Jurnal Forum Kesehatan - Volume IV Nomor 8, Agustus 2014

Click here to load reader

  • date post

    25-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    204
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Volume IV Nomor 8, Agustus 2014

Transcript of Jurnal Forum Kesehatan - Volume IV Nomor 8, Agustus 2014

  • Pengaruh Minuman Jahe Madu Terhadap Mual Dan Muntah Pada Ibu Hamil Di

    Puskesmas Pahandut Dan Puskesmas Pembantu di Wilayah Kerja Puskesmas Pahandut

    Palangka Raya

    Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan Pada Ibu Primipara di Kota Palangka Raya

    Analisis Kesesuaian Antara Hasil Pengukuran Antopometri Dengan Persepsi Mengenai

    Status Gizi Ibu Hamil

    Hubungan Asupan Zat Gizi Dengan Kadar Hemoglobin Pada Pasien Thalasemia Yang

    Menjalani Rawat Jalan Di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

    Determinan Stigma Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Terhadap Orang

    Dengan Hiv/Aids (ODHA)

    Analisis Implementasi Pojok Laktasi Di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

    Analisis Fungsi Pelaksanaan Program Asi Eksklusif Oleh Bidan

    Volume IV Nomor 8, Agustus 2014

    ISSN : 2087 - 9105

  • TIM REDAKSI

    Jurnal Forum Kesehatan

    Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangka Raya

    Tim Penyunting :

    Penanggung Jawab : Dhini, M.Kes

    Redaktur : Iis Wahyuningsih, S.Sos

    Editor : Vissia Didin Ardiyani, SKM, MKM

    Tim Pembantu Penyunting :

    Penyunting Pelaksana : 1. Dwirina Hervilia, SKM, MKM

    2. Munifa, SKM, MPH

    Pelaksana TU : 1. Deddy Eko Heryanto, ST

    2. Daniel, A.Md.Kom

    3. Arizal, A.Md

    Tim Mitra Bestari :

    1. Dr. Merryana Adriani, SKM, M.Kes (FKM Universitas Airlangga)

    2. Dr. Ni Komang Yuni Rahyani, S.Sit., M.Kes (Poltekkes Kemenkes Denpasar)

    3. Dr. Djenta Saha, S.Kp., MARS (Dosen Tidak Tetap Poltekkes Kemenkes Palangka Raya)

    Alamat Redaksi :

    Unit Perpustakaan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangka Raya

    Jalan George Obos No. 32 Palangka Raya 73111- Kalimantan Tengah

    Telepon/Fax : 0536 3221768

    Email : [email protected], [email protected]

    Website : www.poltekkes-palangkaraya.ac.id

    Terbit 2 (dua) kali setahun.

  • PENGANTAR REDAKSI

    Salah satu tugas utama dari lembaga pendidikan tinggi sebagaimana tercantum dalam

    Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah melaksanakan penelitian. Agar hasil-hasil penelitian dan

    karya ilmiah lainnya yang telah dilakukan oleh civitas akademika Politeknik Kesehatan

    Kemenkes Palangka Raya lebih bermanfaat dan dapat dibaca oleh masyarakat, maka

    diperlukan suatu media publikasi yang resmi dan berkesinambungan.

    Jurnal Forum Kesehatan merupakan Jurnal Ilmiah sebagai Media Informasi yang

    menyajikan kajian hasil-hasil penelitian, gagasan dan opini serta komunikasi singkat maupun

    informasi lainnya dalam bidang ilmu khususnya keperawatan, kebidanan, gizi, dan umumnya

    bidang ilmu yang berhubungan dengan kesehatan.

    Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya

    berkat bimbingan dan petunjuk-Nyalah upaya untuk mewujudkan media publikasi ilmiah

    Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangka Raya yang diberi nama Jurnal Forum Kesehatan

    Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 ini dapat terlaksana. Dengan tekat yang kuat dan kokoh,

    kami akan terus lebih memacu diri untuk senantiasa meningkatkan kualitas tulisan yang akan

    muncul pada penerbitan penerbitan selanjutnya.

    Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes

    Palangka Raya sebagai Penanggung Jawab serta Dewan Pembina yang telah memberikan

    kepercayaan dan petunjuk kepada redaktur hingga terbitnya Jurnal Forum Kesehatan

    Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 ini. Ucapan terimakasih dan penghargaan juga

    disampaikan kepada Dewan Redaksi dan Tim Mitra Bestari yang telah meluangkan

    waktunya untuk mengkaji kelayakan beberapa naskah hasil penelitian/karya ilmiah

    yang telah disampaikan kepada redaksi.

    Kepada para penulis yang telah menyampaikan naskah tulisannya disampaikan

    penghargaan yang setinggi-tingginya dan selalu diharapkan partisipasinya untuk mengirimkan

    naskah tulisannya secara berkala dan berkesinambungan demi lancarnya penerbitan Jurnal

    Forum Kesehatan ini selanjutnya.

    Akhirnya, semoga artikel-artikel yang dimuat dalam Jurnal Forum Kesehatan

    Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 ini dapat menambah wawasan dan memberikan

    pencerahan bagai lentera yang tak kunjung padam. Kritik dan saran yang bersifat

    membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan penerbitan selanjutnya.

    Tim Redaksi

  • DAFTAR ISI

    Hal.

    Pengaruh Minuman Jahe Madu Terhadap Mual Dan Muntah Pada Ibu Hamil Di

    Puskesmas Pahandut Dan Puskesmas Pembantu di Wilayah Kerja

    Puskesmas Pahandut Palangka Raya

    Herlina Diyaningsih ................................................................................................................ 60

    Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan Pada Ibu Primipara di Kota Palangka Raya

    Christine Aden ......................................................................................................................... 66

    Analisis Kesesuaian Antara Hasil Pengukuran Antopometri Dengan Persepsi

    Mengenai Status Gizi Ibu Hamil

    Demsa Simbolon, Yanti Sutrianti, Jon Farizal ...................................................................... 78

    Hubungan Asupan Zat Gizi Dengan Kadar Hemoglobin Pada Pasien Thalasemia Yang

    Menjalani Rawat Jalan Di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

    Yanti Thomas, Fretika Utami Dewi ........................................................................................ 88

    Determinan Stigma Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Terhadap Orang

    Dengan Hiv/Aids (ODHA)

    Hesty Widyasih, Suherni ......................................................................................................... 94

    Analisis Implementasi Pojok Laktasi Di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya

    Lola Meyasa ............................................................................................................................. 99

    Analisis Fungsi Pelaksanaan Program Asi Eksklusif Oleh Bidan

    Seri Wahyuni ........................................................................................................................... 107

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014

  • Herlina Diyaningsih, Determinan Gizi Kurang pada Balita 1-5 tahun

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 60

    Pengaruh Minuman Jahe Madu Terhadap Mual Dan Muntah Pada Ibu Hamil Di Puskesmas

    Pahandut Dan Puskesmas Pembantu di Wilayah Kerja

    Puskesmas Pahandut Palangka Raya

    Effect Of Ginger Honey Drink Towards Nausea and Vomiting In Pregnant Women

    In Pahandut Primary Health Center Palangka Raya

    Herlina Diyaningsih

    Abstrak. Mual dan muntah adalah gejala yang sering terjadi pada awal kehamilan jika tidak ditangani dengan

    benar akan mengakibatkan komplikasi pada ibu dan janin. Metode yang digunakan untuk mengurangi mual

    dan muntah yaitu metode farmakologis dengan menggunakan vitamin B6 dan non farmakologis yaitu salah

    satu alternatif adalah minuman jahe dan madu. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh minuman jahe

    madu terhadap frekuensi mual muntah pada ibu hamil. Penelitian Eksperimen dengan menggunakan desain

    randomize pre-post test design control group. Pada desain penelitian ini terdapat 4 (empat) kelompok, yaitu 3

    (tiga) kelompok intervensi dan 1 kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan minuman madu, jahe dan

    kombinasi madu dan jahe sedangkan kelompok kontrol diberikan vitamin B6 pada ibu hamil yang mengalami

    mual muntah. Hasil analisis bivariat menunjukan ada pengaruh yang bermakna secara statistik antara ketiga

    kelompok intervensi (minuman madu, jahe, kombinasi madu dan jahe) dan kelompok kontrol terhadap durasi

    mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah dengan nilai P

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 61

    Metode yang digunakan untuk mengurangi mual

    muntah yaitu makan porsi kecil tapi sering, batasi

    lemak dalam diet, istirahat, Farmakologis dengan

    menggunakan vitamin B6 dan non farmakologis

    yaitu salah satunya adalah minuman jahe dan

    madu.5.6

    Jahe dan madu memiliki manfaat untuk mengurangi

    mual muntah pada kehamilan karna jahe memiliki

    kandungan minyak atsiri yaitu gingerol dan madu

    juga mengandung piridoksin, kedua zat tersebut

    sebagai anti chemoreseptor yang dapat memblok

    atau menghentikan zat serotonin, dopamin,

    asetilkolin, histamin dan neurokinin yang dapat

    mengaktifkan pusat muntah. 7.8

    Jahe tidak memiliki efek samping pada kehamilan

    dan madu yang kaya nutrisi dan enzim untuk

    kebutuhan nutrisi ibu hamil dan asupan gizi janin

    serta ketika jahe dan madu diminum secara

    bersamaan efek jahe lebih cepat bertransmisi karna

    madu mengandung enzim diastase, invertase,

    glukosa oksidase, dan peroksidase untuk

    metabolisme sehingga lebih cepat diserap oleh

    tubuh.9 Mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil.

    Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh

    pemberian minuman madu, jahe dan kombinasi

    terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dan

    II.

    Metode Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen

    dengan menggunakan desain randomize pre-post test

    design control group. Pada desain penelitian ini

    terdapat 4 kelompok, yaitu 3 kelompok intervensi

    dan 1 kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi

    diberikan vitamin B6 pada masing-masing kelompok

    intervensi diberikan minuman madu (A), minuman

    jahe (B) dan minuman kombinasi madu dan jahe (C)

    pada ibu hamil yang mengalami mual dan muntah

    sedangkan kelompok control (D) tidak diberikan

    minuman madu, jahe dan kombinasi madu dan jahe..

    Pupulasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu

    hamil yang mengalami mual muntah yang

    memeriksakan kehamilannya di Puskemas Pahandut

    dan Puskesmas Pembantu Wilayah Puskesmas

    Pahandut berjumlah 69 orang dan yang bersedia

    menjadi reponden sebanyak 64 orang pada bulan

    Januari Februari Tahun 2014 dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Jumlah sampel dalam

    penelitian ini dihitung berdasarkan estimasi proporsi

    suatu populasi dengan ditetapkan kesalahan tipe I

    sebesar 5%, kesalahan tipe II 20% didapatkan jumlah

    sampel sebanyak 60 responden. Variabel bebas

    penelitian ini adalah minuman madu, minuman jahe

    dan minuman

    kombinasi madu dan jahe. Variabel Terikatnya

    adalah durasi mual, frekuensi mual, frekuensi muntah

    dan frekuensi mual dan muntah. Pengolahan data dan

    analis data menggunakan SPSS for window versi 15

    analisis univariat, analisis bivariat (Paired Test,

    Wilcoxon, Kruskal-Wallis Uji post-hoc Mann

    Whitney)

    Hasil Penelitian

    Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar usia

    responden berusia antara 20 sampai 35 yaitu 80,0%

    dengan jumlah responden 12 orang pada kelompok

    A,B,D. Usia termuda < 20 tahun pada kelompok A

    dan kelompok B yaitu 13,3 % dengan jumlah

    resonden 2 orang. Dan yang terkecil pada usia tertua

    >35 tahun terdapat pada kelompok A,B, dan

    kelompok C yaitu 6,7 % dengan jumlah 1 orang.

    Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p

    value sebesar 0,695 maka dapat disimpulkan bahwa

    tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata

    usia di antara empat kelompok (p > 0,05).

    Tabel 1. Karakteristik Responden

    Kelompok A B C D

    Usia

    ibu

    (Thn)

    f %

    f %

    f %

    f %

    P

    Value 35 1 7 1 7 1 7 - Jumlah 15 100 15 100 15 100 15 100 15 100

    Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar usia

    kehamilan responden

    12 minggu yang terkecil pada kelompok A yaitu 26,7

    % dengan jumlah responden 4 orang. Berdasarkan

    hasil uji statistik didapatkan nilai p value sebesar

    0,526 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

    perbedaan yang signifikan antara rerata paritas

    diantara empat kelompok (p > 0,05).

    Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar

    paritas responden pada multigravida pada kelompok

    A dan kelompok D sama yaitu 60% dengan jumlah

    resonden 9 orang dan yang terkecil pada

    Primigravida orang dan yang terkecil pada kelompok

    C yaitu 26,7% dengan jumlah responden 4 orang.

    Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p

    value sebesar 0,526 maka dapat disimpulkan bahwa

    tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata

    paritas diantara empat kelompok (p > 0,05).

  • Herlina Diyaningsih, Determinan Gizi Kurang pada Balita 1-5 tahun

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 62

    Tabel 2. Distribusi frekuensi karakteristik responden menurut usia ibu

    dan uji homogenitas

    Kelompok A B C D Umur

    keham

    ilan

    f %

    f %

    f %

    f %

    P

    Value TI 11 73 6 40 9 60 8 53 0,256 TII 4 27 9 60 6 40 12 47 Jumlah 15 100 15 100 15 100 15 100 15 100

    Tabel 3. Distribusi frekuensi karakteristik

    responden menurut paritas dan uji homogenitas

    Kelompok Paritas A B C D

    f %

    f %

    f %

    f %

    P

    Value Primi 6 40 8 53 4 27 6 40 Multi 9 60 7 47 11 73 9 60 0,526 Jumlah 15 100 15 100 15 100 15 100

    Tabel 4. Distribusi frekuensi karakteristik

    responden menurut riwayat keluarga dan uji

    homogenitas

    Kelompok A B C D Riwayat

    klg

    f %

    f %

    f %

    f %

    P

    Value Ya 10 67 10 67 8 53 11 73 Tidak 5 33 5 33 11 73 4 27 0,157 Jumlah 15 100 15 100 15 100 15 100

    Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar

    riwayat keluarga responden yang mengalami mual

    dan mutah pada empat kelompok, yaitu pada

    kelompok D yaitu 73,3 % dengan jumlah responden

    11 orang dan yang terkecil pada kelompok yang

    tidak memiliki riwayat keluarga yaitu pada kelompok

    D yaitu 26,7 dengan jumlah responden 4 orang

    Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p

    value sebesar 0,157 maka dapat disimpulkan bahwa

    tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata

    paritas diantara empat kelompok (p > 0,05).

    Berdasarkan tabel 5 pada kelompok A dapat

    dilihat nilai median skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    sebelum diberikan intervensi adalah adalah sebesar

    10 dan skor sesudah intervensi adalah sebesar 9 .

    Rata-rata skor frekuensi sebelum diberikan intervensi

    adalah sebesar skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    11,08 dan rata-rata skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    sesudah intervensi 9,13 sehingga dapat disimpulkan

    bahwa terjadi penurunan skor durasi mual, frekuensi

    mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual dan

    muntah sesudah intervensi. Dari hasil analisi statistik

    menggunakan statistik non-parametrik uji wilcoxon

    didapat nilai p value sebesar 0,007 maka secara

    statistik terdapat perbedaan skor durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah yang signifikan antara skor frekuensi

    sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p value <

    0,05). Sehingga dapat disimpulkan intervensi

    kelompok A berpengaruh terhadap penurunan durasi

    mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah.

    Tabel 5 . Perbedaan frekuensi skor durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi

    mual dan muntah sebelum dan sesudah intevensi

    pada masing-masing kelompok berpasangan A

    ,B, C dan kelompok kontrol D

    Mual dan Muntah Mean SD p value

    Kelompok A sebelum

    intervensi

    11,082,81

    0,007

    Kelompok A Sesudah intervensi

    9,132,59

    Kelompok B sebelum

    intervensi

    11,682,66

    0,001

    Kelompok B Sesudah

    intervensi

    7,601,99

    Kelompok C sebelum intervensi

    11,683,22

    0,001

    Kelompok C Sesudah

    intervensi

    7,201,52

    Kelompok D sebelum pemberian vitamin B6

    11,732,64

    0,001 Kelompok D Sesudah

    pemberian vitamin B6

    9,532,64

    Pada kelompok B dapat dilihat nilai median skor

    durasi mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah sebelum diberikan

    intervensi adalah adalah sebesar 12 dan skor sesudah

    intervensi adalah sebesar 7 . Rata-rata skor frekuensi

    sebelum diberikan intervensi adalah sebesar skor

    durasi mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah 11,68 dan rata-rata skor

    frekuensi durasi mual, frekuensi mual, frekuensi

    muntah dan frekuensi mual dan muntah sesudah

    intervensi 7,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa

    terjadi penurunan skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    sesudah intervensi.Dari hasil analisis statistik

    menggunakan statistik non-parametrik uji wilcoxon

    didapat nilai p value sebesar 0,001 maka secara

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 63

    statistik terdapat perbedaan skor durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah yang signifikan antara skor frekuensi

    sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p value <

    0,05). Sehingga dapat disimpulkan intervensi

    kelompok B berpengaruh terhadap penurunan durasi

    mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah . Pada kelompok C dapat

    dilihat nilai median skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    sebelum diberikan intervensi adalah adalah sebesar

    11 dan skor sesudah intervensi adalah sebesar 7 .

    Rata-rata skor frekuensi sebelum diberikan intervensi

    adalah sebesar skor frekuensi mual muntah 11,68 dan

    rata-rata skor durasi mual, frekuensi mual, frekuensi

    muntah dan frekuensi mual dan muntah sesudah

    intervensi 7,20 sehingga dapat disimpulkan bahwa

    terjadi penurunan skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan .frekuensi mual dan muntah

    sesudah intervensi. Dari hasil analisi statistik

    menggunakan statistik non-parametrik uji wilcoxon

    didapat nilai p value sebesar 0,001 maka secara

    statistik terdapat perbedaan skor durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah yang signifikan antara skor frekuensi

    sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p value <

    0,05). Sehingga dapat disimpulkan intervensi

    kelompok C berpengaruh terhadap penurunan durasi

    mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah. Pada kelompok D dapat

    dilihat nilai median skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    sebelum diberikan intervensi adalah adalah sebesar

    12 dan skor sesudah intervensi adalah sebesar 10 .

    Rata-rata skor frekuensi sebelum diberikan intervensi

    adalah sebesar skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    11,73 dan rata-rata skor frekuensi durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah sesudah intervensi 9,53 sehingga dapat

    disimpulkan bahwa terjadi penurunan skor frekuensi

    sesudah mendapatkan vitamin B6 perawatan biasa

    yang diberikan dipuskesmas pada kelompok D

    (kontrol). Dari hasil analisi statistik menggunakan

    statistik parametrik uji paired t test didapat nilai p

    value sebesar 0,001 maka secara statistik terdapat

    perbedaan skor durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    yang signifikan antara skor frekuensi sebelum dan

    sesudah dilakukan intervensi (p value < 0,05).

    Sehingga dapat disimpulkan setelah mendapatkan

    vitamin B6 perawatan biasa yang diberikan

    dipuskesmas pada kelompok D (kontrol)

    berpengaruh terhadap penurunan durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah .

    Tabel 6 . Perbedaan frekuensi skor durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi

    mual dan muntah sebelum dan sesudah intevensi

    pada masing-masing kelompok berpasangan A,

    B, C dan kelompok kontrol D

    Mual dan Muntah Mean

    Rank

    p value

    Kelompok A Sesudah

    intervensi

    21,60

    0,008

    Kelompok B Sesudah intervensi

    36,87

    Kelompok C Sesudah

    intervensi

    39,23

    Kelompok D Sesudah

    pemberian vitamin B6

    24,30

    Tabel 6 menunjukkan frekuensi mual muntah

    pada kelompok A, B, C, dan D diuji secara bersama-

    sama diperoleh hasil uji statistik nilai p value sebesar

    0,008 (p < 0,05) maka secara statistik dapat

    disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna

    durasi mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual dan muntah antara kelompok A,B,C

    dan D setelah diberikan intervensi. Dengan Uji post-

    hoc Mann Whitney penurunan frekuensi kelompok B

    sebesar 39,23 dan kelompok C sebesar 36,87

    sedangkan kelompok A sebesar 21, 60 dan D sebesar

    24,30 sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok

    intervensi C dan B durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual dan muntah

    lebih rendah dari pada kelompok A dan D. Kelompok

    C dan B lebih efektif dalam menurunkan durasi mual,

    frekuensi mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah pada ibu hamil dibandingkan dengan

    kelompok intervensi A dan D.

  • Herlina Diyaningsih, Determinan Gizi Kurang pada Balita 1-5 tahun

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 64

    Pembahasan

    Mual dan muntah adalah gejala umum

    yang dialami oleh perempuan pada trimester

    pertama kehamilan dan mempengaruhi 50-

    80% dari hamil perempuan.1 Berdasarkan

    hasil analisis univariat terhadap frekuensi

    mual dan muntah sebelum dan sesudah

    diberikan intervensi pada keempat kelompok

    menunjukkan bahwa skor frekuensi mual dan

    muntah yang diberikan kelompok madu,

    jahe, jahe dan madu diberikan B6 sebelum

    pemberian intervensi dan sesudah intervensi

    terhadap ketiga kelompok dan kelompok

    kontrol terjadi penurunan skor frekuensi

    mual dan muntah menjadi frekuensi lebih

    rendah dari pada sebelum intervensi. Salah

    satu manajemen farmakologis dengan

    pemberian obat-obatan yang sering diberikan

    pada wanita hamil yang mengalami mual

    muntah adalah obat yang mengandung efek

    anti mual seperti vitamin B6 sebagai anti

    chemoreseptor yang dapat memblok atau

    menghentikan serotonin untuk mencegah

    aktifnya pusat muntah.10.11 Beberapa

    alternatif non farmakologis yang dianjurkan

    jahe dan madu untuk mengurangi mual

    muntah. Jahe memiliki kandungan minyak

    atsiri dan gingerol dan madu juga

    mengandung piridoksin ketiga zat tersebut

    sebagai anti chemoreseptor yang dapat

    memblok atau menghentikan serotonin untuk

    mencegah aktifnya pusat muntah.9.12 Manfaat

    vitamin B6 dan kombinasi madu dan jahe

    yang bekerja pada sistem, organ, yang sama

    dengan efek farmakologi yang sama sehingga

    memiliki interaksi farmakodinamik yang

    sinergis dalam menurunkan frekuensi mual

    dan muntah.7

    Pemberian kelompok intervensi jahe dan

    kombinasi madu dan jahe lebih efektif dalam

    menurunkan skor durasi mual, frekuensi

    mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    dan muntah pada ibu hamil dibandingkan

    kelompok intervensi madu dan kelompok

    kontrol.

