KOMUNITAS GABUNGAN

of 57 /57
A. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social dan spiritual secara komprehensif, ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007). Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang sama. Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Riyadi, 2007). Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai masalah keperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Efendi, 2009). Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar suatu institusi yang berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Elisabeth, 2007). Pada perawatan komunitas harus mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu: 1. Kemanfaatan

description

gfcghtfctfrctjy

Transcript of KOMUNITAS GABUNGAN

Page 1: KOMUNITAS GABUNGAN

A. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian integral

pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social dan spiritual secara

komprehensif, ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun

sakit mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).

Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling

berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang

sama. Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang

sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana

mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Riyadi, 2007).

Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan

kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar

keahliannya dalam membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam

mengatasi barbagai masalah keperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari

(Efendi, 2009).

Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar suatu institusi yang

berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Elisabeth, 2007).

Pada perawatan komunitas harus mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu:

1. Kemanfaatan

Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar

bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan

manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat

dan kerugian (Mubarak, 2005).

2. Kerjasama

Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta

melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral (Riyadi, 2007).

3. Secara langsung

Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan

lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan

utama peningkatan kesehatan (Riyadi, 2007).

Page 2: KOMUNITAS GABUNGAN

4. Keadilan

Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari

komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan

kemampuan atau kapasitas komunitas (Mubarak, 2005).

5. Otonomi

Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa

alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).

Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dalam praktek

keperawatan.  Sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat dibedakan menjadi

individu, keluarga dan masyarakat (Riyadi, 2007).

a. Individu sebagai klien

Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek

biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien,

pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial,

psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan

pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien/ klien (Riyadi, 2007).

b. Keluarga sebagai klien

Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus

menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara

bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.

Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat

dilihat pada Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman

dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri (Riyadi, 2007).

c. Masyarakat sebagai klien

Kesatuan hidup manusia yang brinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat

tetentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh suatu indentitas bersama (Riyadi,

2007).

Page 3: KOMUNITAS GABUNGAN

Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam

perawatan kesehatan masyarakat adalah:

1. Pendidikan kesehatan (Health Promotion)

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara

menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar,

tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada

hubungannya dengan kesehatan (Elisabeth, 2007).

2. Proses kelompok (Group Process)

Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok masyarakat

sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya, yaitu: individu,

keluarga, dan kelompok khusus, perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya

peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat

menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan

sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan

kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan pendekatan

pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan masyarakat (community

development) (Elisabeth, 2007).

3. Kerjasama atau kemitraan (Partnership)

Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak terkait dengan

masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung antara komponen-komponen

yang ada. Hal ini memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam

mengkombinasikan keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan

strategi peningkatan kesehatan masyarakat (Elisabeth, 2007).

4. Pemberdayaan (Empowerment)

Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses

pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif

kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru,

dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Elisabeth, 2007).

Perawat komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada

masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat. Membangun kesehatan

Page 4: KOMUNITAS GABUNGAN

masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas,

kepemimpinan dan partisipasi masyarakat  (Elisabeth, 2007).

Peran Perawat Komunitas (Provider Of Nursing Care)

Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat diantaranya

adalah:

Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)

Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah skeperawatan yang

ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan

mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok

dan masyarakat.

Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)

Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam

rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang

diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tatanan

psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan

untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan

emosional dan intelektual.

Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan

dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses keperawatan dalam fase pengkajian seorang

perawat mengkaji kebutuhan pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar.

Selama perencanaan perawat membuat tujuan khusus dan strategi pengajaran. Selama

pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat

menilai hasil yang telah didapat (Mubarak, 2005).

Sebagai Panutan (Role Model)

Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang

kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata

cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.

Sebagai pembela (Client Advocate)

Page 5: KOMUNITAS GABUNGAN

Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat komunitas. Pada

tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada

dalam masyarakat. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan

termasuk di dalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan

klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).

Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab membantu klien dan

keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan

dalam memberikan informasi hal lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan

(Informed Concent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. Tugas yang

lain adalah mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien

yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan

(Mubarak, 2005).

Sebagai Manajer kasus (Case Manager)

Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan

kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab

yang dibebankan kepadanya.

Sebagai kolaborator

Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama dengan

tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain dalam

kaitanya membantu mempercepat proses penyembuhan klien Tindakan kolaborasi atau

kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan orang lain pada tahap proses

keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk merencanakan tindakan yang

akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).

Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)

Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani perawatan di suatu

instansi kesehatan atau rumah sakit.  Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang

sudah mengalami perbaikan kondisi kesehatan.

Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)

Melaksanakan monitoring  terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah kesehatan dan

Page 6: KOMUNITAS GABUNGAN

keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan melalui kunjungan

rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data.

Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)

Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan dan

mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. Pelayanan dari

semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak profesional

(Mubarak, 2005).

Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader)

Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif merubah atau

yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner

torney mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang mengidentifikasikan masalah,

mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk berubah, menunjukkan alternative,

menggali kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya, menunjukkan peran

membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase

dari proses perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak, 2005).

Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari perawatan. Dengan

menggunakan proses keperawatan, perawat membantu klien untuk merencanakan,

melaksanakan dan menjaga perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan

perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak, 2005).

Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider

And Researcher)

Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat yang

meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan dan

pemecahan masalah yang diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah

kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran perawat komunitas.

