Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Abdurrahman Wahid

download Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Abdurrahman Wahid

of 25

  • date post

    26-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    3.477
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Abdurrahman Wahid

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Abdurrahman Wahid Oleh Rum Rosyid, Univ Tanjungpura Pontianak Bagaimanakah visi pemerintah tentang pendidikan di masa depan. Pertanyaan ini dilontarkan oleh Dr Mudji Sutrisno SJ kepada Presiden Abdurrahman Wahid pada acara peluncuran buku Gus Dur di Istana Rakyat, 22 Desember 2000 lalu. Jujur diakui, sejak jatuhnya Orde Baru, perhatian kita lebih banyak dibetot oleh masalahmasalah politik, ekonomi, dan hukum. Dalam kondisi yang demikian, mungkin benar ungkapan yang mengatakan negeri ini dihancurkan oleh kaum intelektualnya sendiri. Apa sebab, karena pendidikan nasional selama ini bertekuk lutut kepada kepentingan penguasa. Pendidik, yaitu guru dan dosen yang tidak mengikuti sistem akan terlibas, sehingga murid yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini mendapatkan pendidikan yang tidak bermutu. Pendidikan disequillibrum antara pendidikan moral dan agama dengan sains. Perilaku yang dibentuk generasi pendidikan otoriter demikian banyak melahirkan pribadi yang terbelah tak seimbang, mengutip Abidin (2000), pendidikan seperti ini "too much science too little faith", lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama. Idealisme Gus Dur tentang pendidikan Indonesia di masa depan sepadan dengan harapan yang terangkum dalam buku Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman sebagai kumpulan tulisan dari sejumlah pakar, pemerhati, dan praktisi pendidikan yang pernah dimuat di majalah BASIS. "Memang keliru jika pendidikan tidak berguna sama sekali bagi kepentingan masyarakat. Selain mengakui masih minimnya anggaran APBN untuk bidang pendidikan, Gus Dur membayangkan bahwa pendidikan nasional di masa depan bukan lagi pendidikan yang mengandalkan hafalan. Apalagi, jumlah mata pelajaran di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang negara lain. Akibatnya, kita hanya menghasilkan manusia yang tidak tuntas. Soedjatmoko yang menekankan agar pendidikan agama dapat dikaitkan dengan kehidupan sosial, bukan lagi sebatas pengetahuan belaka. Tetapi, sangatlah keliru jika pendidikan memutlakkan kepentingan masyarakat tersebut, sebab tujuan pendidikan bukanlah pertama-tama melayani masyarakat, melainkan membantu kelahiran manusia-manusia dewasa dan matang, yang kelak dengan bebas dan sadar dapat membantu masyarakatnya," tulis Sindhunata, editor buku ini. Kegelisahan terhadap pendidikan di negeri ini adalah bagian dari kegelisahan tanpa henti selama berabad-abad di dunia pendidikan. Bukan rahasia lagi bahwa selama ini kita hanya berkutat pada sistem pendidikan, khususnya kurikulum sekolah. Soedjati Djiwandono menulis bahwa setiap menteri pendidikan dan kebudayaan tampaknya lebih berminat mewariskan "cap pribadinya": Daoed Joesoef dengan NKK-nya, Nugroho dengan PSPB-nya, dan Wardiman dengan link & match yang tidak jelas perwujudannya (halaman 177). Tak pelak, praktek trial and error semacam itu akhirnya melahirkan sinisme di masyarakat, khususnya orangtua murid dengan munculnya pemeo ''ganti menteri ganti kurikulum''; ''ganti kurikulum ganti buku''. Kegelisahan itu semakin sempurna dengan suburnya praktek ''komersialisasi pendidikan'' yang dilakukan sekolah-sekolah yang menyajikan pelayanan pendidikan yang tidak sepadan dengan uang sekolah yang mereka pungut. Oleh Mochtar Buchori, praktek semacam itu ditengarai sebagai ancaman bagi idealisme pendidikan.

