Karst Blora

of 35 /35
LAPORAN PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI FOTO ACARA : BENTANG ALAM KARST Disusun Oleh : Aditya Arief Pamungkas 21100111130041 LABORATORIUM GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI FOTO PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Embed Size (px)

Transcript of Karst Blora

LAPORAN PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI FOTOACARA : BENTANG ALAM KARST

Disusun Oleh : Aditya Arief Pamungkas 21100111130041

LABORATORIUM GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI FOTO PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG MEI 2012

LEMBAR PENGESAHANLaporan praktikum Geomorfologi dan Geologi Foto, acara : Bentang Alam Karst. Ini telah disahkan pada: Hari Tanggal Pukul : Rabu : 16 Mei 2012 :

Sebagai tugas praktikum Geomorfologi dan Geologi Foto mata kuliah Geomorfologi dan Geologi Foto.

Semarang, 16 Mei 2012 Asisten Acara, Praktikan,

Magdalena Agustini 21100110110009

Aditya Arief Pamungkas 21100111190079

DAFTAR ISILEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud ................................................................................................ 1 1.2 Tujuan ................................................................................................. 1 1.3 Waktu Pelaksanaan ............................................................................ 1 BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Bentang Alam Karst .......................................................... 2 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi ...................................................... 2 2.3 Bentang Alam hasil kartifikasi ............................................................ 5 2.4 Pola Pengaliran pada bentang alam karst ............................................ 9 BAB III PERHITUNGAN MORFOMETRI 3.1 Satuan Karst ........................................................................................ 10 3.2 Satuan Struktural ................................................................................ 11 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Satuan Deliniasi Karst ......................................................................... 12 4.2 Satuan Deliniasi Struktural ............................................................... 14 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 16 5.2 Saran .................................................................................................... 17 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18 LEMBAR ASISTENSI LAMPIRAN

DAFTAR GAMBARGambar 2.1 Stalagtit dan Stalagmite6 Gambar 2.2 Kerucut karst8 Gambar 2.3 Menara karst.8 Gambar 2.4 Mogote.9 Gambar 2.5 Pola Pengaliran Multibasinal....9

BAB I PENDAHULUAN1.1 Maksud. Membuat delinasi peta berdasarkan perbedaan proses tebentunya. Mengetahui kenampakan bentang alam karst dalam peta topografi. Membuat sayatan geomorfologi yang melewati semua satuan yang ada Mengitepretasikan kenampakan yang ada pada bentang alam karst Menentukan potensi positif dan negatif lahan.

1.2 Tujuan Dapat membuat delinasi peta berdasarkan perbedaan proses tebentunya. Dapat mengetahui kenampakan bentang alam karst dalam peta topografi. Mampu Membuat sayatan geomorfologi yang melewati semua satuan yang ada Mengitepretasikan kenampakan yang ada pada bentang alam karst Mengetahui tata guna pada bentang alam karst

1.3 Waktu Pelaksanaan Praktikum Hari/Tanggal Waktu : Rabu,9 mei 2012 : 18.30 WIB

Tempat Pelaksanaan : Laboratorium Geomorfologi dan Geologi Foto

BAB II DASAR TEORI

2.1 Pengertian Bentang Alam Karst Bentang alam karst adalah bentang alam yang terbentuk pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief yang khas, penyaluran yang tidak teratur, aliran sungainya secara tiba-tiba masuk kedalam tanah dan meninggalkan lembah kering untuk kemudian keluar ditempat lain sebagai mata air yang besar sertakenampakan-kenampakan geologi yang terbentuk akibat dari proses-proses pelarutan batuan. Dari sebaran batugamping yang ada, Indonesia merupakan wilayah yang potensial sebagai kawasan karst. Dari kondisi geologinya Indonesia kaya akan batugamping. Tetapi tidak semua batugamping yang ada diwilayah Indonesia dapat berkembang menjadi bentang alam kars.

