JURNAL FENOMENA KESEHATAN Artikel Penelitian

of 13 /13
215 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019 JURNAL FENOMENA KESEHATAN Artikel Penelitian Volume 02 Nomor 01 Mei 2019 Halaman 215-227 HUBUNGAN FUNGSI PERAWATAN KELUARGA DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MENDERITA PENYAKIT KRONIS Relationship Of Family Care Functions With Quality Of Life Elderly That Suffering Chronic Disease Rezkiyah Hoesny 1 , Munafrin 2 , Sahril 3 Program Studi Profesi Ners STIKES Kurnia Jaya Persada Palopo e-mail : [email protected] ABSTRAK Kualitas hidup lansia adalah kondisi fungsional yang meliputi kesehatan fisik, kesehatan psikologis dan kondisi lingkungan, dipengaruhi oleh tingkat kemandirian, kondisi fisik dan psikologis, aktifitas sosial, interaksi sosial dan fungsi keluarga. Lansia umumnya mengalami keterbatasan, sehingga kualitas hidup pada lansia mengalami penurunan. Adanya penyakit kronis menyebabkan gangguan fungsi fisiologis sehingga dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan lingkungannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara fungsi perawatan keluarga dengan kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo. Penelitian ini berjenis kuantitatif menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh lansia yang datang berobat di Puskesmas Bara Permai. Pengambilan sampling menggunakan Accidental Sampling dengan jumlah responden sebanyak 38 orang yang merupakan lansia yang datang berobat sejak bulan Agustus-September 2018.Fungsi perawatan keluarga diukur dengan menggunakan instrumen AFGAR dan Kualitas hidup lansia diukur dengan menggunakan instrumen WHOQOL-BREF. Hasil uji statistik dengan chi-square test menunjukkan nilai p=0.003, karena nilai p < α=0.05, artinya terdapat hubungan antara fungsi perawatan keluarga dengan kualitas hidup lansia yang menderita penyakit kronis. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sehat fungsi perawatan keluarga, maka semakin baik pula kualitas hidup lansia dan sebaliknya. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan dalam pemberian asuhan keperawatan kepada lansia dengan melibatkan anggota keluarga sehingga kualitas hidup lansia dapat menjadi lebih baik. Kata Kunci: Fungsi Perawatan Keluarga, Kualitas Hidup, Lansia, Penyakit Kronis ABSTRACT The quality of life of the elderly is a functional condition which includes physical health, psychological health and environmental conditions, influenced by the level of independence, physical and psychological conditions, social activities, social interactions and family functions. Elderly people generally experience limitations, so the quality of life in the elderly has decreased. The existence of chronic diseases causes physiological function disorders that can affect the psychological condition and environment. This study was conducted to determine the correlation between family care functions with the quality of life of elderly people with chronic diseases at the Bara Permai Health Center in Palopo City. This research is a quantitative type using descriptive analytic with cross sectional approach. The population in this study were all the elderly who came for treatment at the Bara Permai Health Center. Sampling uses Accidental Sampling with the number of respondents as many as 38 people who are

Embed Size (px)

Transcript of JURNAL FENOMENA KESEHATAN Artikel Penelitian

215 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
JURNAL FENOMENA KESEHATAN Artikel Penelitian
Volume 02 Nomor 01 Mei 2019 Halaman 215-227
HUBUNGAN FUNGSI PERAWATAN KELUARGA DENGAN
KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MENDERITA PENYAKIT
KRONIS
Relationship Of Family Care Functions With Quality Of Life Elderly That
Suffering Chronic Disease
e-mail : [email protected]
ABSTRAK Kualitas hidup lansia adalah kondisi fungsional yang meliputi kesehatan fisik, kesehatan
psikologis dan kondisi lingkungan, dipengaruhi oleh tingkat kemandirian, kondisi fisik dan psikologis, aktifitas sosial, interaksi sosial dan fungsi keluarga. Lansia umumnya mengalami keterbatasan, sehingga
kualitas hidup pada lansia mengalami penurunan. Adanya penyakit kronis menyebabkan gangguan fungsi
fisiologis sehingga dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan lingkungannya. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui hubungan antara fungsi perawatan keluarga dengan kualitas hidup lansia dengan
penyakit kronis di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo.
