Jurnal Js Ppt

Click here to load reader

  • date post

    15-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    226
  • download

    0

Embed Size (px)

description

jurnal

Transcript of Jurnal Js Ppt

Konseling kontrasepsi dan penggunaan kontrasepsi postpartum

Konseling tentang alat kontrasepsi dan penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan

Hampir setengah dari kehamilan AS tidak direncanakan (UIP)Penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan merupakan strategi utama untuk mengurangi angka kehamilan diluar rencana dan dapat mengoptimalisasikan jarak kehamilan/ kelahiran Kehamilan yang tidak direncanakan sangat erat hubungannya dengan penggunaan obat-obatan selama kehamilan, penanganan prenatal yang tertunda, berat badan bayi yang rendah, dan kelahiran prematur. Interval antar-kehamilan yang pendek memiliki hubungan dengan usia kehamilan yang pendek, berat badan bayi yang rendah, dan juga kelahiran prematur. selama tahun 2004-2006, 12% perempuan yang telah melahirkan anak tidak menggunakan alat dan metode kontrasepsi apapun dan hanya 62% perempuan diketahui menggunakan alat dan metode kontrasepsi yang efektif (yaitu; sterilisasi, IUD, pil, koyo KB, cincin vagina, ataupu KB suntik) dimana didalamnya mencakup peranan dari konseling/ penyuluhan akan penggunaan alat kontrasepsi selama periode sebelum melahirkan dan setelah melahirkan.Ketidakoptimalan penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan mendorong para peneliti untuk mengetahui faktor-faktornya

2Himpunan Dokter Ahli Kandungan dan Ginekolog serta Himpunan Dokter Anak merekomendasikan bahwa pembahasan tentang opsi alat kontrasepsi dan upaya akan penggunaan metode kontrasepsi pasca-melahirkan harus menjadi fokus utama dalam penangan rutin pasca-melahirkan dan prenatal Idealnya, konseling tentang penggunaan kontrasepsi untuk para wanita yang sedang hamil dimulai selama periode kehamilan karena para wanita yang baru saja melahirkan biasanya akan lebih berfokus pada pemulihan pasca-melahirkan dan pengasuhan bayi Konseling untuk penggunaan alat kontrasepsi selama masa prenatal/ sebelum melahirkan dan periode pasca-melahirkan juga sangat penting karena kehamilan dan kelahiran bayi dapat merubah preferensi wanita akan kontrasepsi

3Di dalam suatu penelitian, 46% dari wanita yang baru saja melahirkan lebih memilih untuk menggunakan metode kontrasepsi lain yang berbeda dengan pilihan mereka ketika mereka sedang mengandung1. dimana mereka akan lebih memilih metode yang mudah digunakan, memiliki fungsi perlindungan-jangka-lama dari kehamilan, dan tidak membutuhkan kunjungan ke dokter/ klinik setiap bulannya.

4BAHAN DAN METODESistem Monitoring Pengukuran Resiko Kehamilan (PRAMS/ Pregnancy Risk Assessment Monitoring System)Sampel beberapa wanita yang belum lama melahirkanData dikumpulkan melalui kuesioner

adalah sistem pengamatan berkelanjutan yang berbasis-populasi untuk mengumpulkan informasi tentang perilaku perempuan yang diteliti beserta pengalaman yang dimilikinya sebelumnya, baik itu selama dan setelah kehamilan di beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan di Kota New York. dan pengambilan data tentang sampel pun diambil dari sertifikat kelahiran bayinya sekitar 2-6 bulan setelah proses kelahiran.Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikirimkan via email, dan para non-responden dihubungi melalui telepon

5Kami menganalisa data tahun 2004-2008 dari 3 wilayah pelaporan (Missouri, negara bagian New York [tidak termasuk Kota New York], dan Kota New York), Kota New York Konseling penggunaan alat kontrasepsi pra-melahirkan diukur dengan pertanyaan; Selama kunjungan pemeriksaan kehamilan, apakah dokter, perawat, atau petugas kesehatan lainnya mengajak anda untuk membicarakan hal-hal yang terdaftar dibawah ini? 1. Salah satu topik yang ada di dalam daftar adalah metode pengendalian kelahiran untuk digunakan setelah kehamilan saya.

