KATALOG GEMPABUMI MERUSAK DI ... - Kebencanaan Geologi

of 151 /151
KATALOG DI INDON PUSAT T 1 G GEMPABUMI ME NESIA TAHUN 1612 (EDISI KELIMA) OLEH : SUPARTOYO SURONO EKA TOFANI PUTRANTO KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MI BADAN GEOLOGI VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCA Jl. Diponegoro no. 57 Bandung 4016 Telepon (022) 7272606, 7272604; Facsimile (022 Homepage:http//www.vsi.esdm.go.id 2014 ERUSAK – 2014 INERAL ANA GEOLOGI 2) 7202761;

Embed Size (px)

Transcript of KATALOG GEMPABUMI MERUSAK DI ... - Kebencanaan Geologi

(EDISI KELIMA)
PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI
Jl. Diponegoro no. 57 Bandung 4016 Telepon (022) 7272606, 7272604; Facsimile (022) 7202761;
Homepage:http//www.vsi.esdm.go.id
2014
1
(EDISI KELIMA)
PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI
Jl. Diponegoro no. 57 Bandung 4016 Telepon (022) 7272606, 7272604; Facsimile (022) 7202761;
Homepage:http//www.vsi.esdm.go.id
2014
1
(EDISI KELIMA)
PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI
Jl. Diponegoro no. 57 Bandung 4016 Telepon (022) 7272606, 7272604; Facsimile (022) 7202761;
Homepage:http//www.vsi.esdm.go.id
2014
2
Penyusun :
Penyunting :
Ir. M. Hendrasto, M.Sc Dr. Gede Suantika, M.Si Dr. Sri Hidayati, M.Sc
3
Saya menyambut gembira atas terbitnya buku Katalog Gempabumi Merusak di Indonesia
Tahun 1612 – 2014 edisi kelima ini yang merupakan pemutakhiran dari edisi sebelumnya.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa negara kita merupakan wilayah rawan bencana
gempabumi dan tsunami karena terletak pada tempat pertemuan empat lempeng aktif dunia,
yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, Laut Philiphina dan Pasifik. Lempeng Eurasia yang
relatif stabil dan kaku terdapat pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa bergerak relatif
ke arah tenggara.
Lempeng Indo-Australia yang relatif lentur bergerak relatif ke utara dan menyusup ke bawah
lempeng Eurasia di pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa, Selatan Bali – Nusa Tenggara
hingga ke sebelah Barat Daya Kepulauan Maluku. Lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah
barat berinteraksi dan menyusup ke bawah lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia di
sebelah Utara Papua, sebelah Utara Kepulauan Maluku hingga ke Perairan Sulawesi
Tengah Bagian Timur.
Pertemuan antar lempeng tersebut membentuk zona penunjaman atau zona subduksi
sebagai sumber gempabumi. Oleh karena zona subduksi berada di bawah laut maka
gempabumi pada zona subduksi berpotensi membangkitkan tsunami. Akibat dari interaksi
empat lempeng tersebut terbentuk deretan gunungapi aktif (127 gunungapi di Indonesia) dan
membentuk morfologi pegunungan serta lembah juga sesar di busur kepulauan. Sesar yang
terbentuk di busur kepulauan ini dapat menjadi sumber gempabumi. Apabila sesar aktif
tersebut terletak dekat dengan permukiman dan aktivitas penduduk maka dapat berpotensi
menyebabkan bencana.
Meskipun hingga saat ini belum ada ilmu dan teknologi untuk meramalkan waktu kejadian
dan parameter gempabumi, namun melalui katalog ini dapat diketahui wilayah rawan
gempabumi dan tsunami yang berpotensi menimbulkan bencana. Sifat dinamika geologi
menunjukkan bahwa jika suatu wilayah pernah terjadi gempabumi, maka kejadian
gempabumi serupa akan berulang kembali di daerah yang sama, namun sulit untuk
menentukan waktu dan besarnya parameter gempabumi tersebut. Artinya, gempabumi dapat
4
terjadi setiap saat di wilayah yang pernah terjadi gempabumi di masa lalu. Oleh karena itu,
pendapat atau berita yang menyebutkan akan terjadi gempabumi pada waktu tertentu di
suatu wilayah dengan besaran parameter kegempaan tertentu, berita tersebut tidak perlu
diperhatikan dan ditanggapi. Hal penting bagi masyarakat yang bermukim di wilayah rawan
gempabumi adalah selalu waspada, mengetahui tata cara mengantisipasi dan
menyelamatkan diri jika terjadi gempabumi serta membangun bangunan tahan terhadap
goncangan gempabumi.
Bagi wilayah yang pernah terjadi gempabumi yang diikuti oleh gelombang tsunami agar
pembangunan dan pengembangan wilayah pesisir harus memperhatikan bentuk, morfologi
dan lingkungan pantai terhadap permukiman dan aktivitas penduduk sebagai bagian dalam
perlindungan masyarakat terhadap ancaman bencana tsunami.
Mudah – mudahan buku ini dapat berguna sebagai salah satu rujukan data dasar
gempabumi merusak dan tsunami di Indonesia bagi pihak – pihak yang membutuhkannya.
Bandung, Desember 2014 Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,
Ir. M. Hendrasto, MSc. NIP 195910231987031002
5
SAMBUTAN PENYUSUN
Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa maka buku berjudul “Katalog Gempabumi Merusak di
Indonesia Tahun 1612 – 2014” dapat disajikan kepada para pembaca. Buku ini merupakan
edisi kelima, melanjutkan dari edisi pertama (tahun 2005), edisi kedua (tahun 2006), edisi
ketiga (tahun 2006) dan edisi keempat (tahun 2008). Buku ini berisi kejadian gempabumi
merusak dan gempabumi yang mengakibatkan terjadinya tsunami di Indonesia sejak tahun
1612 - 2014. Data sumber gempabumi dan tsunami dihimpun dan dimutakhirkan dari
berbagai literatur dan hasil-hasil penyelidikan para ahli kebumian di lingkungan Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral.
Hingga tahun 1960-an, lokasi kejadian gempabumi belum dapat diketahui secara pasti tetapi
wilayah yang mengalami kerusakan dapat diketahui dari laporan - laporan yang dikumpulkan
dari dalam negeri dan luar negeri. Sejak tahun 1964, informasi lokasi dan parameter
gempabumi diketahui dengan pasti, sejalan dengan berkembangnya pamasangan jaringan
pemantauan gempabumi di dunia.
Katalog ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber gempabumi, karakteristik
gempabumi suatu wilayah dan wilayah rawan bencana gempabumi dan tsunami. Buku
katalog ini akan selalu dimutakhirkan dengan data terbaru, sehingga katalog ini benar-benar
dapat dijadikan salah satu rujukan data dasar dalam studi tentang bencana gempabumi dan
tsunami di Indonesia.
Penyusun menyadari buku katalog ini masih jauh dari lengkap dan sempurna. Oleh karena
itu masukan untuk perbaikan buku ini sangat kami harapkan dari para pembaca. Semoga
buku katalog ini dapat berguna bagi kita semua.
Bandung, Desember 2014
SAMBUTAN PENYUSUN ............................................................................... SAMBUTAN KEPALA PUSAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI ................................................................................... ..................... DAFTAR ISI .................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................. DAFTAR GAMBAR ........................................................................................
i
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................
BAB II TEKTONIK DAN KEGEMPAAN DI INDONESIA .................
Tektonik di Indonesia ......................................................................... Kegempaan di Indonesia ...................................................................
BAB III GEMPABUMI MERUSAK DI INDONESIA ...........................
Gempabumi Merusak di Pulau Sumatera .......................................... Gempabumi Merusak di Pulau Jawa ................................................. Gempabumi Merusak di Pulau Bali dan Nusa Tenggara ................... Gempabumi Merusak di Pulau Kalimantan ........................................ Gempabumi Merusak di Pulau Sulawesi ........................................... Gempabumi Merusak di Kepulauan Maluku ...................................... Gempabumi Merusak di Pulau Papua ...............................................
BAB IV PENUTUP ............................................................................
115 129
Indonesia merupakan negara kepulauan membentang mulai dari Sabang hingga Merauke
sepanjang lebih dari 5.000 km, lebar dari utara ke selatan lebih dari 1.700 km dan memiliki
luas sekitar 1,92 juta km2. Secara geografis Indonesia terletak diantara dua benua yaitu
Benua Asia dan Australia serta dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Secara
geotektonik, Indonesia merupakan tempat pertemuan empat lempeng aktif dunia, yaitu :
Lempeng Benua Eurasia yang bergerak sangat lambat ke arah tenggara dengan kecepatan
sekitar 0,4 cm/ tahun, Lempeng Samudera Indo – Australia yang bergerak ke arah utara
dengan kecepatan sekitar 7 cm/ tahun, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah
barat dengan kecepatan sekitar 11 cm/ tahun dan Lempeng Laut Philiphina yang bergerak
ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 8 cm/ tahun (Minster dan Jordan, 1978 dalam
Yeats, 1997). Pertemuan keempat lempeng tersebut merupakan salah satu tempat unik di
dunia ini.
gas bumi, potensi energi panas bumi, jalur mineralisasi berpotensi terbentuknya mineral
logam dan non logam serta bahan tambang lainnya, tanah yang subur akibat endapan
batuan rombakan gunungapi muda serta jejak – jejak kejadian geologi masa lampau yang
memberikan pemandangan indah sebagai tujuan wisata. Semua itu merupakan karunia
Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita syukuri. Disamping memberikan dampak positif,
pertemuan keempat lempeng tersebut mengakibatkan dampak negatif yaitu rawan bencana
geologi, yaitu : gempabumi, tsunami, letusan gunungapi, gerakan tanah atau longsor, erosi,
sedimentasi serta dinamika geologi destruktif lainnya. Kejadian bencana gempabumi dan
tsunami, di beberapa wilayah di Indonesia, dicirikan dengan waktu kejadian sangat singkat
dan tanda-tanda kejadiannya yang sangat singkat pula. Kedua jenis bencana geologi ini
lama kejadiannya pada umumnya kurang dari 30 menit, akan tetapi telah mengakibatkan
dampak bencana yang luar biasa berupa korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan
lingkungan dan keresahan di masyarakat. Kejadian gempabumi dan tsunami dapat
8
dan sosial, serta mengakibatkan lumpuhnya Pemerintahan tingkat Provinsi seperti yang
terjadi di Banda Aceh pada akhir tahun 2004 hingga pertengahan tahun 2005 dan di tingkat
Kabupaten seperti terjadi di Pulau Nias pada bulan Maret tahun 2005.
Sayangnya, hingga saat ini belum ditemukan ilmu dan teknologi yang tepat untuk
“meramalkan” kapan dan berapa besar kekuatan yang dapat diakibatkan oleh kejadian
gempabumi dan tsunami. Pendapat beberapa orang dan “oknum” yang meramalkan waktu
akan terjadinya gempabumi dan tsunami hanya isapan jempol belaka. Disamping tidak
terbukti, ramalan tersebut telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Contohnya adalah
ramalan seorang Professor dari Brazil yang meramalkan di sebelah barat Pulau Sumatera
pada tanggal 24 Desember 2007 akan terjadi gempabumi dengan kekuatan besar dan diikuti
oleh tsunami. Isu tersebut sangat meresahkan masyarakat dan menjelang tanggal 24
Desember 2007 kota Padang dan Bengkulu sempat lengang selama beberapa hari karena
masyarakatnya berbondong – bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan keluar
kota Padang dan Bengkulu. Meskipun isu tersebut tidak terbukti, namun sebagian besar
masyarakat sempat ”percaya” terhadap isu tersebut. Mereka seakan – akan telah tersihir
oleh isu tersebut dan tidak mempercayai penjelasan ilmiah yang dikemukakan oleh Badan
Geologi maupun instansi pemerintah lainnya.
Oleh karena itu, upaya yang tepat untuk mengurangi dampak bencana gempabumi adalah
meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempabumi yang
merupakan bagian dari upaya mitigasi gempabumi. Salah satu upaya mitigasi tersebut
adalah menghimpun catatan sejarah kejadian bencana gempabumi sebelumnya, atau
disebut juga kejadian gempabumi merusak (destructive earthquake). Buku ini menghimpun
data kejadian gempabumi merusak di Indonesia dari tahun 1612 hingga 2014. Dengan
mengetahui sejarah kejadian gempabumi merusak sebelumnya akan dapat meningkatkan
kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempabumi.
