Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

of 68/68
ANALISA LANJUT SDKI 2007 Kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertilitas PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL 2009 7
  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    16
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

  • ANALISA LANJUT SDKI 2007

    Kontribusi pemakaian alatkontrasepsi terhadap

    fertilitas

    PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSIBADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL

    2009

    7

  • Laporan ini merupakan hasil analisis lanjut dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesai (SDKI ) tahun2007, yang bertujuan menggali lebih mendalam temuan-temuan strategis yang berkaitan denganfertilitas, keluarga berencana dan kesehatan ibu dan anak. Selain itu ada satu analisis lanjut dari dataMini Survei.Laporan analisis lanjut ini terdiri dari 10 buku yaitu : (1) Kelangsungan pemakaian kontrasepsi (2) UnmetNeed dan Kebutuhan Pelayanan KB (3) Karakteristik PUS MUPAR menurut provinsi dan kabupaten (4)Proximate Determinant (5) Keinginan remaja untuk ber KB dan jumlah anak yang diinginkan dimasayang akan datang (6) Faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi jangka panjang (MKJP) (7)Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap Fertilitas (8) KB Postpartum dan Post Aborsi (9)Pengetahuan, Sikap, perilaku ber KB Pasangan Usia Subur Muda(10). Faktor yang mempengaruhipengambilan keputusan tentang jumlah anak yang diinginkan

    Informasi lebih lanjut tentang buku laporan hasil penelitian, dapat menghubungi Puslitbang KB danKesehatan Reproduksi, BKKBN Jl. Permata no 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta

  • ANALISA LANJUT SDKI 2007

    Kontribusi pemakaian alatkontrasepsi terhadap

    fertilitas

    Penulis :Sumini,

    Yamah Tsalatsa,Wahyono Kuntohadi

    PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSIBADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL

    2009

    7

  • ANALISA LANJUT SDKI 20077. Kontribusi pemakaian Alat kontrasepsi terhadap

    fertilitas

    PenulisSumini,Yamah Tsalatsa,Wahyono Kuntohadi

    xvii+35 halISBN : 978-602-8633-17-8

    Hak cipta @2009 pada penerbit dilindungi Undang-UndangPenerbit :Penerbit KB dan Kesehatan Reproduksi, BKKBN Jl. Permata 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta -13650

  • KATA PENGANTAR

    SDKI 2007 adalah survei demografi dan kesehatan berskala nasional yang dilakukan di33 provinsi dan merupakan survei ke enam yang diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1987.Survei SDKI 2007 mempunyai data yang cukup lengkap dan menarik untuk dianalisa lebih lanjutdan mendalam untuk mengetahui faktor-faktor dan karakteristik yang berhubungan dengan kasustertentu dalam rangka mempelajari dan mendalami isu-isu khusus yang strategis.

    Penentuan topik untuk analisa lanjut ini dilakukan melalui suatu proses yang diawali daripertemuan dengan komponen di lingkungan BKKBN untuk mendapatkan masukan danmemperoleh informasi tentang prioritas program. Cukup banyak topik yang diajukan, namundengan keterbatasan dana yang tersedia maka dalam tahun 2009 dengan anggaran APBN telahdipilih 10 topik yang dianggap prioritas untuk dilakukan analisa lebih lanjut. Salah satu topiktersebut adalah .

    Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para penulis baik dari BKKBN, Lembaga Demografi Fakultas EkonomiUniversitas Indonesia, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Madamaupun Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Indonesia

    Kami menyadari bahwa analisis ini masih jauh dari sempurna. Namun demikian kamimengharapkan analisis ini dapat bermanfaat bagi para penentu kebijakan dan para pengelolaprogram untuk membuat program-program intervensi. Untuk penyempurnaan tulisan ini,khususnya untuk penerbitan di masa mendatang, saran serta kritik yang membangun sangat kamihargai. Semoga upaya kita ini mendapatkan ridho dari Tuhan yang Maha Esa.

    Jakarta, Desember 2009PUSLITBANG KB DAN KESEHATAN REPRODUKSIKepala,

    DR. Ida Bagus Permana, MSc.

    PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU BERKB PASANGAN USIA SUBUR MUDA DI INDONESIA

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitasiii

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR ............................................................................................................................................ iDAFTAS ISI ...............................................................................................................................................................iiiRINGKASAN .............................................................................................................................................................v

    BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 11.2 Tujuan Penulisan....................................................................................................... 2

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................3BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................................7BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    3.1 Karakteristik Responden............................................................................................ 93.2 Pemakaian dan masalah kesehatan selama pemakaian alat kontrasepsi ..................... 123.3 Layanan KB ............................................................................................................ 183.4 Analisis variabel-variabel yang berasosiasi dengan pemakaian alat Kontrasepsi ...... 223.5 Analisis Persamaan Regresi Linier Berganda Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap

    Fertilitas ................................................................................................................. 233.6 Analisis Hubungan antar Jenis Pemakaian Alat Kontrasepsi dengan Tingkat

    Fertilitas ................................................................................................................. 29

    BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................................................. 31

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 33

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas v

    ANALISA LANJUT SDKI 20077. Kontribusi pemakaian Alat kontrasepsi

    terhadap fertilitas

    PenulisSumini,Yamah Tsalatsa,Wahyono Kuntohadi

    RINGKASANAkhir-akhir ini banyak ahli dan pengamat kependudukan memberikan

    perhatian pada studi keluarga berencana (Wiyono, 2008). Setidaknya terdapattiga alasan utama mengapa titik perhatian tertuju pada program keluargaberencana. Pertama, keberhasilan program keluarga (KB) di masa orde barudalam menekan laju pertumbuhan penduduk sarat dengan sentralisme. Kedua,KB tidak lagi menjadi prioritas pembangunan di era otonomi daerah. Ketiga,kekhawatiran terjadinya ledakan penduduk (baby boom) di tahun 2015 yangdiperkirakan mencapai 300 juta jiwa apabila program KB tidak berjalan denganbaik. Oleh karena itu, program keluarga berencana perlu kembali digalakkansebagai bagian penting untuk mengendalikan angka kelahiran.

    Berbagai tulisan menunjukkan keberhasilan program KB dalammengendalikan angka kelahiran yang ditandai dengan penurunan Total FertilityRate (TFR). Sejak tahun 1970 hingga tahun 1991 TFR menurun hingga mencapai3,0. Tahun 1995 TFR mengalami penurunan menjadi 2,8, dan mencapai 2,6 ditahun 2007. Penurunan angka kelahiran tersebut berkaitan dengan pemakaianalat kontrasepsi. Data menunjukkan adanya pola hubungan antara pemakaianalat kontrasepsi dengan rendahnya fertilitas. Beberapa provinsi di Indonesiayang angka fertilitasnya rendah seperti di Provinsi DIY (1,8) memiliki angkaprevalensi kontrasepsi yang tinggi (66 persen), sedangkan di Provinsi NTTfertilitasnya cukup tinggi (4,1) ternyata angka prevalensi kontrasepsinya hanya42 persen. Namun demikian ditemukan pula provinsi dengan tingkat fertilitasrendah dan angka prevalensi kontrasepsi yang juga rendah. Sebagai contoh diProvinsi DKI Jakarta angka kelahirannya 2,1, sedangkan angka prevalensikontrasepsi hanya 60 persen (dibawah angka nasional 61 persen). Kondisi inimengindikasikan pemakaian alat kontrasepsi sebagai salah satu variabel yangsecara langsung berpengaruh terhadap fertilitas kontribusinya tidak sama di

  • vi Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    tiap daerah. Untuk itu perlu dilakukan studi lanjut mengenai kontribusipemakaian alat kontrasepsi terhadap fertilitas.

    Penelitian ini bertujuan untuk :1. Mengetahui kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertillitas2. Mengidentifikasi metode kontrasepsi yang efektif dalam menekan fertilitas3. Menganalisis faktor-faktor yang bersosiasi dengan pemakaian alat

    kontrasepsi

    Secara demografis, fertilitas diartikan sebagai hasil reproduksi yangditunjukkan dengan banyaknya bayi lahir hidup (Hartanto, 1994). Fertilitas inimerupakan salah satu penyumbang tingginya angka kelahiran selain mortalitasdan migrasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikanangka kelahiran adalah melalui Program Keluarga Berencana (KB), salahsatunya melalui pemakaian alat kontrasepsi oleh pasangan usia subur.

    Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu dari sekian banyak variabelyang secara langsung berpengaruh terhadap angka kelahiran (lihat Freedman,1975 ; Davis and Blake 1956). Adapun cara kontrasepsi yang termasuk didalamnya adalah IUD, pil hormon, suntikan hormon, kondom, sterilisasi, dannorplant (Singarimbun, 1987; Hatcher, et.al, 1997).

    Dari berbagai studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwapemakaian alat kontrasepsi terbukti mampu menurunkan angka kelahiran(Ananta, et.al, 1993; Bongaarts, 1978; Hull, 1976; Becker, 1960; Easterlin, 1958).Sebagai contoh di Nepal, penggunaan alat kontrasepsi berhasil menurunkanangka kelahiran menjadi 4,2, sementara di India angka ini mencapai 3,5 danBangladesh sebesar 2 (Mishra, Jayaraman dan Arnold, 2009). Sementara itupenelitian Boongaarts, 2003; Blacher, et al, 2005 menyebutkan pemakaian alatkontrasepsi pada perempuan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan yangtidak berpendidikan.

    Studi yang lain menemukan tingkat pendidikan akan meningkatkankontrol terhadap alat kontrasepsi dan pengendalian fertilitas (UN, 1993).Pendidikan memfasilitasi perolehan informasi tentang keluarga berencana,meningkatkan komunikasi suami-istri, dan akan meningkatkan pendapatanyang memudahkan pasangan untuk menjangkau alat kontrasepsi. Faktor lainyang berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi adalah kondisi sosialekonomi. Kondisi perekonomian rumah tangga yang kurang baik ditandai olehrendahnya daya beli masyarakat termasuk kemampuan mereka untuk membelialat kontrasepsi. (Bongaarts, 2001; USAID, 2007)

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas vii

    Pemakaian alat kontrasepsi tidak terlepas dari peran serta penggunanya.Kajian Oppong (1984) di Ghana dan Nigeria menunjukkan rendahnya peranserta suami dalam penggunaan alat kontrasepsi. Peran serta suami dalam prosespengambilan keputusan pemakaian alat kontrasepsi lebih dipengaruhi olehpengalaman hidup yang dijalani semenjak masih kanak-kanak (Miller, 1992).Idealnya, terkait dengan upaya penundaan kehamilan atau kelahiran anakberikutnya setelah anak pertama lahir, hal yang penting dilakukan adalahmengatur jarak kehamilan. Upaya untuk mengatur jarak kehamilan ataukelahiran ini dapat dilakukan dengan menggunakan kontrasepsi (Sunarto,2009).

    Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Survei Demografi danKesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dengan responden wanita pernah kawinusia 15-49 tahun dan tidak sedang hamil. Teknik analisis yang digunakan adalahtabulasi silang dengan uji asosiasi dan tingkat korelasi ordinal, regresi linierberganda untuk melihat apakah layanan KB dan penggunaan alat kontrasepsimemiliki kontribusi pada perubahan tingkat fertilitas, serta regresi logisticbinary. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

    Tabel 1. Rincian Variabel PenelitianD im e n s i N am a v a r ia b e l

    D G S U m u rT in g k a t p e n d id ik a nA g a m aW ila ya h

    E k o n o m i R u m a h T a n g g a S E S ta tu s E k o n o m i W e a lth In d e xA I M e le k H u ru f

    A k s e s p a d a M e d ia T V , R a d io , K o ra nP K U s ia k a w in p e r ta m a p ro x i : u s ia s a a t in te rc o u rs e p e r ta m a

    K e in g in a n p u n ya a n a k la g iU m u r a n a k te ra k h irJ a ra k k e la h ira n a n a kp e r ta m a d a n k e d u aL a m a m e n yu s u iP e rs e tu ju a n s u a m i u n tu kis t r i m e n g g u n a k a n a lk o nP e n g a m b ila n k e p u tu s a n b e r -K B

    S ia p a ya n g m em u tu s k a n m e n ja d i p e s e r ta K B

    L K B A k s e s la ya n a n M e n g u n ju n g i fa s il ita s k e s e h a ta n d a la m 6 b u la n te ra k h ir ,d ik u n ju n g i p e tu g a s K B d a la m 6 b u la n t te ra k h ir

    In fo rm a s i K B P em b e r ita h u a n m a s a la h p e m a k a ia n a lk o n , t in d a k a nya n g d ia m b il j ik a m a s a la h te r ja d i, d a n d ib e r ita h u te n ta n gm e to d e K B ya n g la in ; N a ra s u m b e r in fo rm a s i (m e d ia d a no ra n g / ja b a ta n )

    P e n g g u n a a n a la t K B P J e n is a la t k o n tra s e p s iF e r t i l ita s F J u m la h a n a k m a s ih h id u p

    K e te ra n g a n ta m b a h a n

    D em o g ra f i, G e o g ra f i, d a nS o s ia l

    A k s e s In fo rm a s i

    L a ya n a n K B

    D e f in is i V a r ia b e l

    P e re n c a n a a n K e lu a rg a

  • viii Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    Hasil analisis dan pembahasan :Karakteristik Responden

    Rata-rata umur responden adalah 33 tahun, sekitar 19 persen respondenberumur antara 30- 34 tahun, dan 17 persen berumur antara 25-29 tahun. Ibu-ibudewasa yang berumur antara 40-44 tahun dan 45-49 tahun masing-masing 17persen dan 14 persen, sedangkan ibu muda (umur 15-9 tahun) jumlahnyakurang dari tiga persen. Lebih dari separoh responden yang diteliti bertempattinggal di desa (59 persen), dan beragama Islam (89 persen). Berdasarkan tingkatpendidikannya, 33 persen responden tamat pendidikan dasar, 19 persen tamatSMU, dan sebagian kecil tamat akademik atau perguruan tinggi (masing-masingtiga persen).

    Responden yang diteliti sebagian (61 persen) mempunyai anak 1-2 orangdan sebagian kecil (sembilan persen) mempunyai anak lebih dari 5 orang. Rata-rata 15 persen responden memutuskan untuk menggunakan alat kontrasepsiketika sudah memiliki 1-2 orang anak dan hanya tiga persen yang memutuskanmenggunakan alat kontrasepsi setelah memiliki anak lebih dari lima.Pemakaian dan masalah kesehatan selama pemakaian alat kontrasepsi

    Keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB) dapat dilihat dari tingkatpemakaian alat kontrasepsi. Delapan puluh tujuh persen responden yang ditelitimenggunakan alat kontrasepsi. Pemakaian alat kontrasepsi ini meningkatseiring dengan semakin baiknya tingkat pendidikan dan juga status ekonomi.Sementara itu wanita yang tinggal di kota cenderung menggunakan alatkontrasepsi dibandingkan yang tinggal di desa. Perbandingannya adalah 87persen dan 86 persen. Perbedaan yang tidak terlalu besar ini mengindikasikanpelayanan KB telah tersebar merata baik di daerah perkotaan maupunperdesaan.

    Data menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata rata-rata jumlah anakyang diinginkan menurut tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal, dan indekskesejahteraan kuintil. Sementara itu wanita menikah umur 15-49 tahun rata-ratamenginginkan anak tidak lebih dari dua. Hal ini tidak terlepas dari kampanyeProgram Keluarga Berencana yang menginformasikan arti keluarga kecilbahagia.

    Berdasarkan jenis alat kontrasepsi yang digunakan, sebagian besarresponden menggunakan suntik tiga bulanan dan pil. Dibandingkan denganalat/cara KB modern, cara tradisional lebih banyak tidak digunakan olehresponden. Sebagai contoh penggunaan alat kontrasepsi tradisional berupa

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas ix

    pantang berkala, kemudian kalender dan kondom yaitu masing-masing tigapersen, dua persen dan kurang dari satu persen.

    Alat/cara KB modern populer di antara wanita di semua kelompok umur.Namun pemakaian kontrasepsi pada wanita yang berumur lebih muda (15-19tahun) dan yang berumur tua (45-49 tahun) lebih rendah dibandingkan merekayang berumur 20-39 tahun. Wanita muda cenderung menggunakan cara KBsuntikan dan pil KB, sementara mereka yang lebih tua cenderung memilihkontrasepsi IUD.

    Pemakaian alat kontrasepsi pada responden yang diteliti sebagian besardidasarkan persetujuan pasangan atau suami. Tujuh puluh delapan persenresponden didukung oleh suaminya untuk memakai alat kontrasepsi jenistertentu. Sedangkan responden yang tidak mendapat dukungan suami karenatidak memakai alat kontrasepsi jenis tertentu sebanyak 49 persen. Angka inimerupakan temuan yang menggembirakan karena mengindikasikan adanyapartisipasi dan dukungan suami terhadap program KB.

    Tabel 3.1 menggambarkan distribusi persentase pemakaian alat kontrasepsidi masa mendatang menurut keinginan punya anak lagi. Data menunjukkanrencana pemakaian alat kontrasepsi di masa depan cenderung rendah padaresponden yang saat ini tidak lagi menginginkan anak (24 persen) atau masihbelum mengambil keputusan (28 persen). Hal ini menunjukkan kurangnyaperencanaan bagi mereka yang justru tidak menginginkan anak lagi. Sementara,tingginya persentase rencana pemakaian alat kontrasepsi diantara respondenyang menginginkan anak lagi (60 persen) menunjukkan bahwa telah terjadiperencanaan waktu yang baik untuk memiliki anak tersebut.

    Tabel 3.1Pemakaian alat kontrasepsi menurut keinginan punya anak lagi (%)

    Menginginkan anak lagiAkan pakai alat kontrasepsidimasa mendatang Ya Tidak lagi Tidak pasti

    TotalTidak 30,7 69,5 47,3 50,1Ya 59,8 24,1 28,3 41,3Tidak tahu 9,5 6,4 24,5 8,6Total 4714 4746 364 9842Sumber: SDKI 2007, diolah

    Rencana pemakaian jenis alat kontrasepsi tertentu di masa mendatangberkaitan dengan efek samping yang dirasakan responden di masa lalu. DataSDKI 2007 memperlihatkan 25 persen responden mengalami masalah kesehatanselama menggunakan alat kontrasepsi. Persentase terbesar yang mengalamigangguan kesehatan selama menggunakan alat kontrasepsi adalah mereka yangmenggunakan suntik 3 bulan (30 persen) dibandingkan dengan metode yanglain. Masalah kesehatan tersebut di antaranya sakit kepala, tidak mengalami

  • x Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    menstruasi, masalah kesehatan lainnya, dan mengalami kenaikan berat badan.Keluhan sakit kepala dan mual banyak dialami oleh mereka yang menggunakanmetode pil (42 persen). Responden yang paling banyak mengalami gangguantidak haid adalah mereka yang menggunakan suntik 3 bulan (30 persen). Inimerupakan tantangan kedepan bagi pemerintah untuk menyediakan layanankeluarga berencana yang lebih baik, yaitu tersedianya alat kontrasepsi yangbetul-betul aman, memiliki daya lindung tinggi terhadap kemungkinanterjadinya kehamilan, serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagipenggunanya. Hal ini penting karena aspek tersebut seringkali menjadi tolakukur bagi responden untuk terus memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi.Layanan KB

    Salah satu faktor yang penting diperhatikan dalam layanan KB adalahfaktor informasi. Informasi yang memadai mengenai berbagai metode KB akanmembantu klien untuk menentukan pilihan alat kontrasepsi, baik informasimengenai efek samping maupun alternatif metode KB. Studi ini menemukan 63persen responden mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai efeksamping saat pemakaian alat kontrasepsi. Sementara itu responden yangmengetahui efek samping pemakaian alat kontrasepsi, mengaku mendapatkaninformasi tersebut dari televisi (26 persen), bidan atau perawat (15 persen),petugas KN (sembilan persen), dan sumber lainnya seperti PKK dan tokohagama.

    Upaya tindak lanjut yang rutin dan memadai merupakan hal yang pentingdalam rangka mendorong keberlangsungan pemakaian kontrasepsi. Dari 29.258responden yang diteliti, 61 persen diantaranya tidak melakukan tindak lanjutrutin mengunjungi fasilitas kesehatan untuk memperoleh informasi mengenaialat kontrasepsi yang sedang dipakainya. Kemungkinan responden merasacukup aman dan terlindungi dari risiko kehamilan setelah memakai jenis alatkontrasepsi tertentu dan tidak perlu melakukan pemeriksaan kesehatan.Sementara itu, petugas KB cenderung bersifat pasif tidak mengunjungi klienuntuk memberikan penjelasan ataupun pemeriksaan kesehatan klien. Datamenunjukkan hanya lima persen responden yang mengaku dikunjungi petugasKB dalam enam bulan terakhir.Analisis variabel-variabel yang berasosiasi dengan pemakaian alatkontrasepsi

    Hasil analisis tabulasi silang dengan uji asosiasi dan tingkat korelasi ordinalmenunjukkan pemakaian alat kontrasepsi berkaitan dengan umur respondendan tingkat pendidikan, tapi tidak berkaitan dengan agama dan wilayah tempattinggal. Meningkatnya umur cenderung menurunkan pemakaian alat

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xi

    kontrasepsi. Namun sebaliknya, meningkatnya level pendidikan akanmeningkatkan pula penggunaan alat kontrasepsi.

    Berdasarkan tingkat ekonomi rumah tangga, tampak adanya korelasipositif, yaitu pemakaian alat kontrasepsi semakin meningkat sejalan denganmeningkatnya kondisi ekonomi rumah tangga. Faktor melek informasi memilikiasosiasi positif dengan pemakaian alat kontrasepsi. Semakin tinggi frekuensipenyerapan informasi akan semakin meningkatkan kemungkinan pemakaianalat kontrasepsi. Berdasarkan tingkat korelasinya, televisi merupakan mediadengan tingkat korelasi terkuat terhadap pemakaian alat kontrasepsi, diikutidengan koran dan radio.

    Pada aspek perencanaan keluarga, seluruh variabel berasosiasi denganpemakaian alat kontrasepsi. Berdasarkan tingkat korelasinya, pemakaian alatkontrasepsi cenderung rendah pada responden dengan intercourse pertama padausia muda, responden yang memiliki jarak lahir singkat antara anak ke-1 danke-2, responden dengan durasi breastfeeding yang singkat, responden denganumur anak terakhir yang tidak lagi muda, dan responden yang tidak mendapatpersetujuan dari suaminya untuk menggunakan alat kontrasepsi.

    Berdasarkan aspek layanan dan informasi KB, tampak kunjunganresponden ke fasilitas kesehatan dalam enam bulan terakhir berkorelasi positifdengan pemakaian alat kontrasepsi. Sementara itu, penggunaan alat kontrasepsitidak berasosiasi dengan kunjungan petugas dalam enam bulan terakhir. Hal inibisa dipahami dalam konteks otonomi daerah, hampir tidak ada PLKB dilapangan.

    Di sisi lain, informasi KB dari media massa berasosiasi positif denganpenggunaan alat kontrasepsi, kecuali informasi yang berasal dari radio yangtidak memiliki tingkat asosiasi yang signifikan. Jika dilihat berdasarkan tingkatkorelasinya, informasi KB yang memiliki korelasi kuat dengan penggunaan alatkontrasepsi, secara berturut-turut adalah koran/majalah, poster, pamflet, dantelevisi. Sedangkan pada faktor petugas pemberi informasi KB, ternyata hanyapetugas KB, bidan/perawat, dan petugas PKK yang memiliki asosiasi denganpenggunaan alat kontrasepsi. Ketiganya memiliki korelasi positif, dan berturut-turut yang terkuat adalah bidan/perawat, petugas KB, dan petugas PKK. Hal inimengindikasikan peran bidan/perawat, petugas KB, dan petugas PKK cukupbesar dalam pelaksanaan program KB.