Page 7: KOMUNITAS GABUNGAN

Konsep Masalah Kesehatan Komunitas

Lingkungan dapat didefinisikan sebagai tempat pemukiman dengan segala

sesuatunya dimana organisme hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara

langsung maupun tidak langsung disuga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan

maupun kesehatan dari organisme tersebut (Efendi, 2009).

Kesehatan lingkungan dapat dijabarkan sebagai suatu kondisi lingkungan

yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan

lingkungannyauntuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan

bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia). Menurut WHO (2005),

lingkungan merupakan suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia

dengan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (Efendi, 2009).

Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau keadaan

lingkungan yang optimal sehingga mempengaruhi dampak positif  terhadap

terwujudnya status kesehatan yang optimal pula (Efendi, 1998).

Dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan, Pemerintah menggalakkan

Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sanitasi Total

Berbasis Masyarakat (STBM) Merupakan Program Nasional yang bersifat lintas

sektoral di bidang sanitasi. Program Nasional STBM dicanangkan oleh Menteri

Kesehatan RI pada Agustus 2008.

Tujuan dari Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

adalah menurunkan kejadian diare melalui intervensi terpadu dengan menggunakan

pendekatan sanitasi total. Sanitasi total adalah kondisi ketika suatu komunitas:

1. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.

2. Mencuci tangan pakai sabun.

3. Mengelola air minum dan makanan yang aman.

4. Mengelola sampah dengan benar.

5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.

Page 8: KOMUNITAS GABUNGAN

Menurut WHO, terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu sebagai berikut:

1. Penyediaan air minum

2. Pengelolaan air buangan (limbah) dan pengendalian pencemaran

3. Pembuangan sampah padat

4. Pengendalian vector

5. Pencegahan atau pengandalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia

6. Higiene makanan, termasuk higiene susu

7. Pengendalian pencemaran udara

8. Pengendalian radiasi

9. Kesehatan kerja

10. Pengendalian kebisingan

11. Perumahan dan pemukiman

12. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara

13. Perencanaan daerah dan perkotaan

14. Pencegahan kecelakaan

15. Rekreasi umum dan pariwisata

16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi (wabah),

bencana alam dan perpindahan penduduk

17. Tindakan pencegahan  yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

Page 9: KOMUNITAS GABUNGAN

Tahap Asuhan Keperawatan Komunitas

A. Pengkajian

Proses Keperawatan Komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang

bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontinu, dan berkesinambungan dalam rangka

memecahkan masalah kesehatan dari klien, keluarga serta kelompok atau masyarakat.

Langkah-langkah dalam proses keperawatan komunitas adalah:

1. Pengkajian

2. Diagnosa Keperawatan

3. Perencanaan

4. Pelaksanaan

5. Evaluasi

Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan

sistematis terhadap masyarakat baik individu, keluarga, atau kelompok yang menyangkut

permasalahan pada fisiologis, psikologis, social ekonomi, maupun spiritual dapat di

tentukan.

Kelompok melakukan pengkajian pada hari Rabu 06 Maret 2013 di RT 002 RW

018 kelurahan Tangkerang Tengah kecematan Marpoyan Damai. Kelompok memilih

daerah ini karena menurut kelompok daerah ini berada di tengah kota namun belum

pernah mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan. Oleh karena itu, kelompok

melakukan proses keperawatan komunitas untuk mengetahui masalah kesehatan yang

dialami warga di RT 002 RW 018 kelurahan Tangkerang Tengah kecematan Marpoyan

Damai, sehingga kelompok dapat memberikan intervensi keperawatan yang sesuai

dengan masalah keperawatan yang ditemukan.

Kumpulan individu/ keluarga di komunitas merupakan “Core“ dari asuhan

keperawatan komunitas. Sasaran dari pengkajian ini meliputi ketua RT, pegawai

Puskesmas, kader Posyandu, dan 32 keluarga yang terdiri dari bayi, balita, anak usia

sekolah, remaja, dewasa, PUS, Ibu hamil, ibu menyusui dan lansia. Kelompok mengambil

32 keluarga karena menurut kelompok sampel (n=32) telah memenuhi syarat untuk

melakukan asuhan keperawatan komunitas.

Page 10: KOMUNITAS GABUNGAN

B. Metode Dan Pendekatan Pengkajian Komunitasa

a. Angket

Angket adalah suatu alat pengumpul data yang berupa pertanyaan tertulis

yang diajukan pada responden untuk mendapat jawaban. Kelompok memilih

metode ini karena angket meliputi pertanyaan dan pilihan jawaban berdasarkan

referensi sehingga memudahkan reponden untuk memilih jawaban yang sesuai

dengan sasaran kelompok.

Data yang dikaji menggunakan angket terdiri data core (data demografi,

PUS, ibu hamil, ibu menyusui, balita, remaja, dewasa, dan lansia), subsistem

(lingkungan fisik, pelayanan kesehatan, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan

rekreasi. Berikut hasil pengkajian berdasarkan angket

a) Data demografi

Diagram 1

Distribusi frekuensi kepala keluarga yang didata berdasarkan tingkat pendidikan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Utara (n= 32)

16%

26%

42%

3% 13%

Tingkat pendidikan

SDSMPSMA D3S1

Berdasarkan diagram 1 didapatkan data 13 KK (42 %) berpendidikan SMA, sedangkan 8 KK (26 %) tingkat pendidikannya SMP. Sebanyak 5 KK (16 %) berpendidikan SD, 4 KK (13 %) berpendidikan S1, dan hanya 1 KK (3 %) berpendidikan D3.