I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan buku ini adalah untuk menghimpun sejarah kejadian gempabumi
merusak yang pernah terjadi di wilayah Indonesia dari berbagai sumber. Tujuan dari
penyusunan buku ini adalah untuk memberikan gambaran sejarah kejadian gempabumi
9
merusak yang pernah terjadi di Indonesia, yang berguna untuk mengidentifikasi wilayah
rawan gempabumi dan mempelajari karakteristik gempabumi merusak di suatu daerah. Hal
ini sangat berguna dalam mendukung program mitigasi bencana gempabumi. Sesuai
dengan amanah Undang – Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
dan Undang – Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka buku ini
diharapkan dapat menyediakan data dasar sejarah kejadian gempabumi merusak yang
pernah terjadi di Indonesia. Penyusunan buku ini adalah untuk melengkapi dan melanjutkan
data katalog gempabumi merusak yang telah disusun sebelumnya oleh Kertapati dkk. (1991)
dan dilanjutkan oleh Supartoyo, Putranto dan Surono (2005) untuk edisi pertama. Kemudian
Supartoyo, Putranto dan Surono (2006) melanjutkan untuk edisi kedua dan ketiga.
Selanjutnya Supartoyo dan Surono (2008) menyempurnakan untuk edisi keempat. Oleh
karena buku ini mendapat respon yang luar biasa dari pembaca, maka Kepala Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (KESDM) menugaskan kepada penulis untuk mencetak ulang dengan
menambah data kejadian gempabumi merusak hingga tahun 2014.
I.3 Metodologi
Metodologi penyusunan buku ini adalah dengan menghimpun data kejadian gempabumi
merusak yang terjadi di wilayah Indonesia, berasal dari buku, referensi, perpustakaan Pusat
Survei Geologi (PSG), perpustakaan Pusat Lingkungan Geologi (PLG), perpustakaan Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG), hasil kegiatan penyelidikan gempabumi
yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (sekarang PSG)
hingga tahun 2000 dan PVG mulai tahun 2000 hingga sekarang, BMG, USGS, Pemerintah
Daerah (Provinsi/ Kabupaten/ Kota), internet, media elektronik, media masa, tulisan populer
(di surat kabar, buletin, jurnal, dll), materi seminar, kolokium, sosialisasi. Beberapa data yang
dipergunakan untuk menyusun buku ini antara lain dari Kertapati dkk. (1991), Visser (1922),
catatan dari Wichman (tanpa tahun), Soetarjo dkk. (1985), Newcomb dan McCann (1987),
Tjokrosapoetro (1994) dan data lainnya. Data tersebut kemudian dikelompokkan sesuai
dengan wilayah Provinsi di Indonesia dalam bentuk tabel. Sementara itu data koordinat
pusat gempabumi merusak diplot sesuai dengan wilayah kejadian.
10
II.1 Tektonik di Indonesia
Kepulauan Indonesia merupakan salah satu kawasan unik di dunia ini karena tempat
bertemunya empat lempeng dunia, yaitu Lempeng Indo – Australia, Lempeng Eurasia,
Lempeng Laut Philiphina dan Lempeng Pasifik, sehingga menghasilkan pola dan tataan
geologi yang rumit, terutama di kawasan Indonesia bagian timur. Pertemuan 3 lempeng ini
merupakan hal unik di dunia ini yang dikenal dengan sebutan “triple junction”. Beberapa ahli
kebumian menyatakan bahwa selain tiga lempeng tersebut, sebenarnya terdapat tambahan
satu lempeng lagi yang saling berinteraksi di wilayah Kepaulauan Indonesia, yaitu Lempeng
Philiphina (Hall, 2002; Simandjuntak dan Barber 1996 dalam Simandjuntak 2004; Kertapati,
2006). Berdasarkan pengaruh interaksi antara empat lempeng tersebut, secara umum
wilayah Kepulauan Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yaitu kawasan Indonesia barat dan
kawasan Indonesia timur. Tektonik Indonesia bagian barat sangat dipengaruhi oleh interaksi
antara Lempeng Indo – Australia dan daratan Sunda (Sunda land). Wilayah Indonesia
bagian barat sebagian besar didominasi oleh kerak kontinen daratan Sunda hasil dari
amalgamasi fragmen kontinen – fragmen kontinen yang lebih kecil pada Mesozoikum
(Metcalfe, 1996 dalam Prasetiadi, 2007). Sedangkan tektonik di wilayah Indonesia bagian
timur sangat dipengaruhi oleh interaksi Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan
Lempeng Philiphina yang menghasilkan tataan struktur geologi yang sangat kompleks.
Evolusi tektonik di wilayah Kepulauan Indonesia setidaknya telah dimulai pada akhir Jaman
Perm hingga Awal Trias sebagaimana telah dijelaskan oleh Simandjuntak (2004) dalam
bukunya yang berjudul Tektonika. Secara ringkas Simandjuntak (2004) menjelaskan evolusi
tersebut sebagai berikut. Pada akhir Jaman Perm hingga Awal Trias anak benua Siam,
Burma, Malaysia dan Sumatera terpisah dari benua besar Pangea dan pada Trias Tengah
bertumbukan dengan anak benua lainnya yaitu China selatan dan Indochina (termasuk
mintakat Bangka – Belitung) yang telah terpisah lebih dulu dari benua besar Pangea. Pada
akhir Trias gabungan anak benua Siam, Burma, Malaysia, Sumatera dan China selatan,
Indochina bergerak ke utara khatulistiwa dan bertumbukan dengan anak benua daratan
11
Cathaysia. Mekanisme ini bersamaan dengan dengan menunjamnya kerak samudera Meso
– Tetis di bawah pinggiran sebelah selatan gabungan anak benua Siam, Burma, Malaysia,
Sumatera dan China selatan, Indochina. Mekanisme tunjaman tersebut menghasilkan
terbentuknya jalur timah di wilayah Asia Tenggara, termasuk di wilayah Indonesia. Pada
waktu itu wilayah lain di Indonesia masih belum terbentuk.
Pada awal Jura penggalan dari benua Woyla bertumbukan dengan anak benua Siam,
Burma, Malaysia, Sumatera, kemudian bergabung dan menjadi cikal bakal anak benua Asia
Tenggara. Pada Kapur tengah hingga akhir anak benua Asia Tenggara mengalami
tumbukan tektonik ganda dengan Lempeng Samudera Pasifik dan Kerak samudera Ceno
Tetis (yang merupakan cikal bakal Lempeng Indo – Australia). Selanjutnya pada akhir Kapur
jalur orogenesa kedua tunjaman tektonik tersebut membentuk anak benua daratan Sunda
(Sunda land). Sementara itu di selatan Khatulistiwa Benua Australia mulai memisah yang
menghasilkan benua-benua mikro dan pada Jaman Neogen akan berpindah ke arah barat –
barat laut menuju wilayah Laut Banda terbawa oleh Sesar Sorong yang bergerak
transtensional mengiri. Disamping itu pada wilayah ini terjadi tumbukan antara Kerak
Samudera Ceno Tetis dengan Lempeng Samudera Pasifik dan membentuk rangkaian busur
kepulauan (island arc) yang kini menjadi Laut Carolina dan Laut Philiphina.
Pada awal Tersier terjadi perpindahan lajur penunjaman di wilayah Indonesia bagian barat
semakin ke arah laut antara Lempeng Samudera Indo – Australia dan daratan Sunda. Pada
wilayah Indonesia timur Benua Australia bertumbukan dengan busur kepulauan Paleosen
Laut Carolina dan Laut Philiphina. Tumbukan ini mengakibatkan sebagian busur kepulauan
tersebut tersesarkan dan terakrasi di wilayah utara Papua New Guinea. Pada Jaman
Neogen terjadi orogenesa di seluruh wilayah Indonesia akibat interaksi empat lempeng
tektonik yang menghasilkan tujuh jalur orogenesa (orogenic belts) yaitu orogenesa Barisan,
Sunda, Talaud, Sulawesi, Banda, Melanesia dan Dayak (Simandjuntak 2004). Mekanisme
tektonik lajur penunjaman ini masih aktif atau teraktifkan kembali hingga sekarang, salah
satunya dicirikan tingginya frekuensi kegempaan di wilayah Indonesia. Gambar 1
menampilkan tataan tektonik dan struktur geologi yang terbentuk pada kondisi sekarang.
12
II.2 Kegempaan di Indonesia
Gempabumi merupakan goncangan pada permukaan bumi yang dihasilkan dari gelombang
seismik akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam bumi (Hunt, 1984). Dinamika
bumi memungkinkan terjadinya gempabumi. Setiap hari tidak kurang dari 8.000 kejadian
gempabumi di dunia, dengan skala kecil kurang dari 2 pada Skala Richter, sampai skala
besar dengan kekuatan mencapai 9 pada Skala Richter yang secara statistik hanya terjadi
satu kali dalam 20 tahun di dunia. Kurang lebih 10% kejadian gempabumi dunia terjadi di
Indonesia, sehingga Indonesia termasuk wilayah rawan gempabumi. Berdasarkan penyebab
yang dapat mengakibatkan terjadinya gempabumi, maka gempabumi dapat diklasifikasikan
menjadi tiga yaitu gempabumi vulkanik, tektonik dan akibat proses lain.
a. Gempabumi Vulkanik
Gempabumi vulkanik disebabkan oleh naiknya fluida gunungapi (gas, uap dan magma) dari
bawah menuju ke permukaan (kawah) mengakibatkan retakan yang menimbulkan getaran di
13
sekitar rekahan dan merambat ke segala arah. Gempabumi ini bersumber dalam tubuh
gunungapi aktif pada umumnya berkekuatan kecil (maksimum 2 Skala Richter), tidak terasa
dan hanya tercatat oleh peralatan seismograf.
b. Gempabumi Tektonik
Gempabumi ini disebabkan aktifitas tektonik pada zona batas antar lempeng dan patahan
yang mengakibatkan getaran yang menyebar ke segala arah. Kekuatan gempabumi tektonik
dapat mencapai 9 pada Skala Richter seperti yang pernah terjadi di Aceh pada tanggal 26
Desember 2004. Pada buku ini istilah gempabumi tektonik selanjutnya akan disebut
gempabumi.
Selain akibat aktivitas naiknya fluida gunungapi dan aktivitas tektonik, kejadian gempabumi
dapat diakibatkan oleh beberapa proses antara lain runtuhan batuan di daerah kapur,
runtuhnya terowongan tambang dan longsoran bawah tanah. Kejadian gempabumi dapat
juga diakibatkan oleh injeksi fluida, pengisian waduk dan percobaan nuklir (Hunt, 1984 dan
Keller dan Pinter, 1996). Kejadian-kejadian tersebut dapat menimbulkan getaran tanah dan
kekuatan gempabumi ini tergantung dari volume dan jenis material runtuhan apabila
disebabkan oleh longsoran.
Salah satu teori yang hingga kini dapat diterima oleh para ahli kebumian untuk menjelaskan
mekanisme dan sebaran kejadian gempabumi adalah teori tektonik lempeng (theory of plate
tectonic). Gempabumi akan terjadi apabila terjadi penumpukan energi pada batas lempeng
(bersifat konvergen/ bertumbukan, divergen/ saling menjauh dan transform/ berpapasan)
atau pada sesar/ patahan dan blok batuan tersebut tidak mampu lagi menahan batas
elastisitasnya, sehingga akan dilepaskan sejumlah energi dalam bentuk rangkaian
gelombang seismik yang dikenal sebagai gempabumi. Sebaran kegempaan di Indonesia
terdapat pada batas pertemuan lempeng dan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif pada
kerak bumi (Gambar 2). Adapun jenis sesar/ patahan aktif penyebab gempabumi dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu sesar naik (thrust/ reverse fault), sesar turun (normal fault) dan
sesar mendatar (strike slip fault).
14
Zone penunjaman dan patahan-patahan berdasarkan data geologi, geofisika, geodesi dan
kegempaan dikenal sebagai zona sumber gempabumi (seismic source zone) (Algermisen
dkk 1982, Crouse 1992, Adam dan Basham 1994 dalam Kertapati 2006). Berdasarkan data
geologi, geofisika, sejarah kegempaan dan geodesi, maka di wilayah Indonesia dapat dibagi
menjadi tiga zona sumber gempabumi (Kertapati, Firmansyah & Irsyam 1999 dalam
Kertapati 2006), yaitu :
Zona penunjaman/ subduksi.
Zona menyebar (diffuse).
Zona penunjaman merupakan suatu tempat terjadinya gempabumi di sekitar tempat
pertemuan antara dua lempeng, dapat berupa antara lempeng samudera yang menyusup di
bawah lempeng benua atau dapat juga berupa pertemuan antar dua lempeng benua yang
saling bertumbukan yang dikenal dengan sebutan kolisi (collision). Beberapa zona
penunjaman yang merupakan sumber gempabumi di Indonesia adalah zona penunjaman
Jawa – Sumatera, Seram, Sulawesi Utara, Sangihe, Punggungan Mayu dan Halmahera –
Irian (Kertapati, 2006).