  • xii Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    Analisis Persamaan Regresi Linier Berganda Pemakaian Alat Kontrasepsiterhadap Fertilitas

    Pada dua model persamaan regresi linier yang dihasilkan, didapatkan buktibahwa persamaan kedua ternyata memiliki kekuatan model yang lebih baik.Peningkatan R-square dari 67,8 persen menjadi 70,4 persen dan adjusted R-square dari 65,3 persen menjadi 69,1 persen menunjukkan membaiknya tingkatdeterminasi model terhadap variasi data. Selain itu, nilai F-test yang meningkatdari 27,358 menjadi 52,935 dengan signifikansi uji yang tetap sempurna sebesar0,000, menunjukkan bahwa tingkat residual atau kesalahan taksir dari modelregresi telah menurun. Secara umum, jika seluruh variabel independentdianggap bernilai sama pada kedua persamaan regresi, maka nilai konstanta 0akan menurun dari 2,436 pada persamaan pertama (tidak menggunakan alatkontrasepsi) menuju 1,579 pada persamaan kedua (menggunakan alatkontrasepsi), yang juga bermakna menurunnya tingkat fertilitas akibatpemakaian alat kontrasepsi.

    Umur responden memiliki parameter positif. Artinya, semakin tua umurresponden akan semakin tinggi pula angka kelahiran hidup darinya. Akantetapi, nilai parameter tersebut lebih rendah pada mereka yang menggunakanalat kontrasepsi. Hal ini terlihat dari penurunan parameter dari 0,191 menjadi0,163. Sementara itu faktor agama tidak memiliki pengaruh terhadap fertilitaspada responden tanpa alat kontrasepsi.

    Perbedaan tempat tinggal memberikan fakta yang menarik. Pada merekayang tidak menggunakan alat kontrasepsi, tingkat fertilitas responden dariwilayah rural adalah lebih tinggi. Sebaliknya, pada mereka yang menggunakanalat kontrasepsi, responden dari wilayah rural secara signifikan memiliki tingkatfertilitas yang lebih rendah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat kontrasepsilebih efektif untuk menurunkan tingkat fertilitas pada mereka yang tinggal diwilayah rural.

    Berdasarkan tingkat ekonomi rumah tangga, penggunaan alat kontrasepsimemiliki pengaruh sistematis terhadap penurunan fertilitas. Di antara merekayang menggunakan alat kontrasepsi dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkatekonomi responden, maka semakin menurun nilai parameter -nya, artinyasemakin rendah pula tingkat fertilitasnya.

    Berdasarkan akses terhadap informasi media, hanya media televisi yangmemiliki peran berarti dalam penurunan tingkat fertilitas, baik pada respondenyang menggunakan alat kontrasepsi maupun bagi mereka yang tidakmenggunakan. Jika dibandingkan secara ekstrim antara mereka yang tidakpernah melihat televisi dengan yang hampir tiap hari melihatnya, maka

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xiii

    penurunannya adalah signifikan secara statistik. Sedangkan mediakoran/majalah memiliki pengaruh meningkatkan fertilitas hanya pada merekayang menggunakan alat kontrasepsi. Secara umum hal tersebut mungkin sajaterjadi, mengingat bahwa variabel informasi yang dianalisis di sini adalahinformasi umum, dan tidak terfokus pada masalah KB atau alat kontrasepsi.

    Pada variabel-variabel perencanaan keluarga, beberapa nilai parameterpersamaan regresi lebih mewakili hubungan linier daripada hubungan sebabakibat. Hal ini disebabkan pemilihan variabel dependen fertilitas jumlah anakmasih hidup yang tidak selalu merupakan akibat langsung dari beberapavariabel independent yang juga merupakan ukuran saat ini. Jika dilihatberdasarkan usia saat intercourse pertama kali, tampak nilai parameter yangnegatif, artinya semakin muda usia intercourse, maka semakin tinggifertilitasnya. Akan tetapi, pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi,pengaruh tersebut semakin mengecil, ditandai dengan parameter yang berubahdari -0,169 menjadi -0,149. Hal ini mengindikasikan semakin homogennyatingkat fertilitas jika menggunakan alat kontrasepsi.

    Apabila dikaitkan dengan keinginan memiliki anak, responden yang tidakmenginginkan anak lagi memiliki parameter positif yang signifikan pada keduapersamaan regresi dibandingkan dengan mereka yang masih ingin memilikianak. Berdasarkan nilainya, mereka yang menginginkan anak lagi adalahmereka yang memiliki fertilitas lebih rendah dibandingkan dengan yang tidakmenginginkan anak lagi (dari 0,223 turun ke nol 0 dan 0,183 turun ke nol 0).Lebih jauh lagi, jika dibandingkan penurunan nilainya, ternyata selisihnya lebihkecil pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi, yang dapat diartikanbahwa tingkat fertilitasnya relatif menjadi lebih homogen jika menggunakan alatkontrasepsi.

    Berdasarkan umur anak terakhir, terlihat bahwa semakin muda anakterakhir dari responden, maka semakin tinggi fertilitasnya. Peningkatannyalebih kecil pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi dibandingkandengan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (0,15 dibandingkan 0,182).

    Identik dengan umur anak terakhir, pada variabel jarak lahir antara anakke-1 dan ke-2 terlihat bahwa rentang yang semakin lebar identik denganfertilitas yang semakin rendah. Jika dilihat pada rentang yang sama, makamenurunnya fertilitas pada responden yang memakai alat kontrasepsi akanlebih rendah (0,013 dibandingkan dengan 0,016).

    Pada aspek persetujuan suami atas pemakaian alat kontrasepsi padaistrinya, data menunjukkan bahwa ketidak-setujuan suami pada responden

  • xiv Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    yang menggunakan alat kontrasepsi ada kaitannya dengan tingkat fertilitasyang rendah, didukung oleh sebesar -0,261. Sebaliknya, pada pasangan yangbelum jelas persetujuan sang suami, tingkat fertilitasnya adalah yang tertinggi.Pada aspek pengambil keputusan penggunaan alat kontrasepsi, keputusan yangdidominasi oleh suami berkaitan dengan tingkat fertilitas yang tinggidibandingkan dengan jika keputusannya diambil oleh istri saja (0,474 dibanding0).

    Untuk faktor-faktor yang terkait dengan layanan dan informasi KB, analisishanya dilakukan pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi. Baikfaktor kunjungan petugas KB dalam enam bulan terakhir maupun aktifitasresponden mengunjungi fasilitas kesehatan, keduanya memiliki hubungandengan tingkat fertilitas yang menurun. Akan tetapi, secara statistik penurunantersebut belum signifikan.

    Terkait dengan pemberian informasi tentang masalah yang mungkin timbuldengan pemakaian alat kontrasepsi, tindakan yang harus diambil jika masalahtersebut muncul, serta alternatif pilihan metode KB yang lain, ternyata efeklinier hanya signifikan pada aspek yang pertama, yaitu informasi tentangpermasalahan yang mungkin timbul. Positifnya nilai (0,212) menunjukkanbahwa responden yang pernah diberitahu kemungkinan adanya masalahdengan penggunaan kontrasepsi adalah mereka yang memiliki fertilitas lebihtinggi. Hal ini bisa jadi karena klien merasa takut atau khawatir untukmenggunakan alat kontrasepsi yang mendorong mereka untuk tidak memakaialat kontrasepsi sehingga cenderung anaknya lebih banyak (bandingkan hasilpenelitian Singarimbun, 1994).

    Sumber-sumber informasi KB dari berbagai media ternyata tak ada satupun yang secara signifikan memiliki hubungan linier dengan perubahan tingkatfertilitas. Berdasarkan informasi KB dari beberapa pihak, ada empat pihak yangmemiliki parameter hubungan linier signifikan. Keberadaan informasi daritokoh agama memiliki hubungan linier terkuat dengan tingkat fertilitaspengguna alat kontrasepsi (= -0,794), diikuti oleh informasi dari bidan/perawat(= -0,116), informasi dari PKK (=0,341), dan informasi dari pemimpin desa(=0,507).

    Analisis Hubungan antara Jenis Pemakaian Alat Kontrasepsi denganTingkat Fertilitas

    Analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku wanita pernah kawinusia 15-49 tahun dalam memilih kategori alat kontrasepsi berdasarkan tingkatfertilitasnya. Pemodelan yang digunakan adalah analisis regresi binary logistic,

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xv

    yaitu jenis alat kontrasepsi merupakan variabel dependen, sedangkan jumlahAnak Masih Hidup (AMH) sebagai indikator fertilitas merupakan variabelindependen. Pemodelan dilakukan terpisah untuk setiap alat kontrasepsi.Analisis dipusatkan pada signifikansi parameter regresi dan nilai odds-ratio.Selain itu, besarnya sampel turut pula dipertimbangkan dalam analisis.

    Jenis alat kontrasepsi signifikansi odds-ratioR-squareNagelkerke n %

    female sterilization 0.530 0.000 (*) 1.699 10.00% 941 5.0%male sterilization 0.285 0.000 (*) 1.330 1.40% 67 0.4%pill -0.018 0.207 4094 21.6%iud 0.306 0.077 (**) 1.037 0.00% 1518 8.0%injection 1 month -0.295 0.000 (*) 0.744 1.50% 845 4.5%injection 3 month -0.185 0.000 (*) 0.831 1.80% 9003 47.4%implant 3 years 0.083 0.011 (*) 1.086 0.10% 523 2.8%implant 5 years 0.075 0.063 (**) 1.078 0.10% 334 1.8%condom 0.044 0.243 407 2.1%diaphragm n.a.lactational amenorrhea -0.52 0.147 10 0.1%rhythm method 0.105 0.002 (*) 1.110 0.20% 466 2.5%withdrawal 0.224 0.000 (*) 1.251 1.30% 646 3.4%herbal medicine 0.310 0.000 (*) 1.364 1.80% 63 0.3%massage 0.053 0.783 15 0.1%other 0.212 0.027(*) 1.237 0.70% 45 0.2%(*) signifikan pada tingkat =5%(*) signifikan pada tingkat =10%

    Beberapa alat kontrasepsi memiliki parameter positif yang signifikan, yaitusemakin tinggi nilai AMH akan meningkatkan kecenderungan penggunaan alatkontrasepsi. Berdasarkan nilai parameter tersebut dan mempertimbangkanukuran sampel, berturut-turut penggunaan alat kontrasepsi yang tingkatkecenderungannya meningkat adalah sterilisasi perempuan (odds-ratio=1,699),sanggama terputus (odds-ratio=1,251), metode kalendar (odds-ratio=1,110),implant 3 tahun (odds-ratio=1,086), dan implant 5 tahun (odds-ratio=1,078).

    Penggunaan metode injeksi 1-bulan dan injeksi 3-bulan memiliki odds-ratio

  • xvi Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    Gambar 3.1Pola Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap Jumlah Anak Masih Hidup

    1.0%

    22.6%18.8%

    15.6%13.8%

    1.0%

    16.7%16.3%

    21.7%20.7% 22.3%

    0.0%0.0%3.2%

    1.2%2.9%2.6%2.3%2.1%1.9%

    0%

    5%

    10%

    15%

    20%

    25%

    30%

    0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12AMH

    pilkondom

    Sumber: SDKI 2007, diolah

    Kesimpulan dan RekomendasiSecara keseluruhan penelitian ini didasarkan pada analisis kuantitatif. Uji

    statistik sederhana dan lanjut digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel sesuai kajian teoritis, sehingga akurasi hasil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun informasi mendetail mengenai pola hubunganantar variabel tidak dapat dijelaskan hanya dari analisis kuantitatif, sehinggakedepan diharapkan penelitian mengenai tema serupa dapat dilakukan denganmengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

    Berdasarkan hasil analisis pada bagian sebelumnya, temuan penelitian inimendukung teori pada studi literatur, yaitu.1. Pemakaian alat kontrasepsi terbukti memiliki kontribusi terhadap fertilitas

    (Ananta, et.al,1993: Bongaarts, 1978: Hull, 1976 : Becker,1960: Easterlin, 1958)2. Latar belakang karakeristik sosio demografi seperti umur, pendidikan, status

    ekonomi, penyerapan informasi KB, layanan KB, jarak kelahiran, usiapertama kali intercourse, terbukti berasosiasi dengan pemakaian alatkontrasepsi dalam menurunkan angka kelahiran (Davis dan Blake, Mhloyi,1986, Bongaarts, 1978, Goni, 2008, Bongaarts, 2001).