Diagram 2

Page 11: KOMUNITAS GABUNGAN

Distribusi frekuensi jenis pekerjaan keluarga RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Utara (n= 32).

4% 4% 14%

7%

21%

46%

4%

Jenis Pekerjaan

BuruhSupirPedagang PensiunSwastaWiraswstaTidak Bekerja

Berdasarkan diagram 2 didapatkan data jenis pekerjaan dengan sampel 32 KK, menunjukan bahwa 13KK (46%) bekerja sebagai wiraswasta, sekitar 6KK (21%) nya bekerja ditempat swasta, sedangkan yang bekerja sebagai pedagang itu sekitar 4KK (14%). Di RT ada juga sebagai seorang pensiunan sekitar 2KK (7%) dan hanya sekitar 1KK (4%) yang bekerja jadi seorang sopir dan buruh. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata KK di RT 002 bekerja sebagai wiraswasta.

Diagram 3

Distribusi frekuensi suku bangsa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

45%

46%

7%1% 1%

Suku

MelayuMinangJawaBatakBetawi

Berdasarkan diagram 3 diperoleh data mayoritas suku di RT 002 dengan jumlah sampel 32 KK, menunjukan bahwa sebagian besar bersuku Minang sebanyak 35KK (46%), suku Melayu sebanyak 34 KK (45%) , sedangkan suku Jawa sebanyak 5KK (7%), serta suku Batak dan Suku Betawi masing-masing sebanyak 1KK (1%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas suku yang

Page 12: KOMUNITAS GABUNGAN

dianut oleh warga tersebut adalah minang dan melayu. Budaya atau suku dapat mempengaruhi kesehatan seseorang berdasarkan tradisi dan kebiasaan yang diterapkan oleh budaya itu sendiri.

b) Pasangan Usia Subur (PUS)

Diagram 4

Distribusi frekuensi alat kontrasepsi yang digunakan oleh PUS di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

19%

4%

4%

58%

4% 4%8%

Jenis Alat Kontrasepsi

Pilspiral kondomsuntikImplanLainnya (steril)Tidak menggunakan

Berdasarkan diagram 4 didapatkan data jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan warga RT 02 dengan sampel 32 KK, menunjukan bahwa sebagian besar pasangan usia subur di RT 02 menggunakan alat kontrasepsi suntik yaitu 15 KK (58 %), yang menggunakan pil 5 KK (19 %), yang tidak menggunakan alat kontrasepsi 2 KK (7 %), dan yang menggunakan spiral, kondom, implan, dan steril sebanyak 1 KK (4 %). Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga di RT tersebut memilih alat kontrasepsi suntik dan pil. Pemilihan alat kontrasepsi yang baik dapat menunjang derajat kesehatan ibu serta dapat mensukseskan program pemerintah akan kesadaran ber KB demi kesejahteraan dimasa depan.

Diagram 5

Distribusi frekuensi tentang keluhan selama mengguanakan alat kontasepsi di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 13: KOMUNITAS GABUNGAN

13%7%

7%

3%

3%

27%

37%

3%

Keluhan selama menggunakan Alat Kontrasepsi

Nyeri payudaraGatal-gatalMualPerdarahanPenurunan gairah seksPusingTidak adaLainnya (kulit Kering)

Berdasarkan diagram 5 didapatkan data keluhan yang dirasakan ibu selama menggunakan alat kontrasepsi dengan mengambil sampel 32 KK. Sebagian besar warga yang menggunakan alat kontrasepsi tidak memiliki keluhan sebanyak 11KK (37 %), namun ada beberapa yang memiliki keluhan diantaranya pusing sebanyak 8 KK (27 %), nyeri payudara sebanyak 4 KK (13 %), gatal-gatal dan mual sebanyak 2 KK ( 7 %), namun ada juga yang mengalami perdarahan sebanyak 1KK (3 %), penurunan gairah seksual sebanyak 1 KK (3 %), dan yang merasakan kulit kering sebanyak 1 KK (3 %). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga di RT tersebut tidak memiliki keluhan selama menggunakan alat kontrasepsi.

c) Ibu menyusui

Diagram 6

Distribusi frekuensi jenis makanan/ minuman bayi pada 6 bulan pertama di RT 002 RW 18 kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (N = 32 KK)

75%

13%

13%

jenis makanan/minuman bayi pada 6 bulan pertama

asi Susu formula nasi

Berdasarkan diagram 6 didapatkan data jenis makanan/ minuman bayi pada 6 bulan pertama dengan delapan orang ibu menyusui di RT 002, menunjukan jenis

Page 14: KOMUNITAS GABUNGAN

makanan/minuman bayi pada 6 bulan pertama adalah sebagai berikut, yang mengkonsumsi ASI sebanyak 6 ibu (75%), yang mengkonsumsi susu formula 1 ibu (12%), dan yang mengkonsumsi nasi sebanyak 1 ibu (13%). Dapat disimpulkan bahwa jenis makanan / minuman bayi pada 6 bulan pertama yang paling banyak adalah asi. Pemberian ASI eksklusif pada bayi sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya serta status gizi.

