KTI PENINGKATAN BERAT BADAN BALITA BGM DENGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DI POLINDES WATU GEDE

download

of 29

  • date post

    13-Jun-2015
  • Category

    Healthcare

  • view

    5.169
  • download

    0

Embed Size (px)

description

penelitian terhadap pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan berat badan balita BGM

Transcript of KTI PENINGKATAN BERAT BADAN BALITA BGM DENGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DI POLINDES WATU GEDE

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Angka kematian balita (AKABA) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan suatu negara. Berdasarkan target Millenium Development Goals (MDGs), sampai dengan tahun 2015 Indonesia harus menurunkan angka kematian balita dari 97/1000 kelahiran hidup, menjadi 32/1000 kelahiran hidup. Ditinjau dari hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKABA saat ini 44/1000 KH. Artinya, kematian balita (0- 59 bulan) masih tinggi. Menurut World Health Organization (WHO) 54% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara kematian balita dengan kekurangan gizi. Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan daya tahan anak sehingga anak mudah sakit hingga bisa berakibat pada kematian (Depkes, 2010). Keadaan gizi kurang dan penyakit infeksi merupakan hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab akibat. Keadaan gizi yang jelek dapat mempermudah terkena infeksi, penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi. Penyakit yang umum terjadi terkait masalah gizi antara lain diare, tuberkolusis, campak, dan batuk rejan (wooping cough) (Supariasa, 2012). Gizi buruk atau gizi kurang dapat dilihat dari Status gizi balita yang di deteksi melalui kurva berat badan pada KMS. Balita sehat, jika berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya. Balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus bila berat badan balita dibawah garis merah (BGM) (Depkes, 2000). Faktor-faktor penyebab gizi buruk, yaitu asupan gizi dan pemahaman tentang makanan yang aman untuk dimakan, penyakit menular, lingkungan, akses terhadap pelayanan kesehatan dan pola asuh (Depkes, 2010). Kekurangan zat gizi pada anak disebabkan karena anak mendapat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan badan anak atau adanya

