kajian islami

of 48 /48
BAB I SHALAT Shalat menurut istilah adalah doa. Shalat menurut syara’ shalat berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yanmg dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam dengan syarat- syarat teertentu. Macam-macam shalat : Shalat Wajib a. Macam- Macam Shalat Wajib : Berkata Syaih Abu Syujak: Shalat- shalat yang difrdhukan ada 5 : zuhur, permulaan waktunya sejak tergelincir matahari dan akhir waktunya hingga bayang-bayang suatu benda sepadan dengan benda itu selain bayang-bayang yang telah ada sejak matahari tergelincir. Dalil diwajibkanya shalat ialah firman allah dalam al quran: dan dirikanlah oleh mu shalat berkata syaih abu syujak: salat asar, permulan waktunya ialah bertambahnya bayang – bayang yang telah sama dengan panjang suatu benda.akhir waktunya dalam waktu ikhtiar (pilihan) yaitu hingga bayang –bayang benda itu 2 1

Embed Size (px)

description

islam

Transcript of kajian islami

Page 1: kajian islami

BAB I SHALAT

Shalat menurut istilah adalah doa.Shalat menurut syara’ shalat berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yanmg dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam dengan syarat-syarat teertentu.

Macam-macam shalat :

Shalat Wajib

a. Macam- Macam Shalat Wajib :

Berkata Syaih Abu Syujak:Shalat- shalat yang difrdhukan ada 5 :zuhur,permulaan waktunya sejak tergelincir matahari dan akhir waktunya hingga bayang-bayang suatu benda sepadan dengan benda itu selain bayang-bayang yang telah ada sejak matahari tergelincir.

Dalil diwajibkanya shalat ialah firman allah dalam al quran: dan dirikanlah oleh mu shalat

berkata syaih abu syujak:salat asar,permulan waktunya ialah bertambahnya bayang –bayang yang telah sama dengan panjang suatu benda.akhir waktunya dalam waktu ikhtiar (pilihan) yaitu hingga bayang –bayang benda itu 2 kali lipat.dan akhir waktunya didalam jawaz ialah hingga terbenam matahari.Dalil tentamg hingga terbenamnya matahari ialah sabda nabi SAW:

“Waktu asar masih tetap selama matahari belum terbenam”( HR Muslim)

Shalat asar itu mempunyai 4 waktu:Pertama:waktu fadhilah(waktu afdhal),atau

utama,yaitu ketika bayang-bayang menyamai bendanya.

1

Page 2: kajian islami

Kedua: waktu jawaz bilaa karahah harus yang makruh,yaitu ketika bayang-bayang 2 kali lipat dari bendanya hingga matahri tampak kekuni kuningan.

Ketiga:jawaz makruh ,yaitu saat matahari kekuning-kuningan hingga sesaat sebelum matahari terbenam.

Keempat:waktu tahrim/haram,yaitu mengakhirkan shalat hingga tidak cukup waktu untuk menyelesaikan shalat.

Berkata syaih abu syujak :shalat megrib, waktu shalat magrib hanya satu,yaitu terbenamnya matahari.

Qaul qadim mengatakan : waktu magrib tidak keluar hingga terbenamnya mega merah,seperti sabda nabi SAW:

“waktu magrib ialah ketika matahari terbenam selama mega merah belum lenyap” (HR Muslim)

4.isya’. permulaan waktunya ketika mega merah telah lenyap.dan akhir waktunya didalam waktu ikhtiar,hingga sepertiga malam.dan akhir waktunya didalam waktu jawaz hingga munculnya fajar yang kedua.

Rsulullah SAW bersabda: “waktu shalat isya’ itu hingga separuh malam”.

shalat subuh, permulaan waktunya ialah munccul fajar.dan akir waktunya didalam waktu ikhtiar,hingga remang remang pagi.dan akhir waktunya didalam waktu jawaz,hingga munculnya matahari.

“barang siapa menemukan 1 rakaat dari shalat subuhnya sebelum terbit matahari,orang tersebut berarti telah menemukan shalat subuh”

Artinya: “dirikanlah shalatdari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat subuh.sesungguhnya shalt subuh itu di saksikan (oleh malaikat)”. ( QS. Annisa : 78)

2

Page 3: kajian islami

b. Syarat Sah Shalat

1.beragama islam. 2.sudah baliq dan berakalmengetahui masuknya waktu shalat.suci dari hadast besar dan kecil.

Syaih abu syujak berkata:“anggota harus suci dari hadast dan najis”Apa bila melakukan shalat dalam tanpa bersuci maka tidak sah shalatnya.nabi SAW bersbda : “Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci”

"dan jauhilah najis" :

5. .suci pakaian,badan,dan tempat dari najis,

Rasulullah bersabda : Jika telah dating haid,maka tinggalkanlah shalat.dan apabila ttelah pergi,mandilah!bersihkan darah itu dari badan mu lalu shalatlah”

Adpun suci pakaian yaitu seperti di jelaska dalam hadis berikut:

“kemudian cucilah pakaian mu dengan air”(hadist shahih)

“ hendaklah kamu bersihkan dirimu dari kencing,karena banyak siksa kubur itu lantaran dari kencing”“siramkan satu timba air keatas kencingnya itu”(HR Bukhari dan Muslim) Najis yang tidak dapat di maafkan harus di jauhkan dari pakaian,badan dan tempat.andikata terkena najis maka wajib untuk di sucikan. 6. menutup auratBerkata Abu syujak,“menutup aurat dengan pakaian yang suci,berdiri ditempat yang suci”Menutup aurat mutlak terutama dalam shalat meski tidak dalam shalat pun kita harus menutup aurat.Aurat laki-laki antara pusat sampai lutut,dan aurat perempuan seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.Rasulullah juga bersabda:

3

Page 4: kajian islami

“Allah sekali-kali tidak akan menerima shalatnya perempuan baliqh keecuali jika dia mengenakan mukenah penutup kepala”(HR Tirmizdi) 7. menghadap kiblatSyaihkh abu syujak berkata:“Dan menghadap kiblat”

Artinya : “maka hadapkanlah mukamu ke arah mesjid yang mulia.dan dimana pn kamu berada hadapkanlah wajahmu kearahnya(al baqarah;144)

Maksud mesjid yang mulia adalah ka’bah yang dikatakan kiblat bagi orang islam .dikatakan kiblat karena setiap orang shalat pasti menghadap ke arahnya.Rasulullah SAW juga bersabda: “dan hendaklah kamu menghadap kearah kiblat lalu bertakbir”. 8. mengetahui mana yang rukun dan mana sunnat.

c. Rukun shalatNiatBerdiri.Imran bin hushain r.a berkata: “ aku adalah orang yang mempunyi penyakit bawasir(ambien),kemudian aku berkata kepada rasulullah tentang cara shalat,beliau menjawab “shalatlah kamu dengan berdiri,apabila tidak kuasa dengan berdiri maka shalatlah engan duduk.dan apabila tidak kuasa dengan duduk,maka shaltlah diatas lambungmu(tidur miring)(Riwayat bukhari)

