Kelembagaan Transportasi

of 71/71
  • date post

    23-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    322
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Kelembagaan Transportasi

  • TRANSPORTASI I26 April 2012Kelembagaan dan manajemen transportasi kota. Kelembagaan dan Manajemen Lalu Lintas Mahasiswa memahami aspek kelembagaan dan pengelolaan transportasi kota serta dalam lingkup transportasi jalan.

  • ORANGPENGEMUDIPENUMPANGPEJALANPETUGAS* kemampuan terbatas* sangat peka thd perubahan mudah stres* memiliki ukuran baku* mobilitas tinggi * tingkah laku/kebiasaan* sikap mental

    MOBILITASstrukturperkembanganpersebarankomposisiELEMEN LALU LINTAS

  • @ jenis kendaraan @ perlengkapan [email protected] waktu angkut @ kelengkapan [email protected] lintas @ dllDALAM PROSESG A SPADATC A I Rradio aktifberacunberbauM U T UtumbuhhidupbereaksiB A R A N G

  • PERLALULINTASANPENGELOLANEGARAPROPINSIKABUPATENDESAFUNGSIARTERIKOLEKTORLOKALKAPASITASdaya dukung,kelas, fungsi,status

    TRAYEKLINTASANWAKTUMODAJALAN

  • PERHUBUNGANKEPOLISIANPERINDUSTRIANPERDAGANGANKEUANGANKEHAKIMANKEJAKSAANDLLLEMBAGAPERATURAN PERUNDANG-UNDANGANUU No.13/1980tentang JalanUU No.13/1992tentang PerkeretaapianUU No.14/1992tentang Lalulintas & Angkutan JalanUU No.15/1992tentang PenerbanganUU No.21/1992tentang PelayaranUU No.22/1999tentang Pemerintahan DaerahDllPERANGKAT PENGELOLAANPERANGKUTAN & LALU LINTAS

  • Peraturan perundang-undangan tentang Perangkutan & Lalu-Lintasantara lain:UU No.3 Tahun 1965 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan RayaUU-RI No.13 Tahun 1980 tentang JalanUU-RI No.14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan JalanUU-RI No.15 Tahun 1992 tentang PenerbanganUU-RI No.21 Tahun 1992 tentang PelayaranPP No. 26 Tahun 1985 tentang JalanPP No. 41 Tahun 1993 tentang Angkutan JalanPP No. 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan BermotorPP No. 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas JalanPP No. 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan PengemudiPerda No.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran Pemda DKI Jakarta

  • UU No.14 Tahun 1992 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan berikut peraturan pelaksanaannya adalah landasan hukum bagi pengelolaan lalu-lintas dan angkutan jalan. Peraturan pelaksanaan tersebut adalah: Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan; Peraturan Pemerintah No.42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan; Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan; Peraturan Pemerintah No.44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi.Peraturan perundang-undangan diatur secara berjenjang. Aturan yang sifatnya relatif tetap dan umum tertuang dalam undang-undang. Berbagai hal yang mungkin berubah dalam jangka panjang, dituangkan dalam peraturan pemerintah. Berbagai hal yang dapat berubah sewaktu-waktu, sesuai dengan keadaan dan tuntutan masyarakat, dituangkan dalam keputusan presiden atau keputusan menteri atau keputusan yang lebih rendah.

  • TUNTUTAN JASA ANGKUTAN:SELAMAT, AMAN, LANCAR, CEPAT, NYAMAN, BERAGAMKAPASTITAS BESAR PERUBAHANPERILAKUDANTATA NILAIPENDUDUKBERTAMBAHPENDUDUKPERKOTAANBERTAMBAH

    MOBILITASMENINGKAT

  • Mengalola angkutan dan lalu lintas pada hakekatnya mengelola perilaku pelaku lalu lintas.TINGKAH LAKU PENGGUNA JALANORANG INDONESIA BERSAHABAT DAN RAMAH SEBAGAI PRIBADI, AKAN TETAPI MENJADI SEORANG TIRAN DI BELAKANG MEJA DAN PEMBUNUH DI BELAKANG SETIR MOBIL,Saini, K.M. 1991Budaya Lalu-Lintas

