KHUSUS UNTUK ANGGOTA - Ginsi .diantaranya untuk produk jagung dan kedelai sebagai pakan ternak,...

download KHUSUS UNTUK ANGGOTA - Ginsi .diantaranya untuk produk jagung dan kedelai sebagai pakan ternak, kebijakan

of 20

  • date post

    03-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KHUSUS UNTUK ANGGOTA - Ginsi .diantaranya untuk produk jagung dan kedelai sebagai pakan ternak,...

Buletin GINSI Jateng 1

Edisi Juni 2016

KHUSUS UNTUK ANGGOTA

BULETIN

JATENG GINSI JUNI 2016

NOMOR : 878 TAHUN KE - XXXVIII

DAFTAR ISI Presiden Jokowi Kecewa, Data Statistik yang Disuguhkan K/L Selalu Berbeda 2 Lagi-lagi Impor Pangan Menjadi Persoalan . 3 Paket Kebijakan Ekonomi Ke-XII : Beri Kemudahan Untuk Berusaha 5 Pelabuhan Ternak Bojonegoro Akan Dibangun Australia ... 7 Cadangan Devisa Meningkat Kembali . 8 Deregulasi : Yang Paling Banyak Dibenahi Peraturan Perdagangan 9 KPPU : Kartel di Indonesia Kejahatan Luar Biasa 11 Perum Bulog Ditunjuk sebagai Importir Jagung .. 12 Impor Barang Komplementer Harus Memiliki Rekomendasi .. 14 Tata Laksana Pusat Logistik Berikat 15 GINSI : Indonesia Saatnya Memiliki Single Risk Management . 18 Tepis Kritik, Menteri Susi Sebut Tren Impor Ikan Menukik .. 19 BPS Ingatkan Pemerintah Waspadai Ancaman Barang Impor Thailand .. 20

*** dihimpun dari berbagai sumber

Edisi Juni 2016 : 878 TAHUN KE - XXXVIII

Buletin GINSI Jateng 2

Edisi Juni 2016

Presiden Jokowi Kecewa, Data Statistik yang Disuguhkan K/L Selalu Berbeda

residen Joko Widodo (jokowi) mengungkapkan kekecewaanya karena data yang disuguhkan oleh

berbagai Kementerian/Lembaga (K/L) cenderung berbeda-beda. Padahal data sangat penting dalam mengambil keputusan. Dari sejak masuk istana sampai sekarang kalau saya ingin misalnya data kemiskinan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ada, Kementerian Sosial (Kemensos) ada, Badan Pusat Statisik (BPS) ada. Datanya? Berbeda-beda, ujar Jokowi, saat pencanangan sensus ekonomi 2016 di Jakarta (26/4).

Presiden mencotohkan saat pmerintah harus menentukan kebijakan impor beras beberapa waktu lalu. Saat itu Presiden menerima laporan yang berbeda mengenai produksi beras. Data produksi dan kebutuhan beras. Tiga data yang dipergunakan, pertama Kementan, kedua data Kemendag, dan ketiga data BPS. Ketiga data instansi tersebut juga tidak ada yang sama. Sehingga menyulitkan pengambilan keputusan terkait dengan impor beras. Sementara masyarakat menunggu keputusan, agar harga bisa kembali stabil.

Bagaimana saya memutuskan tidak impor beras kalau disodori data beda-beda? Ini harus diakhiri. Kemudian ditekankan Presiden, kementerian untuk tidak lagi berorientasi pada proyek pencarian data. Kementerian ini ada proyek cari data, kementerian ini ada proyek cari informasi. Enggak, stop ! Stop! Stop ! Sekarang kita pakai satu data. Diakui

Mengenai hal itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui terdapatnya perbedaan data, karena setiap instansi dilandasi kepentingan berbeda. Harusnya data di kementerian disatukan dengan data BPS baik itu pertanian, perindustrian, perdagangan, maupun kemiskinan, sehingga keputusan menjadi akurat. Begitu pula Kepala Bidang Sarana Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Taufik Kusmono, juga mengakui mengenai perbedaan data produk pertanian yang sampai kini masih sering terjadi. Hal itu, tidak hanya terjadi pada lintas kementerian, tetapi juga di satu instansi. Taufik menyarankan, kedepannya hanya ada satu lembaga saja yang mengeluarkan data terkait hasil pertanian ini. Misalnya Badan Pusat Statisik (BPS). Kami mencoba ke arah sana, kata Taufk, dalam siaran pers (26/4).

