ketuban pecah dini dan diabetes melitus gestasional

download ketuban pecah dini dan diabetes melitus gestasional

of 32

  • date post

    08-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    142
  • download

    5

Embed Size (px)

description

case

Transcript of ketuban pecah dini dan diabetes melitus gestasional

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas pimpinan dan tuntunanya penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus dengan judul Ketuban Pecah Dini & Diabetes Melitus Gestasional sebagai salah satu syarat dalam menjalani Kepaniteraan Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Melalui ini juga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Kol. Dr. Toto Imam S, SpOG, K.onk sebagai Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAD Gatot Soebroto 2. dr. Febriansyah Darus, SpOG sebagai ketua coordinator mahasiswa kepaniteraan obstetri dan ginekologi RSPAD Gatot Soebroto 3. dr. Sanny Santana, SpOG sebagai pembimbing dan moderator presentasi kasus penulis 4. Teman-teman kepaniteraan Obstetri & Ginekologi periode 21 maret 2011 28 mei 2011 Terimakasih atas semua bantuan, bimbingan dan masukan yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah presentasi kasus ini. Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga saran, kritik dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka. Semoga makalah ini dapat berguna tidak hanya bagi penulis tetapi juga bagi semuanya.

Jakarta, 26 April 2011

Martha Yuanita Loru

1

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan. Ketuban pecah dini sendiri dibagi menadi dua yaitu ketuban pecah dini preterm dimana selaput ketuban pecah sebelum usia 37minggu. Insidens KPD sendiri terjadi pada 8-10% pada kehamilan aterm dan pada kehamilan preterm terjadi pada 2-4% kehamilan tunggal dan 7-10% pada kehamilan kembar. Terjadinya KPD disebabkan oleh banyak factor baik secara internal maupun secara eksternal. Dari factor internal bisa berupa kelainan anomaly uterus, inkompetensi serviks, polihidramnion, kehamilan kembar, sedangkan dari factor eksternal bisa dipengaruhi oleh adanya infeksi pada ibu dan defisiensi vitamin C serta defisiensi seng. Komplikasi dari ketuban pecah dini dapat ditemukan baik pada ibu maupun pada janin. Komplikasi yang terjadi pada ibu bisa berupa infeksi intra uterine dan bahaya sepsis, peningkatan insidens bedah sesar dan juga endometrisis pasca persalinan. Komplikasi yang dapat terjadi pada janin adalah sindrom gawat napas akibat hipoplasia paru, deformitas skeletal dan perdarahan intraventrikel. Oleh karena insidens yang tinggi dan komplikasi yang berbahaya maka diagnosis yang tepat dan cepat pada keadaan ketuban pecah dini sangat diperlukan untuk dapat melakukan penatalaksanaan yang baik dan tepat sehingga baik mortalitas maupun morbiditas dari janin dan ibu dapat menurun. Disisi yang lain juga Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) merupakan suatu keadaan yang sering terjadi selama kehamilan dengan angka kejadian yang berkisar antara 3-5% dari semua kehamilan. DMG merupakan suatu keadaan dimana terjadi gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang terjadi atau pertama kali terdeteksi pada kehamilan. DMG merupakan suatu keadaan yang menjadi suatu kondisi yang harus di skrinning pada semua ibu hamil karena angka kesakitan pada ibu lebih tinggi dibandingkan populasi normal dan angka kesakitan dan perinatalnya meningkat. Mengingat akan bahaya tersebut maka DMG harus dideteksi sejak awal kehamilan dan memerlukan pengelolaan yang baik sehingga dapat memberikan hasil yang baik juga bagi ibu dan janin. Tujuan Penulisan 1. Mampu menganalisis kasus kehamilan dan persalinan serta menentukan ada tidaknya komplikasi dari ketuban pecah dini dan diabetes mellitus gestasional sehingga diharapkan mampu mendiagnosis secara dini baik gejala maupun tanda yang ada pada pasien. 2. Mampu mengetahui manajemen pada kehamilan dengan ketuban pecah dini preterm dan Diabetes mellitus Gestasional.

2

BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nomor CM Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat ANAMNESIS Autoanamnesis tanggal 26 Maret 2011 Pk. 13.00 WIB Keluhan utama : Keluar air-air sejak 4 jam SMRS Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan G3P0A2 Hamil 32 minggu. Pasien mengeluh keluar air-air dari kemaluannya sejak 4 jam yang lalu. Air-air yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau. Pasien mengaku tidak dapat menahan keluarnya air-air tersebut. Pasien mengaku sebelumnya mengalami keputihan dan sebelum keluar air-air pasien mengaku naik turun tangga sebanyak 4 kali di rumah untuk bersih-bersih rumah. Pasien menyangkal adanya perdarahan, demam. Kontraksi dirasakan pasien dan tidak teratur. HPHT: 17 Agustus 2010. Taksiran Partus (TP): 24 Mei 2011. Perangai Pasien : Kooperatif Riwayat Haid : o Menarche : Usia 11 tahun o Haid : Teratur o Siklus : 28 hari o Lama haid : 7 hari o Banyaknya haid : 3x ganti pembalut/hari o Nyeri haid : Tidak ada Riwayat KB : Menggunakan KB suntik 3 bulan. Sejak Mei 2010 tidak menggunakan KB lagi. Riwayat pernikahan : o Menikah usia 21 tahun dan sudah menikah selama 4 tahun. o Pernikahan pertama bagi pasangan suami dan istri. : 36.10.09 : Ny. Y : 25 tahun : SMK : Ibu Rumah Tangga : Kodam, Bekasi

3

Riwayat Obstetri : 1. Mei 2007, abortus usia 3 bulan, dikuret 2. Februari 2010, abortus usia 3 bulan, dikuret 3. Kehamilan ini Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis, asma, penyakit jantung dan alergi disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis, asma, penyakit jantung dan alergi disangkal. Catatan penting selama Asuhan Antenatal : Ibu dengan Diabetes Melitus Gestasional. Sudah dikonsul ke bagian gizi dan dianjurkan untuk diet 1900kkal/hari dan cukup serat. Riwayat keputihan (+).

