Keragaman Budaya Maluku

download Keragaman Budaya Maluku

of 12

  • date post

    04-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    322
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Keragaman Budaya Maluku

Keragaman Budaya MalukuPUKUL MANYAPU (SAPU LIDI)PUKUL SAPU LIDI, yang dilaksanakan oleh RajamasyarakaNegeri Mamaladi Ambon - Maluku, dimana acara tersebut diselenggarakan pada setiap7(tujuh)hari seusai Hari Besar Islam "IDUL FITRI", dimana ciri khas acara tersebut yaitu Pukul Sapu Lidi Aren ketubuh antara lawan satu dengan yang lainnya, dengan beberapa syarat tidak boleh mengenai muka dan atau bagian pital lawannya.Acara tradisiPUKUL SAPU LIDIini sudah berjalan sejak beberapa ratus tahun lahu di Negeri Mamala, sehingga hampir seluruh masyarakat disekitar Pulau Ambon maupun wisatawan asing yang mengetahui acara tardisi tersebut pasti padat menghadiri dan menyaksikan acara tradisiPUKUL SAPU LIDItersebut,tradisi ini di lakukan dalam rangka memeriakan hari raya idul fitridengan maksud tujuan saling menimbulkan rasa saling kekeluargaan dan kebersamaan dalam hidup dan tanpa dendam satu sama lain.dengan menggunakan sapu lidi yang berukuran lumanyan besar semua pesertasaling berhadapan satu sama lain dan saling memukul-mukulkan sapu lidi itu ke depan lawan nya sambil berjalan keci.setelah itu baru akan gentian yang lawan yang sudah kena pukulan gantian melakukan hal yang sama kepada yang tadi di depan nya. Setelah acara selesan semuapeserta diberi minyak adat yang tlah di beri doa-doa khusus. Nama minyak tersebut adalah minyaktasalah.

Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu merupakan atraksi unik dari Maluku Tengah yang biasanya dipentaskan di Desa Mamala dan Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Berlangsung setiap 8 syawal (penanggalan Islam) dimana telah berlangsung dari abad XVII yang diciptakan seorang tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni. Tradisi ini dipertunjukkan sebagai perayaan keberhasilan pembangunan masjid yang selesai dibangun pada 8 syawal setelah Idul Fitri.Tradisi ini juga dikaitkan dengan sejarah masyarakat setempat yaitu perjuangan Kapiten Tulukabessy beserta pasukannya pada masa penjajahan Portugis dan VOC pada abad ke-16 di tanah Maluku. Pasukan Tulukabessy bertempur untuk mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan penjajah meskipun perjuangan mereka gagal dan Benteng Kapapaha tetap jatuh juga. Untuk menandai kekalahan tersebut, pasukan Tulukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah.Tradisi Pukul Manyapu dipandang sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan masyarakat di Desa Mamala dan Desa Morella. Dipertunjukan oleh pemuda yang dibagi dalam dua kelompok dimana setiap kelompoknya berjumlah 20 orang. Kedua kelompok dengan seragam berbeda itu akan bertarung satu sama lain. Kelompok satu menggunakan celana berwarna merah sedangkan kelompok lainnya menggunakan celana berwarna hijau. Pesertanya juga diwajibkan menggunakan ikat kepala untuk menutupi telinga agar terhindar dari sabetan lidi. Alat pukul dalam tarian ini adalah sapu lidi dari pohon enau dengan panjang 1,5 meter. Bagian tubuh yang boleh dipukul adalah dari dada hingga perut.Jalannya AtraksiKetika atraksi dimulai, kedua kelompok akan saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan. Ketika suara suling mulai ditiup sebagai aba-aba pertandingan dimulai kemudian kedua kelompok ini secara bergantian saling pukul menggunakan sapu lidi. Dimulai dengan kelompok bercelana merah memukul kelompok bercelana hijau atau sebaliknya. Ketika dimulai maka suara cambukan lidi di badan peserta akan terdengar dan darah pun keluar akibat sabetan lidi. Suasana ini akan membuat tubuh Anda bergidik.Kehebatan dari tradisi pukul manyapu ini adalah bagaimana pesertanya seakan tidak merasa kesakitan walaupun tubuh mereka mengelurkan darah akibat dari sabetan lidi. Akan tetapi, jangan kaitkan itu dengan kekuatan mistis atau gaib, karena para peserta sebenarnya sudah melebur dalam semangat yang telah membenamkan rasa sakit.Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut mengobati lukanya dengan menggunakan getah pohon jarak. Ada juga yang mengoleskan minyak nyualaing matetu (minyak tasala) dimana mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar.Potensi WisataTradisi pukul manyapu merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu warga dan wisatawan setiap tahunnya. Anda dapat melihat proses pembuatan pohon enau menjadi sebuah lidi dan juga pengolahan minyak kelapa untuk pengobatan selepas tradisi ini. Selain itu, tradisi ini juga diramaikan dengan permainan rebana, karnaval budaya, dan pertunjukan tari lokal seperti tari putri, tari mahina, dan tari perang. Dikabarkan, desa Mamala dan desa Morella meraup untung dari kedatangan wisatawan baik lokal, regional maupun internasional terutama dari Belanda.http://palingindonesia.com/tradisi-pukul-manyapu-desa-morella-dan-desa-mamala-maluku/

