Karsinoma Mammae (214)

download Karsinoma Mammae (214)

of 22

  • date post

    12-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    6
  • download

    1

Embed Size (px)

description

ca mammae

Transcript of Karsinoma Mammae (214)

Carsinoma MammaeDwita Permatasari10 2008 214Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510

KASUS 5Seorang wanita berusia 55 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara kirinya yang semakin membesar sejak 1 tahun yang lalu. Menurut pasien, awalnya benjolan tersebut hanya berukuran sebesar 2 cm, akan tetapi semakin membesar dan terasa sakit. Pada status lokalis, didapat benjolan pada kuadran lateral atas dari payudara kiri berukuran 4x3 cm, konsistensi keras , batas tidak tegas, melekat pada kulit, terdapat gambaran peau d orange, terdapat retraksi papil, nyeri tekan+. Terdapat pembesaran KLB aksila dan inklavikularis sisnistra. PENDAHULUANKanker adalah salah satu penyakit yang banyak menimbulkan kesengsaraan dan kematian pada manusia. Di negara-negara barat, kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit-penyakit kardiovaskular.Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya. Prevalensi penderita kanker meningkat dari tahun ke tahun akibat peningkatan angka harapan hidup, sosial ekonomi, serta perubahan pola penyakit. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992, kanker menduduki urutan ke-9 dari 10 penyakit terbesar penyebab utama kematian di Indonesia. Gejala permulaan kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam keadaan lanjut. Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sangat tidak memuaskan. Pengobatan kuratif untuk kanker umumnya operasi dan atau radiasi. Pengobatan pada stadium dini untuk kanker payudara menghasilkan kesembuhan 75%. ANAMNESIS

Menanyakan identitas dan data umum seperti nama, usia, pekerjaan, agama, suku Menanyakan keadaan sosial dan ekonomi, gaya hidup dan kondisi lingkungan Menanyakan adanya keluhan utama dan penyerta. Menanyakan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan sebelumnya atau pengobatan sebelumnya, apa yang dilakukan untuk mengatasi keluahannya sebelum ke dokter. Menanyakan riwayat penyakit keluarga dan penyakit terdahulu Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama penderita dapat berupa: massa tumor di payudara; rasa sakit; cairan dari puting susu; retraksi puting susu; adanya ekzema sekitar areola; keluhan kulit berupa dimpling, kemerahan, ulserasi atau adanya peau d'orange; atau keluhan berupa pembesaran kelenjar getah bening aksila atau tanda metastasis jauh. Adanya tumor ditentukan sejak beberapa lama, cepat atau tidak membesar, disertai sakit atau tidak. Biasanya tumor pada proses keganasan atau, kanker payudara; mempunyai ciri dengan batas yang irregular umumnya tanpa ada rasa nyeri; tumbuh progresif cepat membesar. Pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor dan perubahan ukuran tumor; kawin atau tidak; jumlah anak, disusukan atau tidak; riwayat penyakil kanker dalam; obat-obatan yang pernah dipakai terutama yang bersifat hormonal; apakah pernah operasi payudara dan obstetri-ginekologi. Penyebaran informasi sesungguhnya tentang riwayat alamiah dan insidens kanker payudara sering bertanggung jawab untuk kewaspadaan pasien akan penyakit payudara. Anamnesis terpadu harus didapatkan sebelum melakukan pemeriksaan fisik. Penyelidikan terinci tentang faktor risiko penyerta seperti usia, pantas serta riwayat menstruasi dan menyusui, bersifat' penting. Usia menarke dan perubahan siklik dengan menstruasi berkorelasi bermakna dengan penyakit jinak dan ganas. Pertanyaan tentang tindakan bedah sebelumnya, terutama ooforektomi, adrenalektomi atau pembedahan pelvis, penting untuk memastikan kemungkinan efek penghentian sekresi estrogen endogen. Penting riwayat terapi hormon sebelumnya, yang mencakup kontrasepsi oral dan estrogen eksogen. Kehadiran dan sifat sekret puting susu maupun hubungannya dengan ovulasi siklus bias memberikan petunjuk penting tentang etiologi.

Sekitar 75 sampai 85 persen massa payudara dikenal pasien sebelum mencari pertolongan medis. Sifat pertumbuhan, reprodusibilitas pemeriksaan selama siklus nienstruasi dan sekret puting Susu merupakan pokok informasi bersangkut paut. Nyeri (mastodinia) dengan pembengkakan dan rasa penuh payudara .dalam masa segera pramestruasi atau pascamenstruasi menggambarkan lesi payudara sensitif hormon yang jinak. Penyelidikan riwayat penyakit keluarga kanker payudara dan gejala konstitusional yang mencakup penurunan berat badan, demam, hemoptisis, nyeri dada, anoreksia dan nyeri tulang rangka penting bila indeks kecurigaan keganasan tinggi. Riwayat lain yang perlu ditanyakan, antara lain apakah penderita sedang hamil atau tidak. Hal ini penting untuk diketahui, karena kehamilan dapat mengacaukan interpretasi terhadap adanya massa. Haid terakhir harus dicatat karena perubahan siklus haid me-ngesankan perubahan hormonal pada umumnya, dengan dampak sekundernya pada payudara. Tanyakan pada pasien bilamana massa itu sebelumnya sudah ada dan diagnose patologik pada biopsi, serta terapi yang diberikan sebelum ini. Perhatikan juga adanya gejala sistemik seperti nyeri tulang, berat badan makin menurun dan lain-lain.PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi

Inspkesi bentuk, ukuran, dan simetris dari kedua payudara, apakah terdapat edema (peau dorange), retraksi kulit atau puting susu, dan eritema.