Diagram 7

Distribusi frekuensi jenis makanan/ minuman ibu selama menyusui di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

26%

21%11%16%

11%

16%

Jenis makanan/ minuman ibu selama menyusui

nasisayur-sayuranbuahikanmakanan cepat saji lainnya

Berdasarkan diagram 7 didapatkan data jenis makanan/ minuman ibu menyusui dengan mengambil sampel 9 orang ibu di RT 002, menunjukan bahwa yang mengkonsumsi nasi sebanyak 5 ibu (26%), yang mengkonsumsi sayur-sayuran 4 ibu( 21%), yang mengkonsumsi buah sebanyak 2 ibu (10%), yang mengkonsumsi ikan dan makanan lainnya sebanyak 2 ibu (16%), dan yang mengkonsumsi makanan cepat saji sebanyak 2 ibu (11%). Jadi dapat disimpulkan bahwa ibu –ibu di RT tersebut masih memperhatikan pola gizinya dan bayi dengan mengkosumsi sayur-sayuran. Jenis makanan yang dikosumsi ibu menyusui akan berpengaruh juga pada bayinya. Jadi penting sekali bagi ibu-ibu dalam memilih makanan yang baik dalam menyusui.

Diagram 8

Distribusi frekuensi tentang keluhan ibu saat menyusui di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 15: KOMUNITAS GABUNGAN

17%

17%

50%

17%

Keluhan ibu saat menyusui

puting terbenamasi sedikittidak adalainnya

Berdasarkan diagram 8 didapatkan data keluhan ibu menyusui dengan sampel 9 orang ibu menyususi di RT 002 menunjukan sekitar 3 ibu (50%) ibu menyusui tidak ada keluhan. Dan yang lainnya yang mempunyai keluhan puting terbenam sebanyak 1 ibu (16%), yang mempunyai keluhan asi sedikit dan keluhan lainnya sebanyak i ibu (17%). Jadi dapat disimpulkan sebagian ibu menyusui di RT tersebut tidak ada keluhan dalam menyusui.

Diagram 9

Distribusi frekuensi penyakit yang dialami ibu selama menyusui di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

100%

Penyakit yang dialami ibu selama menyusui

tidak ada

Berdasarkan diagram 9 didapatkan data dengan 9 orang ibu menyususi di RT 002/ menunjukan bahwa 100 % ibu menyusui tidak mengalami penyakit selama menyusui.

d) Balita

Diagram 10

Distribusi frekuensi tentang keluhan yang dailami balita di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 16: KOMUNITAS GABUNGAN

25%

13%

44%

13% 6%

Keluhan yang dialami balita

rewelbiang keringattidak mau makantidak adalainnya

Berdasarkan diagram 10 didapatkan data dengan 13 balita bahwa keluhan yang dialami balita di RT 002 adalah tidak mau makan sebanyak 7 orang (44 %), balita yang rewel sebanyak 4 orang (25 %), biang keringat sebanyak 2 orang (12 %), tidak ada sebanyak 2 orang (13 %), dan lainnya 1 orang (6 %). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa keluhan terbanyak yang dialami balita di RT 002 adalah tidak mau makan sebanyak 44 %. Keluhan yang dialami bayi tersebut dapat menggambarkan kondisi yang dialami balita tersebut.

Diagram 11 Distribusi frekuensi penyakit yang dialami balita 3 bulan terakhir di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 20)

20%

30%35%

5%10%

Jenis Penyakit yang dialami balita 3 bulan terakhir?

Diare (mencret)

ISPA (batuk, pilek dan sesak napas)

Demam

Tidak ada

Lainnya

Berdasarkan diagram 11 didapatkan data bahwa penyakit yang dialami balita pada 3 bulan terakhir diwilayah ini adalah 35% demam, 30% ISPA (batuk, pilek dan sesak napas), 20% diare, dan 10% penyakit lainnya. Selain itu, ada juga balita yang tidak menderita penyakit apapun dalam 3 bulan terakhir sebesar 5%.

Diagram 12

Page 17: KOMUNITAS GABUNGAN

Distribusi frekuensi penyakit kronik yang dialami balita lebih dari 6 bulan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 15)

100%

Penyakit kronis (penyakit yang lebih dari 6 bu-lan) yang dialami balita?

Tidak ada

Berdasarkan diagram 12 didapatkan data tidak ada penyakit kronis (penyakit yang lebih dari 6 bulan) yang dialami balita di wilayah ini dengan presentase 100%.

e) Dewasa

Diagram 13

Distribusi frekuensi kegiatan di waktu luang yang dilakukan orang dewasa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 44)

30%

7%

2%5%

57%

Kegiatan di waktu luang

TidurBerkebunOlahragaTidak adaLainnya (nonton TV)

Berdasarkan diagram 13 didapatkan data 57% orang dewasa mengisi waktu luang dengan menonton TV, 30% tidur, 7% berkebun, 4% tidak melakukan kegiatan, dan 2% berolahraga.

Page 18: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 14

Distribusi frekuensi penyakit yang dialami orang dewasa dalam 3 bulan terakhir di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 35)

31%

31%3%

26%

9%

Penyakit dalam 3 bulan terakhir

ISPADemamPenyakit KulitTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 14 didapatkan data 31% orang dewasa mengalami ISPA dalam 3 bulan terakhir, 31% demam, 26% tidak ada, 9% lainnya, dan 3% penyakit kulit.

Diagram 15

Distribusi frekuensi penyakit kronik yang dialami orang dewasa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

19%

3%

63%

16%

Penyakit Kronis

HipertensiSakit JantungTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 15 didapatkan data 19% orang dewasa menderita penyakit kronik hipertensi, 3% sakit jantung, 16% lainnya dan 62% tidak menderita penyakit kronik.