15
Zona patahan kerak bumi dangkal merupakan tempat terjadinya gempabumi di dalam kerak
bumi dangkal dan berkaitan dengan aktivitas sesar/ patahan yang dikenal sebagai sesar aktif
(active fault). Beberapa pendapat dari para ahli tentang batasan waktu sesar aktif berbeda-
beda. Menurut Keller dan Pinter (1996) sesar aktif adalah sesar yang pernah bergerak pada
kurun waktu 10.000 tahun yang lalu. Sesar berpotensi aktif (potential active) adalah sesar
yang pernah bergerak pada kurun waktu 2 juta tahun yang lalu. Sedangkan sesar tidak aktif
(inactive fault) adalah sesar yang belum/ tidak pernah dalam kurun waktu 2 juta tahun yang
lalu. Menurut komisi pengaturan Nuklir USA (USA Nuclear Regulatory Commision, dalam
Hunt, 1984 dan Keller dan Pinter, 1996) sesar aktif adalah suatu sesar yang minimal pernah
bergerak dalam kurun waktu 50.000 tahun yang lalu atau pernah bergerak lebih dari sekali
selama kurun waktu 500.000 tahun yang lalu. Kriteria ini dibuat dengan tujuan untuk faktor
keselamatan yang lebih besar. Hal ini merefleksikan tingkat kepedulian resiko pembangkit
tenaga nuklir. Menurut Yeats, dkk (1997) banyak masalah sehubungan dengan definisi sesar
aktif yang berbeda dari beberapa lembaga di USA. Perbedaan tersebut menyangkut batasan
waktu. Beberapa batasan waktu dari lembaga – lembaga tersebut menyangkut definisi sesar
aktif adalah : pernah bergerak 10.000 tahun yang lalu, pernah bergerak 35.000 tahun yang
lalu, pernah bergerak 150.000 tahun yang lalu, pernah bergerak 2 kali selama kurun waktu
500.000 tahun yang lalu. Menurut Huzita dkk., 1992 sesar aktif adalah sesar yang bergerak
pada jaman Kuarter dan berpotensi untuk bergerak kembali pada masa yang akan datang.
Sesar aktif dicirikan apabila sesar tersebut memotong permukaan geomorfologi berumur
Kuarter, memotong perlapisan Kuarter, sesar pada daerah gunungapi yang bergerak pada
periode pendek (selama masa letusan gunungapi) dan sesar normal yang diamati pada
pegunungan tinggi seperti Pegunungan Alp di Jepang akibat pengaruh gaya gravitasi.
Dari beberapa pendapat di atas, meskipun beberapa tentang batasan waktu sesar aktif,
namun terdapat persamaan waktu tentang sesar aktif yaitu yang pernah bergerak pada
Jaman Kuarter dan kemudian teraktifkan kembali pada saat ini. Beberapa sesar aktif pada
kerak bumi dangkal yang merupakan sumber gempabumi antara lain : Sesar Sumatera di
Pulau Sumatera, Cimandiri, Baribis, Bumi Ayu, Lasem (di Pulau Jawa), Walanea, Palu –
Koro, Poso, Batui (di Pulau Sulawesi), Tarera – Aiduna, Sorong, Ransiki, Membrano (di
Pulau Papua), Sesar naik busur belakang Flores (di Nusa Tenggara) (Kertapati, 2006).
Selain sesar aktif yang disebut di atas di Pulau Jawa terdapat sesar aktif lain, yaitu sesar
Opak (Natawidjaja, 2007), Sesar Walat yang membentang dari kota Cibadak hingga selatan
16
Sukabumi. Sesar aktif di Pulau Sumatera dikenal dengan sebutan Sesar Besar Sumatera
(Katili, 1980) atau Sesar Sumatera (Sieh dan Natawidjaja, 2000). Di Pulau Sulawesi dikenal
Sesar Palu Koro berarah barat laut-tenggara. Menurut Bellier dkk. (2001) Sesar Palu Koro
terbagi menjadi 7 segmen dan panjang keseluruhan sekitar 218 km. Di Pulau Papua
membentang sesar mendatar berarah barat timur mulai dari Kepala Burung Provinsi Papua
Barat, Kepulauan Maluku hingga lengan timur Sulawesi yang dikenal dengan sebutan Sesar
Sorong. Kejadian gempabumi merusak di Kepulauan Maluku tahun 1998 dengan magnituda
8,3 Mw berkaitan dengan aktivitas Sesar Sorong. Zona menyebar (diffuse) merupakan zona
sumber gempabumi yang diasumsikan sebagai daerah yang mempeunyai potensi
kegempaan (Kertapati, 2006). Beberapa kejadian yang berhubungan dengan aktivitas
tektonik di busur belakang, cekungan busur belakang, fragmen kontinen/ benua seperti di
daerah Banggai Sula serta cekungan seperti di cekungan Banda.
Gambar 3. Zona sumber gempabumi di Indonesia (Kertapati dan Mawardi, 2000 dalam Kertapati, 2006).
11
Wilayah Negara Republik Indonesia merupakan wilayah rawan bencana geologi, khususnya
bencana gempabumi dan tsunami, karena merupakan tempat pertemuan empat lempeng, yaitu
: Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudera Indo – Australia, Lempeng Samudera Pasifik
dan Lempeng Laut Philiphina. Zona pertemuan antar lempeng tersebut membentuk palung
(trench) yang disebut zona subduksi dan merupakan zona sumber gempabumi di laut. Akibat
tumbukan antar lempeng tersebut, terbentuk sesar aktif baik yang terdapat di darat maupun di
laut. Pada lempeng benua diantara zona subduksi dan rangkaian Busur Vulkanik terbentuk zona
prismatik akresi dimana banyak terdapat sistem sesar aktif, pada umumnya merupakan sesar
naik dan banyak dijumpai sebaran pusat gempabumi. Sesar aktif tersebut baik yang terdapat di
darat maupun di laut juga merupakan zona sumber gempabumi. Oleh karena itu wilayah yang
berdekatan dengan sumber gempabumi dapat digolongkan sebagai wilayah rawan bencana
gempabumi. Gambar berikut ini menampilkan peta sebaran sesar aktif dan pusat gempabumi
merusak, peta wilayah rawan bencana gempabumi dan peta wilayah rawan tsunami di
Indonesia.
Gambar 4. Peta sebaran sesar aktif dan pusat gempabumi merusak di Indonesia (Supartoyo dan Surono, 2008).
12
Gambar 5. Peta wilayah rawan gempabumi di Indonesia (Supartoyo dan Surono, 2008).
Gambar 6. Peta wilayah rawan bencana tsunami di Indonesia (Supartoyo dan Surono, 2008).
13
Berdasarkan data dari berbagai sumber, antara lain : BMKG, USGS, Pemerintah Daerah, media
elektronik, media massa dan lain – lain yang dihimpun oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVG) mulai dari tahun 2000 hingga 2014 tercatat kejadian gempabumi
merusak berkisar antara 4 hingga 12 kejadian (tabel 1). Kejadian gempabumi merusak tersebut
telah mengakibatkan bencana meliputi korban jiwa, kerusakan bangunan, kerugian harta benda,
kerusakan lingkungan maupun kecemasan di masyarakat akibat beredarnya isu – isu seputar
gempabumi dan tsunami.
Tabel 1. Kejadian gempabumi merusak di Indonesia tahun 2000 hingga 2014.
NO. TAHUN KEJADIAN JUMLAH KEJADIAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14.
2000 s/d 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
5 5 10 9 11 12 8 8 8 8 8 6 9 4
III.1 Gempabumi Merusak di Pulau Sumatera
Kegiatan tektonik di kawasan Pulau Sumatera dan sekitarnya tergolong aktif sejak Paleozoikum
– Mesozoikum – Tersier hingga sekarang ini yang diikuti oleh pembentukan jalur orogenesa di
wilayah ini. Pulau Sumatera merupakan salah satu kawasan yang terletak pada pinggiran
lempeng aktif (active plate margin), yang dicerminkan oleh tingkat kegempaan tinggi dan
aktivitas vulkanisme di wilayah ini. Pulau Sumatera merupakan bagian dari Lempeng Eurasia
yang bergerak sangat lambat relatif ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 0,4 cm/ tahun,
berinteraksi dengan Lempeng Hindia – Australia yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera
yang bergerak relatif ke arah utara dengan kecepatan sekitar 7 cm/ tahun (Minster dan Jordan,
1978 dalam Yeats, 1997). Zona pertemuan antara kedua lempeng tersebut membentuk palung
dengan kedalaman berkisar 4.500 meter hingga 7.000 meter, yang dikenal dengan nama zona
tumbukan atau zona subduksi. Penunjaman di Pulau Sumatera bersifat oblique, membentuk
14
sudut sekitar 50o - 65o (Simanjuntak dan Barber, 1996). Zona subduksi merupakan sumber
gempabumi di laut yang berpotensi membangkitkan tsunami apabila gempabumi tersebut
magnitudonya besar (umumnya lebih dari 6,5 Skala Richter), kedalaman dangkal (umumnya
kurang dari 40 km), mekanismenya patahan naik atau turun serta terjadi perubahan morfologi
secara vertikal (dislokasi) di bawah laut.
Akibat benturan tersebut terbentuk sejumlah sesar di Pulau Sumatera baik yang terdapat pada
zona prismatik akresi yang terletak diantara zona subduksi dan pantai Pulau Sumatera maupun
di daratan Pulau Sumatera. Sesar utama di Pulau Sumatera adalah Sesar Sumatera dan Sesar
Mentawai. Sesar Sumatera memanjang sepanjang Pulau Sumatera mulai dari Aceh hingga teluk
Semangko Provinsi Lampung. Katili (1980) menyebut sesar ini Sesar Besar Sumatera (The
Great Sumatera Fault), sedangkan Sieh dan Natawidjaja (2000) menyebutnya sebagai Sesar
Sumatera. Sesar Sumatera tersebut dapat dibagi menjadi 19 segmen (Sieh dan Natawidjaja,
2000), yaitu segmen Seulimeum, Aceh, Batee, Tripa, Renun, Toru, Angkola, Barumun, Sumpur,
Sianok, Sumani, Suliti, Siulak, Dikit, Ketahun, Musi, Manna, Komering dan Semangko (Sieh dan
Natawidjaja, 2000). Sementara itu Tjia (1977) membagi menjadi 18 segmen, yaitu segmen
Semangko, Mekakau, Musi Keruh, Ketahun-Seblat-Dikit-Siulak, Batang Saliti (Batang Hari),
Solok Singkarak, Sianok Masang, Sumpur, Asik, Ulu Aer, Batang Toru, Lae Renum, Wae
Nigumpang, Krueng Aceh, Batang Gadis, Batang Angkola Selatan, Batang Angkola Utara dan
Padang Ratu. Sesar Mentawai terletak di laut yaitu diantara cekungan muka dan zona prismatik
akresi di sebelah barat Pulau Sumatera (De Corte, 1974 dan Harding, 1983 dalam Lumbanbatu,
2005). Sesar Mentawai diusulkan oleh Diament dkk. (1992 dalam Sieh dan Natawidjaja, 2000).
Beberapa tulisan telah menjelaskan kejadian gempabumi merusak di Pulau Sumatera Visser
(1922), catatan dari Wichman (tanpa tahun), Newcomb dan McCann (1987). Sebanyak dua
kejadian gempabumi dengan magnitudo di atas 8 terjadi di sebelah barat Pulau Sumatera pada
tahun 1833 dengan magnitudo 8,8 Mw dan 1861 dengan magnitudo 8,4 Mw Newcomb dan
McCann (1987). Kedua kejadian gempabumi tersebut menimbulkan terjadinya tsunami.
15
Gambar 7. Segmentasi Sesar Sumatera dan hubungannya dengan gunungapi aktif, graben dan danau (Sieh dan Natawidjaja, 2000).
16
Gambar 8. Sebaran Sesar Sumatera terbagi menjadi 18 segmen (Tjia, 1977 dalam Lumbanbatu, 2005).
Sesar Sumatera tergolong sebagai sesar aktif, dibuktikan sering terjadinya gempabumi
bersumber di darat akibat pergerakannya. Gempabumi yang bersumber di darat akibat
pergerakan sesar aktif, meskipun magnitudonya tidak besar, namun berpotensi terjadinya
bencana, karena sumbernya dangkal dan dekat dengan pemukiman dan aktivitas penduduk.
Disamping itu terdapat juga sesar aktif lainnya dalam segmentasi lebih kecil yang pernah
17
dan tsunami di Pulau Sumatera.
Tabel 2. Wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Pulau Sumatera.
1. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.
