KORUPSI ICMI, ada catatan -...

of 36/36
Karya Ilmiah KONSPIRASI TRANSNASIONAL DALAM KAJIAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh : Dr. H. Obsatar Sinaga, SIP, M.Si DOSEN JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FISIP UNPAD MAKALAH: DISAMPAIKAN DALAM SEMINAR NASIONAL IKATAN CENDIKIAWAN MUSLIM se-INDONESIA (ICMI) BATAM 23 Oktober 2010
  • date post

    09-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KORUPSI ICMI, ada catatan -...

Karya Ilmiah

KONSPIRASI TRANSNASIONAL DALAMKAJIAN KORUPSI DI INDONESIA

Oleh : Dr. H. Obsatar Sinaga, SIP, M.SiDOSEN JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FISIP

UNPAD

MAKALAH:DISAMPAIKAN DALAM SEMINAR NASIONAL IKATAN

CENDIKIAWAN MUSLIM se-INDONESIA (ICMI)BATAM 23 Oktober 2010

1

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena

saya sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul KORUPSITRANSNASIONAL DALAM KAJIAN KORUPSI DI INDONESIA

Makalah ini dibuat penulis sebagai bahan diskusi untuk seminar nasional

yang diadakan Ikatan Cendiakiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Makalah ini

disempurnakan setelah mendapat masukan dari berbagai kalangan cendikiawan yang

hadir dalam kesempatan seminar nasional tersebut.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, dan dalam

makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Ungkapan terimakasih kami

sampaikan kepada keluarga besar ICMI serta seluruh cendikiawan yang hadir.

Semoga makalah ini memberi manfaat bagi kita.

Jatinangor, Oktober 2010.

Obsatar Sinaga

2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..............................................................................................................1

Daftar Isi .......................................................................................................................2

Pendahuluan..................................................................................................................3

Latar Belakang ..............................................................................................................3

Identifikasi Masalah......................................................................................................4

Metode Kajian...............................................................................................................4

Tinjauan Pustaka...........................................................................................................5

Transnasionalisme.........................................................................................................5

Aktor-aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional.............................................7

Teori Konspirasi..........................................................................................................15

Keamanan Internasional..............................................................................................17

Kerjasama Internasional..............................................................................................19

Jenis Kerjasama Internasional.....................................................................................19

Objek Kajian ...............................................................................................................21

Korupsi........................................................................................................................21

Dampak Negatif dari Korupsi .....................................................................................22

Korupsi di Indonesia ...................................................................................................24

Pemberantasan Korupsi di Indonesia..........................................................................24

Korupsi Transnasional ................................................................................................26

Pembahasan.................................................................................................................30

Kesimpulan .................................................................................................................33

Daftar Pustaka.............................................................................................................34

3

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Semakin marak isu korupsi dipermasalahkan dewasa ini. Tidak hanya di

wilayah dalam negeri saja, tapi sekarang korupsi telah meluas hingga melewati batas-

batas negara menjadikannya sebagai kejahatan transnasional.

Masalah korupsi sudah merupakan ancaman yang bersifat serius terhadap

stabilitas dan keamanan masyarakat nasional dan internasional dan telah melemahkan

institusi dan nilai-nilai demokrasi serta nilai-nilai keadilan serta membahayakan

pembangunan berkelanjutan dan penegakan hukum1. Pernyataan ini sudah merupakan

prinsip umum hukum internasional dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Berdasarkan pernyataan di atas maka pencegahan dan pemberantasan korupsi

tidak lagi merupakan tanggung jawab satu negara melainkan juga tanggung jawab

bersama negara lain. Atas dasar hal tersebut maka kerjasama internasional merupakan

masalah penting yang ikut menentukan keberhasilan pencegahan dan pemberantasan

korupsi.

Dalam rangka memberantas korupsi, dunia internasional telah menandatangani

deklarasi pemberantasan korupsi di Lima, Peru pada tanggal 7-11 September 1997

dalam konferensi anti korupsi yang dihadiri oleh 93 negara.

Deklarasi yang kemudian dikenal dengan Declaration Of 8th International

Conference Against Corruption diyakini bahwa korupsi mengikis tatanan moral

masyarakat, mengingkari hak-hak sosial dan ekonomi dari kalangan kurang mampu

dan lemah.

Demikian pula korupsi dianggap menggerogoti demokrasi, merusak aturan

hukum yang merupakan dasar dari setiap masyarakat, memundurkan pembangunan,

dan menjauhkan masyarakat dari manfaat persaingan bebas dan terbuka, khususnya

bagi kalangan kurang mampu. Konferensi tersebut juga mempercayai bahwa

memerangi korupsi adalah urusan setiap orang dari setiap masyarakat. Memerangi

korupsi mencakup pula mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai etika dalam

semua masyarakat. Karena itu sangat penting untuk menumbuhkan kerjasama diantara

pemerintah, masyarakat sipil, dan pihak usaha swasta.

1Lilik Mulyadi http://gagasanhukum.wordpress.com/2009/04/20/

.

4

Perkembangan berikutnya, melalui Ad Hoc Committee For The Negotiation Of

The United Nations Conventions Against Corruption sejak tanggal 1 Oktober 2003,

lebih kurang 107 negara telah menyetujui korupsi sebagai transnational crime.

Indonesia termasuk salah satu negara yang telah menyetujui Convention Against

Corruption yang diselenggarakan di Wina tersebut.

Parahnya korupsi di Indonesia membuat Indonesia mendapat predikat sebagai

salah satu negara terkorup sedunia. Masalah korupsi di Indonesia dan korupsi sebagai

transnational crime melatarbelakangi pembuatan makalah ini.

Identifikasi Masalah

Pemberantasan korupsi yang sudah akut, dirasakan tidak cukup hanya dengan

perluasan perbuatan yang dirumuskan sebagai korupsi serta cara-cara yang

konvensional. Diperlukan metode dan cara tertentu agar mampu membendung

meluasnya korupsi. Salah satu cara ialah dengan menetapkan kejahatan korupsi

sebagai kejahatan luar biasa, sehingga pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan

secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa. 2

Makalah ini difokuskan terhadap isu korupsi di Indonesia dan korupsi

transnasional serta cara penanganan dan pemberantasan yang efektif.

Metode Kajian

Metode kajian yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kajian

kualitatif yaitu dengan menjelaskan (eksplanasi) semua permasalahan.

2Telaah Kritis Permohonan Pengujian Materiil Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi Eddy

O.S Hiariej pukat.hukum.ugm.ac.id/.../

.

5

TINJAUAN PUSTAKA

Isu korupsi transnasional sudah semakin mengglobal. Untuk menganalisa

mengenai korupsi transnasional, maka digunakan teori transnasionalisme, teori

konspirasi, konsep keamanan dan kerjasama internasional.

Transnasionalisme

Asumsi pokok dari pandangan hubungan transnasional adalah berkurangnya

peranan negara sebagai aktor dalam politik dunia dan meningkatnya peranan aktor

non-negara. Pendukung pandangan ini yakin bahwa batas-batas yang memisahkan

bangsa-bangsa semakin kurang relevan. Transnasional didefinisikan oleh Richard

Falk sebagai perpindahan barang, informasi, dan gagasan melintas batas wilayah

nasional tanpa pertisipasi atau dikendalkikan secara langsung oleh aktor-aktor

pemerintah.

Transnasionalisme adalah sebuah konsep yang mencakup kesetiaan, aktivitas-

aktivitas dan fenomena-fenomena lain yang menghubungkan manusia melintasi

bangsa dan batas-batas nasional. Hal ini kontradiktif dengan nasionalisme karena

memajukan aktivitas politk lintas negara. Aliran pemikiran transnasionalisme merujuk

kepada globalisme dan kosmopolitanisme. Globalisasi seperti perdagangan bebas,

interdependensi, transportasi, dan komunikasi memungkinkan interaksi lintas negara.

Sementara kosmopolitanisme lebih terarah kepada pembahasan normatif. Dalam

perspektif teori normatif, Brown menyatakan bahwa kosmopolitanisme adalah

pandangan tentang hirauan politik dunia mengenai kemanusiaan secara menyeluruh,

atau individual. Sementara pendekatan teori normatif lainnya adalah komunitarian

yang terfokus pada komunitas politik tertentu seperti negara.

Pemikiran transnasionalisme dapat ditelusuri sejak zaman Stoikis Yunani dan

Roma sekitar tahun 300 SM hingga 200 M, periode kemunduran negara-kota Yunani

dan perkembangan kekaisaran Romawi. Stoikisme3 berarti menerima kesusahan

seseorang tanpa komplain. Stoikisme menyeru kepada manusia agar melihat diri

mereka sebagai bagian dari umat manusia keseluruhan, bukan bagian komunitas

politik yang lebih kecil.

3 Aliran filsafat yang didirikan oleh Zeno kira-kira tahun 308 SM di Yunani. Para Stoikis percayabahwa ada akal yang meresapi alam semesta dan orang-orang yang bijaksana harus melakukan disiplinterhadap dirinya dan menerima nasibnya. (Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry. Op cit, hlm 726).