Page 19: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 16

Distribusi frekuensi jenis makanan yang dikonsumsi orang dewasa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 79)

42%

19%

15%

15%9%

Jenis Makanan

nasi Makan cepat saji Kue Gorengan Lainnya

Berdasarkan diagram 16 didapatkan data 42% orang dewasa mengkonsumsi nasi, 19% makanan cepat saji, 15% kue, 15% gorengan, dan 19% makanan lainnya.

Diagram 17

Distribusi frekuensi jenis olahraga yang dilakukan orang dewasa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 34)

29%

3%

68%

Frekuensi Olahraga

1-2 kali seminggu3-5 kali semingguSetiap hariTidak Ada

Page 20: KOMUNITAS GABUNGAN

Berdasarkan diagram 17 didapatkan data 68% orang dewasa tidak pernah melakukan olahraga, 29% berolahraga 1-2 kali seminggu, 3% berolahraga setiap hari, dan tidak ada orang dewasa yang melakukan olahraga setiap hari.

Diagram 18

Distribusi frekuensi intensitas merokok orang dewasa di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 31)

29%

68%

3%

Intensitas merokok

1-2 tahun3-5 tahun5-10 tahunTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 18 didapatkan data 68% orang dewasa tidak merokok, 29% merokok 5-10 tahun, dan 3% merokok 1-2 tahun.

f) Lansia

Diagram 19

Distribusi frekuensi makan lansia di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 9)

Page 21: KOMUNITAS GABUNGAN

22%

78%

Frekuensi makan lansia

2 kali 3 kali

Berdasarkan diagram 19 didapatkan data 72% lansia makan sebanyak 3 kali sehari dan 22% makan 2 kali sehari.

Diagram 20

Distribusi frekuensi lansia yang didata berdasarkan jenis makanan yang sering dikonsumsi di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=16)

47%

27%

13%

13%

Jenis makanan yang sering dikonsumsi

nasi keras nasi lunak/bubur gorenganlainnya

Berdasarkan diagram 20 didapatkan data 47% lansia memilih jenis makanan nasi keras. Sedangkan 27% memilih bubur sebagai makanan yang sering dikonsumsi dan hanya 13 % yang memilih gorengan.

Diagram 21

Page 22: KOMUNITAS GABUNGAN

Distribusi frekuensi lansia yang didata berdasarkan jenis penyakit yang dialami di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=16)

27%

47%

7%

20%

Jenis penyakit yang dialami lansia 3 bulan terakhir

ispa demam penyakit kulittidak ada

Berdasarkan diagram 21 didapatkan data lansia mengalami penyakit demam dalam 3 bulan terakhir dengan presentase 46%. Sedangkan penyakit ISPA 27%, dan tidak mengalami penyakit selama 3 bulan terakhir 20%. Hanya 7% lansia yang mengalami penyakit kulit.

Diagram 22

Distribusi frekuensi lansia yang didata berdasarkan keluhan yang dirasakan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Tangkerang Damai (n=18)

6% 17%

56%

11%11%

Keluhan yang dialami lansia saat ini

nyerisakit pinggangpusingtidak ada lainnya

Berdasarkan diagram 22 didapatkan data 56% lansia merasakan pusing, sedangkan 17% merasakan sakit pinggang, 11% merasakan tidak ada keluhan, dan hanya 5% merasakan sakit pinggang.

Page 23: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 23

Distribusi frekuensi lansia yang didata berdasarkan jenis penyakit kronis di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=14)

64%

14%

21%

Jenis penyakit kronis yang dialami lansia

hipertensiasam urat tidak ada

Berdasarkan diagram 23 didapatkan data 64% lansia mengalami hipertensi, 22% tidak mengalami penyakit kronis, dan hanya 14% mengalami asam urat.

Diagram 24

Distribusi frekuensi lansia yang didata berdasarkan kegiatan sehari-hari di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah (n=19)

16%

44%

33%

7%

kegiatan lansia sehari-hari

berkebunberibadah memasaklainnya

Berdasarkan diagram 24 didapatkan data 44% lansia memilih beribadah sebagai kegiatan sehari-hari. Sedangkan 33% memilih memasak, 16% berkebun, dan hanya 7% yang memilih kegiatan lain.

Page 24: KOMUNITAS GABUNGAN

g) Lingkungan Fisik

Diagram 25

Distribusi frekuensi kepala keluarga yang didata berdasarkan jenis binatang peliharaan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=34)

38%

38%

24%

Binatang Peliharaan

kucing anjingkelincitidak adalainnya (ayam)

Berdasarkan diagram 25 didapatkan data 38% memelihara kucing.dan 38% lainnya tidak memiliki hewan peliharaan. Sedangkan 24% lainnya memilih berternak ayam.

Diagram 26

Distribusi frekuensi kepala keluarga yang didata berdasarkan jenis sumber air yang dipergunakan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=34)

26%

6%

68%

Sumber Air

sumur galiPAMair hujansumur bormembeli

Berdasarkan diagram 26 didapatkan data 68% KK menggunakan sumur bor. Sedangkan 26% menggunakan sumur gali, dan hanya 6% yang menggunakan air hujan.

Diagram 27

Page 25: KOMUNITAS GABUNGAN

Distribusi frekuensi kepala keluarga yang didata berdasarkan jenis sumber air minum di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=37)

3%5%

89%

3%

Sumber Air Minum

sumur galiPAMAir hujanAir galonsumur bor

Berdasarkan digram 27 didapatkan data 89% menggunakan air galon sebagai air minum. Sedangkan 5% menggunakan air hujan, dan masing-masing hanya 3% yang menggunakan air sumur gali dan air sumur bor sebagai sumber air minum.