Takbirratul ihram.Merupakan salah 1 hukum shala adalah sesuai sabda nabi SAW, “kunci shlat adalah wadhu’ dan ihramnya ialah shalat”Abu said as sa’idi berkata “rasulullah SAW jika akan memulai shalatnya,beliau menghadap kiblat,lalu mengangkat kedua tangannya seraya berkata allahu akbar”HR Ibnu majah)

Membaca fatihah. Rasulullah SAW bersabda :”tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca fitahatul kitab”(HR Bukhari dan Muslim)

4

Page 5: kajian islami

Apabila kamu membaca surat alhamdu,maka bacala bismillahir rahmanir rahim,al fatihah itru adalah ummul quran dan ummul kitab dan termasuk sab’ul matani.basmalah adalah salah satu dari ayat-ayat al-quran.”(HR Abu hurairah)

Ruku’Rasulullah bersabda:“....kemudian hendaklah kamu ruku’ hingga kamu tenang dalam ruku’ itu,yakni tumakninah”

Sekurang-kurangnya ruku’ bagi orang yang kuasa yang sederhana bentuk badannya membungkuk sehingga kedua telapak tangannya maenyatuh lututnya .

I’tdal Allah SWT berfirman dalam Al-quran surat Al-haj:77 yang artinya “rukuk dan sujudlah”.Rasululall SAW bersabda ”kemudian kamu sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud”Sujud sekurang-kurangnya wjib meletakan dahinya di atas bumi.rasulullah SAW bersabda “apabila kamu bersujud hendaklah kamu menekan dahimu ke bumi dan jangan kamu mencecah-cecah semata.(HR ibnu hibban)SujudRasulullah SAW bersabda “...kemudian kamu bangun hingga kamu duduk lurus”“sehingga kamu duduk secarra tenang ,dan lakukanlah begitu dalam semua shalat mu”(HR bukhari dan muslim

duduk antara dua sujudduduk tasyahut akhirMembaca tasyahud akhirMembaca shalawat nabisalam Tertib

d. Sunat dalam Shalat

1.Sunnat Ab’adhmembaca tasyhud awal ,

5

Page 6: kajian islami

membaca shalawat pada tasyahud awal,membaca ahalawat nabi pada tasyahud akhir,membaca shalat qunut pada subuh,1,Sunnat Hai’atmengangkat kedua belah tanganketika takbiratul ihram,akan ruku’,ketika berdiri dari rukuk. meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri,membaca doa iftitahmembaca ta ‘awwudz ketika hendak membaca fatihah,membaca amin,setelah membaca fatihah,mengeraskan bacaan bacaan dan surat pada rakaat pertama dan 2 pada shalat isya,magrib dan subuh,membaca al quran pada rakaat 1&2 setalh membaca fatihahmembaca takbir ketika gerakan naik turunmembaca tasbih ketika rukuk dan sujudmembaca sami allah.....ketika bakit dari rukuk dan membaca rabbana lakal hamdu.....ketika i’tidalmeletakkan tangan diatas paha waktu tasyahud,duduk iftisary dalam semua salat,duduk tawarruk pada tasyahud akhirmembaca salam yang kedua memalingkan muka kekana dan kekiri waktu salam.

Shalat sunnah a. shalat sunnah rawatib,yaitu shalat sunat yang dikerjakan sebeblum dan setelah shalat fardhu.2 rakaat sebelum shalat subuh,2 rakaat sebelum shalat zuhur,2/4 rakaat sebelum shalat ashar,2 rakaat setelah shalat magrib2 rakaat sebelum shalt isya,2 rakaat sesudah shalat isya,

b.Shalat wudhu,Cara mengrjakanya yaitu:Sehabis wadhu di sunat kan membaca doa,Setelah membaca doa lalu shalat dua rakaat.Shalat sunat wudhu atau yang disebut juga dengan shalat syukrul wudhu adalah shalat yang dikerjakan setelah berwudhu. Tata cara pelaksanannya adalah:

A. Sehabis berwudhu kita disunahkan membaca doa:

6

Page 7: kajian islami

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdauu laa syarika lahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj’alnii minat-tawwaabiina waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash-shaalihiin.

Artinya: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”

B. Selesai membaca doa tersebut, lalu melaksanakan shalat sunah wudhu 2 rakaat.

Niatnya:

Ushallii sunnatal-wudhuu’I rak’ ataini lillaahi ta’aalaa.

Artinya: ”Aku niat shalat sunah wudhu 2 rakaat karena Allah.”

C. Shalat ini dikerjakan 2 rakaat sebagaimana shalat yang lain dengan ikhlas sampai salam.

Keutamaan Shalat Syukrul Wudhu

“Rasulullah berkata kepada Bilal: Ceritakanlah kepadaku amal apa yang amat engkau harapkan dalam Islam, sebab aku mendengar suara kedua sandalmu di surga? Bilal menjawab: Tidak ada amal ibadah yang paling kuharapkan selain setiap aku berwudhu baik siang atau malam aku selalu shalat setelahnya sebanyak yang aku suka” . (HR  Bukhari)

c.Shalat tahiyyatul mesjidIalah shalat sunat yang dikerjakan oleh jamah yang sedang masuk kemesjid.

ه الل صلى بي الن قال قال عنه ه الل رضي األنصاري ربعي بن قتادة أبي عنركعتين ي يصل ى حت يجلس فال المسجد أحدكم دخل إذا م وسل عليه

7

Page 8: kajian islami

“Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’iy Al-Anshary ra, dia berkata, ‘Rasulullah saw bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka’at” [HR al-Bukhari dan Muslim].

Pada suatu ketika Sulaik Al-Ghathafany masuk masjid pada hari Jum’at. Saat itu Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbah, maka dia langsung duduk. Melihat Sulaik masuk masjid lalu duduk, dari atas mimbar Rasulullah saw bertanya, apakah kau sudah shalat? Sulaik pun menjawab belum. Lalu beliau saw menyuruhnya bediri dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menjelaskan bahwa masjid-masjid itu memiliki kesucian dan kehormatan. Di antara hak masjid atas orang yang memasukinya adalah hak untuk dihormati. Adapun cara menghormati masjid adalah tidak langsung duduk sebelum shalat dua rakaat.

Hadits Abu Qatadah dan Sulaik menunjukkan disyari’atkannya shalat dua rekaat ketika memasuki masjid. Memang tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa nabi saw memberi nama shalat itu dengan Tahiyyatul Masjid. Tetapi dengan melihat konteksnya, bahwa shalat itu adalah sebagai bentuk penghormatan kepada masjid maka para ulama’ sepakat dengan nama tersebut.

Shalat ini termasuk shalat yang sudah masyhur di kalangan ummat islam. Meskipun demikian, ada banyak hal yang perlu dicermati secara ilmiah, agar tidak rancu dalam menunaikan shalat tahiyyatul masjid ini.

Di antara kerancuan yang sering muncul adalah orang masuk ke dalam masjid lalu mengabaikan shalat tahiyyatul masjid. Karena ia masuk ke dalam masjid dalam rangka pengajian, atau karena ada rapat di dalam masjid, lalu dilupakanlah sunnah dua rekaat ini.

