kom perda02

Click here to load reader

  • date post

    07-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    750
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of kom perda02

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 08 TAHUN 2002 TENTANG PENERANGAN JALAN UMUM DAN PAJAK PENGGUNAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa untuk menunjang peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah kota Palangka Raya dipandang perlu membuat Keputusan tentang Pedoman Pemberian Ijin Usaha Jasa Kontruksi Nasional di Daerah b. Bahwa, untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud huruf a, diatas perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah; 6. Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 16 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilyah Kota Palangka Raya Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN IJIN USAHA JASA KONSTRUKSI NASIONAL BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: a. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; c. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; d. Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah adalah Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya; e. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) adalah ijin untuk melakukan usaha di bidang Jasa Konstruksi sebagaimana Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya; f. Tarif biaya adalah besarnya biaya yang dipungut atas proses administrasi tiap-tiap ijin yang dikeluarkan; g. Registrasi adalah pendaftaran ulang Surat Ijin Jasa Konstruksi (IUJK); h. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya dengan atas nama Walikota; i. Lembaga adalah lembaga sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi. BAB II SYARAT-SYARAT IJIN USAHA KONSTRUKSI Pasal 2 (1)Badan Usaha Nasional ayau Perorangan yang ingin memperoleh Ijin Usaha Jasa Konstruksi harus mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya. (2)Bagi Badan Usaha seperti pada ayat 1 (satu) diatas yang lulus Sertifikat dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dengan Kualifikasi B, M1 dan M2. Mempunyai Kantor dengan ruang minimal 30 m2 kecuali kualifikasi K3, K2, dan K1 diberikan dispensasi untuk dapat menggunakan rumah tinggal dengan luas ruangan minimal 15 m2. (3)Bagi Badan Usaha Jasa Konstruksi (Konsultan) Kualifikasi K, M dan B wajib mempunyai Kantor Minimal 30 M2. BAB III NAMA OBJEK DAN SUBJEK Dengan nama Biaya Administrasi dan Registrasi Pemberian Ijin Usaha Konstruksi (IUJK) sebagai pembayaran atas diterbitkan Ijin Usaha Jasa Konstruksi kepada Badan usaha atau Perorangan untuk dapat melaksanakan kegiatan dibidang Usaha jasa konstruksi dan Konsultasi. Pasal 4 Objek Biaya Administrasi dan Registrasi meliputi Permohonan Ijin Usaha, memperpanjang Ijin Usaha dan Perubahan Data Perusahaan, Pembukuan Cabang Perwakilan Perusahaan dan Registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi.

Pasal 5 Subjek Biaya Administrasi dan Badan Usaha atau Perorangan yang mendapat Ijin Usaha Jasa Konstruksi, Pengesahan Pembukuan Cabang/Perwakilan dan Registrasi Ulang Ijin Usaha Jasa Konstruksi. BAB IV BESAR PENGGUNAAN BIAYA ADMINISTRASI DAN REGISTRASI IJIN USAHA KONSTRUKSI (IUJK) Pemungutan biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi rasa keadilan kepada masyarakat, dampak terhadap pengembangan kegiatan usaha, biaya penelitian dan blanko, biaya bimbingan dan pembinaan, biaya pengolahan data, biaya dokumentasi, biaya pengawasan/ pembinaan dan pelaporan. Pasal 7 Besarnya tariff biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) sebagai berikut : a. Bidang Kontraktor (pemborong). Penerbitan IUJK baru, memperpanjang dan mengubah data dengan kualifikasi : - K3 = Rp. 500.000,- K2 = Rp. 600.000,- K1 = Rp. 750.000,- M2 = Rp. 2.000.000,- M1 = Rp. 3.000.000,- B = Rp. 5.000.000,b. Bidang Konsultasi (Konsultan) Penerbitan IUJK baru, memperpanjang dan mengubah data dengan Kualifikasi : - K = Rp. 500.000,- M = Rp. 750.000,- B = Rp. 1.000.000,c. Registrasi Badan Usaha Oemborongan (Kontraktor) / Konsultasi (Konsultan) : - K = Rp. 150.000,- M = Rp. 500.000,- B = Rp. 1.250.000,d. Registrasi IUJK Badan Usaha Perwakilan Bidang PEmborongan dan Konsultasi tidak melihat klas dengan biaya Rp. 1.000.000,BAB V TATA CARA PEMBAYARAN (1)Pembayaran tariff biaya termasuk denda sebagaimana Pasal 12 Poin (3) dilakukan ke Bendaharawan Penerimaan yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka Raya. (2)Setiap akhir bulan bendaharawan penerima biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) wajib menyetor ke Kas Daerah Kota Palangka Raya pada bank yang ditentukan dan membuat laporan pertanggungjawaban Penerimaan Keuangan pada Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya sesuai ketentuan yang berlaku.

Pasal 9 (1)Kepada instansi yang melanggarkan administrasi dan Registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) diberikan sebesar 10% (sepuluh persen) dan realisasi penerimaan pungutan yang disetor ke Kas Daerah guna menunjang penyelenggaraan administrasi ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK). (2)Pungutan uang penyelenggaraan administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi sebagaimana tersebut ayat (1) pasal ini, diatur seperlunya oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 10 (1)Bagian badan usaha atau perorangan yang telah memiliki Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) sebelum keputusan ini berlaku tidak dikenakan Biaya Administrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi. (2)Setiap Badan Usaha atau Perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, yang melakukan perubahan dikenakan biaya administrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi. Pasal 11 (1) Surat ijin Usaha Konstruksi Badan Usaha Perorangan yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka raya adalah berlaku selama 3 (tiga) tahun. (2) Setiap Badan Usaha atau perorangan yang memperoleh Ijin Usaha Jasa Konstruksi wajib melakukan registrasi ulang ke Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya pada setiap tahun. (3) Badan usaha atau Perorangan yang melakukan registrasi ulang Ijin Usaha Konstruksi dikenakan biaya sebagaimana diatur dalam pasal 7 huruf c. Pasal 12 (1)Apabila Badan Usaha atau Perorangan yang telah memiliki Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) melakukan Registrasi Ulang sekaligus mengadakan Perpanjangan atau Perubahan Data dikenakan biaya Registrasi sesuai Pasal 7 Poin a, b dan c. (2) Ijin Usaha Jasa Konstruksi Badan Usaha atau perorangan harus menyampaikan Permohonan Perpanjangan Perubahan data dan registrasi selambat-lambatanya 15 (lima belas) hari sebelum masa berlakunya. (3)Badan Usaha atau Perorangan yang mengajukan PErmohonan Perpanjangan, Perubahan Data dan registrasi Ulang setelah habis masa berlakunya seperti pada poin 2 diatas pasal ini, dikenakan sanksi denda sebesar Rp. 25.000,- untuk setiap-tiap hari keterlambatan diatas 1 (satu) bulan dan seterusnya baik Jasa Konstruksi (Kontraktor) maupun Jasa Konsultasi (Konsultan) : a. Kualifikasi K = Rp. 750.000,b. Kualifikasi M = Rp. 1.050.000,c. Kualifikasi B = Rp. 1.250.000,-

Pasal 13 (1)Ijin Jasa Konstruksi Bdan Usaha Perorangan dapat diterbitkan setelah lulus registrasi kualifikasi pada Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Propinsi Kalimantan Tengah dengan melampirkan Surat Kelulusan. (2)Penulisan Bidang Pekerjaan pada Ijin Usaha Jasa Konstruksi sesuai dengan kelulusan registrasi LPJK dan sesuai dengan Surat Rekaman Kartu tenaga Teknik Perusahaan. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka Raya. Pasal 15 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 01 Februari 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 01 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 01