    Kesimpulan Dan Saran

    Kesimpulan dari penelitian ini yaitu

    minuman madu berpengaruh terhadap durasi

    mual, frekuensi mual, frekuensi muntah dan

    frekuensi mual muntah pada ibu hamil yang

    mengalami mual muntah diwilayah

    Puskemas Pahandut Palangka Raya;

    minuman jahe (B) berpengaruh terhadap

    durasi mual, frekuensi mual, frekuensi

    muntah dan frekuensi mual muntah pada ibu

    hamil yang mengalami mual muntah

    diwilayah Puskemas Pahandut Palangka

    Raya; minuman kombinasi madu dan jahe

    berpengaruh terhadap durasi mual, frekuensi

    mual, frekuensi muntah dan frekuensi mual

    muntah pada ibu hamil yang mengalami mual

    muntah diwilayah Puskemas Pahandut

    Palangka Raya; minuman jahe dan kombinasi

    madu dan jahe lebih efektif dalam

    menurunkan durasi mual, frekuensi mual,

    frekuensi muntah dan frekuensi mual muntah

    pada ibu hamil yang mengalami mual muntah

    diwilayah Puskemas Pahandut Palangka

    Raya

    Berdasarkan simpulan maka disarankan

    sebagai berikut bagi masyarakat hendaknya

    menggunakan minuman jahe dan kombinasi

    madu dan jahe sebagai salah satu pilihan

    dalam pengobatan ibu hamil dengan mual

    muntah; Bagi instansi kesehatan hendaknya

    sebagai menerapkan atau pertimbangan dan

    mempromosikan minuman jahe dan

    kombinasi madu dan jahe untuk dijadikan

    sebagai bagian dari intervensi kebidanan

    dalam pengelolaan asuhan ibu hamil yang

    mengalami mual dan muntah dengan

    menggunakan manajemen non-farmakologis

    yang lebih bersifat preventif serta

    memberikan asuhan kebidanan yang holistik

    pada ibu hamil yang mengalami mual muntah

    dengan pilihan alternatif pengobatan yang

    lebih sederhana, mudah dilakukan dan

    minimal efek samping; bagi pengembangan

    ilmu pengetahuan hendaknya memasukkan

    materi mengenai terapi non-farmakologis

    yaitu minuman jahe dan kombinasi madu dan

    madu dalam proses belajar-mengajar

    terutama dalam pembelajaran asuhan

    kebidanan pada ibu hamil dalam rangka

    mengembangkan praktik kebidanan yang

    berbasis terapi non-farmakologis; Bagi

    penelitian selanjutnya perlunya penelitian

    tentang pengukuran kadar serotonin sebagai

    alat ukur yang lebih objektif dalam mengukur

    frekuensi mual dan muntah pada kehamilan.

    Daftar Pustaka

    1. Carolin. S, Franzcog, Kristyn.W and Vicky. M. Randomized controlled Trial of

    Ginger to Treat Nausea and Vomiting in

    Pregnancy. Obsetric Ginecology 2004

    2. Leveno and Keneth .J. Obsetri Williams Edisi 21. Jakarta EGC. 2009

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan, Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 65

    3. Mario Fasten. Nausea and Vomiting in early pregnancy. Clinical Eviden 2009

    4. Garret K, Tsuruta K, Walker S, Jackson and Sweat, Managing nausea and

    vomiting .Critical Care Nurse. 2005

    5. Fraser Diane, Margaret Cooper. Buku Ajar Bidan. EGC 2009

    6. Jensen. Lowderilk Bobak. Keperawatan Maternitas Jakarta EGC 2005

    7. Dipiro, Cecily.V, Talbert. R.L., Yee. G.C, Matzke. G.R., Wells. B.G, and Posey.

    L.M. Nausea and Vomiting dalam

    Pharmacotherapy A Pathophysiologic

    Approach, 7th Edition, McGraw Hill

    Medical, USA 2008

    8. Levine, Marcum. G, Yanchis. S, Anne, Voss. C and Robert. L. Protein and ginger

    for treatment of chemotherapyinduced

    delayed nausea. Journal of Alternative

    and Complementary. Medicine, 2008;

    551-545

    9. Salim. A. Khasiat Kombinasi Madu dan Jahe in Madu Jan 14, 2009

    White Brett. Ginger : An Review Am

    Francisco 200

    10. Pongrojpaw D , Somprasit and Chanthasenanon A. A Randomized

    Comparison of Ginger and

    Dimenhydrinate in the Treatment of

    Nausea and Vomiting in Pregnancy J Med

    Assoc Thai 2007

    11. Taras, Heater. B, Georgousis. A, Smith. M, and Einarson.A. The use of CAM by

    Women Suffering from nausea and

    Vomiting during Pregnancy. BMC

    Complementary and Alternative

    Medicine 2004.

  • Christine Aden, Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan di Kota Palangka Raya

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 66

    Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan Pada Ibu Primipara

    di Kota Palangka Raya

    Effects of Labor Pain Management in Primiparous Women

    Christine Aden

    Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya

    Abstrak. Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan

    kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Nyeri persalinan

    memiliki keunikan dengan respon yang berbeda-beda bagi setiap ibu bersalin. Upaya menurunkan nyeri

    persalinan dapat dilakukan dengan tehnik nonfarmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

    pengaruh manajemen nyeri persalinan pada ibu primipara di kota Palangka Raya.Penelitian ini dilakukan

    pada 26 ibu primipara.Data dianalisis, Uji T tidak berpasangan serta generalized estimating equation

    (GEE). Hasil penelitian ada perubahan persepsi persalinan pada kelompok intervensi sebesar 2,2 kali

    sebelum intervensi dan sesudah intervensi manajemen nyeri persalinan. Ditemukan nyeri sedang pada ibu

    yang memanfaatkan tehnik manajemen nyeri dan pada pengamatan ke II terdapat perbedaan proporsi skala

    nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai P=0,038). Ditemukan adanya interaksi antara

    manajemen nyeri dengan waktu pengamatan pada pengamatan ke III (=0,005 < 0,01). Pada pengamatan ke III, manajemen nyeri menaikan rata-rata dilatasi servik sebesar 4,5 cm. Berdasarkan uji GEE

    menyatakan tidak ada perbedaan nilai pada kelompok intervensi dan kontrol baik pre maupun post test.

    Secara substansi pada kelompok intervensi yang telah mendapatkan pengetahuan tentang manajemen nyeri

    persalinan teramati dapat menerapkan dan memadukan tehnik mengurangi nyeri persalinan secara mandiri

    dan dengan dukungan keluarga.

    Kata kunci: Nyeri persalinan, manajemen nyeri persalinan, primipara

    Abstract. Labor Pain is a subjective experience about physical cencation that associated with the

    pysicological process of labor and pregnant women characteristics to face the labor. Labor pain is unique

    with different responses for every pregnant women. Efforts to reduce labor pain can be done with non

    pharmacological technic. This study aimed to determine the effect of labor pain management on the

    primiparous women in Palangka Raya. This study was done to 26 primiparous. Data was analyzed by

    unpaired t test and generalized estimating equation (GEE). The results of analysis showed that there was a

    change of labor perception in the intervention group at 2.2 times as much before intervention and after

    intervention of labor pain management. Moderate pain was found in the mothers who utilizing pain

    management. Interaction was found between pain management with observations time on the third

    observations (= 0.005

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 67

    sosialekonomi, agama, lingkungan, kepribadian

    dan persiapan persalinan.-6

    Upaya menurunkan nyeri persalinan dapat

    dilakukan dengan tehnik farmakologi dan

    nonfarmakologi.-12. Metode nonfarmakologi

    bersifat nonintrusif, noinvasif, murah, simple,

    efektif dan tanpa efek yang merugikan .-3 metode

    nonfarmakologi yang paling efektif menurunkan

    nyeri saat persalinan adalah teknik pernapasan,

    relaksasi, akupresur dan massage5 dan

    penggabungan tehnik-tehnik tersebut dilakukan

    dalam relaksasi otot, latihan pernapasan, dan

    massase pada area lumbalsakral sangat bermakna

    menurunkan nyeri persalinan6-7.

    Persiapan persalinan dengan melakukan

    latihan pengelolaan nyeri persalinan secara non

    farmakologi menurut Lamaze, Bradley dan Dick

    Read selain mengurangi nyari persalinan juga akan

    meningkatkan kepuasan ibu terhadap pengalaman

    persalinan -4. Dari hasil penelitian diketahui

    bahwa apabila ibu yang telah termotivasi untuk

    mempersiapkan diri menghadapi persalinan maka

    rasa nyeri selama persalinan dapat berkurang

    sampai dengan sepertiganya. Latihan pengelolaan

    nyeri persalinan akan membantu ibu memahami

    persalinan dan menghadapi persalinan dengan

    tenang dan menggunakan koping menghadapi nyeri

    dengan efektif8.

    Kecemasan menghadapi persalinan dapat

    menambah lama persalinan dan menyebabkan

    kelelahan ibu. Kecemasan selama persalinan akan

    menyebabkan reaksi fisik berupa peningkatan

    denyut jantung dan tekanan darah, dan dapat

    menurunkan kontraksi uterus dan mengakibatkan

    persalinan lama dan berisiko pada kematian ibu

    dan janin.-4.

    Metode farmakologi dengan analgesika untuk

    menurunkan nyeri dan kecemasan ibu selama

    persalinan memiliki efek samping yang merugikan

    bagi ibu dan janin. Diantaranya adalah ibu dapat

    mengalami hipoksia dan kontraksi uterus menurun,

    sedangkan janin dapat mengalami masalah

    pernapasan dan kesulitan mengisap ASI.-8

    Persalinan di Kalimantan Tengah tahun 2010

    sebanyak 43.550 jiwa sedangkan 10% persalinan

    adalah di Palangka Raya yaitu sebanyak 4.724

    jiwa.9 . Teramati manajemen nyeri persalinan yang

    diberikan pada kelas persiapan persalinan belum

    diterapkan dengan maksimal. Selama periode

    ANC pemeriksaan kehamilan yang diberikan

    bersifat rutin yang diberikan berkisar pada 7T yaitu

    timbang berat badan dan ukur tinggi badan,

    mengukur tekanan darah dan tinggi fundus,

    memberikan imunisasi tetanus toxoid, memberikan

    tablet tambah darah teratur, pemeriksaan

    laboratorium dan wawancara.

    Penelitian ini ingin memperkenalkan

    manajemen nyeri persalinan pada ibu hamil

    menjelang persalinan sehingga memiliki koping

    yang efektif menghadapi pesalinan dan memiliki

    kepuasan terhadap pengalaman persalinan.