    TAHUN 198519901995kejadian kecelakaan42.08225.74116.510korban - orang60.57832.815korban meninggal - jiwa10.28310.990Nisbah korban/mati 5 : 13 : 1kecelakaan mobil penumpang14.8926.852kecelakaan sepeda motor11.1238.320Sumber: Ditjen Perhubungan Darat Dept. Perhubungan Ri

  • KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS

    1995 - 2000MODA ANGKUTANmeninggal dunialuka-lukacacat tetapDARATjalan10.22358.683333rel7422.29419LAUT *2.1086475U D A R A289727JUMLAH13.362 61.696 364 Sumber: Jasa Raharja * termasuk ferry (penyeberangan)

  • PEMBAYARAN SANTUNAN OLEH PT. JASA RAHARJA

    (sesuai dengan UU No.33 dan 34 tahun 1964)TahunJ U M L A HKorbanRp1995 45.654 52.239.835.000,1996 51.503 58.313.052.000,-1997 57.345 83.076.619.000,-1998 60.342161.308.890.000,-1999 58.557164.054.785.000,-2000 54.252155.157.810.000,-Sumber: PT. JASA RAHARJA (Persero) - Divisi Pelayanan - 30 Januari 2001

  • PP No.44 Th.1993 tentang Kendaraan dan Pengemudibatas usia minimum hak mengemudi kendaraan bermotor, yaitu: 16 tahun: -. SIM-D untuk mengemudikan sepeda motor yang dirancang dengan kecepa-tan tak lebih dari 40 Km per jam; dan -. SIM-C untuk mengemudikan sepeda motor yang dirancang mampu menca-pai kecepatan lebih dari 40 Km per jam;17 tahun:-. SIM-A untuk mengemudikan mobil penumpang, mobil bus dan mobil barang yang mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 3.500 Kg;20 tahun:-. SIM-B.I untuk mengemudikan mobil bus dan mobil barang yang mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 3.500 Kg, dan-. SIM-B.II untuk mengemudikan traktor atau kendaraan bermotor dengan me-narik kereta tempelan atau gandengan dengan berat yang diperbo-lehkan untuk kereta tempelan atau kereta gandengan lebih dari 1.000 Kg. Bagi pemohon SIM B.I harus memiliki SIM golongan A sekurang-kurangnya 12 bulan, dan bagi pemohon. SIM B.II harus telah memiliki SIM golongan B.I sekurang kurangnya 12 bulan.

  • Pangsa Pasar Moda AngkutanAKHIR PJPT I (PELITA V) - 1997

    MODA ANGKUTANPANGSA PASAR ( % )ANGKUTAN PENUMPANGANGKUTAN BARANGpenumpangpenumpang-kmbarangton-kmJ A L A N90,1085,6048,989,49R E L 4,846,350,013,34S . D . P .4,040,588,160,46L A U T0,413,4542,8086,11U D A R A0,613,930,050,60J U M L A H100,00100,00100,00100,00Sumber: Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Dept. Perhubungan RI

  • Jaringan TrayekBerdasarkan PP No.41 Th.1993 tentang Angkutan Jalan, trayek jasa angkutan umum dibagi dalam 4 kelompok(1) trayek antarkota antarpropinsi; dengan ciri-ciri pelayananmempunyai jadwal tetappelayanan cepatdilayani oleh mobil bus umumtersedianya terminal tipe A pada awal pemberangkatan dan tujuan(2) trayek antarkota dalam propinsi; dengan ciri-ciri pelayananmempunyai jadwal tetappelayanan cepat dan/atau lambatdilayani oleh mobil bus umumtersedianya terminal sekurang-kurangnya tipe B pada awal pemberang-katan, persinggahan, dan tujuan

