Karya Ilmiah_IES Competition 2015

download Karya Ilmiah_IES Competition 2015

of 26

  • date post

    04-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    2

Embed Size (px)

description

karya ilmiah

Transcript of Karya Ilmiah_IES Competition 2015

Lampiran 1: Survei Pendahuluan

UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBANGUNAN RESERVOIR DENGAN SISTEM PURIFIKASI AIR DI BAWAH DASAR SUNGAI SEBAGAI TEKNOLOGI PEMURNIAN DAN PENAMPUNGAN CADANGAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DAERAH KUMUH SEKITAR BANTARAN SUNGAI

Disusun Oleh:Alfred(1406565713)Teknik Sipil 2014Rosjamrud Hulu(1406532305)Teknik Sipil 2014Widya Natasya Widjojo (1406533150)Teknik Sipil 2014

UNIVERSITAS INDONESIADEPOKMARET 2015HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis ilmiah yang berjudul Pembangunan Reservoir dengan Sistem Purifikasi Air di Bawah Dasar Sungai sebagai Teknologi Pemurnian dan Penampungan Cadangan Air Bersih bagi Masyarakat Daerah Kumuh Sekitar Bantaran Sungai telah disetujui dan disahkan pada

Hari/Tanggal: Kamis, 12 Maret 2015Tempat : Falkutas Teknik, Universitas IndonesiaOleh :1. Alfred (1406565713) Teknik Sipil 20142. Rosjamrud Hulu(1406532305) Teknik Sipil 20143. Widya Natasya Widjojo (1406533150) Teknik Sipil 2014

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti lomba penulisan karya tulis ilmiah yang diadakan oleh FTSP ITS.

Depok, 12 Maret 2015Ketua Kelompok

Alfred

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyusun karya ilmiah yang berjudul Pembangunan Reservoir dengan Sistem Purifikasi Air di Bawah Dasar Sungai Sebagai Teknologi Pemurnian dan Penampungan Cadangan Air Bersih bagi Masyarakat Daerah Kumuh Sekitar Bantaran Sungai. Karya ilmiah ini disusun dalam rangka mengikuti IES Writing Competition 2015 yang diadakan oleh FTSP ITS.Penulisan karya ilmiah ini merupakan hasil telaah pustaka. Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu serta memotivasi kami untuk menyelesaikan karya ilmiah ini. Harapan kami dalam penulisan karya ilmiah ini adalah agar kami dapat memberikan suatu kontribusi untuk Indonesia dengan membuat suatu pembangunan yang inovatif dalam mengatasi permasalahan pemukiman kumuh di bantaran sungai.Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan karya ilmiah ini.

Jakarta, 12 Maret 2015

Tim Penulis bb

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHANiiKATA PENGANTARiiiDAFTAR ISIivDAFTAR TABELvABSTRAKviBAB 1 PENDAHULUAN71.1Latar Belakang Masalah71.2Perumusan Masalah81.3Tujuan dan Manfaat Penulisan91.4Manfaat Penulisan9BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA102.1Tinjauan Pustaka Terkini102.2Landasan Teori132.2.1Sampah 142.2.2Reservoir17BAB 3 METODE PENULISAN19BAB 4 PEMBAHASAN20BAB 5 PENUTUP235.1Kesimpulan235.2Saran23DAFTAR PUSTAKA24

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Banyaknya Desa 1 / Kelurahan Menurut Keberadaan Permukiman di Bantaran Sungai, di Bawah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), dan Permukiman Kumuh (Sumber: xxx)10Tabel 2.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Berdasarkan Propinsi (September, 2004)11Tabel 2.3 Daftar Pendapatan Per Kapita Dunia (Sumber: World Bank, 2013)13

ABSTRAK

Maraknya kawasan permukiman kumuh di Indonesia telah menjadi salah satu masalah yang paling sulit untuk diatasi oleh pemerintah sampai saat ini. Menurut statistik dari BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia, sampai saat ini masih ada 21.065 permukiman yang dibangun di bantaran/tepi sungai, dimana 18,6% diantaranya merupakan permukiman yang kumuh. (Sumber: xxx)Comment by Marsha: Cantumin sumbernya ini darimana? Koran? Atau apa?Permukiman kumuh adalah suatu daerah tak layak huni yang ditempati oleh masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah kebawah, berpopulasi padat, infrastrukturnya terbuat dari material bekas pakai yang tak layak pakai, dan kualitas kebersihan yang lemah. Permukiman kumuh dibantaran sungai memiliki masalah utama pada sangat minimnya sumber air (air sungai) yang bersih untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus). Warga terus-menerus menggunakan air sungai sebagai kebutuhan MCK dan akhirnya mencemari air yang mereka gunakan sehari-hari. Kotornya sungai pun dipengaruhi juga oleh pembuangan sampah sembarangan baik di daerah tersebut ataupun di hulu sungai.Comment by Marsha: Coba buka ini deh buat referensi bikin abstrak: http://dr.klinikbtp.com/abstrak-penelitian/ Sudah banyak hal-hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal ini, sebagai salah satu contoh, proyek normalisasi air yang dilakukan oleh pemerintah kota Jakarta dengan tujuan pembersihan sampah berkala dan pelebaran sungai. Pemindahan lokasi tempat tinggal juga sering menjadi salah satu cara untuk mengatasi permukiman kumuh ini. Namun, usaha ini terlihat sangat sulit untuk berjalan karena masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan juga kurangnya kemampuan ekonomi untuk menempati daerah yang baru, yang mungkin jauh dari lokasi pekerjaan sehari-hari mereka. Penataan ruang permukiman kumuh juga tidak akan menyelesaikan masalah jika masalah kebersihan sanitasi belum diatasi.Melihat perlunya teknologi inovatif untuk menghasilkan sanitasi yang bersih untuk dapat menyelesaikan masalah permukiman kumuh ini, kelompok kami mengajukan ide pembangunan reservoir di bawah dasar sungai. Reservoir dilengkapi dengan pipa filtrasi dan sistem-sistem purifikasi air, dan akan dipantau kualitas kerjanya oleh masyarakat sekitar, dibantu oleh tenaga-tenaga handal. Dengan metode ini, air sungai yang kotor diharapkan dapat terpurifikasi menjadi air yang lebih bersih dan dapat digunakan sebagai cadangan dan sumber air yang lebih bersih yang dapat digunakan untuk aktivitas warga di permukiman kumuh. Melalui ide ini, kami juga berharap perhatian warga terhadap pentingnya kebersihan sanitasi semakin meningkat, dan membuat masyarakat sekitar permukiman kumuh semakin sadar untuk menjaga kebersihan air demi kepentingan bersama. Proyek ini juga diharapkan dapat mengurangi biaya-biaya pembangunan rumah susun untuk memindahkan masyarakat di kawasan kumuh, biaya yang diperlukan untuk normalisasi sungai, biaya untuk menyewa tenaga kerja untuk membersihkan sampah di sungai, dan proyek ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi parahnya banjir di Jakarta.