Penelitian ini berjenis kuantitatif menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh lansia yang datang berobat di Puskesmas Bara
Permai. Pengambilan sampling menggunakan Accidental Sampling dengan jumlah responden sebanyak
38 orang yang merupakan lansia yang datang berobat sejak bulan Agustus-September 2018.Fungsi
perawatan keluarga diukur dengan menggunakan instrumen AFGAR dan Kualitas hidup lansia diukur
dengan menggunakan instrumen WHOQOL-BREF.
Hasil uji statistik dengan chi-square test menunjukkan nilai p=0.003, karena nilai p < α=0.05, artinya terdapat hubungan antara fungsi perawatan keluarga dengan kualitas hidup lansia yang menderita
penyakit kronis. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sehat fungsi perawatan keluarga, maka semakin
baik pula kualitas hidup lansia dan sebaliknya. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan dalam
pemberian asuhan keperawatan kepada lansia dengan melibatkan anggota keluarga sehingga kualitas
hidup lansia dapat menjadi lebih baik.
Kata Kunci: Fungsi Perawatan Keluarga, Kualitas Hidup, Lansia, Penyakit Kronis
ABSTRACT The quality of life of the elderly is a functional condition which includes physical health,
psychological health and environmental conditions, influenced by the level of independence, physical and
psychological conditions, social activities, social interactions and family functions. Elderly people
generally experience limitations, so the quality of life in the elderly has decreased. The existence of
chronic diseases causes physiological function disorders that can affect the psychological condition and
environment. This study was conducted to determine the correlation between family care functions with
the quality of life of elderly people with chronic diseases at the Bara Permai Health Center in Palopo City.
This research is a quantitative type using descriptive analytic with cross sectional approach. The
population in this study were all the elderly who came for treatment at the Bara Permai Health Center.
Sampling uses Accidental Sampling with the number of respondents as many as 38 people who are
216 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
elderly who come for treatment since August-September 2018. The family care function is measured using
the AFGAR instrument and the quality of life of the elderly is measured using the WHOQOL-BREF
instrument.
The results of the statistical test with chi-square test showed a value of p = 0.003, because the
value of p <α = 0.05, meaning that there is a correlation between the family care function and the quality
of life of the elderly who suffer from chronic diseases.This shows that if the family care function is
healthy, the quality of life of the elderly will be better. The results of the study can be used as a reference in the provision of nursing care to the elderly by involving family members so that the
quality of life of the elderly can be better. Keywords: Family Care Function, Quality of Life, Elderly, Chronic Disease
PENDAHULUAN
oleh setiap individu. Menua atau
menjadi tua (aging) adalah suatu proses
menurunnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya secara perlaha-lahan sehingga
termasuk infeksi, dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Martono &
Pranaka, 2011). Word Health
pertengahan (middle age) adalah 45−59
tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60−74
tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75−90
tahun dan usia sangat tua (very old)
diatas 90 tahun (Nugroho, 2008).
Dalam tiga dekade terakhir,
cepat. Sekitar 36 juta orang atau 12,4%
dari populasi dunia berusia 65 tahun atau
lebih. Pada tahun 2050, populasi
penduduk berusia 65 tahun dan lebih di
Amerika Serikat diproyeksikan menjadi
orang akan berusia lebih dari 60 tahun
pada tahun 2050. Populasi lansia di
wilayah ini akan tiga kali lipat antara
tahun 2010 dan 2050, mencapai hampir
1,3 miliar orang (United Nation
Population Fund, 2014). Indonesia
juga akan mengalami penambahan
jumlah penduduk lansia. Indonesia
Indonesia saat ini sekitar 19 juta jiwa
(Renstra Kemenkes, 2015). Persentase
Provinsi DI Yogyakarta (13,04%), Jawa
Timur (10,40%) dan Jawa Tengah
217 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
(10,34%). Sedangkan di Sulawesi
Selatan, presentase lansia menduduki
posisi keenam terbanyak dengan
presentase 8,34% (Infodatin, 2014).