Dan sering juga seseorang mengalami kebingungan, ketika masuk masjid untuk shalat berjama’ah, sementara itu waktu untuk shalat sunnah tidak cukup lama, lalu apakah ia akan shalat tahiyyatul masjid atau shalat qabliyah?

Beberapa terkait shalat tahiyyatul masjid tersebut, antara lain;

1- Tujuan ShalatDibangunnya masjid adalah untuk shalat. Meskipun masjid juga boleh digunakan untuk berbagai aktifitas yang halal lainnya, ketika memasukinya maka disyari’atkan agar memulai aktifitasnya dengan shalat. Itulah bentuk penghormatan kepada masjid.

8

Page 9: kajian islami

Kenapa masjid dihormati? Apakah masjid harus diagung-agungkan?

Shalat tahiyyatul masjid bukanlah untuk mengagungkan masjid. Shalat tahiyyatul masjid adalah mengagungkan Allah, yang memiliki masjid. Imam an-Nawawi mempunyai pendapat yang menarik dalam masalah ini, “Sebagian orang mengibaratkan tahiyyatul masjid dengan memberi salam kepada pemilik masjid. Karena maksud dilakukannya tahiyatul masjid adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada masjid; sebab seseorang yang masuk ke rumah orang lain, yang diberi salam adalah pemiliknya bukan rumahnya.

2- Dikecualikan dari perintah shalatDhahirnya hadits tersebut menyatakan bahwa siapapun yang memasuki masjid maka hendaklah ia melakukan shalat dua rekaat. Namun ada beberapa orang yang tidak disyari’atkan untuk melakukan shalat tersebut, di antaranya adalah khatib jum’at jika dia masuk masjid untuk berkhutbah jum’at. Seorang khatib boleh masuk masjid langsung menuju mimbar tanpa salat dua rekaat, sebagaimana Rasulullah saw pun melakukan demikian.

Selain itu khatib, as-Suyuthi menambahkan beberapa golongan, yaitu imam shalat wajib yang masuk masjid untuk mengimami jama’ah, orang yang masuk masjid ketika khutbah sudah akan selesai sehingga dikhawatirkan akan kehilangan sebagian kebersamaannya dengan imam, orang yang masuk Masjidil Haram, karena sunnahnya adalah thawaf.

Kemudian selain itu, orang yang kerjaannya mengurus masjid, yang setiap saat keluar masuk masjid juga tidak perlu mengulang-ulang shalat tahiyyatul masjid, jika hal itu memberatkan. Tetapi sebagian ulama berpendapat istihbab (disukainya) mengulang-ulang tahiyatul masjid setiap kali masuk masjid. Pendapat ini diambil oleh an-Nawawi dan dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taymiah.

3- Tahiyyatul masjid di waktu terlarangTahiyatul masjid termasuk shalat dzawaatul asbab (shalat yang terkait dengan sebab), karena itu ia boleh dilakukan kapan saja, meskipun pada waktu-waktu terlarang. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taymiah, dan juga oleh syaikh Utsaimin dan Syaikh Ibnu Baz.

4. Bagi orang yang terlanjur duduk sebelum shalatWaktu mengerjakan tahiyatul masjid adalah ketika masuk masjid sebelum duduk. Jika seseorang sengaja duduk sebelum shalat, tidak disyari’atkan baginya kembali berdiri untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid karena waktunya telah usai. Tetapi bagi orang yang lupa atau tidak tahu hukum

9

Page 10: kajian islami

tahiyyatul masjid, ia boleh berdiri lalu shalat dua rekaat. Dalil kebolehannya adalah hadits dari Sulaik al-Ghathafani di atas. Tetapi disyaratkan waktu duduknya itu belum berselang lama

5. Jika masuk masjid ketika adzan dikumandangkanOrang yang mendengar adzan dikumandangkan disunnahkan untuk menjawabnya, sebagaimana hadits;

ه رسول أن الخدرى سعيد أبى عن سمعتم إذا قال وسلم عليه الله صلى اللداء المؤذن يقول ما مثل فقولوا الن .

Dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah saw bersabda; Apabila kalian mendengar adzan dikumandangkan maka katakanlah seperti yang dikatakan oleh mua’dzin (HR Muslim)

Karena itu ketika seseorang masuk masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka hendaklah ia menjawab adzan terlebih dahulu, agar mendapatkan keutamaan menjawab adzan. Adapun shalat tahiyatul masjid dilaksanakan setelah selesai menjawab adzan yang dikumandangkan oleh mu’adzin.

Namun jika masuk masjid pada hari jum’at dan adzan telah dikumandangkan, hendaknya ia tidak mengakhirkan tahiyatul masjid untuk menjawab adzan. Karena ketika ia mengakhirkan shalat ia akan meninggalkan kewajiban mendengarkan khutbah. Ini berarti mengutamakan sunnah di atas kewajiban, dan itu tidak benar. Karena itulah, meskipun adzan dikumandangkan, hendaklah terus saja shalat dua rekaat.

6. Tahiyyatul masjid ketika khutbahSiapa yang masuk masjid pada hari jum’at dan imam sedang berkhutbah, disunnahkan baginya melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid dan meringankannya (tidak memanjangkan), berdasarkan kepada hadts dari Sulaik di atas. Tetapi jika dia datang sedangkan khutbah sudah akan berakhir, maka janganlah duduk melainkan berdiri dengan memperhatikan khutbah.

7- Tahiyyatul masjid atau Qobliyah dahulu?Maksud dari tahiyatul masjid adalah agar orang yang masuk masjid memulai aktifitasnya di dalam masjid dengan shalat. Karena itulah, jika dia masuk masjid lalu shalat rawatib, maka di dalam shalatnya itu sudah terkandung tahiyyatul masjid. Jika dalam shalatnya dia berniat melakukan shalat tahiyatul masjid dan sunnah raatibah atau tahiyatul masjid dan

10

Page 11: kajian islami

shalat fardhu (shalat wajib yang lima waktu), maka dia telah mendapat semuanya. As-Suyuthi di dalam al-Asybah wan-Nada’ir mengatakan

في أحدهما دخل ، مقصودهما يختلف ولم ، واحد جنس من أمران اجتمع إذاغالبا اآلخر

Apabila bertemu dia hal yang satu jenis, dan maksud keduanya tidak berselisih, maka salah satunya bisa memasuki yang lain.

8- Bagi Imam ShalatJika imam masjid mencukupkan diri dengan shalat wajib dan tidak mengerjakan tahiyatul masjid ketika masuk masjid karena dekatnya waktu iqomat shalat, hal itu sudah cukup.

دحضت إذا يؤذن بالل كان قال سمرة بن جابر عن ى يقيم فال بى يخرج حت النيراه حين الصالة أقام خرج فإذا وسلم عليه الله صلى .

Dari Jabir bin Samuroh, dia berkata, “Dahulu Bilal menyerukan adzan jika matahari telah tergelincir sampai Nabi saw keluar. Ketika Nabi keluar Bilal segera menyerukan iqomat seketika melihat beliau. (HR Muslim dan Abu Dawud)

Qaidah fiqhiyyah yang dikemukakan oleh as-Suyuthi di atas juga bisa diberlakukan bagi imam shalat ini. Tetapi apabila imam ingin duduk, disyari’at melakukan shalat tahiyatul masjid seperti yang lainnya. Sebagaimana keumuman perintah shalat.