7Konseling penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan diukur dengan pertanyaan; Setelah bayi anda lahir, apakah dokter, perawat, atau petugas kesehatan lainnya mengajak anda untuk membicarakan tentang penggunaan alat pengendalian kelahiran? 1. Untuk meneliti penggunaan kontrasepsi pasca-melahirkan, maka para wanita/ responden ditanya dengan pertanyaan; Apakah anda atau suami anda atau pasangan anda melakukan upaya untuk mencegah kehamilan? dan Jenis pengendalian kelahiran apa yang digunakan oleh anda atau pasangan anda saat ini untuk mencegah terjadinya kehamilan? 8Para responden yang menjawab tidak pada pertanyaan pertama diklasifikasikan sebagai responden yang tidak menggunakan metode pengendalian kelahiran, dan mereka tidak diberikan pertanyaan keduaresponden yang menjawab dengan jawaban lain harus diberi kesempatan untuk menuliskan responnya yang dimana pertanyaan kedua ini mencakup 13 opsi respon untuk metode kontrasepsi tertentu dan yang lainnya. beberapa respon/ tanggapan dimasukan kedalam opsi metode yang sudah ada atau opsi respon yang baru yang ditambahkan (yaitu; implan, penggunaan spermisida 9Metode yang lebih efektif ditentukan ketika terdapat kurang dari 10% wanita mengalami kehamilan tidak disengaja di dalam tahun pertama penggunaan alat kontrasepsi dengan berdasarkan pada tingkat efektifitas yang sudah diinformasikanMetode yang kurang efektif ditentukan ketika terdapat 10% atau lebih pada responden mengalami kehamilan yang tidak disengaja di dalam tahun pertama penggunaan alat kontrasepsi tingkat efektifitas yang sudah diinformasikan, termasuk tubektomi, vasektomi, implan, IUD, KB suntik, pil KB, koyo KB, atau cincin vagina, pengklasifikasian ini dipilih untuk sesuai dengan laporan sebelumnya yang mencakup diafragma kontraseptif, kondom, kap serviks, spons kontrasepsi, withdrawal (teknik dimana pasangan pria nya tidak ejakulasi di dalam vagina ketika berhubungan seks), spermisida, atau metode ritme. Para responden yang mengaku telah menggunakan lebih dari 1 metode diklasifikaikan sebagai mereka yang menggunakan metode yang paling efektif yang konsisten dengan laporan sebelumnya Kami juga mentidaksertakan responden yang menyatakan jawaban ya untuk pertanyaan inti dalam hal penggunaan kontrasepsi pasca-melahirkan dan yang tidak menjawab pertanyaan tentang tipe metode penggunaan alat kontrasepsi (n = 418) atau menjawab dengan jawaban yang lain namun memberikan respon tertulis dan tidak dicatat oleh peneliti (n = 24). Kami mentidaksertakan responden dengan data yang hilang pada hasil analisis (n = 431) dan responden yang tidak mendapatkan penanganan pra-kelahiran (n = 108) karena para responden ini tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal. 10Model regresi logistik multi-variabel terpisah digunakan untuk meneliti hubungan antara konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal, pasca-melahirkan, ataupun keduanya dengan penggunaan metode kontrasepsi (ya vs tidak) dengan penggunaan metode kontrasepsi yang lebih efektif (ya vs metode yang kurang efektif atau yang tidak menggunakan metode Berdasarkan pada pertimbangan apriori, kami menentukannya untuk kelompok usia, ras/ etnik, status perkawinan, tingkat pendidikan, tipe asuransi yang dimiliki sebelum kehamilan, upaya kehamilan terakhir, jumlah kelahiran bayi yang telah dilewati, kegiatan pemberian ASI saat ini, jumlah bulan sejak proses melahirkan, area pengambilan data, dan tahun pengambilan data.

Untuk memaksimalkan jumlah observasi yang disertakan di dalam analisis multi-variabel, variabel pengendali dengan lebih dari 2% data yang hilang dicatat untuk disertakan sebagai suatu kategori respon. Kami juga menentukan kategori untuk konseling tentang penggunakan alat kontrasepsi pasca-melahirkan (ketika meneliti dampak dari konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal) dan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal (ketika meneliti dampak konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan).

13Kami mengkaji faktor-faktor inflasi variasi untuk mengetahui multi-kolienaritas antar kovariasi kami melakukan analisis sensitifitas yang mentidaksertakan kelompok wanita ini (n = 863)

Karena kami berpendapat bahwa para wanita yang telah mendapatkan sterilisasi pasca-melahirkan dapat menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan (contohnya; mereka mendapatkan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi ketika mereka sedang hamil), 14Di dalam sub-analisis ini, kami juga mengkaji hubungan antara konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi dengan penggunaan LARCs (Long-Acting Reversible Contraceptives/ alat kontrasepsi jangka panjang yang dapat dilepaskan (dibatalkan sewaktu-waktu)) sebagai hasil politomi (penggunaan LARC, KB suntik, pil KB, koyo KB, atau cincin vagina vs metode kontrasepsi yang kurang efektif atau tidak digunakannya metode kontrasepsi).