6

Transnasionalisme muncul dari dua sumber. Pertama adalah interaksi global

seperti tingkat interdependensi ekonomi, komunikasi massa, perjalanan yang cepat

karena kecanggihan teknologi transportasi, dan faktor-faktor modern lainnya yang

saling menjalin kehidupan manusia di seluruh dunia. Sumber transnasionalisme yang

kedua adalah pemikiran manusia. Pemikiran transnasional berasal dari kebudayaan

barat yaitu Mesir Kuno sampai Kebudayaan Timur yaitu Buddhisme. Pemikiran

transnasional saat ini terjadi dalam idealisme, postmodernisme, dan

postinternasionalisme.

Tren modern lainnya yang penting dari hubungan internasional adalah

pertumbuhan pergerakan dan orrganisasi transnasional yang memperhatikan isu-isu

global. Interaksi transnasional meningkat, sebagaimana kejadian-kejadian dalam

perubahan di bidang ekonomi, komunikasi, transportasi, dan organisasi. Di sini adalah

termasuk peran TNCs sebagai aktor non-negara yang turut menyebarkan

transnasionalisme khususnya dalam bidang ekonomi. Setiap individu maupun

korporasi memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti

penanaman modal asing di luar batas negaranya. Motivasi terbentuknya TNCs ini

adalah biaya produksi yang murah dan distribusi atau perluasan pasar.

Faktor-faktor lain yang mendukung adanya transnasionalisme adalah agama.

Kebanyakan agama memiliki unsur-unsur transnasional yang kuat. Agama telah

memainkan banyak peran dalam politik dunia.

Budaya transnasional telah membawa dunia bersama-sama ataupun

membaginya yaitu adanya kecenderungan terbentuknya regionalisme seperti

pembentukan ASEAN, Uni Eropa, dan lain sebagainya. Pergerakan barang, ide-ide,

dan orang melewati batas nasional membantu membuat apa yang mungkin menjadi

awal mula budaya global bersama.

Dampak yang diberikan transnasionalisme melalui perkembangan

kecanggihan teknologi yaitu adanya technotrenic ethnocide. Istilah ini berkaitan

dengan ethnic genoside, akan tetapi ethnic genoside mempergunakan cara radikal

seperti kekerasan maka technotrenic ethnocide mempergunakan cara yang lebih halus

melalui kecanggihan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi

internasional. Cepatnya arus informasi karena kemudahan akses yang didapat

membuat setiap orang di seluruh dunia dapat mengetahui tren ataupun berita dari

belahan dunia yang lain, bahkan mereka sangat terpengaruh oleh keadaan tersebut.

Pengaruh yang diberikan oleh informasi dan komunikasi dapat merubah perilaku

7

manusia dari masa ke masa, bahkan sampai meninggalkan nilai-nilai budayanya.

Peninggalan nilai-nilai budaya akan mengakibatkan hilangnya identitas diri suatu

bangsa. Inilah yang dimaksud dengan technotrenic ethnocide, dimana teknologi

mempunyai peran yang signifikan dalam penyebaran budaya asing dan merubah

budaya asli suatu masyarakat atau bangsa.

Interaksi transnasional semakin intensif sejalan dengan tiga macam interaksi.

Pertama, ekonomi transnasional dalam hal liberalisasi perdagangan yang

menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan antar negara, interdependensi,

investasi dan bantuan luar negeri. Kedua, komunikasi transnasional sebagai produk

perkembangan teknologi informasi. Ketiga, transportasi transnasional sehingga

individu dapat pergi ke negara manapun.

Aktor-aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional

Karena transnasionalisme melibatkan aktor-aktor non-negara di dalamnya,

maka berikut akan dijelaskan mengenai aktor-aktor non-negara dalam hubungan

internasional.

Individu

Seorang individu merupakan aktor yang mewakili kepentingan negaranya dan

sangat berpengaruh dalam hubungan antar negara karena dengan kepemimpinan

seorang individu yang disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat di

negaranya, maka individu dapat menyatukan atau menimbulkan perang terhadap suatu

negara dengan negara lainnya. Individu yang demikian termasuk dalam aktor formal

karena mengutamakan kepentingan nasional untuk memakmurkan dan

menyejahterakan masyarakatnya. Tetapi jika individu itu bertindak untuk mencapai

kepentingan di luar negaranya berdasarkan ambisi pribadinya bukan untuk

memakmurkan atau mensejahterakan masyarakatnnya maka individu itu dapat

menjadi aktor informal.

Tidak hanya di negara-negara berkembang seorang pemimpin yang

kharismatik dipandang sebagai simbol bangsa, tetapi juga di negara-negara yang maju

seorang pemimpin dapat diharapkan tampil sebagai wakil atau personifikasi bangsa di

dalam maupun di luar negeri. Tetapi karena kemampuan dan kepintaran untuk

mempelajari dan memproses suatu informasi yang dimiliki individu itu terbatas maka

tidak semua keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin dapat mewakili semua

8

kepentingan negaranya dalam hubungan dengan negara lain. Tidak ada seorang

pembuat keputusan yang dapat dan benar-benar dapat menganalisa sebuah informasi.

Untuk melihat bagaiman sulitnya membuat suatu keputusan maka kita harus melihat

kenyataan bahwa keputusan yang dibuat itu pasti kualitasnya berdasarkan pendidikan

yang dimiliki oleh individu itu. Dan untuk itu individu tersebut harus melihat

iinformasi dan kenyataaan yang ada didalam mengambil keputusan.

Keputusan yang dibuat oleh individu akan dapat digunakan dalam suatu

organisasi baik dalam bentuk negara maupun organisasi internasional. Dalam bentuk

negara, keputusan yang dibuat oleh individu yang statusnya sebagai seorang

pemiimpin akan membawa pengaruh yang kuat dalam melakukan hubungan ke dalam

maupun ke luar negeri. Sedangkan dalam bentuk organisasi internasional, keputusan

yang dibuat oleh individu itu dapat merancang program selenjutnya yang akan

ditempuh.

Individu bisa dikaji dalam tiga perspektif yang berbeda, yaitu: berdasarkan

sifat dasar manusia yang fundamental, cara bertindak individu dalam suatu organisasi,

pengamatan motivasi dan dan perilaku dari individu tertentu. Pendekatan alamiah

seorang individu dapat dilihat dari karakteristik dasar manusia. Kognitif, psikologis

dan faktor biologis mempengaruhi pengambilan keputusan oleh individu. Faktor

konegtif menyangkut pembuatan keputusan kognitif, konsistensi kognitif, berfikir

penuh dengan kebijakan, membatasi jangkauan keputusan, menggunakan

perlengkapan neuristik. Serangan frustasi merupakan faktor psikologis utama yang

dipertimbangkan dalam diri individu, sementara faktor biologis mencakup etnis dan

jenis kelamin.

Pendekatan kebiasaan-idiosinkratik menjelaskan faktor yang menentukan

persepsi, keputusan, dan tindakan dari pemimpin tertentu. Sebuah kepribadian

pemimpin, kesehatan mental dan fisik, ego dan ambisi, memahami sejarah,

pengalaman pribadi, dan semua pandangan adalah keseluruhan faktor dari pendekatan

ini.

International Governmental Organizations (IGOs)

IGOs adalah organisasi yang dibentuk secara sukarela oleh negara-negara

berdaulat untuk memperoleh suatu hasil maksimal terhadap negara yang ingin

bekerjasama melalui jenis struktur yang formal dan dimana negara tidak mampu

merealisasikannya sendiri. Hampir seluruh IGOs memiliki suatu struktur pusat

9

administrasi. Mereka diciptakan oleh suatu kesepakatan dan perjanjian yang sebagian

besar mencerminkan pilihan tentang negara yang lebih kuat.

Negara yang kuat menciptakan IGOs untuk melindungi national interest

mereka. Pada umumnya produk yang dibuat oleh IGOs merupakan produk negosiasi

diantara wakil pemerintah yang ditugaskan mereka. Secara umum itu bukan

merupakan idealisme, tetapi kebutuhan negara yang mengandalkan mereka untuk

bekerjasama dengan negara lain dalam konteks IGOs. Oleh karena itu, mereka

menjadi bagian dari sistem nation-states.

Kunci karakteristik yang membedakan keanggotaan IGOs dari tipe-tipe

organisasi international lainnya adalah bahwa IGOs memiliki negara individual

sebagai anggota. Beberapa IGOs seperti International Monetary Fund (IMF) dan

World Bank memiliki anggota negara-negara dari seluruh belahan dunia. Beberapa

IGOs yang lain memiliki ruang lingkup geografis yang terbatas pada keanggotaannya,

yaitu: ASEAN, OAS, dan OAU.

Keanggotaan IGOs biasanya berdasarkan pada kepentingan-kepentingan

umum diantara para anggotanya IGOs bisa digolongkan dalam lingkup regional dan

global berdasarkan fungsi politis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. IGOs adalah nilai

lebih yang berharga bagi nation-states dan memainkan peran penting dengan

memberikan arti kerjasama dan berbagai saluran komunikasi antar negara dalam area

di mana komunikasi dan kerjasama menghasilkan keuntungan bagi kebanyakan

negara.

