Konsep Gerakan an Ekologi - Lingkungan

download Konsep Gerakan an Ekologi - Lingkungan

of 30

  • date post

    01-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    459
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Konsep Gerakan an Ekologi - Lingkungan

1|P a g e 1

KONSEP GERAKAN PEMERINTAHAN, SOSIAL DAN HUKUM DALAM UPAYA PENYELAMATAN LINGKUNGAN INDONESIAOleh: Subagyo (Surabaya, April 2011)

ABSTRAK Lemahnya penegakan hukum lingkungan di Indonesia disebabkan oleh keberpihakan penegak hukum kepada kepentingan kapital dan kurang responsif terhadap problem keadilan sosial. Dibutuhkan penanaman paradigma dan penyusunan agenda upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup terkait masa depan generasi penerus Indonesia. Konsepnya adalah eco-government, eco-society and eco-law action based on eco-law system (gerakan pemerintahan, sosial dan hukum berdasarkan sistem hukum lingkungan), di mana respon, kekuatan dan kesadaran masyarakat merupakan cara alternatif dalam penegakan hukum lingkungan.

PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah Sejarah kerusakan ekologi dunia dapat dibaca dari fenomena hujan asam pernah

terjadi di Manchester, Inggris, kota penting dalam Revolusi Industri. Pada tahun 1852, Robert Angus Smith menemukan hubungan antara hujan asam dengan polusi udara. Pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran masyarakat akan hujan asam di Amerika Serikat meningkat di tahun 1990-an setelah di New York Times memuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest di New Hampshire tentang banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh hujan asam.1 Prof. David Orr dari Oberlin College menyampaikan bahwa jumlah sperma para lelaki di dunia menurun 50 persen sejak tahun 1938, air susu perempuan sering mengandung lebih banyak racun dibandingkan yang diizinkan dalam susu yang dijual perusahaan susu. Toksin yang menular saat kehamilan mempengaruhi kekebalan bayi

1

http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan_asam

2|P a g e 2 yang tak berdosa. Hampir 80 persen hutan Eropa rusak karena hujan asam.2 Kita dapat menyebut fenomena itu sebagai akibat kekejaman terhadap ekologi, suatu perlakuan yang tidak adil kepada alam, karena mengotorinya dengan dalih kepentingan ekonomi. Indonesia juga mempunyai problem ekologi yang cukup berat. Laju kerusakan hutan mencapai 1,1 juta hektar pertahun berdasarkan data pemerintah tahun 2009. Menteri Kehutanan menyatakan penyebabnya adalah banyak kawasan hutan yang telah beralih menjadi pertambangan dan perkebunan. Dampaknya juga pada percepatan pemanasan global (global warming).3 Dampak buruk global warming dan pertambangan sudah dirasakan. Tahun 2007 Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Prof. Syamsul Maarif, mengatakan bahwa kenaikan air laut di Indonesia mencapai sekitar 0,5 sentimeter per tahun atau 10 sentimeter dalam 20 tahun. Prof. Syamsul menunjukkan data, Indonesia semula memiliki 17.504 pulau, kini tinggal 17.480 pulau, karena tenggelam akibat naiknya air laut dan penambangan yang menyebabkan permukaan pulau makin rendah. Prof. Syamsul tidak bicara peran pemerintah, tapi dia berharap peran masyarakat dengan pernyataan, "Karena itu, seluruh penghuni pulau kecil harus sadar bagaimana mengelola pulaunya."4 Berbagai aktivitas yang melanggar kaidah hukum lingkungan selama ini tidak memperoleh penyelesaian yang baik. Tragedi semburan lumpur Lapindo merupakan sebuah contoh pelanggaran hukum administrasi negara dengan cara pemberian izin yang melanggar hukum tata ruang dan jarak pengeboran dengan sarana umum serta pemukiman penduduk. Terjadi pelanggaran aspek-aspek teknik dalam pelaksanaan pengeboran sehingga mengakibatkan kecelakaan yang berujung pada semburan lumpur panas yang menghancurkan belasan desa/kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon di Sidoarjo Jawa Timur.5 Perkara pidana kasus lumpur Lapindo dihentikan Kepolisian RI. Gugatan YLBHI dan WALHI juga gagal. Putusan pengadilan menyatakan semburan lumpur 2

DanielC.Maguire,EnergiSuci(terj.AliNoerZaman),PohonSukma,Yogyakarta,2004,hal.8

9.

Edan!1,1JutaHektar,LajuKerusakanHutanIndonesia,Kompas,27Nopember2009. PerubahanIklimDuniaMasaDepanPulauKecil,KiamatKecilNegaraKepulauan,GatraEdisi KhususBeredarKamis,22November2007. 5 Laporan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam masalah semburan lumpur panasSidoarjo,tertanggal29Mei2007.4