Diagram 28

Distribusi frekuensi kepala keluarga yang didata berdasarkan jenis jamban di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=29)

83%

17%

Jenis Jamban

leher angsacemplungwc duduk

Berdasarkan diagram 28 didapatkan data sebagian besar kepala keluarga 83% KK mengunakan jamban dengan jenis leher angsa dan 17% lainnya menggunakan WC duduk.

Diagram 29

Page 26: KOMUNITAS GABUNGAN

Kepemilikan WC di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

83%

17%

Kepemilikan WC

sendiriumum

Berdasarkan diagram 29 didapatkan data jumlah warga yang memiliki WC sendiri adalah 77% memiliki WC sendiri dan 17% memiliki WC satu untuk bersama.

Diagram 30

Frekuensi membersihkan tempat penampungan air di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

75%

3%

3%

19%

Frekuensi membersihkan tempat penam-pungan air

1x seminggu1x 2 minggu 1x 3 minggutidak pernahlainnya (2x seminggu)

Berdasarkan diagram 30 didapatkan data frekuensi warga membersihkan tempat penampungan air adalah 75 % membersihkan bak mandi 1x seminggu, 19% lainnya membersihkan bak mandi 2x seminggu, selebihnya 1 x 2 minggu atau 1 x 3 minggu untuk membersihkan tempat penampungan air.

h) Pelayanan Kesehatan

Page 27: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 31

Distribusi frekuensi kegiatan yang dilakukan warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

30%

7%

2%5%

57%

Kegiatan di waktu luang

TidurBerkebunOlahragaTidak adaLainnya (nonton TV)

Berdasarkan diagram 31didapatkan data warga yang melakukan kegiatan di waktu luang yaitu, tidur 30%, berkebun 7%, olahraga 2%, tidak ada melakukan kegiatan 4% dan kegiatan lainnya (menonton TV) 75%.

Diagram 32

Penyakit yang diderita wrga dalam 3 bulan terakhir di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

31%

31%3%

26%

9%

Penyakit dalam 3 bulan terakhir

ISPADemamPenyakit KulitTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 32 didapatkan data warga yang mengalami penyakit dalam 3 bulan terakhir yaitu, ISPA 31%, demam 31%, penyakit kulit 3%, tidak ada penyakit 26%, dan penyakit lainnya 9%.

Page 28: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 33

Penyakit kronis yang diderita warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai ( n= 32)

19%

3%

63%

16%

Penyakit Kronis

HipertensiSakit JantungTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram diatas didapatkan data warga yang menderita penyakit kronis yaitu, hipertensi 19%, sakit jantung 3%, tidak ada menderita penyakit kronis 62%, dan menderita penyakit lainnya 16%.

Diagram 34

Jenis makanan yang biasa dikonsumsi warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 34)

42%

19%

15%

15%9%

Jenis Makanan

nasi Makan cepat saji Kue Gorengan Lainnya

Page 29: KOMUNITAS GABUNGAN

Berdasarkan diagram 34 didapatkan data dari jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi yaitu, nasi 42%, makanan cepat saji 19%, kue 15%, gorengan 15%, dan makanan lainnya 9%.

Diagram 35

Frekuensi olahraga warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

29%

3%

68%

Frekuensi Olahraga

1-2 kali seminggu3-5 kali semingguSetiap hariTidak Ada

Berdasarkan diagram diatas didapatkan data frekuensi olahraga dalam seminggu yaitu, 1-2 kali seminggu 29%, olahraga setiap hari 3% dan tidak ada olahraga 68%.

Diagram 36

Distribusi frekuensi intensitas merokok di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 30: KOMUNITAS GABUNGAN

29%

68%

3%

Intensitas merokok

1-2 tahun3-5 tahun5-10 tahunTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 36 didapatkan data intensitas merokok warga yaitu, merokok selama 5-10 tahun 3%, tidak ada merokok 68% dan lainnya sebanyak 3%.

Diagram 37

Jenis pelayanan kesehatan yang digunakan oleh keluarga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

47%

5%26%

16% 5%

Jenis pelayanan kesehatan yang digunakan oleh keluarga

PuskesmasPosyanduDokter praktikRumah SakitLannya

Berdasarkan diagram 37 didapatkan data jenis pelayanan kesehatan yang digunakan yaitu 48% menggunakan pelayanan puskesmas, posyandu 5%, dokter praktik 26%, rumah sakit 16% dan menggunakan pelayanan kesehatan lainnya sebesar 5%.

Diagram 38

Jenis kegiatan yang diikuti anggota keluarga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 31: KOMUNITAS GABUNGAN

55%

45%

Jenis kegiatan yang diikuti anggota keluarga

Tidak AdaLainnya

Berdasarkan diagram 38 didapatkan data bahwa 55% anggota keluarga tidak mengikuti kegiatan apapun (PKK, Karang Taruna, LKMD, LSM) dan yang lainnya (pengajian, gotong royong) sebesar 45%.

Diagram 39

Jaminan kesehatan yang digunakan warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

15%

24%

6%

42%

12%

Jaminan Kesehatan yang digunakan

ASKESJAMKESMASJAMKESDAtidak adalainnya

Berdasarkan diagram 39 didapatkan data Jaminan Kesehatan yang digunakan adalah ASKES 15%, JAMKESMAS 24%, JAMKESDA 6%, tidak ada 43% dan lainnya 12%.

