Jurnal Las

download

of 12

  • date post

    05-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    185
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Jurnal Las

PAPARAN FISIS PENCAHAYAAN TERHADAP MATA DALAM KEGIATAN PENGELASAN (STUDI KASUS : PENGELASAN DI JALAN BOGOR) THE PHYSICAL EXPOSURE OF ILLUMINATION ON HUMAN EYES CAUSED BY WELDING ACTIVITY (CASE STUDY : WELDING ON JALAN BOGOR)Cory Angelina1 dan Katharina Oginawati2 Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha 10 Bandung 401321

cory_adza@yahoo.co.id dan 2katharina.oginawati@ftsl.itb.ac.id

Abstrak : Pengelasan skala kecil di Kota Bandung merupakan aktivitas yang beresiko tinggi khususnya bagi kesehatan mata pekerja. Sinar las yang dihasilkan dalam kegiatan pengelasan dapat meradiasikan sinar ultraviolet serta tingkat kesilauan tinggi yang menyebabkan ketidaknyamanan pekerja dalam melakukan aktivitasnya. Pemakaian alat pelindung diri yang biasa digunakan pekerja belum dapat mereduksi sinar ultraviolet-B sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 tahun 1999. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik lingkungan tempat bekerjanya para pekerja berupa data fisik intensitas sinar ultraviolet yang dihasilkan dalam pengelasan yang diukur dengan alat radiometer ultraviolet-B serta tingkat kesilauan sinar yang diukur dengan alat luminansi-meter. Dari penelitian ini diketahui bahwa radiasi sinar ultraviolet melampaui nilai ambang batas yang ditentukan serta tingkat kesilauan yang tinggi yang diperoleh dari persamaan Skala deBoer. Analisis fisis ini merupakan rangkaian untuk mengkaji paparan pencahayaan terhadap mata pekerja yang ditinjau dari keselamatan dan kesehatan kerja. Kata kunci: pengelasan, radiasi ultraviolet ,kesilauan, alat pelindung, nilai ambang batas Abstract : Small welding industries in the Bandung City are the risky activity high especially for the health of the worker's eyes. The welding radiation that were produced in the welding activity could ultraviolet radiation as well as the level of the high glare that caused the worker's discomfort in carrying out his activity. The use of the protective equipment himself who was normal was used by the worker still could not reduce ultraviolet-B in accordance with the standard that was determined by Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 in 1999. The aim of this research is to learn the characteristics of the place environment of the working of the workers took the form of the physical data the intensity of ultraviolet rays that were produced in welding that was measured with the radiometer implement of ultraviolet-B as well as the level of the glare of the rays that were measured with the implement luminansi-metre. From this research was learnt that ultraviolet rays radiation exceeded threshold limit velue that was determined as well as the level of the high glare that was received from the equality of the scale deBoer. This physical analysis was the series to study the explanation of the illumination against the worker's eyes that was inspected from the safety and the health of the work. Key words: welding, ultraviolet radiation, luminance, persenonal protect equipment , threshold limit velue

PENDAHULUANKegiatan pengelasan berorientasi dalam menyatukan logam-logam yang akan menghasilkan percikan api dan pecahan-pecahan logam berupa partikel kecil. Pengelasan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena memiliki resiko fisik yang sangat tinggi sehingga dalam pengerjaannya memerlukan keahlian serta peralatan khusus agar seorang pengelas (welder) tidak terkena kecelakaan kerja. Pengelasan (welding) diartikan sebagai salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontinu (Sonawan, 2003).

