Kelayakan Proyek

download Kelayakan Proyek

of 26

  • date post

    20-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    53
  • download

    15

Embed Size (px)

description

PEMBANGUNAN TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU (TPST) KECAMATAN NGAGLIK

Transcript of Kelayakan Proyek

PRAKTIKUM STUDI KELAYAKAN PROYEKPEMBANGUNAN TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU (TPST) KECAMATAN NGAGLIK

Oleh:Bunga Rara Valeriana (337782)

PROGRAM DIPLOMA EKONOMIKA DAN BISNISUNIVERSITAS GADJAH MADA2014I. PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangSampah merupakan bahan buangan padat dari aktivitas manusia baik di rumah, sekolahan, kantor, pertokoan, restoran, pasar, tempat umum dan sebagainya. Besarnya timbulan sampah yang dihasilkan dalam suatu daerah dipengaruhi oleh tingkat ekonomi masyarakat. Semakin tinggi kemampuan ekonomi akan membuat semakin tingggi tingkat komsutivitas yang berdampak pada besarnya timbulan sampah yang dihasilkanPengelolaan sampah yang umumnya dilakukan saat ini adalah menggunakan sistem open dumping (penimbunan secara terbuka) serta tidak memenuhi standar yang memadai. Keterbatasan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di kota besar dan metropolitan juga berpotensi menimbulkan persoalan baru. Daerah pinggiran kota masih dianggap sebagai tempat paling mudah untuk membuang sampah. Sehingga daerah tersebut kehilangan peluang untuk memberdayakan sampah, memanfaatkannya serta meningkatkan kualitas lingkungannya. Apabila hal ini tidak tertangani dan dikelola dengan baik, peningkatan sampah yang terjadi tiap tahun itu bisa memperpendek umur TPA dan membawa dampak pada pencemaran lingkungan, baik air, tanah, maupun udara. Di samping itu, sampah berpotensi menurunkan kualitas sumber daya alam, menyebabkan banjir dan konflik sosial, serta menimbulkan berbagai macam penyakit.Penanganan sampah tersebut harus segera ditanggulangi. Apabila ditangani secara serius, maka sampah bukan lagi musuh tapi sahabat, karena bisa didaur ulang, dan dapat menghasilkan peningkatan ekonomi.Pengelolaan sampah berbasis 3R yang saat ini merupakan konsensus internasional yaitu reduce, reuse, recycle atau 3M (Mengurangi, Menggunakan kembali, dan Mendaur Ulang) merupakan pendekatan sistem yang patut dijadikan sebagai solusi pemecahan masalah persampahan.Untuk merencanakan dan melakukan proyek yang kompleks secara efektif,maka dapat dibantu dengan visualisasi (gambaran) dari proyek beserta tujuannya.Setiap tujuan akan memiliki beberapa ciri-ciri tersendiri dan aktivitas yang mampu diidentifikasi dan dapat dipisah- dipisahkan.Aktivitas-aktivitas ini akan mendefinisikan pekerjaan apa yang harus untuk memulai dan menyelesaikan proyek.Dengan meningkatnya laju pembangunan, pertambahan penduduk, serta aktivitas dan tingkat sosial ekonomi masyarakat telah memicu terjadinya peningkatan jumlah timbulan sampah. Hal ini menjadi semakin berat dengan hanya dijalankannya paradigma lama pengelolaan yang mengandalkan kegiatan pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan, yang kesemuanya membutuhkan anggaran yang semakin besar dari waktu ke waktu, yang bila tidak tersedia akan menimbulkan banyak masalah operasional seperti sampah yang tidak terangkut, fasilitas yang tidak memenuhi syarat, cara pengoperasian fasilitas yang tidak mengikuti ketentuan teknis, dan semakin habisnya lahan pembuangan.Kabupaten Sleman adalah salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarata (DIY) yang mengalami pertambahan jumlah penduduk yang pesat. Hasil sensus jumlah penduduk pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1.125.369 jiwa. Penduduk laki-laki berjumlah 559.302 jiwa (49,70%), perempuan 566.067 jiwa (50,30%) dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,73% dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 305.376 dengan laju pertumbuhan sebesar 2,39%3 . Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti semakin bertambahnya tingkat produksi dan konsumsi serta aktivitas lainnya berakibat semakin bertambahnya pula buangan (sampah) yang dihasilkan. Sampah tersebut diangkut dan dibuang di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Piyungan yang berlokasi di wilayah Kabupaten Bantul.Jumlah volume sampah di Kabupaten Sleman yang dibuang ke Tempat Penampungan Sampah Terpadu ( TPST ) di kawasan Piyungan Bantul terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data DPUP Kabupaten Sleman yang terhimpun pada bagian bersangkutan menyebutkan, volume sampah di Kabupaten Sleman yang dibuang ke TPST Piyungan tahun 2010 sebanyak 38.672.426 kg sampah, atau dalam perharinya 413 meter kubik perhari dan tahun 2011 meningkat menjadi 40.068.892 kg atau 428 meter kubik perhari4 . Adanya peningkatan volume sampah di Kabupate Sleman yang dibuang ke TPST Piyungan Bantul, selain kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempat penampungan sampah semakin tinggi, juga meningkatnya jumlah penduduk termasuk upaya sosialisasi kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan dalam bentuk pengelolaan sampah mandiri di wilayahnya masing-masing.Kabupaten Sleman merupakan salah satu Kabupaten di DIY yang memiliki aktivitas masyarakat yang tinggi, adanya permukiman padat, banyaknya tempat-tempat yang menyajikan hiburan malam (Cafe dan Restoran) dan semakin banyaknya para pendatang yang masuk di Kabupaten Sleman jelas akan menambah permasalahan khusunya sampah itu sendiri. Minimnya penyediaan sarana dan prasarana di permukiman padat penduduk umumnya dilatarbelakangi oleh kurang terorganisirnya antara RT dan RW di daerah permukiman tersebut dengan pemerintah Kabupaten setempat (Kabupaten Sleman), sehingga berdampak kepada semakin turunnya kualitas lingkungan permukiman. Sebagai contoh, dengan tidak tersedianya sarana pembuangan sampah maka masyarakat akan cenderung mencemari permukiman dengan sampah sehingga timbulan sampah akan teronggok di setiap sudut permukiman.Pengelolaan sampah di TPSS Sleman masih berpegang pada paradigma lama, yaitu mengumpulkan, mengangkut, dan membuang sampah. Sampah yang telah diangkut ke TPAS Piyungan hanya diratakan dan ditindih dengan alat berat lalu ditutup dengan tanah. Mobil pengangkut sampah yang melebihi kapasitasnya menyebabkan sampah tercecer serta kerusakan jalan yang dilalui kendaraan tersebut. Peningkatan volume sampah yang dibuang akan menimbulkan dampak pada peningkatan kebutuhan lahan untuk mengelola sampah seperti untuk Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, serta tanah penimbun sampah di TPA. Hal tersebut akan sulit dipenuhi karena kebutuhan lahan untuk keperluan lainnya seperti permukiman dan aktivitas ekonomi juga akan meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Bersamaan dengan peningkatan volume sampah akibat meningkatnya jumlah penduduk, maka pertumbuhan penduduk juga berimplikasi terhadap kebutuhan lahan untuk tempat tinggal. Jumlah ketersediaan lahan bersifat tetap namun kebutuhan lahan semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan diabaikannya persyaratan lingkungan permukiman.Kecamatan Ngaglik merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Sleman yang akan membangun TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Kecamatan Ngaglik terbagi dalam 6Desa, 87Pedukuhan, 222 Rukun Warga (RW), dan 657 Rukun Tetangga (RT), dengan luas wilayah kurang lebih 3.852 Ha. Kecamatan Ngaglik memiliki penduduk tidak kurang dari 78.707 jiwa dengan 23.967 Kepala keluarga. Selain itu terdapat kurang lebih 10 ribu penduduk musiman yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Pertumbuhan penduduk 2,28% per tahun.Secara topografi, wilayah kecamatan Ngaglik terletak di wilayah lereng terbawah bagian selatan Gunung Merapi, dengan ketinggian 100-499 mdpl, dengan struktur wilayah miring dengan dataran lebih rendah di bagian selatan. Kecamatan Ngaglik memiliki sarana kesehatan 3 Rumah Sakit Klinik, 2 Puskesmas, 3 Puskesmas Pembantu, 10 Apotek, dan 2 Laboratorium Klinik. Sarana pendidikan di Kecamatan Ngaglik meliputi 46 TK, 33 SD, 1 SLB Dasar, 9 SMP, dan 6 SMA, dan 2 Perguruan Tinggi.