Diagram 40

Jenis pelayanan kesehatan mental yang digunakan warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 32: KOMUNITAS GABUNGAN

6% 3%

91%

Jenis Pelayanan Kesehatan Mental yang di-gunakan?

PsikologDukuntidak ada

Berdasarkan diagram 40 didapatkan data jenis pelayanan kesehatan mental yang digunakan adalah Psikolog 6 %, Dukun 3%, dan tidak ada menggunakan pelayanan kesehatan mental 91%.

i) Ekonomi

Diagram 41

Jenis bantuan sosial yang diperoleh warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

30%

64%

6%

Jenis bantuan sosial yang diperoleh

RaskinTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 41 didapatkan data warga yang mendapatkan bantuan sosial yaitu raskin 30%, tidak memperoleh bantuan apapun 64% dan bantuan lainnya 6%.

Diagram 41

Pusat perbelanjaan yang biasa dikunjungi warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=32)

Page 33: KOMUNITAS GABUNGAN

64%

25%

11%

Pusat perbelanjaan yang biasa dikunjungi

Pasar TradisionalSupermarketLainnya

Berdasarkan diagram 41 didapatkan data warga yang mengunjungi pusat perbelanjaan yaitu pasar tradisonal 64%, supermarket 25%, dan pusat perbelanjaan lainnya 11%.

j) Komunikasi

Diagram 42

Media yang digunakan warga untuk mendapatkan informasi kesehatan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

2% 12%

58%

5%

5%

9% 9%

Media yang digunakan untuk mendapatkan informasi kesehatan

Koran

Majalah

Televisi

Radio

Internet

Tidak Ada

Lainnya

Berdasarkan diagram 42 didapatkan data media yang digunakan warga untuk mendapatkan informasi kesehatan melalui surat kabar 2%, majalah 12%, televisi 58%, radio 5%, internet 5% dan yang memilih tidak menggunakan media apapun se9%) dan lainnya sebesar sekitar 3 (9%).

Diagram 43

Frekuensi warga mendapatkan penyuluhan kesehatan dalam 3 bulan terakhir di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 34: KOMUNITAS GABUNGAN

13%

88%

Frekuensi mendapatkan penyuluhan ke-sehatan dalam 3 bulan terakhir

1-3 kalitidak ada

Berdasarkan diagram 43 didapatkan data frekuensi warga mendapatkan penyuluhan kesehatan dalam 3 bulan terakhir adalah 1-3 kali 12% dan tidak mendapatkan penyuluhan kesehatan 8%

Diagram 44

Jenis informasi kesehatan yang biasa diterima warga di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

9% 9%

13%

69%

Jenis informasi kesehatan yang biasa diterima

PenyuluhanBrosurPosterTidak ada

Berdasarkan diagram 44 didapatkan data bahwa warga yang mendapatkan informasi kesehatan dari penyuluhan sekitar 3 (9%), dari brosur sekitar 3 (9%), dari poster sekitar 4 (13%) dan tidak mendapatkan informasi kesehatan sekitar 22 (69%).

Diagram 45

Tempat yang sering digunakan warga untuk berkumpul dan memperoleh informasi di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

Page 35: KOMUNITAS GABUNGAN

29%

20%34%

17%

Tempat yang sering digunakan untuk berkumpul dan memperoleh informasi

MesjidPosyanduTidak adaLainnya

Berdasarkan diagram 46 didapatkan data bahwa warga paling sering berkumpul untuk memperoleh informasi yaitu, dimesjid 29%, di posyandu 20%, dan tidak ada berkumpul sekitar 34% dan berkumpul ditempat lainnya 17%.

k) Pendidikan

Diagram 46 Peran UKS di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 5)

40%

60%

Peran UKS di sekolah

UKS berperan aktif selama jam sekolahUKS berperan aktif setengah dari waktu jam sekolahUKS berperan aktif hanya jika kadernya hadirUKS jarang sekali berperan aktifsekolah saya tidak mempunyai UKSlainnya

Berdasarkan diagram 46 didapatkan data dari 5 anak sekolah yang ada di RT tersebut seluruhnya memiliki UKS, 40% UKS berperan aktif selama jam sekolah, 60% lainnya jarang berperan aktif.

Diagram 47Kegiatan PHBS UKS di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai

Page 36: KOMUNITAS GABUNGAN

40%

20%

40%

Kegiatan PHBS di UKS

cara mencuci tanganpemeriksaan kukupemeriksaan gigipemeriksaan rambutpemeriksaan matakonseling kesehatantidak ada lainnya

Berdasarkan diagram 47 didapatkan data kegiatan mencuci tangan sebanyak 40% ada di UKS sekolah, 20% melaksanakan kegiatan pemeriksaan rambut, dan 40% melaksanakan konsultasi kesehatan.

Diagram 48Frekuensi kegiatan PHBS di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

40%

20%

40%

Frekuensi kegiatan PHBS dilakukan

1 kali seminggu2 kali seminggu1 kali 2 minggutidak pernahlainnya (1 kali sebulan)

Berdasarkan diagram 48 didapatkan data 40% menjawab sekolahnya melakukan kegiatan PHBS sebanyak 1 kali seminggu, 20% menjawab 2 kali seminggu, dan 20% menjawab lainnya (1 kali sebulan).

Page 37: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 49 Fungsi UKS di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=5)

Berdasarkan diagram 49 didapatkan data 60% menjawab UKS berfungsi dengan cukup baik, 20% menjawab sangat baik, dan 20% menjawab baik.