    3. Pemakaian alat kontrasepsi pada responden yang tinggal di desa lebihmampu menekan angka kelahiran secara signifikan dibanding yang tinggal dikota

    4. Peran serta suami terutama berkaitan dengan persetujuan suami dalampemakaian alat kontrasepsi istri terbukti berasosiasi terhadap pemakaian alatkontrasepsi.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xvii

    5. Alat kontrasepsi yang memiliki daya tahan terhadap kemungkinankehamilan adalah sterilisasi perempuan, sanggama terputus, metodekalendar, implant 3 tahun, dan implant 5 tahun. Metode ini juga tidak banyakmemberi dampak kesehatan bagi pemakainya.

    Dengan mendasarkan pada temuan-temuan tersebut, maka beberapa halyang dapat direkomendasikan adalah sebagai berikut.1. Perlunya peningkatan layanan KB, yaitu pemberian informasi yang benar dan

    lengkap tentang KB dan informasi kesehatan reproduksi secara menyeluruh,upaya tindak lanjut rutin baik secara aktif maupun pasif agar kondisi fisikdan kesehatan klien dapat terus terpantau, serta pelayanan yang adil kepadasemua klien, dan tepat sasaran

    2. Perlunya pemantapan dan insentif pemakaian alat kontrasepsi terutama padamereka yang tinggal di desa, status ekonominya rendah, pasangan muda,memiliki jarak lahir dan durasi breastfeeding yang singkat, tidak mengunjungiatau dikunjungi petugas KB dalam enam bulan terakhir, serta tidak mendapatpersetujuan suami untuk menggunakan alat kontrasepsi

    3. Beberapa media dapat dimanfaatkan secara intensif untukmengkampanyekan pemakaian alat kontrasepsi, seperti televisi, poster,majalah atau koran.

    4. Perhatian perlu ditekankan pada tenaga kesehatan, utamanya bidan, dan jugamedia PKK di tingkat bawah, karena sebenarnya mereka memiliki perananpenting dalam rangka penyampaian informasi KB kepada masyarakat.

    5. Diperlukan adanya terobosan baru metode kontrasepsi yang lebih aman dantidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi penggunanya. Sementara itubeberapa metode yang terbukti memiliki daya lindung tinggi untukmencegah kehamilan seperti sterilisasi perempuan, implant 3 tahun, danimplant 5 tahun perlu ditinjau dan ditingkatkan kualitasnya. Hal ini perludilakukan agar pemakaian alat kontrasepsi jenis tersebut tidak hanyaberfungsi mencegah terjadinya kehamilan, tetapi juga meningkatkankesehatan pemakainya.

  • xviii Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    ANALISA LANJUT SDKI 20078. PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PAScA MELAHIRKAN

    PenulisAmelia MaikaWahyono Kuntohadi

    Kehamilan yang tidak diinginkan tidak saja hanya dialami oleh merekayang belum menikah, tapi juga pasangan suami istri. Kehamilan yang tidakdiinginkan menjadi isu yang penting karena hal ini dapat berdampak buruktidak hanya bagi ibu tetapi juga bagi anak yang akan dilahirkan. Oleh karenaitu, perlu upaya meningkatkan pelayanan keluarga berencana untuk mencegahterjadinya kehamilan yang tidak diinginkan tersebut.

    Melalui perencanaan, keluarga dapat menentukan ukuran keluarga yangdiinginkan, waktu yang dianggap tepat untuk memiliki anak, dan metodekontrasepsi yang akan digunakan. Keputusan untuk merencanakan keluargatidak lepas dari berbagai pertimbangan seperti kesiapan fisik dan mentalpasangan, kondisi finansial keluarga, serta tidak kalah penting adalah denganmempertimbangkan kesehatan ibu dan anak. Berbagai pertimbangan tersebutkemudian menentukan keputusan keluarga untuk segera atau menundakehamilan.

    Bagi sebuah keluarga keputusan untuk menunda kehamilan dapatdilakukan dengan menggunakan metode kontrasepsi yang tepat termasukketika setelah adanya proses persalinan. Pada dasarnya alat kontrasepsi dapatdigunakan baik bagi pasangan yang ingin mengontrol fertilitas atau menundakehamilan maupun bagi mereka yang karena berbagai alasan tidakmenginginkan anak lagi (Andro, et.al, 2002). Selain itu perlunya memperhatikanjarak ideal kehamilan adalah untuk mencegah bayi lahir prematur dan/atau bayilahir dengan berat badan yang rendah (Sunarto, 2009).

    Studi ini bertujuan untuk melihat pola penggunaan alat kontrasepsi pascakelahiran dalam keluarga di Indonesia. Beragam karakteristik pengguna alatkontrasepsi di kalangan perempuan yang telah menikah dan memilikipengalaman melahirkan dieksplorasi. Hasilnya diharapkan dapat memberikan

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xix

    gambaran secara empiris tidak hanya karakteristik pengguna alat kontrasepsitetapi juga berbagai faktor yang berasosiasi dengan penggunaan alat kontrasepsitersebut.

    KERANGKA TEORIKebutuhan akan alat kontrasepsi setelah melahirkan di antaranya adalah

    kebutuhan untuk menghentikan kelahiran, mengontrol jumlah kelahiran, danpreferensi fertilitas. Hal lain yang berhubungan dengan penggunaan alatkontrasepsi adalah tingkat kesejahteraan. Makin tinggi tingkat paritas jugamemperbesar kemungkinan menggunakan kontrasepsi. Selain itu, faktorpendidikan atau pengetahuan juga menjadi variabel yang penting. Melaluipendidikan terdapat kemampuan untuk membuat keputusan rasional danmemahami kemungkinan untuk mengontrol fertilitas melalui penggunaanteknik keluarga berencana. Bertolak belakang dengan tingkat pengetahuantentang kontrasepsi, persepsi negatif mengenai perilaku pembatasan jumlahanggota keluarga karena alasan ekonomi merupakan alasan lain rendahnyapenggunaan alat kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran tetapi tidak untukmembatasi jumlah keluarga (Duze dan Mohammed, 2006). Studi ini jugamenunjukkan bahwa tinggal di perkotaan, faktor persetujuan keluarga, dan usiajuga meningkatkan probabilitas penggunaan alat kontrasepsi.

    Perempuan yang menerima informasi dan saran mengenai perencanaankeluarga ketika melakukan pemeriksaan kesehatan selama kehamilan secarasignifikan lebih banyak yang menggunakan kontrasepsi pasca melahirkandibandingkan mereka yang tidak mendapat informasi tersebut. Kemungkinanini juga lebih besar bagi mereka yang memeriksakan kehamilan lebih banyakdibandingkan perempuan yang lebih sedikit memeriksakan kehamilan. Selainitu, mereka yang melahirkan di rumah sakit baik pemerintah maupun swastalebih banyak yang menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan mereka yangmelahirkan di rumah. Odds penggunaan alat kontrasepsi juga berasosiasi secarapositif dengan kesehatan rumah tangga, status kawin dan usia anak balita tertua(Barber, 2007). Menawarkan program keluarga berencana segera setelah pasienmelahirkan akan meningkatkan penggunaan IUD 6 bulan sebanyak hampir 50persen (Foreit, et al, 1993). Kunjungan selama kehamilan, pelayanan kesehatan,dan cukupnya jumlah kontak dengan sistem pelayanan kesehatan adalah carayang cukup menjanjikan untuk meraih perempuan yang baru melahirkan agarterhindar dari unmet need terhadap alat kontrasepsi dan juga merancangpelayanan kebutuhan keluarga berencana (Ross dan Winfrey, 2001).

  • xx Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    METODEStudi ini merupakan analisis data Survei Demografi dan Kesehatan

    Indonesia tahun 2007. Responden yang dipilih adalah responden perempuandengan status kawin yang pernah melahirkan sejak Januari 2002 danmenggunakan alat kontrasepsi pada saat survei. Karakteristik responden dilihatdari umur, wilayah tempat tinggal (urban/rural), status pendidikan, agama,penyerapan informasi (terdiri atas status literasi dan tingkat akses pada mediamassa), dan tingkat ekonomi rumah tangga (indeks kesejahteraan).

    Variabel independen terdiri dari tiga kelompok. Pertama, perencanaankeluarga, terdiri dari variabel perbedaan keinginan jumlah anak antara suamidan istri, persetujuan suami dan istri pada penggunaan alat kontrasepsi, sertapengambil keputusan dalam menggunakan alat kontrasepsi. Kedua, pelayananproses kehamilan dan melahirkan, terdiri atas variabel tempat pemeriksaankehamilan, frekuensi pemeriksaan selama kehamilan, serta tempat melahirkan.Kelompok variabel ini berhubungan dengan akses keluarga terhadap layanankehamilan dan melahirkan sebelum menggunakan alat kontrasepsi setelahmelahirkan. Ketiga, preferensi fertilitas pada saat survei, terdiri atas variabel:apakah masih ingin memiliki anak lagi, dan kapan rencana memilikinya.Kelompok variabel ini bertujuan untuk melihat sejauh mana preferensi fertilitasmemengaruhi pengaturan jarak kelahiran melalui penggunaan alat kontrasepsi.Variabel dependen dalam studi ini adalah status penggunaan alat kontrasepsipasca melahirkan.

    Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik statistikdeskriptif, tabulasi silang, serta analisis regresi logistik biner dengan diperkuatuji signifikansi terhadap nilai statistiknya. Analisis dilakukan melalui tiga tahap.Tahap pertama adalah gambaran umum karakteristik responden melaluistatistik deskriptif dengan tabel frekuensi dan grafik pola distribusi. Dalamtahap ini juga mengeksplorasi adanya asosiasi antara karakteristik respondendengan penggunaan alat kontrasepsi melalui analisis tabulasi silang. Tahapkedua, analisis asosiasi antara variabel-variabel independen terhadap statuspenggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Melalui analisis statistikdeskriptif dan uji asosiasi tabulasi silang, dilakukan eksplorasi terhadapberbagai situasi yang melatar belakangi penggunaan alat kontrasepsi pascamelahirkan. Informasi yang diperoleh untuk memastikan ada tidaknyahubungan asosiasi. Tahap ketiga adalah analisis tingkat lanjut, yaitu pemodelanregresi logistik biner pada pengaruh setiap kelompok variabel independenterhadap penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Pemodelan ditempuh

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxi

    dengan kriteria enter. Melalui perbandingan kriteria kekuatan modelberdasarkan nilai R-square dan Log Likelihood, akan didapat informasikelompok variabel independen yang memberi pengaruh terkuat terhadappenggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Melalui hasil analisis regresi inipula diharapkan akan ditemukan kerangka dasar pathway dalam tiap kelompokvariabel independen.

    KARAKTERISTIK UMUM RESPONDENJumlah responden yang menjadi subyek analisis studi ini sebanyak 13.067

    responden. Dari jumlah tersebut, 83,2 persen sampel menggunakan alatkontrasepsi pasca melahirkan. Pola sebaran tingkat ekonomi rumah tanggaresponden adalah merata berdasarkan kuintil, yang berkisar 19 sampai 20persen. Berdasarkan karakteristik agamanya, mayoritas responden beragamaIslam (89,3 persen). Dari sisi usia, persentase tertinggi adalah mereka yangtermasuk dalam kelompok umur 25-29 tahun (27 persen), diikuti 30-34 tahun(24,68 persen), 20-24 ahun (19,84 persen), dan 35-39 tahun (17,36 persen).Persentase kelompok usia lainnya kurang dari sepuluh persen.

