Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

of 22 /22
Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal Penyakit infeksi mata perlu mendapat pertolongan segera dan adekuat, agar tidak mengganggu penglihatan terlalu lama atau tidak berakibat gangguan penglihatan dan kebutaan. Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasanya dan reaksi lambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri dan toksik. Di negara-negara maju, 20-30% populasi mempunyai riwayat alergi, dan 50% individual tersebut mengidap konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi bisa berlangsung dari peradangan ringan seperti konjungtivitis alergi musiman atau bentuk kronik yang berat seperti keratokonjungtivitis alergi. 2 i. Pendahuluan Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Penyakit ini bervariasi mulai dari hyperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen 15

Embed Size (px)

description

medical

Transcript of Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Page 1: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Penyakit infeksi mata perlu mendapat pertolongan segera dan adekuat, agar tidak

mengganggu penglihatan terlalu lama atau tidak berakibat gangguan penglihatan dan

kebutaan.

Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi

terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasanya dan reaksi lambat

sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri dan toksik. Di negara-

negara maju, 20-30% populasi mempunyai riwayat alergi, dan 50% individual tersebut

mengidap konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi bisa berlangsung dari peradangan

ringan seperti konjungtivitis alergi musiman atau bentuk kronik yang berat seperti

keratokonjungtivitis alergi.2

i. Pendahuluan

Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih mata

dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai

macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Penyakit ini bervariasi mulai dari hyperemia

ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing,

misalnya kontak lensa.5

Salah satu bentuk konjungtivitis adalah konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi adalah

peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi atau hipersensitivitas tipe

humoral ataupun sellular. Konjungtiva sepuluh kali lebih sensitif terhadap alergen

dibandingkan dengan kulit.5

ii. Skenario

Seorang anak laki-laki usia 11 tahun, dibawa oleh kedua orangtuanya kepoli umum

rumah sakit FMC sentul, dengan keluhan utama gatal pada kedua mata terutama sehabis main

bola atau kena panas matahari, adanya riwayat alergi terhadap udara panas dan debu. Pasien

1

Page 2: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

menderita batuk pilek, pada pemeriksaan didapatkan tidak adanya penurunan ketajaman

penglihatan dan kedua mata tidak merah, tidak ada kotoran mata

iii. Identifikasi Istilah

Tidak ada istilah yang tidak diketahui

iv. Rumusan Masalah

Seorang anak laki-laki usia 11 tahun dengan keluhan utama gatal pada kedua mata

terutama sehabis main bola atau kena panas matahari.

v. Hipotesis

Pasien tersebut diduga menderita kongjungtivitis alergi yang disebabkan oleh virus.

vi. Analisis Masalah

Anamnesis

Dalam hal riwayat kesehatan, banyak faktor yang perlu ditanyakan, hal-hal yang wajib

ditanyakan saat anamnesis adalah

a. Identitas Pasien

Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Alamat

b. Keluhan Utama

Kapan pertama kali muncul

Keluhan pada salah satu mata atau kedua mata

Sudah berapa lama

Apakah terasa nyeri

Apakah ada gangguan penglihatan

c. Riwayat penyakit sekarang

Apakah ada riwayat alergi

Apakah gangguan menetap atau hilang timbul

Adakah kemungkinan faktor pencetus

2

Page 3: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

d. Riwayat penyakit dahulu

Apakah pernah seperti ini sebelumnya?

Sudah dilakukan pengobatan ?

e. Riwayat penyakit Keluarga

Apakah ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama?

Pemeriksaan Fisik

Inspeksi

Pemeriksaan struktur mata eksternal dan internal mata meliputi:

Kelopak mata

Pemeriksaan kelopak mata terhadap kemungkinan kelemahan, infeksi, tumor,

edema, atau kelainan. Minta pasien membuka dan menutup matanya. Gerakan harus

lancer dan simetris. Periksa kelopak mata terhadap adanya xantelasma (plak

kekuningan ). Meskipun tidak spesifik untuk hiperkolesterolemia, plak kekuningan ini

biasanya berhubungan dengan kelainan lipid. Perhatikan distribusi dari bulu mata.