Sebelumnya, tahun 2015 lalu, dalam suatu diskusi di Jakarta (25/4), Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Viva Yoga Mauladi juga menyoroti hal yang sama. Menurut dia, akurasi data itu penting, agar jangan sampai data itu menjadi polemik seperti saat ini. Data yang sekarang kan bernuanasa politis, jadi misalnya ada penurunan tidak diekspose. Saya kira BPS juga harus serius validasi data itu, ujar Viva.

--- (Sumber : Warta Ginsi Edisi Mei 2016 Nomor 3465/V) ---

P

Buletin GINSI Jateng 3

Edisi Juni 2016

Lagi-lagi Impor Pangan Menjadi Persoalan

Menjelang berakhir tahun 2015, Menko Perekonomian menyatakan, untuk mengantisipasi tingginya inflasi terutama volatile food, pemerintah berencana mengimpor sejumlah komoditas pangan tahun 2016 agar ketersediaannya terjaga. Penundaan musim tanam akibat kemarau yang berkepanjangan, membuat pasokan dan harga sejumlah komoditas bergejolak (31/12).

Namun yang terjadi, kebijakan impor yang dilempar pemerintah sering kali justru salah arah karena disusupi nuansa politik. Kebijakan yang penuh celah itu, menurut Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategis and Internasional Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri, berdampak pada ketidakberesan sektor pangan nasional.

Karena tekanan berbagai pihak, pemerintah kerap menganggap dalam situasi apapun impor pangan adalah haram. Karena itu, mereka menganggap sukses ketika mampu menyetop impor. Padahal ada alasan pemerintah yang tidak sepenuhnya benar, ujar Yose dalam diskusi di Jakarta (4/5).

Ia mencontohkan situasi saat ini, pemerintah sering kali beranggapan harga komoditas pangan di pasar global terus meningkat dan berfluktuatif. Karena itu, pemerintah memutuskan stop impor. Namun, kenyataannya menurut Yose, harga berbagai komoditas pokok, seperti beras, jagung, dan gandum di pasar global justru mengalami penurunan. Hal itu sudah terjadi dalam lima tahun terakhir. Jadi sebetulnya tidak

benar kalau pemerintah menggunakan alasan itu untuk membatasi impor.

Selain itu, pemerintah acap kali beranggapan, impor pangan sama saja menyengsarakan petani. Namun, Yose melihat belum pernah terjadi fenomena penyetopan keran impor beras membuat petani lebih sejahtera.

Kemudian dirujuk Yose pada harga-harga penjualan beras di pasar yang cenderung terus merangkak naik. Kenaikan harga beras itu, seharusnya berimbas pada kenaikan pendapatan para petani. Namun, harga di konsumen dan pedagang makin tinggi, tetapi tidak menguntungkan petani. Sistem Kuota

Yose tidak sepakat dengan penerapan sistem pembatasan impor melalui kuota, diantaranya untuk produk jagung dan kedelai sebagai pakan ternak, kebijakan itu sangat rawan dengan terbentuknya praktik rente ekonomi.

Jika disparitas harga dalam negeri dan di internasioanal makin lebar, peluang terjadi kartel makin kuat, ujar Ketua Yose melalui keterangan tertulis.