    Jumlah responden yang tinggal di pedesaan lebih banyak dibandingkanmereka yang tinggal di perkotaan, yaitu 56,4 persen. Persentase tertinggi daritingkat pendidikan adalah tamat SD (32,5 persen). Mereka yang berpendidikantamat SMP dan tamat SMA sebanyak 23 dan 24 persen. Responden yang tidaktamat SD atau tidak sekolah sebanyak 14,28 persen. Hanya sebagian kecil dariresponden yang tidak melek huruf, yaitu 5,45 persen. Berdasarkan aksesinformasi, televisi merupakan sumber informasi yang paling banyak diaksessetiap hari, yaitu oleh 75,2 persen. Radio setiap hari diakses oleh 20,25 persenresponden dan jumlah responden yang setiap hari membaca koran hanya 5,3persen.

    ANALISIS1. Asosiasi antara karakteristik dasar responden dengan penggunaan alat

    kontrasepsi pasca melahirkanHasil analisis menunjukkan adanya sejumlah asosiasi antara penggunaan

    alat kontrasepsi dengan karakteristik dasar responden yang terdiri atas sosiodemografi, kondisi ekonomi rumah tangga (proksi indeks kesejahteraan),terpaan media massa, dan kemampuan literasi. Lokasi tempat tinggal tidaksignifikan berasosiasi dengan penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan.

  • xxii Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    Faktor usia responden berkorelasi negatif, yang berarti semakin tua usiaresponden, maka semakin menurun kecenderungan pemakaian alatkontrasepsinya pasca melahirkan. Korelasi positif antara tingkat pendidikan danpenggunaan alat kontrasepsi menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatpendidikan responden, maka semakin tinggi kecenderungan pemakaian alatkontrasepsi pasca melahirkan. Faktor agama memiliki pula asosiasi yangsignifikan meski tingkat korelasinya kurang bermakna karena memiliki skalaukur nominal.

    Tingkat ekonomi rumah tangga juga memiliki asosiasi signifikan denganpenggunaan alat kontrasepsi dan memiliki tingkat korelasi positif. Ini berartisemakin tingginya tingkat ekonomi akan memperbesar kemungkinanpenggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Kemampuan literasi respondenjuga secara statistik memiliki asosiasi yang signifikan dengan penggunaan alatkontrasepsi. Sedangkan terpaan media massa yang ditandai oleh kebiasaandalam mengakses media radio, koran dan televisi merupakan variabel yangberasosiasi pula secara signifikan dengan penggunaan alat kontrasepsi. Diantara ketiga kelompok media informasi tersebut tampak bahwa televisi adalahmedia yang memiliki tingkat korelasi terkuat (0,075).2. Asosiasi variabel independen dengan penggunaan alat kontrasepsi

    pasca melahirkanHasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh variabel independen

    memiliki asosiasi terhadap penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan,kecuali perbedaan keinginan jumlah anak antara suami dan istri. Hampirsemuanya memiliki koefisien korelasi yang positif. Dalam kelompok variabelperencanaan keluarga, status persetujuan suami dan/atau istri akanmeningkatkan penggunaan alat kontrasepsi. Dalam aspek pemeriksaan selamakehamilan, ternyata semakin tinggi frekuensi pemeriksaan akan mempertinggipula penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan.3. Pemodelan Regresi Logistik Biner terhadap Penggunaan Alat

    Kontrasepsi Pasca MelahirkanSetiap kelompok variabel independen dimodelkan kontribusi pengaruhnya

    pada penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Model dummy digunakanpada beberapa variabel independen yang memiliki skala kategori.

    Melalui pengamatan pada kualitas model regresi logistik biner, diketahuibahwa variabel preferensi terhadap jumlah anak saat ini masih merupakan

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxiii

    prediktor terkuat penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan, dengantingkat koefisien determinasi 25,4 persen; diikuti dengan variabel independenpelayanan proses kehamilan dan saat melahirkan dengan koefisien determinasi1 persen, dan terakhir adalah variabel perencanaan keluarga yang memilikikoefisien determinasi 0,7 persen. Pada kelompok prediktor pertama, tampaknyasikap dan keinginan suami memegang peranan penting dalam penggunaan alatkontrasepsi pasca melahirkan. Dalam kelompok prediktor kedua, frekuensikehamilan merupakan satu-satunya variabel yang berkontribusi terhadappenggunaan alat kontrasepsi. Jika dimodelkan secara serentak, beberapaprediktor dalam satu kelompok variabel tidak selalu memiliki parameter regresiyang signifikan. Padahal, sejatinya variabel-variabel tersebut secara tunggalmemiliki asosiasi yang signifikan dengan penggunaan alat kontrasepsi pascamelahirkan. Hal ini memberikan petunjuk bahwa dalam kelompok variabelindependen terdapat semacam asosiasi internal yang membentuk alur pengaruhlangsung atau tak langsung terhadap variabel dependen.4. Penelusuran Lanjutana. Analisis Peran Suami dalam Perencanaan Keluarga

    Hasil uji tabulasi silang menunjukkan bahwa persetujuan istri dan suamidalam perencanaan jumlah anak berasosiasi dengan penggunaan alatkontrasepsi. Asosiasi positif menunjukkan bahwa kecenderunganpenggunaan alat kontrasepsi akan meningkat jika keputusan tersebutdisepakati bersama oleh kedua belah pihak. Jika dibandingkan antarapersetujuan suami dan persetujuan istri, tampak bahwa persetujuan suamimemiliki korelasi yang lebih tinggi (0,078) dibandingkan persetujuanresponden/istri (0,029). Ini menunjukkan bahwa persetujuan suami sangatmeningkatkan kemungkinan digunakannya alat kontrasepsi pascamelahirkan. Studi ini juga menemukan mayoritas responden menggunakanalat kontrasepsi berdasarkan keputusan bersama antara suami dan istri (73persen). Hal ini berarti peran suami cukup besar. Selain terlibat dalamkeputusan bersama, persetujuan suami juga lebih kuat memengaruhikeputusan penggunaan alat kontrasepsi.Dalam kaitannya dengan penentuan jumlah anak, baik suami maupun istri,dapat memiliki persepsi sendiri terhadap jumlah anak yang diinginkan. Hasilanalisis menunjukkan bahwa ketika suami menghendaki jumlah anak yanglebih sedikit atau sama dengan istri, maka mereka cenderung untukmengambil keputusan bersama-sama untuk menentukan penggunaan alat

  • xxiv Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    kontrasepsi. Sebaliknya, jika suami menginginkan jumlah anak lebih banyakdibanding istrinya, maka kecenderungan istrinya untuk mengambilkeputusan sendiri dalam menggunakan alat kontrasepsi akan meningkat. Jikasuami tidak setuju terhadap keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi,maka kecenderungan bahwa keputusan tersebut akan ditentukan oleh pihakistri semata akan meningkat.

    b. Analisis Pelayanan Proses Kehamilan dan Saat MelahirkanHasil analisis menunjukkan bahwa ketiga variabel aspek pelayanankesehatan (jumlah pemeriksaan kehamilan, tempat melakukan pemeriksaan,dan tempat melahirkan) secara statistik memiliki asosiasi yang signifikandengan penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan. Pada variabelfrekuensi pemeriksaan kehamilan, tingkat korelasi positif sebesar 0,067menunjukkan semakin sering responden memeriksakan kehamilannya, makaakan semakin meningkat kecenderungannya untuk menggunakan alatkontrasepsi setelah melahirkan. Sedangkan tinjauan terhadap kategori tempatpemeriksaan kehamilan dan tempat melahirkan menunjukkan bahwa merekayang memilih fasilitas kesehatan swasta memiliki kecenderungan tertinggiuntuk menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan.Melalui uji Pearson, ditemukan adanya asosiasi yang signifikan antara tempatpemeriksaan kehamilan dan tempat melahirkan (p-value= 0,0001). Namuntingginya asosiasi tersebut muncul karena adanya pergantian tempat padabeberapa kategori responden. Pergantian tersebut tampak menonjol padavariabel tempat pemeriksaan kehamilan dengan kategori pemerintah, yaitu58 persen responden memilih untuk melahirkan di rumah. Situasi yanghampir sama ditemukan pula pada tempat pemeriksaan kehamilan kategoriswasta, yaitu 40,9 persen responden yang melakukan pemeriksaan di tempatpelayanan swasta beralih melahirkan di rumah. Pola perpindahan iniberpotensi menurunkan keberhasilan program penggunaan alat kontrasepsisecara umum, meski angkanya masih di atas 80 persen.

    c. Analisis Preferensi terhadap Jumlah Anak Saat IniKeinginan memiliki anak lagi dan waktu untuk mewujudkannya terbuktimemiliki asosiasi dengan penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan.Sebanyak 49,5 persen responden masih memiliki keinginan untuk memilikianak lagi, sebagian di antaranya merasa sudah cukup untuk memiliki anak,dan 4,6 persen belum dapat memutuskan. Sebagian besar di antara merekayang masih menginginkan anak lagi menyatakan keinginan tersebut untuk

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxv

    dua tahun di masa datang (86,6 persen). Sementara jumlah responden yangingin memiliki anak dalam waktu yang dekat dan kurang dari dua tahunhampir sama banyaknya (6,8 dan 6,5 persen).Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan 23,4 persen dari mereka yang inginsegera memiliki anak lagi, memilih memakai alat kontrasepsi. Sementara itu,90,7 persen dari mereka yang ingin memiliki anak dua tahun kemudian,memilih menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan. Berdasarkan hasiluji tabulasi silang, ternyata pola ini memunculkan nilai asosiasi yang kuatdan memiliki tingkat korelasi positif 0,393. Artinya, semakin panjang waktupenundaan untuk memiliki anak, maka semakin tinggi kecenderungan untukmenggunakan alat kontrasepsi pasca melahirkan.

    PENUTUPStudi ini membuktikan empat hal. Pertama, beberapa karakeristik sosio

    demografi responden pada sampel terbukti secara statistik berasosiasi secarasignifikan dengan penggunaan alat kontrasepsi. Karakter tersebut meliputiumur, pendidikan, ekonomi rumah tangga, dan akses terhadap media massatermasuk tingkat literasi responden (Duze dan Muhammad, 2006). Kedua,asosiasi yang signifikan juga terjadi antara preferensi terhadap fertilitas danpenggunaan alat kontrasepsi (Andro, et al 2002). Preferensi fertilitas ini meliputirencana memiliki anak lagi dan jumlah anak yang diinginkan. Ketiga,pengambilan keputusan dalam rumah tangga menunjukkan bahwa persetujuansuami dan persetujuan istri merupakan faktor lain yang berasosiasi denganpenggunaan alat kontrasepsi. Seperti dalam studi sebelumnya, bahwapersetujuan suami lebih memberikan kontribusi terhadap keputusan tersebut(Andro, et al, 2002). Keempat, frekuensi kunjungan responden selama masakehamilan juga berasosiasi secara positif dan signifikan terhadap penggunaanalat kontrasepsi (Barber, 2007). Hal ini dapat disebabkan oleh intensitaskunjungan yang tinggi membuka kesempatan responden untuk memperolehinformasi yang lebih banyak dari pihak petugas kesehatan, termasuk mengenaiperencanaan keluarga dan alat kontrasepsi.

    Setidaknya terdapat tiga temuan dalam studi ini. (1) Pemberi kontribusiterbesar penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan adalah preferensifertilitas yang terkait dengan perencanaan kapan akan memiliki anak lagi. (2)Suami memiliki kontribusi yang amat signifikan dalam proses pengambilankeputusan penggunaan alat kontrasepsi pasca melahirkan, yaitu dalamperencanaan keluarga terkait dengan kesesuaian keinginan terhadap jumlah

  • xxvi Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    anak dibandingkan istrinya serta persetujuannya terhadap penggunaan alatkontrasepsi pasca melahirkan. (3) Terjadi pola perpindahan tempat dari selamakehamilan menuju melahirkan dengan persentase cukup tinggi, yaitu menujukategori rumah, yang berpotensi menurunkan tingkat penggunaan alatkontrasepsi pasca melahirkan.