9- Bagi KhatibTidak disyari’atkan bagi imam melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum shalat jumu’at atau shalat ‘Id. Hendaknya memulai dengan khutbah ketika jum’at dan dengan shalat Id pada hari raya. Di dalam Subulus Salam disebutkan, bahwa Rasulullah saw pernah sekali shalat Id di dalam masjid, tetapi beliau juga tidak melakukan shalat tahiyatul masjid, melainkan beliau masuk masjid lalu memulai dengan shalat Id.

اس ابن عن ه رسول أن عب فطر أو أضحى يوم خرج وسلم عليه الله صلى الل قبلها يصل لم ركعتين فصلى بعدها وال

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasannya Rasulullah saw keluar pada hari raya Adlha atau fitri, lalu shalat Id dua rekaat tanpa shalat sebelumnya dan juga tidak shalat setelahnya (HR Muslim)

10- Di tempat terbuka, haruskah shalat tahiyyatul masjid?Jika seseorang melakukan suatu perjalanan, lalu ia shalat di tempat terbuka (lapangan atau lainnya), maka tidak disyari’atkan melakukan

11

Page 12: kajian islami

shalat tahiyatul masjid. Sebab tahiyyatul masjid dilakukan untuk menghormati masjid. Tetapi kalau ia singgah di suatu masjid maka dia boleh melakukannya.

11- Jika iqamat telah dikumandangkanDemikian juga ketika seseorang memasuki masjid ketika iqamat telah dikumandangkan, maka ia terus saja memasuki shaf tanpa duduk dulu. Seba jika iqamat telah dikumandangkan maka tidak boleh ada shalat selain shalat wajib, sebagaimana sabda beliau saw

بى عن هريرة أبى عن الصالة أقيمت إذا قال وسلم عليه الله صلى الن فال صالة المكتوبة إال

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, apabila iqamat telah dikumandangkan maka tidak ada shalat kecuali shalat fardlu (HR Muslim)

Adapun bagi orang yang sudah memulai shalat tahiyyatul masjid lalu ia mendengar iqamat, maka hendaklah memperkirakan, apakah ia bisa menyelesaikan sebelum imam memulai takbiratul ihram. Sebab maksud hadits di atas, sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi di dalam kitab Majmu’, adalah anjuran terhadap seorang muslim yang sedang shalat sunnah agar mengikuti imam dari awal shalat, jangan sampai ketinggalan takbiratul ihram. Karena itu orang yang sedang shalat sunnah dan tiba-tiba dikumandangkan iqamah maka dia harus berijtihad sendiri, apakah ia menyelesaikan terus shalat sunnahnya dan ia akan mendapati takbiratul ihram bersama imam ataukah tidak? Jika ia yakin akan mendapati takbiratul ihram maka lebih baik baginya untuk menyelesaikan shalat sunnahnya. Tetapi jika ia yakin akan ketinggalan takbiratul ihram maka lebih baik ia memutuskan shalat dan bergabung kedalam shaf shalat berjamah.

 

Shalat tahajjudShalat sunnat yg dikerjakan pada waktu malam,minimal 2 rakaat.Rasulullah bersabda: “ perintah aallah turun kelangit dunia diwaktu tnggal 1/3 yang akhir dari waktu malam,lalu berseru: adakah orang-orang yang berdoa,pasti akan ku kabulkan,aakah orang yang meminta pasti akan ku beri,dan adakah yang mengharap/memohon ampunan,pasti akan ku ampuni baginya,sampai tiba waktu subuh”Lfal niatnya :

Shalat istikharah

12

Page 13: kajian islami

DOA SHALAT ISTIKHARAH

74. Jabir bin Abdillah d berkata: Adalah Rasulullah i mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah (Istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah doa ini:74- (( ني للهما يرك إ ألك ب ق درت ك، وأستقد رك ب ع لم ك، أستخ وأس

ن ل ك م ، فض د ر فإ نك العظ يم تق وتعلم أق د ر، وال وأنت أعلم، وال . الله عالم مى- األمر هذا أن تعلم كنت إ ن مالغيوب حاجت ه- ويس ي د ين ي ف ي ل ي خير بة ومعاش ل ه قال: أو- أمر ي وعاق ل ه عاج -وآج

ره ل ي فاق دره ي ه ، ل ي ب ار ك ثم ل ي ويس اهذ أن تعلم كنت وإ ن ف ي د ين ي ف ي ل ي شر األمر بة ومعاش ل ه ق ال: وأ- أم ر ي وعاق عاج

ل ه - فاصر فه ك ان حيث الخي ر ل ي واق در عنه واصر فن ي عني وآج ن ي ثم ب ه أرض )).

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau Nabi i bersabda: …di dunia atau akhirat sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”1

Dikutip dari Hisnul Muslim do’a nomor 74

Shalat awwabinDilakukan sesudah ba’dal magrib2-6 rakaat.2 rakkaat dengan lfal niat:Setelah membaca fatihah pada rakaat,bacalah surat al ikhlas 6 kali,al falaq 1 kali,annas 1 kali,

1 HR. Al-Bukhari 7/162.

13

Page 14: kajian islami

Seetalah salam dua rakaat,maka shalat lagi dua rakaat.dan pada rakaat pertama & keduan surat apa saja,Sesudah itu berdiri lagi,baca surat al fatihah dan al kafirun pada rakaat pertama,pada rakaat kedua baca surat al fatiha dan al kafirun

Shalat tasbihShlat ini dinamakan shalat tasbih karena didalamnya dibacakan tasbih sehingga dalam 4 rakaat berjumlah 300 tasbih.Cara mngerjakanya:Niat ; Setelah membaca surat dan fatihah baca tasbis 15 kali. Setelah tasbih rukuk lalu membaca tasbih 10 kali. Setelah i’tidal baca tasbih 10 kali Setelah sujud baca lagi tasbih 10 kali,lalu duduk antara dua sujud, Setelah membaca doa lalu duduk antara dua sujud baca tasbih 10 kali,

Pada sujud keduasetelah membaca tasbih,lalu duduk istirahah lalu baca tasbih 10 kali. h Shalat taubahNiatnya:Jumlah rakaatnya 2-6 rakaat,

Shalat hajat

Ialah shalat sunat yang dikerjakan karena ada hajat,dilaksanakanya 2-12 rakaat.

Sholat hajat adalah sholat yang dilakukan ketika ada hajat (keperluan). Namun perlu diketahui, bahwasanya tidak dalil yang shahih yang menjelaskan tentang disyariatkannya sholat hajat. Oleh karena itu kita tidak boleh mengamalkannya karena ibadah adalah tauqifiyyah (terima jadi).

Lembaga Tetap untuk Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia menyatakan bahwa hadist-hadist yang berkaitan dengan shalat hajat dha’if (lemah) dan munkar (Fatawa Al-Lajanah Ad-Daimah 8/160).