  • (3) trayek kota; terdiri daric. trayek utama yang diselenggarakan dengan ciri-ciri:d. trayek cabang yang diselenggaran dengan ciri-ciri:mempunyai jadwal tetapmelayani angkutan antarkawasan utama, antara kawasan utama dengan kawasan pendukung dengan ciri melakukan perjalanan ulang-alik ecara tetap dengan pengangkutan yang bersifat massaldilayani oleh mobil bus umumpelayanan cepat dan/atau lambatjarak dekatmelalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpangmempunyai jadwal tetapmelayani angkutan antarkawasan pendukung, antara kawasan pendukung dengan kawasan permukimandilayani oleh mobil bus umumpelayanan cepat dan/atau lampatjarak dekat

  • (3) trayek kota; terdiri daria. trayek ranting yang diselenggarakan dengan ciri-ciri:b. trayek langsung yang diselenggaran dengan ciri-ciri:melayani angkutan dalam kawasan permukimandilayani dengan mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umumpelayanan lambatjarak dekatmelalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpangmempunyai jadwal tetapmelayani angkutan antarkawasan secara tetap yang bersifat massal dan langsungdilayani oleh mobil bus umumpelayanan cepatjarak dekatmelalui tempat-tempat yang ditetapkan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang

  • (4) trayek perdesaanmempunyai jadwal tetap dan/atau tidak berjadwalpelayanan cepat dan/atau lambatdilayani oleh mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umumtersedia terminal sekurang-kurangnya tipe C pada awal pemberang-katan, persinggahan, dan tujuanprasarana jalan yang dilalui memenuhi ketentuan kelas jalan

  • UU No. 13 th. 1980tentang JalanPERANAN JALANJalan merupakan satu kesatuan sistem jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hirarki primer, sekunder arteri, kolektor, lokal negara, provinsi, kabupaten/kota, desa

  • JARINGAN JALANArteri Primer jalan yang menghubungkan pusat primer dengan pusat primer, pusatprimer dengan pusat sekunder, dan mampu menanggung muatan sumbu lebih besar dari 10 tonArteri Sekunderjalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau kws kesatu dengan kws kesatu, dan mampu menanggung muatan sumbu terberat 10 ton(1)

  • JARINGAN JALAN(2)Kolektor Primer jalan yang menghubungkan kws/kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua, atau kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga, dan mampu menanggung muatan sumbu terberat 8 tonKolektor Sekunder jalan yang menghubungkan kws sekunder kedua dengan kws sekunder kedua, atau kws sekunder kedua dengan kws sekunder ketiga, dan mampu menanggung muatan sumbu terberat 8 ton

  • JARINGAN JALAN(3)Lokal Primer jalan yang menghubungkan persil dengan kota pada semua jenjang, dan mampu menangung muatan sumbu terberat 8 tonLokal Sekunder jalan yang menghubungkan permukiman dengan semua kawasan sekunder, dan mampu menanggung muatan sumbu terberat 8 ton[PP No.43 Th.1993 Tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan PP No.26 Th.1985 Tentang Jalan]

  • PENGELOLAAN PERANGKUTANMengelola Angkutan

  • MENGELOLA ANGKUTANmengelola angkutan adalah kegiatan merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendali sistem angkutan untuk mencapai pelayanan yang efektif, efisien, dan andalDARAT, LAUT, UDARA

  • vefektif, merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau pera-latan yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan; memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau cara/metoda yang tepat untuk mencapai tujuan melakukan pekerjaan yang benar (do the right things)EFEKTIF dan EFISIEN adalah dua konsepsi utama untuk mengukur kinerja pengelolaan / manajemen.[Handoko, 1998; 7]Seorang manajer yang bersikeras memroduksi mobil-mobil besar sedangkan masyarakat justru mengingini mobil-mobil kecil adalah manajer yang tidak efektif, walaupun produksi mobil-mobil besar tersebut dilakukan dengan efisien.E F E K T I F tepat sasaran

  • kapasitas mencukupi; prasarana dan sarana cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa. terpadu; antarmoda dan intramoda dalam jaringan pelayanan. cepat dan lancar; penyelenggaraan layanan angkutan dalam waktu singkat, dengan indikasi kecepatan arus per satuan waktu.E F E K T I F tepat sasaran