    Penelitian ini murni menggunakan pendekatan kuantitatif. Keunggulannyaadalah dengan teknik statistik yang sesuai dengan tipe data dan perumusanmasalah, hasilnya dapat menunjukkan asosiasi antar variable secara robust.Namun kelemahannya adalah ketidakmampuan menggali informasi yang lebihmendalam melalui pendekatan kualitatif. Sebagai rekomendasi, penelitiantentang penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia, di masa datang, sebaiknyamenggunakan gabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga dapatsaling melengkapi satu sama lain.

    Teknis analisis dalam studi ini tidak hanya menggunakan pengujianstatistik deskriptif dan tabulasi silang, tetapi juga termasuk analisis tingkatlanjut dengan menggunakan regresi logistik biner. Akan tetapi, kompleksitasdata dalam SDKI masih sangat memungkinkan dilakukan analisis denganmenggunakan teknis analisis lanjutan lainnya. Keterbatasan metode dalampenelitian ini memberikan masukan agar dilakukan elaborasi antar metodeuntuk menguatkan hasil penelitian. Selain itu, penggunaan teknis analisismultivariat lain sangat dimungkinkan untuk mengelaborasi kompleksitas dataSDKI 2007.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxvii

    ANALISA LANJUT SDKI 20079. Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku ber KB

    Pasangan Usia Subur Muda di Indonesia

    PenulisDR. Omas Bulan Sambosir

    RINGKASANPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, sikapdan perilaku keluarga berencana (KB) perempuan kawin usia 15-24 tahun (pasangan usiasubur/PUS muda). Pengetahuan, sikap dan perilaku KB PUS muda.mempunyai implikasi yangpenting terhadap pertumbuhan penduduk serta upaya-upaya pengurangan dampak pertumbuhanpenduduk terhadap lingkungan serta pencapaian tujuan pembangunan milenium (millenniumdevelopment goals).Data yang digunakan dalam studi ini bersumber pada hasil Survei Demografi dan KesehatanIndonesia (SDKI) tahun 2007. Unit analisis adalah perempuan berstatus kawin usia 15-24 tahun diseluruh Indonesia (4.766 orang). Ada tujuh variabel tidak bebas dalam analisis: statuspengetahuan tentang alat/cara KB, status pengetahuan tentang sumber informasi alat/cara KB,sikap suami terhadap KB, diskusi KB dengan suami, status pemakaian alat/cara KB, statuspemenuhan kebutuhan berKB dan jumlah anak ideal. Variabel bebas meliputi umur, jumlah anakmasih hidup, lama kawin, wilayah tempat tinggal, pendidikan, indeks kekayaan rumah tangga danperan istri dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Analisis data dilakukan secara deskriptifdan inferensial. Untuk analisis inferensial, model statistik yang digunakan adalah model regresilogistik biner. Tujuh analisis regresi logistik biner dilakukan.Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa persentase perempuan usia 15-24 tahun yangmengetahui alat/cara KB, yang suaminya setuju KB dan yang ingin mempunyai anak tiga (3)orang atau kurang lebih rendah pada perempuan yang berusia 15-19 tahun, yang mempunyaianak tiga (3) atau lebih, telah menikah enam (6) tahun atau lebih, tinggal di wilayah pedesaan,berpendidikan rendah, berasal dari rumah tangga miskin dan tidak berperan dalam pengambilankeputusan rumah tangga. Persentase perempuan yang mengetahui sumber informasi KB danyang pernah diskusi KB dengan suami lebih rendah pada perempuan yang berusia 15-19 tahun,yang mempunyai anak tiga (3) atau lebih, telah menikah enam (5) tahun atau kurang, tinggal diwilayah pedesaan, berpendidikan rendah, berasal dari rumah tangga miskin dan tidak berperandalam pengambilan keputusan rumah tangga.Persentase perempuan yang yang sedang memakai suatu alat/cara KB lebih rendah padaperempuan yang berusia 15-19 tahun, yang mempunyai anak tiga (3) atau lebih, telah menikahlima (5) tahun atau kurang, tinggal di wilayah perkotaan, berpendidikan tinggi, berasal dari rumahtangga miskin dan tidak berperan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Persentaseperempuan yang kebutuhan berKBnya tidak terpenuhi lebih tinggi pada perempuan yang berusia20-24 tahun, yang mempunyai anak tiga (3) atau lebih, telah menikah lima (5) tahun atau kurang,

  • xxviii Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    tinggal di wilayah perkotaan, berasal dari rumah tangga miskin dan tidak berperan dalampengambilan keputusan rumah tangga.Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa peluang mengetahui alat/cara KB lebih rendah padaPUS muda yang istrinya berpendidikan tidak sekolah atau tidak tamat SD, yang berasal darikeluarga miskin dan yang istrinya tidak turut dalam pengambilan keputusan rumah tangga.Peluang mengetahui sumber informasi KB lebih rendah pada PUS muda yang istrinya berusia 15-19 tahun, yang jumlah anak masih hidupnya lebih sedikit, yang lama kawinnya lebih pendek, yangtinggal di pedesaan, yang istrinya berpendidikan tidak sekolah atau tidak tamat SD, yang berasaldari keluarga miskin dan yang istrinya tidak turut dalam pengambilan keputusan rumah tangga.Peluang suami tidak setuju KB lebih tinggi pada PUS muda yang istrinya berusia 15-19 tahun,yang jumlah anak masih hidupnya lebih sedikit, yang lama kawinnya lebih panjang, yang istrinyaberpendidikan tidak sekolah atau tidak tamat SD, yang berasal dari keluarga miskin dan yangistrinya tidak turut dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Peluang pernah diskusi KBdengan suami lebih rendah pada PUS muda yang jumlah anak masih hidupnya lebih sedikit, yangtinggal di perkotaan, yang istrinya berpendidikan tidak sekolah atau tidak tamat SD dan yangberasal dari keluarga miskin.Peluang sedang memakai alat/cara KB lebih rendah pada PUS muda yang istrinya yang jumlahanak masih hidupnya lebih sedikit, yang lama kawinnya lebih pendek, yang istrinya berpendidikantidak sekolah atau tidak tamat SD, yang berasal dari keluarga miskin dan yang istrinya tidak turutdalam pengambilan keputusan rumah tangga. Peluang kebutuhan berKB yang tidak terpenuhilebih tinggi pada PUS muda yang jumlah anak masih hidupnya lebih banyak, yang lama kawinnyalebih pendek, yang tinggal di perkotaan, yang berasal dari keluarga miskin dan yang istrinya tidakturut dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Peluang mengingini tiga (3) orang anak ataukurang lebih rendah pada PUS muda yang jumlah anak masih hidupnya lebih banyak, yangistrinya berpendidikan tidak sekolah atau tidak tamat SD dan yang berasal dari keluarga miskin.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxix

    ANALISA LANJUT SDKI 200710. Peran faktor komposisional dan faktor kontekstual

    terhadap jumlah anak yang diinginkan di indoensia :permodelan dengan analisis multilevel

    Penulis:Sutanto Priyo Hastono

    Berdasarkan peraturan Presiden RI nomor 7 tahun 2004 menggariskanarah, kebijakan dan program KB Nasional untuk periode lima tahun mendatangsebagai berikut: Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitasmerupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Halini diselenggarakan melalui pengendalian kualitas penduduk dan peningkatankualitas insani serta kualitas sumber daya manusia (SDM). Karakteristikpembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhanpenduduk, KB dan dengan cara pengembangan kualitas pendudukan melaluiperwujudan keluarga kecil berkualitas(BKKBN, 2006)

    Untuk meningkatkan kualitas keluarga antara lain dilakukan melaluipengendalian kelahiran dengan upaya memberikan pelayanan kontrasepsi.Selama kurun waktu dua dasawarsa, pelayanan kontrasepsi dalampembangunan KB di Indonesia telah memperoleh hasil yang cukupmengembirakan. Walaupun pada satu dasawarsa terakhir seakan-akan programKB terdengar lemah gaungnya/kegiatannya, namun ternyata dari data SDKI2007 program KB ada keberhasilannya. Keberhasilan ditandai dengan semakinmeningkatnya prevalen Wanita Usia Subur (WUS) yang menggunakan metodekontrasepsi, walaupun peningkatannya hanya kecil. Pada data SDKI tahun 2003ada sebesar 57,4 % wanita menikah yang memakai kontrasepsi. Sedangkanpada SDKI 2007 didapatkan data ada 61,4 % wanita menikah yang memakaikontrasepsi (SDKI, 2008).

    Salah satu faktor yang paling mendasar mempengaruhi perilakupemakaian kontrasepsi adalah jumlah anak yang diinginkan PUS. Jumlah anakyang diinginkan sebetulnya bukan merupakan variabel yang langsungberhubungan dengan fertilitas, namun berhubungan dengan variabel yangmempengaruhi salah satu variabel antara, yaitu pengaturan kelahiran. Sejalandengan konsep keluarga kecil, yang saat ini dikenal dengan pesan dua anaklebih baik, maka konsep jumlah anak yang diinginkan PUS akan berpengaruhterhadap tercapainya konsep keluarga kecil.

  • xxx Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas

    Menginat masih tingginya jumlah anak yang diinginkan yang diinginkan PUS,oleh karena itu perlunya dilakukan pengkajian tentang peran faktor-faktor yangberhubungan jumlah anak yang diinginkan PUS di IndonesiaDesain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi potong lintang yaitupenelitian observasional dalam rangka mempelajari dinamika hubungan antarafaktor-faktor risiko dengan efek berupa penyakit atau status kesehatan tertentu,dengan menggunakan model pendekatan pengumpulan data point time(Praktiknya, 2000)

    Populasi adalah semua wanita kawin di seluruh Propinsi Indonesia.Sedangkan sample penelitian adalah semua wanita kawin, yang tercakup dalamdata SDKI 2007

    Sumber data utama adalah data hasil SDKI 2007, namun untukkelengkapan variabel kontekstual maka sumber data juga diambil dari bukulaporan Kondisi Kelembagaan SKPDKB Kabupaten/Kota 2007 untuk memperolehvariabel kontekstual bentuk kelembagaan. Selain itu data diambil pula daribuku laporan Hasil Analisa Pendataan PLKB/BKB tahun 2007, untuk memperolehvariable kontekstual jumlah PLKB. Kedua variable kontekstual tersebutkemudian disatukan/dimerger dengan data SDKI 2007.

    Oleh karena Sampling SDKI 2007 menggunakan pendekatan desainsampel komplek, maka cara analisis datanya juga harus menggunakan kaidahteknik analisis desaian sampel komplek. Sesuai dengan tujuan penelitian makaanalisis data dimulai dari analisis univariabel, bivariabel dan multivariabel.

    Analisis univariat denga distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan ujikai kuadrat. Sedangkan analisis multivariat yang digunakan pada analisis iniadalah analisis regresi logistik ganda dengan menggunakan pendekatan analisismultilevel. Analisis multilevel saat ini berkembang menjadi suatu teknik analisisyang sangat bermanfaat di berbagai bidang, termasuk kesehatan masyarakatdan epidemiologi. Analisis multilevel mengakomodasi pendekatan individu dankelompok. Analisis multilevel melakukan pengamatan, pengukuran dan analisisvariabel pada berbagai level secara serentak, misalnya level individu dan levelkabupaten. Dengan cara ini memungkinkan dapat memilah kontribusi masing-masing level.

