KANKER KOLON

download KANKER KOLON

of 27

  • date post

    18-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    81
  • download

    0

Embed Size (px)

description

ca colon

Transcript of KANKER KOLON

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    1/27

    1

    KANKER KOLON

    1.1 Epidemiologi

    Secara epidemiologis, angka kejadian kanker kolorektal mencapai urutan

    ke-4 di dunia dengan jumlah pasien laki-laki sedikit lebih banyak daripada

    perempuan dengan perbandingan 19.4 dan 15.3 per 100.000 penduduk (Abdullah,

    2006).

    Kanker kolorektal adalah penyebab kematian kedua terbanyak dari seluruh

    pasien kanker di Amerika Serikat. Kanker usus besar dan rektum adalah penyebab

    paling umum ketiga kematian kanker pada wanita (setelah kanker paru-paru dan

    payudara) dan penyebab yang paling umum ketiga kematian kanker pada laki-laki

    (setelah kanker paru-paru dan prostat). Lebih dari 150.000 kasus baru terdiagnosis

    setiap tahunnya di Amerika Serikat dengan angka kematian per tahun mendekati

    angka 60.000 (www. Medicineworld, 2010)

    Penyakit tersebut paling banyak ditemukan di Amerika Utara, Australia,

    Selandia Baru dan sebagian Eropa. Kejadiannya beragam di antara berbagai

    populasi etnik, ras atau populasi multietnik/multi rasial. Secara umum didapatkan

    kejadian kanker kolorektal meningkat tajam setelah usia 50 tahun, fenomena ini

    dikaitkan dengan pajanan terhadap berbagai karsinogen dan gaya hidup. Di

    Amerika Serikat rata-rata pasien kolorektal adalah berusia 67 tahun dan lebih dari

    50% kematian terjadi pada mereka yang berumur di atas 55 tahun (Abdullah,

    2006).

    Di Indonesia, menurut laporan registrasi kanker nasional, didapatkan angka

    yang berbeda. Didapatkan kecenderungan untuk umur yang lebih muda

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    2/27

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    3/27

    3

    1.3 Patofisiologi

    Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara faktor

    genetik dan faktor lingkungan. Kanker kolorektal yang sporadik muncul setelah

    melewati rentang masa yang lebih panjang sebagai akibat faktor lingkungan yang

    menimbulkan berbagai perubahan genetik yang berkembang menjadi kanker.

    Kedua jenis kanker kolorektal (herediter dan sporadik) tidak muncul secara

    mendadak melainkan melalui proses yang diidentifikasikan pada mukosa kolon

    (seperti pada displasia adenoma) (Abdullah, 2006).

    Faktor lingkungan yang berperan pada karsinogenesis kanker kololrektal

    dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

    Faktor Lingkungan Yang Berperan Pada Karsinogenesis Kanker Kololrektal

    1. Probably related

    a. Konsumsi diet lemak tinggib. Konsumsi diet lemak rendah

    2. Possibly related

    a.

    Karsinogen dan mutagenb. Heterocyclic aminesc. Hasil metabolisme bakterid. Bir dan konsumsi alkohole. Diet rendah selenium

    3. Probably protektif

    a. Konsumsi serat tinggib. Diet kalsiumc. Aspirin dan OAINSd. Aktivitas fisik (BMI rendah)

    4. Possibly protekstif

    a. Sayuran hijau dan kuningb. Makanan dengan karoten tinggic. Vitamin C dan Ed. Seleniume. Asam folat

    5. Cyclooxygenase-2 (COX-2) inhibitor

    6.Hormone Replacement Theraphy (estrogen)(Sumber : Abdullah, 2006).

    Kanker kolon terjadi sebagai akibat dari kerusakan genetik pada lokus yang

    mengontrol pertumbuhan sel. Perubahan dari kolonosit normal menjadi jaringan

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    4/27

    4

    adenomatosa dan akhirnya karsinoma kolon menimbulkan sejumlah mutasi yang

    mempercepat pertumbuhan sel. Terdapat 2 mekanisme yang menimbulkan

    instabilitas genom dan berujung pada kanker kolorektal yaitu : instabilitas

    kromosom (Cromosomal Insyability atau CIN) dan instabilitas mikrosatelit

    (Microsatellite Instability atau MIN). Umumnya asl kenker kolon melalui

    mekanisme CIN yang melibatkan penyebaran materi genetik yang tak berimbang

    kepada sel anak sehingga timbulnya aneuploidi. Instabilitas mikrosatelit (MIN)

    disebabkan oleh hilangnya perbaikan ketidakcocokan atau missmatch repair

    (MMR) dan merupakan terbentuknya kanker pada sindrom Lynch (Abdullah,

    2006).

    Gambar di bawah ini menunjukkan mutasi genetik yang terjadi pada

    perubahan dari adenoma kolon menjadi kanker kolon.

    Awal dari proses terjadinya kanker kolon yang melibatkan mutasi somatik

    terjadi pada gen Adenomatous Polyposis Coli (APC). Gen APC mengatur

    kematian sel dan mutasi pada gen ini menyebabkan pengobatan proliferasi yeng

    selanjutnya berkembang menjadi adenoma. Mutasi pada onkogen K-RAS yang

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    5/27

    5

    biasnya terjadi pada adenoma kolon yang berukuran besar akan menyebabkan

    gangguan pertumbuhan sel yang tidak normal (Abdullah, 2006).