Diantara hadist-hadist tersebut adalah hadist Abdullah bin Abi Aufa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فليحسن فليتوضأ آدم بني من أحد إلى أو حاجة الله إلى له كانت من الله صلى النبي على وليصل الله على ليثن ثم ركعتين ليصل ثم الوضوء

العرش رب الله سبحان الكريم الحليم الله إال الإله ليقل ثم سلم و عليه

14

Page 15: kajian islami

مغفرتك وعزائم رحمتك موجبات أسئلك العالمين رب لله الحمد العظيمإال هما وال غفرته إلى ذنبا لي تدع ال إثم كل من والسالمة بر كل من والغنيمة

الراحمين أرحم يا قضيتها إال رضا لك هي حاجة وال فرجته

“Barangsiapa yang memiliki keperluan kepada Allah atau kepada seseorang dari anak Adam maka hendaknya dia berwudhu dan memperbaiki wudhunya, kemudian hendaknya dia shalat 2 rakaat kemudian memuji Allah, dan bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian membaca:

سبحان الكريم الحليم الله إال الإله رحمتك موجبات أسئلك العالمين رب لله الحمد العظيم العرش رب الله إلى ذنبا لي تدع ال إثم كل من والسالمة بر كل من والغنيمة مغفرتك وعزائم

الراحمين أرحم يا قضيتها إال رضا لك هي حاجة وال فرجته إال هما وال غفرته

“Tidak sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Al-Halim Al-Karim, Maha Suci Allah Pemilik Arsy yang besar, segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, aku memohon kepadaMu apa-apa yang mendatangkan rahmatMu, dan ampunanMu, dan aku memohon kepadaMu untuk mendapatkan setiap kebaikan dan keselamatan dari setiap dosa, janganlah Engkau tinggalkan bagi ku dosa kecuali telah Engkau ampuni, dan jangan Engkau tinggalkan bagiku rasa gelisah kecuali Engkau beri jalan keluar, dan jangan Engkau tinggalkan bagiku keperluanku yang engkau ridhai kecuali Engkau tunaikan untukku, wahai Yang Maha Penyayang.” (HR. At-tirmidzy 2/344, dan Ibnu Majah 1/44, berkata Syeikh Al-Albany: Dhaif jiddan (lemah sekali)).

Syeikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwasanya shalat hajat ini tidak disyari’atkan (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Syeikh Muhammad Al-Utsaimin 14/323 no: 894).

Oleh karena seorang muslim hendaknya mengamalkan amalan yang ada dalilnya dan meninggalkan amalan-amalan yang tidak ada dalilnya. Ahamdulillah disana ada cara yang lebih baik bagi kita untuk memenuhi hajat kita, yaitu dengan cara berdoa kepada Allah, terutama di waktu dan keadaan yang mustajab.

Berkata Asy-Syuqairy rahimahullah:

واألخلص لك فاألفضل ، المقال من الحديث هذا في ما علمت قد وأنت أدبار وفي واإلقامة األذان وبين الليل جوف في تعالى الله تدعو أن واألسلم

وعند ، إجابة ساعة فيها فإن ، الجمعات أيام وفي ، التسليم قبل الصلوات وإذا : ( وقال ) لكم أستجب أدعوني ( ربكم قال وقد ، الصوم من الفطر

15

Page 16: kajian islami

ولله : ( وقال ) دعان إذا الداع دعوة أجيب قريب فإني عني عبادي سألك )بها فادعوه الحسنى األسماء

“Dan anda sudah tahu bahwa hadist ini (tentang shalat hajat) ada pembicaraan (tentang kelemahannya), maka yang afdhal, lebih ikhlash, dan lebih selamat engkau berdoa kepada Allah di tengah malam, dan antara adzan dan iqamat, di akhir shalat sebelum salam, pada hari jumat karena di dalamnya ada waktu ijabah (dikabulkan doa), dan ketika berbuka puasa, Allah telah berfirman:

لكم ) أستجب ( أدعوني

“Berdoalah kepadaKu maka akan kabulkan.” Dan Allah juga berfirman:

دعان ) إذا الداع دعوة أجيب قريب فإني عني عبادي سألك ( وإذا

“Dan jika hambaKu bertanya tentang diriKu maka katakanlah bahwasanya Aku dekat, Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaKu.” Allah juga berfirman:

بها ) فادعوه الحسنى األسماء ( ولله

“Dan bagi Allahlah nama-nama yang baik, maka berdoalah denganNya” (As-Sunan wal Mubtada’at hal: 124).

j. Shalat terawih Adalah shalat malam yang dikerjakan pada bulan ramadhan. Tiap-tiap rakaat diakhiridengan salam,hendakya di teruska dengan shalat witir,shalat tarawih ada yang malukukan 20,23,13 rakaat,lafal nitanya sebagai berikut:Nawaitu sunnati tarawihi rakaataini(imama/makmuma) lillahi ta’ala

Berkenaan dengan ini ada beberapa riwayat:a. Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang

16

Page 17: kajian islami

dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)

b. Hadits Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. Kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku seakan-akan beliau memegang telingaku, seakan-akan membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat yang ringan. Beliau membaca Ummul Qur’an pada kedua rakaat itu, kemudian beliau memberi salam kemudian beliau shalat hingga sebelas rakaat dengan witir, kemudian tidur. Bilal datang dan berkata: Shalat Ya Rasulullah! Maka beliau bangun dan shalat dua rakaat, kemudian shalat mengimami orang-orang. (HR. Abu Dawud dan Abu `Awanah dalam kitab Shahihnya. Dan asalnya di Shahihain)

. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau."

Ibnu Syihab berkata, "Kemudian Rasulullah wafat sedangkan hal itu (shalat tarawih itu) tetap seperti itu. Selanjutnya, hal itu pun tetap begitu pada masa pemerintahan Abu Bakar dan pada masa permulaan pemerintahan Umar."[1]

. Abdurrahman bin Abd al-Qariy[2] berkata, "Saya keluar bersama Umar ibnul Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka, Umar berkata, 'Sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al-Qur'an, tentu lebih utama.' Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka'ab.[3] Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Qur'an. Umar berkata, 'Ini adalah sebagus-

17

Page 18: kajian islami

bagus bid'ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).' Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam."

k. Shalat witirShalat Witir adalah shalat sunat yang dikerjakan di malam hari dan jumlah raka'atnya ganjil. Jadi bisa saja shalat witir itu dikerjakan sebanyak satu raka'at, atau tiga, lima, dan seterusnya. Shalat witir merupakan bagian dari qiyamul lail (shalat malam), karena qiyamul lail itu terdiri dari 2 macam shalat, yaitu tahajjud (yang kita kenal berjumlah 8 raka'at) dan witir (biasanya 3 raka'at).Istilah qiyamul lail itu bila di bulan Ramadhan berganti menjadi shalat Tarawih. Maka itu shalat Tarawih juga terdiri dari 2 macam shalat sebagaimana sudah disebutkan di atas.Yang menjadi permasalahan yang akan kita bahas adalah bagaimana cara mengerjakan witir bila 3 raka'at? Apakah dengan cara 2 kali salam (yakni 3 raka'at dipecah 2 raka'at kemudian salam dan 1 raka'at salam) atau dikerjakan cukup dgn satu kali salam?

