Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2013€¦ · Ekonomi Kreatif Tahun 2013 dapat...

of 183/183
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jl. Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta Pusat 10110 Jl. Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta Pusat 10110 Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2013 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  • date post

    26-May-2020
  • Category

    Documents

  • view

    4
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2013€¦ · Ekonomi Kreatif Tahun 2013 dapat...

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi KreatifKementerian Pariwisata dan Ekonomi KreatifJl. Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta Pusat 10110Jl. Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta Pusat 10110

    Laporan Akuntabilitas Kinerja

    Tahun 2013Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

  • JAKARTA, MARET 2014

    @ Rorensi Kemenparekraf, 2014

    Email : [email protected]

    Laporan Akuntabilitas Kinerja

    Tahun 2013Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    KATA PENGANTAR

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 i

    Kata Pengantar

    Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2013 dapat diselesaikan.

    Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2013 merupakan bentuk pertanggungjawaban dan penjelasan mengenai kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pencapaian tujuan dan sasaran selama Tahun Anggaran 2013, sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012 – 2014.

    Kepariwisataan dan ekonomi kreatif merupakan dua sektor pembangunan yang saling terkait dan merupakan kombinasi sektor yang saling menguatkan satu sama lain dan merupakan inisiatif baru pada bidang pembangunan ekonomi.

    Pembangunan kepariwisataan mempunyai peranan penting dalam mendorong kegiatan ekonomi, meningkatkan citra Indonesia, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memberikan perluasan kesempatan kerja. Peran tersebut, antara lain,ditunjukkan oleh kontribusi kepariwisataan dalam penerimaan devisa negara yang dihasilkan oleh kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), nilai tambah PDB, dan penyerapan tenaga kerja. Di samping itu, pariwisata juga berperan dalam upaya meningkatkan jati diri bangsa dan mendorong kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaaan budaya bangsa dengan memperkenalkan produk-produk wisata

    seperti kekayaan dan keunikan alam dan laut, museum, seni dan tradisi kerakyatan dan alat yang efektif bagi pelestarian lingkungan alam dan seni budaya tradisional.

    Pariwisata memiliki peran yang penting dalam meningkatkan devisa negara dengan mengupayakan peningkatan jumlah wisman dan peningkatan rata-rata pengeluaran wisman di Indonesia. Jumlah kunjungan wisman pada tahun 2013 sebanyak 8,80 juta atau mengalami pertumbuhan sebesar 9,42% apabila dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada tahun 2012 sebanyak

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 ii

    8,04 juta kunjungan wisman. Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan pada tahun 2013 sebesar US$ 1.142,24 atau mengalami pertumbuhan sebesar 0,74% apabila dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan pada tahun 2012 sebesar US$ 1.133,81. Peningkatan jumlah wisman dan rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan akan meningkatkan devisa yang akan diperoleh oleh negara, yaitu total penerimaan devisa dari wisman pada tahun 2013 sebesar US$ 10.054,14 juta atau mengalami pertumbuhan sebesar 10,23% apabila dibandingkan dengan total penerimaan devisa dari wisman pada tahun 2012 sebesar US$ 9.120,85 juta. Pada tahun 2013 perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) diperkirakan mencapai 248 juta perjalanan atau naik sebesar 1,10% dibandingkan tahun 2012 yaitu 245,29 juta perjalanan. Total pengeluaran pada tahun 2013 sebesar 171,70 triliun rupiah dengan rata-rata pengeluaran sebesar 711 ribu rupiah.

    Pembangunan ekonomi kreatif difokuskan pada beberapa subsektor yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu: (1) ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, yaitu subsektor industri kreatif yang memiliki substansi dominan adalah seni dan budaya; dan (2) ekonomi kreatif berbasis desain, media, dan iptek, yaitu subsektor industri kreatif yang memiliki substansi dominan adalah desain, media, dan iptek.

    Sektor ekonomi kreatif tumbuh 5,76% atau di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,74%. Tahun 2013 kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional mencapai Rp 641,8 triliun atau sebesar 7% PDB nasional. Laju pertumbuhan masing-masing sektor industri kreatif menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, dengan pertumbuhan di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi kreatif dan pertumbuhan nasional, antara lain: sektor layanan komputer dan piranti lunak yang mencapai 8,24%, arsitektur sebesar 8,04%, periklanan sebesar 8,01%, seni pertunjukan sebesar 6,89%, kerajinan sebesar 6,38% dan film, video, dan fotografi sebesar 6,27%. Jumlah produksi film pada tahun 2013 sebanyak 106 film atau lebih 6% dari target yang telah ditetapkan sebanyak 100 film.

    Tingginya capaian target sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sepanjang tahun 2013 semakin menguatkan bahwa prospek pariwisata dan ekonomi kreatif yang semakin besar pada tahun 2014.

    Akhir kata, semoga Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, baik sebagai informasi maupun evaluasi kinerja.

    Jakarta, Maret 2014

    Menteri Pariwisata Pariwisata dan

    Ekonomi Kreatif,

    Mari Elka Pangestu

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    DAFTAR ISI

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 iii

    Halaman KATA PENGANTAR …………………………………………………………. i DAFTAR ISI …………………………………………………………………… iii DAFTAR TABEL ………………………………………………………………

    iv

    DAFTAR GRAFIK ……………………………………………………………

    vi

    IKHTISAR EKSEKUTIF ……………………………………………………… 1 BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………. 10

    A. LATAR BELAKANG ………………………………………….. 10

    B. GAMBARAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF ....………………………………………. 12

    C. PERAN DAN FUNGSI KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DALAM PEMBANGUNAN LINTAS SEKTOR …………………………………………….. 12

    BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA …………… 14

    A. RENCANA STRATEGIS ……………………………………... 14

    B. PENETAPAN/PERJANJIAN KINERJA …………………….. 20

    C. ANGGARAN 2013.............…………………………………… 25

    BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ……………………………………. 26

    A. IKHTISAR CAPAIAN KINERJA 2013……………………….. 26

    B. CAPAIAN DAN ANALISIS KINERJA 2013 ..………………. 30

    BAB IV PENUTUP …………………………………………………………. 160 LAMPIRAN

    DAFTAR ISI

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 iv

    Halaman Tabel 1 Capaian RPJMN Tahun 2013 Kementerian Pariwisata

    Dan Ekonomi Kreatif ..................................... 8

    Tabel III. 1 Perbandingan Pendapatan PDB

    2011 – 2013 .............................................. 32

    Tabel III. 2 Dampak Ekonomi Makro Berdasarkan Neraca

    Satelit Pariwisata Nasional (NESPARNAS)

    2011 - 2013* ............................................. 33

    Tabel III. 3 Tren Kenaikan Usaha Pariwisata Bidang

    Akomodasi ................................................. 36

    Tabel III. 4 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai

    Dengan Tahun 2013 .................................... 39

    Tabel III. 5 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai

    Dengan Tahun 2013 .................................... 40

    Tabel III. 6 Investasi di Bidang Kepariwisataan ............... 43

    Tabel III. 7 Penerimaan Devisa Pariwisata Dibandingkan

    dengan Komoditi Ekspor .............................. 49

    Tabel III. 8 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ............. 52

    Tabel III. 9 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ............. 52

    Tabel III. 10 Target Wisatawan Mancanegara Tahun 2013 .. 59

    Tabel III. 11 Kunjungan Wisatawan Mancanegara ............. 59

    Tabel III. 12 Perkembangan Wisatawan Nusantara ............ 69

    Tabel III. 13 Wilayah Sasaran Penerima PNPM

    Mandiri Pariwisata Tahun 2012 – 2013 .......... 82

    Tabel III. 14 Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) ........... 87

    Tabel III. 15 Distribusi Nilai Tambah Bruto (NTB) Industri

    DAFTAR TABEL

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 v

    Kreatif Indonesia Berbasis Seni dan Budaya

    Terhadap PDB Indonesia Atas Dasar Harga

    Berlaku Tahun 2010 – 2013 (%) .................. 93

    Tabel III. 16 Tenaga Kerja Industri Kreatif Indonesia

    Berbasis Seni dan Budaya Menurut Sektor

    Industri Kreatif Tahun 2010-2013 ................. 99

    Tabel III. 17 Tenaga Kerja Industri Kreatif Indonesia

    Berbasis Seni dan Budaya Menurut Sektor

    Industri Kreatif Tahun 2010-2013 ................ 108

    Tabel III. 18 Jumlah Usaha Ekonomi Kreatif ................. 111

    Tabel III. 19 Perbandingan Hasil Evaluasi Akuntabilitas

    Kinerja Kemenbudpar/Kemenparekraf

    2007 – 2013 ............................................. 149

    Tabel III. 20 Capaian RPJMN TAHUN 2013

    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif . 157

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 vi

    Halaman Grafik III. 1 Kontribusi Kepariwisataan Terhadap PDB

    Nasional .................................................... 33

    Grafik III. 2 Peningkatan Devisa Pariwisata ..................... 34

    Grafik III. 3 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai Dengan

    Tahun 2013 ............................................... 40

    Grafik III. 4 Perkembangan Wisatawan Nusantara ............ 70

    Grafik III. 5 Distribusi Produk Domestik Bruto (PDB)

    Indonesia Menurut Sektor Ekonomi Tahun

    2013 (%) .................................................. 94

    Grafik III. 6 Distribusi Jumlah Tenaga Kerja Indonesia

    Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2013 ........... 100

    DAFTAR GRAFIK

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    IKHTISAR EKSEKUTIF

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 1

    khtisar Eksekutif

    Sesuai dengan rentang waktu Rencana Strategis 2012 – 2014, maka Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2013 ini merupakan Laporan Akuntabilitas Kinerja yang kedua yang menyajikan perbandingan antara capaian kinerja (performance results) dengan Rencana Kinerja (Performance Plan) dan informasi akuntabilitas kinerja selama Tahun 2013.

    Bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Laporan Akuntabilitas Kinerja memiliki dua fungsi utama. Pertama, merupakan sarana untuk menyampaikan pertanggungjawaban kinerja kepada seluruh para pemangku kepentingan (Presiden, Instansi Pemerintah Pusat/Daerah, pelaku/industri kebudayaan dan pariwisata). Kedua, merupakan sumber informasi untuk perbaikan dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan. Adanya dua fungsi utama ini memperjelas bahwa informasi yang tertuang dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2013 harus dapat memenuhi kebutuhan pengguna internal dan eksternal.

    Laporan Akuntabilitas Kinerja ini secara garis besar berisikan informasi mengenai rencana kinerja dan capaian kinerja yang akan dicapai selama 2 tahun dari tahun 2012 sampai dengan 2014. Rencana Kinerja (Performance Plan) 2013 dan Penetapan Kinerja 2013 merupakan kinerja yang ingin dicapai selama tahun 2013 yang sepenuhnya mengacu pada Rencana Strategis 2012 – 2014 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sementara itu, capaian kinerja (Performance Results) merupakan hasil realisasi seluruh kegiatan selama tahun 2013 yang memang diarahkan bagi pemenuhan target yang ditetapkan dalam Rencana Kinerja 2013.

    Secara keseluruhan, hasil capaian kinerja tahun 2013 menunjukkan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memenuhi Sasaran Strategis yang ditargetkan. Realisasi pencapaian sasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diukur dengan menggunakan Indikator Kinerja Utama yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut :

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    1. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    4,2 3,88 92,38

    IKHTISAR EKSEKUTIF

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 2

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    2. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    8,35 10,18 121,92

    2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    7,09 8,89 125,39

    3. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    13,54 34,12 252,00

    3. Meningkatnya investasi di sektor pariwisata

    Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional (Persentase)

    4,64 2,97 64

    4. Meningkatnya devisa dan pengeluaran wisatawan di Indonesia

    1. Jumlah penerimaan devisa wisatawan mancanegara (US$ miliar)

    10,35 10,05 97,1

    2. Jumlah pengeluaran wisatawan nusantara (Rp triliun)

    178,62 176,32 98,71

    3. Jumlah pengeluaran per wisatawan mancanegara per kunjungan (US$)

    1.150 1.142,24 99,33

    4. Jumlah pengeluaran per wisatawan nusantara per kunjungan (Rp ribu)

    714,5 711 99,51

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 3

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    5. Meningkatnya kuantitas wisatawan mancanegara ke Indonesia dan wisatawan nusantara

    1. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia (Juta orang)

    8,6 8,8 100,20

    2. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (Juta perjalanan)

    250 248 99,20

    6. Meningkatnya citra kepariwisataan Indonesia

    1. Daya saing kepariwisataan Indonesia (Nilai)

    4,08 n/a n/a

    2. Jumlah lokasi Kawasan Strategis Nasional (KSPN) yang difasilitasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola destinasi (Destination Management Organization (DMO)) (Lokasi)

    15 15 100

    7. Terciptanya diversifikasi destinasi pariwisata

    1. Jumlah lokasi daya tarik di Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang dikembangkan menjadi destinasi pariwisata (Daerah)

    29 29 100

    2. Jumlah desa yang difasilitasi untuk dikembangkan sebagai desa wisata (Desa)

    980 980 100

    3. Jumlah pola perjalanan yang dikembangkan (Pola)

    20

    16 80

    8. Terciptanya pemasaran pariwisata yang efektif dan efisien

    1. Rasio konsentrasi 5 pasar utama asal wisatawan mancanegara ke Indonesia (CR5 (%))

    63,5 50,81 %

    (Jan-Nov)

    119,98

    (Jan-Nov)

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 4

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    2. Jumlah Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di mancanegara (Lokasi)

    14 14 100,00

    3. Produktivitas investasi pemasaran luar negeri (Kali)

    530 591,45 111,59

    4. Produktivitas investasi pemasaran dalam negeri (Kali)

    1.850 2.161,09 116,82

    9. Meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif

    Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional (Persentase)

    7,38

    7,05

    95,53

    10. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif

    1. Tingkat partisipasi tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    8,35

    10,72

    128,32

    2. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    3,58

    10,21

    285,19

    11. Meningkatnya unit usaha sektor ekonomi kreatif

    Kontribusi unit usaha di sektor ekonomi kreatif terhadap unit usaha nasional (Persentase)

    7,31

    9,68

    132,42

    12. Meningkatnya konsumsi produk dan jasa kreatif lokal oleh masyarakat Indonesia

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan akses pasar (Orang)

    1.400

    3.288

    234,86

    2. Pertumbuhan konsumsi karya kreatif lokal di dalam negeri (Persentase)

    10,07

    18,06

    179,34

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 5

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    13. Terciptanya ruang publik bagi masyarakat

    Jumlah pengembangan zona kreatif di Indonesia (Zona)

    10 13 130

    14. Meningkatnya kualitas dan kuantitas lulusan pendidikan tinggi pariwisata

    Jumlah lulusan pendidikan tinggi kepariwisataan yang terserap di pasar kerja (Orang)

    1.443 1.437 99,6

    15. Meningkatnya profesionalisme pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah standar kompetensi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Naskah SKKNI)

    7 7 100

    2. Jumlah tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang disertifikasi (Orang)

    9.000 11.500 127,8

    16. Meningkatnya kualitas penelitian dan kajian bidang pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor pariwisata (Kajian)

    12 11 92,7

    2. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor ekonomi kreatif (Kajian)

    8 8 100

    17. Meningkatnya kualitas konten dan jejaring pelaku di sektor ekonomi kreatif

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan kemampuan kreasi dan produksi (orang)

    4.130

    9.219

    223,22

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 6

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    2. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami penguatan jejaring (orang)

    2.885

    4.989

    172,93

    18. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan

    Opini keuangan Kemenparekraf (Peringkat)

    WTP Masih proses

    pemeriksaan BPK

    -

    19. Meningkatnya kualitas pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

    Predikat SAKIP Kemenparekraf (Predikat)

    B B+ 100

    20. Terselenggaranya Reformasi Birokrasi

    Nilai Quality Assurance (QA) Reformasi Birokrasi (Nilai)

    70 74,53 106,47

    Jumlah Anggaran Tahun 2013 ........................ Rp. 1.933.104.096.000,- Jumlah Realisasi Anggaran Tahun 2013 ....... Rp. 1.622.218.608.766,-

    Sesuai dengan Rencana Kinerja Tahunan tahun 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan 20 (dua puluh) Sasaran Strategis. Selanjutnya sasaran strategis tersebut diwujudkan dalam 5 (lima) program dengan anggaran biaya Rp 1.933.104.096.000,-. Secara keseluruhan dapat diinformasikan bahwa, hasil capaian kinerja Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata selama tahun 2013 telah memenuhi 20 (dua puluh) Sasaran Strategis yang ditargetkan. Dengan demikian, tugas dan fungsi, wewenang dan tanggung jawab (core area) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yaitu Mengembangkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat diwujudkan.

    Komitmen yang kuat dari Pimpinan dan seluruh aparatur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk memfokuskan pemanfaatan sumber-sumber daya dan dana organisasi dalam melaksanakan program dan kegiatan yang ditetapkan dalam Renstra 2012 – 2014 dan Rencana Kinerja Tahunan Tahun 2013, serta pemangku kepentingan yang telah bersama-sama memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi salah satu kunci utama penentu keberhasilan ini.

    Sesuai dengan hasil analisis kami atas capaian kinerja 2013 kami merumuskan beberapa langkah penting sebagai strategi pemecahan masalah yang akan dijadikan masukan atau sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan Rencana Kinerja Tahunan Tahun 2013, yaitu sebagai berikut:

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 7

    1. Melakukan koordinasi yang baik di antara unit-unit organisasi terkait yang berada dalam lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, instansi pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya dalam merumuskan kebijakan dibidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    2. Mengoptimalkan pengelolaan program dan kegiatan yang diikuti dengan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber-sumber daya dan dana untuk mewujudkan tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang ditetapkan dalam Renstra. Hal ini secara khusus akan difokuskan pada sasaran-sasaran strategis yang capaian kinerjanya masih berada di bawah target yang ditetapkan.

    3. Melakukan penelitian yang mendalam atas ketepatan kuantitas target dari indikator kinerja setiap sasaran strategis dikaitkan dengan Tujuan yang telah ditetapkan dalam Renstra Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012 – 2014. Perencanaan kinerja tahun 2013 merupakan perencanaan tahunan yang kedua dari rentang waktu periode Renstra 2012 – 2014, yang nantinya dalam laporan akuntabilitas kinerja tahun 2013 akan diinformasikan persentase pencapaian Tujuan organisasi tersebut.

    A. Capaian RPJMN 2010 – 2014 Kebijakan pembangunan kepariwisataan dan ekonomi kreatif tahun 2013

    merupakan tahun keempat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014 yang tertuang pada Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 – 2014.

    Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014 merupakan pelaksanaan Visi dan Misi Presiden terpilih. Dokumen RPJMN 2010 – 2014 memuat Strategi Pembangunan Nasional, Kebijakan Umum, Prioritas Nasional, dan Program serta Kegiatan Pembangunan yang dilaksanakan oleh K/L. Seperti diamanatkan oleh UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan PP Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu melakukan evaluasi atas capaian pelaksanaan RPJMN 2010 – 2014, dan memasuki tahun 2013 merupakan evaluasi empat tahun pelaksanaan RPJMN 2010 – 2014.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 8

    Tabel 1 CAPAIAN RPJMN TAHUN 2013 KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

    No Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas penataan daya tarik wisata

    Jumlah daya tarik wisata alam, bahari dan budaya

    29 29 100

    2. Meningkatnya jumlah desa wisata

    Jumlah desa wisata 350 980 280

    3. Berkembangnya usaha, industri dan investasi pariwisata

    Jumlah profil investasi pariwisata

    7 7 100

    4. Terselenggaranya kegiatan perencanaan dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan, penyusunan kebijakan, peningkatan kualitas SDM aparatur, dan pendukungan teknis dalam meningkatkan kapasistas pengelolaan destinasi pariwisata

    1. Jumlah Organisasi Pengelolaan Destinasi (Destination Management Organization/DMO) (buah)

    15 15 100

    2. Jumlah dukungan fasilitas pariwisata (daya tarik)

    29 29 100

    5. Meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara sebesar 20% secara bertahap dalam 5 tahun

    1. Jumlah wisatawan mancanegara (juta orang)

    8,6 8,8 100,20

    2. Jumlah pergerakan wisatawan nusantara

    250.000.000 248.000.000 99,20

    6. Terlaksananya promosi 10 tujuan pariwisata Indonesia melalui saluran pemasaran dan pengiklanan yang kreatif dan efektif

    1. Partisipasi pada bursa pariwisata internasional, pelaksanaan misi penjualan (sales mission), dan pendukungan penyelenggaraan festival (event)

    82 89 108,54

    2. Penyelenggaraan perwakilan promosi pariwisata Indonesia (Indonesia Tourism Promotion Representative Officers) di luar negeri (kota)

    14 14 100

    3. Penyelenggaraan 37 66 178,38

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 9

    No Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian

    (%)

    promosi langsung (direct promotion), dan penyelenggaraan event pariwisata berskala nasional dan internasional (event)

    7. Meningkatnya kapasitas pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata lokal untuk mencapai mutu pelayanan dan hospitality management yang kompetitif di kawsan Asia

    Jumlah tenaga kerja di sektor pariwisata yang disertifikasi (orang)

    9.000 11.500 127,8

    Jumlah SDM peserta pembekalan sektor kepariwisataan dan ekonomi kreatif (orang)

    1.190 1.260 105,9

    Jumlah lulusan pendidikan tinggi kepariwisataan yang terserap di pasar kerja (orang)

    1.443 1.437 99,6

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    BAB I PENDAHULUAN

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 10

    A. Latar Belakang

    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif secara resmi telah terbentuk pada tanggal 21 Desember 2011 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara.

    Dengan mempertimbangkan lingkungan strategis global dan berbagai arah kebijakan pembangunan nasional bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, serta Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 – 2025, dan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, maka Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memiliki visi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia dengan menggerakkan kepariwisataan dan ekonomi kreatif.

    Pengembangan kepariwisataan akan difokuskan kepada 7 minat khusus, yaitu: (1) wisata budaya dan sejarah; (2) wisata alam dan ekowisata; (3) wisata olah raga rekreasi meliputi: menyelam, selancar, kapal layar, treking dan mendaki, golf, bersepeda, dan maraton; (4) wisata kapal pesiar; (5) wisata kuliner dan belanja; (6) wisata kesehatan dan kebugaran; dan (7) wisata konvensi, insentif, pameran dan event.

    Berbeda dengan sektor kepariwisataan, ekonomi kreatif merupakan sektor baru yang diangkat oleh pemerintah untuk dikelola hingga tingkat Kementerian. Sebelumnya, sektor ekonomi kreatif belum dikelola secara terkoordinasi di tingkat Kementerian tetapi tersebar di beberapa Kementerian yang terkait. Diangkatnya sektor ekonomi kreatif hingga di tingkat Kementerian oleh pemerintah, disebabkan oleh karena sektor ekonomi kreatif memiliki nilai strategis bagi Indonesia, yaitu: kontribusi ekonomi yang signifikan, penciptaan iklim bisnis yang positif, mengangkat citra dan identitas bangsa, menggunakan sumber daya terbarukan, mendorong terciptanya inovasi, dan memberikan dampak sosial yang positif.

    Pembangunan kepariwisataan dilakukan di daerah-daerah sehingga koordinasi dan kolaborasi pengembangan destinasi dan pemasaran wisata harus didorong pada tingkat daerah dengan menjunjung tinggi prinsip pembangunan berkeadilan.

    Pengembangan ekonomi kreatif akan difokuskan kepada penguatan pasar domestik dan inisiasi pengembangan pasar luar negeri dengan fokus pengembangan pada 5 aspek pengembangan ekonomi kreatif, meliputi: (1) pengembangan sumber daya dan teknologi; (2) pengembangan industri kreatif; (3) peningkatan peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku kreatif; (4)

    BAB I PENDAHULUAN

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 11

    peningkatan akses pasar bagi pelaku kreatif; dan (5) penguatan institusi yang terkait dengan ekonomi kreatif.

    Pengembangan ekonomi kreatif nasional tidak dapat dilepaskan dari peran serta ekonomi kreatif di daerah. Oleh karena itu, perkembangan ekonomi kreatif daerah penting untuk dipahami sehingga dapat mempercepat pengembangan ekonomi di daerah dengan berkoordinasi dan bekerjasama dengan Pemda. Model kerjasama sangat bergantung pada tingkat kematangan atau kemajuan ekonomi kreatif di daerah, sementara sektor yang akan dikembangkan bergantung pada prioritas sektor ekonomi kreatif daerah.

    Dalam melaksanakan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, Kemenparekraf berperan sebagai penggerak utama yaitu sebagai katalisator, advokator, regulator, koordinator, fasilitator, hub agency, public outreach, dan sekaligus sebagai konsumen, yang akan senantiasa menjaga keseimbangan aspek ekonomi, sosial dan budaya, serta lingkungan.

    Kontribusi Ekonomi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    Pariwisata dan ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Dampak kepariwisataan terhadap PDB nasional di tahun 2013 sebesar Rp. 347,35 triliun, 3,88% dari PDB nasional. Penciptaan PDB di sektor pariwisata terjadi melalui pengeluaran wisatawan nusantara, anggaran pariwisata pemerintah, pengeluaran wisatawan mancanegara, dan investasi pada usaha pariwisata yang meliputi: (1) Usaha daya tarik wisata; (2) Usaha kawasan pariwisata; (3) Jasa transportasi wisata; (4) Jasa perjalanan wisata; (5) Jasa makanan dan minuman; (6) Penyediaan akomodasi; (7) Penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; (8) Penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensidan pameran; (9) Jasa informasi pariwisata; (10) Jasa konsultan pariwisata; (11) Jasa pramuwisata; (12) Wisata tirta; dan (13) Spa. Di tahun 2013 ekonomi kreatif menciptakan nilai tambah sebesar Rp. 641,82 triliun, 7,05% dari PDB nasional, melalui 14 subsektor industri kreatif, yaitu: Arsitektur; Desain; Fesyen; Film, Video, dan Fotografi; Kerajinan; Teknologi Informasi dan Piranti Lunak; Musik; Pasar Barang Seni; Penerbitan dan Percetakan; Periklanan; Permainan Interaktif; Riset dan Pengembangan; Seni Pertunjukan; dan Televis dan Radio. Kontribusi ekonomi kreatif ini belum memperhitungkan subsektor kuliner yang juga memiliki potensi tinggi. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

    Selain pencipta nilai tambah, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyerap banyak tenaga kerja. Tahun 2013, dampak kepariwisataan terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 10,18 juta orang, 8,89% dari tenaga kerja nasional. Di tahun yang sama, ekonomi kreatif menyerap 11,87juta tenaga kerja, 10,72% dari total nasional. Strategi pro-poor dan pro-job sangat sesuai pada kedua sektor.

    Sektor pariwisata dan sektor ekonomi kreatif juga merupakan pencipta devisa yang tinggi. Tahun 2013 sektor pariwisata menciptakan devisa sebesar US$ 10,05 miliar, meningkat dari US$ 9,12 miliar di tahun 2012. Peningkatan penerimaan devisa di tahun 2013 tidak saja bersumber dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dari 8,04 juta di tahun 2012 dan menjadi 8,80 juta di tahun 2013, tetapi bersumber dari peningkatan rata-rata pengeluaran per

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 12

    kunjungan dari US$ 1.133,81 di tahun 2012, menjadi US$ 1.142,24 di tahun 2013. Dengan kata lain, peningkatan kuantitas devisa kepariwisataan diikuti dengan peningkatan kualitas. Sementara itu, sektor ekonomi kreatif menyumbang ekspor yang jauh lebih tinggi dari nilai impornya. Ekonomi kreatif menciptakan devisa melalui kontribusi net trade, mencapai 5,72% dari total nasional, atau senilai Rp 118,97 triliun di tahun 2013 (Sumber BPS).

    B. Gambaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    Kelembagaan

    Berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor PM.07/HK.001/MPEK/2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan unsur pelaksana pemerintah, dipimpin oleh seorang Menteri yang barada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden serta mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

    Dalam melaksanakan tugasnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memiliki tugas sebagai berikut:

    1. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif;

    2. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

    3. pengawasan dan pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

    4. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di daerah;

    5. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dibantu oleh 12 orang Eselon 1 yang terdiri atas Wakil Menteri, Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, 4 orang Direktur Jenderal, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta 4 orang Staf Ahli Menteri.