    Penelitian ini juga dapat meyakinkan para

    penolong persalinan, sehingga dapat

    menerapkannya saat melakukan praktek di rumah

    sakit, puskesmas maupun klinik pribadi.

    Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya

    pengaruh manajemen nyeri persalinan terhadap

    nyeri persalinan ibu primipara di Kota Palangka

    Raya

    Metodologi Penelitian

    Rancangan penelitian ini menggunakan

    rancangan kuasi eksperimen (quasi experiment)

    dengan nonrandomize pre and post test with

    control group dilanjutkan untuk mengukur

    pengaruh manajemen nyeri persalinan.

    Populasi penelitian ini adalah ibu primipara

    usia 20-40 tahun dengan kehamilan tunggal, usia

    kehamilan 34-36 minggu (usia kehamilan untuk

    mengikuti kelas manajemen persalinan).

    Pengambilan data mulai Juli sampai dengan

    Desember 2012. Cara pengambilan sampel pada

    penelitian ini adalah dengan purposif sampling dan

    untuk kelompok kontrol responden diperoleh

    dengan menggunakan tehnik aksidental sampling.

    Kriteria Inklusi sebagai berikut kehamilan dengan

    presentasi kepala, taksiran berat janin 2500 gram-

    4000gram, persalinan tanpa penyulit, bersedia

    terlibat dalam penelitian dan ibu tinggal di

    Palangka Raya. Sedangkan kriteria eksklusi adalah

    ibu primipara dengan pemberian obat analgesika,

    Ibu dengan ketuban pecah dini lebih dari 20 jam,

    Ibu mendapatkan induksi persalinan, Ibu dengan

    gangguan pendengaran dan visual, Ibu menderita

    penyakit infeksi, Ibu dengan peradangan kulit

    sensitif di area massase. Jumlah sampel ditentukan

    berdasarkan hasil penelitian sebelumnya.

    Perhitungan besar sampel untuk penelitian ini

    berdasarkan rata-rata dan standar deviasi penelitian

    terdahulu yang mendekati. Jumlah sampel minimal

    yaitu 26 ibu primipara. Pengambilan data

    karakteristik responden menggunakan kuesioner

    yang diisi langsung oleh responden. Sedangkan

    data pengetahuan tentang persalinan menggunakan

    kuesioner yang diisi sebelum dan setelah responden

    mendapat pengajaran dalam kelas manajemen nyeri

    persalinan. Kisi-kisi pertanyaan pengetahuan

    dalam kuesioner meliputi pengertian tentang

    persalinan, tanda dan gejala persalinan, nyeri

    persalinan, faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

    persalinan dan cara mengurangi nyeri persalinan.

    Pelaksanaan kelas manajemen nyeri persalinan

    menggunakan protokol dengan memperhatikan

    kriteria inklusi dan esklusi, memberikan

    pengetahuan pada responden dan keluarga yang

    akan mendampingi persalinan bagaimana peran

    serta suami atau anggota keluarga terdekat

    mendukung agar nyeri selama persalinan dapat

    dikurangi. Demonstrasi dan redemonstrasi cara

    menghitung kontraksi, cara mengedan dan teknik

  • Christine Aden, Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan di Kota Palangka Raya

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 68

    mengurangi nyeri persalinan : relaksasi dan

    pengaturan pola pernapasan, perubahan posisi,

    massase/ teknik efflurage, counter pressure pada

    sakrum. Kelas manajemen nyeri persalinan diberikan di

    laboratorium keperawatan maternitas jurusan

    keperawatan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya.

    Sebelum kelas dimulai responden mendapatkan

    pemeriksaan pemeriksaan fisik dan kehamilan

    Vital Sign ; Pengukuran tekanan darah, jumlah

    pernapasan, jumlah nadi dan suhu. Auskultasi

    bunyi napas, Leopold, mengukur tinggi fundus,

    menghitung taksiran berat janin, menghitung

    denyut jantung janin

    menghitung gerak janin, menimbang berat

    badan, memantau tanda udema, memantau

    kontraksi dan merujuk klien jika ada indikasi.

    Responden yang datang didapat dari dari bidan

    klinik swasta dan rumah sakit dr.Doris Sylvanus

    Palangka Raya.

    Materi manajemen nyeri persalinan dibuat

    menjadi sebuah booklet dan petugas pemberi

    informasi adalah peneliti sendiri sehingga

    konsistensi intervensi dapat dipertahankan. Petugas

    duduk berhadapan dengan responden yang bisa

    duduk atau berbaring dengan jarak 1 - 1,5 .

    Responden didampingan suaminya/ keluarga.

    Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya

    jawab, diskusi, demostrasi dan redemonstrasi

    (latihan tindakan mengurangi nyeri persalinan)

    Pendidikan kesehatan dalam satu kelas diberikan

    pada 5-6 responden dengan pasangannya.

    Waktu pelaksanaan intervensi disepakati

    bersama klien. Lamanya waktu penyampaian

    materi sekitar 60 menit atau disesuaikan dengan

    kondisi jika waktu yang dibutuhkan lebih lama dari

    yang ditetapkan. Secara rinci kegiatan 30 menit

    pertama dibagi menjadi pendahuluan selama 5

    menit untuk pemberi materi mengucapkan salam

    pembuka dan memperkenalkan diri serta

    menjelaskan cakupan materi. Penjelasan selama 30

    menit, peneliti memberikan penjelasan mengenai

    materi yang ada dalam booklet dan memberikan

    kesempatan pada responden untuk bertanya bila

    belum jelas. Selanjutnya penutup selama 5 menit

    untuk menyimpulkan materi. Selanjutnya

    pelaksanaan mengurangi nyeri persalinan berupa

    demonstrasi selama 30 menit kedua. Berupa

    aplikasi dari pengetahuan yang dijelaskan 30 menit

    pertama. Demonstrasi ini dilakukan oleh pemberi

    materi dan responden dan pasangan diminta untuk

    redemonstrasi kembali, selama proses ini

    responden diberi kesempatan bertanya. Setelah

    selesai pemberi materi mengucapkan salam

    penutup. Booklet yang telah diberi dibawa pulang

    untuk klien dan keluarga membaca dan melatihnya

    kembali secara teratur sampai pelaksanaan pada

    hari persalinan. Jika dibutuhkan, responden dan

    pasangannya dapat kembali datang untuk

    berkonsultasi tentang materi dan praktek

    manajemen nyeri persalinan.

    Observasi dan pelaksanaan manajemen nyeri

    persalinan dilakukan oleh responden sendiri dan

    keluarganya. Responden diminta untuk

    melaporkan jika saat persalinan mulai dirasakan

    dan menentukan tempat persalinannya agar mudah

    dimonitor oleh peneliti.

    Kepada responden dan keluarga diingatkan

    agar :Jangan cemas dan jangan takut pada

    persalinan, Observasi tanda-tanda persalinan,

    Segera ke BPS (bidan praktik swasta) atau rumah

    sakit tempat merencanakan persalinan dengan

    membawa semua perlengkapan persalinan, mulai

    menghitung kontraksi, Gunakan teknik

    mengurangi nyeri persalinan yang telah diajarkan.

    Tetap kooperatif dengan bidan penolong untuk

    mengetahui skala nyeri, kala persalinan dan dilatasi

    cervik.

    Penolong persalinan yang merupakan

    numerator penelitian ini adalah bidan pemilik

    klinik persalinan swasta dan bidan yang bekerja di

    ruang bersalin dr.Doris Sylvanus yang

    berpendidikan minimal D3 kebidanan yang telah

    berpengalaman lebih dari tiga tahun sebagai bidan

    praktik.

    Numerator tidak diberikan pelatihan

    manajemen nyeri persalinan seperti pada kelompok

    intervensi hal ini dilakukan untuk memaksimalkan

    peran keluarga dan pendamping untuk membantu

    mengurangi nyeri persalinan.

    Agar terdapat kesetaraan dalam pemahaman

    dalam pengukuran/ observasi skala nyeri

    persalinan,antara peneliti dan bidan penolong yang

    ada di ruang bersalin di rumah sakit dan di praktek

    bidan swasta tempat penelitian dilakukan. Peneliti

    dan bidan melakukan persamaaan persepsi

    terhadap alat ukur yang menggunakan lembar

    observasi skala nyeri Visual Analogue Skale

    (VAS) yang telah valid dan terstandar Dalam

    lembar observasi terdapat gambar ekspresi nyeri

    dan ekspresi

    0 = tidak nyeri (tidak ada rasa nyeri).

    1 - 4 = nyeri ringan (ada rasa nyeri, terasa mulai

    mengganggu namun masih dapat

    ditahan).

    5 - 6 = nyeri sedang (ada rasa nyeri dan terus

    mengganggu, ada usaha kuat untuk

    menahan).

    7 8 = nyeri berat (ada rasa nyeri yang sangat mengganggu, ditandai dengan gerakan

    memukul, meremas, menangis).

    9 - 10 = nyeri tak terahankan (ada rasa nyeri yang

    sangat mengganggu, ditandai dengan

    menangis atau berteriak).

    Pada bidan dijelaskan bahwa setiap melakukan

    pemeriksaan dalam per empat jam untuk

    mengetahui dilatasi cervik, bidan langsung menilai

    berapa skala nyeri responden berdasarkan VAS

    serta lansung mengisi pada lembar observasi jam

    pemeriksaan, ukuran dilatasi servik dan skala nyeri.

    Pengukuran skala nyeri berakhir seiring dilatasi

    servik mencapai 10 cm dan persalinan kala II

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 69

    berakhir. Standar Asuhan Persalinan Normal

    dengan pengelolaan nyeri persalinan yang telah

    diketahui numerator (bidan) tetap dipertahankan

    pada semua responden kelompok kontrol dan

    kelompok intervensi.

    Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen

    kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

    Analisis Univariat dilakuakan untuk menganalisis

    karakteristik variabel. Analisis Bivariat

    menggunakan uji T Test Tidak Berpasangan untuk

    mengetahui a) perbedaan pengetahuan kelompok

    intervensi sebelum dan setelah pemberian

    intervensi manajemen nyeri persalinan serta

    perbedaaan pengetahuan kelompok kontrol setelah

    persalinan, b) perbedaan persepsi persalinan antara

    kelompok kontrol dan kelompok intervensi, c)

    perbedaan skala nyeri persalinan kelompok kontrol

    dan kelompok intervensi, dan analisis multivariat

    menggunakan Generalized Estimating Equation

    untuk mengetahui perbedaan pengaruh manajemen

    nyeri persalinan kelompok kontrol dan intervensi.

    Hasil Penelitian

    Karakteristik responden

    Rata-rata umur responden pada kelompok

    intervensi yaitu 21,5 3,6 tahun dengan nilai

    median 20 tahun (95% CI 19,4-23,7). Umur

    termuda yaitu umur 15 tahun dan umur tertua yaitu

    28 tahun. Sedangkan untuk kelompok kontrol rata-

    rata umur responden yaitu 20 2,8 tahun dengan

    nilai median 20 tahun (95% CI 19,3-22,7). Umur

    termuda yaitu 18 tahun dan umur tertua 27

    tahun(Tabel1).

