Ketuban Pecah Dini Makalah

download Ketuban Pecah Dini Makalah

of 23

  • date post

    06-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    235
  • download

    0

Embed Size (px)

description

adh

Transcript of Ketuban Pecah Dini Makalah

KASUS

Identitas PasienNama Pasien: Ny SLUsia : 22 tahunAlamat : Kp JayaPendidikan : SMAPekerjaan: IRTNama Suami: Tn BAUsia Suami: 27 tahunAlamat: Kp Jaya Pekerjaan: SwastaAgama: IslamPendidikan: SMA No RM: 1185XXMasuk RS: 13 September 2015

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 13 September pukul 17.00 WIB

Keluhan UtamaKeluar cairan berwarna dari vagina sejak 16 jam SMRS (01.00 WIB).

Riwayat Penyakit Sekarang Seorang wanita G1P1A0 berusia 22 tahun dengan usia kehamilan 40 minggu atas rujukan bidan E keluar cairan dari vagina yang diyakini ketuban sejak 16 jam SMRS. Ketuban berwarna kuning keruh, bau (-), darah (-), demam (-). Ketuban yang keluar terus menerus namun sedikit-sedikit dan tidak dapat ditahan . Pasien juga merasakan sangat mulas 1 jam sebelum keluarnya ketuban. Mulas yang dirasakan semakin sering dan pasien merasa perutnya diputar dan merasa panas hingga ke pinggang. HPHT : 4 Desember 2014Riwayat Obstetri, Riwayat Haid, Riwayat Perkawinan, Riwayat Keluarga Berencana Pekerjaan dan Sosial Ekonomi Riwayat Obstetri : -Riwayat sosial: pasien seorang ibu rumah tangga, sehari sering melakukan aktivitas sedang, seperti mengurus kebersihan dan kerapihan rumah. Pasien tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak ada riwayat berbaganti-ganti pasangan. Riwayat menstruasi : menstruasi pertama saat usia 13 tahun, siklus 32 hari, teratur tiap bulan dan berlangsung 6-7 hari tiap bulannya. Dan tidak merasakan nyeri saat menstruasi. Riwayat pernikahan : pasien menikah 1 kali pada 10 Oktober 2014Riwayat KB : -

Riwayat Penyakit DahuluHipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, batuk lama disangkalAlergi (-), Penyakit pernapasan (-)

Riwayat Penyakit KeluargaHipertensi (+). Menderita hipertensi adalah Ayah pasien sejak 10 tahun yang lalu.

PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan tanggal 13 September 2015 di kamar bersalin RSU Harapan Depok. Kesadaran : compos mentisTekanan darah: 110/70 mmHg Nadi: 78 x/menit Suhu: 37.8 0CPernafasan: 20 x/menit DJJ : 142 x/mnt TFU : 30 cm HIS : 3 x dalam 10 menit. Kuat, sering dan teratur

Status GeneralisMata: konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterikParu: vesikuler +/+, tidak ada rhonki, tidak ada wheezingJantung: BJ I-II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallopAbdomen: buncit, kencang, striae gravidarum,situs memanjang, hati dan limpa tidak teraba, bunyi usus (+) normal, massa nyeri tekan (-).

Leopold I : TFU 30 cm, teraba lunak, bulat (bokong)Leopold II : Tahanan lebih besar pada kiri ibu (punggung kiri/Pu.ki)Leopold III : Teraba keras, bulat (kepala)Leopold IV : Kepala sudah masuk sebagian besar di PAP Ektremitas: akral hangat, edema (-) Payudara : Simetris, benjolan (-)

Status GinekologiInspeksi : vagina berwarna hitam keunguan dan tampak vulva yang menonjol. Benjolan (-)Inspekulo: tidak dilakukan Vaginal touch: pembukaan 5cm, portio tebal, lendir (+) berwarna hijau campur darah, nyeri (-)Pemeriksaan Penunjang Darah Hb13.613 16g/dlHt37%Lk : 40-48%Pr : 37-43%Leukosit17.7004000-10000/ lTrombosit184.000150000 350000/ lHemostasisBT4151-6 MenitCT8299-15Menit Urin : Protein (-)