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis o Keadaan umum o Kesadaran o Tinggi Badan o Berat Badan o IMT o Tekanan Darah o Nadi o Pernapasan o Mata o Jantung o Paru o Abdomen o Ekstremitas : Baik : Compos Mentis : 150 cm : 59 kg : 25,54 : 120/80 mmHg : 80x/menit, teratur : 20x/menit, teratur : Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/: Membuncit sesuai kehamilan : Akral hangat, udema (-)

Status Obstetrikus o Periksa Luar : TFU : 26 cm Punggung kanan (puka) Taksiran Berat Janin Klinis (TJBK) : 2015 gram Kontraksi : (+), reguler DJJ : 140 dpm, reguler o Inspekulo : Inspeksi : Vulva dan vagina tenang Portio licin, ostium terbuka 1 cm, flour albus (+), fluksus (-), valsava (+), tampak cairan mengalir dari ostium

4

o

o

Periksa Dalam : Portio kenyal, arah belakang, panjang: 3cm, pembukaan 1 cm, ketuban (-), kepala Hodge I Pelvimetrik Klinis: Promontorium tidak teraba Linea inomonata teraba - Dinding samping luas Saccrum konkaf Spina tajam D1 > 9,5cm AP > 90o Kesan: panggul normal sedang. Imbang Feto Pelvik (IFP): baik

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK 03/11/2010 USG Hasil pemeriksaan: o Janin tunggal hidup intra uterine o CRL 4,54 cm, sesuai dengan kehamilan 12 minggu 02/01/2011 USG Hasil pemeriksaan: o Janin : Janin tunggal hdup intra uterin o Placenta : Berimplantasi di korpus depan o Amnion : kesan relative cukup o Biometri : BPD 48 mm, HC 173 mm, AC 147mm, FL 32 mm, HL 32 mm, CD 20mm (sesuai hamil 19 minggu 1 hari) o Jantung : DJJ 152 dpm, regular. Gambaran 4 CV normal o Anomali : Saat ini tidak tampak anomali mayor o Doppler : Tidak dilakukan o Aktivitas : Baik Penilaian Saran : Janin tunggal hidup intrauterine dan biometri sesuai hamil 20 minggu : ANC teratur

14/03/2011 Lab kimia Jenis Pemeriksaan 27/12/2010 GTT Glukosa puasa Glukosa 2 jam 75 85

Hasil 14/03/2011 87 150

Nilai rujukan

5 maka dilakukan induksi dengan oksitosin. Dapat pula diberikan misoprostol 25g - 50g intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. Bila gagal maka dilakukan seksio sesarea. Pada kehamilan 37 minggu dan taksiran berat janin (TBJ) 2500gram, skor pelvic < 5, ICA 5, keadaan ibu dan janin kurang baik ( terdapat tanda-tanda infeksi intra partum, NST non-reaktif atau CST postif, terdapat indikasi obstetric) dan ketuban pecah 12 jam maka berikan antibiotic dosis tinggi dan kehamilan diakhiri dengan seksio sesarea.

Berdasarkan Standar Pelayanan Medik POGI, penatalaksanaan ketuban pecah dini bergantung pada usia gestasi saat terjadi KPD. Pada kehamilan > 35minggu prinsipnya adalah lahirkan janin dan berikan antibiotik sebagai profilaksis. Bila KPD terjadi pada usia gestasi 32 35 minggu tata laksananya adalah pemberian antibiotik, induksi pematangan paru dengan betametasone atau dexametasone 12 mg IV, tokolisis dan jika terdapat kompresi tali pusat atau plasenta sehingga air ketuban menjadi sedikit dilakukan amniofusi. Dilakukan ekspektatif bila paru telah matang. Pada kehamilan yang 28 minggu, tokolisis dan jika air ketuban sangat sedikit lakukan amniofusi. Sedapat mungkin kehamilan dipertahankan 33-35 minggu bila tidak ada infeksi. Tata laksana Ketuban Pecah Dini preterm berdasarkan Standar Pelayanan Medik RSPAD adalah Rawat inap segera. Perawatan diperlukan untuk evaluasi keadaan ibu dan janin serta perencanaan tatalaksana. Tujuan terapi pada KPDP adalah kuratif. Macam terapi yang diberikan adalah antibiotika berspektrum luas : eritromisin 4 x 250 mg selama 1 minggu (dapat diganti setelah ada hasil kultur dan uji kepekaan kuman), kortikosteroid : kalmethasin 12 mg IM sebanyak dua kali pemberian dengan interval 24 jam, tokolitik (bila ada kontraksi) : nifedipine 3 x 10 mg, vitamin C : 500 mg per hari per oral, tirah baring,dan cukup minum. Bila Ketuban pecah pada kehamilan < 37 minggu dan TBJ < 2500 gram. Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan uji lakmus, uji LEA, USG dan Non stressed Test (NST). Bila usia kehamilan < 28 minggu maka dilakukan Informed Consent mengenai prognosis janin yang ad malam. Bila usia kehamilan antara 28 37 minggu, nilai keadaan ibu dan janin. Bila keadaan ibu dan jani baik maka pilihan terapinya adalah konservatif dengan pemberian s