  • v efisien, adalah kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan benar, mem-peroleh keluaran (hasil, produktivitas, kinerja) yang lebih tinggi daripa-da masukan (tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu) yang digu-nakan meminimumkan biaya penggunaan sumber daya untuk mencapai kelu-aran yang telah ditentukan, atau memaksimumkan keluaran dengan jumlah masukan terbatas melakukan pekerjaan dengan benar (do things right)Mengelola ALL mengandung makna meningkatkan efisiensi dan efektivitas serta keandalan layanan jasa angkutan dan lalu lintas yang aman, tertib, dan teratur.EFEKTIF dan EFISIEN adalah dua konsepsi utama untuk mengukur kinerja pengelolaan / manajemen.[Handoko, 1998; 7]E F I S I E N utilitas tinggi

  • biaya terjangkau; penyediaan layanan angkutan sesuai dengan tingkat daya beli masyarakat pada umumnya dengan tetap memperhatikan kelangsungan hidup usaha layanan jasa angkutan. beban public rendah; pengorbanan yang harus ditanggung oleh masyarakat sebagai konsekuensi dari pengoperasian sistem perangkutan harus minimum, misalnya: tingkat pencemaran lingkungan. kemanfaaran tinggi; tingkat penggunaan prasarana dan sarana optimum, misalnya: tingkat muatan penumpang dan/atau barang maksimumE F I S I E N utilitas tinggi

  • vandal, pelayanan yang dapat dipercaya, tangguh melakukan pelayanan sesuai dengan penawaran atau janji-nya dan harapan/ tuntutan konsumen melakukan pekerjaan yang sesuai dengan janjinyaANDAL: dapat dipercaya, tangguh.Pelayanan angkutan dapat diandalkan bila cepat dan tepat waktu, aman, nyaman, antarmoda terpadu, tertib dab teratur, serta memenuhi kebutuhan (frekuensi layanan dan kapasitas armada).A N D A L

  • tertib; penyelenggaraan angkutan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku di masyara-kat. tepat dan teratur; dapat diandalkan, tangguh, sesuai dengan jadwal dan ada kepastian. aman dan nyaman; selamat terhindar dari kecelakaan, bebas dari gangguan baik eksternal maupun internal, terwujud ketenangan dan kenikmatan dalam perjalanan.A N D A L

  • Perlalulintas dan Perangkutan * Catatan: Barang bersifat gas, cair, padat termasuk tumbuhan dan hewan

  • TERCAPAINYA EFISIENSI OPERASIONAL YANG LEBIH TINGGI.SASARAN PENGELOLAAN ANGKUTAN PENINGKATAN BAKU PERAWATAN ARMADA AGAR SELALU DALAM KONDISI LAIK JALAN. ORGANISASI YANG SEHAT DAN MUTU TANGGUNG JAWAB YANG TINGGI. efektif, efisien, dan andal

  • MEMINIMUMKAN APA ?ATJARAKjarak geografis tak dapat diubahMeminimumkan waktu tempuha. menciptakan jenis kendaraan yang mampu bergerak lebih cepat --masih terus berlangsung--b. membangun jalan pintas --berjarak lebih pendek-- antara A dan Tc. membangun jalan elak (by pass) untuk menghindari kemacetan pada suatu ruas jalan

  • MEMINIMUMKAN APA ??ATJARAKjarak geografis tak dapat diubahMeminimumkan biaya angkutana. menggunakan moda angkutan yang menawarkan biaya angkut termurahb. mengutamakan angkutan umum, menomor-duakan angkutan pribadi

  • cukup kendaraan atau armada siap operasi berapa kapasitas armada yang harus disediakan moda angkutan yang mungkin dioperasikan berapa calon penumpang dari mana ke mana kapan

    sistem layanan optimumRencana armadaPengertian optimum dalam hal ini adalah sediaan kapasitas sedemi-kian rupa sehingga mampu memberikan pelayanan maksimum pada masa sibuk, namun tidak terlalu banyak kapasitas mengang-gur pada masa sepi.