    C. Peran dan Fungsi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dalam Pembangunan Lintas Sektor

    Kelembagaan pariwisata adalah kesatuan unsur beserta jaringannya, meliputi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Permasalahan yang timbul pada kelembagaan kepariwisataan adalah koordinasi yang lemah antara antar pemerintah pusat mengenai integrasi regulasi. Hal ini menyebabkan kebijakan yang tidak sinkron dan harmonis, misalnya kebijakan peningkatan kedatangan wisman pasar Eropa tidak diikuti dengan kebijakan imigrasi untuk memudahkan perolehan visa Indonesia oleh warga negara Eropa.

    Koordinasi kelembagaan tersebut juga perlu dilakukan dalam rangka mengintegrasikan pemanfaatan investasi kepariwisataan. Dalam memanfaatkan investasi, Kementerian perlu melibatkan koordinasi pemerintah lintas sektoral, pemerintah daerah, perbankan, serta sektor swasta yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur kepariwisataan.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 13

    Peningkatan koordinasi lintas sektor pada tataran kebijakan, program, dan kegiatan kepariwisataan, berupa pendukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kepada instansi terkait terutama di bidang (a) pelayanan kepabeanan, keimigrasian, dan karantina; (b) keamanan dan ketertiban; (c) prasarana umum yang mencakup jalan, air bersih, listrik, telekomunikasi, dan kesehatan lingkungan; (d) transportasi darat, laut, dan udara; dan (e) bidang promosi dan kerja sama luar negeri; serta koordinasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.

    Peningkatan koordinasi lintas sektor terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan didukung oleh instansi terkait diantaranya untuk rencana aksi: 1) Peningkatan Integrasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Penguatan, melibatkan Kementerian Koordinator Kesra, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Kehutanan, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Pemda; 2) Peningkatan promosi pariwisata dalam dan luar negeri, melibatkan Kementerian Koordinasi Kesra, Kemenko Perekonomian, Kemenlu, Kemendag, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perhubungan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pusat Statistik (BPS), Pemerintah Daerah (Pemda).

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    BAB II PERENCANAAN DANPERJANJIAN KINERJA

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 14

    BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIN KINERJA

    A. Rencana Strategis

    Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di atur melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor PM.35/UM.001/MPEK/2012 tentang Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 – 2014.

    Renstra Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2012 – 2014 di dalamnya termuat 11 (sebelas) arah kebijakan yaitu:

    1. Penguatan sinergitas dan keterpaduan pemasaran dan promosi 18 lokasi destinasi pariwisata antar instansi pemerintah;

    2. Penguatan sinergitas dan keterpaduan pemasaran dan promosi 18 lokasi destinasi pariwisata antar instansi pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat;

    3. Peningkatan kualitas daerah tujuan wisata; 4. Penciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri pariwisata; 5. Penguatan sumber daya dan teknologi ekonomi kreatif; 6. Penguatan industri kreatif; 7. Peningkatan akses pembiayaan bagi industri kreatif; 8. Peningkatan apresiasi dan aksespasar di dalam dan luar negeri bagi industri

    kreatif; 9. Penguatan institusi bagi ekonomi kreatif; 10. Peningkatan kualitas penelitian kebijakan dan kapasitas SDM Pariwisata dan

    Ekonomi Kreatif; 11. Penguatan Reformasi Birokrasi.

    Kebijakan pembangunan kepariwisataan dan ekonomi kreatif tahun 2013 merupakan tahun keempat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014 yang tertuang pada Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2012 – 2014 sebagai berikut:

    Visi

    Terwujudnya Kesejahteraan dan Kualitas Hidup Masyarakat Indonesia dengan Menggerakkan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif.

    Misi

    1. Mengembangkan kepariwisataan berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan serta mampu mendorong pembangunan daerah;

    2. Mengembangkan ekonomi kreatif yang dapat menciptakan nilai tambah, mengembangkan potensi seni dan budaya Indonesia, serta mendorong pembangunan daerah;

    3. Mengembangkan sumberdaya pariwisata dan ekonomi kreatif secara berkualitas;

    4. Menciptakan tata pemerintahan yang responsif, transparan dan akuntabel.

    BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN

    KINERJA

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 15

    Tujuan

    1. Peningkatan kontribusi ekonomi kepariwisataan Indonesia; 2. Peningkatan daya saing kepariwisataan Indonesia; 3. Peningkatan kontribusi ekonomi dari industri kreatif; 4. Peningkatan apresiasi terhadap pelaku dan karya kreatif; 5. Peningkatan kapasitas dan profesionalisme SDM pariwisata dan ekonomi

    kreatif; 6. Penciptaan inovasi baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif; 7. Peningkatan kualitas kinerja organisasi Kemenparekraf; 8. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM Kemenparekraf.

    Sasaran

    1. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional;

    2. Meningkatnya kontribusi keparwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional;

    3. Meningkatnya investasi di sektor pariwisata; 4. Meningkatnya devisa dan pengeluaran wisatawan di Indonesia; 5. Meningkatnya kuantitas wisman ke Indonesia dan perjalanan wisnus; 6. Meningkatnya citra kepariwisataan Indonesia; 7. Terciptanya diversifikasi destinasi pariwisata; 8. Terciptanya pemasaran pariwisata yang efektif dan efisien; 9. Meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif; 10. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif; 11. Meningkatnya unit usaha di sektor ekonomi kreatif; 12. Meningkatnya konsumsi produk dan jasa kreatif lokal oleh masyarakat

    Indonesia; 13. Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi kreatif; 14. Terciptanya ruang publik bagi masyarakat; 15. Meningkatnya kualitas dan kuantitas lulusan pendidikan tinggi pariwisata; 16. Meningkatnya profesionalisme pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif; 17. Meningkatnya kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan kebijakan di

    sektor pariwisata dan ekonomi kreatif; 18. Meningkatnya kualitas konten dan jejaring pelaku ekonomi kreatif; 19. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan; 20. Meningkatnya kualitas pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi

    Pemerintah (SAKIP); 21. Terselenggaranya Reformasi Birokrasi; 22. Meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia Kemenparekraf; 23. Meningkatnya kuantitas Sumber Daya Manusia Kemenparekraf.

    Penetapan tujuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada umumnya didasarkan pada isu-isu strategis. Tujuan menunjukkan suatu kondisi yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang dan mengarahkan perumusan sasaran, program, serta kegiatan dalam rangka merealisasikan misi.

    Sasaran strategis adalah penjabaran dari Tujuan secara terukur, yaitu sesuatu yang akan dicapai/dihasilkan secara nyata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kurun waktu satu tahun. Penetapan Sasaran dirumuskan

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 16

    lebih spresifik, terukur, berorientasi pada hasil, dapat dicapai, dan memiliki kurun waktu satu tahun. Dalam sasaran dirancang pula Indikator pencapaian Sasaran, yaitu ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran yang telah diidentifikasi untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan dan disertai dengan targetnya masing-masing.

    Sasaran strategis, indikator, dan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kurun waktu tahun 2012 – 2014 dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

    No. Sasaran Indikator Program

    1. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

    2. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

    2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    3. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    3. Meningkatnya investasi di sektor pariwisata

    Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional (Persentase)

    4. Meningkatnya devisa dan pengeluaran wisatawan di Indonesia

    1. Jumlah penerimaan devisa wisatawan mancanegara (US$ miliar)

    2. Jumlah pengeluaran wisatawan nusantara (Rp triliun)

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 17

    No. Sasaran Indikator Program

    3. Jumlah pengeluaran per wisatawan mancanegara per kunjungan (US$)

    Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

    4. Jumlah pengeluaran per wisatawan nusantara per kunjungan (Rp ribu)

    5. Meningkatnya kuantitas wisatawan mancanegara ke Indonesia dan wisatawan nusantara

    1. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia (Juta orang)

    Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

    2. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (Juta perjalanan)

    6. Meningkatnya citra kepariwisataan Indonesia

    1. Daya saing kepariwisataan Indonesia (Nilai)

    Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

    2. Jumlah lokasi Kawasan Strategis Nasional (KSPN) yang difasilitasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola destinasi (Destinasi Management Organization (DMO)) (Lokasi)

    7. Terciptanya diversifikasi destinasi pariwisata

    1. Jumlah lokasi daya tarik di Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang dikembangkan menjadi destinasi pariwisata (Daerah)

    2. Jumlah desa yang difasilitasi untuk dikembangkan sebagai desa wisata (Desa)

    3. Jumlah pola perjalanan yang dikembangkan (Pola)

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 18

    No. Sasaran Indikator Program

    8. Terciptanya pemasaran pariwisata yang efektif dan efisien

    1. Rasio konsentrasi 5 pasar utama asal wisatawan mancanegara ke Indonesia (persentase)

    Program Pemasaran Pariwisata

    2. Jumlah Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di mancanegara (Lokasi)

    3. Produktivitas investasi pemasaran luar negeri (Kali)

    4. Produktivitas investasi pemasaran dalam negeri (Kali)

    9. Meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif

    Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional (Persentase)

    Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    10. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif

    1. Tingkat partisipasi tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    2. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    11. Meningkatnya unit usaha sektor ekonomi kreatif

    Kontribusi unit usaha di sektor ekonomi kreatif terhadap unit usaha nasional (Persentase)