IGOs meliputi kegiatan yang luas. Beberapa IGOs memiliki fungsi yang

banyak (multiple function). PBB salah satu contohnya, memiliki sebuah tujuan umum

yang bekerja untuk menjaga atau meningkatkan keamanan lingkungan, hak-hak asasi

manusia, dan kondisi ekonomi, sebagaimana mereka juga mempromosikan

perdamaian dan memelihara nilai-nilai politik tradisional. Beberapa IGOs memiliki

spesialisasi bidang tertentu, contohnya sepert WHO. Aliansi adalah bentuk spesial

karena kebanyakan dari mereka merupakan traktat atau pakta pertahanan militer,

seperi NATO (North Atlantic Treaty Organization). Semua sudah mengetahui bahwa

fungsi utama IGOs adalah membuat aturan, menentukan agenda, dan mengumpulkan

informasi.

Sebagai tambahan, mereka mengurangi ketidakpastian antar negara dalam

mencari solusi kerjasama dalam permasalahan IGOs boleh mengubah norma-norma

dalam hubungan internasional dan nation-state. Sebagai contoh, program lingkungan

10

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memainkan peran penting di dalam

penciptaan rezim seperti perlindungan laut tengah dan perlindungan lapisan ozon.

Lagipula, IGOs mengawasi prinsip, norma-norma, dan peraturan tentang institusi

internasional dan rezim internasional dalam nation-states.

Isu utama dari IGOs adalah tentang dasar kewenangan mereka. Secara

tradisional, telah memiliki sedikit kewenangan independen. Mereka merupakan

kendaraan untuk kepentingan diplomasi bagi negara-negara anggotanya. Negara-

negara berusaha untuk membangun sebuah koalisi IGO dengan maksud untuk

mendapatkan cukup suara yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan

kebijakan politik mereka, yamg disebut diplomasi parlementer. Efektifitas IGOs

berdasarkan kuat-lenahnya rezim yang berkuasa pada suatu negara karena IGOs dapat

mendikte suatu negara jika negara itu lemah.

Kasus yang paling terkenal terjadi pada NGOs adalah International Atomic

Energy Agency (IAEA), yang mengawasi prinsip non-proliferasi dari senjata atom

di suatu negara ketika IGOs dibuat. Mereka mengurangi biaya informasi yang

dihasilkan yang lebih penting untuk negara-negara kecil dan negara miskin. Sebagai

contoh, IGOs memainkan suatu peran kunci pada negara, khususnya negara kecil

dalam menerima informasi politik internasional dan isu yanng bersistem. Tanpa IGOs

mungkin banyak negara tidak dapat memperoleh informasi tentang politik dan

masyarakat internasional. Aktivitas IGOs, seperti PBB dan International Monetary

Fund (IMF) berpengaruh dalam negara-negara kecil. Mereka dapat memaksakan

prinsipnya dengan mudah atas negara kecil dibanding dengan negara-negara besar.

Pengaruh IGOs sangat bervariasi tergantung pada kapasitas pemerintahan

negara anggotanya untuk menerapkan ketentuan mereka sendiri. Kebanyakan

permasalahn yang dihadapi suatu pemerintahan adalah keterbatasan sumber daya yang

membatasi kemampuan rezim mereka terhadap aktivitas dan wilayah yurisdiksi

mereka. Hal ini memang benar dihadapi oleh kebanyakan negara-negara, terutama

untuk negara-negara terbelakang. Bahkan, negara adikuasa sekalipun tidak dapat

sepenuhnya menngendalikan pemerintahannya. Kendati benar bahwa organisasi

internasional digunakan oleh negara yang kuat, mereka membuat perbedaan dalam

interaksi internasional yang mempunyai pengaruh penting bahkan atas negara yang

paling kuat, seperti Amerika Serikat.

Negara kuat lebih sedikit terkena pengaruh dari prinsip yang diteraapkan oleh

IGOs dibandingkan negara yang relatif lemah. IMF dan Dewan Keamanan PBB

11

adalah dua organisasi terkemuka dimana beberapa negara berusaha mengarahkan dan

memaksakan prinsipnya pada organisasi tersebut secara teroganisir. Sebagai contoh,

Dewan keamanan PBB tidak bisa mengambil keputusan yang berlawanan dengan

kepentingan kelima negara anggota tetapnya. Keputusan Dewan Keamanan PBB

untuk memberi sanksi terhadap Israel selalu di-veto oleh Amerika Serikat.

IGOs melakukan fungsinya dengan baik dalam isu-isu teknis, seperti:

telekomunikasi, transportasi, manajemen, lingkungan, dan pelayanan pos. Efek dalam

masalah ekonomi juga sangat tinggi. Sebagai contoh, IMF dan Bank Dunia sangat

efektif dalam siklus uang, manajemen hutang, dan isu pembayaran hutang diantara

negara-negara miskin dan kaya. Saat ini telah terdapat lebih dari 400 IGOs di seluruh

dunia.

Non Governmental Organizations (NGOs)

Salah satu bentuk yang mengemuka pada saat ini di bidang internasional

adalah banyak bermunculan NGOs yang jumlahnya melebihi banyaknya negara.

Meningkatnya hubungan komunikasi diiringi dengan kemajuan teknologi komunikasi

dan transportasi telah memberikan kita secara harfiah mengenai bentuk organisasi

yang khusus, perwakilan, dan kelompok-kelompok. NGOs terdiri dari pribadi

individu yang merasa mendapatkan keuntungan dan tidak mendapatkan keuntungan.

NGOs adalah organisasi yang dibentuk oleh para aktor non-negara atau suatu

organisasi yang bukan merupakan negara.

Organisasi ini mirip dengan IGOs yang beroperasi secara lintas batas, tetapi di

antara keduanya terdapat perbedaan. Perbedaannya adalah IGOs anggotanya terdiri

dari negara-negara, sedangkan NGOs anggotanya individu-individu, sebagai contoh

Amnesty International, Greenpeace, internasional bisnis, dan kelompok teroris. Makin

lama jumlah dari NGOs ini meningkat dan efektivitasnya untuk transnasional makin

menjadi lebih relevan dalam dekade ini. Mereka sudah menjadi bagian penting dari

dalam proses kebijakan internasional.

NGOs mengerahkan jaringan global dengan menciptakan organisasi

transnasional, mengumpulkan informasi atas kondisi lokal melalui hubungan

diseluruh dunia, menyiagakan jaringan global kepada anggotanya, menciptakan

respon darurat di sekitar dunia, memobilisasi tekanan dari luar negara. NGOs yang

melakukan hal tersebut turut berpartisipasi dalam konferensi IGOs dengan

mengerahkan organisasi pergerakan sosial transnasional mengenai isu yang beredar

12

dalam IGOs, membangun kesatuan sosial transnasional, dan mendukung

perkembangan IGOs. Mereka memudahkan kerjasama internasional dengan

menyiapkan latar belakang dokumen dan laporan, mendidik delegasi dan wakil negara

untuk membatasi celah teknis, bertindak sebagai aktor ketiga dalam sumber informasi,

mengembangkan pilihan kebijakan, memudahkan persetujuan, dan membawa delegasi

bersama-sama kedalam aktor ketiga.

Ada tiga poin yang dicatat mengenai dampak dari berdirinya NGOs dalam

hubungan internasional. Pertama, banyak organisasi non-pemerintah yang bersifat

otonom ini bekerjasama dengan baik dengan inter-governmental organizations

(IGOs), IGOs merupakan organisasi bentukan negara yang bekerja demi kepentingan

negara si pembuat. Kerjasama antara IGOs dan NGOs biasanya sangat erat dalam

bidang hak asasi manusia dan pembangunan.

Kedua, NGOs telah menjadi bagian yang signifikan dalam percaturan

internasional yang kemudian memunculkan masyarakat sipil global. Sebagai individu

yang berinteraksi dalam dunia internasional, mereka kemudian menjadi

terinternasionalisasi dalam penampilan dan mulai memudarnya ikatan terhadap negara

asal.

Ketiga, pertumbuhan pesat dari NGOs memperlihatkan bahwa telah terjadi

perkembangan cukup menggembirakan dari people power dalam dunia

internasional. Hal ini terjadi terutama karena negara telah gagal dalam merespons

kebutuhan warganya dalam bidang kesehatan, sosial, politik dan pelestarian

lingkungan. Hingga saat ini tren pertumbuhan NGOs dalam hubungan internasional

kontemporer tidak menunjukan tanda-tanda berkurang akan tetapi sebaliknya malah

semakin bertambah.

NGOs melakukan banyak aktivitas di dalam negara, seperti penghubung ke

rekan lokal, penghubung ke pergerakan sosial internasional dan keterampilan

kontemporementer, bekerja dalam arena nasional untuk menyelaraskan kebijakan

negara, menyediakan bantuan kemanusiaan, melindungi orang yang sedang bahaya.

NGOs juga meningkatkan keikutsertaan publik dalam negara dengan mengingatkan

delegasi pemerintah bahwa mereka sedang diawasi, meningkatkan pemahaman

publik, ketransparanan institusi, dan negosiasi internasional, dan provokasi protest.

NGOs beroperasi pada tingkatkan transnasional yang menjadi faktor penentu paling

penting dari kebijakan asing pada nation-states karena dapat melobi pada tingkat

13

nasional dan transnasional. Saat ini telah terdapat lebih dari 5000 NGOs di seluruh

dunia.

Multinational Corporations (MNCs)

NGOs yang terkemuka saat ini adalah perusahaan korperasi multinasional

(MNCs). MNCs adalah pengarah utama dari pengintegrasian ekonomi global dan

menetapkan pertalian yang belum pernah terjadi antara ekonomi di seluruh dunia.