Tergusurnya Masyarakat Miskin : Keprihatinan Presiden Semasa Gus Dur memegang tampuk kepresidenan, salah satu langkah signifikan yang dilakukannya adalah mengakomodasi kepentingan kaum buruh yang menuntut dibatalkannya pelaksanaan UU No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan yang akan berlaku sejak 1 Oktober 2000. Presiden Gus Dur menunda pelaksanaan UU No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. UU ini ditentang habis-habisan oleh kaum buruh Indonesia karena substansinya sangat eksploitatif. Untuk mengantisipasi adanya kekosongan hukum ketenegakerjaan karena UU pengganti UU No. 25 Tahun 1997 belum ada, pada 25 September 2000 dibuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No 3 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang-Undang No 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan. Perpu ini kembali menunda berlakunya UU No 25 Tahun 1997 yang semestinya berlaku pada Oktober 2000 menjadi Oktober 2002 dan pemerintahan Gus Dur segera mengajukan RUU perburuhan yang baru. Tak lama setelah dilantik, Presiden Gus Dur mengundang kalangan aktivis serikat buruh dan NGO advokasi buruh untuk memberikan masukan bagi perbaikan kebijakan perburuhan. Dalam pertemuan tersebut Presiden Gus Dur mendapat masukan mengenai buruknya perundang-undangan bidang perburuhan dan nasib buruh migran Indonesia yang kondisinya masih memprihatinkan. Salah satu kasus yang disampaikan kepada Gus Dur adalah kasus ancaman hukuman mati terhadap Siti Zaenab, buruh migran perempuan asal Bangkalan yang bekerja di Saudi Arabia Hasil konkret pertemuan ini adalah penerbitan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 150 Tahun 2000 tentang Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Upah Pesangon, Uang Penghargaan dan Ganti Rugi oleh Perusahaan. Bagi kaum buruh, Permenaker No 150/2000 ini merupakan kebijakan yang pro buruh berhadapan dengan pengusaha. Atas pengaduan kasus Siti Zaenab, Presiden Gus Dur juga langsung bertindak proaktif dengan mengontak langsung penguasa Arab Saudi Raja Fahd dan meminta pembatalan pelaksanaan hukuman mati terhadap Siti Zaenab. Berkat diplomasi tingkat tinggi tersebut, nyawa Siti Zaenab terselamatkan walau hingga kini proses hukum terhadap Siti Zaenab belum tuntas. Yang patut disayangkan, diplomasi tingkat tinggi untuk penyelesaian masalah buruh migran Indonesia tak lagi dilakukan presiden penerusnya. Bahkan, semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ada dua buruh migran Indonesia yang dieksekusi mati (Yanti Iriyanti dan Agus), tanpa mendapat advokasi yang signifikan. Presiden Gus Dur juga berani mengancam menghentikan penempatan buruh migran Indonesia ke Arab Saudi jika pemerintah Arab Saudi terus membiarkan terjadinya penganiayaan dan perkosaan terhadap buruh migran perempuan Indonesia yang bekerja di sana. Ancaman tersebut sebenarnya akan direalisasikan pada 17 Agustus 2001 melalui program 100 hari jeda (moratorium) pengiriman buruh migran Indonesia ke Arab Saudi. Sayang, program tersebut tak sempat dilaksanakan karena Gus Dur dijatuhkan. Lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan juga mengakibatkan terhentinya program pembaruan kebijakan perburuhan yang membela kepentingan kaum buruh (migran) Indonesia.

Komitmen Gus Dur pada nasib kaum buruh juga ditunjukkan jauh sebelum menjadi presiden. Yang paling nyata adalah dukungannya menjadi salah satu pendiri Serikat Buruh Sejahtera Indonesia bersama Muchtar Pakpahan. Dukungan untuk berdirinya serikat buruh independen di luar serikat buruh resmi (saat itu SPSI) di era Orde Baru bukannya tanpa risiko. Namun, Gus Dur berani mengambil risiko tersebut. Komitmen Gus Dur terhadap kaum buruh juga tetap terjaga meskipun tidak lagi menjadi presiden. Pada saat terjadi pengusiran paksa buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen dari Malaysia pada 2005, Gus Dur merelakan tempat tinggalnya di Ciganjur untuk menampung ratusan buruh migran Indonesia tidak berdokumen yang terusir dari Malaysia. Karena statusnya sebagai buruh migran tak berdokumen, mereka tak dilayani oleh pemerintah Indonesia. Perlakuan diskriminatif terhadap buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen ini yang dikritik Gus Dur sebagai pemerintahan yang tidak menghargai pengorbanan buruh migran. Dalam penanganan kasus buruh migran Indonesia tak berdokumen di Malaysia, Gus Dur juga secara khusus melakukan lobi personal terhadap perdana menteri Malaysia pada Agustus 2005 dengan biaya pribadi. Berkat lobi ini, Gus Dur mampu membebaskan Adi bin Asnawi, buruh migran asal Lombok, NTB, yang sudah divonis hukuman mati dan dipenjara di Penjara Sungai Buloh Selangor. Ada dapat menghirup kebebasan pada 9 Januari 2010, 10 hari setelah kepergian Gus Dur, yang berjasa besar membebaskan Adi dari jerat gantungan. Tergusurnya orang-orang miskin dari proses belajar yang menguntungkan mendorong seorang ahli pendidikan kelahiran Vienna, Ivan Illich, menuntut adanya proses deschooling, atau peniadaan radikal sistem sekolah (yang lazim dipraktekkan). Ia gemas melihat bahwa sistem sekolah hanya memperlebar jurang kesenjangan sosial. Nyatanya, gugatan Illich yang juga doktor di bidang sejarah itu terus berlangsung hingga sekarang, tak terkecuali di negeri ini. Tak heran bila ia lantang memopulerkan pendekatan sekolah nonformal, pendidikan sekolah bebas. Sekolah harus bebas dari segala birokratisme yang melahirkan sekelompok elite sosial dan profesional yang menghasilkan pendidikan biaya tinggi. Menuju Desentralisasi Pendidikan Desentralisasi pendidikan, merupakan salah satu cara di masa pendidikan otoriter tidak lagi dianut, alias masa pendidikan di era otonomi daerah. Era yang dimulai secara formal melalui produk kebijakan otonomi pendidikan perguruan tinggi, kebijakan desentralisasi pendidikan yang mengacu pada UU No. 22 tahun 1999 dan No. 25 tahun 1999 yang direvisi menjadi UU No. 32 tahun 2004 dan No. 33 tahun 2004 dimana dapat ditangkap prinsip-prinsip dan arah baru dalam pengelolaan sektor pendidikan dengan mengacu pada pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) serta perimbangan keuangan antara pusat dan daerah dimana implikasi otonomi daerah bagi sektor pendidikan sangat tergantung pada pembagian kewewenangan di bidang pendidikan yang akan ditangani pemerintah pusat dan pemerintah daerah disisi lain. Lalu sebuah sistem pendidikan nasional yang disahkan melalui UU Sisdiknas dimana beberapa muatan dalam kebijakan ini secara tidak langsung mencoba melakukan perbaikan mutu pendidikan. Sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang bertentangan. Pendidikan tidak bisa

disempitkan pada pendidikan formal semata. Ia mencakup aspek yang begitu luas, yang oleh Johannes M