Kajian mapping keuangan daerah

download

Embed Size (px)

description

 

transcript

  • 1. Kajian Pemetaan Kapasitas Fiskal dan Prioritas Keuangan DaerahTim Penyusun :Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana(Universitas Padjajaran)Dr. Robert P. Simanjuntak(Universitas Indonesia)Dr. Bagus Santoso(Universitas Gadjah Mada)Edison Sihombing, SE., MT(Departemen Keuangan)TIM ASISTENSI MENTERI KEUANGAN BIDANG DESENTRALISASI FISKAL DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2006

2. PEMETAAN KAPASITAS FISKAL DAN PRIORITAS KEUANGAN DAERAH1. Pendahuluan Sejak diimplemetasikannya kebijakan otonomi daerah pada tahun 2001 dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU No. 32 Tahun 2004. Tata pemerintahan daerah di Indonesia mengalami perubahan yang drastis, dari yang sebelumnya cenderung sentralistik menjadi desentralistik. Berdasarkan UU tersebut, sebagian besar kewenangan pemerintahan diserahkan kepada daerah, kecuali kewenangan moneter fiskal, luar negeri, agama, peradilan dan pertahanan keamanan. Pada dasarnya tujuan pemberlakuanotonomidaerahadalahuntukmempercepatterwujudnyakesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan kepada masyarakat.Penyelenggaraan fungsi pemerintahan yang lebih luas oleh pemerintah daerah tersebut perlu didukung oleh sumber pembiayaan yang memadai. Hal tersebut telah diatur dalam UU No.25 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kedua UU tersebut merupakan dasar pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal. Jumlah dana yang didaerahkan sejalan dengan berlakunya desentralisasifiskaltelahmengalamipeningkatanyangsignifikan.Denganmeningkatnya dana yang diterima daerah, maka diperlukan suatu sistem pengelolaan keuangan daerah yang tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan yang baik, transparan, dan akuntabel. Hal tersebut penting untuk dapat mencapai sasaran pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, peningkatan mutu pendidikan dan tingkat kesehatan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan dan pelayanan masyarakat. Dalam mengimplementasikan desentralisasi fiskal perlu dikembangkan transparansi, efisien, dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana.Penerapan kebijakan desentralisasi fiskal tidak terlepas dari kekurangan, sehingga perlu secara terus-menerus dievaluasi dan disempurnakan. Perlu disadari bahwa desentralisasi fiskal merupakan suatu proses yang pelaksanaannya harus dapat dikendalikan dan diarahkan agar tidak keluar dari jalur dan kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber-sumber penerimaan antar satu daerah dengan daerahTim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal (2006)1 3. lainnya sangat beragam. Ada beberapa daerah dengan sumber daya yang dimiliki mampu menyelenggarakan otonomi daerah, namun di sisi lain terdapat beberapa daerah yang menghadapi kesulitan dalam menyelenggarakan tugas desentralisasi, mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Kreativitas dan inisiatif suatu daerah dalam menggali sumber keuangan akan sangat tergantung pada kebijakan yang diambil oleh pemerintahan daerah itu sendiri. Di satu sisi, mobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai berbagai aktivitas daerah ini dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah dalam menjalankan fungsinya. Namun demikian, mobilisasi sumber dana secara eksesif dan berlebihan dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang tidak kondusif. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dipandang perlu dilakukan pengkajian secara mendalam mengenai pemetaan kemampuan keuangan daerah untuk mengetahui daerah-daerah yang mempunyai dana APBD yang besar dan sejauhmana daerah tersebut dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kesejahteraan masyarakatnya. Secara lebih spesifik, maka tujuan Penelitian ini adalah untuk: 1. Melakukan pemetaan kapasitas fiskal daerah. 2. Melakukan pemetaan prioritas pengeluaran sektoral daerah, terutama pada sektor pendidikan, sektor kesehatan, sektor infrastruktur. 3. Melakukan pemetaan kapasitas fiskal dan prioritas pengeluaran sektoral daerah. 4. Mengetahui sinergitas dana keuangan daerah dengan dana APBN untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. 5. Menyusun dan merumuskan rekomendasi kebijakan di bidang keuangan daerah (implikasi kebijakan).2. Studi Pustaka Martinez-Vazquez, Jorge and L.F. Jameson Boex (1997): An Analysis of Alternative Measures of Fiscal Capacity for the Regions of the Russian Federation. Menurut Martinez dan Boex (1997), ada enam jenis pengukuran kapasitas fiskal, yaitu: 1.Pengumpulan pendapatan (Revenue Collection)2.Pendapatan Per Kapita (Per Capita Income)3.Produk Regional Bruto (Gross Regional Product)4.Sumber-Sumber Pemajakan (Total Taxable Resources (TTR))Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal (2006)2 4. 