  • Rencana armadasasaran pengelolaan terutama adalah armada angkutan umum, antara lain karena: lintasan dapat diatur waktu operasi dapat diatur jumlah kendaraan/armada dapat diatur jenis kendaraan dapat diatur trayek dapat diatur melayani kepentingan umum memperhitungkan pendapatan dan pengeluaran

  • Menambah daya angkut (kapasitas):Meningkatkan kapasitas armada Menambah frekuensi pelayanan:Pada angkutan jalan rel, penambahan frekuensi pelayanan lebih rumit lagi karena jalur jalan rel tidak dapat digunakan bersama-sama pada satu saat.a. menambah jam operasi armada (menambah rit) untuk jarak dekat b. menambah armada untuk jarak jauha. memperbesar dimensi/ukuran kendaraanb. mengoperasikan bus gandengc. memperpanjang rangkaian gerbong kereta api

  • ANGKUTAN ORANGpaksawan (captive riders), yaitu mereka yang tidak mampu memiliki sendiri atau menyewa, dan para pilihwan (choice riders), yaitu mereka yang mampu memiliki kendaraan sendiri atau memilih moda yang akan digunakannya. A C Bzona tujuan antara/semuzona asalzona tujuan

  • ANGKUTANORANGBARANGUMUMPRIBADIUMUMPRIBADI orang per orang lembaga/instansi organisasi sosial perusahaan dll memiliki menyewa

  • PENGENDALIAN LALU LINTASPERLENGKAPAN JALAN

  • Menambah daya tampung (kapasitas) jalan:Meningkatkan kapasitas jaringan Mengurangi volume lalu-lintas:Pada angkutan jalan rel, penambahan frekuensi pelayanan lebih rumit lagi karena jalur jalan rel tidak dapat digunakan bersama-sama pada satu saat.a. menangani apa ? untuk jarak dekat b. menangani apa ? untuk jarak jauha. memperbesar apa ? b. melakukan apa ?c. mempengaruhi apa ?

  • GUNA LAHANPENGELOLAANDekonsentrasi planologisMasalah: batas wilayah administrasi keterbatasan prasarana koordinasi layanan jasaPengendalian lalu-lintasMasalah: kualitas & kuantitas SDM banyaknya lembaga terkait

  • REKAYASA LALINmaksudMEMPENGARUHI GERAK KENDARAANMasalah: kualitas & kuantitas SDM banyaknya lembaga terkait MEMBATASI: kecepatan, daya jelajah, daya angkut MEMAKSA: laju, arah, hak ruang gerak kendaraanadalah tindakan kerekayasaan untuk mendukung upaya hukum (peraturan penundang-undangan)

  • PERSIMPANGANGambar 7-1Titik konflik teoritis di persimpangan

    (a) Simpang Empat Dua Arahdengsn bundsran?? titik konflik1

  • PERSIMPANGANGambar 7-1Titik konflik teoritis di persimpangan

    (b) Simpang Tiga Dua Arah3 titik konflik(a) Simpang Empat Dua Arah16 titik konflik2

  • PERSIMPANGAN31 titik konflik(d) Simpang Tiga Satu Arah4 titik konflikc) Simpang Empat Satu Arah

  • PERSIMPANGAN4DILARANG BELOK KANAN(e) Simpang Empat4 titik konflik(f) Simpang Tigatidak ada titik konflik

  • PERSIMPANGAN5PULAU LALU-LINTASKeterangan: pulau lalu-lintas median jalan A rambu pemisah lalin lurus B rambu larangan belok kiri C rambu laranganbelok kanan

  • Rambu-rambu lalu-lintas

  • Perintahharus/wajib dilaksanakan oleh pengguna jalanDasar bulat warna biruKecepatan minimum yang diwajibkanWajib mengikuti arah ke kiri Wajib mengikuti arah yang ditunjuk

  • tidak boleh dilakukan oleh pengguna jalanDasar warna merahLaranganLarangan parkir sampai dengan jarak 15 m dari tempat pemasangan rambu menurut arah lalu-lintas, kecuali dinyatakan lain dengan papan tambahan.Dilarang berjalan terus, wajib berhenti sesaat dan meneruskan perjalanan setelah mendapat kepastian aman dari lalu-lintas arah laninya.Dilarang berjalan terus apabila mengakibatkanrintangan/hambatan/gangguan bagi lalu-lintas dari arah lain yang wajib didahulukan.Larangan masuk bagi semua kendaraan bermotor maupun tidak bermotor dari kedua arah.

