. Pajak Hotel Pajak atas pelayanan yg disediakan oleh hotel. (Pasal 1 angka 20 UU PDRD) Hotel: Fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya

    dgn dipungut bayaran, yg mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dgn jml kamar lbh dari 10. (Pasal 1 angka 21 UU PDRD)

    Objek: (Pasal 32 UU PDRD) Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yg disediakan oleh Hotel dgn pembayaran,

    termasuk jasa penunjang sbg kelengkapan Hotel yg sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan.

    Jasa penunjang: Fasilitas telepon, faksimile, teleks, internet, fotokopi, pelayanan cuci, seterika, transportasi, dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola Hotel.

    Tdk termasuk objek Pajak Hotel: 9 jasa tempat tinggal asrama yg diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemda; 9 jasa sewa apartemen, kondominium, dan sejenisnya; 9 jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan; 9 jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan,

    dan panti sosial lainnya yg sejenis; dan 9 jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yg diselenggarakan oleh Hotel yg dpt

    dimanfaatkan oleh umum. Tarif Pajak Hotel ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 35 UU PDRD)

    b. Pajak Restoran Pajak atas pelayanan yg disediakan oleh restoran. (Pasal 1 angka 22 UU PDRD) Restoran: Fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dgn dipungut bayaran, yg

    mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. (Pasal 1 angka 23 UU PDRD)

  • A034

    Objek: (Pasal 37 UU PDRD) Pelayanan yg disediakan Restoran meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau

    minuman yg dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun ditempat lain.

    Tdk termasuk objek Pajak Restoran adalah pelayanan yg disediakan oleh Restoran yang nilai penjualannya tdk melebihi batas tertentu yg ditetapkan dgn Perda.

    Tarif Pajak Restoran ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10% (Pasal 40 UU PDRD).

    c. Pajak Hiburan Pajak atas penyelenggaraan hiburan. (Pasal 1 angka 24 UU PDRD) Hiburan: Semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yg

    dinikmati dgn dipungut bayaran. (Pasal 1 angka 25 UU PDRD) Obyek: (Pasal 42 UU PDRD)

    Hiburan adalah: tontonan film; pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana;kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; pameran; diskotik, karaoke, klab malam, dan sejenisnya; sirkus, akrobat, dan sulap; permainan bilyar, golf, dan boling; pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center); dan pertandingan olahraga.

    Penyelenggaraan Hiburan di atas dpt dikecualikan dgn Perda. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan dgn Perda: (Pasal 45 UU PDRD)

    Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi seb 35%. Khusus utk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke,

    klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak Hiburan dpt ditetapkan paling tinggi seb 75%.

    Khusus Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi seb 10%.

    d. Pajak Reklame

    Pajak atas penyelenggaraan reklame. (Pasal 1 angka 26 UU PDRD) Reklame: Benda, alat, perbuatan, atau media yg bentuk dan corak ragamnya dirancang

    utk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau utk menarik perhatian umum thd barang, jasa, orang, atau badan, yg dpt dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum. (Pasal 1 angka 27 UU PDRD)

    Tdk termasuk sbg objek Pajak Reklame: (Pasal 47 ayat (3) UU PDRD) penyelenggaraan Reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta

    mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya; label/merek produk yg melekat pd barang yg diperdagangkan, yg berfungsi utk

    membedakan dari produk sejenis lainnya; nama pengenal usaha atau profesi yg dipasang melekat pd bangunan tempat usaha

    atau profesi diselenggarakan sesuai dgn ketentuan yg mengatur nama pengenal usaha atau profesi tsb;

    Reklame yg diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah; dan penyelenggaraan Reklame lainnya ng ditetapkan dgn Perda.

    Tarif Pajak Reklame ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 25%. (Pasal 50 UU PDRD) e. Pajak Penerangan Jalan (PPJ)

    Pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yg dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. (Pasal 1 angka 28 UU PDRD)

    Obyek: (Pasal 52 UU PDRD) Listrik yg dihasilkan sendiri meliputi slr pembangkit listrik. Dikecualikan dari objek PPJ: 9 penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah dan Pemda; 9 penggunaan tenaga listrik pd tempat-tempat yg digunakan oleh kedutaan,

    konsulat, dan perwakilan asing dgn asas timbal balik; 9 penggunaan tenaga listrik yg dihasilkan sendiri dgn kapasitas tertentu yg tdk

    memerlukan izin dari instansi teknis terkait; dan

  • A035

    9 penggunaan tenaga listrik lainnya yg diatur dgn Perda. Tarif PPJ ditetapkan dgn Perda: (Pasal 55 UU PDRD)

    Tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb 10%. Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi

    dan gas alam, tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb 3%. Penggunaan tenaga listrik yg dihasilkan sendiri, tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb

    1,5%. f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

    Pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dlm dan/atau permukaan bumi utk dimanfaatkan. (Pasal 1 angka 29 UU PDRD)

    Mineral Bukan Logam dan Batuan: Mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dlm perpu di bidang mineral dan batubara. (Pasal 1 angka 30 UU PDRD)

    Dikecualikan dari objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan: (Pasal 57 ayat (2) UU PDRD) kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yg nyata-nyata tdk

    dimanfaatkan scr komersial, seperti kegiatan pengambilan tanah utk keperluan rumah tangga, pemancangan tiang listrik/telepon, penanaman kabel listrik/telepon, penanaman pipa air/gas;

    kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yg mrp ikutan dari kegiatan pertambangan lainnya, yg tdk dimanfaatkan scr komersial; dan

    pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan lainnya yg ditetapkan dgn Perda. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb

    25%. (Pasal 60 UU PDRD). g. Pajak Parkir

    Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yg disediakan berkaitan dgn pokok usaha maupun yg disediakan sbg suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 31 UU PDRD)

    Parkir: Keadaan tdk bergerak suatu kendaraan yg tdk bersifat sementara. (Pasal 1 angka 32 UU PDRD)

    Tdk termasuk objek pajak: (Pasa 62 ayat (2) UU PDRD) penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemda; penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yg hanya digunakan utk

    karyawannya sendiri; penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara

    asing dgn asas timbal balik; dan penyelenggaraan tempat Parkir lainnya yg diatur dgn Perda.

    Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi dgn Perda seb 30% (Pasal 65 UU PDRD) h. Pajak Air Tanah

    Pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah. (Pasal 1 angka 33 UU PDRD) Air Tanah: Air yg terdapat dlm lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.

    (Pasal 1 angka 34 UU PDRD) Dikecualikan dari objek Pajak Air Tanah: (Pasal 67 ayat (2) UU PDRD)

    pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah utk keperluan dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, serta peribadatan; dan

    pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah lainnya yg diatur dgn Perdah. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 20%. (Pasal 70 UU PDRD)

    i. Pajak Sarang Burung Walet

    Pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. (Pasal 1 angka 35 UU PDRD)

    Burung Walet: Satwa yg termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi. (Pasal 1 angka 36 UU PDRD)

    Tdk termasuk objek pajak: (Pasal 72 ayat 2 UU PDRD)

  • A036

    pengambilan Sarang Burung Walet yg tlh dikenakan PNBP; kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet lainnya yg

    ditetapkan dgn Perda. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 75

    UU PDRD) j. PBB Perdesaan dan Perkotaan

    Pajak atas bumi dan/atau bangunan yg dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh OP atau Badan, kecuali kawasan yg digunakan utk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. (Pasal 1 angka 37 UU PDRD)

    Bumi: Permukaan bumi yg meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Kabupaten/Kota. (Pasal 1 angka 38 UU PDRD)

    Bangunan: Konstruksi teknik yg ditanam atau dilekatkan scr tetap pd tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut. (Pasal 1 angka 39 UU PDRD)

    Obyek: (Pasal 77 UU PDRD) Termasuk dlm pengertian Bangunan: jalan lingkungan yg terletak dlm 1 kompleks

    bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, yg mrp suatu kesatuan dgn kompleks Bangunan tsb; jalan tol; kolam renang; pagar mewah; tempat olahraga; galangan kapal, dermaga; taman mewah; tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak; dan menara.

    Objek Pajak yg tdk dikenakan PBB Perdesaan dan Perkotaan adalah objek pajak yg: 9 digunakan oleh Pemerintah dan Daerah utk penyelenggaraan pemerintahan; 9 digunakan semata-mata utk melayani kepentingan umum di bidang ibadah,

    sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yg tdk dimaksudkan utk memperoleh keuntungan;

    9 digunakan utk kuburan, peninggalan purbakala, atau yg sejenis dgn itu; 9 merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional,

    tanah penggembalaan yg dikuasai oleh desa, dan tanah negara yg blm dibebani suatu hak;

    9 digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; dan

    9 digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yg ditetapkan dgn Peraturan Menkeu.