2. 2 ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi dan kebutuhan gizi dari segi kuantitatif maupun kualitatif (Moehji, 2003). Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang perlu lebih diperhatikan adalah pada kelompok bayi dan balita (Depkes, 2010). Balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun. Masa balita merupakan usia penting dalam tumbuh kembang anak secara fisik. Kondisi kecukupan gizi sangatlah berpengaruh pada kondisi kesehatannya secara berkesinambungan pada masa mendatang (Muaris, 2006). Prevalensi status gizi pada balita berdasarkan hasil Survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2006 diketahui bahwa di Jawa Timur terdapat 17,5 % balita yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) terdiri dari 2,6 % balita gizi buruk dan 14,96 % balita gizi kurang. Jumlah balita yang ditimbang tahun 2006 sebesar 2.193.958, jumlah berat badan naik 1.560.784 (71,14 %), yang BGM 65.277 (2,98 %) dan balita gizi buruk yang mendapat perawatan 10.227 (78,65 %) dari seluruh jumlah balita gizi buruk 13.066. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 5 Februari 2013 di Polindes Watugede Singosari, dari jumlah keseluruhan balita 596 orang, 28 balita (4,70%) berada pada pita kuning, 19 balita (3,19%) berada dibawah garis merah (BGM). Menurut buku pedoman pelayanan anak gizi buruk, Penanggulangan balita gizi kurang dilakukan dengan pemberian makanan tambahan (PMT) sedangkan balita gizi buruk harus mendapatkan perawatan sesuai tatalaksana balita gizi buruk yang ada. Berdasarkan panduan penyelenggaraan PMT-P bagi balita gizi kurang (2011) makanan tambahan adalah makanan bergizi sebagai tambahan selain makanan utama bagi kelompok sasaran guna memenuhi kebutuhan gizi untuk pemulihan gizi. PMT Pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. PMT Pemulihan dimaksud berbasis bahan makanan lokal dengan menu khas daerah yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Konsumsi makanan PMT- P yang adekuat juga akan berpengaruh terhadap status gizi anak balita. 3. 3 Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Pemberian PMT Terhadap Berat Badan Balita BGM Di Polindes Watu Gede. 1.2. RUMUSAN MASALAH Apakah ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap berat badan balita BGM di Polindes Watu Gede? 1.3. TUJUAN 1.3.1. Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh PMT terhadap berat badan balita BGM di polindes watu gede. 1.3.2. Tujuan Khusus Tujuan Khusus dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi berat badan balita BGM di polindes Watu Gede sebelum pemberian makanan tambahan. 2. Mengidentifikasi berat badan balita BGM di polindes Watu Gede setelah pemberian makanan tambahan. 3. Mengidentifikasi pengaruh PMT terhadap berat badan balita BGM di polindes Watu Gede. 1.4. MANFAAT 1.4.1. Manfaat Teoritis 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan masukan dalam penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan pemberian makanan tambahan dan balita dengan gizi kurang. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi pengetahuan bagi bidan dan kader posyandu dalam identifikasi dan penatalaksaanaan balita dengan gizi kurang. 4. 4 1.4.2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi bidan dan kader posyandu dalam pemberian makanan tambahan bagi balita dengan gizi kurang. 5. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Berat Badan 2.1.1. Pengertian Berat Badan Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema, dan adanya tumor. Disamping itu pula berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat dan protein otot menurun. Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot khususnya orang kekurangan gizi (Supariasa, 2012). 2.1.2. Alasan Pemilihan Berat Badan Sebagai Pengukur Laju Pertumbuhan Menurut Supariasa (2012), beberapa pertimbangan mengenai Berat badan merupakan parameter yang menjadi pilihan utama pengukur laju pertumbuhan, antara lain: 1. Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan. 2. Memberikan gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara periodik memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan. 3. Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas di Indonesia sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan secara meluas. 6. 6 4. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan pengukur. 5. KMS (Kartu Menuju Sehat) yang digunakan sebagai alat yang baik untuk pendidikan dan memonitor kesehatan anak menggunakan juga berat badan sebagai dasar pengisian. 6. Karena masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status gizi, berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana sebagai indeks yang tidak tergantung pada umur. 7. Alat pengukur dapat diperoleh di daerah pedesaan dengan ketelitian yang tinggi dengan menggunakan dacin yang juga sudah dikenal oleh masyarakat. 2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berat Badan Dalam proses pertumbuhan, setiap individu akan mengalami siklus yang berbeda pada kehidupan manusia. Peristiwa tersebut dapat secara cepat maupun lambat tergantung dari individu atau lingkungan. Proses percepatan dan perlambatan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor herediter, faktor lingkungan, atau faktor hormonal. 1. Faktor Herediter Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak di samping faktor-faktor lain. Faktor herediter meliputi bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa. Pertumbuhan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa pubertas. Ras atau suku bangsa juga memiliki peran dalam memengaruhi pertumbuhan. Hal ini dapat dillihat pada suku bangasa tertentu yang memiliki kecenderungan lebih besar atau tinggi seperti orang Asia 7. 7 cenderung lebih pendek dan kecil dibandingkan dengan orang Eropa atau lainnya. 2. Faktor Lingkungan a. Budaya Lingkungan Budaya lingkungan dalam hal ini adalah budaya di masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan anak. Budaya lingkunga dapat menentukan bagaimana seseorang atau masyarakat mempersepsikan pola hidup sehat, hal ini dapat terlihat apabila kehidupan atau perilaku mengikuti budaya yang ada sehingga kemungkinan besar dapat menghambat dalam aspek pertumbuhan. Sebagai contoh, anak yang dalam usia tumbuh kembang membutuhkan makanan bergizi, namun karena terdapat adat atau budaya tertentu yang melarang makan dalam masa tertentu akan mengganggu atau menghambat masa tumbuh kembang. b. Status Sosial Ekonomi Status sosial ekonomi juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Anak dengen keluarga yang memiliki sosial ekonomi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak dengan sosial ekonomi rendah. Demikian juga anak berpendidikan rendah, tentu akan sulit untuk menerima arahan dalam pemenuhan gizi dan mereka sering tidak mau atai tidak meyakini pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan lain yang menunjang dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. c. Nutrisi Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang selama masa pertumb