    12. Meningkatnya konsumsi produk dan jasa kreatif lokal oleh masyarakat Indonesia

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan akses pasar (Orang)

    Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    2. Pertumbuhan konsumsi karya kreatif lokal di dalam negeri (Persentase)

    13. Terciptanya ruang publik bagi masyarakat

    Jumlah pengembangan zona kreatif di Indonesia (Zona)

    Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 19

    No. Sasaran Indikator Program

    14. Meningkatnya kualitas dan kuantitas lulusan pendidikan tinggi pariwisata

    Jumlah lulusan pendidikan tinggi kepariwisataan yang terserap di pasar kerja (Orang)

    Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    15. Meningkatnya profesionalisme pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah standar kompetensi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Naskah SKKNI)

    2. Jumlah tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang disertifikasi (Orang)

    16. Meningkatnya kualitas penelitian dan kajian bidang pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor pariwisata (Kajian)

    Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    2. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor ekonomi kreatif (Kajian)

    17. Meningkatnya kualitas konten dan jejaring pelaku di sektor ekonomi kreatif

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan kemampuan kreasi dan produksi (orang)

    Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, dan Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IptekI 2. Jumlah pelaku kreatif yang

    mengalami penguatan jejaring (orang)

    18. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan

    Opini keuangan Kemenparekraf (Peringkat)

    Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya Kemenparekraf 19. Meningkatnya kualitas

    pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

    Predikat SAKIP Kemenparekraf (Predikat)

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 20

    No. Sasaran Indikator Program

    20. Terselenggaranya Reformasi Birokrasi

    Nilai Quality Assurance (QA) Reformasi Birokrasi (Nilai)

    Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya Kemenparekraf

    B. Penetapan/Perjanjian Kinerja

    Tahun 2013 merupakan tahun keempat dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif secara terencana dan berkesinambungan melaksanakan program dan kegiatan yang telah ditetapkan, termasuk didalamnya adalah Perencanaan Kinerja 2013 yang merupakan proses perencanaan kinerja yang didokumentasikan dalam Rencana Kinerja Tahunan (Annual Performance Plan).

    Penyusunan rencana kinerja ini dilakukan seiring dengan agenda penyusunan dan kebijakan anggaran. Setelah anggaran 2013 ditetapkan maka disusunlah Penetapan Kinerja 2013 yang merupakan tekad dan janji rencana kinerja tahunan yang akan dicapai dan disepakati antara pihak yang menerima amanah/tugas dan pihak yang memberi amanah/tugas dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada.

    Secara umum tujuan penetapan kinerja/perjanjian kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun Anggaran 2013, antara lain:

    1. Meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    2. Mendorong komitmen penerima amanah untuk melaksanakan tugas yang diterima dan terus meningkatkan kinerjanya.

    3. Menciptakan alat pengendalian manajemen yang praktis bagi pemberi amanah. 4. Menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur di

    lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 5. Menilai adanya keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan dan

    sasaran suatu organisasi, sekaligus sebagai dasar dalam pemberian penghargaan (reward) maupun sanksi (punishment).

    Salah satu alat ukur keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan dan/atau sasaran atau kegiatan utama dan dapat digunakan sebagai fokus perbaikan kinerja di masa depan adalah Indikator Kinerja Utama. Dengan telah ditetapkannya Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai indikator keberhasilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, maka IKU harus terdapat dalam perencanaan kinerja.

    Sasaran strategis tahun 2013, indikator kinerja dan target kinerja disajikan pada tabel berikut:

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 21

    No. Sasaran Indikator Target Program

    1. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    4,2 Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

    2. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    8,35 Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

    2. Kontribusi sektor

    pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    7,09

    3. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    13,54

    3. Meningkatnya investasi di sektor pariwisata

    Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional (Persentase)

    4,64

    4. Meningkatnya devisa dan pengeluaran wisatawan di Indonesia

    1. Jumlah penerimaan devisa wisatawan mancanegara (US$ miliar)

    10,35

    2. Jumlah pengeluaran wisatawan nusantara (Rp triliun)

    178,62

    3. Jumlah pengeluaran per wisatawan mancanegara per kunjungan (US$)

    1.150

    4. Jumlah pengeluaran per wisatawan nusantara per kunjungan (Rp ribu)

    714,5

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 22

    No. Sasaran Indikator Target Program

    5. Meningkatnya kuantitas wisatawan mancanegara ke Indonesia dan wisatawan nusantara

    1. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia (Juta orang)

    8,6

    Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

    2. Jumlah perjalanan wisnus (Juta perjalanan)

    250

    6. Meningkatnya citra kepariwisataan Indonesia

    1. Daya saing kepariwisataan Indonesia (Nilai)

    4,08 Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

    2. Jumlah lokasi Kawasan Strategis Nasional (KSPN) yang difasilitasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola destinasi (Destinasi Management Organization (DMO)) (Lokasi)

    15

    7. Terciptanya diversifikasi destinasi pariwisata

    1. Jumlah lokasi daya tarik di Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang dikembangkan menjadi destinasi pariwisata (Daerah)

    29

    2. Jumlah desa yang difasilitasi untuk dikembangkan sebagai desa wisata (Desa)

    980

    3. Jumlah pola perjalanan yang dikembangkan (Pola)

    20

    8. Terciptanya pemasaran pariwisata yang efektif dan efisien

    1. Rasio konsentrasi 5 pasara utama asal wisatawam mancanegara ke Indonesia (persentase)

    63,5 Program Pemasaran Pariwisata

    2. Jumlah Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di mancanegara (Lokasi)

    14

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 23

    No. Sasaran Indikator Target Program

    3. Produktivitas investasi pemasaran luar negeri (Kali)

    530 Program Pemasaran Pariwisata

    4. Produktivitas investasi pemasaran dalam negeri (Kali)

    1.850

    9. Meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif

    Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional (Persentase)

    7,38 Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya; dan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek

    10. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif

    1. Tingkat partisipasi tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    8,35

    2. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    3,58

    11. Meningkatnya unit usaha sektor ekonomi kreatif

    Kontribusi unit usaha di sektor ekonomi kreatif terhadap unit usaha nasional (Persentase)

    7,31

    12. Meningkatnya konsumsi produk dan jasa kreatif lokal oleh masyarakat Indonesia

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan akses pasar (Orang)

    1.400 Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya; dan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek

    2. Pertumbuhan konsumsi karya kreatif lokal di dalam negeri (Persentase)

    10,07

    13. Terciptanya ruang publik bagi masyarakat

    Jumlah pengembangan zona kreatif di Indonesia (Zona)

    10 Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 24

    No. Sasaran Indikator Target Program

    14. Meningkatnya kualitas dan kuantitas lulusan pendidikan tinggi pariwisata

    Jumlah lulusan pendidikan tinggi kepariwisataan yang terserap di pasar kerja (Orang)

    1.443 Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    15. Meningkatnya profesionalisme pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah standar kompetensi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Naskah SKKNI)

    7

    2. Jumlah tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang disertifikasi (Orang)

    9.000

    16. Meningkatnya kualitas penelitian dan kajian bidang pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor pariwisata (Kajian)

    12 Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    2. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor ekonomi kreatif (Kajian)

    8

    17. Meningkatnya kualitas konten dan jejaring pelaku di sektor ekonomi kreatif

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan kemampuan kreasi dan produksi (orang)

    4.130 Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya; dan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek

    2. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami penguatan jejaring (orang)

    2.885

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 25

    No. Sasaran Indikator Target Program

    18. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan

    Opini keuangan Kemenparekraf (Peringkat)

    WTP Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya Kemenparekraf

    19. Meningkatnya kualitas pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

    Predikat SAKIP Kemenparekraf (Predikat)

    B

    20. Terselenggaranya Reformasi Birokrasi

    Nilai Quality Assurance (QA) Reformasi Birokrasi (Nilai)

    70

    C. Anggaran 2013

    Proses alokasi anggaran Tahun 2013 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari awal sampai dengan akhir, adalah sebagai berikut :

    NO. URAIAN PAGU

    (Rp.) DASAR

    1. Pagu Indikatif 2.052.961.873.000,- Surat Menteri Keuangan Nomor S-769/MK.02/2012 tanggal 23 Oktober 2012

    2. Penghematan 119.957.089.000,- 120.056.401.000,-

    Surat Menteri Keuangan Nomor S-407/MK.02/2013 tanggal 18 Juni 2013

    3. Reward 99.312.000,-

    4. Realokasi 27.500.000.000,-

    5. Pagu Anggaran Revisi

    1.933.104.096.000,-

    Dan alokasi anggaran sebesar Rp 1.933.104.096.000,- tersebut terbagi dalam 4 (empat) jenis belanja, sebagai berikut : 1. Belanja Pegawai : Rp 239.837.841.000,- 2. Belanja Barang : Rp 1.487.226.342.000,- 3. Belanja Modal : Rp 100.514.913.000,- 4. Belanja Bansos : Rp 105.525.000.000,-

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 26

    A. Ikhtisar Capaian Kinerja 2013

    Berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor PM.55/HK.001/MPEK/2012, tanggal 16 Juli 2012, tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sebagai acuan ukuran kinerja yang digunakan oleh masing-masing unit kerja di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam menyusun perencanaan dan penganggaran kinerja, pengukuran kinerja, dan evaluasi kinerja.