Kabupaten Simeulue *) Kabupaten Aceh Singkil *) Kabupaten Aceh Selatan *) Kabupaten Aceh Barat Daya *) Kabupaten Nagan Raya *) Kabupaten Aceh Barat *) Kabupaten Aceh Jaya *) Kabupaten Aceh Besar *) Kota Banda Sabang *) Kota Banda Aceh *) Kota Lhokseumawe *) Kabupaten Pidie *) Kabupaten Pidie Jaya *) Kabupaten Bireun *) Kabupaten Aceh Utara *) Kabupaten Aceh Tengah *) Kabupaten Bener Meriah Kabupaten Aceh Gayo Lues Kabupaten Aceh Tenggara Kota Sabulussalam
2. Provinsi Sumatra Utara
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14. 15.
Kabupaten Karo Kabupaten Humbang Hasundutan Kabupaten Langkat Kabupaten Pakpak Bharat Kabupaten Dairi Kabupaten Simalungun Kabupaten Samosir Kabupaten Toba Samosir Kabupaten Tapanuli Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Kabupaten Nias Selatan *) Kabupaten Mandailing Natal *) Kabupaten Padangsidempuan *) Kabupaten Tapanuli Tengah *) Kabupaten Nias *) Kota Sibolga *)
18
Kabupaten Kerinci Kabupaten Merangin
4. Provinsi Sumatra Barat
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14. 15.
Kabupaten Kepulauan Mentawai *) Kabupaten Pesisir Selatan *) Kota Padang *) Kota Pariaman *) Kabupaten Padang Pariaman *) Kabupaten Agam *) Kabupaten Pasaman Barat *) Kabupaten Pasaman Kabupaten Tanah Datar Kabupaten Lima Puluh Kota Kabupaten Solok Kabupaten Solok Selatan Kota Solok Kota Padang Panjang Kota Bukit Tinggi
5. Provinsi Bengkulu
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Kota Bengkulu *) Kabupaten Muko Muko *) Kabupaten Bengkulu Utara *) Kabupaten Kaur *) Kabupaten Bengkulu Selatan *) Kabupaten Seluma *) Kabupaten Kepahiang Kabupaten Lebong Kabupaten Rejang Lebong
6. Provinsi Sumatera Selatan
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4.
Kota Empat Lawang Kabupaten Pagar Alam Kabupaten Lahat Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
7. Provinsi Lampung
19
*) Kabupaten/ Kota rawan gempabumi dan tsunami.
Gambar berikut ini menampilkan sebaran pusat gempabumi merusak Pulau Sumatera yang
diplot dari Katalog gempabumi merusak Pulau Sumatera. Tidak semua pusat gempabumi di plot.
Meskipun magnitudonya kecil, tetapi apabila gempabumi tersebut mengakibatkan bencana
(menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan) digolongkan sebagai gempabumi merusak
dan pusat gempabuminya diplot pada peta.
Tabel berikutnya menampilkan parameter kejadian gempabumi merusak yang pernah terjadi di
Pulau Sumatera yang dihimpun dari literatur yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri serta
hasil-hasil penyelidikan para ahli di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
hingga tahun 2014. Parameter gempabumi merusak yang ditampilkan meliputi : nama
gempabumi (diambil nama lokasi yang mengalami bencana), tanggal kejadian, koordinat pusat
gempabumi, kedalaman, magnitudo, skala MMI dan keterangan kerusakan. Selanjutnya
ditampilkan foto – foto kerusakan yang terjadi akibat kejadian gempabumi di Pulau Sumatera
yang dikumpulkan dari berbagai literatur yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri. Sebagian
foto – foto ini merupakan hasil-hasil penyelidikan para ahli di lingkungan Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral.
21
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Terjadi tsunami di Pulau Simeulue. Kerusakan melanda Pulau Simeulue.
9 org meninggal, 20 org luka parah. Kerusakan sejumlah bangunan di Banda Aceh, Lhok Sukon dan Lhok Seumawe.
Kerusakan bangunan terparah di Krueng Raya. Di Banda Aceh ± 30%-40% bangunan tembok rusak.
Kerusakan bangunan di Jenieub, Pendada, Jeumpa dan Bireun. Intensitas gempa terbesar di Lhok Seumawe dan Sigli. Terjadi Tsunami. Likuifaksi & longsoran di Sigli. Sebanyak 5 mesjid, 11 sekolah, 59 madrasah, dan 2.000 rumah rusak.
Kerusakan bangunan pemerintah di Kutacane & bandara Pinangsore di Sibolga.
Kerusakan bangunan terparah di Banda Aceh, gedung Keuangan Negara di Banda Aceh rusak.
22
KDLM (KM)
Singkil
33
VII-VIII
VII
1 org meninggal, 32 org luka-luka. Terjadi tanah longsor, retakan tanah dan liquefaction. Kerusakan di Blangke- jeren, Kuta Panjang, Rikit Gaib, Agusen, Gumpang, Kutacane.
2 org meninggal di Sinabang, 127 org Luka-luka di Kec. Sukajaya, Simeulue Timur dan Lasikin. Sejumlah gedung perkantoran, sekolah, rumah dan toko rusak di Sinabang. Di Lasikin kantor Pelayanan PLN ambruk, 36 kantor dan bangunan rusak. Di Pulau Simeulue : 1.875 rumah rusak, 401 diantaranya rusak berat termasuk : 43 ruko, 42 gedung sekolah & 50 buah masjid. Getaran gempa terasa di Kab. Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Singkil dan Kepulauan Banyak. Di Medan getaran gempa tercatat II MMI, Tapaktuan – Meulaboh IV –VI MMI, Banda Aceh - Lhok Seumawe II – III MMI.
23
KDLM (KM)
22/01/2003 09.58.51,2
Aceh
33
31 bangunan rusak berat, 26 bangunan rusak ringan meliputi : rumah penduduk, sarana pendidikan, balai pengajian, puskesmas, sarana perhubungan rusak di Beurandang, Rantau Peureulak, Aceh Timur. Sebanyak ± 150 jiwa mengungsi. Getaran gempa terasa di Pangkalan Brandan skala III MMI, Medan, Malaysia & Thailand.
Gempabumi terbesar IV di dunia sejak thn 1900 (USGS). Terjadi tsu- nami merusakkan ± 85% kota Banda Aceh. Total korban lebih dari 310.000 orang meninggal. Lebih 265.000 orang meninggal di NAD dan pantai Barat Sumatera Utara, 30.800 org di Sri langka, 10.300 org di India, 5.300 org di Thailand, 150 org di Somalia, 82 org di Maladewa, 68 org di Malaysia, 59 org di Myanmar, 10 org di Tanzania, 3 org di Seychelles, 2 org di Bangladesh, 1 org di Kenya. Pantai Barat NAD (Lhok Nga, Calang, Meulaboh) hancur. Runup di pantai Banda Aceh ± 9 m, pantai Lhok Nga ± 16 m.
24
KDLM (KM)
V
V
VI
V
VII
VII
VI
73 rumah penduduk, 2 masjid, 1 SD Lamkin dan 1 puskesmas rusak ringan di Kec. Cot Glie. Beberapa rumah penduduk di Kec. Seulimeum dan SMA Fajar Harapan di Banda Aceh rusak ringan.
Beberapa bangunan mengalami kerusakan di Pulau Simeulue. Pusat gempa di darat.
3 orang meninggal, 25 orang luka-luka, beberapa bangunan dan rumah penduduk mengalami kerusakan.
602 bangunan mengalami kerusakan berat dan ringan di Aceh Tengah
12 orang luka-luka, beberapa rumah mengalami kerusakan. Tsunami (tinggi run up < 50 cm) di P. Tuanku dan Labuan Bajo, Kec Simeulue Timur.
Beberapa bangunan mengalami kerusakan dan ringan. Tsunami tinggi run up < 50 cm.
3 org meninggal, 1 org luka berat, 6 orang luka ringan, 2.281 bangunan rusak di Singkil.
25
KDLM (KM)
V
V
VI
V
VI
Retakan dinding kantor kepala Desa Karyabakti, Kec. Salang. Longsor di Desa Ujung Tinggi, Luan Balu, Kuala Balu. Tsunami di desa Lhok Sito, Kec. Alafan, tinggi run up ± 60 cm.
1 org anak luka-luka, 1 rumah rusak di Subulussalam Utara, beberapa bangunan rusak di Teluk Rumbia, Kab. Aceh Singkil.
1 orang meninggal, 15 orang luka-luka, 14 rumah rusak di Desa Puloloih, Desa Keune, dan Leupe, Kecamatan Geumpang, Pidie. Retakan jalan dan 20 lokasi longsor di jalan Tangse – Mane.
1 orang meninggal, 3 orang luka-luka, 670 bangunan rusak, 21 sekolah rusak, 2 jembatan rusak di Kec. Tangse.
42 org meninggal, 92 org luka berat, 352 org luka ringan, ribuan bangunan rusak, jalan di Bireun - Takengon tertutup longsor. Longsor besar di daerah Ketol.
26
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
VII-VIII
VIII-IX
VI
VI
VI
VII
VII
VII
VII
VII-VIII
Tsunami menyebabkan beberapa kapal rusak. Getaran kuat terasa di Gunung Sitoli & Baras.
50 org meninggal. Bebe- rapa bangunan roboh. Tsunami di Singkil, Pulau Nias, Pulau Batu & Tello.
Beberapa rumah hancur.
Kerusakan bangunan, goncangan terasa kuat.
Goncangan kuat, terjadi longsor di jln Sibolga – Tarutung.
Sesar permukaan ±80 km dari Pangurusan – Taru- tung. Bangunan dan jem- batan rusak di Sipoholon. Goncangan terasa hingga Pulau Weh, Pinang dan Gunung Sitoli.
Kerusakan pada dinding rumah dan genting berjatuhan.
Pulau Bola dan Sigata terguncang hebat. Beberapa rumah roboh di Sibolga. Di Padang terjadi retakan dinding rumah penduduk.
27
KDLM (KM)
5,5
6,3
5,7
6,4
VIII
VII
VII
VII
V-VI
VII
VIII
17 orang meninggal karena longsoran tanah. Bencana terparah di daerah Karo. Kerusakan terjadi di Parapat, Brastagi dan Tanjung Putri. Terjadi retakan tanah antara Kutacane – Kabanjahe.
Kerusakan ringan di Tapanuli. Terjadi nendatan tanah.
Bencana parah di Tapanuli. Kerusakan ba- ngunan ringan di Sibolga
Kerusakan rumah dan nendatan tanah di Sarula dan Onang Hasong.
Kerusakan bangunan di Pasamoan, Sibolga dan Pasir Ulu.
Kerusakan rumah penduduk di Pinangsore, Sibolga. Goncangan terasa hingga Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Batusangkar.
123 orang luka-luka, 350 rumah dan 65 kantor rusak. Beberapa sekolah roboh di Sarulla. Kerusakan bangunan di Sarulla, Silangkitang, Perdamaian. Peningkatan fumarola di Sarulla. Longsoran tanah di Tarutung.
28
KDLM (KM)
VII
VIII
VI
VI
2 org meninggal, 22 org luka,300 bangunan rusak. Terjadi retakan tanah di terban & Tarutung. Terjadi Likuifaksi.
Bencana di Pulau Nias & Simeuleu. Kerusakan melanda daerah Singkil, Meulaboh & Sibolga. Lebih dari 1.000 org meninggal & lebih dari 2.391 org luka-luka di Pulau Nias, 18 org meninggal di Pulau Simeuleu. Terjadi retakan tanah, likuifaksi & sekitar 65% bangunan roboh di Gunung Sitoli. Terjadi tsunami di pantai Lagundri, Sirombu & Lahewa runup ± 170 cm.
4 org meninggal, 50 org luka – luka, 109 bangunan rusak berat, 99 bangunan rusak ringan, terjadi longsoran, retakan tanah panjang ± 1 – 3 meter di Kec. Muara Sipongi, Kab. Mandailing Natal. Pusat gempa di darat.
1 orang meninggal, 5 orang luka-luka dan beberapa bangunan rusak di Gunungsitoli.
29
KDLM (KM)
V-VI
V
VI
3 orang luka-luka, 279 bangunan rusak, longsoran di Sipirok. Bencana terparah di desa Sipetang & Simajambu, Kec. Simangumban, Kab. Tapanuli Utara.
Beberapa rumah penduduk rusak ringan.
130 org luka ringan, 11 sekolah hancur, 400 rumah rusak berat.
30
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Kerusakan bangunan, goncangan terasa kuat, episenter diperkirakan terletak di darat.
84 org meninggal, 558 org luka berat dan 1.310 org luka ringan. 7.137 rumah, transportasi, irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan rusak. Liquefaction di desa Penawar, Kec. Sitinjau Laut. Retakan tanah berarah N 340o E – N 35o E di desa Sebukar, Koto Iman, Tanjung Tanah & Kayu Aro. Longsoran di Kampung Benik selatan Danau kerinci. Sumber gempa di darat akibat pergerakan sesar aktif.
3 org meninggal, 400 rumah rusak di Desa Lempur, Kec. Gunung Raya, Kab. Kerinci.