Bila mata terbuka, biasanya kelopak mata atas hanya menutupi tepian atas iris. Bila

mata ditutup, kelopak-kelopak mata seharusnya saling menutup sempurna, jarak

antara kelopak mata ata dan bawah disebut fisura palpebra. 2

Konjungtiva

Konjungtiva hendaknya diamati terhadap adanya tanda radang (yaitu melebarnya

pembuluh darah), pigmentasi tidak biasa, nodi, pembengkakan atau pendarahan. Kedua

konjungtiva harus diperiksa. Konjungtiva tarsal dapat dilihat dengan membalikkan

kelopak mata. Minta pasien tetap membuka matanya dan melihat ke bawah. Anda

menahan sejumlah buku mata dari kelopak mata atas. Kelopak mata ituditarik lepas

dari bola mata dan ujung sebuah tangkai aplikator ditekan pada tepian atas lempeng

tarsal. Lempeng tarsal kemudian dengan cepat membalikkan tangkai aplikator,

menggunakannya sebagai titik tumpu. Ibu jari sekarang dapat digunapakn untuk

memegang kelopak mata yang dibalik, tangkai aplikator dapat diangkat. Setelah

inspeksi konjungtiva tarsalis, mintalah pasien untuk melihat ke atas untuk

mengembalikan kelopak mata ke posisi normal.

Konjungtiva normal seharusnya berwarna merah muda. Perhatikan jumlah

pembuluh darah. Normalnya hanya terlihat sedikit pembuluh darah. Mintalah pasien

3

Page 4: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

untuk melihat ke atas, dan tariklah kelopak mata bawah ke bawah. Bandingkan

vaskularisasinya.2

Sklera

Inspeksi sclera bertujuan untuk melihat adanya nodul, hyperemia, dan perubahan

warna. Sclera normal seharusnya berwarna putih. Pada individu berkulit galap, sclera

mungkin berwarna sedikit agak seperti lumpur. 2

Kornea

Kornea harus jernih dan tanpa keruhan atau kabut. Cincin keputihan pada

perimeter kornea mungkin adalah arkus senilis. Pada pasien yang berusia di atas 40

tahun, penemuan ini biasanya merupakan fenomena penuaan yang normal. Apabila

ditemukan pada pasien di bawah usia 40 tahun, mungkin menderita

hiperkolesterolemia. Cincin kuning-kehijauan yang abnormal dekat limbus,

kebanyakan ditemukan si superior dan inferior, adalah cincin Kayser-Fliescher. Cincin

ini sangat spesifik dan merupakan tanda yang sangat sensitoif dari penyakit Wilson,

yang merupakan degenerasi hepatolentikular akibat kelainan yang diturunkan dari

metabolisme tembaga. Cincin Kayser- Fleischer disebabkan oleh penimbunan tembaga

pada kornea. 2

Pupil

Kedua pupil ukurannya harus sama (isokor), dan bereaksi terhadap cahaya dan

akomodasi. Pada sekitar 5% individu normal, ukuran pupil tidak sama

(anisokoria).anisokoria mungkin merupakan indikasi dari penyakit neurulogik.

Pembesaran pupil atau midriasis, berhubungan dengan obat-obatan simpatomimetik,

glaucoma, atau obat tetes mata yag menyebabkan dilatasi. Konstriksi pupil, atau

miosis, terlihat dengan obat-obatan parasimpatomimetik, peradangan iris, dan terapi

obat untuk glaucoma. Banyak pengobatan yang dpat menyebabkan anisokoria. Oleh

karena itu sangat penting untuk memastikan apakah pasien menggunakan tetes mata

atau dalam pengobatan.

Abnormalitas pupil seringkali merupakan tanda dari peyakit neurologic. Kondisi

yang dikenal sebagai Pupil Miotonik Adie adalah dilatasi pupil 3-6 mm, yang hanya

sedikit berkontraksi terhadap cahaya dan akomodasi. Pupil ini sering berhubungan

dengan berkurang sampai tidakadnya reflex tendo pada ekstremitas. Lebih sering

4

Page 5: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

terjadi pada waita usia 25-45 tahun, dan penyebabnya tidak diketahui. Pupil Argyll

Robertson adalah pupil yang mengecil 1-2 mm, yang bereaksi terhadap akomodasi,

tetapi tidak bereaksi terhadap cahaya. Tampaknya berhubungan dengan neurisifilis.