Perluasan perdagangan internasional, investasi dan interaksi finansial yang lain telah

membawa peningkatan terhadap anggota MNCs. MNCs merupakan aktor yang paling

kuat membawa aktivitas komersial untuk dijadikan keuntungan bagi banyak negara.

Dalam hal ini tidak ada wilayah dimana manusia hidup yang tidak terpengaruh oleh

perusaahaan ini. MNCs bergerak secara non-formal karena kegiatannya bertujuan

untuk memenuhi kepentingan ekonomi pada suatu perusahaan, misalnya: McDonald,

KFC, Freeport, Danone, dan Coca-cola Company. Kerjasama industri atau perusahaan

ini yang paling besar dan paling efektif didasarkan di Amerika Serikat, Eropa, dan

Jepang.

MNCs dapat digolongkan menurut macam aktivitas bisnis yang mereka

hasilkan, seperti sumber daya ekstraktif, pertanian, produk industri, transportasi,

perbankan, dan pariwisata. Hal yang paling menonjol dari MNCs adalah kerjasama

keuangan dan industri. Sasaran pokok MNCs adalah memaksimalkan laba. Mereka

sangat efektif dalam mengarahkan kebijakan asing, termasuk yang paling penting,

mereka menetapkan agenda untuk masyarakat internasioanal. Mereka sudah menjadi

faktor utama dalam pengambilan keputusan ekonomi nasioanal. Miller pada tahun

1994 berpendapat bahwa adanya MNCs bisa saja berasal dari ketidakm ampuan

pertumbuhan negara berdaulat untuk mengendalikan dan mengatur sescara efektif

kegiatan ekonmi dalam sektor swasta. Jika itu terjadi maka salah satu dasar pemikiran

internasional atas dasar kedaulatan modern ditiadakan.

Salah satu pengukuran pengaruh MNCs adalah melalui tingkat sumber daya

yang mereka kendalikan. Mereka mempunyai kemampuan fleksibel dalam pergerakan

barang, uang, personel, dan teknologi kebtasan nasional, dan fleksibilitas ini

meningkatkan kekuatan penawaran mereka terhadap pemerintah. Menurut liberalisme,

MNCs adalah ujung tombak pemerintahan dunia baru sejak mereka mempunyai alat-

alat produksi yanhg paling efisien. Ahli ekonnomi liberal berpendapat bahwa efisiensi

global yang ditingjkatkan dari hasil kekayaan diakibatkan oleh kemampuan untuk

14

bebas berinvestasi ke perbatasan internasional. Beberapa ahli ekonomi bahakn

menyambut pengalihan nation-state oleh MNCs sebagai komponen ekonomi utama.

Perspektif merkantilis dan nasionalis berpendapat bahwa MNCs adalah

instrumen negara pemiliknya. Untuk itu, MNCs ini bisa menjadai kepentingan

nasional menyangkut negara ataupun bisa menjadi ancaman kepada negara itu. Marxis

mengangap MNCs sebagai instrumen pengeksploitasi dan sebagai suatu perluasan

imperialisme neggara kapitalis kuat. Kekuasaan monopoli menyebabkan

ketidaksaman dan perkembangan tidak seimbang dalam pembagian kajian

internasional. Dalam dunia sekarang, kombinasi perspektif yaitu suatu pendekatan

elektrik, sepertinya lebih relevan menganggap MNCs seperti halnya masalah ekonomi

lainnya.

Ketika kita mengamati aktivitas MNCs, kita lihat bahwa operasi mereka

menciptakan berbagai peluang dan permasalahan terhadap negara pemiliknya, negara

dimana MNCs berpusat, dan negara dimana suatu MNCs asing beroperasi. Dalam

teorinya, setidaknya ada timbal balik kepentingan yang diakibatkan oleh penciptaan

kekayaan dari negara penyelenggara MNCs itu. Itulah mengapa negara penyelenggara

mempunyai kerugian atau keuntungan dalam berhubungan dengan MNCs.

MNCs mungkin diperlakukan sebagai instrumen pembangunan ekonomi untuk

negara terbelakang. MNCs membahayakan kedaulatan negara yang ditempatinya.

Negara yang ditempatinya bisa saja melepaskan kendali ekonomi atas mereka.

Mereka boleh menciptakan divisi sosial dan politik untuk mencegah perkembangan

industri domestik dalam negara itu. Mereka bisa saja memanipulasi harga ekspor dan

impor di negara itu.

Perusahaan multinasional atau transnasional bisa menjadi bencana nasional

karena rawan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan bisa menjadi kekuatan

penghambat proses demokratisasi di negara-negara sedang berkembang 4.

Ada kecenderungan kuat, para pemimpin pemerintahan atau negara di negara-

negara berkembang tunduk pada kekuatan modal perusahaan-perusahaan

transnasional. Jadi, jangan heran bila banyak kebijakan pemerintah soal perburuhan

misalnya, lebih memihak kepentingan perusahaan transnasional. Dimanapun,

4 http://stikom-ksi2007-desynoerhayati.blogspot.com/2007/11/mnc-dan-strateginya.html

15

perusahaan-perusahaan multinasional selalu berusaha menggunakan setiap celah

untuk mendikte norma internasional5.

Dampak buruk dari perusahaan multinasional yaitu dapat menimbulkan

berbagai kerusakan. Berbagai kerusakan itu antara lain perampasan tanah,

penghancuran tradisi, perampasan hak penduduk atas lingkungan hidup yang sehat,

penghancuran sumber daya alam, serta pelecehan seksual. Dalam menyelesaikan

banyak persoalan, perusahaan-perusahaan multinasional cenderung menghamburkan

uang untuk menyuap tokoh masyarakat, buruh, atau para politisi dan birokrat

Dalam rangka mengurangi dampak negatif MNCs, pemerintah wajib untuk

megintervensi MNCs itu melalui nasionalisasi, inisiasi pemerintah dan keikutsertaan

pemerintah dalam proyek pengembangan gabungan. Lagipula, pemerintah harus

memelihara kendali atas hasil pajak, tingkat inflasi, kebijakan neraca perdagangan,

neraca pembayaran, pembatasan perdagangan, nilai moneter, tenaga kerja, dan

perencanan ekonomi untuk menceagah ketergantungan mereka terhadap MNCs.

Negara boleh menempatkan pembatasan atas perilaku dan kepemilikan cabang dan

kebebasan bisnis.

MNCs berusaha untuk melayani kepentingan nasioanl negara pemilik sebagai

instrumen pembangunan global, suatu mekanisme penyebar ideologi dan alat

diplomasi. Bagaimanapun terdapat banyak konflik antara MNCs dengan negara-

negara pemiliknya, yang meliputi perpajakan, kebijakan perdagangan, dan sanksi

ekonomi MNCs bisa saja tidak mau mengikuti kebijakan pemerintahannya.

Teori Konspirasi

Teori persekongkolan atau teori konspirasi (conspiracy theory) adalah teori-

teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian

peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia,

dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok orang-orang

atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Banyak teori konspirasi yang

mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para

konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik.6

Teori konspirasi adalah teori yang dibangun atas dasar prakonsepsi, asumsi-

asumsi atau bahkan imajinasi yang sudah kita bangun lebih dulu, dan sulit

5 http: lifesupportalchemist.wordpress.com/perusahaan-m...6 http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_persekongkolan

http://id.wikipedia.org/wiki/Politikhttp://id.wikipedia.org/wiki/Sosialhttp://id.wikipedia.org/wiki/Sejarahhttp://id.wikipedia.org/wiki/Rahasia

16

dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Teori konspirasi selalu mengarah pada apa

yang disebut pharanoia within reason. Sehingga menimbulkan semacam pharanoia

dalam akal pikiran. Teori konspirasi juga biasa mengembangkan apa yang dalam ilmu

komunikasi disebut sistimatically distortion of information, informasi yang sengaja

didistorsi secara sistematis, sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Teori

konspirasi juga mengarah pada terrorizing of the truth, meneror kebenaran itu sendiri,

karena sulit dibuktikan.7

Teori ini ada di seputaran gerak dunia global dan merambah hampir kesemua

ranah kehidupan manusia. Dari urusan politik sampai makanan. Bagi orang yang tidak

percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan

waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Bagi para penganutnya teori itu tidak serta-

merta muncul mendunia tanpa ada yang menciptakan polanya 8.

Penganut teori ini pun terbelah dalam dua kubu utama. Kelompok pertama

adalah mereka yang hanya percaya bahwa segala hal mungkin terjadi apabila ada

dukungan argumentasi yang kuat, fakta akurat, data ilmiah, pendapat yang bisa

diverifikasi kebenarannya, tokoh-tokoh yang nyata, sejarah yang memang ada dan

bukan mitos, dan sebagainya. Kelompok ini percaya JFK sebenarnya tidak tertembak,

tetapi diselamatkan oleh mahluk UFO, misalnya. Kelompok kedua adalah mereka

yang percaya tanpa syarat alias mereka yang menganggap apapun yang terjadi sudah

dirancang sedemikian rupa, yang acapkali menghubungkan dengan mitos, legenda,

supranatural, dan sebagainya. Misalnya, mereka percaya bahwa peristiwa 11

September sudah dirancang sebagaimana yang terlihat pada lipatan uang kertas 20

dolar AS; di mana apabila kita melipat uang itu sedemikian rupa akan tercipta gambar

menara kembar yang terbakar.