    Pendidikan pada kelompok intervensi paling

    banyak berpendidikan SD (80%) dan yang sedikit

    yaitu berpendidikan SMP (40%). Sedangkan pada

    kelompok kontrol paling banyak yaitu

    berpendidikan SMP (60%) dan yang paling sedikit

    yaitu SMA (57,1%) (Tabel 2). Pekerjaan responden

    pada kelompok intervensi dan kontrol besarannya

    adalah sama yaitu 50% bekerja dan 50% tidak

    bekerja. Penghasilan rata-rata pada kelompok

    intervensi sebesar Rp 2.800.000 855.000 dengan

    nilai median Rp 3.000.000 (95% CI 2.290.000 3.320.000) . Penghasilan terendah yaitu Rp

    2.000.000 dan penghasilan tertinggi yaitu Rp

    5.000.000. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-

    rata penghasilan yaitu Rp 2.300.000 1.082.000

    dengan nilai median Rp 2.000.000 (95% CI Rp

    2.290.000 Rp 3.320.000). Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata

    penghasilan yaitu Rp 2.300.000 1.082.000

    dengan nilai median Rp 2.000.000 (95% CI Rp

    2.290.000 Rp 3.320.000). Penghasilan terendah yaitu Rp 1.000.000 dan penghasilan tertinggi yaitu

    Rp 5.000.000. Untuk persiapan persalinan dari

    kelompok intervensi lebih banyak yang melakukan

    cuti < 7 bulan (100%) sedangkan pada kelompok

    kontrol lebih banyak yang melakukan cuti pada

    bulan ke-7 masa kehamilan. (Tabel 1)

    Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan Umur, Pendidikan, Penghasilan,

    Pekerjaan, Persiapan/Cuti pada Kelompok yang Diberi Pelatihan Manajemen Nyeri dan Kontrol,

    Palangka Raya (n=26), 2012

    Karakteristik Manajemen Nyeri Kontrol

    Umur (tahun)

    Rata-rata

    Median

    SD

    Min-Maks

    95% CI

    21,5

    20,0 3,6

    15 28 19,4 23,7

    20,0

    20,0 2,8

    18 27 19,3- 22,7

    Pendidikan

    SD

    SMP

    SMA

    PT

    4 (80%)

    2 (40%)

    6 (42,9%)

    1 (50%)

    1 (20,0%)

    3 (60%)

    8 (57,1%)

    1 (50%)

    Pekerjaan

    Kerja

    Tidak kerja

    8 (50%)

    5 (50%)

    8 (50%)

    5 (50%)

    Penghasilan

    (juta)

    Rata-rata

    Median

    SD

    Min-Maks

    95% CI

    2.810 3.000

    855.000

    2.000 5.000 2.290 3.320

    2.300 2.000

    1.082

    1.000 5.000 1.690 2.950

    Persiapan/cuti

    7 bulan

    Tidak

    3 (100%)

    1 (33,3%)

    4 (50%)

    5 (50%)

    0 (0%)

    2 (66,7%)

    4 (50%)

    7 (58,3%)

  • Christine Aden, Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan di Kota Palangka Raya

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 70

    Uji Homogenitas Responden

    Tabel 2 menjelaskan hasil analisis uji leven test terhadap

    umur didapatkan nilai p > sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan yang bermakna (homogen) pada

    karakteristik umur ibu primipara pada kelompok

    intervensi dengan kelompok kontrol (nilai p = 0,363 >

    0,05). Demikian pula dengan variabel pendidikan dengan

    nilai p = 0,515 > 0,05 menyatakan bahwa tidak ada

    perbedaan yang bermakna tingkat pendidikan ibu pada

    kelompok intervensi dan kontrol. Pekerjaan responden

    pada kelompok intervensi dan kontrol tidak ada perbedaan

    (nilai p=1,000 > 0,05). Penghasilan dan persiapan cuti

    juga tidak ada perbedaan yang signifikan, berturut-turut

    nilai p= 0,452 dan 0,277.

    Tabel 2. Uji Homogenitas Karakteristik Responden berdasarkan Umur, Pendidikan, Penghasilan, Pekerjaan,

    Persiapan Cuti pada Kelompok yang Diberi Pelatihan Manajemen Nyeri dan Kontrol,

    Palangka Raya (n=26), 2012

    Karakteristik Manajemen

    Nyeri

    Kontrol Nilai

    P

    Umur (tahun)

    Rata-rata

    Median

    SD

    Min-Maks

    95% CI

    21,5 20,0

    3,6

    15 28 19,4 23,7

    20,0 20,0

    2,8

    18 27 19,3 22,7

    0.363

    Pendidikan

    SD

    SMP

    SMA

    PT

    4 (80%)

    2 (40%) 6 (42,9%)

    1 (50%)

    1 (20,0)

    3(60%) 8(57,1)

    1(50%)

    0.515

    Pekerjaan

    Kerja

    Tidak kerja

    8 (50%) 5 (50%)

    8(50%) 5(50%)

    1.000

    Penghasilan (juta)

    Rata-rata

    Median

    SD

    Min-Maks

    95% CI

    2.810 3.000

    855.000

    2.000 5.000

    2.290 3.320

    2.300 2.000

    1.082

    1.000 5.000 1.690 2.950

    0.452

    Persiapan/cuti

    7 bulan

    Tidak

    3 (100%)

    1 (33,3%) 4 (50%)

    5 (50%)

    0 (0%)

    2(66,7) 4(50%)

    7(58,3)

    0.277

    Persepsi Responden terhadap Persalinan

    Pada kelompok intervensi persepsi responden

    terhadap persalinan sebelum dilakukan intervensi

    responden yang merasa tidak cemas dan percaya diri

    (TCPD) sebanyak 3 orang dan yang merasa cemas

    dan tidak percaya diri sebanyak 10 orang (CTPD).

    Setelah dilakukan intervensi jumlah responden yang

    merasa TCPD meningkat menjadi 11 orang

    sedangkan yang CPTD menurun menjadi

    2 orang. Pada kelompok kontrol persepsi awal dan

    akhir penelitian tidak mengalami perbedaan yang

    berarti. Reponden yang merasa TCPD 1 orang

    sedangkan yang CTPD 12 orang. ( tabel 3).

    Berdasarkan uji Generalized Estimating Equation

    didapatkan hasil nilai p = 0.000 < 0,05. Artinya ada

    perubahan persepsi pada kelompok intervensi

    sebesar 2,2 kali sebelum intervensi dan sesudah

    intervensi setelah dikontrol variabel kontrol

    (placebo).

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 71

    Tabel 3. Persepsi Responden sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan pada kelompok yang diberi Pelatihan

    Manajemen Nyeri dan kontrol, Palangka Raya (N=26), 2012

    Kelompok Persepsi

    sebelum

    Persalinan

    Persepsi

    sesudah

    Persalinan

    Tcpd Ctpd Tcpd Ctpd

    Kontrol 1 12 1 12

    Intervensi 3 10 11 2

    Skala Nyeri Ibu Bersalin

    Pada skala nyeri pemeriksaan dalam (PD) ke I

    tidak ada perbedaan proporsi skala nyeri pada

    kelompok intervensi dan kontrol (nilai P = 0,782).

    Namun bila dilihat dari substansi terlihat adanya

    perbedaan proporsi antara kelompok intervensi dan

    kontrol. Pada t dan kelompok intervensi persentase

    skala terbanyak ada pada skala nyeri ringan

    (61,1%) dibandingkan dengan skala nyeri sedang,

    sementara skala nyeri berat dan tak tertahankan

    tidak ada (0%). Pada kelompok kontrol lebih

    banyak pada kelompok nyeri berat dan tak

    tertahankan (100%), nyeri sedang sebanyak (60%),

    nyeri ringan (38,9%).

    Pada skala nyeri PD ke II, terdapat perbedaan

    proporsi skala nyeri antara kelompok intervensi

    dan kelompok kontrol (nilai P=0,038). Pada

    kelompok intervensi skala nyeri ringan lebih

    banyak (88,9%) diikuti dengan skala nyeri sedang

    (37,5%) dan skala nyeri berat (33,3%). Sedangkan

    skala nyeri tak tertahankan tidak ada. Pada

    kelompok kontrol, skala nyeri terbanyak yaitu pada

    skala nyeri tak tertahankan (100%) diikuti dengan

    skala nyeri berat (66,7%), skala nyeri sedang

    (62,5%) dan skala nyeri ringan (11,1%).

    Skala nyeri PD ke III pada kelompok

    intervensi dan kontrol secara statistik tidak ada

    perbedaan (nilai P = 0,270). Pada kelompok

    intervensi proporsi terbanyak yaitu pada nyeri

    sedang (100%) diikuti dengan nyeri ringan

    (66,7%), nyeri berat (57,1%), tak tertahankan 0

    (0%). Sedangkan pada kelompok kontrol proporsi

    terbanyak pada nyeri tak tertahankan (100%), nyeri

    berat (42,9%), nyeri ringan (33,3%), dan nyeri

    sedang 0 (0%). (Tabel 4.)

    Tabel 4 Perbedaan Skala Nyeri Persalinan pada Kelompok yang Diberi Pelatihan Manajemen Nyeri dan

    Kontrol, Palangka Raya (n=26), 2012

    Karakteristik Manajemen

    Nyeri

    Kontrol Nilai

    P

    Skala Nyeri PD I

    1 4 = nyeri ringan

    5 6 = nyeri sedang 7 8 = nyeri berat 9- 10 = nyeri tak

    tertahankan

    11 (61,1%)

    2 (40%)

    0 (0%)

    0 (0%)

    7(38,9%)

    3 (60%)

    1 (100%)

    1 (100%)

    0,782

    Skala Nyeri PD II

    1 - 4 = nyeri ringan

    5 - 6 = nyeri sedang

    7 8 = nyeri berat 9- 10 = nyeri tak

    terahankan

    8 (88,9%)

    3 (37,5%)

    2 (33,3%)

    0 (0%)

    1(11,1%)

    5(62,5%)

    4(66,7%)

    2 (100%)

    0,038

    Skala Nyeri PD III

    1 - 4 = nyeri ringan

    5 - 6 = nyeri sedang

    7 8 = nyeri berat

    9- 10 = nyeri tak

    terahankan

    2 (66,7%)

    6 (100%)

    4 (57,1%)

    0 (0%)

    1(33,3%)

    0 (0%)

    3(42,9%)

    2 (100%)

    0,063

    *Berdasarkan uji Kolmogorov Smirnov

  • Christine Aden, Pengaruh Manajemen Nyeri Persalinan di Kota Palangka Raya

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 72

    Dilatasi Cervik (Pembukaan Persalinan)

    Ukuran dilatasi servik pada pemeriksaan

    dalam (PD) I pada kelompok intervensi rata-rata

    2,1 cm 1 dengan nilai median 2 (95% CI 1,5 2,7 cm). Ukuran dilatasi terkecil yaitu 0 (tidak ada

    pembukaan) ukuran dilatasi terbesar adalah 4 cm.

    Pada kelompok kontrol ukuran dilatasi pada PD I

    4,6 cm 2,7 dengan nilai median 4 cm (95% CI 3,0

    - 6,1). Ukuran dilatasi yang terkecil yaitu 0 (tidak

    ada dilatasi) dan ukuran dilatasi terbesar yaitu 10

    cm.