Sindrom Horner adalah paralisis simpatik dari mata yang disebabkan oleh pemutusan

pada rantai simpatik servikal. 2

Iris

Iris diperiksa untuk warnanya, apakah ada nodul, dan vaskularitas. Normalnya,

pembuluh darah iris tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. 2

Kamera oculi anterior

Dengan memberikan sinar secara oblik menembus mata, perkiraan kasar

kedalaman kamera okuli anterior dapat dibuat. Jika terlihat bayangan berbentuk bulan

sabit pada bagian iris yang jauh, kamera okuli anterior mungkin dangkal.

Pendangkalan kamera okuli anterior mungkin akibat penyempitan ruangan antara iris

dan kornea. Adanya kamar yang dangkal membawa seseorang pada kondisi yang

disebut Glaukoma sudut tertutup. Istilah glaucoma merujuk pada kompleks gejala yang

terjadi dalam tingkat penyakit yang berbeda. Penemuan klinis pada semua jenis

glaucoma adalah peningkatan tekanan intraocular. Tekanan ini dapat diukur dengan

tonometer Schiotz. 2

Aparatus lakrimal

Pada umumnya, hanya sedikit yang dapat terlihat pada apparatus lakrimalis,

kecuali pungtum. Jika ada epifora, mungkin ada obstruksi aliran keluar melalui

pungtum. Jika terdapat kelembaban yang berlebihan, periksalah apakah ada sumbatan

duktus nasolakrimalis dengan menekan sakus lakrimalis secara lembut, berlawanan

dengan cincin orbita interna. Jika ada sumbatan, dapat dikeluarkan materi-materi

melalui pungtum. 2

Tajam penglihatan (visus)

Ini biasa dilakukan ketika pasien datang dengan keluhan penglihatan memburam atau

perkiraan mata menjadi minus atau plus. Biasanya pasien akan diminta duduk pada

5

Page 6: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

sebuah kursi dan di hadapannya diberikan papan tulisan huruf (papan Snellen)

atau angka sekitar 5atau 6 meter di depan. Pasien akan diminta untuk membaca

tulisan dari atas (terbesar) hingga tulisan terbawah yang bisa dibaca. Masing-masing

tulisan memiliki nilai visus atau ketajaman mata. Misalnya bila pasien bisa membaca

tulisan teratas, maka ketajaman mata adalah 6/60. Pemeriksaan dilanjutkan hingga

tulisan terkecil yang dapat dibaca. Setelah diketahui nilai visus, pasien biasanya

akan diberikan kacamata periksa, dimana lensanya dapat digonta-ganti.

Tujuannya adalah agar mata dengan baik membaca tulisan terbawah dalam

papan Snellen dengan visus 6/6. Ketajaman 6/6 adalah ketajaman terbaik. 2

Gambar 1. Snellen Chart3

Bila visus mata sangat buruk, atau tulisan terbesar pun tak terbaca, biasanya

pemeriksa akan melakukan dengan memperagakan jumlah jari pada 1 meter di hadapan

pasien. Pasien harus menghitung jumlah jarinya. Bila tidak terlihat, maka akan dilakukan

dengan lambaian tangan.Bila bahkan lambaian tak terlihat, maka dilakukan uji dengan cahaya

senter. Bila cahaya pun tak terlihat, maka mata mungkin mengalami kebutaan. 2

Palpasi

Palpasi pada mata dikerjakan dengan tujuan untuk mengetahui tekanan bola mata dan

mengetahui adanya nyeri tekan. Untuk mengukur tekanan bola mata secara lebih teliti

diperlukan alat Tonometri yang memerlukan keahlian khusus.Cara palpasi untuk

mengetahui tekanan bola mata :

Beri tahu pasien untuk duduk.

Anjurkan pasien untuk memejamkan mata.