1.2. Permasalahan1. Meluapnya air sungai ketika musim hujan, sehingga menyebabkan banjir karena terdapat tumpukan sampah..2. Pembakaran sampah disekitar pemukiman menyebabkan polusi dan mengganggu pengguna jalan.3. Kurangnya sarana dan prasana dalam pengelolaan sampah

1.3. Tujuan KegiatanTujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatnya kebersihan dilingkungan permukiman.Tujuan Spesifik: Mengurangi jumlah sampah liar di permukiman1. Memilah sampah organic dan anorganik dari sumber sampah1. Mengurangi penumpukan sampah disumber sampah sehingga mencegah bau tidak sedap dan pertumbuhan lalat.1. Melakukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos

II ANALISA DAN PEMBAHASAN2.1 ASPEK TEKNISTempat Pengelolaan Sampah Terpadu berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Berada di Jl Damai Sariharjo Ngaglik Sleman. Luas bangunan TPST seluas 5231 m2.

Luas bangunan Plant TPST direncanakan seluas 2273 m2. Fasilitas yang ada didalamnya direncanakan terdiri dari :a. Ruang Penerimaan seluas 160 m2b. Ruang Pemilahan Utama seluas 90 m2c. Ruang Pemilahan Anorganik 200 m2d. Ruang Residu seluas 400 m2e. Ruang Penghantar seluas 80 m2f. Ruang Pencacah Organik seluas 80 m2g. Ruang Pengadukan seluas 15 m2h. Ruang Pengomposan seluas 600 m2i. Ruang Pengering Pengayakan seluas 300 m2j. Ruang Pengemasan & Gudang Organik seluas 400 m2k. Ruang Pengemasan & Gudang Anorganik seluas 100 m2l. Gudang Alat seluas 24 m2m. Ruang Cuci Armada seluas 72 m2n. Bengkel seluas 48 m2o. Ruang Kantor seluas 48 m2p. Ruang Parkir Armada seluas 600 m2q. Ruang Parkir Pengunjung seluas 40 m2r. Pos Jaga seluas 15 m2Peralatan penunjang yang diperlukan selama proses pengolahan sampah di TPST Kecamatan Ngaglik antara lain :a. Peralatan pemilahan, bongkar muat sampah, dan pengolahan seperti sapu, sekop cangkul, garu, golok, ember, kran air, selang air, termometer, timbangan, dan lain-lain.b. Perlengkapan petugas pengolah seperti pakaian seragam, topi, masker, sarung tangan, dan sepatu boot.

2.2 Tahap Kontruksi1. Mobilisasi Tenaga dan Alata. Tenaga KerjaTenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang akan melaksanakan pekerjaan konstruksi TPST. Untuk tenaga profesional seperti tenaga supervisi, ahli struktur dan mandor harus direkrut sesuai dengan persyaratan kualifikas