    Berikut ini akan diuraikan Realisasi Pencapaian Sasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2013, yang diukur dengan menggunakan Indikator Kinerja Utama yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian (%)

    1. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Doemestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    4,2 3,88 92,38

    2. Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    8,35 10,18 121,92

    2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    7,09 8,89 125,39

    3. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    13,54 34,12 252,00

    BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 27

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian (%)

    3. Meningkatnya investasi di sektor pariwisata

    Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional (Persentase)

    4,64 2,97 64

    4. Meningkatnya devisa dan pengeluaran wisatawan di Indonesia

    1. Jumlah penerimaan devisa wisatawan mancanegara (US$ miliar)

    10,35 10,05 97,1

    2. Jumlah pengeluaran wisatawan nusantara (Rp triliun)

    178,62 176,32 98,71

    3. Jumlah pengeluaran per wisatawan mancanegara per kunjungan (US$)

    1.150 1.142,24 99,33

    4. Jumlah pengeluaran per wisatawan nusantara per kunjungan (Rp ribu)

    714,5 711 99,51

    5. Meningkatnya kuantitas wisatawan mancanegara ke Indonesia dan wisatawan nusantara

    1. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia (Juta orang)

    8,6 8,8 100,20

    2. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (Juta perjalanan)

    250 248 99,20

    6. Meningkatnya citra kepariwisataan Indonesia

    1. Daya saing kepariwisataan Indonesia (Nilai)

    4,08 n/a n/a

    2. Jumlah lokasi Kawasan Strategis Nasional (KSPN) yang difasilitasi untuk meningkatkan kualitas tata kelola destinasi (Destinati-on Management Organization (DMO)) (Lokasi)

    15 15 100

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 28

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian (%)

    7. Terciptanya diversifikasi destinasi pariwisata

    1. Jumlah lokasi daya tarik di Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang dikembangkan menjadi destinasi pariwisata (Daerah)

    29 29 100

    2. Jumlah desa yang difasilitasi untuk dikembangkan sebagai desa wisata (Desa)

    980 980 100

    3. Jumlah pola perjalanan yang dikembangkan (Pola)

    20

    16 80

    8. Terciptanya pemasaran pariwisata yang efektif dan efisien

    1. Rasio konsentrasi 5 pasar utama asal wisatawan mancanegara ke Indonesia (CR5) (%)

    63,5 50,81 %

    (Jan-Nov)

    119,98

    (Jan-Nov)

    2. Jumlah Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di mancanegara (Lokasi)

    14 14 100,00

    3. Produktivitas investasi pemasaran luar negeri (Kali)

    530 591,45 111,59

    4. Produktivitas investasi pemasaran dalam negeri (Kali)

    1.850 2.161,09 116,82

    9. Meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif

    Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional (Persentase)

    7,38

    7,05

    95,53

    10. Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif

    1. Tingkat partisipasi tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    8,35

    10,72

    128,32

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 29

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian (%)

    2. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (Persentase)

    3,58

    10,21

    285,19

    11. Meningkatnya unit usaha sektor ekonomi kreatif

    Kontribusi unit usaha di sektor ekonomi kreatif terhadap unit usaha nasional (Persentase)

    7,31

    9,68

    132,42

    12. Meningkatnya konsumsi produk dan jasa kreatif lokal oleh masyarakat Indonesia

    1. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami peningkatan akses pasar (Orang)

    1.400

    3.288

    234,86

    2. Pertumbuhan konsumsi karya kreatif lokal di dalam negeri (Persentase)

    10,07

    18,06

    179,34

    13. Terciptanya ruang publik bagi masyarakat

    Jumlah pengembangan zona kreatif di Indonesia (Zona)

    10 13 130

    14. Meningkatnya kualitas dan kuantitas lulusan pendidikan tinggi pariwisata

    Jumlah lulusan pendidik-an tinggi kepariwisataan yang terserap di pasar kerja (Orang)

    1.443 1.437 99,6

    15. Meningkatnya profesionalisme pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah standar kompetensi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Naskah SKKNI)

    7 7 100

    2. Jumlah tenaga kerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang disertifikasi (Orang)

    9.000 11.500 127,8

    16. Meningkatnya kualitas penelitian dan kajian bidang pariwisata dan ekonomi kreatif

    1. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor pariwisata (Kajian)

    12 11 92,7

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 30

    No. Sasaran Indikator

    2013

    Target Realisasi Capaian (%)

    2. Jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor ekonomi kreatif (Kajian)

    8 8 100

    17.

    Meningkatnya kualitas konten dan jejaring pelaku di sektor ekonomi kreatif

    1. Jumlah pelaku kreatif yang menga-lami peningkatan kemampuan kreasi dan produksi (orang)

    4.130

    9.219

    223,22

    2. Jumlah pelaku kreatif yang mengalami penguatan jejaring (orang)

    2.885

    4.989

    172,93

    18. Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan

    Opini keuangan Kemenparekraf (Peringkat)

    WTP Masih proses

    pemeriksaan BPK

    -

    19. Meningkatnya kualitas pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

    Predikat SAKIP Kemenparekraf (Predikat)

    B B+ 100

    20. Terselenggaranya Reformasi Birokrasi

    Nilai Quality Assurance (QA) Reformasi Birokrasi (Nilai)

    70 74,53 106,47

    Jumlah Anggaran Tahun 2013 ..................... Rp 1.933.104.096.000,- Jumlah Realisasi Anggaran Tahun 2013 ...... Rp.1.622.218.608.766,-

    B. Capaian dan Analisis Kinerja 2013

    Ditinjau dari capaian kinerja masing-masing sasaran untuk tahun 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah dapat melaksanakan tugas utama yang menjadi tanggung jawab organisasi. Berikut ini akan diuraikan kinerja dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berdasarkan masing-masing sasaran strategis yang telah ditetapkan.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 31

    1 Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Di tahun 2013 ini sasaran “Meningkatnya kontribusi kepariwisataaan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional”, merupakan sasaran utama untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kepariwisataan terhadap pemasukan yang didapat oleh suatu negara khususnya Indonesia.

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional, yaitu persentase dari dampak yang dihasilkan oleh sektor pariwisata, baik yang bersifat langsung maupun tak langsung, terhadap nilai PDB nasional. Perhitungan indikator ini dilakukan oleh Puslitbang Kemenparekraf dan dilaporkan sebagai cerminan keberhasilan pemasaran pariwisata untuk meningkatkan kedatangan dan perjalanan wisatawan di Indonesia yang berkualitas sehingga mampu meningkatkan PDB sektor pariwisata.

    Indikator kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional merupakan dukungan Kemenparekraf terhadap peningkatan laju pertumbuhan ekonomi nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi kontribusi PDB sektor pariwisata, semakin penting pula posisi sektor kepariwisataan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kontribusi ini diupayakan seiring dengan penciptaan lingkungan sosial budaya yang berkualitas, penciptaan rekreasi dan pemanfaatan waktu senggang yang berkualitas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui tingkat hidup yang berkualitas.

    Indikator keberhasilan sasaran, berikut target dan realisasinya adalah sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU) Target Realisasi

    Capaian (%)

    1. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    4,2 3,88 92,38

    Rata-rata dampak kepariwisataan terhadap PDB Nasional pada periode 2011-2013 adalah sebesar 3,95%, dimana tahun 2013 diperkirakan sebesar 3,88% dengan total nilai sebesar 347,57 triliun rupiah atau tumbuh dari tahun 2011 sebesar 4,00% dengan total nilai sebesar 296,97 triliun rupiah, sedangkan kontribusi kepariwisataan terhadap PDB Nasional tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 0,04 poin dari tahun 2011 sebesar 4%, yang disebabkan penurunan kontribusi sektor restoran dan angkutan udara, yaitu sebesar 0,64% dan 20%.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 32

    Jika dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2013 dengan capaian kinerja tahun 2012, maka dapat disandingkan kondisi realisasi dan capaian kinerja sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU)

    2013 2012

    Realisasi Capaian

    (%) Realisasi

    Capaian (%)

    1. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional (persentase)

    3,88 92,38 3,96 95,43

    Dari tabel di atas nampak bahwa realisasi di tahun 2013 menurun jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2012.

    Apabila dilihat sejak awal RPJMN, terlihat grafik tren kontribusi Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mengalami peningkatan yang signifikan, sebagaimana terlihat dalam Tabel berikut ini.