    Hasil survei menunjukkan jumlah anak yang diinginkan wanita rata-ratanya adalah 2,8 anak. Setelah dikelompokkan, mereka yang menginginkanjumlah anak 2 ada sebanyak 55,1 %. Kenyataan ini sedikit menggembirakankarena sudah banyak wanita yang menginkan jumlah anak yang sedikit Temuanpenelitian membulktikan bahwa faktor komposisional umur ibu, umur suami,pendidikan ibu, dan tempat tinggal berhubungan signifikan dengan jumlah anakyang diinginkan.

    Faktor komposisional yang paling berperan besar terhadap jumlah anakyang diingkan adalah umur ibu. Peran/Kontribusi variabel komposisional tingkat

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas xxxi

    individu yang meliputi umur ibu, pendidikan ibu, tempat tinggal dan umur suamidalam menjelaskan jumlah anak yang diinginkan hanya sangat kecil (8,6 %).Sebaliknya variable kontekstual di tingkat kabupaten (level kabupaten)mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap jumlah anak yang diingkan,yaitu sebesar 91,4 %.

    Jumlah anak yang diinginkan lebih banyak dipengaruhi adanya perbedaankarakteristik tingkat kabupaten (level 2) dibandingkan dengan level individu(level 1). Perbedaan variasi antar kabupaten menyebabkan adanya perbedaanjumlah anak yang diinginkan wanita di Indonesia. Variabel tingkat kabupatenyang berpengaruh terhadap jumlah anak yang diingkan adalah variable jumlahPLKB di kabuoaten dengan besarnya pengaruh sebesar 9,1 % sedangkansisanya (90,1 %) dipengaruhi oleh faktor lain.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 1

    I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Akhir-akhir ini banyak ahli dan pengamat kependudukan memberikanperhatian pada studi keluarga berencana (Wiyono, 2008). Setidaknya terdapat tigaalasan utama mengapa titik perhatian tertuju pada program keluarga berencana.Pertama, keberhasilan program keluarga (KB) di masa orde baru dalam menekan lajupertumbuhan penduduk sarat dengan sentralisme dan tidak memperhatikan hakreproduksi individu sebagaimana diamanatkan ICPD 1994. Dalam ICPD disebutkantujuan KB adalah (1) memberikan kebebasan kepada pasangan dan individu secarabertanggungjawab untuk menentukan jumlah dan jarak anak yang akan dimiliki, (2)memperoleh informasi yang memadai mengenai pilihan-pilihan metode KB yangada, (3) menyediakan secara lengkap metode yang efektif dan aman untuk pasanganatau individu yang menginginkan KB. Hal ini berarti keluarga berencana tidakhanya berorientasi pada target penurunan, tetapi juga mulai memperhatikan statusdan hak reproduksi perempuan, etika, serta hukum (Darwin, 1996).

    Kedua, KB tidak lagi menjadi prioritas pembangunan di era otonomi daerah.Melalui Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 kelangsungan program dankelembagaan KB diserahkan kepada pemerintah daerah. Oleh karenanya,pelaksanaan program KB sangat tergantung pada persepsi dan pemahamanpemerintah daerah mengenai manfaatnya bagi peningkatan kualitas sumber dayamanusia dan pembangunan berkelanjutan. Ketiga, kekhawatiran terjadinya ledakanpenduduk (baby boom) di tahun 2015 yang diperkirakan mencapai 300 juta jiwaapabila program KB tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, program keluargaberencana perlu kembali digalakkan sebagai bagian penting untuk mengendalikanangka kelahiran.

    Berbagai tulisan menunjukkan keberhasilan program KB dalam mengendalikanangka kelahiran yang ditandai dengan penurunan Total Fertility Rate (TFR). Sejaktahun 1970 hingga tahun 1991 TFR menurun hingga mencapai 3,0. Tahun 1995 TFRmengalami penurunan menjadi 2,8 dan mencapai 2,7 di tahun 1997. Pada tahun 2003TFR kembali mengalami penurunan meskipun tidak signifikan yaitu menjadi 2,6dan cenderung stagnan hingga tahun 2007 (SDKI, 1991, 1995, 1997, 2003, 2007).Penurunan angka kelahiran tersebut berkaitan dengan pemakaian alat kontrasepsi.Data menunjukkan adanya pola hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas2

    dengan rendahnya fertilitas. Beberapa provinsi di Indonesia yang angka fertilitasnyarendah seperti di Provinsi DIY (1,8) memiliki angka prevalensi kontrasepsi yangtinggi (66 persen), sedangkan di Provinsi NTT fertilitasnya cukup tinggi (4,1)ternyata angka prevalensi kontrasepsinya hanya 42 persen. Namun demikianditemukan pula provinsi dengan tingkat fertilitas rendah dan angka prevalensikontrasepsi yang juga rendah. Sebagai contoh di Provinsi DKI Jakarta angkakelahirannya 2,1, sedangkan angka prevalensi kontrasepsi hanya 60 persen(dibawah angka nasional 61 persen). Kondisi ini mengindikasikan pemakaian alatkontrasepsi sebagai salah satu variabel yang secara langsung berpengaruh terhadapfertilitas kontribusinya tidak sama di tiap daerah. Untuk itu perlu dilakukan studilanjut mengenai kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertilitas. Studi danpengetahuan ini penting dilakukan karena akan membantu usaha mempercepatpenurunan fertilitas. Pada daerah dengan TFR tinggi misalnya, usaha penurunanfertilitas dapat dilakukan dengan meningkatkan pemakaian kontrasepsi. Hal iniselaras dengan salah satu tujuan MDGs, yaitu meningkatkan proporsi wanita 15-49tahun berstatus kawin untuk menggunakan alat kontrasepsi. Pencapaian tujuan inidiharapkan dapat menurunkan angka fertilitas (DHSI, 1991).

    1.2 TujuanPenelitian ini bertujuan untuk.

    1. Mengetahui kontribusi pemakaian alat kontrasepsi terhadap fertillitas2. Mengidentifikasi metode kontrasepsi yang efektif dalam menekan fertilitas3. Menganalisis faktor-faktor yang bersosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 3

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    Secara demografis, fertilitas diartikan sebagai hasil reproduksi yangditunjukkan dengan banyaknya bayi lahir hidup (Hartanto, 1994). Fertilitas inimerupakan salah satu penyumbang tingginya angka kelahiran selain mortalitas danmigrasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan angkakelahiran adalah melalui Program Keluarga Berencana (KB), salah satunya melaluipemakaian alat kontrasepsi oleh pasangan usia subur.

    Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu dari sekian banyak variabel yangsecara langsung berpengaruh terhadap angka kelahiran (lihat Freedman, 1975 ;Davis and Blake 1956). Adapun cara kontrasepsi yang termasuk di dalamnya adalahIUD, pil hormon, suntikan hormon, kondom, sterilisasi, dan norplant. Sedangkancara-cara sederhana seperti senggama terputus, pantang berkala, abstinensi tidaktermasuk di dalamnya (Singarimbun, 1987). Sementara Hatcher, et.al, (1997)mengelompokkan cara kontrasepsi ke dalam tiga metode, yaitu (a) metode sangatefektif yang terdiri dari norplant, IUD, vasektomi, suntik, dan sterilisasi, (b) metodeefektif yaitu LAM, dan (c) metode kurang efektif yang terdiri dari kondom, pantangberkala, dan diaphragm with spermicide.

    Dari berbagai studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pemakaianalat kontrasepsi terbukti mampu menurunkan angka kelahiran (Ananta, et.al, 1993;Bongaarts, 1978; Hull, 1976; Becker, 1960; Easterlin, 1958). Sebagai contoh di Nepal,penggunaan alat kontrasepsi berhasil menurunkan angka kelahiran menjadi 4,2,sementara di India angka ini mencapai 3,5 dan Bangladesh sebesar 2 (Mishra,Jayaraman dan Arnold, 2009). Sementara itu penelitian Boongaarts, 2003; Blacher, etal, 2005 menyebutkan pemakaian alat kontrasepsi pada perempuan berpendidikanlebih tinggi dibandingkan yang tidak berpendidikan. Tingkat fertilitas perempuanyang memiliki pendidikan dasar cenderung lebih tinggi dibandingkan mereka yangberpendidikan menengah ke atas. Selain itu, perempuan yang tidak memilikipendidikan juga cenderung memiliki tingkat fertilitas yang lebih tinggidibandingkan mereka yang berpendidikan dasar. Dengan demikian, tampak bahwatingkat pendidikan berkorelasi secara negatif terhadap pemakaian alat kontrasepsi.

    Studi yang lain menemukan tingkat pendidikan akan meningkatkan kontrolterhadap alat kontrasepsi dan pengendalian fertilitas (UN, 1993). Pendidikanmemfasilitasi perolehan informasi tentang keluarga berencana, meningkatkankomunikasi suami-istri, dan akan meningkatkan pendapatan yang memudahkanpasangan untuk menjangkau alat kontrasepsi.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas4

    Faktor lain yang berasosiasi dengan pemakaian alat kontrasepsi adalah kondisisosial ekonomi. Kondisi perekonomian rumah tangga yang kurang baik ditandaioleh rendahnya daya beli masyarakat termasuk kemampuan mereka untuk membelialat kontrasepsi. Hal ini kemudian berdampak pada peningkatan angka kelahiran.Dalam salah satu studi, Bongaarts (2001) menunjukkan adanya perbedaan polakelahiran antara negara maju dan negara miskin. Kelahiran yang diukur dengantotal fertility rate (TFR) di Itali dan Spanyol masing-masing 1,24 dan 1,27. Sedangkandi Sweden sebesar 1,65, Thailand 1,94, Singapura 1,79, Korea 1,65 dan Hongkong1,32. angka tersebut lebih rendah dibandingkan Moldova 2,15, ataupun Albaniayang mencapai 2.85. Hal tersebut berkaitan dengan perbedaan tingkat pemakaianalat kontrasepsi. Di Malawi, persentase perempuan miskin yang menggunakan alatkontrasepsi modern cenderung lebih rendah (19,8 persen) dibandingkan perempuankaya (36,2 persen). Begitu juga di Zambia perbandingannya mencapai 10,8 persendan 52,5 persen (USAID, 2007).

    Pemakaian alat kontrasepsi tidak terlepas dari peran serta penggunanya. Hasilpenelitian LD UI (1998) terhadap akseptor kontrasepsi mantap menemukan alasanpenggunaan kontrasepsi pada umumnya karena tidak ingin menambah anak.Sedangkan kajian Oppong (1984) di Ghana dan Nigeria menunjukkan rendahnyaperan serta suami dalam penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini disebabkan karenalaki-laki atau suami tidak banyak terlibat dalam program-program yang adasehingga tingkat fertilitasnya cukup tinggi. Peran serta suami dalam prosespengambilan keputusan pemakaian alat kontrasepsi lebih dipengaruhi olehpengalaman hidup yang dijalani semenjak masih kanak-kanak (Miller, 1992).Keinginan memiliki anak lagi langsung setelah kelahiran pertama, ataumenginginkannya kemudian dalam waktu yang tidak ditentukan, atau malahantidak menginginkan anak lagi sangat berpengaruh terhadap tingkat penggunaanalat kontrasepsi. Inilah yang patut diwaspadai karena dapat berimbas pada angkakelahiran yang tinggi.

    Idealnya, terkait dengan upaya penundaan kehamilan atau kelahiran anakberikutnya setelah anak pertama lahir, hal yang penting dilakukan adalah mengaturjarak kehamilan. Upaya untuk mengatur jarak kehamilan atau kelahiran ini dapatdilakukan dengan menggunakan kontrasepsi (Sunarto, 2009). Keberhasilanpemakaian kontrasepsi untuk mengatur jarak kehamilan tergantung pada kondisifisik, pola hidup, kebiasaan, dan kedisipilinan pemakainya masing-masing. Prioritasini diberikan agar pemakaian alat kontrasepsi dapat efektif, memiliki daya lindungtinggi terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan, serta tidak menimbulkan efek

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 5

    samping yang membahayakan bagi pemakainya. Untuk itu, kualitas pelayanankeluarga berencana perlu ditingkatkan.