Resume Ny SL G1P1A0, usia 22 tahun dengan usia kehamilan 40 minggu datang dengan rujukan Bd E karena pecah ketuban sejak 16 jam SMRS. Ketuban berwarna kuning keruh, keluar terus menerus namun sedikit-sedikit dan tidak dapat ditahan . Pasien juga merasakan sangat mulas 1 jam sebelum keluarnya ketuban. Mulas yang dirasakan semakin sering, pasien juga merasa perutnya diputar dan merasa panas hingga ke pinggang. HPHT : 4 Desember 2014. Pasien Seorang ibu rumah tangga, sehari-harii sering melakukan aktivitas sedang, seperti mengurus kebersihan dan kerapihan rumah. Riwayat menstruasi pertama saat usia 13 tahun, siklus 32 hari, teratur tiap bulan dan berlangsung 6-7 hari tiap bulannya. Ayah pasien menderita hipertensi kronik sejak 10 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis namun suhu pasien 37,8 C. DJJ 142 x/mnt, TFU 30 cm, HIS 3 x dalam 10 menit kuat, sering dan teratur. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan perut pasien tampak membuncit, terdapat sriae gravidarum, situs memanjang. Leopold I TFU 30 cm, teraba lunak, bulat (bokong), Leopold II tahanan lebih besar pada kiri ibu (punggung kiri/Pu.ki), Leopold III teraba keras, bulat (kepala), Leopold IV kepala sudah masuk sebagian besar di PAP. Pada status ginekologi pada inspeksi terlihat vagina berwarna hitam keunguan dan vulva menonjol. Pada pemeriksaan dalam didapatkan pembukaan 5cm, portio tebal, terdapat lendir berwarna hijau campur darah. Pemeriksaan penujang didapatkan leukositosis ringan yatu 17.700.

Rencana Terapi Guyur RL 2kolf Persiapan SC Observasi DJJ dan TTV

Bab IPendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif. Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup. Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru. (4) Protokol pengelolaan yang optimal harus memprtimbangkan 2 hal tersebut di atas dan faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD, tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun pada ibu.

Bab IITinjauan Pustaka

2.1 Amnion (Air Ketuban) Air ketuban atau amnion adalah cairan yang dihasilkan janin dan selaput yang mengelilinginya. Volume air ketuban akan terus bertambah dan mencapai puncaknya pada minggu ke 34 kehamilan. Jumlah akan relatif bertahan sampai usia kehamilan 37-40 minggu. Normalnya jumlah air ketuban adl 1-1.5 liter. Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, jumlah cairan ini terus meningkat. Normalnya, pada usia kehamilan 10 20 minggu, jumlah air ketuban sekitar 50 250 ml. Ketika memasuki minggu 30 40, jumlahnya mencapai 500 1500 ml. Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan kira - kira 1000 1500 cc. Air ketuban berwarna putih keruh, berbau amis, dan berasa manis. Reaksinya agak alkalis atau netral, dengan berat jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel - sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa, dan garam dan organik. Kadar protein kira kira 2,6 % g per liter, terutama albumin. Di jumpai lesitin dan sfingomielin dalam air ketuban amat berguna untuk mengetahui apakah paru paru janin sudah matang, sebab peningkatan kadar lesitin merupakan tanda bahwa permukaan paru paru (alveolus) diliputi oleh zat surfaktan. Cara penilaianya adalah dengan jalan menghitung rasio L/S. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau janin letak sungsang,maka akan kita jumpai warna air ketuban yang keruh kehijauan, karena telah bercampur dg mekonium Selama 9 bulan, janin 'berenang' dalam sebuah kantung setipis balon berisi cairan yang disebut air ketuban. Cairan ini berwarna putih, agak keruh, serta berbau agak amis. Adapun fungsi dari amnion sebagai berikut : Sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan. Melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin. Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara. Memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu sistim pencernaan janin, sistim otot dan tulang rangka, serta sistim pernapasan janin agar berkembang dengan baik. Menjadi inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin. Selaput ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi. Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka. Dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir. Pada saat kehamilan, air ketuban juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom. Kandungan lemak dalam air ketuban dapat menjadi penanda janin sudah matang atau lewat waktu.Cara mengenali apakah cairan yang terdapat di vagina adalah amnion atau tidak dapat menggunakan cara : Bau cairan ketuban yang khas.