KESADARAN PENDUDUK MELAPORKAN PERISTIWA PENTING pemilih dibawah umur, pemilih pindah alamat, pemilih

download KESADARAN PENDUDUK MELAPORKAN PERISTIWA PENTING pemilih dibawah umur, pemilih pindah alamat, pemilih

of 14

  • date post

    01-Nov-2019
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of KESADARAN PENDUDUK MELAPORKAN PERISTIWA PENTING pemilih dibawah umur, pemilih pindah alamat, pemilih

  • 1 INOVASI dan PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN VOL.03 NO.01

    KESADARAN PENDUDUK MELAPORKAN PERISTIWA PENTING DAN

    PERISTIWA KEPENDUDUKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP DATA

    PEMILIH

    Sitti Aminah

    Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri

    Jalan Kramat Raya 132 – Jakarta Pusat E-mail: sittiaminah_bappedamu@yahoo.com

    ABSTRAK

    Permasalahan data pemilih menjadi isu krusial menjelang Pemilu 2014. Tujuan Kajian adalah

    mendeskripsikan penerapan regulasi kependudukan khususnya kewajiban melaporkan

    peristiwa penting, peristiwa kependudukan dan penerapan e-KTP yang berimplikasi untuk

    penetapan daftar pemilih. Pengumpulan data menggunakan metode Focus Group Discussion

    dalam dua tahap, tahap I melibatkan unsur pakar dan instansi pelaksana dan tahap II

    melibatkan unsur ketua RT dan perangkat di tingkat desa/kelurahan. Hasil kajian menunjukan

    bahwa (1) kesadaran penduduk melaporkan peristiwa penting dan peristiwa kependudukan

    tergolong rendah, karena faktor kondisi sosial-ekonomi, belum efektifnya sosialisasi dan

    mengurus dokumen kependudukan hanya ketika ada kepentingan yang berkaitan dengan

    kependudukan. Saran yang diajukan adalah: (1) Peningkatan kesadaran penduduk diiringi

    dengan pemberian kemudahan (insentif) terutama bagi penduduk dengan akses rendah karena

    status sosial ekonomi dan jarak yang jauh dari kantor desa/kelurahan/kecamatan. (2)

    Peningkatan peran RT/RW/Kepala Dusun dan Ketua Lingkungan diiringi dengan pemberian

    insentif bagi yang berprestasi dalam menertibkan administrasi kependudukan di

    lingkungannya.

    ABSTRAK

    Problems of voter data becomes a crucial issue ahaead 2014 election. Purpose of this study is

    to describe the application of population regulation and implementation of e-KTP which has

    implications for the determination of the voter list. Data collection using Focus Group

    Discussion method in two step, the first step involved the experts and implementing agencies,

    and then second step involved Head of RT and village officials. Result of this study indicate

    that (1) awareness of the population in reporting important events and demographic events

    was low, due to social-economic factor, the ineffectiveness of socialization dan make

    citizenship documents if only need be. The suggestion are: (1) The awareness increasing of

    the populization is accompanied with the provision of easy access especially those with lower

    social and economic status and remote access form the public services. (2) Increase the role of

    RT/RW/Village Head appreciated by incentive for the achievement in the discipline of

    population administration in his region.

    mailto:sittiaminah_bappedamu@yahoo.com

  • 2 INOVASI dan PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN VOL.03 NO.01

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Sistem pemilihan umum secara

    langsung adalah wujud demokrasi dalam

    pemerintahan di Indonesia.

    Penyelenggaraan pemilu telah berhasil

    melaksanakan pemilu legislatif, pemilu

    presiden dan wakil presiden secara

    langsung oleh rakyat. Sistem pemilihan

    langsung tersebut diyakini dapat

    meningkatkan kadar demokratisasi,

    transparansi dan terpilihnya figur-figur

    yang mampu menyelenggarakan

    pemerintahan dalam rangka meningkatkan

    kesejahteraan masyarakat.

    Penyelenggaraan pemilu langsung

    dihadapkan pada sejumlah masalah,

    diantaranya tidak akuratnya data pemilih.

    Data pemilu yang tidak akurat merupakan

    permasalahan krusial yang dihadapi sejak

    pemilu 1999, masalah krusial ini juga

    terjadi menjelang Pemilu 2014.

    Permasalahan penetapan data pemilih

    meliputi adanya data fiktif, pemilih tanpa

    Nomor Induk Kependudukan (NIK), data

    ganda, pemilih dibawah umur, pemilih

    pindah alamat, pemilih yang meninggal

    dunia hingga TNI/Polri yang tercatat

    sebagai pemilih. Pada Tahun 2013 terdapat

    11.130 juta pemilih yang bermasalah yang

    dirinci sebagai berikut: sebanyak 10. 853

    juta pemilih bermasalah administrasi,

    160.249 tidak memenuhi syarat, 53.407

    tidak terdaftar, 269.761 pemilih ganda dan

    1.889 pemilih fiktif. Permasalahan ini

    sempat menyebabkan Bawaslu

    merekomendasikan penundaan penetapan

    DPT oleh KPU untuk Pemilu 2014 (Media

    Indonesia, 2013).