Lakukan palpasi pada kedua bola mata. Bila tekanan bola mata meninggi, mata

terasa keras 2

6

Page 7: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Pada sekret konjungtiva bulbi dilakukan pemeriksaan sitologik dengan pulasan gram

(mengidentifikasi organisme bakteri) pulasan Giemsa (menetapkan jenis dan morfologi sel)

maka didapat kemungkinan penyebab sekret seperti terdapatnya limfosit-monosit-sel berisi

nucleus sedikit plasma, maka infeksi mungkin disebabkan virus; leukosit, PMN disebabkan

oleh bakteri; eosinofil, basofil oleh alergi. 2,4

Diagnosis

Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis kerja pada pasien ini adalah

konjungtivitis alergi ODS yang disebabkan oleh konjungtivitis vernal dan sebagai diagnosis

bandingnya adalah konjungtivitis viral (virus) dan kongjungtivitis flikten (bakteri)

Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih

mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai

macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Penyakit ini bervariasi mulai dari hyperemia

ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing,

misalnya kontak lensa.5

Salah satu bentuk konjungtivitis adalah konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi

adalah peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi atau hipersensitivitas tipe

humoral ataupun sellular. Konjungtiva sepuluh kali lebih sensitif terhadap alergen

dibandingkan dengan kulit.

Konjungtivitis Flikten

Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi (hipersensitivitas tipe IV)

terhadap bakteri atau antigen tertentu, seperti tuberkuloprotein pada penyakit tuberkolosis,

infeksi bakteri (stafilokok, pneumokok, streptokok, dan Koch Weeks), virus (herpes

simplek), toksin dari moluskum kontagiosum yang terdapat pada margo palpebra, jamur

(kandida albikan), cacing (askaris, tripanosomiasis), limfogranuloma venereal, leismaniasis,

infeksi parasit dan infeksi di tempat lain dalam tubuh. Konjungtivitis flikten biassanya

dimulai dengan munculnya lesi kecil berdiameter 1-3 mm yang keras, merah, menimbul dan

7

Page 8: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

dikelilingi zona hiperemis. Di limbus sering berbentuk segitiga dengan apeks mengarah

kornea.1,2

Kongjungtivitis Viral

Konjungtivitis viral merupakan suatu penyakit umum yang dapat disebabkan oleh

berbagai jenis virus. Keadaan ini berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan

cacat, sampai infeksi ringan yang cepat sembuh sendiri.4

Pasien dengan konjungtivitis viral didapat dengan gejala okular saja atau dengan

infeksi saluran napas atas yang menyertai. Konjungtivitis viral sering timbul unilateral, tetapi

sering menimbulkan mata kontralateral setelah pasien menyentuh mata yang tidak sakit tanpa

mencuci tangan terlebih dahulu. Pasien mengeluhkan adanya injeksi konjungtiva, sekret dan

pruritus. Pada pemeriksaan fisik, injeksi sklera, epifora, kemosis, perdarahan subkonjungtiva

dan eritema serta edema kelopak mata juga sering terjadi, tetapi bukan merupakan temuan

yang spesifik.

Manifestasi klinis konjungtivitis viral secara umum, yakni adanya pembengkakan,

hangat, rasa tidak nyaman pada mata yang terinfeksi. Visus mata normal, dapat terjadi

unilateral maupun bilateral. Mungkin infeksi pernapasan sedang berlangsung atau

sebelumnya terpapar dengan penderita mata merah. Konjungtiva mengalami hiperemia difus.

Kelopak mata terlihat bengkak. Terdapat nodul pada preaurikular.

Bentuk konjungtivitis viral dapat berupa:

1. Demam faringokonjungtiva

2. Keratokonjungtivitis epidemik

3. Konjungtivitis herpetik

4. Konjungtivitis hemoragik epidemik akut2,4

Kongjutivitis Vernal

Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe 1) yang mengenai kedua mata dan

bersifat rekurent. Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva

tarsal, dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosinofil atau granula eosinofil, pada

kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi, dan tukak indolen. Pada tipe limbal terlihat

8

Page 9: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

benjolan didaerah limbus, dengan bercak horner tratas yang berwarna keputihan yang

terdapat di dalam benjolan.