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) BAHAN BAKAR MINYAK TANAH, PREMIUM DAN MINYAK SOLAR UNTUK BEBERAPA TEMPAT DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa, dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2002 tentang jual Eceran Bahan Minyak Dalam Negeri dan Surat Menteri Dalam Negeri republic Indonesia Nomor : 541/214/SJ tanggal 23 Januari 2002 perihal Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET)mMinyak tanah, Solar dan Premium untuk beberapa tempat di wilayah Kota Palangka Raya perlu disesuaikan dengan situasi kondisi setempat. c. Bahwa, untuk menyesuai harga eceran minyak sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 7. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2002 tentang Harga Jual Eceran bahan Bakar Minyak Dalam Negeri. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) BAHAN BAKAR MINYAK TANAH, PREMIUM DAN MINYAK SOLAR UNTUK BEBERAPA TEMPAT DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: j. Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah minyak tanah, premium dan minyak solar; k. Agen Minyak tanah (AMT) yaitu stasiun pengisian Bahan Bakar Minyak Tanah tang ditunjuk oleh Pemerintah dan PERTAMINA untuk disalurkan kepada rumah tangga dan usaha kecil melalui Pangkalan Minyak Tanah.

l. Agen Premium dan Minyak Solar yaitu stasiun pengisi bahan baker premium dan minyak solar untuk umum yang ditunjuk oleh Pemerintah dan PERTAMINA m. Pangkalan Minyak Tanah (PMT) adalah tempat melayani pembelian eceran Minyak Tanah untuk rumah tangga dan usaha kecil. n. Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak tanah adalah harga jual eceran tertinggi Bahan Bakar Minyak tanah untuk keperluan rumah tangga dan usaha kecil. o. Yang dimaksud dengan usaha kecil adalah usaha kecil sebagaimana dimaksud didalam Undang-Undang Nomor 09 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Pasal 2 Harga Eceran Tertinngi (HET) Minyak tanah, Premium dan Minyak Solar ditetapkan sebagai berikut : (1)Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak tana setiap liter pada Agen Minyak Tanah untuk Kecamatan Pahandut ditetapkan Rp. 820,(delapan ratus dua puluh rupiah) dan untuk Kecamatan Bukit Batu ditetapkan Rp. 850,- (delapan ratus lima puluh rupiah); (2)Harga Eceran Tertinggi (HET) premium setiap liter pada Agen Premium dan Minyak Tanah ditetapkan Rp. 1.725,- (seribu tujuh ratus dua puluh lima rupiah). (3)Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Solar setiap liter pada Agen Premium dan Minyak Solar ditetapkan Rp. 1.325,- (seribu tiga ratus dua puluh lima rupiah). (4)Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak Tanah setiap liter pada Pangkalan minyak tanah ditetapkan Rp. 900,- (sembilan ratus rupiah), untuk Kecamatan Pahandut dan Rp. 950,- (Sembilan ratus lima puluh rupiah) untuk Kecamatan Bukit Batu. Pasal 3 Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Tanah, Premium dan Minyak Solar dengan perincian komponen penetapannya adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran I dan II Keputusan ini. Pasal 4 Pembinaan dan pengawasan terhadap penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), penyaluran dan pengeceran Minyak tanah, Premium dan Minyak Solar dilakukan bersama antara Pemerintah Kota Palangka Raya dan instansi terkait lainnya dengan membentuk satuan tugas yang dikoordinir oleh DInas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Palangka Raya. Pasal 5 Apabila terjadi kelangkaan minyak tanah di Kota Palangka Raya, maka agen minyak tanah melakukan operasi pasar bekerja sama dengan PERTAMINA dengan koordinasi Pemerintah Kota. Pasal 6 Agen Minyak Tanah, Premium dan Minyak Solar dan Pangkalan Minyak tanah yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), (2), (3) dan (4) Keputusan ini,

dikenakan sanksi sesuai undangan yang berlaku.

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-

Pasal 7 Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Walikota Palangka raya Nomor : 89 Tahun 2001 tentang Penetapan harga Eceran Tertinggi (HET) Bahan Bakar Minyak Tanah, Solar dan Premium untuk beberapa tempat di Wilayah Kota Palangka raya dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 8 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini akan diatur kemudian oleh Walikota Palangka Raya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 9 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 02

LAMPIRAN 1

: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR : 02 TAHUN 2002 TANGGAL : 7 FEBRUARI 2002

HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) MINYAK TANAH DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYAN o Lokasi Harga sesuai Kepres No 9 Tahun 2002 Setiap Liter (Rp) 3 Keuntungan Agen/Penyal ur Setiap Liter (Rp) 4 Ongkos Angkutan Melalui Alur Sungai Setiap Liter (Rp) 5 Harga Eceran Tertinggi Agen ke Pangkalan Setiap Liter (Rp) 6 Keuntunga n Pangkalan Setiap liter (Rp) 7 Harga Eceran Tertinggi Pangkalan Setiap Liter (Rp) 8

1

2

1 2

Kec. Pahandut Kec. Bukit Batu

600,600,-

45,45,-

175,225,-

820,870,-

80,80,-

900,950,-

No

Lokasi

Haga sesuai Kepres No 9 Tahun 2002 Setiap Liter (Rp.) Premium M. Solar 1.550,1.150,-

Ongkos Angkutan melalui Alur Sungai Setiap Liter (Rp) Premium M. Solar 175,175,-

Harga Eceran Tertinggi Pangkalan Setiap Liter (Rp.) Premium 1725,M. Solar 1.325,-

1

Kota Palangka Raya

WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 02

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 21 TAHUN 2002 TENTANG PENETAPAN PUSKESMAS DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA SEBAGAI UNIT SWADANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA, Menimbang : a. bahwa, dalam rangka peningkatan dan kelancaran tugas dan fungsi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan atau satuan daerah lainnya, Puskesmas yang memenuhi criteria swadana perlu ditetapkan menjadi Unit Swadana; bahwa, Puskesmas yang memenuhi criteria menjadi Unit Swadana sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan peraturan Daerah Kota Palangka Raya. 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2753); Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); Keputusan Presiden Nomor 38 Tahun 1991 tentang Unit Swadana dan Tata Cara Pengelolaan Keuangannya; Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 15 Tahun 2000 tentang Pembentukan, Susunan dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2000 Nomor 15); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 06 Tahun 2002 (Lembaran Daerah Tahun 2002 Nomor 06).

b.

Mengingat

:

2.

3.

4. 5.

DENGAN PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG PENETAPAN PUSKESMAS DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA SEBAGAI UNIT SWADANA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 3. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 4. Unit Swadana adalah Satuan Kerja daerah tertentu yang diberi wewenang untuk menggunakan Penerimaan Fungsionalnya secara langsung. 5. Penerimaan Fungsional adalah penerimaan yang diperoleh sebagai imbalan jasa yang diberikan oleh Satuan Kerja Daerah dalam menjalankan fungsinya melayani kepentingan masyarakat dan atau Dinas/Lembaga/Satuan Kerja Daerah lainnya. BAB II UNIT SWADANA DAERAH Pasal 2 (1)Puskesmas diwilayah Kota Palangka Raya sebagai Unit Swadana ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya; (2)Dengan ditetapkan menjadi Unit Swadana sebagaimana ayat (1) maka puskesmas tersebut diberi wewenang untuk menggunakan Penerimaan Fungsionalnya secara langsung sesuai ketentuan yang berlaku; (3)Kriteria Puskesmas menjadi Unit Swadana adalah sebagai berikut : a. Puskesmas dengan tempat tidur atau Puskesmas tanpa tempat tidur. b. Mempunyai penerimaan fungsional yang memadai (sekitar minimal 40% dari total kebutuhan diluar gaji pegawai, belanja investasi dan obat inpres). c. Mempunyai tenaga yang memadai (dokter umum lebih dari satu, dokter gigi satu, dua orang bendaharawan penerima dan pengeluaran, Puskesmas Perawatan : Perawat 3, Bidan 3, Puskesmas Non Perawat : Perawat 2, Bidan 2) d. Masyarakat diwilayah kerjanya mempunyai kemampuan ekonomi yang baik (jumlah penduduk > 50%) e. Mempunyai Manajemen Puskesmas yang baik f. Sudah melaksanakan tertib Tata Usaha keuangan. g. Akan melaksanakan program jaga mutu pelayanan kesehatan. h. Akan merintis Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM) BAB III KETENTUAN PENUTUP Pasal 3 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penetapannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya.

Disahkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA, WALIKOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 21 KOTA

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 22 TAHUN 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 03 TAHUN 1999 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL WALIKOTA PALANGKA RAYA, Menimbang : a. bahwa, dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dipandang perlu diadakan perubahan atas Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 3 tahun 1999 tentang retribusi terminal. c. bahwa, untuk perubahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya. : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2753); 6. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 8. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan; 9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685); sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 246, tambahan Lembaran Negara Nomor 4048); 10.Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 11.Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202); 12.Peraturan Daerah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119);

Mengingat

13.Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan dan bentuk Rancangan Undang-Undang, Rancangan Keputusan Presiden (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 70). DENGAN PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 03 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN RETRIBUSI TERRMINAL. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Beberapa ketentuan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 03 Tahun 1999 tentang Retribusi Terminal (Lembaran Daerah Kota Palangka Raya Tahun 1999 Nomor 13); diubah sebagai berikut : A. Ketentuan Pasal : 6. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah Kesatuan Masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu hukum yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 7. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 8. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 9. Pejabat adalah pegawai yang diberikan tugas di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan Daerah yang berlaku; 10.Badan adalah suatu badan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pension, bentuk usaha serta bentuk usaha lainnya. 11.Retribusi Jasa Usaha adalah Retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. 12.Retribusi Terminal yang selanjutnya dapat disebut retribusi adalah pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan Bis Umum, tempat kegiatan usaha, fasilitas lainnya dilingkungan terminal yang dimiliki dan atau dikelola oleh Pemerintah Daerah, serta yang dikelola oleh pihak swasta tidak termasuki pelayanan peron; 13.Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi; 14.Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan tempat parkir khusus;

15.Surat Keputusan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah Retribusi yang terutang. 16.Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat dengan STRD adalah Surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda; 17.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan Retribusi Daerah; 18.Penyidikan Tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Ngeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi Daerah yang terjadi serta menentukan tersangkanya. B. Ketentuan Pasal 8, diubah sehingga keseluruhan pasal 8 berbunyi sebagai berikut : Pasal 8 (1)Tarip Retribusi digolongkan berdasarkan jenis fasilitas, jenis kendaraan dan jangka waktu pemakaian. (2)Besarnya tariff ditetapkan berdasarkan tariff pasar yang berlaku di wilayah. (3)Dalam hal tariff pasar yang berlaku sulit ditemukan, maka tariff ditetapkan sebagai jumlah pembayaran persatuan unit pelayanan/jasa, yang merupakan jumlah unsure tarif yang meliputi : a. Unsur biaya persatuan penyediaan jasa; b. Unsur keuntungan yang dikehendaki persatuan jasa (4)Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, meliputi : a. Biaya Operasional langsung, yang meliputi biaya belanja pegawai tidak tetap, belanja barang, belanja pemeliharaan, sewa tanah dan bangunan, biaya listrik dan semua biaya rutin/periodic lainnya yang berkaitan langsung dengan penyediaan jasa. b. Biaya langsung yang meliputi biaya administrasi umum dan jasa lainnya yang mendukung penyediaan jasa. c. Biaya Modal yang berkaitan dengan tersedianya aktiva lainnya yang berjangka menengah dan penunjang yang meliputi angsuran dan biaya pengaman, mulai sewa tanah dan bangunan dan penyusunan asset. (5)Keuntungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, ditetapkan dalam prioritas dari total biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dari modal. (6)Struktur dan besarnya tariff sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), (3) ditetapkan sebagai berikut : a. Penyediaan tempat parkir kendaraan penumpang dan Bus Umum dengan tariff : 1. Angkutan Kota - Otolet sebesar Rp. 500,-/sekali masuk - Bus Kecil sebesar Rp. 500,-/sekali masuk - Bus Kota Rp. 750,-/sekali masuk - Sepeda Motor Rp. 300,-/sekali masuk 2. Angkutan Antar Kota - Bus kecil sebesar Rp. 1.000,-/sekali masuk

-

Bus sedang Bus besar

Rp. 7.500,-/sekali masuk Rp. 2.000,-/sekali masuk

b. Pemakaian fasilitas tempat usaha : - Ruko ukuran 3x5 meter Rp. 60.000,-/bulan - Toko ukuran 4x5 meter Rp. 35.000,-/bulan - Kios ukuran 3x4 meter Rp. 30.000,-/bulan - Los ukuran 3x4 meter Rp. 35.000,-/bulan (7)Hasil penerimaan retribusi seluruhnya disetor ke Kas Daerah dalam waktu 1 x 24 jam. Pasal II Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penetapannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA, WALIKOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 21 KOTA

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA, Menimbang : a. bahwa, dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang perhubungan yang memberikan kewenangan yang luas kepada Pemerintah Kota perlu diatur lebih lanjut tentang pengujian kendaraan bermotor; d. bahwa, untuk perubahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah. : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1820); 14.Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2104); 15.Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2753); 16.Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186); 17.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); 18.Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480); 19.Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685); sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 246, tambahan Lembaran Negara Nomor 4048); 20.Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

Mengingat

21.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 22.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2410); 23.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530); 24.Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan pengemudi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530); 25.Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202); 26.Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah (Lembarab Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202); 27.Peraturan Daerah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119); 28.Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan bentuk Rancangan Undang-Undang, Rancangan Keputusan Presiden (Lembaran Negara Republik Indonesi Tahun 2000 Nomor 70). DENGAN PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 19.Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah Kesatuan Masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu hukum yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 20.Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 21.Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 22.Pejabat adalah pegawai yang diberikan tugas di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan Daerah yang berlaku;

23.Pengujian Kendaraan Bermotor adalah Kegiatan Teknis yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah atau Unit yang ditunjuk, untuk memberikan jaminan agar kendaraan bermotor dalam keadaan layak jalan; 24.Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerak oleh Peralatan Teknik yang berada pada Kendaraan itu termasuk Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkai dengan Kendaraan Bermotor; 25.Kendaraan Wajib Uji adalah setiap kendaraan yang berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku Wajib Diujikan untuk menentukan kelaikan jalan yaitu Mobil, Bus, Mobil Penumpang, Mobil Barang kendaraan khusus serta kereta gandengan dan kereta tempel yang dioperasikan di jalan; 26.Kendaraan Umum adalah setiap kendaraanbermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dan dipungut bayaran; 27.Mobil penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi kurang dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi; 28.Mobil Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk pengemudi baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi 29.Mobil Barang adalah setiap kendaraan bermotor selain penumpang dan mobil bus; 30.Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor selain dari kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang dan penumpangnya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus; 31.Kereta Gandengan adalah suatu alat yang digunakan untuk mengangkut barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan drancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor, 32.Kereta Tempelan adalah suatu alat yang digunakan untuk mengangkut barang yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya; 33.Pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor atau orang yang secara langsung mengawasi calon pengemudi yangsedang belajar mengemudikan kendaraan bermotor; 34.Uji berkala adalah pengujian kendaraan bermotor secaraberkala terhadap setiap kendaraan wajib uji; 35.Buku Uji Berkala adalah tanda bukti lulus uji dengan hasil baik, tanpa legitimasi hasil pengujian kendaraan wajib uji; 36.Pelaksana Pengujian adalah Unit pengujian berkala kendaraan bermotor yang diberikan wewenang melaksanakan pengujian berkala kendaraan bermotor. 37.Tanda Uji adalah bukti bahwa suatu kendaraan telah diuji dengan hail baik, berupa lempengan plat alumunium atau plat kaleng yang ditempelkan pada plat nomor ataurangka kendaraan 38.Uji Ulang adalah pemeriksaan ulang kendaraan yang sebelumnya dinyatakan tidak lulus uji; 39.JBB adalah jumlahberat yang diperbolehkan berat maksimum kendaraan berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya; 40.Laik Jalan adalah persyaratan minimum kondisi suatu kendaraan yang harus dipenuhi agar terjamin keselamatan dan mencegah terjadinya pencemaran udara dan kebisingan lingkungan pada waktu dioperasikan jalan; 41.Badan adalah suatu badan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan,