Hadis PertamaAisyah radhiallahu ‘anha menerangkan tentang shalatnya Rasul di bulan Ramadhan, “Rasul b tidak pernah shalat malam lebih dari 11 raka'at, baik di bulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan, yaitu beliau shalat 4 raka'at, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan lama shalatnya, kemudian beliau shalat 4 raka'at lagi, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan lama shalatnya, kemudian beliau shalat witir 3 raka'at.” (Hr. Bukhori 2/47, Muslim 2/166)Penjelasan:1. Perkataan Aisyah, “beliau shalat 4 raka'at”, ini menunjukkan Nabi b melakukan 4 raka'at tersebut dengan sekali salam. Sisi pendalilannya ialah karena sesudah perkataan tersebut, Aisyah mengatakan: tsumma yang artinya kemudian.2. Demikian juga perkataan Aisyah, “Tsumma/kemudian beliau shalat witir 3 raka'at”, ini berarti witir 3 raka'at itu dikerjakan dengan sekali salam. Jika yang dimaksud tidak demikian, sudah barang tentu Aisyah akan menerangkannya. Tentunya bagi yang mengerti bahasa, akan mudah menangkap dan memahami perkataan Aisyah di atas.Hal ini makin jelas kalau kita perhatikan perkataan Aisyah bahwa nabi shalat 4 rakaat, itu menunjukkan bahwa nabi mengerjakannya dengan

18

Page 19: kajian islami

satu kali salam, tentunya witir 3 rakaat juga dengan sekali salam.

Hadis KeduaDari Abu Ayyub, ia berkata, telah bersabda Rasulullah, “Witir itu adalah haq, maka bagi yang mau witir dengan 5 raka'at maka kerjakanlah, dan bagi yang mau witir dengan 3 raka'at maka kerjakanlah, dan bagi yang mau witir dengan 1 raka'at maka kerjakanlah.” (Hr. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i)Penjelasan:1. Bahwa witir itu adalah haq, maksudnya ialah sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Ini menunjukkan bahwa shalat witir itu sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).2. Boleh witir dengan 5, 3, atau 1 raka'at, yang dikerjakan dengan satu kali salam dan satutahiyat.

HadisKetigaDari Ubay Bin Ka’ab, ia berkata:“Sesungguhnya Nabi biasa membaca dalam shalat witir: Sabbihis marobbikal a’la (di raka'at pertama -red), kemudian di raka'at kedua: Qul yaa ayyuhal kaafiruun, dan pada raka'at ketiga: Qul huwallaahu ahad, dan beliau tidak salam kecuali di raka'at yang akhir.” (Hr. Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah)Penjelasan:Perkataan Ubay Bin Ka’ab, “dan beliau tidak salam kecuali di raka'at yang akhir”, jelas ini menunjukkan bahwa tiga raka'at shalat witir yang dikerjakan nabi itu dengan satu kali salam.

Hadis KeempatDari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda, “Janganlah kamu witir dengan 3 raka’at, tetapi witirlah dengan 5 raka’at atau 7 raka’at, dan janganlah kamu menyamakannya dengan shalat Maghrib.” (Hr. Daruquthni)Penjelasan:1. Dari keempat hadis yang telah dibawakan di atas, dapat kita pahami bahwa nabi pernah witir dengan 3 raka'at, dan beliau juga memerintahkannya. 2. Sabda Nabi b, “Janganlah kamu witir dengan 3 raka’at”, maka maksud dari larangan ini telah dijelaskan sendiri oleh nabi pada bagian akhir hadis, yaitu: “janganlah kamu menyamakan-nya dengan shalat Maghrib”.3. Tata cara pengerjaan witir yang 3 raka’at itu haruslah berbeda dgn tata cara shalat Maghrib. Cara yang memungkinkan agar witir 3 raka’at itu berbeda dengan shalat Maghrib hanya bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

19

Page 20: kajian islami

Pertama, Memecah witir 3 raka’at menjadi 2 kali salam (2 dan 1 raka’at);Kedua, Tiga raka’at penuh dengan sekali salam dan tanpa tasyahud awal.Namun demikian, tidaklah tepat membedakan witir dengan shalat Maghrib itu dengan cara memecah witir yang 3 raka'at menjadi 2 kali salam. Sebab pendapat ini tidak didukung dalil dari nabi, selain itu Hadis pertama hingga hadis keempat ini sangat tegas menunjukkan bahwa witir 3 raka'at dilakukan dengan hanya satu kali salam, dan inilah yang terbaik, sebab ini merupakan amalan Rasulullah b. Adapun dalil yang dipakai oleh mereka yang membolehkan witir 3 rakaat dengan 2 kali salam, yaitu dengan hadis bahwa shalat malam itu dikerjakan dua rakaat dua rakaat (maksudnya setiap 2 rakaat salam, maka cara pendalilan ini tidak tepat lantaran dalilnya bersifat umum. Padahal dalil-dalil tentang shalat witir adalah sudah ada, jelas dan tegas semuanya dengan satu kali salam, yakni di rakaat terakhir, baik itu witir 1 rakaat, 3, 5, dan seterusnya. Dalam kasus ini, dalil umum harus ditinggalkan karena sudah ada dalil yang bersifat khusus.Dengan demikian agar shalat witir itu berbeda dengan shalat Maghrib, maka witir 3 raka'at dilakukan satu kali salam dan tanpa tasyahud awal (dengan kata lain cukuplah dengan satu tasyahud di akhir raka’at saja), sebab shalat Maghrib dilakukan dengan 2 tasyahud.

12. Shalat id 13. Shalat dua gerhana,

Allah berfirman,

مس جعل الذي هو ره نورا والقمر ضياء الش لتعلموا منازل وقد نين عدد السه خلق ما والحساب اآليات يفصل بالحق إال ذلك الل )٥ (يعلمون لقوم

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus:5)

Dan Dia juga berfirman ,

يل آياته ومن هار الل مس والن مس تسجدوا ال والقمر والش للقمر وال للشه واسجدوا اه كنتم إن خلقهن الذي لل )٣٧ (تعبدون إي

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang

20

Page 21: kajian islami

menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Fushilat:37)

Shalat gerhana adalah sunnah muakadah menurut kesepakatan para ulama, dan dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah berfirman ,

)٥٩ (تخويفا إال باآليات نرسل وما

“Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti” (Al Israa:59)

Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau keluar dengan bergegas, menarik bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan memberitakan kepada mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti para hamba-Nya; boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk manusia, dan memerintahkan untuk mengerjakan amalan yang bisa menghilangkannya. Beliau memerintahkan untuk mengerjakan sholat, berdo’a, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga hilang musibah yang menimpa manusia.

Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi mereka agar kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika lahirnya atau matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membantah keyakina tersebut dan menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.

Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Mas’ud Al Anshari berkata ,

“Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan, “Terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim”. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian

21

Page 22: kajian islami

melihat yang demikian itu, maka bersegeralah untuk ingat kepada Allah dang mengerjakan Sholat” “.[1]

Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,

“Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga matahari terang”.[2]

Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),

“Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian atau kehidupan seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya, maka jika kalian melihat sesuatu yang demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a dan meminta ampun kepada-Nya”.[3]

Allah Subhanahu Wata’ala memberlakukan pada dua tanda kekuasaan-Nya yang besar ini (matahari dan bulan) kusuf dan khusuf (gerhana); agar para hamba mengambil pelajaran dan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang terkena kekurangan dan perubahan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya; untuk menunjukkan kepada hamba-Nya dengan peritiwa itu atas kekuasaan-Nya yang sempurna dan hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi sebagaimana firman Allah ,

يل آياته ومن هار الل مس والن مس تسجدوا ال والقمر والش للقمر وال للشه واسجدوا اه كنتم إن خلقهن الذي لل )٣٧ (تعبدون إي

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ilalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Fushilat:37)

Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai hilang berdasar sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam , “Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari peristiwa tersebut), maka shalatlah”. (Mutafaqqun ‘Alaih) [4]

Dan dalam hadits lainnya , “Dan jika kalian melihat yang demikian itu maka sholatlah hingga matahari kelihatan”. (Diriwayatkan oleh Muslim) [5]

22

Page 23: kajian islami

Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut, karena telah hilang waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum mereka mengetahuinya, maka mereka tidak perlu melakukan shalat gerhana.

CARA SHALAT GERHANA:

Mengerjakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca:

“SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”

Artinya, “Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”

Setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca,

” SAMI’ ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD, HAMDAN KATSIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI, MIL’AS SAMAA’I WA MIL’AL ARDH, WA MIL’A MA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU”

Artinya,

“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu sesudahnya”.

Kemudian sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama, kemudian tasyahud dan salam.

Inilah salat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari

23

Page 24: kajian islami

beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.

Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha , “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKA AL HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’ yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKA AL HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai” (Muttafaqun ‘Alaih) [6]

Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjama’ah berdasar perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi mengerjakannya dengan berjama’ah lebih utama.

Disunnahkan bagi imam untuk memberikan nasehat kepada manusia setelah shalat gerhana, mengingatkan mereka dari kelalaian dan kelengahan serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.

Dalam Ash Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha (artinya),

“Bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai shalat dan matahari telah nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia, memuji Allah dan memuja-Nya, dan bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbir, mengerjakan shalat, dan bershadaqahlah…”.” [7]

Apabila shalat sudah selesai sebelum gerhana hilang, hendaknya mengingat dan berdo’a kepada Allah hingga gerhana tersebut hilang, dan tidak perlu mengulang shalat, seharusnya menyempurnakan shalat dan tidak menghentikannya; berdasar firman Allah ,

)٣٣ (أعمالكم تبطلوا وال

24

Page 25: kajian islami

“Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu” (Muhammad:33)

Maka shalat dilakukan pada waktu terjadinya gerhana berdasar sabda beliau, “hingga gerhana itu hilang”, dan sabda beliau, “Hingga dihilangkan apa yang menimpa kalian”.[8]

Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah berkata,“Gerhana terkadang lama waktunya dan terkadang pendek, tergantung gerhananya. Terkadang tertutup semuanya (gerhana total), terkadang separuh atau sepertiganya. Jika yang tertutup besar; hendaknya memanjangkan shalat hingga membaca Al Baqarah dan yang semisalnya pada raka’at pertama dan setelah ruku’ yang kedua hendaknya membaca yang lebih pendek. Telah datang hadits-hadits shahih dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tentang apa yang kami sebutkan. Dan disyariatkan untuk mempercepat shalat jika telah hilang sebabnya. Begitu pula jika mengetahui bahwa gerhana tersebut tidak lama. Dan apabila gerhana tersebut menipis sebelum shalat, maka supaya memulai shalat dan memendekkannya, itulah pendapat jumhur Ahli Ilmu; karena shalat tersebut disyariatkan berdasarkan’illah (sebab), dan ‘illah itu telah hilang. Jika gerhana itu hilang sebelum shalat; maka tidak perlu shalat….”. [9]

l.Shalat istisqa’

Shalat istisqa adalah shalat yang dilakukan sebagai permohonan kepada Allah untuk meminta hujan.

Shalat ini biasanya dilakukan bila terjadi kemarau yang panjang atau karena dibutuhkannya hujan untuk keperluan tertentu.

Shalat istisqa' ini dilakukan secara berjama'ah dipimpin oleh seorang imam.

Cara melaksanakannya ada tiga cara, yaitu:

Berdoa saja di mana pun dan kapan pun, dengan suara nyaring atau pelan.Menambah doa istisqa (mohon turunnya hujan) pada khutbah Jumat.Dengan shalat dua rakaat yang disertai dengan dua khutbah.

a. Niatnya:

Ushallii sunnatal-istisqaa’I rak’ataini (imaaman/ma’muuman) lillaahi ta’aalaa. Allahu Akbar.

25

Page 26: kajian islami

Artinya: “Aku niat shalat sunah istisqa’ dua rakaat (jadi imam/makmum) karena Allah Ta’ala. Allahu akbar.”

Cara melaksanakannya:Tiga hari sebelum shalat istisqa’, imam atau ulama memerintahkan kaumnya untuk berpuasa selama tiga hari, dan menganjurkan untuk beramal shaleh, seperti sedekah, tobat dari segala dosa, beradamai dengan musuh, dan melepaskan diri dari kezaliman.Pada hari keempat, semua penduduk disuruh keluar rumah. Bahkan, binatang ternak pun dikeluarkan ke tanah lapang ketika shalat istisqa. Waktu keluar rumah menuju tanah lapang, sebaiknya memakai pakaian sederhana dan tidak memakai wewangian, tidak berhias. Selama itu, dianjurkan untuk memperbanyak istighfar.Setelah salam, khatib membaca dua khutbah dan pada khutbah pertama dimulai dengan membaca istighfar 9 kali pada khutbah yang kedua dimulai dengan membaca istighfar 7 kali.

b. Pelaksanaan Khutbah Istisqa

Khatib disunahkan memakai selendangKhutbahya berisi anjuran unutk beristigfar dan merendahkan diri kepada Allah, serta yakin bahwa Allah akan mengabulkan tutunnya hujanKetika berdoa mengagkat kedua belah tanganPada khutbah kedua, di kala berdoa hendaknya khatib berpaling kea rah kiblat, membelakangi makmum.Ketika berpaling ke arah kiblat, khatib hendaknya mengubah selendangnya dari kanan ke kiri, dan yang di atas ke bawah.

c. Istigfar dan doa istiqa

Astaghfirullaahal azhim alladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaihi.

Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah. Dia yag hidup dan yang tegak dan akau bertaubat kepadanya.”

Doa istiqa

    Doa yang sering dibaca dalam khutbah maupun di luar khutbah:

26

Page 27: kajian islami

Allahummasqinal ghaitsa wa laa taj’alnaa minal qaanithiin.

Artinya: “Ya Allah, tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadika kami termasuk orang-orang yang berputus asa.”

Allahumma ‘alath-thiraabi wal aakaami wa manaabitisy syajari wa buthuunii audiyah. Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alaina.