    Tabel III. 1 Perbandingan Pendapatan PDB 2011 – 2013

    No. Sektor PDB Pariwisata (miliar Rp) Pertumbuhan

    (%) 2011 2012 2013*

    1. Pertanian 30.467,30 32.512,3 36.494,89 13,6

    2. Pertambangan & Penggalian 14.938,50 16.347,0 17.029,11 4,2

    3. Industri 75.562,40 84.191.0 84.633,42 0,5

    4. Listrik, gas dan air 1.757,20 1.930,3 2.039,43 5,7

    5. Konstruksi 32.990,80 35.369,3 35.729,28 1,0

    6. Perdagangan 18.192,00 19.640,6 21.249,42 8,2

    7. Restoran 26.409,00 24.904,6 32.316,42 29,8

    8. Hotel 24.320,40 30.023,3 30.169,37 0,5

    9. Angkutan Darat 17.576,10 21.898,1 22.238,61 1,6

    10. Angkutan Air 3.050,00 3.142,6 3.596,63 14,4

    11. Angkutan Udara 14.771,90 14.529,9 17.356,52 19,5

    12. Jasa Penunjang Angkutan 5.696,20 6.090,3 6.915,09 13,5

    13. Komunikasi 6.144,40 7.202,6 7.412,11 2,9

    14. Jasa Lainnya 25.092,30 28.458,5 29.719,70 4,4

    Total 296.968,50 326.240,7 347.355,00 6,5

    PDB Nasional Harga Berlaku (Triliun Rp)

    7.427,09 8.241,86 8.955,33 8,7

    Persentase kontribusi 4,00% 3,96% 3,88%

    Sumber: Neraca Satelit Pariwisata Nasional Ket:* Angka Estimasi

    Dampak perekonomian terbesar sektor kepariwisataan terjadi pada penyerapan tenaga kerja sebanyak 8,89% terhadap kesempatan kerja nasional di tahun 2013* atau sekitar 10,18 juta orang yang berada pada sektor-sektor terkait kepariwisataan.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 33

    Sementara dampak sektor kepariwisataan terhadap PDB, upah atau gaji dan pajak tidak langsung berada pada kisaran 3-4%. Berikut grafik dampak kepariwisataan terhadap PDB dikontribusikan oleh kegiatan kepariwisataan:

    Grafik III. 1 Kontribusi Kepariwisataan Terhadap PDB Nasional

    Tabel III. 2 Dampak Ekonomi Makro Berdasarkan Neraca Satelit Pariwisata Nasional (NESPARNAS), 2010 - 2013

    TAHUN

    KOMPONEN OUTPUT

    Dampak terhadap Output Dampak terhadap PDB Dampak terhadap

    Tenaga Kerja Dampak terhadap

    Upah/Gaji Dampak terhadap

    Pajak Tak Langsung

    Pariwisata Nasional Share

    (%) Pariwisata Nasional

    Share (%)

    Pariwisata Nasional Share

    (%) Pariwisata Nasional

    Share (%)

    Pariwisata Nasional Share

    (%)

    2010 565,15 11.956,62 4,73 261,06 6.422,92 4,06 7,44 108,21 6,87 84,80 1.831,09 4,63 9,35 225,10 4,16

    2011 648,49 14.934,02 4,34 296,97 7.427,09 4,00 8,53 109,95 7,75 96,57 2.307,21 4,14 10,72 278,28 3,85

    2012 709,18 16.595,58 4,27 326,24 8.241,86 3,96 9,35 110,81 8,46 105,93 2.572,45 4,12 11,77 308,29 3,82

    2013* 752,47 18.032,20 4,17 347,35 8.955,33 3,88 10,18 114,02 8,89 112,94 2.811,85 4,00 12,56 333,17 3,76

    Sumber : NESPARNAS 2010 - 2013

    Keterangan : Angka dalam triliun rupiah kecuali tenaga kerja dalam juta orang

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 34

    Grafik III. 2 Peningkatan PDB Pariwisata

    *) angka sementara

    Berdasarkan data Nesparnas 2010 – 2013 dapat diketahui bahwa dampak pariwisata terhadap PDB Nasional mengalami penurunan sejak 2010 – 2013. Berdasarkan pada data tahun 2010 penurunan sebesar 4,06%, dan pada tahun 2013 menjadi 3,88%. hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor penghasil devisa negara lain yang juga meningkat sehingga share PDB dari bidang pariwisata menjadi menurun.

    Sesungguhnya PDB yang dihasilkan dari pariwisata nasional mengalami peningkatan yang cukup berarti tiap tahunnya. Pada tahun 2010 pariwisata menghasilkan PDB sebesar 218,8 triliun rupiah dan meningkat di tahun 2011 menjadi 238,5 triliun rupiah, di tahun 2012 sebesar 260,7, serta pada tahun 2013 nilai devisa mencapai 326,24 triliun rupiah, sedang berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan pergerakan wisatawan nusantara pada tahun 2013 diperkirakan meningkat menjadi 347,35 triliun rupiah.

    Program & Kegiatan yang mendukung tercapainya indikator Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional antara lain yang terkait langsung dengan pariwisata, seperti sektor perhotelan, restoran, transportasi, dan jasa lainnya khususnya industri hiburan, maupun yang tidak terkait langsung seperti: pertanian, listrik, gas dan air, konstruksi, perdagangan, industri, dan komunikasi.

    Permasalahan dalam pencapaian indikator Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional adalah semakin ketatnya persaingan antarnegara dalam menciptakan destinasi pariwisata yang mampu mendatangkan wisatawan dan investor, serta semakin pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 35

    2 Meningkatnya kontribusi kepariwisataan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional

    Di tahun 2013 ini sasaran “Meningkatnya kontribusi kepariwisataaan terhadap kualitas dan kuantitas tenaga kerja nasional”, ditandai oleh banyaknya jumlah tenaga kerja di sektor pariwisata maupun peningkatan kualitas yang dihasilkan. Semakin banyaknya usaha-usaha di bidang pariwisata, maka sektor pariwisata memiliki kontribusi yang semakin tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja di bidang tersebut.

    a. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata

    Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata, yaitu total tenaga kerja yang terserap di sektor-sektor perekonomian akibat adanya aktivitas pariwisata, baik langsung, tidak langsung, maupun ikutan. Sektor pariwisata memberi dampak yang cukup tinggi dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Penciptaan lapangan pekerjaan sudah dimulai sejak wisatawan akan berangkat (tenaga kerja jasa perjalanan wisata), tiba di bandara (porter, tenaga kerja pengangkutan), dan ketika melakukan aktivitas perjalanan wisata (pemandu wisata dan penginapan).

    Indikator keberhasilan sasaran, berikut target dan realisasinya adalah sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU) Target Realisasi

    Capaian (%)

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    8,35 10,18 121,92

    Sumber: Kemenparekraf, 2014

    Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata mengalami kenaikan dan melebihi target yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 10,18 juta orang atau tercapai sebesar 121,92%. Pencapaian ini karenakan hal-hal sebagai berikut: 1. Meningkatnya investasi di bidang pariwisata terutama dari sisi penanaman modal

    dalam negeri, membuka banyak peluang usaha baru. Hal tersebut dapat dilihat

    dari jumlah industri pariwisata yang mengalami pertumbuhan signifikan seperti

    terlihat dalam di bawah ini.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 36

    Tabel III. 3 Tren Kenaikan Usaha Pariwisata Bidang Akomodasi

    TAHUN HOTEL BERBINTANG AKOMODASI LAINNYA

    2013 1.778 14.907

    2012 1.623 14.375

    2011 1.489 13.794

    2010 1.306 13.281

    Total 6.196 56.357

    Sumber: BPS, 2014

    2. Dengan diterapkannya Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    tentang Standar Usaha Pariwisata yaitu Peraturan Menteri Pariwisata dan

    Ekonomi Kreatif Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 tentang Standar Usaha

    Hotel dan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonom Kreatif Nomor 2 Tahun

    2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah. Pariwisata

    memberi dampak pada jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung maupun

    ikutan sektor pariwisata yang diserap oleh industri pariwisata untuk memenuhi

    standar yang telah ditetapkan.

    3. Meningkatnya jumlah usaha pariwisata, terlebih lagi dengan telah ditetapkannya

    13 usaha pariwisata melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang

    Kepariwisataan, akan berdampak kepada jumlah tenaga kerja langsung, tidak

    langsung maupun ikutan sektor pariwisata.

    Jumlah tenaga kerja yang disertifikasi sampai dengan tahun 2013, dapat dilihat

    dalam tabel di bawah ini.

    Jika dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2013 dengan capaian kinerja tahun 2012, maka dapat disandingkan kondisi realisasi dan capaian kinerja sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU)

    2013 2012

    Realisasi Capaian

    (%) Realisasi

    Capaian (%)

    1. Jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (juta orang)

    10,18 121,92 9,35 116,44

    Dari tabel di atas nampak bahwa realisasi di tahun 2013 sebesar 10,18 juta orang meningkat sebesar 0,83% jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2012 sebesar 9,35 juta orang.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 37

    Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2013 yang mendukung kepada keberhasilan pencapaian sasaran tersebut antara lain: 1. Penyusunan Peraturan Menteri tentang Standar Usaha Pariwisata dimana setiap

    usaha pariwisata wajib untuk menerapkan standar minimal dalam beroperasi

    Grafik Jumlah Standar Usaha yang telah menerapkan standar minimal, belum

    bisa ditampilkan, karena masih berupa rancangan Peraturan Menteri, sehingga

    belum bisa diterapkan oleh pelaku usaha pariwisata.

    2. Advokasi/pendampingan Tanda Daftar Usaha Pariwisata untuk memberikan

    pendampingan sekaligus sosialisasi bagi pengusaha yang ingin berusaha di

    bidang pariwisata

    3. Fasilitasi Pengembangan Wisata Special Event dalam rangka memberikan

    pengetahuan kepada masyarakat yang tertarik untuk mengembangkan wisata

    minat khusus, sehingga dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan jumlah

    tenaga kerja di bidang pariwisata.

    b. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional

    Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional merupakan rasio persentase antara dampak pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja, dibandingkan dengan jumlah pekerja nasional. Indikator ini merupakan cerminan dukungan Kemenparekraf dalam penciptaan lapangan kerja dan menurunkan angka pengangguran, pengurangan kemiskinan nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor kepariwisataan. Semakin tinggi nilai kontribusi, maka semakin tinggi pula peran sektor kepariwisataan dalam penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Indikator keberhasilan yang kedua dari sasaran tersebut di atas, berikut target dan realisasinya adalah sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU) Target Realisasi

    Capaian (%)

    2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    7,09 8,89 125,39

    Sumber: Kemenparekraf, 2014

    Dari tabel di atas terlihat bahwa capaian dari indikator kinerja sasaran “Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional” terealisasi sebesar 8,89% dari target yang ditetapkan atau capaian sebesar 125,5%. Indikator ini merupakan perbandingan jumlah tenaga kerja di bidang pariwisata terhadap total tenaga kerja secara keseluruhan.

