KOLOID (Autosaved)

download KOLOID (Autosaved)

of 29

  • date post

    07-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    25
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KOLOID (Autosaved)

KOLOID

KOLOIDA. PENGERTIANNama koloid diberikan oleh Thomas Graham pada tahun (1805-1809).Istilah itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu kolla yang berarti lem dan oid yang berarti seperti. Koloid dikaitkan dengan lem karena sifat difusinya, koloid mempunyai sifat difusi yang rendah seperti lem. Koloid mempunyai sifat difusi yang rendah karena partikelnya berukuran lebih besar dari pada molekul, yaitu berukuran maksimum 1 mikrometer, tetapi tidak mengendap. Jadi, koloid adalah suau bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Larutan koloid biasanya tidak jernih, tetapi translusen. Hal ini disebabakan oleh efek Tyndall. Partikel koloid dapat dipisahkan dari molekul lainnya dengan cara dialysis menggunakan membran semipermeabel.Perbedaan antara larutan, koloid dan suspensi.

Larutan / kristaloid

(disperse molekuler)Koloid

(disperse koloid)Suspensi

(disperse kasar)

Contoh: larutan gula

Larutan garamContoh: sussu

tinta

Contoh : campuran terigu dengan air

Lumpur

1. bersifat homogen, tidak dapat dipisahkan walaupun menggunakan mikroskop ultra.

2. diamerter partikel < 1 nm

3. satu fase

4. tidak dapat disaring, baik melalui penyaringan biasa, membran, maupun ultra.

5. stabil

1. secara makroskopis bersifat homogen tetapi bersifat heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra.

2. diameter partikel1 nm 100 nm

3. dua fase

4. tidak dapat disaring kecuali dengan penyaringan ultra.

5. pada umumnya stabil

1. bersifat heterogen

2. diameter partikel > 100 nm

3. dua fase

dapat disaring, baik melalui penyaringan biasa, membran maupun ultra

4. tidak stabil

B. DISPERSI KOLOID

Koloid dapat didefinisikan sebagai system heterogen, dimana suatu zat didispersikan ke dalam suatu media yang homogen dan terdiri dari dua fasa. Ukuran zat yang didispersikan berukuran dari satu nanaometer sampai satu micrometer.

Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi dan bersifat diskontinu (putus-putus). Sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Medium dispersi bersifat kontinu.Fasa yang terdispersi umumnya umumnya memiliki jumlah yang lebih kecil atau mirip dengan zat terlarut dan fasa pendispersi jumlahnya lebih besar atau mirip pelarut pada suatu larutan. Contoh, pada campuran susu dengan air tampak sebagai larutan homogen. Tetapi dengan mikroskop ultra, tampak butiran- butiran lemak di dalamnya. Dalam campuran susu dan air ini lemak merupakan fase terdispersi dan air merupakan medium dispersinya.C. JENIS-JENIS KOLOIDKoloid dapat digolongkan berdasarkan bentuk partikelnya, cara pembentukanya, interaksi antara kedua fasa dan perubahannya menjadi bukan koloid.

Penggolongan koloid berdasarkan interaksi kedua fasa yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi ada 8 macam. Fasa terdispersi maupun fasa pendispersi dapat berupa gas, cair atau padat.

NoFase terdispersiFase pendispersiNamaContoh

1.Padat GasAerosolAsap, debu di udara

2.PadatCairSolSol emas, sol belerang, sol Fe(OH)3, Sol Al(OH)3, sol arpus (dammar), tinta, cat, agar-agar, pektin, gelatin, air sungai,gel kalsium asetat di dalam alkohol

3.PadatPadatSol padatKaca berwarna, paduan logam, intan hitam

4.CairGas AerosolKabut, awan, hairspray, obat nyamuk semprot, parfum, cat semprot

5.CairCairEmulsiSusu, santan, minyak ikan, krim, mayonnaise, lotion

6.CairPadatEmulsi padatJelly, mutiara, mentega, keju

7.GasCair BuihBuih sabun, krim kocok,

8.GasPadat Buih padatKaret busa, batu apung, stirofoam,

C.1. koloid fase padat-gas (aerosol padat)Sistem koloid fase padat-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa padat dan fase pendispersi berupa gas.

Contoh system koloid fase padat-gas yaitu asap. Asap merupakan partikel padat yang terdispersi di dalam medium pendispersi berupa gas (udara). Partikel padat di udara disebut partikulat padat. System disperse zat padat dalam medium pendispersi gas disebut aerosol padat

C.2. koloid fase padat-cair (sol)

Koloid fase padat-cair disebut sol. Sol terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa cairan. Sol yang memadat disebut gel. Berikut contoh-contoh sistem koloid fase padat cair.a. Agar-agar

Padatan agar-agar yang terdispersi di dalam air panas akan menghasilkan system koloid yang disebut sol. Jika konsentrasi agar-agar rendah, pada keadaan dingin sol ini akan tetap berwujud cair. Sebaliknya, jika konsentrasi agar-agar tinggi pada keadaan dingin sol menjadi padat dan kaku. Keadaan seperti ini disebut gel.