2. Palpasi

Dilakukan palpasi pada payudara apakah terdapat massa, termasuk palpasi kelenjar limfe di aksila, supraklavikula, dan parasternal. Setiap massa yang teraba atau suatu lymphadenopathy, harus dinilai lokasinya, ukurannya, konsistensinya, bentuk, mobilitas atau fiksasinya.1

Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala-gejala seperti berikut untuk membedakanya dengan lesi massa yang jinak lainnya pada mammae penyakit Fibrocystic: massa bilateral yang nyeri, fluktuasi cepat dalam ukuran massa, gejala-gejala meningkat selama fase premenstruasi Fibroadenoma: bulat, massa mudah digerakkan Intraductal papilloma: puting susu berdarah yang sifatnya unilateral Nekrosis lemak: massa dengan kulit atau putting retraksi Mastitis atau abses mammae : eritema, dan indurasiPemeriksaan Penunjang

1. Mammografi Mammografi merupakan pemeriksaan yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi kanker payudara sebelum benjolan atau massa dapat dipalpasi. Karsinoma yang tumbuh lambat dapat diidentifikasi dengan mammografi setidaknya 2 tahun sebelum mencapai ukuran yang dapat dideteksi melalui palpasi1. Mammografi telah digunakan di Amerika Utara sejak tahun 1960 dan teknik ini terus dimodifikasi dan diimprovisasi untuk meningkatkan kualitas gambarnya. Mammografi konvensional menyalurkan dosis radiasi sebesar 0,1 sentigray (cGy) setiap penggunaannya. Sebagai perbandingan, Foto X-ray thoraks menyalurkan 25% dari dosis radiasi mammografi. Mammografi dapat digunakan baik sebagai skrining maupun diagnostik. Mammografi mempunyai 2 jenis gambaran, yaitu kraniokaudal (CC) dan oblik mediolateral (MLO). MLO memberikan gambaran jaringan mammae yang lebih luas, termasuk kuadran lateral atas dan axillary tail of Spence. Dibandingkan dengan MLO, CC memberikan visualisasi yang lebih baik pada aspek medial dan memungkinkan kompresi payudara yang lebih besar.2 Radiologis yang berpengalaman dapat mendeteksi karsinoma payudara dengan tingkat false-positive sebesar 10% dan false-negative sebesar 7%. Gambaran mammografi yang spesifik untuk karsinoma mammae antara lain massa padat dengan atau tanpa gambaran seperti bintang (stellate), penebalan asimetris jaringan mammae dan kumpulan mikrokalsifikasi. Gambaran mikrokalsifikasi ini merupakan tanda penting karsinoma pada wanita muda, yang mungkin merupakan satu-satunya kelainan mammografi yang ada. Mammografi lebih akurat daripada pemeriksaan klinis untuk deteksi karsinoma mammae stadium awal, dengan tingkat akurasi sebesar 90%. Protokol saat ini berdasarkan National Cancer Center Network (NCCN) menyarankan bahwa setiap wanita diatas 20 tahun harus dilakukan pemeriksaan payudara setiap 3 tahun. Pada usia di atas 40 tahun, pemeriksaan payudara dilakukan setiap tahun disertai dengan pemeriksaan mammografi. Pada suatu penelitian atas screening mammography, menunjukkan reduksi sebesar 40% terhadap karsinoma mammae stadium II, III dan IV pada populasi yang dilakukan skrining dengan mammografi.

2. Ultrasonografi (USG) Penggunaan USG merupakan pemeriksaan penunjang yang penting untuk membantu hasil mammografi yang tidak jelas atau meragukan, baik digunakan untuk menentukan massa yang kistik atau massa yang padat. Pada pemeriksaan dengan USG, kista mammae mempunyai gambaran dengan batas yang tegas dengan batas yang halus dan daerah bebas echo di bagian tengahnya. Massa payudara jinak biasanya menunjukkan kontur yang halus, berbentuk oval atau bulat, echo yang lemah di bagian sentral dengan batas yang tegas. Karsinoma mammae disertai dengan dinding yang tidak beraturan, tetapi dapat juga berbatas tegas dengan peningkatan akustik. USG juga digunakan untuk mengarahkan fine-needle aspiration biopsy (FNAB), core-needle biopsy dan lokalisasi jarum pada lesi payudara. USG merupakan pemeriksaan yang praktis dan sangat dapat diterima oleh pasien tetapi tidak dapat mendeteksi lesi dengan diameter 1 cm.23. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Sebagai alat diagnostik tambahan atas kelainan yang didapatkan pada mammografi, lesi payudara lain dapat dideteksi. Akan tetapi, jika pada pemeriksaan klinis dan mammografi tidak didapat kelainan, maka kemungkinan untuk mendiagnosis karsinoma mammae sangat kecil.

MRI sangat sensitif tetapi tidak spesifik dan tidak seharusnya digunakan untuk skrining. Sebagai contoh, MRI berguna dalam membedakan karsinoma mammae yang rekuren atau jaringan parut. MRI juga bermanfaat dalam memeriksa mammae kontralateral pada wanita dengan karsinoma payudara, menentukan penyebar