    Data kependudukan yang tidak

    akurat dapat berdampak pada tidak validnya

    data pemilu. Hal ini mengindikasikan

    kelemahan sistem administrasi

    kependudukan. Pemerintah dikritik oleh

    berbagai pihak karena kurang optimal

    melakukan tertib administrasi

    kependudukan. Sebagai ilustrasi, dari hasil

    pemutakhiran data penduduk, tercatat

    sebanyak 54.692 pemilih tidak memiliki

    dokumen kependudukan di DPT. Untuk

    penyempurnaan DPT, KPU telah mencoret

    sebanyak 439.747 pemilih sehingga DPT

    untuk Pemilu 2014 menurun menjadi

    186.172.508 orang, dimana 3,3 juta

    diantaranya belum memiliki NIK. Padahal

    UU Nomor 8 Tahun 2012 pada Pasal 33

    memberikan persyaratan untuk pemilih

    sebagai berikut: penduduk yang telah

    memiliki NIK, nama, tanggal lahir, jenis

    kelamin dan alamat WNI yang mempunyai

    hak memilih (Media Indonesia, 2013).

  • 3 INOVASI dan PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN VOL.03 NO.01

    Penelitian Edhi (2012) menemukan

    secara nasional hasil pendaftaran penduduk

    dan pencatatan sipil yang berupa data atau

    validasi kependudukan belum dapat dicapai

    secara maksimal. Peristiwa kependudukan

    dan peristiwa penting yang menyebabkan

    perubahan data kependudukan, seperti

    kelahiran, kematian, perkawinan migrasi

    (pindah-datang dan perubahan alamat)

    belum terdata secara benar dan

    berkesinambungan. Kelemahan penyediaan

    basis data kependudukan, disatu sisi kerap

    dihubungkan dengan ketidakaktifan

    penduduk melaporkan peristiwa

    kependudukan dan di sisi yang lain

    pemerintah belum optimal meningkatkan

    kesadaran masyarakat untuk mendukung

    tertib administrasi kependudukan.

    Rendahnya kesadaran penduduk

    melaporkan perubahan peristiwa

    kependudukan kepada petugas (instansi

    pelaksana) menyebabkan pendaftaran

    penduduk dan pencatatan sipil belum

    terlaksana secara optimal. Penelitian Putera

    (2006) menunjukan kesadaran penduduk

    tergolong rendah dalam mensukseskan

    tertib administrasi kependudukan

    disebabkan data kependudukan tidak

    berimplikasi pada kepentingan masyarakat

    melainkan berorientasi pada kepentingan

    pemerintah menjelang pemilu.

    Kajian ini untuk mengetahui

    kesadaran melaporkan peristiwa

    kependudukan dan peristiwa penting dan

    upaya pembenahan terhadap permasalahan

    yang ada.

    Perumusan Masalah

    Berdasarkan uraian diatas, maka

    rumusan masalah kajian “Bagaimana

    penerapan regulasi kependudukan

    khususnya tentang kewajiban melaporkan

    peristiwa penting dan peristiwa

    kependudukan berimplikasi terhadap data

    pemilih?”. Rincian rumusan masalah

    sebagai berikut: (1) Bagaimana tingkat

    kesadaran penduduk melaporkan Peristiwa

    Kependudukan dan Peristiwa Penting dan

    faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh.

    (2) Apa sajakah permasalahan yang

    menyebabkan rendahnya kesadaran

    penduduk dan bagaimana upaya untuk

    mengatasinya?

    Tujuan Kajian

    Kajian ini bertujuan untuk

    mendeskripsikan kesadaran penduduk

    melaporkan peristiwa penting dan peristiwa

    kependudukan. Secara rinci, tujuan kajian

    adalah: (1) Mengetahui tingkat kesadaran

    penduduk melaporkan Peristiwa Penting

    dan Peristiwa Kependudukan dan faktor-

    faktor yang berpengaruh serta (2)

  • 4 INOVASI dan PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN VOL.03 NO.01

    Mengetahui permasalahan rendahnya

    kesadaran penduduk dan upaya

    mengatasinya.

    Tinjauan Regulasi tentang Pemanfaatan

    Administrasi Kependudukan dan

    Implikasinya terhadap Penetapan Daftar

    Pemilih

    Pemanfaatan data kependudukan di

    bidang politik khususnya mendukung

    penyelenggaraan pemilihan umum sangat

    penting. Untuk kepentingan pemilu dan

    pemilukada, data kependudukan digunakan

    untuk menetapkan calon pemilih.

    Fenomena yang menjadi isu nasional

    menjelang Pemilu 2014, data

    kependudukan yang meliputi lahir, mati,

    perkawinan dan migrasi (pindah dan

    datang) yang tidak valid telah menyebabkan

    kisruh penetapan DPT.

    Pasal 3 dan Pasal 63 UU No 23

    Tahun 2006 serta penerapan Perpres No 26

    Tahun 2009 tentang Penerapan KTP

    berbasis Nomor Induk Kependudukan

    mengamanatkan agar setiap penduduk

    melaporkan peristiwa penting dan peristiwa

    kependudukan dan mengikuti perekaman e-

    KTP, hal ini karena:

     Perubahan identitas kependudukan yang

    dilaporkan penduduk menjadi data

    dasar untuk pendaftaran dan pencatatan

    data penduduk (registrasi penduduk)