2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi 2.2.1 Faktor Fisik Faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi : 1. Ketebalan Batugamping Menurut Von Engeln, batuan mudah larut (dalam hal ini batugamping) yang baik untuk perkembangan topografi karst harus tebal. Batugamping tersebut dapat masif atau terdiri dari beberapa lapisan yang membentuk satu unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum batuan tersebut habis terlarutkan dan tererosi. Sebaliknya pada batugamping yang massif, sirkulasi air akan berjalan lancar sehingga mempermudah terjadinya proses karstifikasi. 2. Porositas dan Permeabilitas

Porositas

(baik

primer

maupun

sekunder)

biasanya

mempengaruhi permeabilitas yaitu kemampuan batuan batuan untuk melalukan air. Disamping itu permeabilitas juga dipengaruhi oleh adanya kekar yang saling berhubungan dalam batuan. Semakin besar permeabilitas suatu batuan maka sirkulasi air akan berjalan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif. 3. Intensitas Struktur Terhadap Batuan Intensitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas batuan, zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif. Ritter (1978) mengemukakan bahwa kekar biasanya terbentuk dengan pola tertentu dan berpasangan (kekar gerus), tiap pasang membentuk sudut antara 70 sampai 90 dan mereka saling berhubungan. Hal inilah yang menyebabkan kekar dapat

mempertinggi porositas dan permeabilitas sekaligus sebagai zona lemah yang menyebabakan proses pelarutan dan erosi berjalan lebih intensif. Apabila intensitas pengkekaran sangat tinggi maka batuan menjadi mudah hancur atau tidak memiliki kekuatan yang cukup. Disamping itu permeabilitas menjadi sangat tingi sehingga waktu sentuh batuan dan air sangat cepat. 2.2.2 Faktor Kimiawi Faktor kimiawi yang berpengaruh dalam proses karstifikasi adalah: 1. Kondisi Kimia Batuan Kondisi kimia batuan yang dimaksud adalah komposisi dan sifat kimia (kelarutannya).Secara umum berdasarkan komposisinya batugamping dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, tetapi sesuai dengan namanya, batugamping sedikitnya mengnadung 50% mineral karbonat yang umumnya berupa kalsit (CaCO3).

2. Kondisi Kimia Media Pelarut Kondisi kimiawi media pelarut ini sangat berpangaruh pada proses karstifikasi. Flint dan Skinner (1979) mengemukakan bahwa kalsit sangat sulit larut dalam air murni, akan tetapi ia akan larut dalam air yang mengandung asam. Dialam, air hujan akan mengikat karbondioksida (CO2) dari udara dan dari tanah disekitarnya membentuk air/larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3). Larutan inilah yang akan melarutkan batugamping. Dengan demikian bahwa sifat kimiawi media pelarut sangat dipengaruhi oleh banyaknya karbondioksida yang diikatnya. 3. Faktor Biologis Aktifitas biologis dapat mempengaruhi pembentukan topografi karst, baik secara langsung maupun tidak langsung. Disamping meningkatkan tekanan parsial CO2 dalam larutan, pada saat pembentukan humus juga terjadi proses dekomposisi material organik yang menghasilkan karbondioksida (CO2). Karbondioksida ini disebut dengan biogenik CO2, yang merupakan bagian terbesar dari kandungan CO2 didalam tanah (Ritter, 1978). Dengan demikian berarti bahwa aktifitas biologis juga menambah suplai CO2 didalam tanah dan CO2 ini akan diikat oleh air tanah sehinga lebih reaktif. 4. Faktor Iklim dan Lingkungan Iklim dan lingkungan merupakan dua hal yang sering kali sulit untuk dipisahkan. Lingkungan dalam arti sempit adalah kondisi disekitar tempat yang dimaksud (dalam hal ini adalah lahan pembentukan topografi karst) dan lingkungan dalam arti luas meliputi seluruh aspek biotik dan abiotik yang ada didaerah yang dimaksud. Daerah yang beriklim tropis basah (lintang 0 13) curah hujan cukup tingggi, kombinasi suhu dan presipitasi ideal untuk berlangsungnya proses pelarutan sehingga proses karstifikasi berjalan sangat bagus (Riter, 1978). Selain itu sikulasi air tanah

sangat baik, tumbuh-tumbuhan lebah dan aktifitas mikroba cukup tinggi sehingga sangat mendukung terjadinya proses karstifikasi. Air tanah didaerah ini sangat reaktif untuk pelarutan dan suhu udara cukup tinggi sehinga reaksi kimia untuk melarutkan batugamping berjalan lebih cepat.