Konjungtivitis vernalis dikenal juga sebagai “catarrh musim semi” dan

“konjungtivitis musiman” atau “konjungtivits musim kemarau”, adalah penyakit bilateral

yang jarang yang disebabkan oleh alergi, biasanya berlangsung dalam tahun- tahun

prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki

daripada anak perempuan. Penyakit ini perlu mendapatkan penekanan khusus. Hal ini karena

penyakit ini sering kambuh dan menyerang anak-anak, dengan demikian, memerlukan

pengobatan jangka panjang dengan obat yang aman. 2,3

Allergen sulit dilacak, namun pasien konjuntivitis vernalis kadang-kadang

menampakkan manifestasi alergi lainnya yang berhubungan dengan sensitivitas tepung sari

rumput. Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada daerah dingin. 2

Etiologi

Konjungtivitis alergi dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti :1

a. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang, sinar matahari

b. iritasi oleh angin, debu, asap, dan polusi udara

c. pemakaian lensa kontak terutama dalam jangka panjang.

d. Dapat juga di sebabkan oleh adenovirus, herpes simpleks, herpes zooster, klamidia,

Epidemiologi

Konjungtivitis alergi dijumpai paling sering di daerah dengan alergen musiman yang

tinggi. Keratokonjungtivitis vernal paling sering di daerah tropis dan panas seperti daerah

mediteranian, Timur Tengah, dan Afrika. Keratokonjungtivitis vernal lebih sering dijumpai

pada laki-laki dibandingkan perempuan, terutamanya usia muda (4-20 tahun). Biasanya onset

pada dekade pertama dan menetap selama 2 dekade. Gejala paling jelas dijumpai sebelum

onset pubertas dan kemudian berkurang. Keratokonjungtivitis atopik umumnya lebih banyak

pada dewasa muda.6

Patofisiologi

9

Page 10: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang insterstitial yang

banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Pada konjungtiva akan dijumpai

hiperemia dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi

jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti

oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobbles

tone. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga

konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh

von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang

mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel

kornea.

Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang

menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan

gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells limbus.

Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan konjungtivalisasi pada penderita

keratokonjungtivitis dan di kemudian hari berisiko timbulnya pterigium pada usia muda. Di samping

itu, juga terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi. 3

Manifestasi Klinis

Gejala yang mendasar adalah rasa gatal, manifestasi lain yang menyertai meliputi

mata berair, sensitif pada cahaya, rasa pedih terbakar, dan perasaan seolah ada benda asing

yang masuk. Penyakit ini cukup menyusahkan, muncul berulang, dan sangat membebani

aktivitas penderita sehingga menyebabkan ia tidak dapat beraktivitas normal.Terdapat dua

bentuk klinik, yaitu :1,2,7

Bentuk palpebra, terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. Terdapat

pertumbuhan papil yang besar (cobble stone) yang diliputi sekret yang mukoid.

Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih berat

dibanding bentuk limbal. Secara klinik papil besar ini tampak sebagai tonjolan bersegi

banyak (polygonal) dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler ditengahnya.1,2

10

Page 11: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Gambar 2. Konjungtivitis vernal bentuk palpebral

Bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan

hiperplastik gelatin (nodul mukoid), dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi

epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus,

dengan sedikit eosinofil.1,2

Gambar 3. Konjungtivitis vernal bentuk limbal

Komplikasi

Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan

pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari

konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya: 

Glaucoma 

Katarak 

Aablasi retina 

Pembentukan jaringan sikratik yang dapat mengganggu penglihatan 

Pentalaksanaan

11

Page 12: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

Karena konjungtivitis vernalis adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat bahwa

medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai

jangka panjang. 2

Opsi perawatan konjungtivitis vernalis berdasarkan luasnya symptom yang muncul dan durasinya.

Opsi perawatan konjungtivitis vernalis yaitu :

1. Tindakan Umum

Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi keluhan

pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis. Beberapa tindakan tersebut antara lain:

- Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan, karena telah

terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediator-mediator sel mast. Di samping

itu, juga untuk mencegah superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut menunjang

terjadinya glaukoma sekunder dan katarak.

- Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter.

- Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari.

- Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di udara

terbuka. Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan membantu

retensi allergen.

- Kompres dingin di daerah mata.

- Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi protektif

karena membantu menghalau allergen.

- Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering juga disebut sebagai climato-

therapy.

2. Terapi topikal

- Untuk menghilangkan sekresi mucus, dapat digunakan irigasi saline steril dan mukolitik

seperti asetil sistein 10%–20% tetes mata. Dosisnya tergantung pada kuantitas eksudat serta

beratnya gejala. Dalam hal ini, larutan 10% lebih dapat ditoleransi daripada larutan 20%.