    (Sumber :http://users.rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/C/Cancer.html)

    Transisi dari adenoma menjadi karsinoma merupakan akibat dari mutasi gen

    supresor tumor p53. Dalam keadaan normal protein dari gen p53 akan

    menghambat proliferasi sel yang mengalami kerusakan DNA, mutasi gen p53

    menyebabkan sel dengan kerusakan DNA tetap dapat melakukan replikasi yang

    menghasilken sel-sel dengan kerusakan DNA yang lebih parah. Replikasi sel-sel

    dengan kehilangan sejumlah segmen pada kromosom yang berisi beberapa alele

    (misal loss of heterizygosity), hal ini dapat menyebabkan kehilangan gen supresor

    tumor yang lain seperti DCC (Deleted in Colon Cancer) yang merupakan

    transformasi akhir menuju keganasan (Abdullah, 2006).

    Perubahan genetik yang terjadi selama evolusi kanker kolorektal dapat

    dilihat pada gambar di bawah ini :

    http://users.rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/C/Cancer.htmlhttp://users.rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/C/Cancer.html
  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    6/27

    6

    (sumber : Abdullah, 2006).

    1.4 Stadium dan Faktor prognostis

    Stadium dan faktor prognostis kanker kolorektal dapat dilihat pada tabel dan

    gambar di bawah ini:

    Stadium Deskripsi histopatologi Bertahan 5

    tahun (%)Dukes TNM Derajat

    A T1N0M0 I Kanker terbatas pada

    mukosa/submukosa

    >90

    B1 T2N0M0 II Kanker mencapai muskularis 85

    B2 T3N0M0 III Kanker cenderung

    masuk/melewati mukosa

    70-80

    C TxN1M0 IV Tumor melibatkan KGB

    regional

    35-65

    D TxN2M1 V Metastasis 5(sumber : Abdullah, 2006).

    http://3.bp.blogspot.com/_uQNDXKk81Jg/SN0t5GQTuRI/AAAAAAAAAEE/Z2p9mUz_5bw/s1600-h/15800.jpghttp://3.bp.blogspot.com/_uQNDXKk81Jg/SN0t5GQTuRI/AAAAAAAAAEE/Z2p9mUz_5bw/s1600-h/15800.jpg
  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    7/27

    7

    Harapan hidup pasien dengan kanker kolon bergantung pada derajat

    penyebaran saat pasien datang. Prognosis pasien berhubungan dengan dalamnya

    penetrasi tumor ke dinding kolon, keterlibatan KGB regional atau metastasis jauh,

    penyebaran lokal yang dapat menyebabkan perlekatan dengan struktur yang tak

    dapat diangkat, dan derajat histologi yang tinggi. Semua variabel ini digabung

    sehingga dapat ditentukan sistem staging yang dimodifikasi dari skala Dukes-

    Turnbull. Untuk semua pasien hasil kelangsungan hidup adalah sekitar 25% tetapi

    pada pasien yang bisa diobati dengan reseksi meningkat menjadi 50% dan jika

    tidak menembus seluruh ketebalan dinding kolon maka harapan hidupnya hampir

    normal. Kriteria terpenting adalah keterlibatan KGB regional saat dilakukan

    reseksi primer, pasien dengan tumor yang belum menembus dinding kolon dan

    belum terdapat keterlibatan KGB regional mempunyai harapan hidup 90%, tapi

    bila KGB regional sudah terlibat angka harapan hidup menurun tinggal 40%.

    Jumlah KGB regional yang terlibat juga penting, karena apabila lebih dari 3 KGB

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    8/27

    8

    regional terlibat angka harapan hidup menjadi lebih rendah yaitu 15-26%. Pada

    intinya kanker yang sudah menunjukkan gejala biasanya pada stadium yang sudah

    parah dan angka harapan hidup secara keseluruhan ahanya berkisar 50%.

    Prognosis yang buruk juga terjadi pada pasien dengan usia muda, menderita

    kanker koloid, dan menunjukkan gejala obstruksi atau perforasi (Roediger,

    1994).

    Klasifikasi kanker kolorektal menurut Dukes-turnbull dapat dilihat pada

    gambar di bawah ini :

    (sumber : Abdullah, 2006).

  • 5/28/2018 KANKER KOLON

    9/27

    9

    1.5 Gejala

    Kebanyakan kasus kanker kolorektal didiagnosis pada usia sekitar 50 tahun

    dan umumnya sudah memasuki stadium lanjut sehingga prognosis juga buruk.

    Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah perubahan pola buang air

    besar, perdarahan per anus (hematosezia dan konstipasi). Kanker ini umumnya

    berjalan lamban, keluhan dan tanda-tanda fisik timbul sebagaia bagian dari

    komplikasi seperti obstruksi. Perdarahan invasi lokal kakheksia. Obstruksi kolon

    biasanya terjadi di kolon transversum. Kolon desendens dan kolon sigmoid karena

    ukuran lumennya lebih sempit daripada kolon yang proksimal. Obstruksi parsial

    awalnya ditandai dengan nyeri abdomen, namun bila obstruksi total terjadi akan

    menimbulkan nausea, muntah, distensi dan obstipasi. Kanker kolon dapat

    berdarah sebagai bagian dari tumor yang rapuh dan mengalami ulserasi. Meskipun

    perdarahan umumnya tersamar namun hematochesia timbul pada sebagian kasus.

    Tumor yang terletak lebih distal umumnya disertai hematoseczhia atau darah

    tumor dalam feses, tapi tumor yang proksimal sering disertai dengan anemia

    defisiensi besi. Invasi lokal dari tumor menimbulkan tenesmus, hematuria, infeksi

    saluran kemih berulang dan obstruksi uretra. Abdomen akut dapat terjadi

    bilamana tumor tersebut menimbulkan perforasi. Kadang timbul fistula antara

    kolon dengan lambung atau usus halus. Asites maligna dapat terjadi akibat invasi

    tumor k