2.3 Bentang Alam Hasil Proses Karstifikasi Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam karst dapat dibedakan menjadi dua macam (Srijono, 1984, dalam Widagdo, 1984), yaitu: 2.3.1 Bentuk-bentuk Konstruksional Bentuk konstruksional adalah bentuk topografi yang dibentuk oleh proses pelarutan batugamping atau pengendapan material karbonat yang dibawa oleh air. Berdasarkan ukurannya, topografi konstruksional dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu bentuk-bentuk minor dan bentuk-bentuk mayor. Karst minor adalah bentang alam yang tak dapat diamati pada foto udara atau peta topografi, sedang bentang alam karst mayor adalah bentang alam yang dapat diamati baik didalam foto udara atau peta topografi.Bentukbentuk topografi kars minor adalah : 1. Lapies Merupakan bentuk tak rata pada permukaan batugamping akibat adanya proses pelarutan, penggerusan atau karena proses lain. Lapies (bahasa Prancis). Ritter (1978) mengklasifikasikan Karren berdasar bentuknya menjadi dua kelompok, yaitu yang mempunyai bentuk lurus dan bentuk melingkar seperti bulan sabit. 2. Karst Split Adalah celah pelarutan yang terbentuk dipermukaan. Kars split sebenarnya merupakan perkembangan dari kars-runnel (solution runnel). Bila jumlah kars-runnel banyak dan saling berpotongan maka akan membentuk kars split (Srijono, 1984 dalam Widagdo, 1984).

3. Parit Karst Adalah alur pada permukaan yang memanjang membentuk parit. Srijono (1984), mengemukakan bahwa parit karst ini merupakan karst split yang memajang sehingga membentuk parit karst. 4. Palung Karst Adalah alur pada permukaan batuan yang besar dan lebar, dibentuk oleh proses pelarutan. Kedalamannya dapat mencapai lebih dari 50 cm. biasanya terbentuk pada permukaan batuan yang datar atau miring rendah dan dikontrol oleh struktur yang memanjang. 5. Speleothem Adalah hiasan yang terdapat didalam gua yang dihasilkan oleh endapan berwarna putih, bentuknya seperti tetesan air, mengkilat dan menonjol. Hiasan ini merupakan endapan CaCO3 yang mengalami presipitasi pada saat air tanah yang membawanya masuk kedalam gua (Sanders, J.E., 1981). Macam-macam speleothems yang sering dijumpai adalah Stalagtit, yaitu hiasan yang menggantung dilangit-langit dan Stalagmit, yaitu hiasan yang berada didasar atau dilantai gua serta Tiang Masif (Massife Column), yaitu hiasan yang terbentuk bila stalagtit dan stalagmite bertemu.

Gambar 2.1 Stalagtit dan Stalagmite

Bentuk-bentuk topografi kars mayor adalah : 1. Surupan

Yaitu depresi tertutup hasil pelarutan denagn diameter mulai dari beberapa meter sampai beberapa kilometer,

kedalamannya mencapai ratusan meter dan bentuknya dapat bundar atau lonjong (oval), (Twidale, 1967). 2. Uvala Adalah depresi tertutup yang besar, terdiri dari gabungan beberapa doline, lantai dasarnya tidak rata. Jenning (1967) dalam Ritter (1978), mengemukakan bahwa sebuah uvala terdiri dari 14 buah doline dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi. Ukuran diameternya berkisar antara 5 1000 meter dan kedalamannya berkisar antara 1- 200 meter, dindingnya curam. 3. Polje Depresi tertutup yang besar dengan lantai dasar dan dinding yang curam, bentuknya tidak teratur dan biasanya memanjang searah jurus perlapisan atau zona lemah struktural. Pembentukannya dikontrol oleh litologi dan struktur dan

mengalami pelebaran oleh proses korosi lateral pada saat ia terisi air (Riiter, 1979). Polje mempunyai ukuran yang sangat besar minimal dalam satuan kilometer persegi. 2.3.2 Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan Yang dimaksud dengan bentuk morfologi sisa pelarutan adalah morfologi yang terbentuk karena pelarutan dan erosi sudah berjalan sangatlanjut sehingga meninggalkan sisa yang khas untuk lahan kars. Macam-macam bentuk morfologi sisa yaitu : 1. Kerucut Karst Yaitu bukit karst yang berbentuk kerucut, berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi yang biasanya disebut sebagai bintang (Ritter, 1978).Kerucut karst sering disebut sebagai kegelkars (bahasa Jerman). Depresi tertutup yang mengelilingi bukit sisa biasanya terbentuk bintang dan tidak teratur sering disebut sebagai

cockpits dan terbentuk oleh proses pelarutan sepanjang zona kekar atau patahan.