BAMBU GILASelain tradisi pukul sapu tersebut ada tradisi yaitu tradisi yang sering disebut dengan acara tradisiBAMBU GILAyang sangat dikenal oleh masyarakat Maluku maupun masyarakat daerah lain dimana acara tradisiBAMBU GILAsudah diketahui adalah berasal dari Maluku, namun masih banyak masyarakat daerah lain yang tidak mengetahui seperti apa acara yang disebutBAMBU GILA, tradisi bamboo gila ini di l;akukan dengan mengunakan sebuah bamboo yang di pengang oleh beberapa oaring dalam keadaan setengah meluk bamboo lalu bamboo tersebut di beri manyra atau bacaan oleh ketua adat daerah tersebut latu atraksi tradisi ini dapat berjalan.

Atraksi Bambu Gila (disebut juga Buluh Gila atau Bara Suwen) sekilas tampak sederhana. Ada sebilah bambu dengan panjang 2,5 m dan diameter 8 cm yang mendadak jadi lawan tangguh bagi tujuh lelaki dewasa. Namun kesan kesederhanaan itu hilang ketika mengetahui batang bambu itu seketika jadi liar, berat, dan sukar dikendalikan setelah dirapalkan mantra oleh seorang pawang.

Pertama-tama sang pawang akan membakar kemenyan di atas tempurung kelapa. Dia kemudian mengembuskan asap kemenyan melalui buluh bambu yang dipercaya akan memanggil para arwah leluhur. Kehadiran para arwah itulah yang memberi kekuatan mistis bagi batang bambu yang digunakan dalam permainan.

Tak heran jika bambu yang dipakai dalam permainan ini bukan bambu sembarangan. Sang pawang harus meminta restu dari penunggu hutan sebelum menggunakannya. Dalam sebuah ritual adat, bilah bambu dipotong, dibersihkan, dicuci dengan minyak kelapa, lalu dihiasi dengan kain setiap ujungnya.

Pada pertunjukan berskala kecil, biasanya sang pawang akan mengunyah jahe yang terpotong tujuh, kemudian menyemburkannya ke batang bambu.

Kemudian sang pawang akan merapalkan mantra dalam bahasa Tana, salah satu bahasa tradisional setempat. Berulang-ulang mantra diucapkan, aura mistis kian terasa dan memuncak ketika sang pawang berseru kencang: Gila! Gila! Gila!

Atraksi pun dimulai. Musik mengalun kencang dan tujuh pria dewasa ikut terayun-ayun, terguncang-guncang, meliuk-liuk oleh bambu yang mereka peluk erat.

Sekuat tenaga ketujuh lelaki itu mengerahkan segala kemampuan mereka. Namun bambu itu justru kian berat dan liar apalagi saat irama musik dipercepat serta tifa (alat musik khas Maluku) ditabuh. Atraksi ini berakhir bilamana para pemain jatuh pingsan di arena permainan.

Saat ini Bambu Gila sudah jarang ditemui dan lebih banyak dipentaskan di desa-desa kecil di Maluku, misalnya Desa Liang, Kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Namun demikian, atraksi ini dimodifikasi menjadi sebuah tarian lincah dengan buluh (bambu) yang didekap kedua tangan sementara kaki bergerak lincah.

Gerakan itu berlangsung dalam harmoni seakan menggambarkan persatuan dan kesatuan serta semangat gotong royong Masohi sebuah spirit luhur masyarakat Maluku sejak lama.

Sumber:http://id.shvoong.com/travel/destination/2156622-atraksi-bambu-gila-budaya-indonesia/#ixzz2luYOkz7a

TARIAN CAKALELESelain 2 tradisi diatas ada lagi tradisi tarian yang masyarakat Maluku sebut TARIANCAKALELE tariancakalele adalahsebuah tarian masyarakat Maluku yang menggambarkan sebuah tarian kegembiraan melepas dari suatu masalah dan manggmbarkan munculnya kebahasiaan baru yang muncul dari kebersamaan yang tercipta dari masyarakat Maluku. Dengan tarian yang diiringi dari dengan music lebih menambah suka cita dan semangat kegembiraan.tarian cakalele ini di adakan tidak menentu kapan waktunya. Tarian itu bias kapanpun di adakan itu tergantung dari yangmau adakan acara tersebut. Contohnya tarian itu diadakan pas ada acara pernikahandi selah selah acara pernikahan tersebut bisa di selipkan tarian tersebut.

Tari perang Cakalele atau disebut juga Kabasaran adalah tarian adat setempat warga masyarakat Sulawesi Utara yang merupakan warisan asli yang telah ada sejak jaman dahulu di wilayah ini.Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut Pa Wasalen dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung, hampir mirip dengan tarian Cakalele dari Maluku.Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi "Kabasaran" yang merupakan gabungan dua kata Kawasal ni Sarian Kawasal berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan Sarian adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf W menjadi B sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata besar dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.Pada zaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani dan rakyat biasa. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi Waraney.Busana yang dig