Kegawatdaruratan Ginekologi

of 29 /29
Oleh : Riska Mayasari S 03120048 Ana Maria M 03120024 Gestina Aliska 04120101

description

PENTING

Transcript of Kegawatdaruratan Ginekologi

Page 1: Kegawatdaruratan Ginekologi

Oleh :Riska Mayasari S 03120048Ana Maria M 03120024Gestina Aliska 04120101

Page 2: Kegawatdaruratan Ginekologi

Kegawatdaruratan Ginekologi Kehamilan ektopik terganggu Kista ovarium terpuntir Kista pecah / robekan dinding kista

Page 3: Kegawatdaruratan Ginekologi
Page 4: Kegawatdaruratan Ginekologi

Kehamilan Ektopik Terganggu Ektopik berada di luar tempat

yang semestinya. Apabila pada kehamilan ektopik

terjadi abortus atau pecah berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.

Page 5: Kegawatdaruratan Ginekologi

Lokasi terjadinya KE

Page 6: Kegawatdaruratan Ginekologi

Etiologi

Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium) ke rahim (uterus).

Page 7: Kegawatdaruratan Ginekologi

Faktor risiko

Page 8: Kegawatdaruratan Ginekologi

Patofisiologi

Terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri.

Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari hal ini: Kemungkinan “tubal abortion”, lepas dan

keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen.

Ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum.

Faktor abortus ke dalam lumen tuba.

Page 9: Kegawatdaruratan Ginekologi

Manifestasi Klinik

Gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu sangat berbeda-beda; dari perdarahan yang banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut ditandai oleh abdomen akut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosanya.

Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu.

Page 10: Kegawatdaruratan Ginekologi

Diagnosis

Anamnesis Riwayat terlambat haid Gejala dan tanda kehamilan muda Perdarahan per vaginam Nyeri perut kanan/ kiri bawah.

Page 11: Kegawatdaruratan Ginekologi

Pemeriksaan fisik Didapatkan rahim yang juga

membesar, adanya tumor di daerah adneksa.

Tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas dingin

Tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.

Pemeriksaan ginekologis Pemeriksaan dalam: seviks teraba

lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.

Page 12: Kegawatdaruratan Ginekologi

Pemeriksaan penunjang Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-

hCG (+) USG:

Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri

Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri

Adanya massa komplek di rongga panggul Kuldosentesis

Page 13: Kegawatdaruratan Ginekologi

Tatalaksana

Keadaan umum diperbaiki transfusi, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi.

Laparotomi perdarahan selekas mungkin dihentikan.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba.

Pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif).

Page 14: Kegawatdaruratan Ginekologi

Prognosis

Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dengan persediaan darah yang cukup.

Berkemungkinan lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik kembali.

Hanya 60% wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu dapat hamil lagi.

Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 – 14,6%. Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah sekitar 50%.

Page 15: Kegawatdaruratan Ginekologi

Diagnosis Banding

Infeksi pelvik Kista folikel Abortus biasa Radang panggul Kista ovarium terpuntir Endometriosis

Page 16: Kegawatdaruratan Ginekologi
Page 17: Kegawatdaruratan Ginekologi

Kista Ovarium Terpuntir

Torsi kista ovarium terjadi bila kista terpuntir pada tangkai vaskularnya dan mengganggu suplai darah. Kista dan ovarium mengalami nekrosis.

Kista ovarium terpuntir merupakan penyebab nyeri abdomen bagian bawah yang jarang .

Presentasi klinisnya sering tidak spesifik, temuan fisik tidak khas menimbulkan keterlambatan diagnosis dan penanganan bedah.

Insiden : umumnya pada awal usia reproduksi. Usia median adalah 28 tahun dengan persentasi pasien berusia <30 tahun mencapai 70-75%.

Page 18: Kegawatdaruratan Ginekologi

Patofisiologi

Kista ovarium terpuntir secara klasik terjadi unilateral pada ovarium yang membesar patologis. Hampir 60% torsi terjadi pada sisi kanan.

Kista ovarium terpuntir normalnya paling sering terjadi pada usia muda, abnormalitas seperti tuba yang panjang atau ketiadaan mesosalfing.

Selama hamil muda, adanya pembesaran kista korpus luteum mungkin merupakan predisposisi terpuntirnya kista.

Wanita yang menjalani induksi ovulasi untuk infertilitas memiliki resiko lebih besar, dimana adanya kista teka lutein memperbesar volume ovarium secara bermakna.

Page 19: Kegawatdaruratan Ginekologi

Etiologi

Perubahan anatomis yang mempengaruhi berat dan ukuran ovarium dapat mengubah posisi tuba fallopi dan menimbulkan puntiran.

Kehamilan kadang-kadang menyebabkan kista terpuntir,

Sekunder , saat ovulasi dengan kelemahan jaringan penyokong ovarium.