Gambar 2.2 Kerucut karst

2. Menara Karst Merupakan bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yng lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial (Ritter, 1978). Menara karst disebut juga pepino hill atau haystack atau turmkarst. Contoh menara kars yang baik adalah menara karst yang terdapat di Kweilin, Propinsi Kwangsi, China.

Gambar 2.3 Menara karst

3. Mogote Adalah bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (flat). Bentuknya kadang-kadang tidak simetri antara sisi yang

mengarah kearah datangnya angin dengan sisi sebaliknya (Ritter, 1978). Mogote dan menara karst dibedakan dari bentuk dan keterjalan lereng sisi-sisinya.

Gambar 2.4 Mogote

2.4 Pola pengaliran pada Bentang Alam Karst Pola pengaliran yang berkembang pada bentang alam karst adalah multibasinal yang disebut juga sink hole. Merupakan pola pengaliran yang tidak sempurna, kadang tampak kadang hilangyang disebut sebagai sungai bawah tanah, pola ini bekembang pada daerah karst atau batugamping.

Gambar 2.5 Pola Pengaliran Multibasinal

BAB III PERHITUNGAN MORFOMETRI

3.1 Perhitungan Persen Kelerangan Sayatan Pada Daerah Karst

Panjang Sayatan : Sayatan 1 = 0,5 cm Sayatan 2 = 0,8 cm Sayatan 3 = 0,7 cm Sayatan 4 = 0,4 cm Sayatan 5 = 0,5 cm

Persen Kelerengan

Rata-rata Lereng = Beda Tinggi Titik Tertinggi Titik Terendah = 675 Menurut klasifikasi Van Zuidam (1983) Daerah ini termasuk dalam Pegunungan terjal

3.2 Perhitungan Persen Kelerangan Sayatan Pada Daerah Struktural

Panjang Sayatan : Sayatan 1 = 0,6 cm Sayatan 2 = 0,5 cm Sayatan 3 = 0,7 cm Sayatan 4 = 0,6 cm Sayatan 5 = 0,7 cm

Persen Kelerengan

Rata-rata Lereng = Beda Tinggi Titik Tertinggi Titik Terendah = 671 Menurut klasifikasi Van Zuidam (1983) Daerah ini termasuk dalam Pegunungan terjal

BAB IV PEMBAHASAN

Pada praktikum acara bentang alam karst hal yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan alat-alat seperti peta,kertas kalkir,pensil warna,pensil,board marker warna merah dan biru,serta penggaris,lalu tempelkan kertas kalkir pada peta dan buatlah garis border pada pinggir kertas sesuai dengan peta,setelah itu buatlah satuan delinasi pada kertas kalkir,satuan delanasi struktural diwarnai dengan warna ungu sedangkan satuan delinasi karst diwarnai dengan warna orange,setelah diwarnai kemudian di buatlah sayatan pada masing- masing satuan delinasi. Kemudian dibuat pola aliran sungai dan pola jalan pada kertas kalkir yang lain,pola aliran sungai diwarnai dengan warna biru dan pola jalan diwarnai dengan warna merah. Setelah itu buatlah sayatan sepanjang 20 cm dan kemudian dibuat profil eksagrasi dan prosil normal pada milimeter blok. Dan kemudian langkah yang terakhir adalah melakukan perhitungan morfometri pada

masing masing sayatan baik satuan delinasi rapat maupun satuan delinasi hitungan renggang dan ditentukan klasifikasi reliefnya berdasarkan tabel Van Zuidam. Berdasarkan pergitungan yang telah dilakukan maka didapatkan hasil sebagai berikut : 1. Satuan A ( Karst ) Pada satuan deliniasi kars ini ditunjukkan dengan warna orange. Adapun Daerah yang termasuk kedalam satuan deliniasi ini adalah Kenteng, Prampelan, Wonosongo, Sendanggolo, Salam, Munggur,Gunung Klitik, Gunung Rajutan, Kangkung, Turi, Badul, Gunung Wadang, Gunung Klumpit, Gunung kutjir, Duwur, Gunung Epek, Gunung Bentar, dan Gunung Tutup. Berdasarkan hasil perhitungan morfometri daerah ini memiliki persen kelerengan bernilai 45,9% dan memiliki beda tinggi 373 m