5.Sistem Perpajakan Representatif (Representative Tax System/RTS)6.Sistem Perpajakan Representatif dengan menggunakan analisis Regresi (RTS/R)Pengumpulan pendapatan Keuntungan dengan menggunakan pengumpulan pendapatan sebagai ukuran kapasitas fiskal terkait dengan ketersediaan data yang mudah diperoleh. Kekurangan pengumpulan pendapatan sebagai ukuran kapasitas fiskal: 1.Terkait dengan kemampuan daerah dalam meningkatkan penerimaan, pengumpulan pendapatan aktual juga sangat dipengaruhi oleh tingkat perbedaan pelaksanaan, pemenuhan, dan dalam beberapa kasusterkaitdengan tingkat pajak dan pembebasan pajak yang merupakan kewenangan pemerintah daerah. 2.Dapat mengurangi insentif bagi pemerintah daerah dalam megumpulkan pendapatan.Untuk menutupi kekurangan dalam metode tersebut, dapat dilakukan modifikasi dengan cara: 1. Menampilkan dalam bentuk per kapita dengan membagi total pendapatan dengan jumlah penduduk untuk setiap daerah. 2. Melakukan penyesuaian dalam tingkat kebutuhan hidup daerah dengan membagi jumlah nominal pendapatan per kapita untuk setiap daerah dengan indeks harga konsumen (Regional cost of living) Pendapatan per Kapita Salah satu pengukuran fiscal mapping yang paling banyak digunakan di dunia adalah rata-rata pendapatan rumah tangga atau pendapatn individu pada suatu wilayah. Kelebihanpengukuraniniadalahkemudahannya.Namundemikian,untukmeningkatkan akurasi dari pengukuran ini, perlu dilakukan beberapa penyesuaian. Penyesuaian pertama dilakukan dengan menggunakan indeks biaya hidup regional (regional cost of living index) untuk mengontrol perbedaan tingkat harga antar daerah. Produk Regional Bruto (Gross Regional Product) Produk regional bruto mengukur nilai total barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu daerah pada periode tertentu. Sebelum digunakan untuk mengukur kapasitas fiskal, produk regional bruto juga harus disesuaikan dengan indeks biaya hidup regional.Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal (2006)3 5. Sumber-Sumber Pemajakan (Total Taxable Resources) Total Taxable resources (TTR) adalah salah satu ukuran kapasitas fiskal yang didasarkan pada tingkat pendapatan regional bruto beserta beberapa penyesuaian penting. Sistem Perpajakan Representatif (Representative Tax System) Sistem ini mengukur kapasitas fiskal dengan berdasarkan pada data fiskal disaggregate (disaggregate fiscal data) dan informasi detail lainnya tentang basis pajak pada setiap daerah. Sistem Perpajakan Representatif dengan menggunakan analisis Regresi (Representative Tax System using regression analysis (RTS/R)) Analisis regresi memungkinkan kita untuk menghitung kapasitas fiskal secara akurat dengan mengidentifikasi efek tingkat basis pajak regional terhadap pendapatan. Dengan regresi ini, diestimasi hubungan antara tingkat pendapatan (revenue collection) per kapita dengan dua proksi basis pajak regional, yaitu: (1) retail trade turnover (per orang) dan (2) pendapatan bruto regional (per kapita). Hal ini menggambarkan bahwa kemampuan suatu daerah dalam menggalang semua jenis penerimaan pajak akan meningkat seiring dengan kedua variabel tersebut. Beberapa variasi dalam revenue collection yang tidak dapat dijelaskan dengan proksi-proksi basis pajak regional dapat diinterpretasikan sebagai variasi dalam fiscal effort. Dari keenam jenis pengukuran fiskal mapping tersebut, versi RTS/R merupakan pengukuran yang paling baik. Namun demikian, pengukuran ini mempunyai kelemahan karena kompleksitas pengukurannya dan tidak transparan. Pilihan terbaik kedua adalah TTR yang merupakan versi modifikasi dari pendapatan bruto regional.Serdar Yilmaz (1999): Equalization Across Subnational Governments: Fiscal Capacity. Yilmaz (1999) menyatakan bahwa pengukuran kapasitas fiskal merupakan sesuatu yang sangat perlu untuk mengatasi permasalahan ketimpangan antar daerah dan masalah implementasi program pemerataan. Pengukuran kapasitas fiskal memandu pemerintah pusat dalam upaya mereka untuk memberikan hal yang sama dalam masalah ketersediaan sumber daya untuk setiap daerah. Lebih jauh, Yilmaz (1999) juga menyebutkan bahwa pengukuran kapasitas fiskal dapatTim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal (2006)4 6. menyediakan informasi tentang kekuatan dan kelemahan fiskal pemerintah daerah. Pengukuran ini dapat digunakan untuk: -Mengawasi dan membandingkan tren fiskal dan keadaan ekonomi daerah;-Menyediakan informasi tentang perkiraan kekuatan dari ekonomi regional;-Meramalkan dampak dari perubahan structural perekonomian regional;-Memandu pemerintah pusat untuk membantu pemerintah daerah dengan berbagai grant yang berbeda-beda.Martin Schneider (2002): Local Fiscal Equalisation Based on Fiscal Capacity: The Case of Austria Schneider (2002) melakukan analisis kesetaraan fiskal (fiscal equalization) di Austria. Sistem hubungan antarpemerintahan di Austria sendiri didalamnya memuat peraturanperaturan yang berbeda dalam rangka menyetarakan perbedaan kapasitas fiskal di tingkat municipality. Hal ini menyebabkan timbulnya efek kompensasi (compensation effects), karena setidaknya sebagian tambahan penerimaan dari pajak daerah dikompensas