31
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Banyak rumah roboh, banyak retakan tanah. Tsunami di Kota Padang.
Tsunami melanda Kota Padang.
Di Padang terasa 3 kali goncangan kuat, bebe- rapa bangunan roboh, suara gemuruh di antara G. Talang & Marapi, terja- di retakan & longsoran.
Beberapa bangunan rusak ringan di Padang.
Tsunami di Kepulauan Mentawai.
Terjadi tsunami di Pantai Siri Sori.
Lebih 354 org meninggal. Bencana di daerah Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kab. Solok, Sawah Lunto & Alahan Panjang. Di Kab. Agam (Bukit Tinggi- Bonjol) 472 rumah roboh di 25 lokasi, 57 org meninggal, 16 org luka berat. Di Padang Panjang 2.383 rumah roboh, 247 org meninggal. Retakan tanah di Padang Panjang, Kubu Krambil & Simabur.
Terjadi sesar sepanjang ± 60 km antara Danau Singkarak - Danau Diatas. Sesar normal ± 2 meter. Jalan bergeser di Salayo ± 2 - 3 m.
32
KDLM (KM)
VIII
IV-V
VI
III-IV
V-VI
Di Sinurat : 737 rumah, 1 pasar, 7 sekolah, 8 mesjid dan 3 kantor rusak. Di Talu 245 rumah, 3 rumah dan 8 mesjid rusak. Retakan tanah panjang ± 5 - 75 m.
Retakan dinding, lemari bergeser, kaca jendela pecah di Padang & Painan.
Bangunan rusak ringan di Padang. Getaran terasa di Padang Panjang hingga Singapura.
Kerusakan ringan 80 bangunan di Lubuk Durian, Damar, Simik Air, Jorong Paladangan Kanagarian Malalak, Kec. IV Koto, Kab. Agam, berupa : lepasnya plesteran dinding, retakan dinding & kolom. Gempa ini bersifat lokal. Gempa tektonik lokal ini diawali tgl 20 s/d 25-01-2003. Getaran terasa di Kota Padang Panjang dan Malalak.
6 org meninggal, 10 org luka-luka, 70 rumah rusak, listrik mati sekitar 30 menit di Kab. Tanah Datar. Kerusakan di desa Pitalak, Gunung Rajo, Nagari Pitala, Paninggahan, Kec. Batipuh, Kab. Tanah Datar. Terjadi longsoran di Gunung Rajo dan Paninjauan. Terjadi retakan jalan antara Gunung Rajo - Padang.
33
KDLM (KM)
IV-V
IV-V
VI
VII
1 org meninggal, 1 org luka berat, 5 org luka ringan, 151 bangunan & rumah rusak di Kab. Pesisir Selatan. 3 rumah roboh di Kec. Sutra. Wilayah bencana : Kp Gunung Pauh, Kp Tara- tak Paneh, Kenagarian Amping Parak, Kec. Su- tra; Nagari Surantih, Na- gari Tuik, Kec. Batang Kapas; Kp. Kapeh Panji, Kec. Bayang; Kp. Am- pang Pulai, Kec. Koto XI Tarusan, Kec. IV Jurai, Kec. Lengayang, Kec. Ranah Pesisir & Kec. Linggo Sari Baganti.
Beberapa rumah pendu- duk retak dinding di perbatasan Kota Padang & Kab. Pesisir Selatan.
Gedung IKIP Padang retak dinding dan kaca pecah. Kerusakan beberapa bangunan dan rumah penduduk.
72 org meninggal & 803 org luka-luka di Sumbar, sebagian besar di Solok. Ratusan bangunan roboh & ribuan bangunan rusak. Terjadi retakan tanah, likuifaksi dan longsoran.
34
KDLM (KM)
VII
V
VII-VIII
VII
V
10 org meninggal, 30 org luka berat, 24 org luka ringan, 26.369 bangunan (fasilitas umum, rumah ibadah, kantor pemerin- tah, sekolah, ruko dan rumah penduduk) rusak di Kab. Pesisir Selatan. Terjadi likuifaksi, longso- ran dan retakan tanah.
1 rumah rusak di Pecinan, Kota Padang
1.117 orang meninggal (313 org di Padang, 675 org di Kab. Padang Pariaman, 32 org di Kota Pariaman, Kota & Kab. Solok 5 org, Kab. Agam 80 org, Kab. Pasaman Barat 5 org, Kab. Pesisir Selatan 9 org). Longsoran besar menimbun sekitar 300 org di 3 dusun di Desa Bukit Laweh. 135.488 rumah rusak berat, 65.380 rusak sedang dan 78.604 rusak ringan. Terjadi kebakaran dan retakan tanah.
Tsunami melanda Kepulauan Mentawai. 502 org meninggal dan hilang. Di Sipora selatan tinggi tsunami 7 m, di Pagai Utara tinggi tsunami 6 m.
4 org luka – luka (2 org di Tanah Datar, 2 org di Padang Panjang), 227 bangunan rusak di Tanah Datar dan 11 bangunan rusak di Padang Panjang.
35
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Kerusakan rumah pendu- duk termasuk bangunan yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Bengkulu
Kerusakan pada daerah yang sama seperti kejadian gempabumi thn 1756. Terjadi tsunami & erupsi gunungapi di dekat lokasi gempa.
Kerusakan beberapa bangunan & rumah pen- duduk. Terjadi tsunami
Beberapa bangunan rusak dan ambruk. Goncangan terasa hingga Palembang, Singapura & Malaysia. Termasuk 10 gempa terbesar dunia yang terjadi abad XIX (Newcomb & Mc Cann, 1987). Terjadi Tsunami.
Kerusakan bangunan di kota Bengkulu. Tidak ada penjelasan korban.
Beberapa rumah rusak di Bengkulu dan Tebing Tinggi.
Kerusakan bangunan di daerah Bengkulu Selatan.
Kerusakan bangunan di Lais.
KDLM (KM)
5,9
VII-VIII
VII
VII
VIII
VII-IX
VI-VII
20 org meninggal, 20 org luka-luka. Kantor residen Bengkulu, rumah dinas Jaksa Bengkulu & pasar Cina rusak berat. Jalan dan jembatan rusak di Lais, Manna, Seluma & Bintuhan (Pontoppidan, 1914). Korban jiwa di Kepahiang. Goncangan terasa di P. Sumatera, Singapura & Malaysia.
Kerusakan bangunan berupa retakan dinding di beberapa tempat di Bengkulu. Getaran terasa di Palembang, Mentawai dan Sumbar.
Kerusakan bangunan di daerah Bengkulu Utara
Kerusakan bangunan & rumah penduduk di Muara Aman hingga Curup. Bencana terparah di daerah Tes, Kec. Lebong Selatan, Taba & Turunlalang (Kraeff, 1952).
4 org meninggal di Kab. Rejang Lebong. Bencana melanda desa Daspetah. Di Kepahiang 550 rumah rusak. Di Rejang Lebong 630 rumah rusak, terjadi tanah longsor & retakan tanah. Di Bengkulu banyak rumah terlepas dari pondasinya, pipa- pipa air ledeng rusak berat. Episenter terletak di darat .
1 sekolah dan beberapa rumah penduduk rusak.
37
KDLM (KM)
5,4 SR
IV
Kerusakan di dermaga samudera, dermaga lokal, Pulau Baai, ruang makan hotel Cempaka Raya & di Kecamatan Talang Empat, Kab. Bengkulu Utara.
Kerusakan ringan hingga sedang pada beberapa sekolah & beberapa rumah penduduk di Arga Makmur. Gedung work shop Dinas PU Kab. BU sebagian dinding roboh.
Di Pasar Ujung, Kec. Kepahiang ± 65 bangunan rusak. Retakan tanah sepanjang ± 1 km di Pasar Ujung hingga Pasar Tengah. Gempa ini bersifat lokal. Terjadi gempa susulan.
100 org meninggal, ribuan orang luka ringan - sedang-berat, ratusan rumah hancur, ribuan rumah rusak berat-rusak sedang, banyak terjadi retakan jalan, terjadi likuifaksi dan longsoran. Kerusakan bangunan tersebar di Bengkulu, Manna, Curup, Arga Makmur, 80% bangunan di Pulau Enggano roboh. Gempa susulan masih terasa ± 3 minggu setelah gempa utama.
Getaran terasa di Painan, Muko-Muko, Ipuh dan Bengkulu. Dilaporkan terdapat 5 bangunan di Muko-Muko mengalami kerusakan ringan.
38
KDLM (KM)
BT
30 8,4 Mw VI 14 org meninggal, 12 org luka berat, 26 org luka ringan, ribuan bangunan rusak di kota Muko-Muko, Ipuh, Ketahun, Lais & Bengkulu. Retakan tanah di Muko-Muko, Ipuh, Seblat, Lais & Bengkulu. Likuifaksi di Seblat. Longsoran di Muko-Muko & Bengkulu Utara. Bebe- rapa bangunan juga rusak di kota Padang & Kab. Pesisir Selatan. Tsunami di pantai Muko- Muko tinggi run up ± 40 - 100 cm.
39
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
VII-VIII
VIII-IX
VI
Retakan pada pondasi rumah. Getaran terasa sampai di Jawa Barat dan Padang.
Rekahan dan amblasan tanah terjadi antara Kota Agung dan Makala. Terjadi gempa susulan.
2 orang meninggal, 60 orang luka-luka, 177 rumah rusak berat, 337 rumah rusak ringan. Bencana terparah Kec. Dempo Utara, Kab. Pagar Alam dan Kec. Jarai, Kab. Lahat.
40
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Getaran gempa terasa di Teluk Betung menyebabkan beberapa bangunan & rumah penduduk rusak.
Beberapa bangunan rusak, goncangan kuat, episenter diperkirakan terletak di darat.
Kerusakan terparah di daerah Liwa. Goncangan terasa hingga daerah Sumatera bagian selatan. Diikuti gempa susulan.
207 orang meninggal, lebih dari 2.000 orang luka-luka, lebih dari 6.000 rumah, toko dan bangunan permanen rusak. Bencana melanda kota Liwa. Terjadi longsoran besar di daerah Liwa, letusan freatik di Suoh, serta terjadi liquefaction di beberapa tempat. Retakan tanah terjadi di sekitar Sebarus. Gempa bersumber di darat akibat pergerakan sesar aktif.
4 rumah penduduk mengalami kerusakan ringan di Kalianda.
41
Gambar 10. Kapal tongkang terdampar di depan Hotel Medan daerah Penayung kota Banda Aceh, akibat tsunami tanggal 26-12-2004 (Supartoyo dkk., 2005).
Gambar 11. Kolom struktur utama gedung Takaful di kota Banda Aceh, patah akibat gempabumi tanggal 26-12-2004 dengan magnitudo 9 Mw (Supartoyo dkk., 2005).
42
Gambar 12. Retakan dinding SMA Fajar Harapan di Banda Aceh, akibat gempabumi tanggal 5-10-2005 dengan magnitudo 5,7 Mw (Supartoyo dkk., 2005).
Gambar 13. Retakan tanah sepanjang 200 m di desa Neubok Badeuh, Kabupaten Pidie, akibat gempabumi tanggal 5-10-2005 dengan magnitudo 5,6 SR (Indra, B. dkk., 2013).
43
Gambar 14. Longsoran yang terjadi di daerah Ketol, Aceh Tengah akibat kejadian gempabumi tanggal 2-7-2013 dengan magnitudo 6,1 Mw (Supartoyo dkk., 2013).
Gambar 15. Kerusakan dermaga Lahewa Pulau Nias akibat gempabumi tanggal 28-3-2005 dengan magnitudo 8,7 Mw (Putranto E.T. dkk., 2005).
44
Gambar 16. Likuifaksi di Pulau Nias akibat gempabumi tanggal 28-3-2005 (Putranto E.T. dkk., 2005).
Gambar 17. Kerusakan bangunan di Desa Lumpo, Painan, Provinsi Sumatera Barat, akibat gempabumi tgl 10-4-2005, magnitudo 6,8 Mw (Putranto E.T. dkk., 2005).
45
Gambar 18. Kerusakan pemukiman penduduk di desa Hyang, Kabupaten Kerinci akibat gempabumi tanggal 7 Oktober 1995, magnitudo 7 SR, (Koleksi Armien Paimin).
Gambar 19. Longsoran di desa Daspetah, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu akibat gempabumi tanggal 15 Desember 1979, magnitudo 6,2 SR (Koleksi Armien Paimin).
46
Gambar 20. Kerusakan bangunan di daerah Tanah Patah, Kota Bengkulu akibat gempabumi tanggal 4 Juni 2000, magnitudo 7,9 Ms (Artono dkk., 2000).
Gambar 21. Retakan jalan di Komplek Dolog, Kota Bengkulu akibat gempabumi tanggal 4 Juni 2000 (Supartoyo dkk., 2000).