,sehingga berdasarkan klasifikasi Van Zuidam ( 1983 ) termasuk daerah berbukit terjal. Berdasarkan kenampakan kontur dan morfogenesa pada

peta daerah ini masuk ke dalam bentang alam karst, karena diperkirakan pada daerah ini terdapat kenampakan-kenampakan hasil proses karstifikasi yang menghasilkan topografi mayor seperti : surupan, uvala, polje, jendela karst, lembah karst, gua (cave), terowongan dan jembatan alam. Dan bentuk-bentuk sisa (topografi minor) seperti : menara karst, kerucut karst, dan mogote. yang terbentuk dari lapisan batu gamping yang mengalami pelarutan oleh air alam. Pola pengaliran yang ada pada daerah ini adalah pola pengaliran multi-basinal, dimana pola aliran ini adalah pola aliran khas bentang alam karst, pola aliran multi-basinal (sinkhole) adalah pola aliran yang kurang sempurna, karena kadang tampak kadang hilang yang disebut sungai bawah tanah,hal ini disebabkan karena litologi karst yang memiliki sifat mudah larut dalam air,sehingga ketika air melewati litologi karst,maka air akan masuk kedalam tanah yang memiliki sifat permebealitas dan porositas tinggi air akan mudah menyusup masuk ke dalam litologi karst. Litologi yang ada pada bentang alam karst sendiri adalah litologi Batu Gamping dimana Batu Gamping ini memiliki sifat mudah larut dalam air,permebealtias dan porositas tinggi,mudah tererosi dll. Diperkirakan daerah dengan litologi Karst ini dahulu berupa dasar laut yang mengalami gaya angkat atau uplift akibat adanya gaya tektonik, membentuk daratan seperti sekarang sehingga banyak terdapat kandungan batugamping atau kalsit di daerah ini, tetapi tidak semua batugamping dapat berkembang menjadi bentang alam karst. Pada bentang alam karst, batuan yang mudah larut tersebut disertai surupan (sink) dan gua yang berkombinasi membentuk topografi yang aneh (peculiar topography) yang dicirikan oleh adanya lembah kecil dan pola penyaluran yang tidak teratur dengan aliran sungai yang tiba-tiba masuk ke dalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. Bentang alam karst ini dapat terbentuk karena adanya air permukaan yang memasuki rekahan pada batuan yang diikuti oleh pelarutan batuan pada zona rekahan tersebut. Adanya proses pelarutan

menyebabkan rekahan menjadi semakin besar dan akhirnya membeuk sungai bawah tanah ataupun gua. Struktur dominan yang terdapat pada bentang alam karst adalah kekar. Intersitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas batuan, zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif. Potensi positif dari daerah ini adalah sebagai tambang batu gamping,pabrik bahan baku semen,penelitian geologi dll. Potensi negatifnya adalah longsor. Tataguna Lahan Daerah ini dimanfaatkan sebagai objek studi, karena daerah ini masih menyimpan banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap, selain itu daerah ini dimanfaatkan sebagai tambang batu gamping, daerah wisata, karena bentang alam ini sangat unik, daerah pemukiman penduduk pusat pemerintahan daerah, pendidikan dan kegiatan pecinta alam susur gua (caving).

2. Satuan B ( Struktural ) Daerah Satuan B ini adalah daerah structural,dalam deliniasi peta topografi, pewarnaan daerah struktural menggunakan warna ungu. Adapun Daerah yang termasuk kedalam satuan deliniasi ini adalah Gunung Bubuhan, Gunung Bulu, Gunung Bandjaran, Gunung Singo, Dajati, Selodjono, Djimbaran, Gunung Uni, Bangos, Badron, Tawang, dan Djambedawi. Daerah Struktural ini memiliki persen kelerengan 40,1 % dan

memiliki beda tinggi 311 m. Berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1983),daerah ini termasuk daerah pegunungan terjal. Pola pengaliran yang ada di daerah ini adalah pola pengaliran dendritik, karena pada daerah ini terdapat pola pengaliran yang bercabang cabang seperti pohon dengan cabang-cabangnya atau disebut dengan pola pengaliran dendritik. Pola ini bisa dipengaruhi adanya struktur-struktur yang ada didaerah tersebut