    Ukuran dilatasi servik pada pemeriksaan

    dalam (PD) II pada kelompok intervensi rata-rata

    5,2 cm 2,6 (95% CI 3,7-6,8) dengan nilai median

    5. Ukuran dilatasi terkecil yaitu 2 cm dan terbesar

    10 cm. Pada kelompok kontrol ukuran dilatasi

    servik pada PD II 7,5 cm 2,9 (95% CI 5,7-9,3).

    Ukuran dilatasi terkecil yaitu 0 (dalam hal ini

    responden sudah melahirkan) dan ukuran dilatasi

    terbesar yaitu10.

    Ukuran dilatasi servik pada PD III dalam

    kelompok intervensi rata-rata 7,4 cm 3,4 (95%

    CI 5,3-9,5) dengan nilai median 10. Ukuran dilatasi

    terkecil yaitu 0 cm (dalam hal ini responden sudah

    melahirkan) dan terbesar 10 cm. Pada kelompok

    kontrol ukuran pembukaan PD III 5,2 cm 5 (95%

    CI 2,1-8,2). Ukuran dilatasi terkecil yaitu 0 (dalam

    hal ini responden sudah melahirkan) dan ukuran

    pembukaan terbesar yaitu 10.

    Ukuran dilatasi servik PD IV pada kelompok

    intervensi rata-rata 2,3 cm 3,5 (95% CI 0,2-4,4)

    dengan nilai median 0. Ukuran dilatasi terkecil

    yaitu 0 cm (dalam hal ini responden sudah

    melahirkan) dan terbesar 10 cm. Pada kelompok

    kontrol ukuran dilatasi PD IV 0,7 cm 2,8 (95%

    CI -0,9-2,5). Ukuran pembukaan terkecil yaitu 0

    (dalam hal ini responden sudah melahirkan) dan

    ukuran pembukaan terbesar yaitu 10.

    Perbedaan Dilatasi Servik Berdasarkan

    Pemeriksaan Dalam ditunjukan pada tabel 5.

    menunjukkan adanya interaksi antara manajemen

    nyeri dengan waktu pengamatan pada pengamatan

    ke-3 (=0,005 < 0,01). Pada pengamatan ke-3, manajemen nyeri menaikan rata-rata pembukaan

    persalinan sebesar 4,5 cm

    .

    Tabel 5. Koefisien, Simpang Galat dan Nilai p Efek Metode Manajemen Nyeri Terhadap Pembukaan

    Persalinan Ibu saat Bersalin di Kota Palangka Raya, 2012

    Predikto r

    K oefisien Sim pang

    galat N ilai p

    a

    Konstanta

    4,3

    0,8

    0,05 pada kelompok intervensi dan kontrol.

    Dari karakteristik pendidikan pada kelompok

    intervensi paling banyak berpendidikan SD (80%)

    dan yang sedikit yaitu berpendidikan SMP (40%).

    Sedangkan pada kelompok kontrol paling banyak

    yaitu berpendidikan SMP (60%) dan yang paling

    sedikit yaitu SMA (57,1%).

    Rata-rata nilai pengetahuan responden sebelum

    intervensi pada kelompok intervensi yaitu 54,2 7,2

    dengan nilai median 55,1 (95%CI 49,8-58,6). Nilai

    pengetahuan terendah 46,4 dan tertinggi 72,5. Rata-

    rata nilai pengetahuan responden sesudah intevensi

    yaitu 49,5 6,1 dengan nilai median 46,4 (95% CI

    45,8-53,2). Nilai terendah 43,5 dan tertinggi 60,9.

    Sedangkan pada kelompok kontrol hanya diukur

    diakhir, sehingga nilai pre dianggap sama dengan

    nilai post. Rata-rata nilai untuk kelompok kontrol

    yaitu 52,2 5,9 (95% CI 48,6 55,8) dengan nilai median 52,2. Nilai terendah 43,5 dan tertinggi 66,7.

    Dari aspek pengetahuan pada penelitian ini

    ditemukan tidak ada perbedaan nilai pengetahuan

    responden pada kelompok kontrol dan kelompok

    intervensi pre dan post test.

    Tampak bahwa hasil pengajaran yang telah

    diberikan peneliti untuk responden kelompok

    intervensi meliputi pengertian persalinan normal,

    tanda dan gejala persalinan, nyeri persalinan, faktor-

    faktor yang mempengaruhi persalinan dan cara

    mengurangi nyeri persalinan tidak berbeda dengan

    responden kelompok kontrol. Kondisi ini dapat di

    telaah kembali pada penelitian berikutnya untuk

    mencari penyebabnya antara lain tehnik pengajaran,

    bahasa dan istilah yang dipergunakan. Adanya

    stimulasi dan sensasi dari ruangan tempat mengajar

    banyak gambar phantom alat laboratorium yang

    dapat mengalihkan perhatian responden kelompok

    intervensi sehingga nilai pengetahuan sebelum dan

    setelah intervensi manajemen nyeri persalinan dapat

    meningkat.

    Secara sustansi teramati oleh bidan/ numerator

    bahwa responden kelompok intervensi tampak

    mendemonstrasikan dengan baik tehnik melakukan

    manajemen nyeri persalinan dan hal ini tidak

    dilakukan dengan baik oleh kelompok intervensi.

    Dapat disimpulkan bahwa walaupun dari aspek

    pengetahuan tidak berbeda dengan kelompok

    kontrol tetapi tehnik untuk mengurangi persalinan

    dapat di terima dengan baik oleh kelompok

    intervensi dari proses latihan sebelumnya.

    Tidak dipungkiri bahwa setiap responden dari

    kelompok kontrol pun akan berusaha mencari

    informasi terntang persalinan dan rasa nyeri yang

    akan dialami dari berbagai sumber, tetapi tidaklah

    cukup jika tidak disertai latihan untuk tentang tehnik

    untuk mengurangi nyeri persalinan.

    Teramati oleh bidan penolong/numerator bahwa

    sangat berbeda respon serta perilaku yang

    ditunjukkan oleh kelompok intervensi dan

    kelompok kontrol. Perilaku lebih kooperatif

    ditunjukkan oleh kelompok intervensi dalam

    mengatasi rasa nyeri persalinan. Responden lebih

    percaya diri menghadapi nyeri dengan

    menggunakan berbagai tehnik. Ibu yang percaya

    diri pada kemampuannya (koping efektif)

    menghadapi persalinan , ia akan menunjukkan

    koping yang efektif selama persalinan3,13,14

    Semua responden dalam proses persalinan di

    dukung oleh keluarga atau suami. Dukungan

    tersebut sebagai bentuk adanya pengetahuan

    keluarga setelah mengikuti manajemen nyeri

    persalinan. Berbeda dengan keluarga dan suami

    yang sudah memahami manajemen nyeri persalinan

    maka respon rasa perduli akan apa yang dibutuhkan

    ibu selama periode persalinan cepat terpenuhi. Pada

    kelompok kontrol, peran suami dan keluarga hanya

    sebagai pendamping dan respon yang ditunjukkan

    tidaklah semaksimal keluarga yang telah memiliki

    pengetahuan. Namun demikian dukungan

    manajemen nyeri persalinan juga diberikan oleh

    bidan penolong di klinik sesuai standar Asuhan

    Persalinan Normal (APN) pada semua ibu bersalin.

    Kesimpulan dan Saran

    Berdasarkan analisis karakteristik responden

    ditemukan rata-rata umur responden pada kelompok

    intervensi yaitu 21,5 tahun dengan umur termuda

    yaitu umur 15 tahun dan umur tertua yaitu 28 tahun.

    Rata-rata umur responden kelompok kontrol yaitu

    20 tahun dengan umur termuda yaitu 18 tahun dan

    umur tertua 27 tahun. Mayoritas pendidikan pada

    kelompok intervensi dan pada kelompok kontrol

    pendidikan dasar (SD dan SMP). Pekerjaan

    responden pada kelompok intervensi dan kontrol

    adalah sama besar antara bekerja dan tidak bekerja.

    Rata-rata penghasilan kelompok intervensi sebesar

    Rp 2.800.000 dan rata-rata penghasilan kelompok

    kontrol yaitu Rp 2.300.000 . Kelompok intervensi

    lebih banyak yang melakukan cuti < 7 bulan (100%)

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 77

    sedangkan pada kelompok kontrol lebih banyak

    yang melakukan cuti pada bulan ke-7 masa

    kehamilan. Ada perubahan persepsi persalinan pada

    kelompok intervensi sebesar 2,2 kali sebelum

    intervensi dan sesudah intervensi manajemen nyeri

    persalinan. Nyeri sedang ditemukan pada kelompok

    intervensi yang menggunakan tehnik manajemen

    nyeri persalinan. Terdapat peningkatan rata-rata

    dilatasi cervik sebesar 4,5 cm pada kelompok

    intervensi. Tidak ada perbedaan nilai pengetahuan

    antara sebelum dan sesudah intervensi pada

    kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Secara

    substansi pada kelompok intervensi yang telah

    mendapatkan pengetahuan tentang manajemen

    nyeri persalinan teramati dapat menerapkan dan

    memadukan tehnik mengurangi nyeri persalinan

    secara mandiri dan dengan dukungan keluarga.

    Saran yang diajukan 1). Bagi Institusi

    Pelayanan Kebidanan, berdasarkan hasil penelitian,

    maka disarankan agar pemberian manajemen nyeri

    dapat diintegrasikan saat pemberian pendidikan

    kesehatan antenatal dalam bentuk komunikasi yang

    lebih intensif dan latihan yang terjadual. 2). Bagi

    penelitian selanjutnya, materi manajemen nyeri,

    metode pengajarannya jumlah responden dan tehnik

    pengumpulan data, perlu disempurnakan kembali

    pada penelitian selanjutnya mengontrol

    counfonding faktor usia, pendidikan, penghasilan,

    pekerjaan, persiapan persalinan, agama, dukungan

    keluarga, budaya dan lingkungan persalinan

    terutama di rumah sakit. 3). Bagi institusi

    pendidikan, penelitian ini dapat menjadi

    pertimbangan rujukan sebagai bahan ajar untuk

    meningkatkan kemampuan mahasiswa pada tehnik

    mengurangi nyeri persalinan.

    Daftar Pustaka

    1.Bobak, M.I, Lodermik, L.D., & Jensen, D.M.

    (2005). Buku ajar keperawatan maternitas. Alih

    bahasa Maria A.Wijayarini & Peter I.Anugerah.

    Jakarta: ECG.

    2.Cunningham, F.G.; McDonald, P.C.; Gant, N.F.

    1993. Williams Obstetrics, 19th

    ed. Prentice-Hall

    Int., Norwalk, CT, USA. William

    3.Reeder.,Martin, & Griffin, (2003).Keperawatan

    maternitas ed 18: Kesehatan wanita, bayi dan

    keluarga. Jakarta: ECG.

    4 Nichols,H Francine & Humenick, S

    Sharron.(2000).Childbirth education,

    practice,research and theory.(2nd

    ed).Philadelphia:Saunders.