Teori konspirasi adalah dugaan tentang konspirasi yang sebenarnya atas dasar

indikasi, saat muncul kecurigaan atau adanya petunjuk. Jika teori konspirasi diperkuat

oleh suatu bukti yang definitif, maka terbongkarlah konspirasi dan berakhir. Tetapi

sering bukti nyata yang definitif semacam itu tidak bisa diperoleh9.

Sifat khusus yang membuatnya menjadi menarik karena mengurangi

kompleksitas. Berbagai penyebab kejadian yang rumit dan berlapis-lapis

disederhanakan dalam bentuk kambing hitam. Fungsi teori konspirasi dalam

7 http://islamlib.com/en/page.php?page=article&mode=print&id=4148 http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_persekongkolan9 http://mahaonly.blogspot.com/2006/09/teori-konspirasi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/JFK

17

mereduksi keterkaitannya yang rumit menjadi sederhana membuatnya menjadi alat

ideal bagi propaganda dan agitasi.10

Teori konspirasi sejatinya lahir dari bangunan prakonsepsi, asumsi, praduga

atau bahkan imajinasi yang sudah terbangun mendahului fakta. Hal seperti ini sangat

sulit untuk dipertanggungjawabkan Menurut Dr. Syafii Anwar, teori konspirasi

menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area. Pertama, ketika teori konspirasi

mengarah kepada apa yang disebut sebagai pharanoia within reason. Jadi, selalu ada

semacam pharanoia atau ketakutan yang berlebihan yang selalu mengikut dalam akal

manusia. Hal ini sesuai dengan yang disebut Freud, pencetus psikoanalis, sebagai

penyebab dari mimpi, yakni ketakutan atau keinginan yang berlebihan yang selalu

menekan alam bawah sadar manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan

apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai systematically distortion of

information, informasi yang didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga

sulit untuk dipertanggungjawabkan. Pasti kita juga ingat pepatah yang mengatakan

bahwa kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga,

teori konspirasi juga selalu mengarah kepada terrorizing of the truth. Karena sulit

dibuktikan, maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi

kebenaran 11.

Di berbagai kasus berbau terorisme, teori konspirasi adalah teori yang paling

mudah berkembang. Semakin subur pertumbuhannya ketika pihak-pihak berwenang

gagal memberikan informasi yang masuk akal. Masuk akal dalam artian, informasi

dihadirkan dengan fakta-fakta solid, bukti pendukung memadai, dan alur kronologis

yang jelas.12

Keamanan Internasional

Kajian keamanan internasional dalam studi Hubungan Internasional telah

berlangsung lama. Berakhirnya Perang Dingin telah membuka era baru dalam

pemahaman tentang keamanan. Definisi keamanan pasca Perang Dingin tidak lagi

bertumpu pada konflik ideologis antara blok barat dan blok timur. Namun, kini

definisi keamanan meliputi pula soal-soal ekonomi, pembangunan, lingkungan,

demokratisasi, hak asasi manusia, dan masalah-masalah sosial lainnya.

10 http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=2624&lang=11 (http://indoprogress.blogspot.com/2006/10/konflik-pilkada-aceh-dan-teori.html).12 http://asopian.blogspot.com/2004_09_01_archive.html

18

Masyarakat internasional saat ini dituntut untuk memberikan perhatian pada

masalah keamanan yang menunjukan kedudukannya yang semakin kuat sebagai

instrumen politik luar negeri baik dalam kaitannya dengan tujuan nasional maupun

kepentingan nasional suatu negara, dan bahkan memperlihatkan kedudukannya

sebagai suatu kekuatan yang riil. Bentuk-bentuk kejahatan yang semula bersifat

nasional berkembang menjadi bentuk-bentuk kejahatan yang bersifat internasional

baik dilihat dari segi organisasi, peralatan, metode, dan hal lainnya.

Kejahatan internasional seperti terorisme, penyelundupan, kejahatan

lingkungan, kejahatan HAM, dan sebagainya menunjukan peningkatan cukup tajam

dan berkembang menjadi isu keamanan internasional. Silang hubungan yang

berlangsung dalam proses perubahan global, regional, dan domestik telah membentuk

suatu spektrum ancaman dan gangguan keamanan nasional suatu negara yang bersifat

kompleks. Karena itu isu keamanan regional dan global memerlukan keterlibatan aktif

semua negara untuk mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia. Kerjasama

internasional merupakan bukti dari adanya saling pengertian antar bangsa

(international understanding) sebagai akibat dari adanya interdependensi antar bangsa

dan bertambah kompleksnya kehidupan dalam masyarakat internasional.

Keamanan (security) berarti lebih daripada hanya pertahanan (defense)

melawan ancaman militer. Tetapi di Indonesia masih terdapat dua pandangan para

pakar ilmu politik di Indonesia dalam melihat apakah pengertian pertahanan dan

keamanan merupakan pengertian yang utuh atau dua pengertian yang berdiri sendiri.

Penggunaan kedua konsep tersebut sering kali saling dipertukarkan (interchangeable).

Selain itu, kini para pembuat kebijakan banyak di bawah tekanan pada aspek-aspek

ekonomi, lingkungan dan budaya dari keamanan (transnational security issues seperti

economic security, environmental security dan cultural security).

Terdapat sejumlah strategi bagi perlindungan keamanan nasional yang tersedia

pada negara yaitu:

1. Dapat secara unilateral mengembangkan angkatan bersenjatanya bergabung

dengan negara-negara lain dalam aliansi militer (seperti NATO), atau

tergantung pada organisasi keamanan kolektif (misalnya PBB) untuk

melindunginya dari agresi.

2. Setiap negara harus juga menentukan gabungan deterens (lawan untuk tidak

menyerang dengan pengancaman dengan hukuman) dan pertahanan (menahan

dan menyetop suatu serangan).

19

2.2 Kerjasama Internasional

Dalam konstelasi dunia modern saat ini, tidak ada satu negara di dunia ini

yang dapat bertahan sendiri, walaupun Amerika Serikat yang dianggap sebagai negara

superpower tanpa negara lain tentu akan runtuh. Rasa saling ketergantungan ini telah

memicu semua negara untuk saling melakukan kerjasama dengan negara lain,

kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama yang damai serta saling menguntungkan

bagi negara yang melakukan kerjasama tersebut.

Hal yang paling penting dalam membuat kerjasama internasional atau

kerjasama dengan negara lain adalah adanya kesadaran dari masing-masing pihak

yang terlibat secara etis normatif untuk mematuhi dan tidak melanggar hal-hal yang

telah disepakati. Karena sudah merupakan kesepakatan yang telah dibahas dan

dimusyawarahkan maka negara yang terlibat harus konsisten menjalankan kerjasama

yang telah dibuatnya.

Jenis Kerjasama Internasional

Kerjasama Internasional Menurut Subjeknya

1. Kerjasama antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang merupakan

subjek hukum internasional.

2. Kerjasama internasional antarnegara dan subjek hukum internasional lainnya,

seperti antara International Monetary Fund (IMF) dengan Indonesia.

3. Perjanjian antarsesama subjek hukum internasional selain negara, seperti

antara organisasi internasional satu dengan organisasi internasional lainnya.

Contoh: kerjasama ASEAN dengan Uni Eropa.

Kerjasama Internasional Menurut Isinya 13

1. Segi politis, seperti Pakta Pertahanan yang dibentuk ketika Perang Dingin

untuk saling membendung ideologi lawan. Contoh: NATO, ANZUS, SEATO,

Pakta Warsawa.

2. Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan. Contoh: IMF,

CGI, IBRD, World Bank.

3. Segi hukum, seperti status kewarganegaraan (Indonesia-RRC), ekstradisi

tersangka kejahatan.

13 (http://ariel-realization.blogspot.com/2008/11/kerjasama-internasional.html)

20

4. Segi kesehatan, seperti masalah karantina, penanggulangan wabah yang

melintasi antarnegara (AIDS, SARS dll).

5. Segi teritori, seperti menentukan batas laut dan daratan negara satu dengan

negara lain yang berbatasan langsung.

Kerjasama Internasional Menurut Jenisnya

1. Kerjasama Bilateral, kerjasama ini bersifat khusus karena hanya mengatur hal-

hal yang menyangkut kepentingan kedua negara saja. Oleh karena itu,

kerjasama bilateral biasanya bersifat tertutup. Artinya, sangat sulit bagi

negara lain untuk turut serta dalam kerjasama tersebut. Contoh kerjasama

bilateral: Kerjasama antara Indonesia dan Singapura untuk membantu

memperbaiki pendidikan di Indonesia.

2. Kerjasama Regional, kerjasama ini bersifat tertutup pula karena anggota-

anggotanya terbatas hanya dari wilayah atau regional yang sama. Kerjasama

ini biasanya terjadi karena banyaknya kesamaan antarnegara dalam regional

tersebut. Contoh: ASEAN dan Uni Eropa.

21

OBJEK KAJIAN

Korupsi 14

Definisi korupsi menurut Transparency International adalah perilaku pejabat

publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal

memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan

menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar

mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

perbuatan melawan hukum;

penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;

memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;

merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya:

memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);

penggelapan dalam jabatan;

pemerasan dalam jabatan;

ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara);

menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan

jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan

rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling

ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan

menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan

sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya

pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama

sekali.

Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele

atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan

kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu

14 http://id.wikipedia.org/korupsi

22

sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan

membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan

kriminalitas|kejahatan.

Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara

yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang

legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Adapun kondisi yang mendukung munculnya korupsi adalah:

Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab

langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan

demokratik.

Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah

Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari

pendanaan politik yang normal.

Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.

Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman

lama".

Lemahnya ketertiban hukum.

Lemahnya profesi hukum.

Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa.

Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.

Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal

memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum.

Ketidakadaannya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau

"sumbangan kampanye".

Dampak Negatif dari Korupsi

Demokrasi

Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia

politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good

governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum

dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan

kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan

korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan

masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah,

http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasihttp://id.wikipedia.org/wiki/Transparansi_(politik)http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketertiban_hukum&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Profesi_hukum&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebebasan_berpendapat&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebebasan_media_massa&action=edithttp://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

23

karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau

dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi

mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan

toleransi.

Ekonomi

Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi

dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos

niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi

dengan pejabat korup, dan resiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan.

Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan

mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa

ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan

hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga

mengacaukan "lapangan perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi

dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang

tidak efisien.

Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan

mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan

upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek

masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan

lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat

keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga

mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur; dan menambahkan

tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah.

Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor

keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika,

adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan perpindahan

penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke

dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika yang

memiliki rekening bank di Swiss). Berbeda sekali dengan diktator Asia, seperti

Soeharto yang sering mengambil satu potongan dari semuanya (meminta sogok),

namun lebih memberikan kondisi untuk pembangunan, melalui investasi infrastruktur,

ketertiban hukum, dan lain-lain. Pakar dari Universitas Massachussetts

http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomihttp://id.wikipedia.org/wiki/Ilegalhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sektor_publik&action=edithttp://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_ekonomihttp://id.wikipedia.org/wiki/Afrikahttp://id.wikipedia.org/wiki/Asiahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penagihan_sewa&action=edithttp://id.wikipedia.org/wiki/Penanaman_modalhttp://id.wikipedia.org/wiki/Swisshttp://id.wikipedia.org/wiki/Soehartohttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Universitas_Massachussetts&action=edit

24

memperkirakan dari tahun 1970 sampai 1996, pelarian modal dari 30 negara sub-

Sahara berjumlah US $187 triliun, melebihi dari jumlah utang luar negeri mereka

sendiri. Dalam kasus Afrika, salah satu faktornya adalah ketidak-stabilan politik, dan

juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset pemerintah lama

yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi dorongan bagi para pejabat untuk

menumpuk kekayaan mereka di luar negeri, di luar jangkauan dari ekspropriasi di

masa depan.

Korupsi di Indonesia

Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi

bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.

Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu

menempati posisi paling rendah

Perkembangan korupsi di Indonesia juga mendorong pemberantasan korupsi

di Indonesia. Namun hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum

menunjukkan titik terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi

antar negara yang tetap rendah. Hal ini juga ditunjukkan dari banyaknya kasus-kasus

korupsi di Indonesia 15

Beberapa kasus korupsi di Indonesia di antaranya adalah:

Kasus dugaan korupsi Soeharto: dakwaan atas tindak korupsi di tujuh yayasan

Pertamina: dalam Technical Assistance Contract dengan PT Ustaindo Petro

Gas.

Bapindo: pembobolan di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) oleh Eddy

Tansil.

HPH dan dana reboisasi: melibatkan Bob Hasan, Prajogo Pangestu, sejumlah

pejabat Departemen Kehutanan, dan Tommy Soeharto.

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI): penyimpangan penyaluran dana

BLBI.

Abdullah Puteh: korupsi APBD.

Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Pemberantasan korupsi di Indonesia dapat dibagi dalam 3 periode, yaitu pada

15 http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi_di_Indonesia

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sub-Sahara&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sub-Sahara&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekspropriasi&action=edithttp://www.suaramerdeka.com/harian/0505/19/opi01.htmhttp://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/04/0901.htmhttp://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_dugaan_korupsi_Soehartohttp://id.wikipedia.org/wiki/Pertaminahttp://id.wikipedia.org/wiki/Bapindohttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Eddy_Tansil&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Eddy_Tansil&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=HPH&action=edithttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dana_reboisasi&action=edithttp://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Hasanhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prajogo_Pangestu&action=edithttp://id.wikipedia.org/wiki/Tommy_Soehartohttp://id.wikipedia.org/wiki/Bantuan_Likuiditas_Bank_Indonesiahttp://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Putehhttp://id.wikipedia.org/wiki/APBD

25

masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.

Orde Lama 16

Dasar Hukum: KUHP (awal), UU 24 tahun 1960.

Antara 1951 - 1956 isu korupsi mulai diangkat oleh koran lokal seperti

Indonesia Raya yang dipandu Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.

Pemberitaan dugaan korupsi Ruslan Abdulgani menyebabkan koran tersebut

kemudian di bredel. Kasus 14 Agustus 1956 ini adalah peristiwa kegagalan

pemberantasan korupsi yang pertama di Indonesia, dimana atas intervensi PM

Ali Sastroamidjoyo, Ruslan Abdulgani, sang menteri luar negeri, gagal

ditangkap oleh Polisi Militer. Sebelumnya Lie Hok Thay mengaku

memberikan satu setengah juta rupiah kepada Ruslan Abdulgani, yang

diperoleh dari ongkos cetak kartu suara pemilu. Dalam kasus tersebut mantan

Menteri Penerangan kabinet Burhanuddin Harahap, Syamsudin Sutan

Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe berhasil

ditangkap.

Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar justru kemudian dipenjara tahun 1961

karena dianggap sebagai lawan politik Soekarno.

Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan asing di Indonesia tahun

1958 dipandang sebagai titik awal berkembangnya korupsi di Indonesia.

Upaya Jenderal AH Nasution mencegah kekacauan dengan menempatkan

perusahaan-perusahaan hasil nasionalisasi di bawah Penguasa Darurat Militer

justru melahirkan korupsi di tubuh TNI.

Jenderal Nasution sempat memimpin tim pemberantasan korupsi pada masa

ini, namun kurang berhasil.

Pertamina sebagai penghasil uang terbesar merupakan lahan korupsi paling

subur.

Kolonel Soeharto, panglima Diponegoro saat itu, yang diduga terlibat dalam

kasus korupsi gula, diperiksa oleh Mayjen Suprapto, S Parman, MT Haryono,

dan Sutoyo dari Markas Besar Angkatan Darat. Sebagai hasilnya, jabatan

panglima Diponegoro diganti oleh Letkol Pranoto, Kepala Staffnya. Proses

hukum Soeharto saat itu dihentikan oleh Mayjen Gatot Subroto, yang

16 https://sites.google.com/site/bayyouart/korupsi-dan-korupsi

26

kemudian mengirim Soeharto ke Seskoad di Bandung. Kasus ini membuat DI

Panjaitan menolak pencalonan Soeharto menjadi ketua Senat Seskoad.

Orde Baru

Dasar Hukum: UU 3 tahun 1971.

Korupsi orde baru dimulai dari penguasaan tentara atas bisnis-bisnis strategis.

Reformasi

Dasar Hukum: UU 31 tahun 1999, UU 20 tahun 2001.

Pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini dilakukan oleh beberapa institusi:

1. Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi).

2. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

3. Kepolisian.

4. Kejaksaan.

5. BPKP.

6. Lembaga non-pemerintah.

Korupsi Transnasional

Korupsi sekarang sudah tidak mengenal lagi batas-batas wilayah. Dengan kata

lain, korupsi kini sudah menjadi fenomena lintas negara. Korupsi itu sendiri bahkan

berinteraksi dengan berbagai bentuk kejahatan terorganisasi lintas negara yang lain.

Sedemikian buruknya dampak yang ditimbulkan oleh praktik-praktik korupsi,

sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara khusus mengeluarkan Konvensi

PBB Menentang Korupsi. Konvensi tersebut menekankan perlunya peningkatan

kapasitas internal masing-masing negara serta upaya memperkuat kerja sama

internasional untuk mencegah dan memberantas korupsi.

Secara substantif, Konvensi PBB Menentang Korupsi menorehkan sejarah

baru dalam evolusi hukum internasional. Karena untuk pertama kalinya, mekanisme

penarikan aset hasil tindak korupsi secara komprehensif diatur di dalam konvensi

tersebut. Konvensi ini mengakui hak negara yang menjadi korban dan dirugikan oleh

tindak korupsi, untuk menarik kembali aset-aset negara yang disimpan oleh para

koruptor di luar negeri. Agar upaya pengembalian aset bisa berhasil secara maksimal,

diperlukan kerja sama internasional dalam penyelidikan beserta tindak lanjut

http://www.kpk.go.id/

27

penyelidikan itu, termasuk peningkatan kapasitas para aparat penegak hukum, kerja

sama penegakan hukum, serta ekstradisi para pelaku tindak pidana korupsi.

Pemerintah Indonesia telah menandatangani Konvensi PBB untuk Menentang

Korupsi (United Nations Convention Against Corruption) pada bulan Desember 2003

di New York. Sudah lebih dari sembilan puluh sembilan negara penandatangan

konvensi tersebut. Pasca penandatanganan konvensi tersebut berdampak terhadap

strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia yang selama ini

menitikberatkan kepada pendekatan yang bersifat represif, dan kurang

mempertimbangkan pendekatan yang bersifat preventif dan rehabilitatif.

