Konsep dasar etika profesi keperawatan

download Konsep dasar etika  profesi keperawatan

of 28

  • date post

    08-Aug-2015
  • Category

    Education

  • view

    54
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of Konsep dasar etika profesi keperawatan

  1. 1. OLEH : Ns. Ade Rahman, S.Kep NUPN : 9910677110
  2. 2. Pengertian Etika Kata etika berasal dari kata yunani, yaitu ethos. Menurut Araskar dan David (1978) berarti kebiasaan model perilaku atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Etika berhubungan dengan hal yang baik dan dan hal yang tidak baik serta kewajiban moral. Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan salah serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral. Menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik
  3. 3. Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap manusia yang menggunakan manusia juga, yaitu perawat. Pelayanan ini berdasarkan kepercayaan bahwa perawat akan berbuat hal yang benar, hal yang diperlukan , dan hal yang menguntungkan pasien dan kesehatannya. Kebutuhan pelayanan keperawatan adalah universal. Pelayanan profesional berdasarkan kebutuhan manusia, karena itu tidak mebedakan kebangsaan, warna kulit, politik, status sosial, dll.
  4. 4. Kadang-kadang perawat dihadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Perawat memberi asuhan kepada klien, keluarga dan masyarakat, menerima tanggung jawab untuk membuat keadaan lingkungan fisik, sosial, dan spiritual yang memungkinkan untuk penyembuhan dan menekankan pencegahan penyakit, serta meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan kesehatan.
  5. 5. Etika profesi keperawatan merupakan alat untuk mengukur perilaku moral dalam keperawatan. Dalam penyusunan alat ukur ini, keputusan diambil berdasarkan kode etik sebagai standar yang mengukur dan mengevaluasi perilaku moral perawat. Secara umum tujuan etika profesi keperawatan adalah menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan di antara sesama perawat, dan kepercayaan masyarakat kepada profesi keparawatan.
  6. 6. Menurut American Ethics Commision Bureau on Teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu: Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam praktik keperawatan. Membentuk strategi / cara dan menganalisis masalah moral yang terjadi dalam praktik keperawatan. Menghubungkan prinsip moral / pelajaran yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada Tuhan, sesuai dengan kepercayaannya.
  7. 7. KODE ETIK KEPERAWATAN
  8. 8. Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat dan hak manusia (yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan dari profesi. Profesi menyusun kode etik berdasarkan kode etik penghormatan atas nilai dan situasi individu yang dilayani.
  9. 9. Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
  10. 10. Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 5 bab dan 16 pasal Bab 1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain. Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan. Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tang- gung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.
  11. 11. Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association (ANA) adalah sebagai berikut. Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan- pertimbangan status sosial atau ekonomif atribut personal, atau corak masalah kesehatannya. Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia. Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh praktik seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis, atau ilegal.
  12. 12. Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang dijalankan masing-masing individu. Perawat memelihara kompetensi keperawatan. Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain. Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan standar keperawatan.
  13. 13. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat. Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat Iainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan publik. Tanggung jawab Keperawatan
  14. 14. PERMASALAHAN DASAR ETIKA KEPERAWATAN
  15. 15. Lima masalah dasar etika keperawatan 1. Kuantitas vs kualitas hidup 2. Kebebasan vs penanganan dan pencegahan bahaya 3. Berkata secara jujur vs berkata bohong 4. Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah, agama, politik, ekonomi dan ideologi 5. Terapi konvensional vs terapi tidak ilmiah atau coba-coba
  16. 16. Contoh : 1. Seorang bayi dilahirkan dengan penyakiy sindrom down dan beberapa cacat bawaan lainnya. Untuk menyelamatkan kehidupannya, suatu operasi dilakukan dengan segera. Namun, kedua orang tua menolak dengan alasan justru akan menambah penderitaan anak dan mereka tidak dapat memeliharanya. 2. Seorang ibu meminta perawat untuk melepas semua slang yang dipasang pada anaknya yang berusia 14 tahun, yang telah koma selama delapan hari. Dalam keadaan seperti ini, perawat menghadapi masalah tentang posisi yang dimilikinya dalam menentukan keputusan secara moral. Disinilah perawat berada pada posisi masalah kuantitas vs kualitas hidup karena keluarga menanyakan apakah slang dipasang hampir pada semua bagian tubuh tersebut dapat mempertahankan hidup klien.
  17. 17. Contoh : Seorang klien berusia lanjut yang menolak untuk mengenakan sabuk pengaman sewaktu berjalan. Ia ingin berjalan dengan bebas. Pada situasi ini, perawat menghadapi masalah upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan klien.
  18. 18. Contoh : Seorang perawat yang mendapati teman kerjanya menggunakan narkotika. Dalam posisi ini, perawat tersebut berada pada pilihan apakah mengatakan hal ini secara terbuka atau diam karena diancam akan dibuka pula rahasia yang dimilikinya bila melaporkan hal itu pada orang lain.
  19. 19. Contoh : 1. Kampanye antirokok demi keselamatan bertentangan dengan kebijakan ekonomi 2. Alokasi dana untuk penelitian militer lebih besar daripada dana penelitian kesehatan
  20. 20. Dalam melakukan tindakan terapi konvensional, masyarakat biasanya menggunakan berbagai perantara, seperti dukun, keris, batu akik dsb. Contoh : Di Irian Jaya sebagian masyarakat melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri dengan daun daunan yang sifatnya gatal. Mereka percaya bahwa daun tersebut terdapat miang yang dapat melekat dan menghilangkan rasa nyeri bila dipukul-pukulkan pada bagian tubuh yang sakit.
  21. 21. Bagaimana penyelesaiannya
  22. 22. 1. Metode otoritas 2. Metode consensum hominum 3. Metode pendekatan intuisi atau self- evidence 4. Metode argumentasi atau metode sokratik
  23. 23. Metode ini menyatakan bahwa dasar setiap tindakan atau keputusan adalah otoritas. Otoritas dapat berasal dari manusia atau kepercayaan supernatural, kelompok manusia, atau suatu institusi, seperti majelis ulama, dewan gereja, atau pemerintahan. Penggunaan metode ini terbatas hanya pada penganut yang percaya.
  24. 24. Metode ini menggunakan pendekatan berdasarkan persetujuan masyarakat luas atau sekelompok manusia yang terlibat dalam pengkajian suatu masalah. Segela sesuatu yang diyakini bijak dan secara etika dapat diterima, dimasukan dalam keyakinan.
  25. 25. Metode ini dinyatakan oleh para ahli filsafat berdasarkan pada apa yang mereka kenal sebagai konsep teknik intuisi. Metode ini terbatas hanya pada orang-orang yang mempunyai intuisi tajam.
  26. 26. Metode ini menggunakan pendekatan dengan mengajukan pertanyaan atau mencari jawaban dengan alasan yang tepat. Metode ini digunakan untuk memahami fenomena etika.
  27. 27. SEKIAN