47
Gambar 22. Rumah penduduk roboh di Desa Lubuk Gedang, Kab. Muko-Muko, akibat gempabumi tanggal 12 September 2007 dengan magnitudo 8,4 Mw
(Supartoyo, 2007).
Gambar 23. Jejak landaan tsunami setinggi ± 60 cm di pantai Pasar Bawah Manna, Kab. Bengkulu Selatan akibat gempabumi tanggal 12 September 2007 dengan magnitudo 8,4 Mw
(Supartoyo, 2007).
48
Gambar 24. Gerakan tanah dipicu oleh gempabumi tanggal 30 September 2009 di daerah Bukit Tigo, Sumatera Barat (Irawan, 2009).
Gambar 25. Longsoran yang menimpa rumah penduduk mengakibatkan 4 orang penghuninya meninggal, akibat gempabumi tanggal 18-12-2006 di Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten
Mandailing Natal, Sumatera Utara (Djadja dkk., 2006).
48
Gambar 24. Gerakan tanah dipicu oleh gempabumi tanggal 30 September 2009 di daerah Bukit Tigo, Sumatera Barat (Irawan, 2009).
Gambar 25. Longsoran yang menimpa rumah penduduk mengakibatkan 4 orang penghuninya meninggal, akibat gempabumi tanggal 18-12-2006 di Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten
Mandailing Natal, Sumatera Utara (Djadja dkk., 2006).
48
Gambar 24. Gerakan tanah dipicu oleh gempabumi tanggal 30 September 2009 di daerah Bukit Tigo, Sumatera Barat (Irawan, 2009).
Gambar 25. Longsoran yang menimpa rumah penduduk mengakibatkan 4 orang penghuninya meninggal, akibat gempabumi tanggal 18-12-2006 di Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten
Mandailing Natal, Sumatera Utara (Djadja dkk., 2006).
49
III.2 Gempabumi Merusak Di Pulau Jawa
Pulau Jawa merupakan bagian dari Lempeng Eurasia yang relatif bergerak lambat ke arah
tenggara berinteraksi dengan Lempeng Hindia – Australia yang terletak di sebelah selatan Pulau
Jawa. Pulau Jawa juga merupakan salah satu kawasan yang terletak pada pinggiran lempeng
aktif, sehingga sering terjadi kegiatan tektonik yang dicirikan kejadian gempabumi. Kegiatan
tektonik di wilayah ini tidak terlepas dengan Orogenesa Sunda (Simanjuntak, 2004). Orogenesa
ini mengakibatkan terbentuknya cekungan (cekungan muka, antar busur dan belakang),
pegunungan lipatan, pensesaran dan aktivitas vulkanik yang mengakibatkan terbentuknya
gunungapi aktif di Pulau Jawa. Orogenesa ini juga mengakibatkan terangkatnya batuan pada
zona melange yang terdapat pada pada lajur penunjaman dan tersingkap di beberapa tempat di
Pulau Jawa, yaitu : Ciletuh (Jawa Barat), Karang Sambung dan Bayat (keduanya terdapat di
Jawa Tengah).
Zona pertemuan antara kedua lempeng terletak di sebelah selatan Pulau Jawa, membentuk
palung yang mempunyai kedalaman berkisar 4.500 – 7.000 meter, yang dikenal dengan nama
zona tumbukan atau zona subduksi. Zona subduksi merupakan sumber gempabumi di laut yang
berpotensi membangkitkan tsunami apabila gempabumi tersebut magnitudonya besar
(umumnya lebih dari 6,5 Skala Richter), kedalaman dangkal (umumnya kurang dari 40 km),
mekanismenya patahan naik atau turun serta terjadi perubahan morfologi secara vertikal
(dislokasi) di bawah laut. Contohnya kejadian tsunami Banyuwangi tahun 1994 dan tsunami
tanggal 17-7-2006 yang melanda kawasan pantai selatan Jawa Barat, Jawa Tengah dan
Yogyakarta.
Sumber gempabumi di Pulau Jawa disamping berasal dari zona subduksi juga sesar aktif yang
terletak di darat. Menurut Newcomb dan McCann (1987) Pulau Jawa pernah terjadi gempabumi
dengan magnitudo lebih dari 7 dengan pusat gempabumi terletak di Samudera Hindia dan
berasosiasi dengan zona subduksi yaitu tahun 1903 dengan magnitudo 7,9, tahun 1921 dengan
magnitudo 7,5, dan tahun 1937 dengan magnitudo 7,2. Kejadian tsunami di pantai selatan Jawa
dikemukakan oleh Budiono dkk. (2003) terjadi pada tahun 1818, 1840, 1859, 1904, 1921, 1925,
1957, dan 1994.
Dampak tumbukan antar lempeng mengakibatkan terbentuknya sesar - sesar di Pulau Jawa,
umumnya berarah barat – timur, barat laut – tenggara dan utara – selatan. Pulunggono dan
50
Martodjojo (1994) membagi menjadi tiga arah kelurusan struktur yang dominan di Pulau Jawa,
yaitu Pola Meratus berarah timur laut – barat daya, Pola Sunda berarah utara – selatan dan Pola
Jawa berarah barat – timur.
Gambar 26. Pola struktur Pulau Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994).
Sesar yang berasosiasi dengan sumber gempabumi merupakan sesar aktif. Gempabumi yang
bersumber di darat akibat pergerakan sesar aktif, meskipun magnitudonya tidak terlalu besar,
namun berpotensi terjadinya bencana, karena sumbernya dangkal dan dekat dengan
pemukiman dan aktivitas penduduk. Karakteristik gempabumi yang terjadi di Provinsi Jawa
Barat yang menimbulkan bencana umumnya akibat pergerakan sesar aktif dengan magnitudo
tidak besar, namun kedalamannya dangkal. Hingga saat ini para ahli telah mengidentifikasi
beberapa sesar aktif yang terdapat di Pulau Jawa, antara lain : Sesar Baribis, Sesar Cimandiri,
Sesar Lembang, sistem sesar aktif di wilayah Banten, Garut, Kuningan, Kabupaten Bandung,
Bantar Kawung, Lasem, Malang, selatan kota Semarang, Sesar Opak, dan lain – lain.
Disamping itu terdapat beberapa sesar aktif lainnya yang pernah mengakibatkan terjadinya
gempabumi yang belum teridentifikasi oleh para ahli, antara lain sesar aktif di Kabupaten
Bandung, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Garut, Kabupaten Temanggung, dan lain – lain.
Tabel berikut ini menyajikan wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Pulau Jawa.
50
Martodjojo (1994) membagi menjadi tiga arah kelurusan struktur yang dominan di Pulau Jawa,
yaitu Pola Meratus berarah timur laut – barat daya, Pola Sunda berarah utara – selatan dan Pola
Jawa berarah barat – timur.
Gambar 26. Pola struktur Pulau Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994).
Sesar yang berasosiasi dengan sumber gempabumi merupakan sesar aktif. Gempabumi yang
bersumber di darat akibat pergerakan sesar aktif, meskipun magnitudonya tidak terlalu besar,
namun berpotensi terjadinya bencana, karena sumbernya dangkal dan dekat dengan
pemukiman dan aktivitas penduduk. Karakteristik gempabumi yang terjadi di Provinsi Jawa
Barat yang menimbulkan bencana umumnya akibat pergerakan sesar aktif dengan magnitudo
tidak besar, namun kedalamannya dangkal. Hingga saat ini para ahli telah mengidentifikasi
beberapa sesar aktif yang terdapat di Pulau Jawa, antara lain : Sesar Baribis, Sesar Cimandiri,
Sesar Lembang, sistem sesar aktif di wilayah Banten, Garut, Kuningan, Kabupaten Bandung,
Bantar Kawung, Lasem, Malang, selatan kota Semarang, Sesar Opak, dan lain – lain.
Disamping itu terdapat beberapa sesar aktif lainnya yang pernah mengakibatkan terjadinya
gempabumi yang belum teridentifikasi oleh para ahli, antara lain sesar aktif di Kabupaten
Bandung, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Garut, Kabupaten Temanggung, dan lain – lain.
Tabel berikut ini menyajikan wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Pulau Jawa.
50
Martodjojo (1994) membagi menjadi tiga arah kelurusan struktur yang dominan di Pulau Jawa,
yaitu Pola Meratus berarah timur laut – barat daya, Pola Sunda berarah utara – selatan dan Pola
Jawa berarah barat – timur.
Gambar 26. Pola struktur Pulau Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994).
Sesar yang berasosiasi dengan sumber gempabumi merupakan sesar aktif. Gempabumi yang
bersumber di darat akibat pergerakan sesar aktif, meskipun magnitudonya tidak terlalu besar,
namun berpotensi terjadinya bencana, karena sumbernya dangkal dan dekat dengan
pemukiman dan aktivitas penduduk. Karakteristik gempabumi yang terjadi di Provinsi Jawa
Barat yang menimbulkan bencana umumnya akibat pergerakan sesar aktif dengan magnitudo
tidak besar, namun kedalamannya dangkal. Hingga saat ini para ahli telah mengidentifikasi
beberapa sesar aktif yang terdapat di Pulau Jawa, antara lain : Sesar Baribis, Sesar Cimandiri,
Sesar Lembang, sistem sesar aktif di wilayah Banten, Garut, Kuningan, Kabupaten Bandung,
Bantar Kawung, Lasem, Malang, selatan kota Semarang, Sesar Opak, dan lain – lain.
Disamping itu terdapat beberapa sesar aktif lainnya yang pernah mengakibatkan terjadinya
gempabumi yang belum teridentifikasi oleh para ahli, antara lain sesar aktif di Kabupaten
Bandung, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Garut, Kabupaten Temanggung, dan lain – lain.
Tabel berikut ini menyajikan wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Pulau Jawa.
51
Tabel 10. Wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Pulau Jawa.
1. Provinsi Banten
Kabupaten Pandeglang *) Kabupaten Lebak *) Kabupaten Serang *) Kota Cilegon *) Kota Serang
2. Provinsi Jawa Barat
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14.
Kota Sukabumi Kabupaten Sukabumi *) Kabupaten Cianjur *) Kabupaten Garut *) Kabupaten Tasikmalaya *) Kabupaten Pangandaran *) Kabupaten Ciamis Kabupaten Kuningan Kabupaten Majalengka Kabupaten Bogor Kabupaten Bandung Kabupaten Bandung Barat Kabupaten Sumedang Kota Bandung
3. Provinsi Jawa Tengah
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13. 14.
Kabupaten Jepara Kabupaten Brebes Kabupaten Pati Kabupaten Kudus Kabupaten Rembang Kabupaten Wonosobo Kabupaten Semarang Kabupaten Karang Anyar Kabupaten Banyumas Kota Salatiga Kabupaten Purworejo *) Kabupaten Kebumen *) Kabupaten Cilacap *) Kabupaten Wonogiri *)
52
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5.
Kota Yogyakarta Kabupaten Sleman Kabupaten Bantul *) Kabupaten Kulon Progo *) Kabupaten Gunung Kidul *)
5. Provinsi Jawa Timur
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12.
*) Kabupaten/ Kota rawan gempabumi dan tsunami.
Gambar berikut ini menampilkan sebaran pusat gempabumi merusak Pulau Jawa yang diplot
dari Katalog gempabumi merusak Pulau Jawa. Tidak semua pusat gempabumi yang terjadi di
plot. Kejadian gempabumi dengan magnitudonya kecil, tetapi apabila menimbulkan korban jiwa
dan kerusakan bangunan digolongkan sebagai gempabumi merusak dan pusat gempabuminya
diplot pada peta. Dari peta tersebut terlihat bahwa wilayah Jawa Barat sebagian besar pusat
gempabumi merusak bersumber di darat akibat sesar aktif.
Tabel berikutnya menampilkan parameter kejadian gempabumi merusak yang pernah terjadi di
Pulau Jawa, dihimpun dari literatur yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri serta hasil-hasil
penyelidikan para ahli di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga tahun
2014. Parameter gempabumi merusak yang ditampilkan meliputi : nama gempabumi (diambil
nama lokasi yang mengalami bencana), tanggal kejadian, koordinat pusat gempabumi,
kedalaman, magnitudo, skala MMI serta keterangan korban dan kerusakan bangunan.
53
Selanjutnya ditampilkan foto – foto kerusakan yang terjadi akibat kejadian gempabumi di Pulau
Jawa yang dikumpulkan dari berbagai literatur yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri.
Sebagian foto – foto ini merupakan hasil-hasil penyelidikan para ahli di lingkungan Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral.
Gambar 27. Pusat gempabumi merusak di Pulau Jawa.
54
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Retakan pada dinding bangunan di Banten Utara.