seperti sesar atau lipatan, sungai akan mengalir melewati daerah daerah dengan resistensi yang lemah sehingga membentuk pola pengaliran yang bercabang cabang . Bentang alam struktural tergolong daerah berbukit terjal (persen lereng). Pada bentang alam ini memiliki proses geomorfik bertupa erosi, transportasi dan pelapukan,hal-hal tersebut dipengaruhi oleh gaya eksogen atau gaya dari luar bumi,namun selain itu juga dipengaruhi gaya endogen yaitu tenaga yang berasal dari pergerakan lempeng ( proses tektonik ). Hasil dari proses ini mengakibatkan perubahan struktur geologi, seperti pengangkatan, lipatan, dan patahan yang dapat terlihat dalam bentuk topografi dan relief yang khas. Dengan proses proses tersebut maka kelerengan pun dapat naik dan berubah menjadi lebih terjal. Litologi yang dominan adalah batuan yang memiliki resistensi yang tinggi,hal itu diperkirakan karena dengan resistensi batuan yang lebih tinggi bisa memungkinkan terbentuk pola kontur rapat bila dibandingkan dengan batuan yang memiliki resistensi yang rendah,jadi dapat diindikasikan bahwa litologi daerah tersebut berupa batuan beku dan

sedikit litologi batuan sedimen akibat pengaruh dari proses fluviatil aliran sungai yang ada didaerah tersebut. Potensi Positif daerah ini adalah sebagai pemukiman,pertambangan batupasir dll. Potensi negatifnya adalah tanah longsor.Tata guna lahan pada daerah berbukit terjal ini dapat digunakan untuk daerah pemukiman dan dapat juga untuk area pertanian dan perkebunan.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Setelah melakukan pengamatan, sayatan, dan perhitungan morfometri dari peta topografi di atas, dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya sebagai berikut: 5.1.1 Satuan Bukit terjal Karst Setelah melalui perhitungan morfometri, diketahui bahwa daerah ini termasuk dalam satuan daerah berbukit Terjal dalam tabel Van Zuidam dengan persen lereng 45,9 %. Pada daerah ini, beda tinggi antara puncak tertinggi ( top hill) dan puncak terendah ( Down hill) adalah 373 m dengan puncak tertinggi 675 m dan puncak terendah 302 m. Litologi pada daerah ini adalah berupa batu gamping,pola pengaliranya adalah multibasinal,tata guna lahanya daerah ini dimanfaatkan sebagai objek studi, karena daerah ini masih menyimpan banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap, selain itu daerah ini dimanfaatkan sebagai tambang batu gamping, daerah wisata, karena bentang alam ini sangat unik, daerah pemukiman penduduk pusat pemerintahan daerah, pendidikan dan kegiatan pecinta alam susur gua (caving). 5.1.2 Satuan Bukit terjal Struktural Setelah melalui perhitungan morfometri, diketahui bahwa daerah ini termasuk dalam satuan daerah berbukit Terjal dalam tabel Van Zuidam dengan persen lereng 40,1 %. Pada daerah ini, beda tinggi antara puncak tertinggi ( top hill) dan puncak terendah ( Down hill) adalah 311 m dengan puncak tertinggi 671 m dan puncak terendah 360 m. Litologi daerah ini diperkirakan adalah batuan beku dan batuan sedimen. Tenaga endogen yang biasanya mempengaruhi perubahan struktur geologi berasal dari pergerakan lempeng ( proses

tektonik ) sedangkan tenaga eksogenya adalah erosi,transportasi dan pelapukan. Tata guna lahan pada daerah berbukit terjal ini dapat digunakan untuk daerah pemukiman dan dapat juga untuk area pertanian dan perkebunan.

5.2 Saran Lakukan percobaan dengan serius Jangan meminjam barang milik teman, keran mengganggu jalanya pratikum Asisten harus sabar dalam menghadapi pratikan Kuasai materi sebelum menjalankan pratikum

DAFTAR PUSTAKAStaff Asisten Geomorfologi dan Geologi Foto. 2011. Buku Panduan Praktikum Geomorfologi dan Geologi Foto . Semarang : UNDIP Endarto, danang.2007.PENGANTAR GEOMORFOLOGI UMUM.Solo.UNS press http://en.wikipedia.org/wiki/Karst ( Diakses pada tanggal 13 Mei 2012 pukul 17.00 )

LAMPIRAN

POSTER