Kota Sehat Makalah Fix

download Kota Sehat Makalah Fix

of 34

  • date post

    30-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    755
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Kota Sehat Makalah Fix

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangDi dalam program kesehatan lingkungan suatu pemukiman/perumahan sangat berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, letak goegrafis dan kondisi masyarakat lokal. Selain itu kondisi lingkungan pemukiman/perumahan dipengaruhi juga oleh beberapa faktor yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan antara lain, fasilitas pelayanan kesehatan, sarana penunjang pendidikan, perlengkapan dan peralatan laing yang dapat terselenggaranya kesehata fisik, kesehatan mental dan kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya. (Hasyim, 2010)Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara di dunia yang mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat pesat di beberapa kota besar yang ada di negara tersebut. Hal ini disebabkan olah penyebab utama berupa hasil dari migrasi penduduk desa ke perkotaan dan meningkatnya populasi penduduk di kota tersebut. Menurut laporan State of World Population, pada tahun 2008, sekitar 3,3 miliar warga dunia menjadi bagian dalam proses urbanisasi, atau lebih dari separuh penduduk dunia. Angka itu diperkirakan akan menjadi lima miliar pada tahun 2030 berdasarkan perkiraan Badan PBB yang mengurusi kependudukan (UNFPA). Laporan tahunan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UNES-CAP) juga menunjukkan, urbanisasi di kawasan Asia Pasifik mencapai tingkat tertinggi di dunia. Khususnya Asia Tenggara, termasuk Indonesia.Di Indonesia, pada tahun 1950 hanya12,4% penduduk tinggal di kota sedangkan pada tahun 2010 sudah mencapai 53,7%. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) urbanisasi akan mencapai 68 persen pada tahun 2025. Proyeksi itu mengacu kepada perbedaan laju pertumbuhan penduduk daerah perkotaan dan daerah perdesaan (urban rural growth difference/URGD). Dalam data itu terlihat, provinsi di Pulau Jawa dan Bali, tingkat urbanisasi-nya lebih tinggi dari Indonesia secara total. Bahkan, tingkat urbanisasi di empat provinsi di Jawa pada 2025 sudah di atas delapan puluh persen, yaitu di DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Banten.Dari aspek demografi, urbanisasi merupakan suatu proses adanya perubahan persebaran penduduk di suatu wilayah. Hal inilah yang menimbulkan dampak adanya kepadatan penduduk, yang berimplikasi kepada masalah-masalah kesehatan. Oleh karena itu, di dalam makalah ini akan di bahas mengenai Health City (Kota Sehat).

1.2 TujuanTujuan dari makalah ini adalah tercapainya kondisi kota untuk hidup dengan aman, nyaman dan sehat bagi warganya melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik, sosial dan budaya secara optimal sehingga dapat mendukung peningkatan produktifitas dan perekonomian wilayah.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 PengertianKota sehat adalah suatu kota yang terus-menerus menciptakan dan meningkatkan lingkungan-lingkungan fisik dan sosial dan memperluas sumber daya masyarakat mereka yang memungkinkan orang untuk saling mendukung satu sama lain dalam melaksanakan semua fungsi kehidupan dan mengembangkan potensi maksimal mereka. "Sebuah kota yang sehat adalah salah satu yang terus-menerus menciptakan dan meningkatkan mereka secara fisik dan sosial lingkungan dan memperluas sumber daya masyarakat mereka yang memungkinkan orang untuk saling mendukung satu sama lainnya dalam melaksanakan semua fungsi kehidupan dan dalam mengembangkan potensi maksimal mereka. (Hancock, 1988).Sebuah Kota Sehat berkomitmen untuk suatu proses mencoba untuk mencapai yang lebih baik fisik dan sosial lingkungan. Setiap kota dapat memulai proses menjadi Kota Sehat jika berkomitmen untuk pengembangan dan pemeliharaan lingkungan fisik dan sosial yang mendukung dan mempromosikan baik kesehatan dan kualitas hidup penduduk. Membangun pertimbangan kesehatan dalam pembangunan perkotaan dan manajemen sangat penting untuk Kota Sehat.Kabupaten/Kota Sehat adalah suatu kondisi kabupaten/Kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa, tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah. (PB MenDaGri dan MenKes, 2005)Pendekatan Kota Sehat pertama kali dikembangkan di Eropa oleh WHO pada tahun 1980-an sebagai strategi menyongsong Ottawa-Charter. Ditekankan bahwa kesehatan dapat dicapai dan berkelanjutan apabila sernua aspek, yaitu sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya diperhatikan. Penekanan tidak cukup pada pelayanan kesehatan, tetapi kepada seluruh aspek yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, baik jasmani maupun rohani.