15Diantara keseluruhan sampel, kami juga mengkaji tentang ada tidaknya hubungan antara penerimaan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal dan pasca-melahirkan dengan hasil yang dimodifikasi oleh upaya kehamilan atau tipe asuransi kesehatan sebelum kehamilan dengan menguji poin-poin interaksi yang ditambahkan kedalam model yang utuh Kami mengkaji modifikasi dampak dalam hal tipe asuransi kesehatan yang dimiliki responden sebelum kehamilan 1. hal ini merupakan ukuran yang lebih baik tentang status asuransi yang umum karena hampir dari seluruh wanita di Amerika Serikat memiliki akses terhadap asuransi selama masa kehamilan. Dimana modifikasi dampak yang signifikan (P < 0,05) terdeteksi, estimasi strata-tertentu dikalkulasikan dengan menggunakan pernyataan yang kontras di dalam suatu model tunggal akan keseluruhan sampel analisis 17HASILDiantara 11.306 wanita yang telah melahirkan di 3 wilayah pengambilan data 10.520 diantaranya (93%) dianggap sebagai kelompok yang beresiko mendapatkan kehamilan tidak disengaja atau jarak kehamilan yang pendek Diantaranya, yaitu sekitar 9.536 wanita (91%) adalah responden yang pantas dipilih untuk dianalisis. 1. Mayoritas dari mereka (>50%) berusia sekitar 24-34 tahun, ras kulit putih non-Latin; memiliki asuransi swasta sebelum hamil dan setidaknya setelah memiliki satu anak; mengalami kehamilan terakhir yang disengaja; mendapatkan pemeriksaan pasca-melahirkan; tidak sedang menyusui; dan berada pada waktu 4-12 bulan pasca-melahirkan pada saat dilakukan survey 18Karakteristik sampel, konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi, penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan, PRAMS, 3 area pengambilan data, tahun 2004-2008 (n = 9536

KarakteristikSampel totalnb%bKelompok umur, y 24253527,4 25-34511154,1 35189018,5 Ras/ etnis Kulit putih non-latin533358,1 Kulit hitam non-latin157614,2 2004156918,0 2005186420,0 2006171917,8 2007341032,2 200898312,1Konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal Tidak226221,8 Ya727478,2Konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan Tidak139613,9 Ya814086,1Konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal dan pasca-melahirkan Tidak7877,8 Satu (hanya pada saat prenatal atau pasca-melahirkan saja)208420,2 Keduanya (pada saat prenatal dan pasca-melahirkan666572,1Penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan Tidak menggunakan metode147615,4 Metode yang lebih efektif502852,6 Sterilisasi wanita8638,6 Sterilisasi pria2072,2 IUD6,3 Implan150,2 Pil KB224724,1 Koyo KB2122,1 Cincin Vagina1591,5 KB Suntik6997,5Metode yang kurang efektif303232,0 Kondom226923,5 Diafragma/ kap serviks/ spons KB320,4 Withdrawal (teknik dimana pasangan pria nya tidak ejakulasi di dalam vagina ketika berhubungan seks)4344,8 Ritme/ metode kalender atau perencanaan keluarga alami2733,0 Spermisida240,3Berkenaan dengan konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi, 78% responden mendapatkan konseling prenatal, 86% responden mendapatkan konseling pasca-melahirkan, dan 72% menerima konseling prenatal dan pasca-melahirkan Hampir dari seluruh wanita (85%) menyatakan bahwa mereka menggunakan beberapa metode kontrasepsi pasca-melahirkan, dengan 53% diantaranya menggunakan metode kontrasepsi yang lebih efektif (yang paling banyak adalah penggunaan pil KB) dan 32% dari responden menggunakan metode yang kurang efektif (yang paling banyak adalah penggunaan kondom). 22Konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi prenatal sangat erat berhubungan dengan dilakukan atau tidak dilakukannya metode kontrasepsi pasca-melahirkan (87% vs 76% diantara mereka yang mendapatkan dan tidak mendapatkan konseling prenatal, nisbah jangkaan suaian [AOR], 1,53; 95% interval kepercayaan [CI], 1,29-1,82), dan mereka yang menggunakan metode yang lebih efektif vs metode yang kurang efektif atau yang tidak menggunakan metode kontrasepsi pasca-melahirkan (56% vs 39% diantara mereka yang mendapatkan dan yang tidak mendapatkan konseling prenatal; AOR, 1,51; 95% CI, 1,30-1,75) konseling tentang penggunaan alat kontrasepsi pasca-melahirkan sangat berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi pasca-melahirkan vs tidak menggunakan metode kontrasepsi pasca-melahirkan (86% vs 75% diantara mereka yang mendapatkan konseling pasca-melahirkan atau mereka yang tidak mendapatkan konseling; AOR, 1,64; 95% CI, 1,34-2,00) namun tidak berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi pasca-melahirkan yang lebih efektif vs metode yang kurang efektif atau tidak menggunakan metode kontrasepsi pasca-melahirkan sama sekali (AOR, 1,19; 95% CI, 1,00-1,41) KOMENTAR