  • Peringatankemungkinan adanya bahaya di jalan yang akan dilaluiDasar belah ketupat warna kuning.Persilangan datar dengan lintasan kereta api tanpa pintuPersimpangan tiga sisi kananTinggi ruang bebas M

  • Petunjukpetunjuk mengenai jurusan, keadaan jalan, situasi, kota berikutnya, keberadaan fasilitas, dan lain-lainRambu petunjuk jurusan ke Surakarta dengan jarak 59 kmRambu petunjuk ke daerah wisata Diengdengan jarak 10 kmRambu pendahulu petunjuk jurusan jang menyetakan arah untuk mencapai suatu tempat keluar dari jalan tol.Rambu pendahulu petunjuk arah depan

  • Anjuranmengimbau, boleh dilakukan boleh pula tidak dilakukanSegiempat panjang, dasar warna biru (termasuk kategori rambu petunjuk)Rambu petunjuk tempat berbalik arahBalai pengobatan pertamaMendapat prioritas atas lalu-lintas dari arah depan.

  • 6 T RAMBU1TAMPAK/TAHUTERANG/JELASTUNGGAL MAKNA cukup besar tidak terhalang mencolok huruf baku tanpa hiasan, lugas, mudah dibaca kontras memantulkan cahaya pada malam hari hanya mempunyai satu makna tidak dapat dimaknakan sendiri tidak ada diskriminasi

  • 6 T RAMBU2TIMBANGTANGGAPTINDAKpenempatannya memberi cukup waktu bagi pengemud dan/atau pengguna jalani untuk mengolah maknanyapengguna jalan makna dan mengetahui reaksi yang tepat menanggapi makna marka;bergantung pada: penempatan kesederhanaan (tidak terlalu banyak tulisan; tidak ada pengecualian)pengguna jalan segera melakukan tindakan tanpa akibat yang membahayakan keselamatan

  • MARKA JALANMarka membujurgaris utuh berfungsi sebagai larangan bagi kendaraan melintasi garis tersebutgaris putus-putusmerupakan pembatas lajur yang berfungsi mengarahkan lalu-lintas dan atau memperingatkan akan ada Marka Membujur yang berupa garis utuh di depangaris ganda (1)terdiri dari garis utuh dan garis putus-putusmenyatakan bahwa kendaraan yang berada pada sisi garis utuh dilarang melintasi garis ganda tersebut, sedangkan kendaraan yang berada pada sisi garis putus-putus dapat melintasi garis ganda tersebutgaris ganda (2) terdiri dari dua garis utuhmenyatakan bahwa kendaraan dilarang melintasi garis ganda tersebut1

  • MARKA JALAN2Marka melintanggaris utuhmenyatakan batas berhenti bagi kendaraan yang diwajibkan berhenti oleh alat pemberi isyarat lalu-lintas atau rambu stop garis putus-putusmenyatakan batas yang tidak dapat dilampaui kendaraan yang mendapat hak utama pada persimpanganMarka seronggaris utuh, dilarang dilintasi kendaraan. Marka serong yang 1. dibatasi dengan rangka garis utuh, menyatakan: a. daerah yang tidak boleh dimasuki kendaraan b. pemberitahuan awal sudah mendekati pulau lalu-lintas2. dibatasi dengan rangka garis putus-putus, menyatakan: kendaraan tidak boleh memasuki daerah tersebut sampai mendapat kepastian selamat

  • MARKA JALAN3Garis putih tunggal, utuhMerupakan larangan bagi kendaraan melintasi garis tersebutGaris putih tunggal, putus-putusGaris yang membagi arus lalu-lintas dan dapat dilintasi oleh kendaraan untuk menyalipGaris putih ganda, putus-putus dan utuhKendaraan pada sisi garis utuh dilarang melintasi garis tersebutGaris putih ganda, utuhKendaraan dilarang melintasi garis tersebut untuk melewati ken-daraan lain, untuk membelok, tidak pula untuk parkir erhadapan dengan garis tersebut.Garis kuning, utuhBatas tepi perkerasan jalan. Memisahkan arus lalu-lintas, sama dengan faris ganda utuh.