perkumpulan, firma, kongsi, koperasi yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk usaha lainnya. 42.Retribusi Jasa Umum adalah Retribusi atas Jasa yang disediakan atau diberian oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang Pribadi atau badan; 43.Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor yang selanjutnya dapat disebut retribusi adalah pembayaran atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya; 44.Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan atau menguasai kendaraan bermotor yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi di wilayah kerja Pemerintah Kota Palangka Raya. 45.Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa pengujian kendaraan bermotor; 46.Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerahdan selanjutnya dapat disingkat SPORD adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan data objek retribusi dan wajib retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang berhutang menurut peraturan perundang-undangan retribusi daerah; 47.Surat Keputusan Retribusi Daerah dab selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya Retribusi yang terutang. 48.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya dapat disingkat SKRDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang ditetapkan; 49.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat keputuan menentukan jumlah kelebihan jumlah pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang berhutang atau denda; 50.Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat dengan STRD adalah Surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda; 51.Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan terhadap SKRD, SKRDKB, SKRDLB atau terhadap pemotongan atau pungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib retribusi; 52.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan Retribusi Daerah; 53.Penyidikan Tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Ngeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi Daerah yang terjadi serta menentukan tersangkanya. BAB II NAMA OBJEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

Dengan nama retribusi pengujian kendaraan bermotor dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor. Pasal 3 Objek retribusi adalah pelayanan pengujian kendaraan bermotor yang meliputi : a. Mobil Bus b. Mobil Penumpang c. Mobil Barang d. Kendaraan Khusus e. Kereta Gandengan f. Kereta Tempelan Pasal 4 Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh pelayanan pengujian kendaraan bermotor. BAB III GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5 Retribusi pengujian kendaraan bermotor digolongkan sebagai retribusi jasa umum. BAB IV CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 6 Tingkat penggunaan jasa pengujian kendaraan bermotor didasarkan atas frekwensi pengujian kendaraan bermotor. BAB V PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 7 a. Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi dimaksud untuk menutupi biaya penyelenggaraan pengujian kendaraan bermotor dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan. b. Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pemeriksaan untuk meemriksa emisi gas buang, untuk memeriksa lampu-lampu serta perlengkapan dan peralatan lainnya, pengetokan nomor uji dan segel serta jasa ketatausahaan berupa formulir Pendaftaran Objek Teribusi Daerah (SPORD) danbuku uji. BAB VI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8 Struktur tarif dibedakan berdasarkan jenis kendaraan bermotor. Besar tarif ditetapkan dengan pedoman kepada pengujian ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. yang

(8)Struktur dan besarnya tarif retribusi uji ditetapkan sebagaiberikut : a. Mobil Bus : - Kapasitas tempat duduk sampai dengan 13 buah Rp. 30.000,- Kapasitas tempat duduk 14 sampai dengan 30 buah Rp. 35.000,- Kapasitas tempat duduk diatas 30 buah Rp. 50.000,b. Mobil Barang - Dengan JBB sampai dengan 2.000 Kg Rp. 30.000,- Dengan JBB 2.001 sampai dengan 8.000 Kg Rp. 45.000,- Dengan JBB diatas 8.000 Kg Rp. 60.000,c. Mobil Penumpang Umum - Roda 4 (empat) Rp. 30.000,- Roda 3 (tiga) Rp. 15.000,d. Kereta gandeng atau tempelan Rp. 50.000,e. Kendaraan Khusus Rp. 50.000,f. Uji Asap (smoke tester) Rp. 15.000,(9)Besarnya tarif retribusi jasa ketatausahaan sebagai berikut : a. Formulir Pendaftaran Rp. 2.500,b. Pembuatan atau penggantian buku uji Rp. 10.000,c. Plat uji (penggantian) Rp. 5.000,d. Jasa pembuatan perisai kolong Rp.180.000,(10)Besarnya tarif retribusi penghapusan kendaraan : a. Mobil Bus Rp. 25.000,b. Mobil Barang Rp. 25.000,c. Mobil Penumpang Umum Rp. 10.000,d. Kereta Gandengan/tempelan Rp. 25.000,e. Kendaraan Khusus Rp. 35.000,(11)Besarnya tarif retribusi ulangditetapkan sebagai berikut : a. Mobil Bus Rp. 20.000,b. Mobil Barang Rp. 20.000,c. Mobil Penumpang Umum Rp. 15.000,d. Kereta Gandengan/tempelan Rp. 25.000,e. Kendaraan Khusus Rp. 40.000,(12)Setiap keterlambatan pengujian berkala berikutnya bagi kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus dikenakan denda 25% dari retribusi uji untuk setiap bulan keterlambatan. (13)Hasil penerimaan sebagaimana ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6),(7) seluruhnya ke kas Daerah dalam waktu 1 x 24 jam. BAB VII WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9 Retribusi yang dipungut di wilayah daerah empat pengujia kendaraan bermotor dilaksanakan. BABVIII

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 10 Masa Retribusi Kendaraan Bermotor dilakukan satu kali selama 6 (enam) bulan. Pasal 11 Saat Retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKPI atau dokumen lain yang dipersamakan. BAB IX SURAT PENDAFTARAN Pasal 12 (1)Wajib Retribusi wajib mengisi SPORD; (2)SPORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib atau kuasanya; (3)Bentk, isi, serta tata cara pengisian dan penyampaian SPORD sebagaimana dimaksud pada ayat (!) ditetapkan oleh Walikota. BAB X PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 13 (1)Berdasarkan SPORD sebagaimana dalam pasal 12 ayat (1) ditetapkan retribusi terutang dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan; (2)Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah reribusi yang tertuang, maka dikeluarkan SKRDKBT. (3) Bentuk, isi dan tata cara penerbitan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan SKRDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat(2) ditetapkan oleh Walikota. BAB XI TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 14 (1)Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan; (2)Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang disamakan dan SKRDKBT; BAB XII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 15 Dalam hal wajib retribusitidak membayar tepat pada waktunya ataukurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD. BAB XIII TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 16 (1)Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus;

(2)Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaranretribusi diatur dengan keputusan Walikota. BAB XIV TATA CARA PENAGIHAN Pasal 17 (1)Retribusi berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang disamakn, SKRDKBT, STRD dan Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar bertambah, yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib retribusi dapat ditagih melalui Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN); (2)Penagihan retribusi melalui BUPLN dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB XV KEBERATAN Pasal 18 (1)Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang disamakan, SKRDKST dan SKRDDLB; (2)Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas; (3)Dalam hal wajib retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan retribusi, wajib retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan retribusi tersebut; (4)Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila wajib retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diuar kekuasaannya; (5)Keberatan yang tidak memenuhi persyaratansebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (2) tidak dianggap sebagai surat keberatan,sehingga tidak dipertimbangkan; (6)Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi. Pasal 19 (1) Walikota dalamjangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat keberatan harus memberikeputusan atas keberatan yang diajukan; (2) Keputusan Walikota atas keberatan dapat berupamenerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang; (3) Apabila jangka waktu sebagaimana yang dimaksud padaayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberikan suatu keputusan, keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan. Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penetapannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya.

Disahkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA, WALIKOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 21 KOTA

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 24 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI PENYEDOTAN KAKUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah yang memberi peluang untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah; d. bahwa Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 14 Tahun 1998 tentang Retribusi Penyedotan Kakus, tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan sehingga perlu diganti; e. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 9. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 10.Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 11.Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 12.Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3849); 13.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 14.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981

tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3256); 15.Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202); 16.Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119); Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG RETRIBUSI PENYEDOTAN KAKUS BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 3. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 4. Dinas yang berwenang adalah Dinas Pengelola Pasar, Kebersihan dan Parkir Kota Palangka Raya; 5. IPLT adalah Instalasi Pengolahan Limbah Tinja Kota Palangka Raya yang dikelola oleh Instalasi yang berwenang; 6. Kakus adalah tempat pembuangan air buangan domestik dan tinja yang berupa wadah penampungan atau penyimpanan sementara; 7. Pencemaran lingkunagn adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukkannya; 8. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komoditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama atau bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi koperasi, yayasan atau organisasi sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk usaha lainnya;

9. Penyedot Kakus Swasta adalah badan atau perorangan yang bergerak dan atau berusaha di bidang usaha jasa penyedotan kakus; 10. Surat Rekomendasi adalah surat keputusan yang menentukan boleh tidaknya penyedot kakus swasta melakukan kegiatan usahanya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang denga jumlah terkendali; 11. Retribusi Penyedotan Kakus adalah retribusi atas jasa usaha penyedotan kakus oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta; 12. Retribusi Pengelolaan Limbah Tinja adalah retribusi jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk jasa usaha pengelolaan limbah tinja di IPLT dan tidak dapat dilakukan oleh sektor swasta; 13. Wajib retribusi adalah badan usaha, penyedot kakus swasta dan orang pribadi yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi atas jasa yang diberikan Pemerintah Daerah; 14. Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SPORD adalah surat yang digunakan untuk wajib retribusi untuk melaporkan data objek retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan perundangundangan retribusi daerah; 15. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang; 16. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah; 17. Penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidaik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut Penyidik, untu mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pelanggaran di bidang penyedotan kakus yang terjadi serta menemukan tersangkanya. BAB II NAMA OBJEK DAN SUBJEK Pasal 2 Dengan nama Retribusi Penyedotan Kakus dan Pengelolaan Limbah Tinja dipungut retribusi jasa pelayanan penyedotan kakus dan jasa pelayanan pengelolaan limbah tinja. Pasal 3 Objek retribusi adalah pelayanan penyedotan kakus dan pelayanan pengelolaan limbah tinja. Pasal 4

Subjek retribusi adalah orang dan yang memperoleh pelayanan jasa penyedotan kakus dan jasa pelayanan pengelolaan limbah tinja. BAB II HAK DAN KEWAJIBAN PENYEDOTAN KAKUS SWASTA (1)Pembinaan dang pengendalian penyedot kakus swasta dilaksanakan oleh dinas yang berwenang; (2)Penyedot kakus swasta dalam melakukan kegiatan usahanya wajib memiliki Surat Rekomendasi dari Instansi yang berwenang dengan masa berlaku 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang lagi tanpa dipungut biaya; (3)Penyedot kakus swasta harus membuang limbah tinja penyedotannya ke IPLT dan membayar retribusi pengelolaal limbah tinja; (4)Penyedot kakus swasta yang memiliki Surat Rekomendasi dari instansi yang berwenang berhak melakukan kegiatan usahanya yang diatur lebih lanjut; (5)Penyedot kakus swasta yang memiliki surat rekomendasi dari instansi yang berwenang berhak melakukan kegiatan usahanya yang diatur lebih lanjut; BAB IV CARA MENGHITUNG TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 6 Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan volume tinja yang disedot. BAB V PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR BESARNYA TARIF Pasal 7 Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha sejenis yang beroperasi secara efisien dan pada harga pasar. BAB VI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 8 (1) Struktur dan besarnya tariff retribusi penyedotan kakus sampai pengelolaan limbah tinja yang dilaksanakan instalasi yang berwenang ditetapkan sebesar Rp. 50.000,- per M3 limbah tinja yang disedot dan diolah; (2) Struktur dan besarnya tariff retribusi pengelolaan limbah tinja yang dilaksanakan instansi yang berwenang ditetapkan sebesar Rp. 5000,per M3 lumpur limbah yang dibuang dan diolah di IPLT; BAB VII WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9 Retribusi penyedotan kakus dan pengelolaan limbah tinja dipungut di wilayah tempat pelayanan IPLT. BAB VIII

SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 10 Retribusi teutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. BAB IX TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 11 (1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan dan atau dapat diborongkan apabila mendapat persetujuan Kepala Daerah; (2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan; (3) Hasil retribusi sebagaimana dimaksud pasal 8 seluruhnya disetorkan ke Kas Daerah dalam waktu 1 x 24 jam. BAB X TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 12 (1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus; (2) Retribusi yang dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. BAB XI PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 13 (1) Walikota dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi; (2) Pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi; (3) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi ditetapkan oleh Walikota; BAB XII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 14 (1) Dalam hal wajib retribusi tidak membayar dan atau kurang membayar setelah 15 (lima belas) hari terhitung dari tanggal Surat Ketetapan retribusi (SKRD) dikeluarkan/diterbitkan dikenakan sanksi denda administrasi berupa bunga 2 % (dua persen) dari total ketetapan yang harus dibayar. (2) Barang siapa yang dengan sengaja tidak membuang limbah ke IPLT sehingga terjadi pencemaran lingkungan dapat dicabut surat rekomendasinya; BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 15 (1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya seperti pada pasal 5 dan pasal 8 Peraturan Daerah ini dikenakan pidana kurungan

paling lama 6 (enam) bulan dan denda setinggi-tingginya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah); (2) Tindak pidana seperti tersebut pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB XIV PENYIDIKAN Pasal 16 (1) Selain pejabat penyidik Polri yang bertugas menyelidiki tindak pidana, sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat (1) dapat dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah Kota Palangka Raya yang pengangkatannya ditetapkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku; (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pelanggaran di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pelanggaran dinidang retribusi daerah; c. meminta keterangan dan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pelanggaran dibidang retribusi daerah; d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan tindak pelanggaran di bidang retribusi daerah; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut; f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pelanggaran di bidang retribusi daerah; g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana huruf e. h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pelanggaran dibidang retribusi daerah; i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; j. menghentikan penyidikan; k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk melancarkan penyidikan tindak pelanggaran di bidang retribusi daerah menurut hokum yang dipertanggungjawabkan; (3) Penyidik dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 17 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan daerah ini akan diatur lebih lanjut oleh Walikota sepanjang mengenai pelaksanaannya. Pasal 18 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 24

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 25 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERIAN UPAH PUNGUT KEPADA DINAS PENDAPATAN KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa, dalam rangka pelaksanaan UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan penetapan besarnya prosentase upah pungut yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 1980 tentang Pemberian Uang Perangsang kepada Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya, dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang dan guna lebih meningkatkan semangat kerja pegawai yang terkait dengan peningkatan Pendapatan Asli Daeah (PAD) Kota Palangka Raya, maka besarnya prosentase upah pungut perlu ditinjau kembali; f. Bahwa, untuk penetapan besarnya upah pungut sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah kota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 17.Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 18.Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3849); 19.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 20.Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202);