Kerusakan bangunan di daerah Banten dan beberapa tempat. Menara air di Pelabuhan Ratu roboh. Getaran terasa di Jabar, Sumsel & Krui (Lampung).
Retakan pada dinding rumah, di Leuwiliang sebuah rumah roboh. Getaran terasa sampai di Sumsel, Lampung dan Jakarta.
5 org meninggal, 17 org luka- luka, beberapa rumah roboh, retak pada dinding, atap berjatuhan. Kerusakan terparah di Panimbang. Efek gempa umumnya berupa retakan pada dinding dapat diamati dari Panimbang sampai ke Sumur, umumnya di sepanjang Pantai Selat Sunda.
Retakan tanah sepanjang ± 75 – 150 m, penurunan ± 25 cm – 2 m & Kerusakan kandang sapi di Rangkasbitung.
1 orang luka-luka di Kec. Pandeglang, 263 rumah rusak di Kab. Pandeglang. Kerusakan bangunan di pesisir Ujung Kulon, Kecamatan Panimbang, Cigeulis, Pandeglang, Sukaresmi, Sumur, Cibaliyung dan Cikesik. Puluhan rumah rusak di Kp. Ciputih Kec. Sukajaya, Kab. Bogor.
55
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Terjadi kerusakan bangunan dan retakan jalan antara Bogor-Cianjur.
Getaran terasa di Bogor, kerusakan bangunan & rumah penduduk.
Kerusakan pada rumah penduduk.
Beberapa bangunan retak.
7 org meninggal, 628 rumah hancur, di Kuningan, Sumedang dan Manonjaya.
Kerusakan pada bangunan. Retakan tanah di Karang Tengah hingga Cibeber.
Retakan pada dinding bangunan.
Retakan pada dinding bangunan.
Kerusakan bangunan & nendatan tanah di Citarik.
56
KDLM (KM)
6,4
6,4
5,5
V
VI
V
VI-VII
VII
VI
VI-VII
Di Sukabumi beberapa bangunan roboh. Di Campaka beberapa bangunan retak pada dinding. Getaran terasa di Jabar hingga Bogor.
Kerusakan umumnya pada bangunan tua. Terjadi longsoran dan nendatan tanah di Cibunar, Sumedang, Pasaribu dan Rancakalong.
Retakan tanah dan bangunan di Citarik dan Cidadap.
10 rumah roboh, 28 rumah, 2 langgar, 1 masjid, 1 madrasah rusak. Bencana melanda Kp. Bunisakti, Desa Maparah, Kp. Anjatan, Desa Ciomas, Kec. Panjalu, Ciamis Utara.
Di Tasikmalaya : 1.430 rumah, 24 sekolah, 32 mesjid rusak. Di Garut : bangunan tua roboh, bangunan baru retak pada dinding, terjadi retakan tanah, 10 orang meninggal, 12 org luka-luka,
Retakan dinding di Singaparna, Garut, Sukawening, Pasanggrahan, Jamberea, Caringin dan Cilacap. Di Singajaya 10 bangunan SD rusak. Getaran gempa terasa di Bandung.
Kerusakan berat hingga ringan pada bangunan, 4 org luka-luka. Getaran terasa di Sukabumi dan Bogor.
57
KDLM (KM)
14
36
33
33
VII-VIII
VI
V-VI
VII
IV-V
8.000 bangunan roboh di Cengal, Wanahayu dan Sukamenak. Terjadi retakan tanah sepanjang 10 km. Sumber gempa di darat akibat pergerakan sesar aktif.
Retakan pada dinding rumah di Desa Marga Asih, Narawita & Waluya, Kecamatan Cicalengka.
Di Sukabumi : 35 org luka- luka, 365 bangunan rusak berat & 633 bangunan rusak ringan di Sukaraja, Cibadak, Cikembar, Nagrak, Cicurug, Cidahu, Parakan Salak, Kadudampit, Cisaat, Cantayan, Sukalerang, Cirengkas, Caringin & Geger Bitung. Terjadi retakan tanah. RS Cibadak dindingnya retak. Di Bogor : 8 org luka-luka, 198 rumah rusak berat & 105 rumah rusak ringan di Kec. Cijeruk.
Kerusakan terparah di Desa Lampuyang, Campaga & Cibeureum, Kec. Talaga, berupa rumah ambruk, dinding rumah roboh, retak pada dinding, retak pada lantai rumah.
Kerusakan bangunan di Desa Cilimus, Caracas, Sampora, Kaliaren dan Cibeureum Kec. Cilimus, serta di Desa Pangembangan, Trijaya & Randobawagirang di Kec. Mandirancan, berupa retakan dinding pada bangunan tua. Satu bangunan tua ambruk di Caracas.
58
KDLM (KM)
7,768 LS – 107,149 BT
III-IV
V
V
IV
V
IV
Kerusakan sebuah bangunan tua di Desa Cihideung, Lembang. Getaran terasa di daerah Bandung terutama di timur laut kota Bandung, yaitu di Cigadung, Bojong Koneng serta di sekitar jalan Surapati, jalan Suci hingga Cicaheum.
Kerusakan bangunan dan rumah penduduk di Kab. Garut (Kec. Pasirwangi, Cisurupan, Sukaresmi & Samarang dan Kab. Bandung (Kec. Keratasari).
139 rumah penduduk, sekolah dan sarana ibadah mengalami kerusakan di Kec. Gunung Halu, Kab. Bandung. Desa yang mengalami kerusakan bangunan : Gunung Halu, Catak, Sirnajaya.
Lebih dari 550 orang meninggal, ratusan orang luka-luka di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah akibat tsunami. Tsunami melandapantai Panganda- ran, pantai Kebumen, pantai Cilacap, pantai Samas, pantai Parang Tritis Yogyakarta, runup ± 1 – 6 meter, inundasi ± 100 – 400 m.
4 rumah penduduk rusak ringan di wilayah Jampang Kulon, Sukabumi.
1 sekolah Madrasah Ibtidaiyah Cibenyang, dan 1 rumah di Desa Melati Suka, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya rusak. Terjadi retakan tanah dan longsoran dimensi kecil.
59
KDLM (KM)
V
VII
V
1 org meninggal di Kec. Bogor Utara, Bogor. Indramayu : 3 steam turbin generator di kilang UP VI Pertamina Balongan,berhenti. Tasikmalaya : 10 rumah rusak di Bojonggambir & SD Giri Atikan dindingnya roboh. Ciamis : 2 rumah rusak di Kec. Purwadadi. Sukabumi : 4 rumah & 1 masjid rusak ringan di Kec. Lengkong, 1 rumah roboh dinding di Kec. Simpenan & 1 rumah dapurnya ambruk di Kec. Pelabuhan Ratu. Getaran gempa terasa di Bengkulu, Jakarta, Banten, Jabar dan Jateng.
82 org meninggal, 21 org hilang, 1.252 org luka-luka, 210.292 org mengungsi di Jawa Barat. 64.413 rumah rusak berat, 134.294 rumah rusak ringan, 490 sekolah roboh. Longsoran besar di Desa Cikangkareng, Kec. Cibinong, Cianjur menimbun 30 org. Bencana terjadi di Kabupaten Sukabumi, Bandung, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan & Cilacap. Bencana terparah di pantai selatan Jabar. Tsunami dengan tinggi run up ± 1 – 2 meter di pantai Pameungpeuk.
1 org meninggal, 2 luka-luka di Kec. Pameungpeuk, puluhan rumah rusak di desa Sirnabakti dan Mandalakasih, Pameungpeuk, Garut. 2 rumah rusak di desa Sindangkerta, 4 rumah di Desa Padawaras & 4 rumah di Desa Cipanas, Kec. Cipatujah, Tasikmalaya.
60
KDLM (KM)
103 rumah rusak di Kp Muril, Desa Jambudipa, Kec. Cisarua.
104 rumah rusak di Desa Jambu Dipa, Pasir halang, Tugu Mukti, Kec. Cisarua.
2 org luka-luka. Kec. Cidolog 146 rumah rusak dengan 7 rumah rusak berat. Kec. Pabuaran 27 rumah rusak sedang dan 67 rumah rusak ringan. Kec. Sagaranten 2 rumah rusak berat. Kec. Ciemas 1 rumah rusak berat dan 5 rumah rusak ringan.
343 rumah rusak di Kec. Pamijahan (Desa Cibunian & Purwabakti), Bogor. 219 rumah rusak di Kec. Kabandungan (Desa Kabandungan, Cipeuteuy, Tugu Bandung), Sukabumi.
Beberapa rumah penduduk rusak ringan & genting berjatuhan di Desa Sumur- wiru & Sukarapih Kec. Cibeuruem, Desa Bantarpan- jang Kec. Cibingbin, Kab. Kuningan. Kerusakan juga terjadi di Kec. Salem dan Bantarkawung, Kab. Brebes.
2 rumah roboh di Kp. Salagedang, Desa Sukaraja, Kec. Banyuresmi, Garut.
61
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Kerusakan beberapa bangunan di Jepara.
Gempa terasa di Semarang, Demak, Salatiga dan Kendal, beberapa bangunan rusak.
Beberapa bangunan dan rumah penduduk retak.
Beberapa bangunan rusak.
Rumah dan bangunan rusak.
Beberapa bangunan retak.
Beberapa bangunan rusak. Getaran terasa di Kedu, Wonosobo & Jawa Tengah.
Beberapa orang meninggal & luka-luka, beberapa bangunan roboh, getaran terasa hingga Juwana.
Tsunami melanda Kebumen & Cilacap.
Di Maos 340 bangunan hancur total. Di Selarang 400 bangunan roboh. Di Kasugian beberapa bangunan rusak. Beberapa sekolah rusak. Terjadi nendatan tanah, retakan tanah & likuifaksi.
62
KDLM (KM)
Beberapa bangunan rusak di sekitar Maos.
Bencana di pegunungan akibat longsoran tanah.
727 org meninggal, 2.250 rumah roboh. Kerugian ditaksir mencapai 61.0000 guildens. Terjadi tanah longsor di desa Ancolredjo ± 500.000 m3 dari lereng bukit desa.
Beberapa orang luka-luka. Getaran gempa terasa di Margasari, Prupuk, Dubuk Tengah, Kaligayan, Wono- sari, Danurejo, Jembayat, Pakulaut & Kalisosok.
Kerusakan beberapa bangunan di Bumiayu.
Gempa terasa di Jepara, Sodomantra, Manis Kidul. Kerusakan bangunan sampai ke wilayah Cirebon.
Tsunami melanda selatan Purworejo
1 org meninggal, 6 org luka-luka, 1.377 bangunan & rumah penduduk rusak. Getaran terasa di Buaran, Bumiayu, Bantar Kawung & Jipang.
Beberapa bangunan rusak. Gempa terasa di Ajibarang, Kedungbanteng, Tegal Brebes, Pekalongan, Magelang dan Semarang.
63
KDLM (KM)
Getaran gempa terasa di Karanganyar dan sekitarnya menyebabkan beberapa bangunan rusak.
1 orang luka – luka, 800 rumah rusak berat, 700 rumah rusak ringan, 1.500 orang mengungsi.
22 rumah penduduk rusak ringan berupa retakan dinding & kerusakan atap di dusun Kalirejo, desa Banjarsari, Kec. Bejen, Temanggung. Terasa gempa susulan.
1 org pengungsi meninggal karena sakit jantung.
108 bangunan rusak berat, 64 rusak ringan di Kec. Batur dan Kejajar, Banjarnegara. Terjadi gerakan tanah dan retakan tanah.
Beberapa rumah roboh, puluhan rusak di Cilacap, Purworejo, Banyumas, Kebumen, Magelang, Bantul. Kawah gunung Merapi longsor.
1 mushola, 1 gereja, 9 rumah rusak di Desa Sumogawe, Getasan, Kab. Semarang.
64
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Tsunami melanda selatan Bantul & Kulon Progo.
5 orang meninggal, 372 rumah roboh. Getaran gempa terasa sampai Surakarta.
213 org meninggal, 2.096 org luka luka, 2.800 rumah hancur. Getaran gempa terasa hingga ke Garut dan Surakarta.
Dinding Hotel Ambarukmo retak. Getaran gempa terasa kuat di kota Yogyakarta. Pusat gempa di laut.
Lebih dari 5.700 orang meninggal, ribuan orang luka- luka. Bencana terjadi di Kab. Bantul (kec. Bambang Lipuro, Jetis, Imogiri, Piyungan), Kab. Sleman (Kec. Prambanan) dan Kab. Klaten (Kec. Prambanan - Klaten, Wedi, Bayat, dan Gantiwarno). Terjadi retakan tanah, longsoran, likuifaksi, di Kab. Bantul, Prambanan dan Klaten. Ribuan bangunan dan rumah penduduk roboh dan mengalami kerusakan. Gempa bersumber di darat akibat pergerakan sesar aktif.