Larutan alkalin seperti 1-2% sodium karbonat monohidrat dapat membantu melarutkan atau

mengencerkan musin, sekalipun tidak efektif sepenuhnya.

- Dekongestan.

- Antihistamin

- NSAID (Non-Steroid Anti-Inflamasi Drugs)

- Untuk konjungtivitis vernalis yang berat, bisa diberikan steroid topikal prednisolone fosfat 1%,

6-8 kali sehari selama satu minggu. Kemudian dilanjutkan dengan reduksi dosis sampai ke

12

Page 13: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

dosis terendah yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. Bila sudah terdapat ulkus kornea maka

kombinasi antibiotik steroid terbukti sangat efektif.

- Antihistamin

- Antibakteri

- Siklosporin

- Stabilisator sel mast seperti Sodium kromolin 4% dan Lodoksamid 0,l%.

3. Terapi Sistemik

- Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone asetat,

prednisolone fosfat, atau deksamethason fosfat 2–3 tablet 4 kali sehari selama 1–2 minggu.

Satu hal yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah “gunakan

dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin”.

- Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain, karena

kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Apabila dikombinasi

dengan vasokonstriktor, dapat memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau

memungkinkan reduksi dosis

4. Tindakan Bedah

Berbagai terapi pembedahan, krioterapi, dan diatermi pada papil raksasa konjungtiva tarsal

kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek samping dan terbukti tidak efektif, karena

dalam waktu dekat akan tumbuh lagi. 3, 6

Prognosis

Prognosis penderita konjungtivitis alergi et causa vernal adalah dubia ad bonam,

namun komplikasi juga dapat terjadi apabila tidak ditangani dengan baik.

vii. Kesimpulan

Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I) yang

mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. Konjungtivitis vernal terjadi akibat alergi dan cenderung

13

Page 14: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

kambuh pada musim panas. Konjungtivitis vernal sering terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai

sebelum masa pubertas dan berhenti sebelum usia 20.

Gejala yang spesifik berupa rasa gatal yang hebat, sekret mukus yang kental dan lengket,

serta hipertropi papil konjungtiva. Tanda yang spesifik adalah Trantas dots dan coble stone. Terdapat

dua bentuk dari konjungtivitis vernalis yaitu bentuk palbebra dan bentuk limbal.

Konjungtivitis vernalis pada umumnya tidak mengancam penglihatan, namun dapat

menimbulkan rasa tidak enak. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Namun tetap

dibutuhkan perawatan agar tidak terjadi komplikasi dan menurunkan tingkat ketidaknyamanan dari

pasien. Perawatan yang dapat diberikan menghindari menggosok-gosok mata, kompres dingin di

daerah mata, memakai pengganti air mata, memakai obat tetes seperti asetil sistein, antihistamin,

NSAID steroid, stabilisator sel mast, obat oral (seperti antihistamin dan steroid), dan pembedahan.

Daftar Pustaka

1. Ilyas S. Mata merah dengan penglihatan normal. Ilyas S, editor. Dalam: Ilmu Penyakit

Mata Edisi ke-3. Jakarta: FKUI; 2009. h116-46.

2. Vaughan, Daniel G., Asbury Taylor, Riordan Eva-Paul. Ofthalmologi Umum. Edisi 14.

Jakarta: Widya Medika ; 2000. h. 5-6, 115

3. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005

4. Scott, IU. Alergy Conjunctivitis. 2011. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview#showall. 20 maret 2014.

14

Page 15: Konjungtivitis Alergi et causa Konjungtivitis Veranal

5. Khurana AK. Diseases of the conjunctiva. Dalam : Khurana AK, editor. Comprehensive

Ophtalmology. Ed. 4. New Delhi: New Age ; 2010. h. 51-88.

6. Ventocillia M, Roy H. Allergic Conjunctivitis. 2012. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/1191467-overview#a0104. 20 maret 2014.

7. Medicastore. Konjungtivitis Vernalis. 2012.  Diunduh dari

http://www.medicastore.com/penyakit/865/Keratokonjungtivitis_Vernalis.ht ml . 20 maret

2014.

8. Konjungtivitis. 2010. Diunduh dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31458/4/Chapter%20II.pdf. 20 maret

2014

15