  • MARKA JALAN4Marka lambang dapat berupa anak panah, segitiga atau tulisan, digunakan untuk mengulangi maksud rambu-rambu atau untuk memberitahu pengguna jalan yang tidak dapat dinyatakan dengan rambu-rambu. Marka ini dapat ditempatkan secara sendiri atau bersama dengan rambu lalu-lintas tertentu, sebagai pelengkap.marka jalan dapat digantikan dengan: -. paku jalan -. kerucut lalu-lintas

  • LAMPU LALU LINTAS Banyaknya lampu dan penempatannya sedemikian rupa sehingga mudah dilihat. Lampu tiga warnaLampu kedipPada beberapa tempat yang dianggap perlu, dapatdipasangi lampu warna kuning yang terus-menerus berkedip, dengan tujuan memberi isyarat agar parapengguna jalan tetap waspada.

  • LAMPU ISYARATmelekat pada kendaraanmenjadi persyaratan teknis minimum pada setiap kendaraan yang dinyatakan sempurna laik jalanmenjadi perlengkapan jalanlampu kedip (kelap-kelip) berwarna kuning atau merah, cahaya berwarna kuning atau merah yang bersumber dari lempeng pantul.

  • PENGENDALIAN LALU-LINTASPemilahan moda (lajur khusus)Jalur jalanlajur khusus (bus & truk)lajur siput

    lajur siputpada tanjakan

    lajur cepat pada tanjakanturunan

    tidak memerlukan lajur siput

    lajur khusus AUP

    lajur khusus AUP arus pasang

  • PENGENDALIAN LALU-LINTASPemilahan moda (lajur khusus)Jalur jalan

    Lajur khusus AUP

  • LARANGAN BELOK KANANPutaran belok kanan

    Simpang susunTeoritis, kendaraan belok kanan memunculkan sejumlah titik konflik lalu-lintas. Kebijaksanaan larangan belok kanan adalah upaya meniadakan titik konflik tersebut. Untuk dapat menerapkan kebijakan larangan belok kanan, sistem jaringan jalan harus memungkinkan dapat menampung keperluan kendaraan yang harus belok kanan, yakni ada jalan alternatif belok kiri yang akhirnya menuju arah yang dikehendaki, atau dibangun sebuah jalan layang (pola semanggi).

  • BELOK KIRI LANGSUNGDalam PP No.43 Th.1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, pada pasal. 59 tersurat:Pengemudi yang akan membelok atau berbalik arah, harus mengamati situasi lalulintas di depan, samping, dan belakang kendaraan dan memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat lengannya;Pengemudi yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping, harus mengamati situasi lalulintas di depan, samping, dan belakang kendaraan serta memberikan isyarat;Pengemudi dapat langsung belok ke kiri pada setiap persimpangan jalan, kecuali ditentukan lain oleh rambu-rambu atau alat pemberi isyarat lalulintas pengatur belok kiri.

  • Arus searahmeningkatkan kapasitas jalan sampai dengan 100%Konsekuensi:=. kendaraan harus menempuh Km lebih panjang. =. jam perjalanan dapat dipersingkat.=. bagi AU bisa diterapkan kekhususan yakni penerapkan arus pasang (jalur melawan arus).

  • ARUS PASANG arah geraknya pun berlawanan dengan arus lalu-lintasprioritas jalan bagi angkutan umumkeuntungan antara lain: olah gerak bus tidak terganggu oleh kendaraan lain laju kendaraan lain tidak tidak terganggu oleh operasi bus kota

  • ARUS PASANGContoh penerapan sistem arus pasang misalnya: lajur khusus bus berlawanan arah, lajur khusus kendaraan berlawanan arah pada kurun waktu tertentu seperti yang diterapkan di Jl.MH Tamrin, Jakarta, pada jam sibuk pagi dan sore hari.

    ARUS PASANG

    PENGELOLAAN PERANGKUTAN