    Faktor yang mempengaruhi pencapaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kemudahan berusaha yang diberikan oleh Pemerintah dalam berusaha di bidang

    pariwisata secara tidak langsung berimbas pada meluasnya lapangan usaha dan

    jumlah tenaga kerja di bidang pariwisata.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 38

    2. Pelatihan/bimbingan teknis di bidang pariwisata, seperti pengelolaan daya tarik

    wisata buatan, alam dan budaya.

    3. Semakin banyaknya lapangan kerja di bidang pariwisata yang analog dengan

    meningkatnya jumlah industri pariwisata.

    Jika dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2013 dengan capaian kinerja tahun 2012, maka dapat disandingkan kondisi realisasi dan capaian kinerja sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU)

    2013 2012

    Realisasi Capaian

    (%) Realisasi

    Capaian (%)

    1. Kontribusi sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja nasional (persentase)

    8,89 125,39 8,46 120,86

    Dari tabel di atas nampak bahwa realisasi di tahun 2013 meningkat sebesar 0,43% jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2012.

    Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2013 yang mendukung kepada keberhasilan pencapaian sasaran tersebut antara lain: 1. Workshop Pengembangan Incentive Travel di Indonesia dalam rangka

    meningkatkan kualitas, baik biro perjalanan wisata sendiri maupun tenaga kerja di dalamnya.

    2. Advokasi Tata Cara Pendaftaran usaha Pariwisata untuk memberikan pendampingan bagi masyarakat yang akan berusaha di bidang pariwisata.

    3. Bimbingan teknis pengelolaan daya tarik wisata buatan, alam dan budaya.

    c. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor

    pariwisata

    Kualitas dampak sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja dapat diukur salah satunya berdasarkan produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan tenaga kerja ikutan sektor pariwisata.

    Indikator keberhasilan yang ketiga dari sasaran tersebut di atas, berikut target dan realisasinya adalah sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU) Target Realisasi

    Capaian (%)

    3. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    13,54 34,12 252,00

    Sumber: Kemenparekraf, 2014

    Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata dinilai berdasarkan PDB Pariwisata dibagi jumlah tenaga kerja. Berdasarkan

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 39

    produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata tercapai sebesar Rp 34,12 juta pertahun atau 252,00%.

    Produktivitas tenaga kerja secara umum dapat diartikan sebagai tingkatan

    efisiensi dalam memproduksi barang dan jasa. Meningkatnya produktivitas pariwisata pada tahun 2013 disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Meningkatnya kemampuan SDM di bidang pariwisata, dimana Kementerian

    Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyusun Sertifikasi Kompetensi Bidang Pariwisata. Adapun hingga tahun 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah melakukan sertifikasi kepada tenaga kerja di bidang pariwisata sebagai berikut:

    Tabel III. 4 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai Dengan Tahun 2013 berdasarkan Provinsi

    No. PROVINSI 2010 2011 2012 2013

    JUMLAH YANG

    DISERTIFIKASI S.D. 2013

    1 DKI JAKARTA 600 2.845 1.960 1.010 6.415

    2 BALI 650 2.040 2.060 1.000 5.750

    3 JAWA BARAT 300 1.090 1.420 560 3.370

    4 JAWA TENGAH - 620 1.740 940 3.300

    5 JAWA TIMUR 575 1.450 1.700 960 4.685

    6 SUMUT 300 650 1.170 620 2.740

    7 KEP. RIAU 600 880 990 270 2.740

    8 SULSEL 275 580 1.050 490 2.395

    9 DI YOGYAKARTA 325 1.260 1.300 810 3.695

    10 KALTIM - 520 880 220 1.996

    11 BANTEN - 440 360 190 990

    12 RIAU - 420 680 220 1.320

    13 SUMSEL 300 260 740 180 1.480

    14 SUMBAR 300 440 400 130 1.270

    15 KALSEL - 240 420 100 760

    16 SULUT 375 400 380 280 1.435

    17 NTB 400 480 680 350 1.910

    18 BABEL - 100 240 130 470

    19 JAMBI - 100 260 140 500

    20 KALBAR - 100 260 210 570

    21 MALUKU - 100 390 400 890

    22 MALUKU UTARA - 40 420 100 560

    23 NTT - 420 420 370 1.210

    24 LAMPUNG - - 200 100 300

    25 PAPUA - 40 240 330 610

    26 PAPUA BARAT - - 100 250 350

    27 BENGKULU - - 100 140 240

    28 KALTENG - - 100 180 280

    29 SULTRA - - 150 150 300

    30 GORONTALO - - 100 130 230

    31 SULBAR - - 150 100 250

    32 ACEH - - 280 340 620

    33 SULTENG - - 160 100 260

    JUMLAH 5.000 15.515 21.500 11.500 53.515

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 40

    Tabel III. 5 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai Dengan Tahun 2013 berdasarkan Kegiatan

    No. KEGIATAN 2010 2011 2012 2013

    JUMLAH YANG

    DISERTIFIKASI S.D. 2013

    1 Hotel & Restoran 3.100 9.400 9.590 4.870 26.960

    2 SPA 800 2.975 3.660 1.850 9.285

    3 BPW 350 1.000 1.700 820 3.870

    4 KEP. Wisata 250 1.170 2.000 1.220 4.640

    5 Tour Leader 250 200 - - 450

    6 Jasa Boga - - 1.800 640 2.440

    7 MICE - 290 800 720 1.810

    8 KEP. Ekowisata - 220 500 420 1.140

    9 KEP. Arung Jeram - - 500 200 700

    10 KEP. Wisata Selam

    150 120 650 450 1.370

    11 KEP. Museum 100 140 300 310 850

    JUMLAH 5.000 15.515 21.500 11.500 53.515

    Grafik III. 3 Tenaga Kerja Yang Disertifikasi Sampai Dengan Tahun 2013

    2. Memotivasi tenaga kerja untuk terus menjadi lebih baik dalam bekerja. Hal tersebut dilakukan melalui bimbingan teknis dan workshop di bidang pengembangan destinasi pariwisata.

    3. Menyusun Peraturan Menteri tentang Standar Usaha Pariwisata, dimana setiap usaha pariwisata dituntut untuk memenuhi standar minimum dalam mengoperasikan usahanya. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 41

    menuntut tenaga kerja untuk lebih produktif dan memenuhi standar-standar pelayanan dalam bekerja.

    Jika dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2013 dengan capaian kinerja tahun 2012, maka dapat disandingkan kondisi realisasi dan capaian kinerja sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU)

    2013 2012

    Realisasi Capaian

    (%) Realisasi

    Capaian (%)

    1. Produktivitas tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata (Rp juta/TK/tahun)

    34,12 252,00 34,89 275,6

    Dari tabel di atas nampak bahwa realisasi di tahun 2013 menurun jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2012.

    Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2013 yang mendukung

    kepada keberhasilan pencapaian sasaran tersebut antara lain: 1. Bimbingan teknis pelayanan prima dalam rangka memberikan motivasi kepada

    tenaga kerja untuk memberikan pelayanan yang optimal di pintu gerbang utama

    bandara-bandara di Indonesia.

    2. Bimbingan teknis pengelolaan daya tarik wisata Alam, Budaya dan Buatan dalam

    rangka memberikan pengetahuan kepada pengelola daya tarik dalam

    mengoperasikan usahanya.

    3. Workshop Pengembangan Incentive Travel di Indonesia dalam rangka

    memberikan pengetahuan serta pengembangan usaha di bidang incentive travel.

    4. Bimtek Pengembangan Wisata MICE dalam rangka memberikan pengetahuan

    dan peningkatan kemampuan di wisata MICE.

    5. Pengenalan Produk Insentif Travel bagi Destination Management Company

    (DMC) dalam rangka pengembangan dan pengenalan produk insentif travel

    kepada pengusaha/masyarakat yang ingin berusaha di bidang tersebut.

  • LAK — KEMENPAREKRAF 2013 42

    3 Meningkatnya investasi di sektor pariwisata

    Pengembangan sektor pariwisata memerlukan investasi yang memadai. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur meningkatnya investasi di sektor pariwisata adalah kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional. Kemenparekraf memiliki peran sentral untuk mendorong investasi di sektor pariwisata dengan melakukan: identifikasi dan perancangan profil investasi pariwisata, koordinasi dengan instansi pemerintah terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, serta melakukan promosi investasi pariwisata Indonesia. Semakin besar kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional, maka diharapkan tercipta destinasi-destinasi pariwisata yang memiliki fasilitas yang baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas perekonomian di destinasi tersebut.

    Semakin tinggi persentase investasi pariwisata terhadap investasi nasional menunjukkan daya tarik industri pariwisata dan iklim usaha yang semakin baik.

    Indikator keberhasilan sasaran, berikut target dan realisasinya adalah sebagai berikut:

    No Indikator Kinerja Utama

    (IKU) Target Realisasi

    Capaian (%)

    1. Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional (Persentase)

    4,64 2,97 64

    Sumber: BKPM, 2014

    Capaian indikator sasaran “Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional” pada tahun 2013 hanya 2,97% atau 64% dari target yang telah ditetapkan sebesar 4,64%, karena penanaman modal asing di tahun 2013 mengalami penurunan.

    Jika dibandingkan antara capaian kinerja tahun 2013 dengan capaian kinerja tahun 2012, maka dapat disandin