Beberapa bangunan dan rumah penduduk rusak ringan.
65
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Kerusakan pada bangunan.
Tsunami di Tulungagung.
Beberapa bangunan retak pada dinding.
Kerusakan pada bangunan dan rumah penduduk. Getaran gempa terasa sampai Brangah.
Beberapa bangunan rusak.
Tsunami di selatan Jember.
Gempa terasa di Rembang & Surabaya. Sebuah rumah roboh di Brondong.
Beberapa bangunan retak. Getaran terasa sampai Kalimantan dan Jawa Barat.
8 orang meninggal. Terjadi retakan pada bangunan dan retakan tanah.
Beberapa bangunan retak.
KDLM (KM)
Beberapa bangunan retak.
Kerusakan pada bangunan.
14 org meninggal, 72 orang luka-luka, 1.539 rumah rusak dan kerusakan terparah di Dampit, Di Gondang 9 org meninggal, 9 org luka-luka, 119 bangunan roboh, 402 retak, 5 masjid rusak.
Di Trenggalek 33 rumah bambu retak. Gempa terasa sampai Banyumas dan Cilacap.
Kerusakan sejumlah bangunan di Gandusari & Trenggalek. Goncangan terasa kuat, intensitas skala MMI tercatat V - VI.
250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Inundation berjarak ± 500 meter. Ketinggian runup mencapai ± 1,3 – 13,9 meter. Bencana di Rajegwesi, Gerangan, Lampon, Pancer, Pulau Sempu,.Grajagan, Pulau Merah, Teluk Hijau, Sukamade,Watu Ulo, Teluk Sipelori dan Teluk Tambakan. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan.
67
KDLM (KM)
IV-V
V
V
Beberapa bangunan retak dan plester dinding lepas di rumah dinas Polres Pacitan, 4 rumah di desa Pucang Sewu, 1 rumah di desa Sambong, 1 rumah di desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan; 1 rumah di desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek; pasar Madiun dan sebuah Ruko di kota Yogyakarta. Getaran terasa di Pacitan, Trenggalek, Madiun, Solo, Yogyakarta hingga Surabaya. Terjadi gempabumi susulan.
1 org meninggal, 7 org luka berat, 17 org luka ringan, 234 rumah penduduk rusak di Situbondo. Bencana terparah di desa Bantal & Kedunglo, Kec. Asembagus, wilayah lainnya yang mengalami kerusakan Kec. Banyuputih & jangkar, Kab. Situbondo. Sejumlah bangunan juga rusak di Kab. Banyuwangi.
Beberapa bangunan rusak.
Gambar 28. Longsoran di Desa Sindangmanggu, Kabupaten Majalengka akibat gempabumi tanggal 6-7-1990 dengan magnitudo 5,8 SR (Soehaimi dan Effendi, 1990).
Gambar 29. Retakan dinding pada rumah penduduk di desa Cijengkol, Kecamatan Caringin, akibat gempabumi tanggal 12-7-2000 dengan magnitudo 5,1 SR (Supartoyo dkk., 2003).
69
Gambar 30. Kerusakan bangunan di SD Narawita, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, akibat gempabumi tanggal 18 Agustus 2000 (Putranto E.T., 2000).
Gambar 31. Kerusakan bangunan di Kabupaten Kuningan akibat gempabumi tanggal 21 Maret 2003, magnitudo 4,8 SR (Putranto E.T., 2003).
70
Gambar 32. Kerusakan SD Padawas I, Kecamatan Pasir Wangi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, akibat kejadian gempabumi tanggal 2-2-2005 dengan magnitudo 4,2 SR (Putranto
E.T., 2005).
Gambar 33. Kerusakan SDN Ciptalaksana Cipelak I di Kampung Pasirwaru, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung, akibat kejadian gempabumi tanggal 15-4-2005 dengan
magnitudo 5 SR (Palgunadi dkk., 2005).
71
Gambar 34. Rumah penduduk yang roboh pada zona sesar akibat gempabumi tanggal 17-5-2006 magnitudo 6,2 Mw, di dusun Guyangan, desa Wonolelo, Plered, Bantul
(Supartoyo, 2006).
Gambar 35. Retakan tanah sepanjang ± 2.900 meter akibat gempabumi tanggal 17-5-2006 dengan magnitudo 6,2 Mw di Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Bantul
(Supartoyo, 2006).
72
Gambar 36. Jejak tinggi landaan tsunami (run up) tanggal 28-7-2006, setinggi ± 180 cm di pantai barat Pangandaran (Supartoyo dkk., 2006).
Gambar 37. Kerusakan rumah penduduk akibat tsunami di Pangandaran tanggal 28-7-2006 (Supartoyo dkk., 2006).
73
Gambar 38. Gerakan tanah dipicu kejadian gempabumi tanggal 2-9-2009 dengan magnitudo 7,3 SR di daerah Cikangkareng, Cianjur (Irawan, 2013).
Gambar 39. Robohnya Masjid Jami At Taqwa di Banyumas, Jawa Tengah akibat gempabumi tanggal 25-1-2014 dengan magnitudo 6,5 SR (Praja N.K. dkk., 2014).
74
III.3 Gempabumi Merusak Di Wilayah Bali Dan Nusa Tenggara
Wilayah pulau Bali dan pulau – pulau di Nusa Tenggara merupakan busur kepulauan yang
berinteraksi dengan Lempeng Indo – Australia yang terletak di sebelah selatan Bali dan Nusa
Tenggara yang bergerak relatif ke arah utara dengan kecepatan sekitar 7 cm/ tahun. Sering
terjadinya gempabumi mencirikan bahwa kegiatan tektonik masih aktif, karena wilayah ini
terletak pada pinggiran lempeng aktif (active plate margin). Kegiatan tektonik di wilayah ini
dipengaruhi oleh Orogenesa Sunda dan Orogenesa Banda yang diperkirakan terjadi pada
periode Neogen (Simanjuntak, 2004). Di kawasan ini Orogenesa Sunda diakibatkan
penunjaman antara Lempeng Indo-Australia dengan Busur Kepulauan, mengakibatkan
terbentuknya pensesaran di sebelah utara Nusa Tenggara yang dikenal sebagai sesar naik
busur belakang Flores (Flores back arc thrusting). Sesar ini merupakan sesar aktif, dibuktikan
dengan beberapa kejadian gempabumi, bahkan gempabumi tahun 1992 memicu terjadinya
tsunami. Orogenesa Banda diakibatkan oleh tumbukan antara busur kepulauan Banda luar
(outer Banda arc) dengan pinggiran utara lempeng benua Australia yang membentuk Palung
Timor, perbukitan rendah di kepulauan Tanimbar dan Kai (Simanjuntak, 2004). Pasca
Orogenesa Banda di kawasan ini terpotong oleh beberapa sesar mendatar berarah timur laut –
barat daya. Data kegempaan menunjukkan bahwa sepanjang palung Timor kegiatan kegempaan
kurang begitu aktif.
Zona pertemuan interaksi antar lempeng tersebut membentuk palung dengan kedalaman
berkisar 4.500 – 7.000 meter pada bagian selatan Bali dan Nusa Tenggara, yang merupakan
zona subduksi. Zona subduksi merupakan sumber gempabumi di laut yang berpotensi
membangkitkan tsunami. Kejadian gempabumi Sumbawa tanggal 19-8-1977 telah
membangkitkan tsunami yang melanda sebagian wilayah pulau Bali, Lombok, Sumbawa dan
Sumba, dan mengakibatkan korban jiwa lebih dari 100 orang.
Tumbukan antar lempeng tersebut mengakibatkan terbentuknya beberapa sesar di wilayah
pulau Bali dan pulau – pulau di Nusa Tenggara. Sesar – sesar tersebut pada umumnya berarah
barat – timur, barat laut – tenggara, utara – selatan dan barat daya – timur laut. Sesar – sesar
tersebut diperkirakan merupakan sesar aktif, karena adanya beberapa kejadian gempabumi
dengan kedalaman dangkal yang terletak pada zona sesar tersebut.
75
Tabel berikut ini menyajikan wilayah rawan gempabumi dan tsunami di wilayah Bali dan Nusa
Tenggara.
Tabel 16. Wilayah rawan gempabumi dan tsunami di Bali dan Nusa Tenggara.
1. Provinsi Bali
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Kabupaten Buleleng Kabupaten Bangli Kabupaten Badung *) Kabupaten Tabanan *) Kabupaten Gianyar *) Kabupaten Klungkung *) Kabupaten Jembrana *) Kabupaten Karangasem *) Kota Denpasar *)
2. Provinsi Nusa Tenggara Barat
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Kabupaten Lombok Barat *) Kabupaten Lombok Tengah *) Kabupaten Lombok Timur *) Kabupaten Bima *) Kabupaten Dompu *) Kabupaten Sumbawa *) Kabupaten Sumbawa Barat *) Kota Bima *) Kota Mataram *)
3. Provinsi Nusa Tenggara Timur
NO. KABUPATEN/ KOTA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10. 11. 12. 13.
Kabupaten Rote Ndao *) Kabupaten Alor *) Kabupaten Sumba Barat *) Kabupaten Sumba Barat Daya *) Kabupaten Sumba Tengah *) Kabupaten Sumba Timur *) Kabupaten Sikka *) Kabupaten Flores Timur *) Kabupaten Ende *) Kabupaten Nagekeo *) Kabupaten Ngada *) Kabupaten Manggarai *) Kabupaten Manggarai Barat *)
76
Kabupaten Timor Tengah Selatan *) Kabupaten Timor Tengah Utara Kabupaten Belu *) Kabupaten Lembata *) Kota Kupang *) Kabupaten Kupang *)
*) Kabupaten/ Kota rawan gempabumi dan tsunami.
Gambar berikut ini menampilkan sebaran pusat gempabumi merusak wilayah Bali dan Nusa
Tenggara yang diplot dari Katalog gempabumi merusak. Tidak semua pusat gempabumi yang
terjadi di plot. Meskipun magnitudonya kecil, tetapi apabila gempabumi tersebut menimbulkan
korban jiwa dan kerusakan bangunan digolongkan sebagai gempabumi merusak dan pusat
gempabuminya diplot pada peta.
Tabel berikutnya menampilkan parameter kejadian gempabumi merusak yang pernah terjadi di
wilayah Bali dan Nusa Tenggara yang dihimpun dari literatur yang diterbitkan di dalam dan di
luar negeri serta hasil-hasil penyelidikan dan tanggap darurat para ahli di lingkungan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga tahun 2014. Parameter gempabumi
merusak yang ditampilkan meliputi : nama gempabumi (diambil nama lokasi yang mengalami
bencana), tanggal kejadian, pusat gempabumi (epicenter), kedalaman, magnitudo, skala MMI,
keterangan kerusakan. Selanjutnya ditampilkan foto – foto kerusakan yang terjadi akibat
kejadian gempabumi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara yang dikumpulkan dari berbagai
literatur yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri. Sebagian foto – foto ini merupakan hasil-
hasil penyelidikan para ahli di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
77
Gambar 40. Pusat gempabumi merusak wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
78
NO NAMA GEMPA TANGGAL PUSAT GEMPA
KDLM (KM)
Tsunami melanda pantai utara Pulau Bali (?)
Tsunami melanda Pulau Nusa Penida & Bali selatan.
Retakan dinding mesjid & sejumlah bangunan rusak berat di daerah Sakara.
Bangunan rusak di Cam- pur darat & Kebonagung.
559 org meninggal , 850 org luka berat & 3.200 org luka ringan, 90% bangunan roboh & rusak. Di Tabanan & Jembrana 75% bangunan rusak.
Di Kayubihi 90% bangunan rusak, 1 pura dan bangunan permanen roboh di Susut & Bangli, di Banjar Antungan 80% bangunan retak. Longsor diantara Kayubihi dan Banjar Antungan. Goncangan terasa sangat kuat di Denpasar.
79
KDLM (KM)
56
5
6,2
5,7
VII-VIII
VI
VII
Di Karangasem 5 org meninggal, 34 org luka berat, 250 org luka ringan, beberapa bangunan roboh. Di Abang 17 org meninggal, 9 org luka berat, 3.000 org luka ringan, beberapa bangunan roboh. Di Culik 1 org meninggal, 2 org luka berat, 18 org luka ringan, beberapa bangunan retak. Di Bebanden 1 org meninggal, 2 org luka berat, 4 org luka ringan, bangunan rusak dan retak. Retakan tanah sepanjang ± 0,5 km.
Beberapa bangunan rusak di Denpasar. Goncangan gempa terasa kuat di Bali dan Lombok. Kemungkinan terjadi tsunami (?).
23 orang luka-luka. Getaran terasa hingga Pulau Lombok.
80
KDLM (KM)
V
IV
V
1 orang meninggal dunia, 33 orang luka-luka, 3 banguna