b. Pektin

Pektin adalah tepung yang diperoleh dari buah papaya muda, apel, dan kulit jeruk. Jika pektin didispersikan didalam air, terbentuk suatu sol yang kemudian memadat sehingga membentuk gel. Pektin biasa digunakan untuk membuat selai.

c. Gelatin

Gelatin adalah tepung yang diperoleh dari hasil rebusan kulit atau kaki binatang, misalnya sapi. Jika gelatin didispersikan di dalam air, terbentuk suatu sol yang kemudian memadat dan membentuk gel. Gelatin banyak digunakan untuk pembuatan cangkang kapsul. Agar-agar, pektin dan gelatin juga digunakan untuk pembuatan makanan, seperti jelly atau permen yang kenyal (gummy candies)

d. Kanji

Tepung kanji yang dilarutkan di dalam air dingin akan membentuk suatu suspensi. Jika suspensi dipanaskan akan akan terbentuk sol, dan jika konsentrasi tepung kanji cukup tinggi, sol tersebut akan memadat dan membentuk gel. Gel terbentuk karena fase terdispersi menyerap medium pendispersi sehingga fase terdispersi mengembang, memadat, dan menjadi kaku.

C.3. koloid fase padat-padat (sol padat)

Sistem koloid fase padat-padat terbentuk dari fase terdispersi dan fase pendispersi yang sama-sama bewujud zat padat sehingga dikenal dengan nama sol padat.

Contoh system koloid fase paddat-padat adalah logam campuran (aloi), misalnya stainless steel yang terbentuk dari campuran logam besi, kromium, dan nikel. Contoh lainnya yaitu kaca berwarna dimana dalam hal ini zat warna terdispersi di dalam medium zat padat (kaca).

C.4. koloid fase cair-gas (aerosol)Koloid fase cair-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa gas, yang disebut aerosol.Partikel-partikel zat cair yang terdispersi di udara (gas) disebut partikulat cair.

Contoh koloid fase cair-gas yaitu kabut dan awan. Contoh lainnya yaitu hairspray, obat nyamuk semprot, parfum,cat semprot. Pada produk-produk tersebut menggunakan zat pendorong (propellant) berupa senyawa klorofluorokarbon (CFC). C.5. koloid fase cair-cair (emulsi)koloid fase cair-cair terbentuk dari fase terdispersinberupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat cair pula. Campuran yang terbentuk bukan berupa larutan, melainkan bersifat heterogen. Misalnya campuran antara minyak dan air. Air bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat nonpolar. Untuk dapat mendamaikan air dan minyak, harus ada zat penghubung antara keduanya. Zat penghubung ini harus memiliki gugus polar (gugus yang dapat larut dalam air) dan juga harus memiliki gugus nonpolar (gugus yang dapat larut dalam minyak). Bagian non-polar akan berinteraksi dengan minyak/ mengelilingi partikel-partikel minyak, sedangkan bagian yang polar akan berinteraksi kuat dengan air. Apabila bagian polar ini terionisasi menjadi bermuatan negatif, maka pertikel-partikel minyak juga akan bermuatan negatif. Muatan tersebut akan mengakibatkan pertikel-partikel minyak saling tolak-menolak dan tidak akan bergabung, sehingga emulsi menjadi stabil.

Air

zat penghubung

minyakSistem koloid cair-cair disebut emulsi. Zat penghubung yang menyebabkan pembentukan emulsi disebut elmugator (pembentuk emulsi). Tidak ada emulsi tanpa emulgator.Contoh zat emulgator, yaitu sabun, deterjen, dan lesitin.

Minyak dan air dapat bercampur jika ditambahkan emulgator berupa sabun dan deterjen. Oleh karena itu, untuk menghilangkan minyak yang menempel pada tangan atau pakaian digunakan sabun atau diterjen yang kemudian dibilas dengan air. Emulsi itu sendiri dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu; 1.Emulsi minyak dalam air contoh: susu yang terdiri dari lemak yang terdispersi dalam air,jadi butiran minyak di dalam air.

2.Emulsi air dalam minyak Contoh: margarine yang terdiri dari air yang terdispersi dalam minyak, jadi butiran air dalam minyak.Beberapa sifat emulsi yang penting:

- Demulsifikasi

Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan, proses sentrifugasi, pendinginan, penambahan elektrolit, dan perusakan zat pengemulsi. Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses ini. Pembentukan krim dapat terjadi pada emulsi minyak dalam air,yaitu apabila kestabilan emulsi ini rusak,maka pertikel-partikel minyak akan naik ke atas membentuk krim. Sedangkan sedimentasi dapat terjadi pada emulsi air dalam minyak, yaitu apabila kestabilan emulsi ini rusak, maka partikel-partikel air akan turun ke bawah. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses demulsifikasi dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang dilakukan dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH).

- PengenceranDengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya, emulsi dapat diencerkan. Sebaliknya, fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan spontan membentuk lapisan terpisah. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis emulsi.

Contoh emulsi yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari yaitu susu, air santan, krim, dan lotion. Susu murni (dalam bentuk cair) merupakan contoh emulsi alami karena di dalam susu murni telah terdapat emulgator alami,yaitu kasein. Di dalam industri makana