EH6 - 1

Salah satu organ tubuh yang sangat sensitif dalam menanggapi respon dari sekitarnya terutama dalam menanggapi rangsangan intensitas cahaya yang terlalu lemah atau pun terlalu kuat adalah mata. Untuk seorang pekerja di bidang pengelasan, terlalu sering berhadapan dengan cahaya intensitas tinggi akan memberi dampak pada sistem kerja matanya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lyon (1977), fisikawan radiasi optik, terdapat sinar-sinar elektromagnetik yang dihasilkan selama proses pengelasan tersebut dan terkait dengan indra mata yaitu salah satunya sinar ultraviolet. Sinar ini dapat menembus alat pelindung diri sehingga mempengaruhi kesehatan mata pekerja. Penggunaan alat pelindung diri berupa kaca mata pelindung (google) akan mengurangi intensitas cahaya yang masuk, namun tidak diketahui seberapa besar pengaruhnya terhadap kesehatan mata pekerja. Jurnal Canadian Centre for Accupational Health & Safety (2008) menambahkan bahwa kegiatan pengelasan akan menghasilkan radiasi non pengion. Radiasi merupakan transmisi energi melalui emisi berkas cahaya atau gelombang. Energi radiasi bisa terletak di rentang sinar tampak, tetapi dapat pula lebih besar atau lebih kecil dibandingkan sinar tampak. Tiga sinar utama nonpengion tersebut antara lain (Canadian Centre for Occupational Health & Safety, 2008): Radiasi sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 200-400 nm Radiasi cahaya tampak dengan panjang gelombang 400-700 nm Radiasi inframerah dengan panjang gelombang antara 700-1400 nm Sinar ultraviolet (UV) banyak terdapat pada saat mengelas, dari sinar matahari apabila ditatap dalam waktu yang lama, serta juga dari pantulan sinar matahari di atas salju. Sinar ultraviolet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat dan dapat diserap oleh kulit, kornea dan epitel konjungtiva. Sinar ultraviolet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat mempunyai panjang gelombang antara 350-295 nm. Sinar yang paling bayak yang dihasilkan dalam proses pengelasan adalah sinar ultraviolet. Radiasi UV mempunyai panjang gelombang yang pendek dengan frekuensi yang tinggi bila dibandingkan dengan cahaya tampak tetapi mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang dibandingkan dengan sinar X. Radiasi UV dibagi ke dalam tiga jenis panjang gelombang yang berbeda (Canadian Centre for Occupational Health & Safety, 2008) yaitu : UV-A 315-400 nm; UV-B 280-315 nm; UV-C 100-280 nm. Menurut Alatas, dkk (2003), energi radiasi UV-B dengan panjang gelombang 280-315 nm sebagian besar diserap kornea dan dapat pula mencapai lensa. Pengukuran dikhususkan untuk sinar ultraviolet-B (UV-B) dikarenakan keterbatasan alat yang dimiliki oleh laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik TF-ITB walaupun sinar ultraviolet yang dimungkinkan terdapat pada saat pengelasan adalah UV-A, UV-B, dan UV-C. Selain itu menurut CCOHS (Canadian Centre for Occupational Health & Safety) sinar yang paling umum memberikan dampak nyata bagi mata manusia dan pekerja adalah sinar UV-B. Untuk melindungi pekerja dari pengaruh sinar ultraviolet, pemerintah telah menetapkan Nilai Ambang Batas yang dikeluarkan melalui surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Kep51/MEN/1999, dengan nilai paparan sesuai yang tertera di Tabel 1 di bawah ini.Tabel 1 Waktu pemajanan radiasi sinar ultraviolet yang diperkenankan

Masa pemajanan per hari

Iridiasi Efektif (eff) W/cm2

Masa pemajanan per hari

Iridiasi Efektif (eff) W/cm2

8 jam 0.1 5 menit 10 4 jam 0.2 1 menit 50 2 jam 0.4 30 detik 100 1 jam 0.8 10 detik 300 30 menit 1.7 1 detik 3000 15 menit 3.3 0.5 detik 6000 10 menit 5 0.1 detik 30000 (Lampiran V, Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Kep-51/MEN/1999)

Pada pengelasan dihasilkan sinar las yang memercik dari batangan yang akan disatukan tersebut. Cahaya yang terlihat tersebut merupakan cahaya tampak dengan panjang EH6 - 2

gelombangnya berkisar antara 400-700 nm. Hadirnya cahaya ini akan membahayakan mata pekerja. Cahaya ini dapat membakar iris dan epitel pigmen retina (Ilyas, 2008). Semua cahaya tampak yang masuk ke mata akan diteruskan oleh lensa dan kornea mata ke retina mata. Bila cahaya ini terlalu kuat maka akan segera menimbulkan kelelahan pada mata (Nurdin, 1999). Kelelahan pada mata berdampak pada berkurangnya daya akomodasi mata. Silau dapat mengakibatkan terganggunya kemampuan penglihatan dan juga menyebabkan keletihan, perasaan tidak nyaman serta dapat pula menurunkan semangat kerja. Silau terutama disebabkan oleh beberapa hal, baik yang berasal dari sumber cahaya seperti matahari, cahaya lampu maupun refleksi dari obyek yang mengkilat. Faktor yang mempengaruhi silau adalah luminanasi, besarnya sumber cahaya, posisi pengamat terhadap sumber cahaya, letak sumber cahaya yang terdapat di depan sudut penglihatan dan kontras antara permukaan terang dan gelap (SNI 03-6575-2001). Silau dapat dinyatakan dalam beberapa jenis skala, antara lain Skala deBoer yang dikembangkan oleh Schmidt-Clausen dan Bindels (1974) yang dikarenakan sejumlah n sumber cahaya. Formula ini umum digunakan karena lebih jelasnya penerapan kriteria-kriteria yang menjadi aspek kesilauan yang dinyatakan dengan Persamaan 1:

Keterangan : W = nilai Skala deBoer La = luminansi (Cd/m2) = sudut sinar datang (menit, 1o = 60 menit) Emax = iluminansi (lux)

Persamaan 1 di atas memperhatikan posisi sumber sinar, luminansi dari latar, dan iluminansi dari sinar yang datang. Hasil dari persamaan ini berupa angka dengan rentang antara 1-9. Berikut nilai yang dapat ditunjukkan dari hasil perhitungan persamaan 2.1 yang tertera pada Tabel 2 berikut.Skala 1 3 5 Tabel 2 Skala deBoer Keterangan Skala Keterangan Unbearable (sangat tidak tertahankan) 7 Satisfactory (memuaskan) Disturbing (mengganggu) 9 Just Noticeable (hanya dapat terlihat) Just Accepteble (dapat diterima) (Schmidt-Clausen dan Bindels, 1974)

Rata-rata pengelas informal di Bandung bekerja di ruang terbuka dan kurang peduli akan keselamatan kerjanya. Keadaan berbeda ditunjukkan oleh industri pengelasan yang ada di luar negeri yang mengutamakan keamanan kerja di ruang tertutup. Perbedaan ini tentunya akan memberikan pengaruh terhadap kes