    Besarnya NJOPTKP ditetapkan dgn Perda paling rendah seb Rp 10 juta utk setiap WP. (Pasal 77 ayat (4) UU PDRD)

    Tarif PBB Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 0,3% (Pasal 80 UU PDRD).

    k. BPHTB

    Pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. (Pasal 1 angka 41 UU PDRD) Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan: Perbuatan atau peristiwa hukum yg

    mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh OP atau Badan. (Pasal 1 angka 42 UU PDRD)

    Hak atas Tanah dan/atau Bangunan: Hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dlm UU di bidang pertanahan dan bangunan. (Pasal 1 angka 43 UU PDRD)

    Objek pajak yg tdk dikenakan BPHTB adalah objek pajak yg diperoleh: (Pasal 85 UU PDRD) perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik; negara utk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau utk pelaksanaan pembangunan

    guna kepentingan umum; badan atau perwakilan lembaga internasional yg ditetapkan dgn Peraturan Menkeu

    dgn syarat tdk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tsb;

    OP atau Badan krn konversi hak atau krn perbuatan hukum lain dgn tdk adanya perubahan nama;

  • A037

    OP atau Badan krn wakaf; dan OP atau Badan yg digunakan utk kepentingan ibadah.

    NPOPTKP ditetapkan dgn Perda: (Pasal 87 UU PDRD) Besarnya NPOPTKP ditetapkan paling rendah seb Rp 60 juta utk setiap WP. Dlm hal perolehan hak krn waris atau hibah wasiat yg diterima OP yg masih dlm hub

    keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus 1 derajat ke atas atau 1 derajat ke bawah dgn pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, NPOPTKP ditetapkan paling rendah seb Rp 300 juta.

    Tarif BPHTB ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 5%. (Pasal 88 UU PDRD)

  • A041

    KEWAJIBAN WP

    1. Kewajiban Mendaftarkan Diri Sesuai dgn sistem self assessment maka WP mempunyai kewajiban utk mendaftarkan diri ke KPP atau KP2KP yg wilayahnya meliputi tempat tinggal atau kedudukan WP utk diberikan NPWP apabila tlh memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, dan wajib dikukuhkan sbg PKP oleh KPP apabila tlh memenuhi persyaratan tertentu.

    2. Kewajiban Pembayaran, Pemotongan/pemungutan, dan Pelaporan Pajak

    WP dlm melaksanakan kewajiban perpajakannya hrs sesuai dgn sistem self assessment, yaitu wajib melakukan sendiri penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak terutang.

    3. Kewajiban dlm Hal Diperiksa

    DJP dpt melakukan pemeriksaan dgn tujuan menguji kepatuhan WP dan tujuan lain yg ditetapkan oleh DJP. Kewajiban WP yg diperiksa: Memenuhi panggilan utk datang menghadiri Pemeriksaan sesuai dgn waktu yg ditentukan

    khususnya utk jenis Pemeriksaan Kantor. Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yg menjadi dasarnya, dan

    dokumen lain termasuk data yg dikelola scr elektronik, yg berhubungan dgn penghasilan yg diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau objek yg terutang pajak. Khusus utk Pemeriksaan Lapangan, WP wajib memberikan kesempatan utk mengakses dan/atau mengunduh data yg dikelola scr elektronik.

    Memberikan kesempatan utk memasuki tempat atau ruang yg dipandang perlu dan memberi bantuan lainnya guna kelancaran pemeriksaan.

    Menyampaikan tanggapan scr tertulis atas SPHP. Meminjamkan KKP yg dibuat oleh Akuntan Publik khususnya utk jenis Pemeriksaan Kantor. Memberikan keterangan lain baik lisan maupun tulisan yg diperlukan.

    4. Kewajiban Memberi Data

    Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan data dan informasi yg berkaitan dgn perpajakan kpd DJP yg ketentuannya diatur pd Pasal 35A UU KUP.

    HAK WP

    1. Hak atas Kelebihan Pembayaran Pajak Dlm hal pajak yg terutang utk suatu tahun pajak ternyata lbh kecil dari jml kredit pajak (pembayaran pajak yg dibayar atau dipotong atau dipungut lbh besar dari yg seharusnya terutang), maka WP mempunyai hak utk mendapatkan kembali kelebihan tsb. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dpt diberikan dlm waktu 12 bulan sejak surat permohonan diterima scr lengkap.

    2. Hak dlm Hal WP Dilakukan Pemeriksaan

    Meminta Surat Perintah Pemeriksaan. Melihat Tanda Pengenal Pemeriksa. Mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan pemeriksaan. Meminta rincian perbedaan antara hasil pemeriksaan dan SPT. Utk hadir dlm pembahasan akhir hasil pemeriksaan dlm batas waktu yg ditentukan.

    3. Hak utk Mengajukan Keberatan, Banding, dan PK

    Berdasarkan hasil pemeriksaan yg dilakukan oleh DJP, maka akan diterbitkan suatu skp, yg dpt mengakibatkan pajak terutang menjadi KB, LB, atau nihil. Jika WP tdk sependapat maka dpt mengajukan keberatan atas skp tsb. Selanjutnya apabila blm puas dgn keputusan keberatan