    5.Brown, Dauglas & Flood(2001).Womens

    evaluation of intrapartum nonpharmacological

    pain relief methods used during labor.J Perinat

    Educ

    6.Davim, Torres & Dantas (2009) Effectiveness of

    non pharmacological strategies in relieving labor

    pain.Rev Esc Enferm USP

    2009.www.ee.usp.br/reeups

    7.Hamid (2010) Comparison between massage and

    music therapiesto relieve the severity of labor

    pain.Womens Health 6.3 p.377-381

    http://search.proquest.com/docview/577558656

    8.Dale (1995).Management of pain in

    childbirth.International Journal of Childbirth

    Education 10.4

    http://search.proquest.com/docview/212865810

    9.Dinkes Propinsi Kalimantan Tengah, 2012

    10.Sarwono, Prawiroharjo (2009).Ilmu

    Kebidanan.Jakarta.Bina Pustaka

    11. Ip WY, Tang CS, Goggins WB.An educational

    intervention to improve women's ability to cope

    with childbirth.. J Clin Nurs. 2009

    Aug;18(15):2125-35. doi: 10.1111/j.1365-

    2702.2008.02720.x

    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19583645

    12. Chang MY, Wang SY, Chen CH (2002).

    Effects of massage on pain and anxiety during

    labour: a randomized controlled trial in Taiwan.

    J Adv Nurs. 2002 Apr;38(1):68-73

    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1189553

    2

    13.Mortazavi, et all (2012). Effects of massge

    therapy and presence of attendant on pain,

    anxiety and satisfaction during labor.Arch

    Gynecol Obstct 2012.

    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2227123

    9

    14.Martin & Fleming (2011). The birth satisfaction

    scale.International Journal of Health Care

    Quality Assurance Vol 24 Iss:2,pp 124-135

  • Demsa, Yanti, Jon, Analisis Kesesuaian antara Hasil Pengukuran Antropometri dengan Persepsi Ibu Hamil

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 78

    Analisis Kesesuaian Antara Hasil Pengukuran Antopometri Dengan Persepsi

    Mengenai Status Gizi Ibu Hamil

    Anthropometri Conformity of Nutritional Status in Pregnant Women

    Demsa Simbolon, Yanti Sutrianti, Jon Farizal

    Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Jl. Indragiri No.3 Padang Harapan Bengkulu

    Abstrak. Tingginya masalah kurang gizi di berbagai daerah merupakan beban ganda masalah gizi di Indonesia.

    Hal ini secara signifikan akan meningkatkan Angka Kematian Ibu (AKI). Masalah kematian dan kesakitan pada

    ibu sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan dalam masyarakat dimana

    mereka berada. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui kesesuaian antara hasil pengukuran antropometri

    dengan persepsi ibu hamil mengenai status gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Bermani Ulu tahun 2013.

    Penelitian ini menggunakan Cross Sectional Study. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling,

    dengan menggunakan cara Cluster Random Sampling, jumlah sampel yaitu 82 ibu hamil. Uji statistik yang

    digunakan adalah Chi-Square, uji Kappa Cohen dan regresi logistik multivariat. Hasil Uji Kappa Cohen

    menunjukkan ketidaksesuaian hasil pengukuran LILA (kappa cohen =0,111 dan nilai p value > 0,05) dan

    pengukuran tinggi badan (kappa cohen= -0,06 dan nilai p value > 0,05) antara persepsi ibu dan hasil pengukuran

    antropometri. Faktor yang mempengaruhi kesesuaian pengukuran tinggi badan adalah umur, pendidikan dan

    pengetahuan. Faktor yang berhubungan dengan kesesuaian LILA adalah pengetahuan. Instansi kesehatan

    khususnya Puskesmas Bermani Ulu diharapkan melakukan penyuluhan untuk memperbaiki persepsi ibu hamil.

    Meningkatkan pengetahuan ibu tentang status gizi yang baik. Sehingga lebih dini, dapat dilakukan tindakan

    untuk menghindari masalah akibat status gizi yang buruk.

    Kata Kunci : Kesesuaian Antropometri, Status Gizi Hamil, Persepsi.

    Abstract. In many regions, malnutrition is a double burden of nutrition in Indonesia. This will significantly

    increase the Maternal Mortality Rate (MMR). Problems on maternal mortality and morbidity related to socio-

    cultural factors and environment in communities where they are located. This study aimed to know

    correspondence between the results of anthropometric measurements with maternal perception regarding

    nutritional status in Ulu Bermani Working Area Health Center in 2013. This study used cross-sectional study

    approach. Sampling technique was used cluster random sampling method, the sample size was 82 pregnant

    women. The statistical test was a Chi-Square test, Kappa Cohen's and multiple logistic regression. Kappa

    Cohen's test showed discrepancies MUAC measurements (cohen kappa = 0,111 and p value> 0,05) and height

    measurement (cohen kappa = -0,06 and p value> 0.05) between maternal perception and anthropometric

    measurements. Factors affecting the suitability of height measurement is mother's age, education and knowledge.

    Factors relating to the suitability of MUAC measurement was mothers knowledge. Health agencies in particular PHC Ulu Bermani was expected to conduct outreach to improve the perception of pregnant women. Increasing

    knowledge of mothers about good nutritional status so that it can be tackled the problems due to poor nutritional

    status. Keywords: Suitability Anthropometric, Nutritional Status of Pregnant, Perception.

    Pendahuluan

    Badan Kesehatan dunia (WHO) melaporkan angka

    kematian ibu diseluruh dunia diperkirakan 585.000

    kelahiran hidup pada setiap tahunnya. Di Asia

    Tenggara, Indonesia merupakan penyumbang AKI

    tertinggi (DepKes, 2010). Laporan data terakhir hasil

    Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia AKI

    Indonesia sangat tinggi mencapai angka 339 per

    100.000 kelahiran hidup (BPS, 2012). Salah satu faktor

    yang berhubungan dengan peningkatan kematian ibu

    adalah buruknya status gizi ibu hamil. Penilaian status

    gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak

    langsung. Penilaian status gizi langsung diantaranya

    adalah pengukuran antropometri. Pengukuran

    antropometri yang dapat dilakukan adalah

    dengan mengukur berat badan (BB), tinggi badan (TB)

    dan lingkar lengan atas (LILA) ibu hamil (Departemen

    Gizi dan Kesmas, 2007).

    Kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil

    merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab

    utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang

    merupakan faktor utama kematian ibu. Gizi ibu

    sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi

    pertumbuhan janin yang dikandung (Waryono, 2010).

    Kekurangan energi kronis (KEK) adalah keadaan ibu

    hamil dan wanita usia subur (WUS) yang kurang gizi

    diakibatkan oleh kekurangan asupan energi dan protein

    yang berlangsung terus-menerus yang dapat

    mengakibatkan timbulnya gangguan penyakit tertentu

    (Depkes, 2002). Di Negara berkembang seperti

    Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, Nepal,

    Srilangka dan Thailand prevalensi wanita yang

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 79

    mengalami KEK adalah 15-47% yaitu BMI< 18,5.

    Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007

    menunjukkan prevalensi ibu hamil resiko KEK di

    Indonesia sebesar 21,6% dengan range 11,8%

    (Provinsi Riau) sampai (32,4%). Di wilayah Sumatera,

    prevalensi KEK tertinggi di Provinsi Bengkulu

    (25,6%), prevalensi KEK tertinggi di wilayah Curup

    bagian Utara mencapai 34,52%. Salah satu kecamatan

    Curup Utara adalah wilayah kerja Puskesmas Bermani

    Ulu.

    Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian anemia

    dan KEK salah satunya adalah status gizi yang kurang.

    Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat

    keseimbangan dan keserasian antara perkembangan

    fisik dan perkembangan mental orang tersebut. Tingkat

    status gizi optimal akan tercapai apabila kebutuhan zat

    gizi juga terpenuhi (Hananto, 2002). Status gizi ibu

    hamil pada waktu pembuahan dan selama hamil dapat

    mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang

    dikandung. Untuk kesehatan ibu selama hamil maupun

    pertumbuhan dan aktivitas dan deferisiensi janin, maka

    ibu dalam keadaan hamil harus cukup mendapat

    makanan bagi dirinya sendriri maupun bagi janinnya

    (Paath, 2005). Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat

    menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada

    wanita hamil tersebut. Kekurangan makanan dapat

    menyebabkan anemia, abortus, partus

    prematurus,inersia uteri, hemoragia post partum, sepsis

    puerperalis, BBLR, dan sebagainya. Sedangkan makan

    secara berlebihan karena wanita tersebut salah mengerti

    bahwa ia makan untuk dua orang dapat pula

    mengakibatkan komplikasi antara lain bayi terlalu besar

    dan sebagainya.

    Kecukupan zat gizi selama hamil baru dapat

    dipantau melalui parameter keadaan kesehatan ibu dan

    berat lahir janin. Meskipun baku penilaian status gizi

    wanita yang tidak hamil tidak dapat diaplikasikan pada

    wanita hamil, perubahan fisiologis selama hamil dapat

    digunakan sebagai petunjuk. Berat badan yang rendah

    sebelum konsepsi, serta pertambahan berat yang tidak

    adekuat merupakan penilaian langsung yang dapat

    digunakan untuk menilai laju pertumbuhan janin. Berat

    lahir berkorelasi positif dengan pertambahan berat total

    selama hamil. Pemeriksaan antropometri yang biasa

    dilakukan adalah penimbangan berat (BB), pengukuran

    tinggi (TB), penentuan berat ideal dengan indeks masa

    tubuh (IMT), dan pola pertambahan berat badan. Tinggi

    badan ibu hamil dikatakan normal, jika tinggi badannya

    > 145 cm. Ibu yang tingginya >145cm cenderung

    mempunyai pertambahan berat badan yang lebih besar

    daripada ibu yang pendek (Kurniasih et al. 2010).

    Hasil survei awal yang dilakukan peneliti di

    Puskesmas Bermani Ulu pada tanggal 11 Desember

    2012 terhadap 9 orang ibu hamil, terdapat 6 orang ibu

    hamil memasuki usia TM III dan 3 orang ibu hamil

    memasuki usia TM II. Dari hasil wawancara didapatkan

    bahwa 3 ibu hamil berpendidikan dasar (SD-SMP), 5

    ibu hamilberpendidikan menengah (SMA) dan 1 ibu

    hamilberpendidikan Perguruan Tinggi. Semua ibu

    hamil berumur sekitar 20 -35 tahun. Disamping itu,

    didapatkan ibu hamil yang tidak bekerja (Ibu Rumah

    Tangga) 5 responden, bekerja sebagai petani 3 ibu

    hamildan 1 ibu hamilbekerja swasta. Dari hasil

    wawancara juga diperoleh bahwa, seluruh ibu

    hamilmempunyai pengetahuan yang baik mengenai

    dampak dari kekurangan gizi dan mengenai makanan

    yang tidak baik dikonsumsi oleh ibu hamil. Serta

    hampir seluruh ibu hamil (88,8%) mempunyai persepsi

    yang salah mengenai penambahan berat badan yang

    normal selama hamil, dan sebagian kecil ibu hamil

    (11,1%) yang berpendidikan SD menjawab tidak tahu.