    Bruce (1990); Wilopo(1995) mengemukakan bahwa kualitas layanan yang tinggiakan menurunkan fertilitas melalui peningkatan pemakaian dan pemilihan alatkontrasepsi. Ada beberapa kemungkinan dampak positif yang muncul. Pertama,pemberian pilihan alternatif alat kontrasepsi akan meningkatkan efektifitas programKB. Kedua, memberikan pilihan metode alternatif akan meningkatkan prevalensi.Beberapa studi menunjukkan semakin banyak metode alternatif yang disediakan,maka semakin tinggi angka prevelansi kontrasepsinya. Ketiga, denganmempertimbangkan kebutuhan dan pilihan klien dalam memberikan jeniskontrasepi akan meningkatkan kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi. Keempat,pemberian jenis alat kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan individu maupunpasangan akan mempunyai hasil yang lebih baik dibanding kalau memaksapemakaian jenis kontrasepsi tertentu. Dengan demikian tampak bahwa kualitaspelayanan tidak hanya menyangkut kedekatan dan jarak tempuh ke tempat layanansemata, tetapi juga menyangkut ekonomi, psikologi, kesadaran dan persepsi klienterhadap metode kontrasepsi yang dibutuhkannya (Dwiyanto, 1997; Thang danAnh, 2002).

    Berdasarkan uraian tersebut di atas terlihat bahwa fertilitas dipengaruhi olehberbagai variabel, penggunaan alat kontrasepsi adalah salah satunya. Beberapavariabel lainnya seperti pendidikan, jarak kelahiran, kualitas pelayanan KB, statusekonomi, peran serta suami, preferensi dan nilai anak serta keinginan menambahanak juga memiliki pengaruh terhadap fertilitas secara tidak langsung melaluipemakaian alat kontrasepsi. Melalui pemetaan karakter responden wanita pernahkawin usia 15-49 tahun dan tidak sedang hamil akan diidentifikasikan kontribusipemakaian alat kontrasepsi terhadap fertilitas yang secara diagramatis digambarkansebagai berikut.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas6

    Fertilitas

    WPK sedangmenggunakan alkon

    WPK tidakmenggunakan alkon

    WPK tidaksedang hamil,status kawin usia15-49 th

    1. Demografi, geografi, sosial : umur,tingkat pendidikan, agama, wilayahtempat tinggal

    2. Ekonomi : tingkat ekonomi (Wealthindeks)

    3. Akses informasi : literasi, terpaanmedia masa

    4. Perencanaan keluarga : usiaintercourse pertama kali, keinginanmenambah anak, jarak kelahiran,persetujuan suami (istri menggunakanalkon)

    5. Layanan KB : kunjungan petugas,mengunjungi faskes

    6. Sumber informasi KB : Radio, TV,Koran, poster, pamphlet. Petugas KB,guru, tokoh agama, bidan, PKK,apoteker, pimpinan desa

    Jenis alkon yangdigunakan

    Sterilisasi perempuan Sterilisasi laki-laki Pill IUD Kondom Implant Senggama terputus Pantang berkala Jamu Pijat

    Efektif atau tidak

    Gambar 1Kerangka Berfikir Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi terhadap

    fertilitas

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 7

    III. METODE PENELITIAN

    Penelitian ini bersifat deskriptif eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif.Data atau informasi yang digunakan bersumber pada hasil Survei Demografi danKesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dari daftar pertanyaan wanita pernah kawinusia 15-49 tahun. Total responden yang diteliti sebanyak 32.895. Responden tersebutmencakup seluruh wanita, baik dalam kondisi hamil maupun tidak hamil.Sementara itu, pemakaian alat kontrasepsi tidak berlaku bagi wanita hamil. Olehkarena itu, dalam analisis ini hanya dilakukan pada wanita pernah kawin dan tidaksedang hamil. Dengan syarat tersebut, maka total responden yang memenuhi syaratdalam penelitian ini sebanyak 29.267.

    Variabel yang digunakan meliputi.Tabel 1. Rincian Variabel Penelitian

    D im e n s i N am a v a r ia b e l

    D G S U m u rT in g k a t p e n d id ik a nA g a m aW ila ya h

    E k o n o m i R u m a h T a n g g a S E S ta tu s E k o n o m i W e a lth In d e xA I M e le k H u ru f

    A k s e s p a d a M e d ia T V , R a d io , K o ra nP K U s ia k a w in p e r ta m a p ro x i : u s ia s a a t in te rc o u rs e p e r ta m a

    K e in g in a n p u n ya a n a k la g iU m u r a n a k te ra k h irJ a ra k k e la h ira n a n a kp e r ta m a d a n k e d u aL a m a m e n yu s u iP e rs e tu ju a n s u a m i u n tu kis t r i m e n g g u n a k a n a lk o nP e n g a m b ila n k e p u tu s a n b e r -K B

    S ia p a ya n g m em u tu s k a n m e n ja d i p e s e r ta K B

    L K B A k s e s la ya n a n M e n g u n ju n g i fa s il ita s k e s e h a ta n d a la m 6 b u la n te ra k h ir ,d ik u n ju n g i p e tu g a s K B d a la m 6 b u la n t te ra k h ir

    In fo rm a s i K B P em b e r ita h u a n m a s a la h p e m a k a ia n a lk o n , t in d a k a nya n g d ia m b il j ik a m a s a la h te r ja d i, d a n d ib e r ita h u te n ta n gm e to d e K B ya n g la in ; N a ra s u m b e r in fo rm a s i (m e d ia d a no ra n g / ja b a ta n )

    P e n g g u n a a n a la t K B P J e n is a la t k o n tra s e p s iF e r t i l ita s F J u m la h a n a k m a s ih h id u p

    K e te ra n g a n ta m b a h a n

    D em o g ra f i, G e o g ra f i, d a nS o s ia l

    A k s e s In fo rm a s i

    L a ya n a n K B

    D e f in is i V a r ia b e l

    P e re n c a n a a n K e lu a rg a

    Analisis yang ditempuh terdiri atas tiga tahap.Tahap 1 Bertujuan untuk melihat sebaran karakter umum responden, perencanaan

    keluarga, layanan KB, serta informasi KB. Kemudian dilanjutkan denganmelihat adanya hubungan asosiasi dengan fertilitas.Metode yang dipakai adalah analisis deskriptif dan analisis tabulasi silangdengan uji asosiasi dan tingkat korelasi ordinal.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas8

    Tahap 2. Bertujuan untuk melihat apakah layanan KB dan penggunaan alatkontrasepsi memiliki kontribusi pada perubahan tingkat fertilitas. Tahapini terdiri atas dua pemodelan regresi linier berganda, yang melibatkanmenempatkan tingkat fertilitas sebagai variabel dependen, dan karakterumum (DGS,SE,AI), perencanaan keluarga (PK), serta Layanan KB (LKB)sebagai variabel independen. Kedua model yang dibangun adalah:Model 1: Pada responden yang tidak menggunakan alat kontrasepsi

    variabel independen : DGS,SE,AI, PK.Model 2: Pada responden yang menggunakan alat kontrasepsi - variabel

    independen : DGS,SE,AI, PK, dan LKBKedua model tersebut akan dibandingkan signifikansi dan kekuatanmodelnya melalui statistik R-square dan F-test. Dihipotesiskan pada modelkedua akan terjadi peningkatan signifikansi dan kekuatan model karenamemasukkan variabel independen LKB sebagai prediktor respondenpengguna alat kontrasepsi

    Tahap 3. Bertujuan untuk melihat keterkaitan antara tingkat fertilitas dengan tingkatpenggunaan alat kontrasepsi yang dipakai (berdasarkan jenis alkon).Metode yang digunakan adalah regresi logistik binary, denganmenempatkan status penggunaan satu jenis alat kontrasepsi sebagaivariabel dependen, dan tingkat fertilitas sebagai variabel independen.Dengan memanfaatkan nilai odds-ratio model regresi logistik, makaefektifitas penggunaan berbagai jenis alkon dapat dibandingkan satu samalainnya.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 9

    IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    3.1 Karakteristik RespondenTujuan utama dari sub bab ini adalah menyediakan informasi dan gambaran

    kondisi sosial ekonomi responden. Informasi mengenai karakteristik latar belakangresponden penting guna menjelaskan temuan-temuan yang disajikan dalam tulisanini. Bagian ini dimulai dengan menyajikan karakteristik latar belakang respondenmenurut umur, tingkat pendidikan, agama, dan daerah tempat tinggal. Informasilebih mendalam mengenai tingkat melek huruf, dan akses terhadap media massa,jumlah anak yang dimiliki, dan yang diinginkan juga akan dibahas.

    Tabel 3.1 menyedikan informasi distribusi responden yang diteliti menurutumur, daerah tempat tinggal, indeks kesejahteraan, tingkat pendidikan, dan agama.Rata-rata umur responden adalah 33 tahun, sekitar 19 persen responden berumurantara 30- 34 tahun, dan 17 persen berumur antara 25-29 tahun. Ibu-ibu dewasa yangberumur antara 40-44 tahun dan 45-49 tahun masing-masing 17 persen dan 14persen, sedangkan ibu muda (umur 15-9 tahun) jumlahnya kurang dari tiga persen.

    Lebih dari separoh responden yang diteliti bertempat tinggal di desa (59persen), dan beragama Islam (89 persen). Berdasarkan tingkat pendidikannya, 33persen responden tamat pendidikan dasar, 19 persen tamat SMU, dan sebagian keciltamat akademik atau perguruan tinggi (masing-masing tiga persen).

    Data Tabel 3.1 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antararesponden golongan menengah dengan menengah atas, masing-masing sebanyak 20persen. Responden terbawah sebanyak 18 persen sedangkan responden menengahbawah dan teratas masing-masing sebanyak 20 persen.

    Secara umum, tingkat melek huruf responden wanita kawin yang diteliti cukuptinggi, yaitu sebanyak 88 persen. Apabila melihat akses informasi dapat diketahui 73persen responden mengakses informasi melalui televisi, lima persen melalui koran,dan 20 persen responden setiap hari mendengarkan radio. Akses terhadap informasiini penting dalam meningkatkan pengetahuan dan dapat mempengaruhi sikap danperilaku mereka. Dengan mengetahui sumber informasi yang biasa diakses olehmasyarakat, pemerintah dapat mengembangkan media informasi untukpenyebarluasan informasi kesehatan dan keluarga berencana.

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas10

    Tabel 3.1Distribusi responden menurut latar belakang karakteristik, 2007

    Frequency PercentKelompok umur15-19 681 2,320-24 3497 11,925-29 5094 17,430-34 5454 18,635-39 5498 18,840-44 4836 16,545-49 4208 14,4Tempat tinggalKota 12106 41,4Desa 17162 58,6Indeks kesejahteraan kuntilTerbawah 5391 18,4Menengah bawah 5913 20,2Menengah 6041 20,6Menengah atas 6008 20,5Teratas 5915 20,2PendidikanTidak sekolah 1959 6,7Tidak tamat SD 4951 16,9Tamat SD 9755 33,3Tamat SMP 5358 18,3Tamat SMU 5489 18,8Tamat Akademi 847 2,9Tamat Universitas 911 3,1AgamaIslam 25912 88,6Protestan 1744 6,0Katolik 844 2,9Hindu 547 1,9Budha 126 0,4Lainnya 62 0,2Melek hurufTidak melek huruf 3496 12,3Tidak melek huruf 28388 87,7Total 29267 100

    Sumber : SDKI 2007, Diolah

  • Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas 11

    Grafik 3.1Persentase wanita pernah kawin umur 15-49 tahun tidak sedang hamil

    menurut akses terhadap media masa, 2007

    Sumber : SDKI 2007, Diolah

    Responden yang diteliti sebagian (61 persen) mempunyai anak 1-2 orang dan29,9 persen mempunyai anak 3-4 orang, sebaliknya sebagian kecil (sembilan persen)mempunyai anak lebih dari 5 orang. Rata-rata 15 persen responden memutuskanuntuk mengg