21.Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119); 22.Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG PEMBERIAN UPAH KEPADA DINAS PENDAPATAN KOTA PALANGKA RAYA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 18. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 19. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 20. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 21. Petugas pemungut adalah Pegawai yang diber tugas untuk melakukan pemungutan Pendapatan Asli Daerah Kota Palangka Raya. 22. Upah pungut adalah uang yang merupakan prosentase dari Penerimaan Asli Daerah yang diterima yang diberikan kepada Dinas Pendapatan Daerah guna meingkatkan gairah kerja. 23. Dinas Pendapatan adalah Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya 24. Kepala Dinas Pendapatan adalah Kepala Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya BAB II BESARNYA UPAH PUNGUT Pasal 2 (1)Upah Pungut diperhitungkan berdasarkan prosentase dari seluruh realisasi penerimaan baik dari sektor Pajak daerah, Penerimaan Laba Usaha Milik Daerah, Jasda Giro dan Penerimaan Lainnya yang sah termasuk bagi hasil Pajak Bukan Pajak yang dikelola dan disetor ke Kas Daerah pada Bank-Bank yang ditunjuk oleh Pemerintah Kota Palangka Raya dan termasuk juga setoran lainnya yang dipungut melalui dinas/unit kerja yang terkait dalam pengelolaan Pendapatan Asli daerah (PAD). (2)Besarnya upah pungut yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini ditetapkan untuk Pajak Daerah sebesar 5% (lima persen) dan untuk Retribusi Daerah sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah penerimaan.

BAB II TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENGGUNAAN UPAH PUNGUT Pasal 3 (1) Pembayaran upah pungut untuk Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Bagian Keuangan setiap awal bulan berikutnya atas Uang Pungut pada bulan yang telah berjalan. (2) Pemberian upah pungut yang telah dibayarkan oleh Bagian Keuangan dimaksud pada ayat (1) pasal ini dilakukan oleh Kepala Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya. (3) Yang berhak mendapatkan pembagian upah pungut dimaksud selain aparatur Dinas Pendapatan kota Palangka Raya, juga setiap Dinas instansi/Unit Kerja yang membantu dalam melakukan pemungutan dari pihak-pihak lain yang terkait dan untuk itu akan diatur lebih lanjut oleh Keputusan Walikota. Pasal 4 Penggunaan Upah Pungut dimaksud pasal 2 ayat (2) tersebut adalah digunakan untuk meningkatkan kesejahteran dan semangat kerja para pegawai dalam rangka upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Palangka Raya. BAB IV KETENTUAN PENUTUP Pasal 5 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai Pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut sengan Keputusan Walikota. Pasal 6 (1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1980 tentang Pemberian Uang Perangsang kepada Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Dati II Palangka Raya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. (2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka semua Peraturan Daerah yang ada yang mengatur biaya operasional atau sejenisnya dalam rangka peningkatan kinerja Dinas, dihapus dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya

Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 25

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG PENERTIBAN DAN REHABILITASI TUNA SUSILA DALAM DAERAH KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa pelacuran suatu perbuatan yang bersifat asusila yang mutlak perlu segera mendapat perhatian dan penanggulangan yang serius; g. bahwa pelacuran dapat menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat; h. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah san Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 6 Tahun 1995 sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan di lapangan, sehingga perlu diganti; i. bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 23. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok kesejahteraan Sosial 24.Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3849); 25.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 165); 27.Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial Kota Palangka Raya (Lembaran Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2000 Nomor 23). Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG PENERTIBAN DAN REHABILITASI TUNA SUSILA DALAM DAERAH KOTA PALANGKA RAYA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 25. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 26. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 27. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 28. Dinas Teknis adalah Dinas Sosial Kota Palangka Raya 29. Instansi terkait adalah Kepolisian Resort Kota dan Dinas Kesehatan kota Palangka Raya 30. Pelacuran adalah suatu kegiatan dari setiap orang, baik pria, wanita maupun waria yang pada kenyataannya menyediakan diri secara khusus atau sebagai pekerjaan sampingan dalam melakukan perbuatan untuk pemuasan hawa nafsu seksual baik dengan imbalan maupun tanpa imbalan; 31. Mucikari/Germo adalah seseorang yang hidupnya seolah-olah dibiayai oleh pelacur, tempat tinggal bersma-sama dengan dia atau secara sendiri-sendiri yang dalam pelacuran menolong mencarikan langganan-langganan, dari hasil tersebut ia mendapat bagia. 32. Wanita Tuna Susila adalah wanita yang melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan uang/materi dan atau barang dan jasa; 33. Rehabilitasi adalah upaya-upaya yang terorganisir melalui usahausaha penyantunan, pemberian latihan dan pendidilan, pemulihan kemampuan, penyaluran kembali ke masyarakat, pengawasan maupun pembinaan lanjut sehingga wanita tuna susila kembali memiliki kemampuan untuk hidup secara layak dan wajar sesuai dengan harkat dan martabat manusia sebagai Warga Negara Indonesia; 34. Resosialisasi adalah segala upaya yang terorganisir dengan tujuan membaur kembali dalam lingkungan sosialnya baik pribadi, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat. BAB II PENERTIBAN Pasal 2 Setiap orang dan atau badab dilarang : a. Untuk melakukan kegiatan/usaha yang berkaitan dengan praktek pelacuran b. Mengajak orang atau siapapun untuk menjadi pelacur c. Melakukan perbutana tidak senonoh yang dapat mengarah pada perbuatan maksiat yang dilakukan secara terselubung atau terbuka,

baik dijalan-jalan atau ditempat manapun yang dapat menarik perhatian umum. d. Setiap orang atau badan usaha PNS, TNI dan POLRI dilarang memasuki te,pat lokasi rehabilitasi dan tempat yang terindikasi tempat pelacuran, kecuali dalam melaksanakan tugas kedinasan sesuai perintah atasan dari Dinas/Instansi yang bersangkutan. e. Setiap Pelajar/Mahasiswa dilarang memasuki lokasi rehabilitasi dan tempat-tempat yang terindikasi pelacuran, kecuali dalam rangka tugas penelitian atau research sesuai tugas yang diberikan oleh Kepala Dinas/Instansi/Bidang Pendidikan bersangkutan Pasal 3 a. Memiliki, mengusahakan atau membiayai suatu rumah pelacuran b. Dengan sadar/tidak atau langsung/tidak langsung menyewa atau menyediakan suatu bangunan untuk tempat pelacuran c. Menggunakan/memanfaatkan tempat untuk praktek pelacuran Pasal 4 Menindak barang siapa pada kenyataannya melakukan kegiatan praktek pelacuran diluar rehabilitasi. Pasal 5 (1) Bersama dengan instansi terkait lainnya, maka Pemerintah Kota dapat mengambil tindakan untuk melaksanakan operasi penertiban terhadap individu yang terindikasi berbuat/ akan berbuat tindak pelacuran. (2) Apabila dipandang perlu, dengan alasan dan pertimbangan tertentu, maka Pemerintah Kota berhak dan berwenang menutup tempat/lokalisasi yang terindikasi terjadinya pelacuran. BAB III REHABILITASI TUNA SUSILA Pasal 6 (1) Tempat/lokalisasi telah ditentukan dan diatur oleh Pemerintah Kota sebagai tempat/lokalisasi rehabilitasi yang berfungsi sebgai tempat dan bersifat sementara dan merupakan proses sosialisasi untuk rehabilitasi dan resosialisasi. (2) Sementara proses sosialisasi untuk rehabilitasi dan resosialisasi seperti dimaksud ayat (1) pasal ini, maka setiap orang yang terlibat dalam proses rehabilitasi dan resosialisasi tepat berada dalam pengawasan petugas/pejabat yang berwenang. Pasal 7 Setiap mucikari dan tuna susila di lokalisasi rehabilitasi, yang pindah daerah atau meninggal dunia atau oleh sebab-sebab lain, wajib melaporkan diri kepada Dinas Sosial Kota Palangka Raya melalui Lurah setempat untuk diidentifikasi. Pasal 8 (1) Bagi Tuna Susila wajib memeriksa Kesehatannya minimal 1 (satu) kali seminggu.