    Dan hampir seluruh ibu hamil (88,8%) mengatakan

    bahwa berat badan dan tinggi badannya sudah

    memenuhi kriteria berat badan dan tinggi badan yang

    normal selama hamil serta ibu dalam keadaan sehat.

    Persepsi lain mengenai status gizi , dilihat juga dari pola

    konsumsi makanan. Terdapat 6 ibu hamil dengan

    pendidikan SD-SMA mengatakan bahwa

    mengkonsumsi kopi selama hamil tidak berpengaruh

    buruk pada bayi yang dikandung, hanya 1 ibu dengan

    pendidikan perguruan tinggi yang tidak sependapat

    dengan pernyataan tersebut, dan 1 ibu menjawab ragu-

    ragu.

    Berdasarkan hasil pengukuran antopometri

    terhadap 9 orang ibu hamil yang ada di Wilayah kerja

    Puskesmas Bermani Ulu didapatkan 7 dari 9 ibu yang

    berpendapat bahwa berat badan dan tinggi badan ibu

    sekarang sudah memenuhi kriteria yang normal selama

    hamil dan ibu dalam keadaan sehat. Terdapat 5 ibu

    hamilyang hasil pengukuran berat badannya tidak

    sesuai dengan kriteria berat badan yang normal selama

    hamil atau tidak sesuai dengan pendapat ibu, dan 2 ibu

    hamil yang hasil pengukuran tinggi badannya tidak

    sesuai dengan kriteria tinggi badan yang normal

    sealama hamil.

    Perubahan pengetahuan, persepsi, sikap, perilaku,

    gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan

    mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan

    yang konsumsi. Perubahan pengetahuan, sikap,

    perilaku, persepsi dan pola makan, serta peningkatan

    pendapatan masih dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial

    ekonomi, budaya dan politik yang dapat mempengaruhi

    status gizi seseorang, khususnya status gizi ibu hamil

    (Surasmo, 2002).

    Ketidaksesuaian antara persepsi ibu dengan

    pengukuran antopometri dapat berdampak pada

    masalah kesehatan, sehingga jika hal ini tidak ditindak

    lanjuti akan berdampak tidak baik, tidak hanya pada ibu

    itu sendiri, tetapi kepada janin yang sedang dikandung.

    Dampak dari persepsi ibu yang salah tersebut akan

    berpengaruh terhadap status gizi ibu. Karena ibu yang

    menganggap berat badan dan tinggi badannya sudah

    memenuhi kriteria yang normal selama hamil, ternyata

    setelah dilakukan pengukuran hasilnya tidak sesuai. Ibu

    hamil yang mempunyai persepsi yang salah karena

    tidak mengetahui keadaan tentang status gizinya.

    Ketidaksesuaian ini kemungkinan berkaitan persepsi

    yang salah tentang makanan, rendahnya pengetahuan

    ibu. Namun belum ada penelitian yang menganalisis

    bagaimakah kesesuaian antara hasil pengukuran

  • Demsa, Yanti, Jon, Analisis Kesesuaian antara Hasil Pengukuran Antropometri dengan Persepsi Ibu Hamil

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 80

    antropometri dengan persepsi ibu hamil mengenai

    status gizinya. Berdasarkan uraian di atas maka perlu

    dilakukan penelitian untuk menganalisis kesesuaian

    antara hasil pengukuran antropometri dengan persepsi

    ibu hamil mengenai status gizinya dan menganalisis

    faktor-faktor yang berhubungan dengan kesesuaian

    pengukuran. Hasil penelitian diharapkan menjadi

    masukan penting dalam perbaikan perilaku ibu dalam

    pemeliharaan status gizi dan kehamilannya.

    Metode

    Desain penelitian menggunakan pendekatan Cross

    Sectional. Variabel independen adalah karakteristik ibu

    hamil (pendidikan, paritas, pendapatan umur), perilaku

    ibu hamil (pengetahuan, sikap dan praktek) dan

    variabel dependen (kesesuaian pengukuran

    antropometri). Populasi adalah seluruh ibu hamil yang

    ada di Wilayah Kerja Puskesmas Bermani Ulu yang

    berjumlah 139 orang. Teknik sampling secara cluster

    sampling yaitu pengambilan sampel secara gugus

    (cluster), peneliti mendaftar banyaknya kelompok atau

    gugus yang ada dalam populasi itu (Notoatmodjo,

    2010). Pada setiap desa terpilih, diambil sampel secara

    simple random sampling. Berdasarkan rumus besar

    sampel untuk uji hipotesis perbedaan proporsi, sampel

    minimal yang dibutuhkan adalah 82 orang ibu hamil.

    Dari 139 ibu hamil akan diambil 82 orang ibu hamil

    secara cluster dari 6 desa. Data primer diambil dengan

    cara pembagian kuesioner kepada ibu hamildan

    melakukan pengukuran antropometri. Pengumpulan

    data dibantu 2 orang mahasiswa yang telah mendapat

    pelatihan dan arahan cara melakukan pengukuran

    sehingga mempunyai persepsi yang sama, artinya

    semua tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur

    yang telah direncanakan sebelumnya, dengan harapan

    data yang terkumpul valid dan reliabel. Instrumen

    penelitian terdiri dari daftar pertanyaan kuesioner dan

    lembar observasi, meteran tinggi badan, pita pengukur

    lingkar lengan atas (LILA). Analisa univariat

    mendeskripsikan proporsi masing-masing variabel

    yang diteliti. Analisis data numerik menggunakan

    ukuran sental dan varians. Persepsi ibu hamil diukur

    berdasarkan lembar pertanyaan yang berjumlah 20

    pertanyaan menggunakan skala Likert. Analisa bivariat

    menggunakan Chi Square (X2) dan uji Kappa Cohen

    untuk mengetahui kesesuaian hasil ukur antopometri

    dengan persepsi ibu hamil mengenai status gizinya.

    Analisis multivariat menggunakan regresi logistik

    multivariat.

    Tabel 1. Karakteristik dan Perilaku Ibu Hamil

    Karakteristik dan Perilaku Ibu Hamil Frekuensi Persentase

    Umur ibu

    35 tahun

    20 -35 tahun

    39

    43

    47,6

    52,4

    Paritas

    Primipara

    Multi+Grandemultipara

    38

    44

    46,3

    53,6

    Pendidikan Ibu

    Tinggi

    Rendah

    22

    60

    26,8

    73,2

    Pendapatan Ibu

    Tinggi

    Rendah

    9

    73

    11,0

    89,0

    Pengetahuan

    Tinggi

    Rendah

    36

    46

    43,9

    56,1

    Sikap

    Mendukung

    Tidak Mendukung

    43

    39

    52,4

    47,6

    Praktek

    Baik

    Kurang Baik

    60

    22

    73,2

    26,8

  • ARTIKEL PENELITIAN

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 81

    Hasil

    Karakteristik Dan Perilaku Ibu Hamil

    Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar dari ibu

    hamil(52,4%) berusia antara 20-35 tahun, dan hampir

    sebagian dari ibu hamil(46,3%) adalah primipara,

    sebagian dari ibu hamil(73,2%) berpendidikan rendah,

    serta hampir seluruh dari ibu hamil(89,0%) memiliki

    pendapatan yang rendah. Berdasarkan perilaku ibu

    menunjukkan bahwa hampir sebagian dari ibu

    hamil(46,3%) memiliki pengetahuan yang tinggi

    mengenai gizi dan kesehatan selama kehamilan,

    sebagian dari ibu hamil(52,4%) memiliki sikap yang

    mendukung dalam memeuhi kebutuhan gizi dan

    kesehatan selama kehamilan, dan sebagian besar lagi

    dari ibu hamil(73,2%) memiliki praktek yang baik

    dalam memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan.

    Status Gizi Ibu Hamil berdasarkan Pengukuran

    Antropometri. Tabel 2 menunjukkan distribusi

    frekuensi ibu hamilterhadap hasil pengukuran

    antropometri, hasil penelitian menemukan bahwa dari

    hasil pengukuran tinggi badan sebagian besar dari ibu

    hamil(89,0%) memiliki tinggi badan lebih dari 145 cm

    yang artinya memiliki tinggi badan yang normal, dari

    hasil pengukuran lingkar lengan atas (lila)

    menunjukkan bahwa sebagian dari ibu hamil(74,4%)

    memiliki ukuran lingkar lengan atas yang normal.

    Tabel 2. Status Gizi Ibu Hamil Berdasarkan Pengukuran Antropometri

    Variabel Frekuensi Persentase

    Tinggi badan

    145cm = normal 73 89,0

    0,05; maka disimpulkan terdapat

    ketidaksesuaian antara hasil pengukuran LILA secara

    antropometri dengan persepsi ibu. Dari hasil

    pengukuran Antropometri LILA normal, hampir

    seluruhnya (90,2%) mempersepsikan LILAya normal,

    namun dari seluruh pengukuran LILA tidak normal,

    hampir seluruhnya (81%) mempersepsikan LILA

    normal.

    Tabel 3. Kesesuaian Antara Hasil Pengukuran Antropometri Dengan

    Persepsi Ibu Hamil mengenai Status Gizi

    Persepsi Ibu Pengukuran Antropometri Nilai

    Cappa P value

    Normal Tidak Normal

    Tinggi Badan

    Normal

    Pendek

    69

    3

    95,8

    4,2

    10

    0

    100

    0,0

    -0,06

    0,511

    Total 72 100,0 10 100,0

    LILA

    Normal

    KEK

    55

    6

    90,2

    9,8

    17

    4

    81,0

    19,0

    0,111

    0,266

    Total 73 100,0 9 100,0

    Tabel 4 menunjukkan hampir seluruh ibu hamil (80,5%)

    mempersepsikan ukuran tinggi badannya sesuai dengan

    pengukuran antropometri tinggi badan dan sebagian

    besar dari ibu hamil (65,9%) mempersepsikan ukuran

    LILA sesuai dengan pengukuran antropometri LILA.

  • Demsa, Yanti, Jon, Analisis Kesesuaian antara Hasil Pengukuran Antropometri dengan Persepsi Ibu Hamil

    Jurnal Forum Kesehatan Volume IV Nomor 8, Agustus 2014 82

    Tabel 4

    Distribusi Frekuensi Kesesuaian Status Gizi Antara hasil Pengukuran Antropometri dengan

    Persepsi Ibu Hamil

    Kategori

    Pengukuran Antropometri

    Tinggi Badan LILA

    n % n %

    Sesuai 66 80,5 54 65,9

    Tidak Sesuai 16 19,5 28 34,1

    Determinan Kesesuaian Hasil Pengukuran Status

    Gizi

    Tabel 5 menunjukkan tidak ada hubungan yang

    signifikan antara karakteristik ibu hamil dengan

    kesesuaian ukuran tinggi badan, serta tidak ada

    hubungan yang signifikan antara perilaku ibu hamil

    dengan kesesuaian ukuran tinggi badan. Variabel yang

    menjadi kandidat dalam analisis multivariat adalah

    umur ibu, pendidikan, pendapatan, dan pengetahuan.

    Tabel 6 menunjukkan tidak ada hubungan signifikan

    antara karakteristik ibu hamil dengan kesesuaian

    ukuran LILA, dan tidak ada hubungan signifikan antara

    sikap dan praktek konsumsi ibu hamil dengan

    kesesuaian ukuran