Kajian Mengenai Kedelai

download Kajian Mengenai Kedelai

of 31

  • date post

    03-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

description

kedelai

Transcript of Kajian Mengenai Kedelai

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Kebijakan pangan satu negara akan sangat menentukan kondisi ketahanan

    pangan negara tersebut. Idealnya seperti yang diterakan FAO1 bahwa satu negara

    berhak untuk memiliki kedaulatan pangan dengan otoritas penuh terhadap

    pengaturan baik produktivitas, distribusi, serta penetuan harga atau jaminan

    adanya akses yang merata dengan kuantitas dan kualitas yang baik bagi seluruh

    masyarakatnya. Hal ini jelas merujuk pada pandangan nasionalis atau merkantilis

    yang melihat negara sangat diperlukan dalam memberi proteksi terkait sektor vital

    ini. Namun pada praktiknya kemudian, di era globalisasi yang sarat akan bentuk

    bentuk liberalisasi perdagangan ini, tindakan proteksi berlebihan oleh satu negara

    dianggap sebagai penghambat perdagangan dan sangat dilarang keras.

    Hal ini kemudian menimbukan dilema khususnya bagi negara berkembang

    seperti Indonesia yang sebagai negara agraris justru tidak memiliki kedaulatan

    atas pangannya sehingga krisis ketahan pangan sering terjadi. Hal ini dikarenakan

    untuk pemenuhan pangannya Indonesia telah bergantung pada impor. Salah satu

    pangan strategis Indonesia dengan jumlah impor terbesar adalah komoditas

    kedelai. Kedelai merupakan salah satu komoditi yang paling dibutuhkan di

    Indonesia mengingat Indonesia merupakan salah satu konsumen kedelai terbesar

    1 FAO REPORT. Food Security PDF. 2011 dapat diunduh di http://bbc.world/fao.htm diakses pada

    1 April 2013

  • 2

    yakni sekitar 26 juta ton tiap tahunnya, namun sayangnya petani domestik hanya

    mampu menghasilkan 700 ton tiap tahunnya. Situasi ini sangat janggal mengingat

    sebagai negara konsumen kedelai terbesar, hingga saat ini Indonesia belum

    mampu meningkatkan ketahanan komoditi pangan satu ini untuk pemenuhan

    rakyatnya, justru bergantung pada negara lain.

    Ironisnya, seperti yang diterakan Romphius2, sebenarnya Indonesia telah

    menanam kedelai sejak 1750. Sementara Amerika yang notebene sebagai importir

    kedelai dunia baru memulainya pada 1950-an, Brasil dan Argentina baru mulai

    1970-1980-an. Dari segi pengalaman budi daya petani Indonesia khususnya Jawa

    dan Bali sudah memiliki pengalaman yang panjang. Hanya saja seiring dengan

    upaya pengembangan budidaya kedelai, impor kedelai tetap dilakukan guna

    memenuhi permintaan domestik yang tinggi. Impor kedelai di Indonesia sudah

    terjadi sejak zaman penjajahan Belanda pada tahun 1929, yaitu sebanyak 68.000

    ton dari Manchuria, walaupun produksi dalam negeri sudah mencapai 127.000 ton

    pertahun. Setelah kemerdekaan, impor kedelai dimulai lagi pada tahun 1971

    sebesar 277 ton, kemudian meningkat menjadi 171.746 ton pada tahun, 1976 dan

    naik lagi menjadi 400.000 ton pada tahun 19843. Sebenarnya hingga awal tahun

    90an impor kedelai tidak pernah lebih dari 500.000 ton dan produksi dalam negeri

    terus meningkat bahkan di tahun 1992, produksi dalam negeri dapat mencapai 1.9

    juta.

    2 Usman Sunyoto. Politik dan Ketahanan Pangan Kedelai. Yogyakarta: CIRED. 2004. hal 10

    3. Swastika. Menata Ulang Kebijakan Pangan kedelai . Bogor: Badan Penelitian dan

    Pengembangan Tanaman Pertanian. 2006 hal 31

  • 3

    Pada perkembangannya kemudian, Indonesia ikut serta dalam liberalisasi

    perdagangan oleh WTO dalam Agreement of Agriculture ( AoA) di tahun 1995

    dan Letter of Intent IMF di tahun 1998,4 membuat proteksi dan subsidi serta

    hambatan tarif dan non tarif harus dihapuskan, hasilnya adalah kedelai lokal tidak

    mampu bersaing dan akhirnya banyak petani kedelai yang berpindah komoditi.

    Hal ini lah yang kemudian menjadi lingkaran setan (vicius cycle). Produktivitas

    kedelai lokal semakin menurun dan impor semakin meningkat yang akhirnya

    membuat Indonesia menjadi ketergantungan dan permasalahan ini sulit

    diselesaikan hingga saat ini. Dampak lanjutan berupa krisis pangan kedelai dunia

    dan fluktuasi harga kedelai dunia yang tidak menentu dan dapat melonjak drastis

    secara tiba-tiba seperti yang terjadi di tahun 2008, hingga 2012.