Diagram 50

Jenis materi penyuluhan yang diberikan di sekolah di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n=6)

67%

33%

materi penyuluhan yang diberikan

kesehatan reproduksipenyalahgunaan narkobabahaya merokokkesehatan lingkunganlainnya

Berdasarkan diagram 50 didapatkan data 67% siswa menjawab memperolah materi penyuluhan tentang penyalahgunaan narkoba, 33% memperoleh materi tentang bahaya merokok, dan tidak ada yang menjawab tentang kesehatan reproduksi dan kesehatan lingkungan.

l) Rekreasi

20%

20%60%

Fungsi UKS di sekolah

sangat baikbaikcukup baikkurang baik

Page 38: KOMUNITAS GABUNGAN

Diagram 51

Frekuensi rekreasi yang dilakukan keluarga dalam sebulan di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

50%

6%3%

9%

31%

Frekuensi rekreasi yang dilakukan keluarga dalam sebulan

1 kali /bulan2 kali /bulan3 kali / bulan tidak pernah lainnya

Berdasarkan diagram 51 didapatkan data yaitu, keluarga melakukan kegiatan rekreasi 1 kali/bulan 50%, 2 kali/bulan 6%, 3 kali/bulan 3%, tidak pernah sebanyak 10% dan lainnya 31%.

Diagram 52

Alasan warga tidak melakukan rekreasi di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai (n= 32)

50%

25%

25%

Alasan tidak pernah melakukan rekreasi

tidak ada dana tidak ada waktu tidak ada keinginan

Berdasarkan digram 52 didapatkan data keluarga yang tidak pernah melakukan rekreasi adalah 50% dengan alasan tidak ada dana, tidak ada waktu 25%, dan dengan alasan tidak ada keinginan 25%.

Page 39: KOMUNITAS GABUNGAN

b. Wawancara

Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk tanya

jawab antara kelompok dengan responden yang berkaitan dengan masalah

kesehatan. Wawacara dilakukan dengan ramah, terbuka, menggunakan bahasa

yang sederhana dan mudah dipahami oleh reponden. Selanjutnya hasil wawancara

dicatat dalam format proses keperawatan komunitas. Wawancara ditujukan kepada

ketua RT, pegawai Puskesmas, kader Posyandu, dan 32 Kepala Keluarga.

c. Observasi

Observasi adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan

langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan

pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Sebelum

observasi dilaksanakan, observer hendaknya telah menetapkan terlebih dahulu

aspek-aspek apa yang akan diobservasi dari setiap lingkungan warga.

Berikut hasil observasi di RT 002 RW 18 Kelurahan Tangerang Tengah

Kecamatan Marpoyan Damai.

Pada metode ini kelompok mengadakan kunjungan pada setiap rumah warga (32 KK)

dan melakukan pengkajian serta pengamatan. Didapatkan hasil sebagai berikut.

Page 40: KOMUNITAS GABUNGAN

1. Status nutrisi balita

Berdasarkan MTBS status nutrisi balita di RT ini baik yaitu dengan cara

membandingkan berat badan (BB) dengan tinggi badan (TB) masing-masing balita.

2. Kamar mandi

Sebagian besar KK sudah mempunyai WC dan kamar mandi sendiri (27 KK) namun 5

KK menggunakan WC bersama.

3. Sebagian KK memelihara kolam ikan sehingga menjadi tempat berkembangbiaknya

nyamuk

Page 41: KOMUNITAS GABUNGAN

4. Umumnya rumah didaerah ini sudah memiliki ventilasi udara yang baik namun

sebagian rumah ventilasi yang kurang.

d. Winsheld Survey

Pada metode ini kelompok berjalan kaki mengelilingi rumah warga sambil

melakukan pengamatan dengan menggunakan pancaindera (indera penglihatan,

indera penciuman, indera pendengaran, indra peraba). Didapatkan hasil sebagai

berikut.

1. Indera Penglihatan

Didapatkan hasil:

a. Kondisi saluran air atau parit.

Aliran parit tersumbat sehingga air tergenang dan menjadi sarang

berkembangbiaknya berudu dan tumbuh lumut hijau.

Page 42: KOMUNITAS GABUNGAN

b. Kondisi pengumpulan sampah

Metode pengumpulan sampah di RT ini adalah dengan menumpuk sampah pada satu

tempat dan sampah tersebut akan di angkut oleh petugas kebersihan dua hari sekali.

Tempat pengumpulan sampah tersebut terletak di depan rumah warga.

c. Kondisi jalan

Page 43: KOMUNITAS GABUNGAN

Kondisi jalan di RT ini sudah aspal namun sebagian masih ada jalan tanah.

d. Sebagian rumah didaerah ini berpagar dan sebagian lagi tidak berpagar.

e. Daerah ini berdekatan dengan pemancar.

f. Daerah ini sudah menggunakan PLN

Page 44: KOMUNITAS GABUNGAN

2. Indera Pendengaran

Didapatkan hasil tidak ada suara bising didaerah ini karena jauh dari sumber

kebisingan seperti bandara, pasar, atapun pusat hiburan.

3. Indera Penciuman

Didapatkan hasil pada sore hari sering tercium bau karet yang menyengat karena

daerah ini berdekatan dengan pabrik karet. Jarak pabrik karet dengan daerah ini

sekitar 1 km.

4. Indera Perabaan

Didapatkan hasil bahwa daerah ini teraba panas pada saat penyuluhan. Hal ini normal

karena penyuluhan dilakukan pada musim panas.