Keratitis Pungtata

download Keratitis Pungtata

of 28

  • date post

    20-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    59
  • download

    4

Embed Size (px)

description

MATA

Transcript of Keratitis Pungtata

LAPORAN KASUSI. IDENTITAS PASIEN.

Nama

: Tn. JUmur

: 39 tahunAgama

: Islam

Bangsa/Suku

: Indonesia/Makassar

Jenis Kelamin

: Laki-lakiPekerjaan

: PNS

Tgl Pemeriksaan : 08 / 09 /2014Alamat

: Jl. Veteran Selatan Dokter Pemeriksa

: dr. MII. ANAMNESIS

Keluhan utama : Penglihatan kabur pada mata sebelah kiriAnamnesis terpimpin :

Pasien datang ke poliklinik mata BKMM dengan keluhan penglihatan kabur pada mata sebelah kiri. Dialami sejak 1 minggu yang lalu. Pada mata sebelah kiri nyeri (+), mata merah (+), fotofobia (+), silau (+), air mata berlebih (+), kotoran (-), rasa menganjal (+), rasa berpasir (+), gatal (-), demam (-).

Riwayat memakai kacamata tidak adaRiwayat trauma sebelumnya disangkal

Riwayat pengobatan pada mata sebelumnya disangkalRiwayat penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus disangkalIII. STATUS GENERALISATA

Status generalis : Sakit ringan, gizi cukup, compos mentis

Status vitalis

Tekanan darah: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 kali/menit

Pernapasan: 20 kali/menit

Suhu

: 36,7 C

Foto pasien (Okuli sinistra)IV. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI A. INSPEKSI

NoPemeriksaanODOS

1PalpebraEdema (-)Edema (-)

2Apparatus LakrimalisHiperlakrimasi (-)Hiperlakrimasi (+)

3SiliaSekret (-)Sekret (-)

4KonjungtivaHiperemis(-)

Hiperemis (+),

Injeksi konjungtiva(-), Injeksi perikorneal (+)

5KorneaJernihJernih

6Bilik mata depanNormalNormal

7IrisCoklat, kripte (+)Coklat, Kripte (+)

8PupilBulat, sentral , RC (+)Bulat, sentral, RC (+)

9LensaJernihJernih

10Gerakan Bola MataKesegala arah

Kesegala arah

B. PALPASI

NoPemeriksaanODOS

1Tensi okulerTnTn

2Nyeri tekan(-)(-)

3Massa tumor(-)(-)

4Glandula pre-aurikulerTidak ada pembesaranTidak ada pembesaran

C. TONOMETRI: Tidak dilakukan pemeriksaan

D. VISUS: VOD = 5 / 5

: VOS = 5 / 24E. CAMPUS VISUAL: Tidak dilakukan pemeriksaan.

F. COLOR SENSE

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

G. LIGHT SENSE

: Tidak dilakukan pemeriksaan.H. PENYINARAN OBLIK:NoPemeriksaanODOS

1KonjungtivaHiperemis (-),

Hiperemis (+)

2KorneaJernihTampak infiltrat putih di permukaan

kornea di sentral

3Bilik Mata DepanNormalNormal

4IrisCoklat, kripte (+)Coklat, kripte (+)

5PupilBulat, sentral, RC (+)Bulat,sentral RC (+)

6LensaJernihJernih

I. DIAFANOSKOPI: Tidak dilakukan pemeriksaanJ. OFTALMOSKOPI : Tidak dilakukan pemeriksaanK. SLIT LAMPSLOD : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral RC (+), lensa jernihSLOS : Konjungtiva hiperemis (+), kornea tampak infiltrat warna hijau di permukaan kornea di sentral, fluorescein (+) terdapat infiltrat bentuk pungtata di sentral, BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral RC (+), lensa jernihL. LABORATORIUM : Tidak dilakukan pemeriksaan

M. GONIOSKOPI

: Tidak dilakukan pemeriksaan V.RESUME

Seorang laki-laki umur 39 tahun, datang ke Poliklinik Mata BKMM dengan penglihatan kabur pada mata sebelah kiri dialami sejak sekitar 1 minggu yang lalu, nyeri (+), mata merah (+), fotofobia (+), silau (+), air mata berlebih (+), kotoran (-), rasa menganjal (+), rasa berpasir (+), gatal (-), demam (-).Pemeriksaan Oftalmologi

Visus : VOD = 5 / 5

VOS = 5 / 24SLOS : Konjungtiva hiperemis (+), inj. Konjungtiva (-), inj. perikorneal (+), kornea tampak infiltrat di permukaan kornea, fluorescein (+) tampak infiltrat bentuk pungtata di permukaan kornea di sentral, BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral RC(+), lensa jernih.VI. DIAGNOSISOS Keratitis Pungtata SuperfisialisVI. TERAPI

R/:C. polygram EDMD 4 x 1 tts (pada mata kiri/ OS )

Reephitel EDMD 6 dd 1 (pada mata kiri/OS )Na.Diklofenak 2 x 50 mgVII. PROGNOSIS

1. Quo ad vitam

: Bonam2. Quo ad sanationam: Bonam3. Quo ad visam

: Dubia et Bonam4. Quo ad kosmeticum: BonamVIII. DISKUSI

Pada kasus diatas dari anamnesis didapatkan seorang laki-laki berumur 39 tahun datang dengan keluhan penglihatan mata kiri kabur dan terasa ada pasir sejak 1 minggu yang lalu. Mata kiri terasa nyeri, silau apabila melihat cahaya, merah serta berair. Riwayat mata merah, terdapat kotoran pada mata dan demam disangkal. Dari anamnesis menunjukkan pasien mengalami suatu infeksi di daerah mata bahagian kiri dengan keluhan mata merah, silau (fotofobia), berair dan penurunan visus (kabur). Dari gejala yang timbul tersebut menunjukkan diagnosis sementara mengarah ke diagnosis keratitis.

Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD = 5 / 5 dan VOS = 5 / 24, pemeriksaan mata sebelah kiri ditemukan injeksi perikorneal, pemeriksaan segmen anterior ditemukan kornea jernih di sentral dan pemeriksaan dengan fluorescein kemudian dilihat dengan slit lamp hasilnya ditemukan bercak infiltrat berwarna hijau di permukaan kornea pada daerah sentral. Dari pemeriksaan status lokalis ini menunjukkan bahwa infeksi kornea dapat diklasifikasikan sesuai dengan lapisan kornea yang terkena yaitu bagian superfisialis dan terbentuk bintik-bintik yang terbentuk di daerah membarana Bowman. Diagnosis kerja yang ditegakkan pada pasien tersebut adalah keratitis pungtata superfisialis.Terapi yang diberikan yaitu tetes mata C.Polygran EDMD 4X1 yang terdiri dari neomisin sulfat yang merupakan aminoglikosida yang memiliki efek mematikan bakteri gram negatif dan sering digunakan sebagai profilaksis infeksi yang disebabkan abrasi superfisial, terluka atau luka bakar, polimiksin B sulfat yang berfungsi sebagai antibiotik yang menghambat bakteri gram negatif dan gramisidin yang merupakan antibiotik topikal yang merupakan derivat B. Aktivitas antibiotik gramisidin terbatas pada bakteri gram positif . Repithel EDMD 6 dd 1 untuk regenerasi dan proteksi epithelium kornea, Na Diklofenak 2x50 mg yang merupakan golongan obat non steroid dengan aktivitas anti-inflamasi, analgesik dan antipiretik. Pasien juga dianjurkan menggunakan pelindung mata (kaca mata hitam) untuk melindungi dari eksposur dari luar seperti debu dan sinar ultraviolet. KERATITIS PUNGTATA SUPERFISIALI. PENDAHULUAN

Mata bagian luar adalah bagian krusial dalam tubuh yang terpapar dengan dunia luar. Struktur dan fungsi yang normal dari mata yang sehat terkait dengan homeostasis dari keseluruhan tubuh sebagai proteksi terhadap lingkungan yang dapat merugikan. Segmen anterior dari bola mata memberikan jalur masuk yang jernih dan terlindungi sehingga cahaya dapat diproses melalui jalur visual menuju susunan saraf pusat.1

Radang kornea (Keratitis) biasanya diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena seperti keratitis superfisial dan intertisial atau propunda. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi terhadap obat topikal dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Keratitis akan memberikan gejala mata merah, rasa silau dan merasa kelipan.2

Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran seperti infiltrat halus pada permukaan kornea. Opasitas pada kornea tersebut tidak tampak secara langsung pada inspeksi, akan tetapi dapat dilihat dengan mudah dengan menggunakan slit lamp atau loup. Lesi epithelial yang terdapat keratitis pungtata superfisial berupa kumpulan opasitas granular, abu abu atau cromblike (seperti remah roti) yang berbentuk bulat atau oval.3

Sekitar 25.000 dari penduduk Amerika Serikat mendapatkan infeksi keratitis. Insiden dari keratitis mikrobial dihubungkan dengan penggunaan lensa kontak rata-rata sebanyak 2 sampai 4 infeksi dari 10.000 pengguna lensa kontak dan sebanyak 10 sampai 20 infeksi dari 10.000 pengguna lensa kontak dengan penggunaan yang berkepanjangan.4

Gambar 1: Keratitis pungtata superficialII. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat 2 bentuk kelengkungan yang berbeda.5Bola mata dibungkus oleh 3 jaringan ikat, yaitu :

1. Sklera merupakan jaringan ikat kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan sehingga memudahkan cahaya masuk kedalam bola mata. Kelengkungan pada kornea lebih besar dibandingkan pada sklera.52. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskuler, yang terdiri dari iris, korpus siliaris dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang terdiri oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar yang masuk kedalam mata. Otot dilatator dipersarafi oleh simpatis sedangkan sfingter iris dan otot siliaris dipersarafi oleh para simpatis. Otot siliaris yang terletak dibadan siliaris mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Corpus siliaris yang menghasilkan humor akuos yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris dibatas kornea dan sklera.53. Lapisan ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai sususan sebanyak 10 lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik yang diteruskan ke otak.5

Gambar 2 : Anatomi Bola Mata

Badan kaca atau humor vitreus mengisi rongga dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel pada papil saraf optik, makula dan pars pelana. Lensa terletak dibelakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya oleh zonula zinii. Lensa mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea. Terdapat 6 otot penggerak bola mata dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak pada daerah temporal atas dalam rong