    Berbagai program swasembada guna mencapai kemandirian pangan dan

    ketahanan pangan jangka panjang sudah sering dilakukan, dan yang baru-baru ini

    dikeluarkan untuk menangangani krisis kedelai di tahun 2012, dengan pasokan

    kedelai dunia yang menurun dan lonjakan harga di pasar domestik, adalah

    rancangan pemerintah untuk mengembalikan fungsi pengawasan, stock buffer,

    price stabilizer dan penjamin pasar kedelai lokal kepada BULOG yang sempat

    dilarang dalam LoI 1998. Program lengkap guna mendorong tercapainya

    swasembada pada tahun 2014 juga telah dibentuk dengan ekspektasi produksi

    kedelai dalam negeri mencapai 2,7 juta ton dengan laju peningkatan produksi

    mencapai 1.5 ton/ha dari sebelumnya yang hanya 1.3 ton/ha. Dari hitungan ini

    4 Ibid

  • 4

    maka pada tahun 2014 terdapat surplus 137 ribu ton. Dengan jumlah ini maka

    impor diasumsikan tidak lagi diperlukan. Selain itu, pemerintah telah menetapkan

    harga pembelian pemerintah atau HPP sebesar Rp.7000/kg pada Juni 20135.

    Namun, program pemerintah untuk swasembada ini kerap mendapat

    tantangan yang cukup berat. Data statistik di lapangan memperlihatkan produksi

    tahun lalu yang hanya 851 ribu ton, yang berarti terdapat defisit produksi hingga

    1,9 juta ton untuk mencapai 2.7 juta ton. Dengan hitungan sederhana maka setiap

    tahun, produksi harus meningkat rata-rata 1.4 juta ton. Hal ini jelas angka yang

    sulit. Selain itu, pengembalian fungsi BULOG sebagai kontrol harga dan stock

    buffer untuk mengatasi lonjakan harga kedelai internasional juga akan sulit

    dilaksanakan mengingat hingga kini, untuk mengurusi beras saja BULOG masih

    sangat kewalahan mengingat kurangnya dana untuk stock buffering sehingga

    tidak bisa mengontrol harga di pasar. Terlebih pada akhir Agustus 2013, seiring

    dengan melambungnya nilai tukar dollar menjadi Rp.11.000, maka harga kedelai

    juga ikut meningkat drastis menjadi Rp.9000/kg. Permasalahan kedelai ini selalu

    sulit untuk diselelesaikan mengingat program swasembada yang selalu

    kontradiktif dengan kebijakan peningkatan impor, penurunan tarif masuk, serta

    kelonggaran bagi importir bebas.

    Terlihat adanya ambiguitas dalam kebijakan kedelai Indonesia dengan

    tidak adanya ketegasan terkait blueprint dan kedaulatan atas pangan sehingga

    5 Supadi. Ketahanan Pangan dan Produktivitas Kemandirian Pertanian Indonesia PDF. 2006. Dapat diunduh di http://pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3273085.pdf diakses pada 12 September 2013

  • 5

    pemerintah selalu saja mengeluarkan kebiajakan yang bersifat inkrementalis

    dimana sasarannya hanya jangka pendek dan tidak sustain dengan hanya mencari

    solusi pemenuhan permintaan domestik yang dari tahun ke tahun jauh melebihi

    produksi lokal, dengan terus melakukan impor dan mengikuti alur perdagangan

    bebas dengan menurunkan tariff guna mendapat harga yang murah di pasar

    domestik tanpa pertimbangan atas multiplyer effect yang terjadi bagi produktivitas

    lokal dan ketahanan pangan jangka panjang. Pola kebijakan inkrementalis ini

    tidak pernah berubah

    B. Rumusan Masalah

    Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana bentuk politik kebijakan

    pemerintah terkait pangan kedelai dan mengapa kebijakan tersebut selalu bersifat

    inkrementalis dengan menganalisa peran serta kepentingan aktor-aktor terkait

    C. Fokus Penelitian

    Peran dan kepentingan aktor aktor penting terkait isu kedelai menjadi

    fokus tulisan ini dalam melihat bagaimana inkrementalisme / pragmatisme

    kebijakan kedelai dibentuk dan dilaksanakan

    D. Jangkauan Penelitian

    Penelitian ini akan menitikberatkan pada kebijakan kedelai Indonesia

    pasca liberalisasi pangan era Soeharto

  • 6

    E. Tujuan Penelitian

    Indonesia dihadapi pada dilema antara kedaulatan pangan guna pencapaian

    kemandirian dan ketahanan pangan kedelai yang sustain dan stabil (swasembada),

    atau kebijakan penyelesaian permasalahan terkait desakan pemenuhan kebutuhan

    jangka pendek (impor). Terlihat bahwa terdapat ambiguitas dalam penentuan

    kebijakan pangan dan permasalahan antara food security dan food sovereignty

    dimana situasi perkedelaian di Indonesia telah dikuasai oleh tata niaga pangan

    yang sarat akan liberalisasi, namun di satu sisi keinginan untuk menjaga

    keamanan pangan tetap dilakukan. Hal ini merupakan perdebatan panjang dan

    fenomena krisis pangan yang berujung pada naiknya harga kedelai di tahun 2008

    dan 2012-2013, maka penelitian terkait analisa kebijakan pangan kedelai

    Indonesia ini perlu dilakukan untuk mendapat penjelasan komprehensif mengenai

    bagaimana sebenarnya kebijakan terkait pangan kedelai Indonesia tersebut dibuat.

    Penelitian ini mencoba menjelaskan faktor penyebab ambiguitas kebijakan pangan

    kedelai yang memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas kedelai lokal

    namun selalu saja terganjal kebijakan untuk impor. Untuk itu analisa peran dan

    pengaruh aktor-aktor terkait akan dibahas.

    F. Tinjauan Pustaka

    Sebenarnya cukup banyak literatur yang mengkaji mengenai kondisi

    problematis terkait keb