Malformasi kongenital dan pemanjangan tuba fallopi.

Tumor ovarium. Tumor ganas lebih jarang daripada tumor jinak. Hal

ini disebabkan perlekatan kanker yang memfiksir ovarium ke jaringan sekitar.

Pasien dengan riwayat pembedahan pelvis (terutama ligasi tuba) memiliki resiko lebih tinggi terhadap kista terpuntir.

Page 20: Kegawatdaruratan Ginekologi

Diagnosis

Anamnesis Onset mendadak, berat, nyeri abdomen

bagian bawah unilateral yang memburuk secara intermiten dalam beberapa jam. Hampir 25% pasien mengalami nyeri bilateral kuadran bawah yang dideskripsikan sebagai nyeri tajam atau lebih jarang berupa kram.

Mual muntah terjadi pada hampir 70% pasien.

Riwayat penyakit yang sama sebelumnya sehubungan dengan adanya torsi yang membaik secara spontan.

Demam. Onset selama latihan fisik atau gerakan aktif

lainnya umum terjadi.

Page 21: Kegawatdaruratan Ginekologi

Pemeriksaan Fisik Massa adnexa kenyal, unilateral,

dilaporkan pada 50-90%. Nyeri tekan umum, nyeri lepas

dan muscle rigidity dapat ditemukan dan sering sulit dibedakan dari abses pelvis atau apendisitis.

Page 22: Kegawatdaruratan Ginekologi

Pemeriksaan penunjang USG pembesaran ovarium sekunder

terhadap kerusakan drainase vena dan limfatik

Kombinasi Doppler flow imaging dengan penentuan morfologik ovarium membantu memperkirakan viabilitas struktur adneksa dengan menggambarkan aliran darah pada pedikel yang terpuntir dan adanya aliran vena sentral.

Computed tomography dapat menggambarkan pembesaran ovarium dan massa adneksa

Page 23: Kegawatdaruratan Ginekologi

Tatalaksana

Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan jaringan nekrotik.

Jika pembedahan tidak dapat dilakukan, bedrest, cairan intravena, dan analgesik dapat memberikan hasil yang memuaskan, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama. Dapat digunakan obat-obatan untuk mengatasi gejala yang muncul seperti penggunaan antiemetik/ sedatif.

Page 24: Kegawatdaruratan Ginekologi

Komplikasi

Infeksi Peritonitis Sepsis Adhesi Nyeri kronis Infertilitas (rare)

Page 25: Kegawatdaruratan Ginekologi
Page 26: Kegawatdaruratan Ginekologi

Kista Pecah/Robekan Dinding Kista Terjadi pada torsi tangkai kista ovarium dan

karena trauma seperti jatuh, diurut, pukulan pada perut, koitus.

Apabila kista mengandung cairan serous, rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritonium tidak begitu hebat, tapi robekan pada dinding kista disertai perdarahan yang timbul mendadak, akan menimbulkan gejala nyeri yang terus menerus dengan akut abdomen.

Pada kista pecah, misalnya pada kista coklat/kista endometriosis, pecahnya kista terjadi akibat perlekatan-perlekatan yang bersifat infiltratif dan makin menipisnya dinding kista karena makin bertambahnya darah yang menumpuk dalam rongga kista.

Page 27: Kegawatdaruratan Ginekologi

Diagnosis

Gejala klinis berupa nyeri pelvis sampai seluruh abdomen. Nyeri sangat mendadak, tajam, dan dapat meningkat dengan adanya aktivitas.

Bila kistanya kecil, pecahnya kista biasanya tidak disadari. Bila besar, atau terdapat perdarahan dari kista, pecahnya kista dapat disertai nyeri. Nyeri awalnya hanya pada satu sisi, kemudian menyebar ke seluruh pelvis.

Perdarahan, baik ringan maupun berat. Apabila terjadi perdarahan berat atau hemoperitoneum, dapat menimbulkan sinkop.

Page 28: Kegawatdaruratan Ginekologi

Pada pemeriksaan abdomen nyeri tekan dan nyeri lepas, akibat adanya iritasi peritoneum. Abdomen dapa terdistensi dengan adanya penurunan bising usus.

Pada pemeriksaan pelvis ditemukan massa kista yang pecah namun belum mengalami ruptur secara menyeluruh.

Demam dan leukositosis jarang ditemukan.

Penurunan hematokrit terjadi hanya jika perdarahan terus berlangsung.

Page 29: Kegawatdaruratan Ginekologi

Tatalaksana

Terapi pembedahan, baik berupa laparoskopi maupun laparotomi. Kuldosentesis dapat membantu dalam menentukan penyebab peritonitis, misalnya darah segar menunjukkan dari korpus luteum, darah berwarna coklat berasal dari endometriosis (kista coklat), cairan kental berminyak dari teratoma, cairan purulen dari PID (Pelvic Inflammatory Disease) atau abses tuboovarian.