3

3|P a g e 3 Lapindo disebabkan gempa Yogyakarta, berdasarkan pendapat empat ahli yang diajukan pihak Lapindo Brantas Inc. Kasus ini juga menimbulkan tanda tanya besar, termasuk dalam perspektif hukum acaranya sebab menggunakan keterangan ahli sebagai alat bukti dalam hukum acara perdata adalah melanggar standard pembuktian menurut pasal 1886 KUHPerdata dan pasal 164 HIR. Hakim malah mengabaikan Laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tanggal 29 Mei 2007 dalam kasus Lapindo yang mestinya merupakan alat bukti akta otentik.6 Sedangkan dalam kasus pencemaran Teluk Buyat, hakim Pengadilan Negeri Manado Nomor 284/Pid.B/2005/PN.Mnd juga membebaskan para terdakwa dari Newmont Minahasa Raya. Hakim berpendapat bahwa bahwa asas subsidiaritas harus diterapkan. Hakim juga menyatakan tidak terbukti bahwa Teluk Buyat tercemar, berdasarkan alat bukti hasil riset CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization), WHO (World Health Organization) dan National Institute for Minamata Disease (NIMD) yang dikeluarkan pada 4 Oktober 2004.7 Namun, The New York Times membeberkan informasi bersumber dari Mr. Moran seorang ahli di Amerika Serikat, bahwa studi CSIRO yang dibiayai Newmont telah menemukan kandungan konsentrasi merkuri dalam sedimen dekat dua area pembuangan limbah sebesar 446 dan 678 parts per million. Sedangkan survei WHO, menurut Dr. Jan Speets seorang penasihat teknis WHO, merupakan studi yang sangat dangkal dan tidak menggunakan cara yang ilmiah untuk menentukan penyebab penyakit-penyakit di desa Buyat Pante atau apakah teluk Buyat tercemar. Ia berkata bahwa studi yang lebih komprehensif sangat dibutuhkan.8 Hal senada disampaikan oleh Mineral Policy Institute, Australia yang menyatakan bahwa temuan-temuan CSIRO sesungguhnya menunjukkan bahwa sedimen di dasar Teluk Buyat telah terkontaminasi oleh limbah tambang (tailing) dengan kandungan arsen yang mencapai 10 sampai 20 kali lipat lebih tinggi dari acuan sedimen dasar laut Australia/Selandia Baru serta acuan ambang batas yang mungkin

Subagyo,LumpurlapindodanHukumUsang,opini,Kompas,31Mei2010. Unofficial Transcript of the Ruling Read Out in Manado Court on 24April2007, dari Richardness.org, dan Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009,hal.133137. 8 Jane Perlez, Report Heightens Pollution Dispute at Indonesian Bay, berita, The New York Times,9Nopember2004.7 6

4|P a g e 4 menimbulkan dampak beracun (Probable toxic Effects Level) yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan Kanada.9 Karena adanya kontroversi hasil-hasil riset tersebut, pemerintah Indonesia membentuk Tim Terpadu. Hasil penelitian Tim Teknis (yang menjadi bagian Tim Terpadu tersebut) menyimpulkan ada pelanggaran hukum perizinan yang dilakukan Newmont terkait ketiadaan izin pembuangan limbah tailing yang merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3) dan menyimpulkan pencemaran Teluk Buyat disebabkan perbuatan Newmont.10 Berdasarkan hasil kerja penelitian Tim tersebut maka tanggal 24 Nopember 2004 Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Lingkungan Hidup secara resmi mengumumkan bahwa Teluk Buyat telah tercemar.11 Kita dapat melihat betapa ambigunya watak pemerintahan Indonesia. Di sisi lain mereka menunjukkan keprihatinan terhadap problem ekologi yang kian berat, tapi di tempat lain mereka leluasa memberikan izin-izin eksploitasi dengan cara-cara melanggar kaidah administrasi negara, membuka akses terjadinya kejahatan ekologi. Kementerian Lingkungan Hidup juga merasa prihatin, dalam siaran persnya tanggal 16 Desember 2010 yang menyatakan: Selama penerapan UU Nomor 23 Tahun 1997 hingga saat ini, masih banyak pelaku pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang tidak tersentuh oleh hukum. Kalaupun berlanjut ke pengadilan, seringkali putusan pengadilan belum dapat memenuhi rasa keadilan bagi lingkungan. Berdasarkan data kasus tahun 2009 s/d 2010 yang sampai disidangkan di pengadilan, hakim memutuskan 5 kasus vonis penjara, 14 kasus vonis bebas murni dan 1 kasus vonis percobaan.12 Lemahnya upaya preventif (dari aspek administrasi negara) dan buruknya penanganan kasus-kasus lingkungan hidup tersebut memberikan gambaran bahwa pemerintahan Indonesia, terutama kekuasaan eksekutif dan yudisiilnya (yudikatif) masih belum responsif terhadap kondisi ekologis dan tidak berpikir secara futuristik. Tentu ini sebuah fenomena pemerintahan yang ketinggalan zaman. Critique of the 'Buyat Bay' CSIRO Environmental Monitoring study commissioned by PT NewmontMinahasaRaya(2004),MineralPolicyInstitute,31Oktober2004.9

Hasil Studi Aspek Hukum Kasus Pencemaran/Perusakan Teluk Buyat, Tim Teknis dari Tim Penanganan Kasus Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup di Desa Buyat Pante dan Desa RatatotokTimurKabupatenMinahasaSelatan,ProvinsiSulawesiUtara,Jakarta,8Nopember2004. 11 Rahman Dako, Perlawanan Sosial atas Pertambangan di Sulawesi Utara Memahami PerananLSM,JurnalTanahAirWALHI,EdisiOktoberDesember2009,hal.165. 12 SiaranPers:RakornasPenegakanHukumLingkungan2010,6Desember2010,Kementerian LingkunganHidupIndonesia,www.menlh.go.id.

10

5|P a g e 5 Efektivitas hukum lingkungan masih belum dapat diandalkan. Masa depan nasib lingkungan hidup Indonesia kian terancam. Nasib generasi masa depan dipertaruhkan. Ketika sumber daya alam kelak kian habis dan langka, diikuti dengan persoalan lingkungan yang mengikutinya, negara ini akan mengalami kemunduran dan generasi Indonesia di masa depan akan menjadi korban.

2.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka dirumuskan masalah sebagai

berikut: a. Bagaimanakah sesungguhnya sistem hukum lingkungan hidup Indonesia? b. Bagaimanakah