Perubahan strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi pasca adopsi

Konvensi PBB perlu dilaksanakan sesuai dengan tujuan konvensi dan materi muatan

konvensi yang telah disepakati.

Konvensi PBB 2003 memuat 7 ketentuan meliputi: Ketentuan Umum;

tindakan pencegahan; kriminalisasi dan penegakan hukum; kerjasama internasional;

pengembalian asset; bantuan teknis dan tukar menukar informasi; mekanisme

pelaksanaan konvensi; dan ketentuan penutup.

Tujuan umum konvensi (Pasal 1) untuk meningkatkan dan memperkuat

tindakan-tindakan untuk mencegah dan memberantas korupsi agar lebih efisien dan

efektif; meningkatkan, memfasilitasi dan mendukung kerjasama internasional dan

bantuan teknis dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, termasuk

pengembalian asset; dan meningkatkan integritas, akuntabilitas dan manajemen yang

baik dalam pelayanan public dan pengelolaan milik negara.

Pembentukan peraturan perundang-undangan baru khusus ditujukan untuk

pencegahan dan pemberantasan korupsi transnasional tampaknya diperlukan atas

dasar pertimbangan sebagai berikut:

1. Konvensi PBB 2003 secara substansial telah banyak mengadopsi sistem

hukum Common Law dibandingkan dengan sistem hukum Civil Law. Hal ini

terbukti dengan beberapa pernyataan dalam mukadimah yang menetapkan

korupsi sebagai kejahatan transnasional dan dihubungkan dengan implikasi

luas terhadap pembangunan berkelanjutan dengan konsekuensi logis bahwa

aspek pengembalian asset hasil korupsi sebagai asset pembangunan yang tiada

ternilai. Dalam kaitan ini sesungguhnya tindakan pengembalian asset bukan

lagi bersifat kepidanaan melainkan sudah memasuki rezim hukum keperdataan

yang lebih mengutamakan prinsip win-win solution daripada prinsip win-lose

28

solution. Dalam kaitan ini sudah terjadi pergeseran pandangan terhadap

hakekat dan makna penyelesaian kasus korupsi yang bersifat lintas batas

Negara. Apalagi korupsi yang semula merupakan individual crime atau white

collar crime kemudian saat ini sudah merupakan organized crime dan

systematic white collar crime. Kualifikasi tersebut sekaligus menunjukkan

bahwa penegakan hukum terhadap korupsi bukan tugas yang mudah akan

tetapi sangat kompleks dan melibatkan sistem birokrasi yang bergandengan

tangan erat dengan sektor swasta. Hasil penelitian mengenai coorporate crime

yang merugikan negara menunjukkan bahwa prinsip win-lose tidak lagi ampuh

di bandingkan dengan prinsip win-win dalam menyelesaikan kasus-kasus

coorporate crime yang merugikan negara.

2. Rezim hukum pidana konvensional tidak mengakui pola penyelesaian win-win

solution, kecuali tujuan pembalasan, penjeraan dan tujuan kemanfaatan bagi

masyarakat luas di mana pertanggungjawaban pidana diletakkan kepada

individu pelaku kejahatan; dan baru pada tahun 1990-an diakui korporasi

sebagai subjek tindak pidana korupsi. Sehubungan dengan tindak pidana

korupsi dalam abad 20 sudah merupakan organized crimes sebagaimana

diakui dalam Konvensi Transnational Organized Crimes, maka telah terjadi

pergeseran paradigma dari coorporate crime of corruption menjadi organized

crime of corruption; suatu pergeseran bentuk baru dari subjek pelaku tindak

pidana korupsi yang bersifat transnasional. Bentuk dan modus operandi baru

dalam perkembangan tindak pidana korupsi tersebut belum dapat dijangkau

oleh Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 juncto Undang-undang Nomor 20

tahun 2001 tentang Perubahan UU Nomor 31 tahun 1999 karena organized

crime of corruption transnasional memerlukan payung hukum yang dapat

menjangkau ke luar batas territorial.

Political will Pemerintah Indonesia dalam upaya melawan korupsi

transnasional, yang sejalan dengan prinsip-prinsip Konvensi PBB Menentang

Korupsi, sebetulnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Keterlibatan

Indonesia dalam berbagai perjanjian internasional antikorupsi adalah bukti keinginan

Pemerintah Indonesia untuk sungguh-sungguh menegakkan pemberantasan korupsi.

Sejarah Indonesia ikut terlibat pemberantasan korupsi sudah berlangsung sejak

lama. Pemerintah Indonesia telah menandatangani Perjanjian Palermo untuk

29

Mencegah dan Melawan Kejahatan Transnasional Terorganisir pada bulan Desember

2000. Tiga tahun setelah penandatanganan Konvensi Palermo, konferensi tingkat

tinggi guna mempersiapkan penandatanganan Konvensi PBB Menentang Korupsi

digelar di Merida, Meksiko, 9-11 Desember 2003. Dua konvensi itu telah ikut

ditandatangani Pemerintah Indonesia.

Setelah terlibat dalam sejumlah proses itu, pemerintah Indonesia

mengumumkan UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi, yang

diamendemen dengan UU No 20 Tahun 2001, serta UU No 15 Tahun 2002 tentang

Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering). Selanjutnya dibentuk pula UU

No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK).

Diumumkannya berbagai UU antikorupsi tersebut adalah sederet bukti upaya

pemerintah agar hukum nasional yang terkait pemberantasan korupsi bisa memenuhi

standar internasional, baik yang secara prinsip tercantum di dalam Konvensi Palermo

2000 maupun Konvensi Merida 2003 17.

Menghadapi tindak pidana korupsi terorganisasi dan bersifat lintas batas

territorial yang sulit pembuktiannya diperlukan koordinasi lintas kelembagaan

penegakan hukum termasuk KPK. Kasus-kasus tindak pidana korupsi selalu

melibatkan aktivitas perbankan dan juga keterangan ahli dan pembuktian yang

memadai sehingga dalam menghadapi tindak pidana korupsi yang sudah sistemik dan

meluas diperlukan kerjasama yang intensif dan berkesinambungan antara lembaga

penegakan hukum baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat bilateral dan

multilateral. Kesulitan-kesulitan selalu dihadapi oleh lembaga-lembaga penegakan

hukum ketika harus berhubungan dengan pihak terkait seperti Bank Indonesia, atau

pimpinan perbankan. Kesulitan ini semakin nyata ketika keperluan memperoleh bukti-

bukti, saksi-saksi atau dokumen-dokumen yang berada di negara lain. Koordinasi dan

kerjasama penegakan hukum merupakan posisi kunci yang menentukan keberhasilan

pencegahan dan pemberantasan korupsi yang bersifat organized dan transnasional.

17 http://www.antikorupsi.org/new/index.php?option=com_content&view=article&id=2025:korupsi,-integritas-pemerintah,-dan-konvensipbb&catid=42:rokstories&Itemid=106&lang=en

30

PEMBAHASAN

Korupsi yang semakin meluas merupakan salah satu bentuk kejahatan yang

sulit dihilangkan. Cakupannya sekarang tidak hanya di wilayah domestik saja, tapi

juga telah melewati batas-batas negara sehingga bersifat transnasional. Dengan begitu,

korupsi bisa disebut sebagai salah satu bentuk dari transnational crimes.

James N. Rosenau mendefinisikan transnasional sebagai proses dimana

hubungan internasional yang dilakukan oleh negara bangsa dilengkapi dengan

hubungan antar individu, kelompok dan masyarakat yang memiliki konsekuensi

penting pada hubungan internasional. Sebagai transnational crime, korupsi

transnasional biasanya dilakukan oleh orang atau sekelompok orang yang memiliki

kepentingan yang sama dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang

telah ditentukan serta melewati batas-batas negara. Dari hal tersebut bisa kita lihat

adanya suatu konspirasi antar individu dan atau negara dalam pencapaian tujuan

tertentu yang melewati batas negara.

Teori konspirasi sangat melekat dengan korupsi. Karena pihak yang terkait di

dalam korupsi transnasional sudah tentu melakukan persekongkolan agar semua

tujuannya dapat dicapai. Maka bila begitu pihak-pihak yang melakukan korupsi

transnasional bisa saja disebut sebagai terorisme karena cakupannya tidak hanya

domestik. Karena pihak-pihak itu melakukan serangkaian kegiatan yang terencana

secara sistematik hanya untuk menguntungkan diri sendiri saja, mendapatkan

kekuasaan dan merugikan pihak lain yang tidak bersalah. Dan tentu saja korupsi

transnasional akan menggangu keamanan internasional.

Korupsi transnasional telah mengundang PBB untuk ikut campur tangan.

Sebagai salah satu bentuk solusi menangani korupsi transnasional, maka disepakati

Konvensi PBB Melawan Korupsi (United Nations Convention Against Corruption).

Pada 2005, UNCAC ditandatangani oleh pemerintah Indonesia, untuk selanjutnya

diratifikasi bersama-sama dengan "Konvensi PBB Menentang Kejahatan

Transnasional Terorganisasi" (UN Convention Against Transnational Organized

Crimes) Tahun 2000.