Pemerintah Indonesia kerap kali mengatur urusan kebijakan pangan dengan pendekatan kebijakan perdagangan, lanjut Yose, salah satunya tercermin melalui pembatasan impor. Padahal, dengan sistem pembatasan, menurut dia, sering kali menimbulkan terjadinya perbedaan harga yang

Buletin GINSI Jateng 4

Edisi Juni 2016

tinggi. Kita perlu melihat lagi kebijakan pembatasan tersebut, apalagi dengan adanya evaluasi 6 bulan. Rasanya itu tidak responsif terhadap keadaan, katanya.

Akibatnya, munculah disparitas harga antara dalam dan luar negeri. Justru inilah yang membuat menjadi tidak efektif dan rawan terhadap rente ekonomi. Di sini bisa saja muncul konsesi-konsesi dan ini pernah terjadi pada kasus sapi 2014, katanya.

Yose juga menilai pembatasan melalui sistem kuota seperti yang dilakukan terhadap beras telah membuat harga beras berisiko naik hingga 25% pada 2020. Apabila pembatasan impor dihilangkan, harga beras pada saat itu berpotensi turun 14,47%. Tidak hanya itu, menurut penialain Yose, sentimen pemerintah pada impor juga tidak baik bagi keadaan ekonomi Indonesia. Pasalnya, pembatasan impor dalam perjanjian perdagangan internasional juga dilarang.

Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau perjanjian lain pembatasan atau pengaturan impor memang tidak diizinkan, katanya. Pembatasan atau pengaturan oleh pemerintah, dianggap tidak holistis dilakukan lantaran dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu dan tidak stabil. Jadi, pengaturannya ini saya lihat bermasalah, ujar dia. Tidak Diharamkan

Senada dengan Yose, analis bidang kemiskinan Bank Dunia Maria Monica Wihardja menilai, impor pangan sejatinya bisa menjadi alternatif untuk menstabilkan harga di tingkat

masyarakat. Ditegaskan Maria, impor bukan kebijakan yang diharamkan, karena pada kenyataannya, stok di lapangan tidak selalu sama dengan data yang dipaparkan pemerintah.

Dari sejarahnya, mungkin produksi beras kita bisa sampai 95% dari total konsumsi kita. Tapi 5% kita tidak bisa mencukupi, kecuali ada revolusi besar-besaran seperti pada tahun 1980, baru kita sampai pada swasembada. Tetapi impor juga harus direncanakan dari jauh hari, jangan sampai kejadian impor beras tahun lalu yang telat terulang lagi, ujar dia.

Sementara itu, Direktur Impor Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana menandaskan, pihaknya sudah memikirkan untuk membuat wacana penaikan tarif impor beberapa komoditas tertentu. Ditegaskannya, hal itu masih merupakan wacana awal yang harus diidentifikasi terlebih dahulu. Selain itu, kebijakan penaikan tarif impor juga harus bisa membuktikan kenaikan kesejahteraan para petani.

Kita memang punya pemikiran seperti itu. Tapi, belum kita lihat komoditas apa saja, dari negara mana saja, dan apakah cukup dengan tarif sampai 40%-50% menyejahterakan petani? ujar Wisnu. Apalagi, tandasnya, pemerintah kini sedang gencar membuka pakta perdagangan internasional yang bertujuan mempermudah jalur ekspor-impor di antara negara-negara anggota, termasuk menurunkan tarif impor. --- (Sumber : Warta Ginsi Edisi Mei 2016 Nomor 3465/V) ---

Buletin GINSI Jateng 5

Edisi Juni 2016

Paket Kebijakan Ekonomi Ke-XII : Beri Kemudahan Untuk Berusaha

Pemerintah kembali meluncurkan Paket

Kebijakan Ekonomi ke-XII yang sebagian besar isinya berupa pemangkasan sejumlah izin, prosedur, waktu dan biaya dengan tujuan untuk menaikkan peringkat kemudahan berusaha di Indonesia. Ini paket yang besar dan penting dengan cakupan yang luas, kata Menko Perekonomian Darmin Nasution di Istana Negara Jakarta (5/5).

Presi