viUniversitas Indonesia

PENDAHULUAN

Latar Belakang MasalahPermukiman kumuh sudah menjadi salah satu dari sekian masalah yang serasa tiada akhirnya dihadapi oleh Indonesia. Tidak hanya di daerah bantaran sungai, permukiman kumuh di Indonesia pun mengokupasi daerah yang berbeda-beda, misalnya daerah sumber udara tegangan listrik tinggi (SUTET). Adanya permukimah kumuh di daerah seperti ini sangatlah memprihatinkan, mulai dari masalah kebersihan lingkungan, sanitasi, kelayakan tempat tinggal, hingga resiko yang berhubungan dengan listrik tegangan tinggi bagi mereka yang tinggal di daerah SUTET. Permukiman kumuh ini muncul karena beberapa faktor, diantaranya kondisi perekonomian rakyat Indonesia. Meskipun Indonesia berada di peringkat 16 sebagai negara dengan ekonomi terkuat di dunia (Sumber: Survey World Bank 2013) dengan nilai Gross Domestic Product (GDP) sebesar USD 868.346 , persentase kemiskinan di Indonesia sampai mencapai angka 10,96% pada bulan September 2014. Sebanyak 27.727.280 penduduk di Indonesia tercatat hidup dibawah garis kemiskinan, dimana 8,16% penduduk miskin tinggal di perkotaan dan 13,76% tinggal di pedesaan, dengan angka pendapatan per kapita dibawah IDR 312.328 perbulan. Dengan keadaan finansial seperti ini, rakyat miskin di Indonesia tidak akan mampu untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak, yang pada akhirnya, tidak memberikan mereka pilihan lain selain tinggal di daerah yang tidak layak huni.Daerah permukiman kumuh umumnya tidak memiliki sanitasi yang baik, baik dari segi sumber air bersih, maupun saluran pembuangan limbah rumah tangga yang tidak baik. Permukiman kumuh di bantaran sungai yang tidak bersih akan menimbulkan beberapa bahaya yang tidak bisa dihindari. Dikarenakan tidak ada sumber air yang bersih, penduduk permukiman bantaran sungai terpaksa menggunakan air sungai sebagai kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK). Air yang terkontaminasi kuman-kuman dari hasil pencucian pakaian, mandi, dll pada akhirnya akan mengontaminasi air sungai yang mereka gunakan sehari-hari. Air sungai pun menjadi sarang penyakit menular, dari penyakit paling umum seperti diare, penyakit-penyakit kulit, sampai penyakit yang mematikan seperti lepra atau demam berdarah, dll. Daerah permukiman kumuh yang tidak higenis dan padat penduduk menjadikan penyebaran penyakit menular lebih cepat dari daerah permukiman yang layak dan bersih.Melihat hal ini, kelompok kami muncul dengan satu pemahaman bahwa dalam menyelesaikan masalah permukiman kumuh di daerah bantaran sungai di Indonesia haruslah dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat sampai saat ini. Sering kali permukiman kumuh di Indonesia dianggap dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan penataan/renovasi infrastruktur, atau bahkan pemindahan penduduk ke daerah lain yang lebih layak huni yang mungkin cukup memberatkan warga karena harus menambah biaya hidup akomodasi sehari-hari. Renovasi atau penataan permukiman kumuh tidak akan memberikan efek yang berlangsung lama atau cukup efektif dikarenakan sumber air yang digunakan warga masihlah bersumber dari air sungai itu sendiri. Kami berpendapat bahwa masalah permukiman kumuh di Indonesia haruslah dimulai dari kebersihan lingkungannya, terutama sumber airnya.Atas alasan kebersihan dan rasa ingin membantu rakyat dan pemerintah Indonesia, serta berinovasi sebagai salah satu sivitas akademika, kami mengajukan gagasan mengenai pembangunan reservoir dan sistem pembersihan air yang nantinya diharapkan dapat menyediakan sumber air yang cukup bersih untuk kegiatan warga sehari-hari. Dengan adanya sumber air yang bersih di daerah permukiman kumuh, kelompok kami mengharapkan terciptanya Indonesia yang lebih sehat dan lebih sejahtera bagi semua rakyat di dalamnya.