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah hujan itu di atas tumpukan-tumpukan tanah dan bukit-bukit, tempat pepohonan tanaman dan tumuh-tumbuhan, dan di lembah-lembah. Ya Allah, curahkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami.”

Allahummaj’alhaa suqyaa rahmatin wa laa taj’alhaa suqyaa adzabin wa laa muhqin wa laa balaa’in wa laa hadamin wa laa gharaqin.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai siraman rahmat, dan janganlah Tuhan jadikan hujan ini sebagai siraman siksa, dan janganlah Tuhan menjadikan hujan ini suatu siraman yang memusnahkan harta, benda dan mara bahaya dan janganlah siraman yang menghancurkan dan menenggelamkan.”

Allahummasqinaa ghaitsan mughiitsan hanii’an marii’an marii’an sahhan ‘amman ghadaqan thabaqan mujallalan daa’iman ilaa yaumid diin. Allahummasqinal ghaitsa wa laa taj’alnaa minal qaanithiin.

Artinya: “Ya Allah, siramilah kami dengan hujan yang menyelamatkan, menikmatkan, menyenangkan, menyuburkan, mengalirkan ke segenap penjuru, banyak air dan kebaikannya, memenuhi sungai-sungai dan selalu mengalir rata hingga sampai hari kiamat. Ya Allah, tumpahkanlah hujan kepada kami, dan janganlah Tuhan jadikan kami orang-orang yang berputus asa.”

m. shalat jum’at

a. Arti Definisi / Pergertian Shalat Jumat

27

Page 28: kajian islami

Sholat Jum'at adalah ibadah salat yang dikerjakan di hari jum'at dua rakaat secara berjamaah dan dilaksanakan setelah khutbah.

b. Hukum Sholat Jum'at

Shalah Jum'at memiliki hukum wajib 'ain bagi laki-laki / pria dewasa beragama islam, merdeka dan menet

ap di dalam negeri atau tempat tertentu. Jadi bagi para wanita / perempuan, anak-anak, orang sakit dan budak, solat jumat tidaklah wajib hukumnya.

Dalil Al-qur'an Surah Al Jum'ah ayat 9 :

" Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

c. Syarat Sah Melaksanakan Solat Jumat

1. Shalat jumat diadakan di tempat yang memang diperuntukkan untuk sholat jumat. Tidak perlu mengadakan pelaksanaan solat jum'at di tempat sementara seperti tanah kosong, ladang, kebun, dll.2. Minimal jumlah jamaah peserta salat jum'at adalah 40 orang.3. Shalat Jum'at dilaksanakan pada waktu shalat dhuhur / zuhur dan setelah dua khutbah dari khatib.

d. Ketentuan Shalat Jumat

Shalat jumat memiliki isi kegiatan sebagai berikut :1. Mengucapkan hamdalah.2. Mengucapkan shalawat Rasulullah SAW.3. Mengucapkan dua kalimat syahadat.4. Memberikan nasihat kepada para jamaah.5. Membaca ayat-ayat suci Al-quran.6. Membaca doa.

e. Hikmah Solat Jum'at

1. Simbol persatuan sesama Umat Islam dengan berkumpul bersama, beribadah bersama dengan barisan shaf yang rapat dan rapi.

28

Page 29: kajian islami

2. Untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar sesama manusia. Semua sama antara yang miskin, kaya, tua, muda, pintar, bodoh, dan lain sebagainya.3. Menurut hadis, doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT akan dikabulkan.4. Sebagai syiar Islam.

. f. Sunat-Sunat Shalat Jumat

1. Mandi sebelum datang ke tempat pelaksanaan sholat jum at.2. Memakai pakaian yang baik (diutamakan putih) dan berhias dengan rapi seperti bersisir, mencukur kumis dan memotong kuku.3. Memakai pengaharum / pewangi (non alkohol).4. Menyegerakan datang ke tempat salat jumat.5. Memperbanyak doa dan salawat nabi.6. Membaca Alquran dan zikir sebelum khutbah jumat dimulai.

BAB II THAHARAH

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6).

Hukum Thaharah     1. Dalil Normatif Thaharah

  Thaharah hukumnya wajib berdasarkan Alquran dan sunah. Allah Taala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6).

  Allah juga berfirman, “Dan, pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Mudatstsir: 4).   “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).     Rasulullah bersabda (yang artinya), “Kunci salat adalah bersuci.” Dan sabdanya, “Salat tanpa wudu tidak diterima.” (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, “Kesucian adalah setengah iman.” (HR Muslim).     2. Penjelasan tentang Thaharah

  Thaharah itu terbagi menjadi dua bagian: lahir dan batin. Thaharah batin adalah membersihkan jiwa dari pengaruh-pengaruh dosa dan maksiat dengan bertobat dengan

29

Page 30: kajian islami

sebenar-benarnya dari semua dosa dan maksiat, dan membersihkan hati dari kotoran syirik, ragu-ragu, dengki, khianat, sombong, ujub, riya, dan sum'ah dengan ikhlas, yakin, cinta kebaikan, lemah lembut, benar, tawadu, dan mengharapkan keridaan Allah SWT dengan semua niat dan amal saleh.     Adapun thaharah lahir adalah bersuci dari najis dan dari hadats (kotoran yang bisa dihilangkan dengan wudu, mandi, atau tayammum).   Thaharah dari najis adalah menghilangkan najis dengan air yang suci, baik dari pakaian orang yang hendak salat, badan, ataupun tempat salatnya. Thaharah dari hadats adalah dengan wudu, mandi, atau tayamum.     3. Alat Thaharah     Thaharah bisa dilakukan dengan dua hal.

  1. Air mutlak, yaitu air asli yang tidak tercampuri oleh sesuatu apa pun dari najis, seperti air sumur, air mata air, air lembah, air sungai, air salju, dan air laut, berdasarkan dalil-dalil berikut. “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat suci.” (Al-Furqan: 48). Rasulullah saw. bersabda,“Air itu suci, kecuali bila sudah berubah aromanya, rasanya, atau warnanya karena kotoran yang masuk padanya.” (HR Al-Baihaqi. Hadis ini daif, namun mempunyai sumber yang sahih).

  2. Tanah yang suci, atau pasir, atau batu, atau tanah berair. Rasulullah saw. bersabda, “Dijadikan bumi itu sabagai masjid dan suci bagiku.” (HR Ahmad). Tanah dijadikan sebagai alat thaharah jika tidak ada air, atau tidak bisa menggunakan air karena sakit, dan Karena sebab lain. Allah berfirman, ”…kemudian kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang suci.” (An-Nisa: 43).     Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya tanah yang baik (bersih) adalah alat bersuci seorang muslim, kendati ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Jika ia mendapatkan air, maka hendaklah ia menyentuhkannya ke kulitnya.” (HR Tirmizi, dan ia menghasankannya).     “Rasulullah saw. mengizinkan Amr bin Ash r.a. bertayammum dari jinabat pada malam yang sangat dingin, karena ia menghawatirkan keselamatan dirinya jika ia mandi dengan air yang dingin.” (HR Bukhari).

30

Page 31: kajian islami

Daftar Pustaka

Kita shalat Tuntunan shalat lengkap

31

Page 32: kajian islami

32

Page 33: kajian islami

33