(2) Bagi Tuna Susila yang ternyata tidak sehat mengidap penyakit menular diharapkan untuk segera melakukan pengobatan secara intensif. BAB IV PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN Pasal 9 Maksud tindak kekerasan Pasal 9 adalah : 1. Kekerasan Fisik kekerasan yang menyebabkan cidera, luka, memar atau cacat pada tubuh seseorang atau menyebabkan kematian. 2. Kekerasan Psikiologis, adalah segala perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya percaya diri dan kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak percaya pada jiwa seseorang. 3. Kekerasan Seksual, perbuatan yang menyangkut pelecehan seksual tanpa persetujuan atau korban tidak menghendaki atau melakukan hubungan seksual yang tidak disukai korban atau mengisolasi kebutuhan seksualnya. BAB V KARTU IDENTITAS Pasal 11 (1) Setiap orang yang terlibat dalam rehabilitasi berstatus sebagai warga tidak menetap dan karenanya harus memiliki kartu identitas khusus dari Walikota Up. Dinas Sosial Kota Palangka Raya. (2) Kartu Identitas seperti ayat (1) pasal ini, terdiri dari : a.Surat Keterangan untuk Mucikari b. Surat keterangan untuk Tuna Susila (3) Untuk memperoleh Kartu Identitas harus dilengkapi dengan syarat : a.Bukti Laporan Diri dari Lurah diketahui oleh Camat b. Keterangan Kesehatan/Bebas Penyakit Menular c.Pas Foto ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 lembar (4) Diluar Kartu Identitas yang dikelurakan oleh Walikota Up. Dinas Sosial Kota Palangka Raya dilarang menerbitkan Kartu Identitas lain Pasal 12 Bentuk, warna, ukuran, isi/cara pengisian dan alat pengamanan lainnya dari Kartu Identitas ditetapkan oleh Walikota. Pasal 13 (1) Untuk Kartu identitas diberikan dan ditandatangani oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dari Dinas Teknis. (2) Kartu Identitas berlaku untuk jangka waktu 6 (enam) bulan. (3) Setelah berakhir masa berlakunya, yang bersangkutan wajib mendaftarkan kembali dan kepadanya diberikan kartu identitas baru yang berlaku untuk masa 6 (enam) bulan berikutnya. (4) Kartu identitas yang rusak atau hilang agar dilaporkan kepada petugas untuk diganti dengan yang baru. Pasal 14 Bagi Mucikari dan Tuna Susila yang sudah ada diwajibkan untuk :

a. Selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak menjadi Mucikari dan Tuna Susila harus memiliki Kartu Identitas b. Selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak habis masa berlakunya, harus minta Kartu identitas yang baru. Pasal 15 (1) Kepada setiap Mucikari dan Tuna Susila dipungut biaya sebagai berikut a.Untuk memperoleh Kartu Keterangan Mucikari sebesar Rp. 50.000,(Lima Puluh Ribu Rupiah). b. Untuk memperoleh Kartu Keterangan Tuna Susila Rp. 15.000,(Lima Belas Ribu Rupiah) (2) Biaya yang dimaksud Pasal 15 ayat (1) diatas disetorkan kepada Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya melalui Dinas Sosial Palangka Raya. (3) Pemungutan biaya untuk memperoleh Kartu Identitas tersebut digunakan sepenuhnya untuk pembuatan kartu identitas dan untuk menunjang dana Rehabilitasi bagi WTS di lokalisasi. (4) Perincian biaya dan penggunaannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota. BAB VI KETENTUAN PIDANA Pasal 16 (1) Pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini dihukum dengan pidana Kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggitingginya Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). (2) Tindak pidana dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran. BAB VII PENYIDIKAN Pasal 17 Selain oleh penyidik umum, penyidik atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini, dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota palangka Raya yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan Peraturan PerundangUndangan yang berlaku. Pasal 18 (1) Dalam melaksanakan tugas penyidik, para pejabat sebagaimana dimaksud pada Pasal 17 Peraturan Daerah ini berwenang : a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan pemeriksaan. c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa pengenal diri tersangka. d. Melakukan penyitaan benda atau surat e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang f. Memanggil orang atau diperiksa sebagai tersangka saksi g. Mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui

penyidik memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum, tersangka dan keluarganya. (2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil membuat berita acara setiap tindakan tentang : a. Pemeriksaan tersangka b. Pemasukan rumah c. Penyitaan benda d. Pemeriksaan surat e. Pemeriksaan saksi f. Pemeriksaan ditempat kejadian dan mengirimkannya kepada Kejaksaan Negeri dengan tembusan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 19 (1) hal-hal yang belum diatur dalam Perautan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya ditetapkan lebih lanjut oleh Walikota. (2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka semua Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 6 Tahun 1995 tentang Pemberantasan dan Penerbitan Pelacuran dalam Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Palangka Raya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi Pasal 20 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 19 November 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 26

WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 27 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI ATAS IZIN PERUBAHAN FUNGSI PERUMAHAN DAN RUMAH SEWA DI KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan daerah dan sebagai upaya ekstensifikasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah, guna menunjang pembiayaan pembangunan sekaligus melaksanakan fungsi rumah mengatur dan menertibkan semua rumah dan alih fungsi sebagai tempat usaha, yang berada dalam wilayah Kota Palangka Raya perlu dipungut retribusi. j. Bahwa untuk Pemungutan Retribusi sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 28. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 29.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 30.Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 31.Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3952); 32.Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202);

33.Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119); 34.Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 11 Tahun 1994 tentang cara menjalankan Tagihan dan Retribusi Daerah dengan Surat paksa. 35.Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 26 Tahun 2000 tentang pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja DInas Pendapatan Kota Palangka Raya Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TENTANG RETRIBUSI ATAS IZIN PERUBAHAN FUNGSI PERUMAHAN DAN RUMAH SEWA DI KOTA PALANGKA RAYA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 35. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 36. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 37. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 38. Pejabat adalah Pegawai yang diberikan tugas tertentu dibidang PErpajakan Daerah atau Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku; 39. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komoditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama atau bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi koperasi, yayasan atau organisasi sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk usaha lainnya; 40. Retribusi Ijin Peruntukan Rumah Sewa dan Alih Fungsi Rumah Tempat Tinggal dijadikan Tampat usaha adalah Rumah yang memang diperuntukkan sebagai rumah sewa (kost) dan rumah yang berfungsi sebagai rumah yang seharusnya berfungsi sebagai rumah tempat tinggal dialihkan fungsinya sebagai rumah tempat usaha dan rumah tempat kost; 41. Wajib retribusi adalah badan usaha, penyedot kakus swasta dan orang pribadi yang menurut peraturan perundang-undangan diwajibkan

untuk melakukan pembayaran retribusi atas jasa yang diberikan Pemerintah Daerah; 42. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang; 43. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah Surat untuk melakukan Tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda; 44. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKRDKBT adalah Surat Ketetapan Retribusiyang menentukan Tambahan atas jumlah Retribusi yang telah ditetapkan. BAB II NAMA OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI Pasal 2 Dengan nama Retribusi atas Perubahan Fungsi PEumahan dan Rumah Sewa dipungut retribusi atas pemberian pelayanan oleh Pemerintah Kota. Pasal 3 (1)Objek Retribusi adalah Pemberian Pelayanan atas Ijin Perubahan Fungsi Perumahan dan rumah Sewa dalam wilayah Kota (2)Subyek Retribusi adalah Orang Pribadi dan atau Badan yang memperoleh fasilitas ijin yang diberikan oleh Pemerintah Kota. Pasal 4 Wajib Retribusi adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran atas pelayanan pemberian izin yang diberikan oleh Pemerintah Kota. BAB III GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5 Retribusi Pemberian Pelayanan atas Ijin Perubahan Fungsi Perumahan dan Rumah Sewa dan Rumah Sewa dalam Wilayah Kota Palangka Raya, golongan sebagai Retribusi Jasa Umum BAB IV TATA CARA PEMBERIAN IZIN Pasal 6 (1)Untuk memperoleh Izin Perubahan Fungsi Perumahan dan Rumah Sewa, pemohon mengajukan Permohonan secara tertulis kepada Walikota melalui Dinas Tata Kota Palangka Raya (2)Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dilengkapi dengan syarat-syarat : a. Surat Permohonan b. Surat Ijin Mendirikan Bangunan c. Fotocopy KTP Pemohon d. Surat Keterangandari RT/RW, Lurah dan diketahui oleh Camat