2.2 Tujuan Pembangunan Kota SehatPembangunan kota sehat memiliki tujuan untuk ercapainya kondisi kota untuk hidup dengan bersih, aman, nyaman dan sehat untuk dihuni dan sebagai tempat bekerja bagi warganya dengan cara terlaksananya berbagai program kesehatan dan sektor lain, sehingga dapat meningkatkan secara optimal sarana untuk mendukung peningkatan produktifitas dan perekonomian masyarakat.Secara rinci tujuan pembangunan kesehatan diklasifikasikan dalam tujuan utama dan tujuan khusus seperti diuraikan dibawah ini:a. Tujuan Utama : Mengembangkan dan meningkatkan kesehatan dan kualitas kehidupan penduduk perkotaan.Adanya konsep pembanguanan kota sehat di suatu wilayah memiliki tujuan utama untuk menciptakan lingkungan yang dapat mendukung dan dapat meningkatkan peran faktor kesehatan dalam kehidupan manusia agar mampu melaksanakan tugas dan fungsi sebagai individu dan anggota masyarakat dengan baik sehingga tercapai kualitas keidupan yang tinggi yang akan berpengaruh terhadap peningkatan status kesehatan dan kehidupan sosial yang maksimal.b. Tujuan Khusus1. Menciptakan dukungan dari lingkungan sehatHal ini berkaitan dengan adanya fakta bahwa lingkungan yang sehat ikut memiliki pengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Namun sebaliknya apabila suatu lingkungan di suatu wilayah tersebut buruk maka juga akan memberikan damapak buruk terhadap derajat dan status kesehatan penduduk di kawasan tersebut.2. Memperoleh kualitas kehidupan yang tinggiKualitas kehiduapan yang tinggi juga dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan yang baik, dengan terciptanya lingkungan yang sahat maka dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. 3. Menyediakan sanitasi dasar dan kebutuhan akan kebersihanKonsep pembangunan kota sehat erat kalitannya dengan adanya fasilitas sanitasi yang baik bagi seluruh penduduk. Salah satu faktor penentu kualitas lingkungan yang sehat yaitu adanya sanitasi lingkungan yang baik yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan akhirnya juga dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat di kota tersebut.4. Menyediakan akses kepada layanan kesehatanSelain faktor lingkungan, adanya konsep pembangunan kota sehat juga berpengaruh langsung terhadap ketersediaan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan baik. hal ini disebabkan juga oleh fakta bahwa suatu wilayah tidak akan dikatakan sehat apabila tidak mampu menyediakan akses terhadap pelayanan kesehatan.

2.3 Ciri Khas Kota SehatMenurut WHO (1995) dalam Twenty Steps for Developing a Healthy Cities Project, cirri khas kota sehat, yaitu :1. Lingkungan fisik yang bersih dan aman (termasuk perumahan yang bermutu tinggi);2. Ekosistem yang mantap dan berkelanjutan;3. Masyarakat kuat yang saling mendukung dan tidak eksploitatif;4. Keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak pada kesehatan mereka;5. Kebutuhan dasar (makanan, air, perumahan, pendapatan, keamanan, pekerjaan) terpenuhi untuk seluruh masyarakat;6. Akses ke bermacam-macam pengalaman dan sumber serta kesempatan untuk berinteraksi;7. Ekonomi yang beragam, hidup, dan bisa menerima pemikiran baru;8. Hubungan dengan masa lalu, dengan sejarah budaya dan biologis seluruh masyarakat, serta hubungan dengan kelompok dan individu lain;9. Pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat yang dapat digunakan seluruh masyarakat;10. Status kesehatan yang tinggi (tingkat kesehatan tinggi, tingkat penyakit rendah).2.4 Konsep Kota SehatJika merujuk pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat, healthy city didefinisikan sebagai suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah. WHO (1997) mendefinisikan terdapat sebelas komponen kota sehat yang berkualitas yaitu lingkungan fisik yang aman dan bersih; ekosistem yang stabil; dukungan masyarakat yang kuat dan tidak eksploitatif; partispasi dan kontrol masyarakat yang kuat; pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air, tempat tinggal dan pekerjaan yang aman; akses untuk mendapatkan fasilitas dan pengalaman serta interaksi dan komunikasi dengan masyarakat luas; ekonomi perkotaan yang innovatif; mendorong interkoneksitas dari berbagai aspek budaya dan keturunan dengan berbagai individu dan kelompok; rukun terhadap berbagai karakteristik masyarakat; ketersediaan akses pelayanan kesehatan dengan masalah kesehatan masyarakat dan terakhir adalah status kesehatan yang tinggi.WHO (1997), lebih lanjut mengungkapkan bahwa terdapat enam karakteristik yang dimiliki oleh healthy city project yaitu komitmen terhadap kesehatan; membutuhkan keputusan politik untuk kesehatan masyarakat; tindakan dan aksi yang bersifat intersektoral; partisipasi masyarakat; inovasi dan outcomenya adalah kebijakan publik yang sehat. Jika merujuk pada dua definisi dan karakteristik healthy city tersebut, maka dapat dipahami bahwa pertama, healthy city adalah kota yang bersih secara fisik, aman dan nyaman untuk dihuni oleh masyarakat. Kedua, healthy city dapat dimulai dari beberapa tatanan (setting) misalnya sekolah sehat,perkantoran sehat, rumah sakit sehat, pulau sehat sebagai pilot project. Ketiga, konsep healthy city menekankan pada keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsep healthy city adalah g