Tonggak utama UNCAC, yang berlaku efektif sejak bulan Desember 2005,

adalah diciptakannya mekanisme pengembalian aset (asset recovery) hasil tindak

pidana korupsi yang untuk pertamakalinya diatur secara komprehensif. Konvensi ini

31

juga mengakui hak negara yang menjadi korban dan dirugikan dari tindak pidana

korupsi, untuk dapat memperoleh lagi pengembalian aset-aset mereka.

Selain dicantumkannya ketentuan yang merupakan terobosan besar dalam

proses pengembalian aset hasil korupsi, ketentuan mengenai larangan pencucian uang

juga tercantum dalam substansi Konvensi PBB.

Upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, sebagaimana tercantum dalam

UNCAC, juga tidak sebatas yang melibatkan lembaga negara, tetapi juga yang di

sektor swasta. Sebab jika dicermati, pencegahan dan kriminalisasi tindak pidana di

sektor swasta sudah diuraikan secara terperinci dalam UNCAC, sebagaimana dapat

kita baca pada tiga pasal konvensi itu.

Pasal 12 UNCAC menyebutkan, negara pihak berkewajiban untuk mencegah

korupsi yang melibatkan sektor swasta dengan antara lain meningkatkan sistem

akuntansi dan standar audit. Selanjutnya pada Pasal 21 disepakati, bahwa negara

pihak berkewajiban mengadopsi legislasi nasional maupun langkah-langkah yang

diperlukan dalam mengkriminalisasi tindak pidana korupsi di sektor swasta.

Terdapat beberapa kelemahan pada UNCAC ini dalam pemberantasan korupsi

di Indonesia, yaitu:

1. Seiring dilakukannya ratifikasi terhadap UNCAC, sejumlah kebijakan

diupayakan ditempuh pemerintah Indonesia. Selain mencegah korupsi di

sektor swasta melalui peningkatan sistem akuntansi, sejumlah langkah dan

legislasi nasional juga diadopsi untuk mempidanakan tindak pidana korupsi di

sektor swasta. Selain itu, tindak penggelapan hak milik di sektor swasta juga

dipidanakan. Namun, pemberantasan korupsi di sektor swasta tidaklah

segampang membalikkan telapak tangan. Pemberantasan korupsi di sektor

swasta belum secara jelas diatur, serta pengenaan sanksinya. Contohnya, UU

No.31 Tahun 1999 dan UU No.20 Tahun 2001 mengatur mengenai

pencegahan dan pemberantasan korupsi, termasuk pelaku tindak pidana baik

dari kalangan publik maupun swasta, khususnya pada Pasal 20 UU No.31

Tahun 2001. Korupsi yang dilakukan oleh korporasi dalam pasal 20 tersebut

dinilai belum tegas. Sebab, praktik korupsi hanya dikenai sanksi administratif,

dan bukan sanksi pidana.

2. Di dalam UNCAC, terminologi yang digunakan terkait dengan subjek tindak

pidana korupsi adalah "pejabat publik". Pejabat publik sebagaimana dimaksud

dalam Konvensi PBB itu adalah (i) setiap orang yang memegang suatu jabatan

32

legislatif, eksekutif, administratif atau yudisial, baik ditunjuk atau dipilih, tetap

atau sementara, dibayar atau tidak, (ii) setiap orang lainnya yang

melaksanakan fungsi publik, termasuk suatu instansi publik, atau yang

memberikan pelayanan publik, (iii) setiap orang yang ditetapkan sebagai

pejabat publik. Konsekuensinya, subjek korupsi dalam Konvensi UNCAC

lebih luas ketimbang subjek korupsi yang diatur dalam UU No.28 Tahun 1999

dan UU No.31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No.20

Tahun 2001. Subjek UU No.31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan

UU No.20 Tahun 2001 adalah "pegawai negeri" atau "penyelenggara negara".

Terlepas dari semua kendala yang menghadang, korupsi transnasional tetap

diberantas meskipun sulit. Karena itu dibutuhkan suatu kerjasama internasional antar

negara-negara dan juga individu agar masalah ini bisa diselesaikan. Adanya badan-

badan pemberantas korupsi di dalam negeri merupakan langkah awal. Karena bila

korupsi dalam negeri bisa teratasi, maka korupsi transnasional sedikit demi sedikit

juga akan bisa diatasi.

33

KESIMPULAN

Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi

bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.

Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu

menempati posisi paling rendah. Perang melawan korupsi di Indonesia telah

dilakukan sejak tahun 1967 dengan pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi

melalui Keputusan Presiden No. 228/1967.

Kasus korupsi yang semakin marak di Indonesia sekarang meluas menjadi

korupsi transnasional atau korupsi yang melewati batas-batas negara dan tidak hanya

melibatkan aktor negara saja tapi juga aktor non-negara. Hal ini tentu akan

mengganggu keamanan internasional. Teori konspirasi sangat melekat pada korupsi.

Hai itu dihubungkan dengan adanya persekongkolan antar individu dan atau negara

untuk mencapai tujuan tertentu dan tujuan ini dilakukan dengan cara yang sistematik

dan merugikan pihak lain. Karena itu korupsi bisa digolongkan menjadi transnational

crime.

Meskipun menemui berbagai kendala, pemberantasan korupsi transnasional

dilakukan oleh negara-negara dengan melakukan suatu kerjasama internasional.

Cerminan dari pemberantasan korupsi ini misalnya disepakatinya Konvensi PBB

Melawan Korupsi (United Nations Convention Against Corruption), juga kesepakatan

kerjasama antar negara dan individu dalam pemberantasan korupsi lainnya.

http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/19/opi01.htmhttp://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/04/0901.htm

34

DAFTAR REFERENSI

http://asopian.blogspot.com/2004_09_01_archive.html

http://forum2004.portalhukum.com/index.php?name=News&file=article&sid=20

http://id.wikipedia.org

http://islamlib.com/en/page.php?page=article&mode=print&id=414

http://www2.dw-world.de/indonesia/Politik_Wirtschaft/1.185255.1.html

http://www.antikorupsi.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=10939

http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=BeritaDaerah&op=detail_berita_daer

ah&id=236

http://www.detikfood.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/21/time/1329

45/idnews/562798/idkanal/10

http://www.goodgovernancebappenas.go.id/archive_wacana/kliping_wawasan/Klip_

wsn_2006/wawasan_170.htm

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/12/11/0033.html

http://www.kompas.com

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/politik-hukum/pengembalian-aset-

korupsi-masukkan-konverensi-internasional-anti-korupsi-3.html

http://www.suarapembaruan.com

http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=7784&coid=1&caid=34

http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=2624&lang=

http://Lilik Mulyadigagasanhukum.wordpress.com/2009/04/20/

Telaah Kritis Permohonan Pengujian Materiil Undang-Undang Komisi

Pemberantasan Korupsi Eddy O.S Hiariej pukat.hukum.ugm.ac.id/.../

http://stikom-ksi2007-desynoerhayati.blogspot.com/2007/11/mnc-dan

strateginya.html.

http: lifesupportalchemist.wordpress.com/perusahaan-m... .

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_persekongkolan

http://mahaonly.blogspot.com/2006/09/teori-konspirasi.html

http://indoprogress.blogspot.com/2006/10/konflik-pilkada-aceh-dan-teori.html

http://ariel-realization.blogspot.com/2008/11/kerjasama-internasional.html

http://http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi

http://asopian.blogspot.com/2004_09_01_archive.htmlhttp://forum2004.portalhukum.com/index.php?name=News&file=article&sid=20http://id.wikipedia.org/http://islamlib.com/en/page.php?page=article&mode=print&id=414http://www2.dw-world.de/indonesia/Politik_Wirtschaft/1.185255.1.htmlhttp://www.antikorupsi.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=10939http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=BeritaDaerah&op=detail_berita_daerah&id=236http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=BeritaDaerah&op=detail_berita_daerah&id=236http://www.detikfood.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/21/time/132945/idnews/562798/idkanal/10http://www.detikfood.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/21/time/132945/idnews/562798/idkanal/10http://www.goodgovernancebappenas.go.id/archive_wacana/kliping_wawasan/Klip_wsn_2006/wawasan_170.htmhttp://www.goodgovernancebappenas.go.id/archive_wacana/kliping_wawasan/Klip_wsn_2006/wawasan_170.htmhttp://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/12/11/0033.htmlhttp://www.kompas.com/http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/politik-hukum/pengembalian-aset-korupsi-masukkan-konverensi-internasional-anti-korupsi-3.htmlhttp://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/politik-hukum/pengembalian-aset-korupsi-masukkan-konverensi-internasional-anti-korupsi-3.htmlhttp://www.suarapembaruan.com/http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=7784&coid=1&caid=34http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=2624&lang=http://stikom-ksi2007-desynoerhayati.blogspot.com/2007/11/mnc-danhttp://id.wikipedia.org/wiki/Teori_persekongkolanhttp://mahaonly.blogspot.com/2006/09/teori-konspirasi.htmlhttp://indoprogress.blogspot.com/2006/10/konflik-pilkada-aceh-dan-teori.htmlhttp://ariel-realization.blogspot.com/2008/11/kerjasama-internasional.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi

35

https://sites.google.com/site/bayyouart/korupsi-dan-korupsi

http://www.antikorupsi.org/new/index.php?option=com_content&view=article&id=2

025:korupsi,-integritas-pemerintah,-dan-konvensipbb&catid=42:rokstories&

Itemid=106&lang=en