e. Tanda Lunas Pembayaran PBB sampai dengan tahun berjalan. f. Pasfoto Pasal 7 Apabila persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh pemohon sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (2) Peraturan Daerah ini ternyata tidak benar maka, Surat Izin yang telah diterbitkan oleh Walikota Batal dengan sendirinya. BAB V MASA BERLAKU IZIN Pasal 8 (1) Jangka waktu berlakunya Ijin Peruntukan Penggunaan Rumah Sewa/Rumah Kost ditetapkan hanya 1 (satu) kali pemberian Izin (berlaku selama-lamanya). (2) Jangka Waktu berlakunya Izin untuk Alih Fungsi Rumah Tempat Tinggal dijadikan Tempat Usaha ditetapkan 3 (tiga) tahun. (3) Terhadap Izin Peruntukan Penggunaan Rumah Sewa (rumah kost) dimaksud Pasal 8 ayat (1) dilakukan pendaftaran ulang (herregistrasi) setiap 1 tahun sekali. (4) Terhadap Izin Alih Fungsi Rumah tempat tinggal dijadikan tempat usaha sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat (2) dilakukan pendaftaran ulang (herregistrasi) setiap 1 tahun sekali. (5) Daftar Ulang (Herregistrasi) dimaksud ayat (3) dan ayat (4) pasal ini, harus sudah diajukan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) minggu sebelum jatuh tempo. Pasal 9 Bilamana pemegang Izin Perubahan Fungsi PErumahan dan Rumah Sewa menghentikan usahanya, yang bersangkutan wajib memberitahukan dan mengembalikan izin dimaksud kepada Walikota. BAB VI CARA MENGHITUNG TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 10 (1)Prinsip Dasar pengenaan Tarif Retribusi Perubahan Fungsi Perumahan dan Rumah Sewa adalah didasarkan pada Biaya atas Pemberian Pelayanan Izin Perubahan Fungsi Perumahan dan Rumah Sewa. (2)Biaya Izin sebagaimana dimaksud ayat (1) diatas, terdiri dari Biaya Pencetakan Blanko Izin, Biaya Penyusutan Peralatan Biaya Transportasi dalam rangka pengawasan dan pengendalian di lapangan. BAB VII STRUKTUR BESARNYA TARIF Pasal 11 Struktur besarnya Tarif Retribusi atas Rumah Sewa dan Alih Fungsi Rumah Tempat tinggal dijadikan Tempat Usaha adalah sebagai berikut : 1. Pemberian Ijin Khusus untuk Rumah Sewa (Rumah Kost) ditetapkan menurut klasifikasi : - Bangunan Permanen Rp. 350.000,- Bangunan Semi Permanen Rp. 250.000,-

2. Alih Fungsi Perumahan Tempat Tinggal dijadikan Tempat Usaha ditetapkan sesuai kelompok usaha sebagai berikut : 2.1. Untuk dijadikan Kantor Perusahaan yang bernadan Hukum/Non Badan Hukum : a. Perusahaan Besar (PT) sebesar Rp. 350.000,- per tahun b. Perusahaan Menengah (CV, Firma Distributor, Agen) Rp. 150.000,- per tahun c. Perusahaan Kecil (UD, Koperasi, Yayasan, Toko, Warung) Rp. 50.000,- per tahun 2.2. Untuk dijadikan Kantor/Tempat Industri : a. Industri Besar, Pabrik dan sejenisnya Rp. 250.000,- per tahun b. Industri Menengah (Percetakan, Penggilingan Padi, Pembuatan Makanan/Minuman, Kerajinan/Pertenunan dan sejenisnya Rp. 150.000,- per tahun 2.3. Untuk Dijadikan Tempat Pelayanan yang berkaitan dengan Jasa : a. Jasa Besar (Hotel, Restoran, Tempat Hiburan, Tempat Olah raga yang bersifat Komersial, Perdagangan, Laboratorium, Apotik, RUmah Sakit, Agen Penerbangan. Agen Perjalanan Rp. 250.000,- per tahun b. Jasa Menengah (Penginapan/Losmen, Wartel, Toko Swalayan, Service) Rp. 15.000,- per tahun c. Jasa Kecil (Panti Pijat, Salon KEcantikan, Rumah Sewa/Asrama, tempat kursus) Rp. 50.000,- per tahun Pasal 12 (1) Biaya heregistrasi untuk Izin Rumah Sewa (Rumah Kost) untuk setiap 3 (tiga) tahun sekali ditetapkan sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah). (2) Biaya heregistrasi untuk Izin Rumah Tempat Tinggal dijadikan Tempat Usaha setiap tahun sebesar Rp. 25.000,BAB XI TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 13 (1) Hasil Pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud Pasal 11 dan Pasal 12 seluruhnya disetor ke Kas Daerah dalam waktu 1 x 24 jam. (2) Pembayaran Retribusi terutang harus dilunasi sekaligus melalui bendaharawan khusus penerima Dinas Pendapatan Kota Palangka Raya BAB XII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 14 Dalam hal wajib retribusi tidak membayar dan atau kurang membayar setelah 15 (lima belas) hari terhitung dari tanggal Surat Ketetapan retribusi (SKRD) dikeluarkan/diterbitkan dikenakan sanksi denda

administrasi berupa bunga 2 % (dua persen) dari total ketetapan yang harus dibayar. BAB XIII KETENTUAN LARANGAN Pasal 15 (1) Setiap orang atau benda dilarang untuk merubah Fungsi PErumahan dan Rumah Sewa tanpa se-izin Walikota. (2) Setiap Orang atau Badan dilarang mengalihkan Rumah yang telah dirubah fungsinya kepada Pihak Lain tanpa Persetujuan/Izin Walikota BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 16 Bagi setiap Pemilik Rumah Sewa (Rumah Kost) yang sudah membangun sebelum Peraturan Daerah ini, diwajibkan memiliki/mengurus Ijin Peruntukan Penggunaan Rumah Sewa (Rumah Kost) dan setiap pemegang Izin Tempat usaha setelah berlakunya PEraturan daerah ini wajib memenuinya. BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 17 (1) Barang siapa dengan sengaja ataupun karena kelalaiannya melanggar Ketentuan PEraturan daerah ini, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan dan denda setinggitingginya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah); (2) Tindak pidana seperti tersebut pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB XIII PENYIDIKAN Pasal 18 (1) Selain pejabat penyidik Polri yang bertugas menyelidiki tindak pidana, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan daerah ini dapat juga dilakukan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan Pemerintah (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Menerima Laporan atau pengaduan adanya tindak Pidana b. Melakukan tindak pidana pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan pemeriksaan c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka d. Melakukan penyitaan benda atau surat e. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka f. Mendatangkan seorang ahli dalam hubungan dengan pemeriksaan perkara g. Mengadakan penghentian penyidikan setalah mendapat petunjuk dari penyelidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindakan pidana dan selanjutnya melalui penyidik memberit