Seiring dengan proses penuaan,
Lansia rentan terhadap gangguan
kesehatan fisik (Lewis, Dirksen,
Heitkemper, Bucher, & Camera, 2011).
fisik, sebagian ada yang terlihat dan
sebagian tidak. Massa tubuh tanpa lemak
berkurang dan jumlah jaringan lemak
meningkat sampai sekitar usia 60 tahun.
Massa tulang berkurang. Jumlah cairan
ekstraseluler tetap, tetapi jumlah cairan
intraseluler menurun dan berakibat pada
berkurangnya cairan tubuh total. Oleh
karena itu, lansia beresiko mengalami
dehidrasi (Kozier, Erb, Berman, &
Snyder, 2010 ). Perubahan fisiologis
tersebut menyebabkan berbagai masalah
kesehatan termasuk penyakit kronis.
spontan, dan biasanya tidak dapat di
sembuhkan dengan sempurna. Penyakit
kecacatan dan timbulnya kematian
ekuitas penuh dalam akses kepelayanan
yang diperlukan untuk kesehatan yang
optimal. Menurut World Health
Organization (WHO), Kualitas Hidup
adalah persepsi individu tentang
posisinya dalam menjalani kehidupan
mana mereka hidup, dan dalam
hubungannya dengan tujuan, harapan,
standar dan kepentingan mereka.
yaitu kesehatan fisik, psikologis,
hubungan sosial, dan lingkungan.
(Helvik, Engedal, & Selbaek, 2010).
Lansia dapat dinyatakan memiliki
berada pada kondisi yang menyatakan
tingkat kepuasan secara batin, fisik,
sosial, serta kenyamanan dan
sosial yang baik dengan keluarga, teman
dan tetangga, standar harapan dalam
hidup, keterlibatan dalam kegiatan sosial
dan kegiatan amal, kegiatan hobi dan
kesukaan, kesehatan yang baik dan
218 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
kemampuan fungsional, rumah dan
aman, kepercayaan atau nilai diri positif,
kesejahteraan psikologis dan emosional,
oleh orang lain.
memeriksakan kesehatannya di
mendapatkan dukungan dari keluarga
yang tinggal serumah dengannya.
diderita oleh lansia di Puskesmas Bara
Permai diantaranya adalah hipertensi,
rematik dan diabetes mellitus.
ingin melakukan penelitian tentang
“Hubungan fungsi perawatan keluarga
penelitian tentang hal tersebut. Hal ini
penting untuk diketahui oleh perawat
sebagai tambahan pengetahuan tentang
kualitas hidup yang baik dapat terpenuhi.
Kualitas hidup yang baik dapat terpenuhi
jika kebutuhan dasar nya juga terpenuhi,
salah satu faktor yang mempengaruhi
yaitu hubungan dengan keluarga.
meningkatkan pemenuhan kebutuhan
peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Hubungan
Fungsi Perawatan Keluarga dengan
PermaiTahun 2018”.
METODE PENELITIAN
Permai Kota Palopo. Pengambilan
lansia yang datang berobat di Puskesmas
Bara Permai yang ditemui sejak bulan
Agustus-September 2018. Pengumpulan
219 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
data menggunakan instrumen berupa
kuosioner, Fungsi perawatan keluarga
diukur dengan menggunakan instrumen
pertanyaan yaitu adaptasi (adaptation),
kebersamaan (resolve), sedangkan
menggunakan instrumen WHOQOL-
yaitu kesehatan fisik, psikologis,
Proses pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner berupa
wawancara tertutup. Sebelum kuesioner
pengantar kepada lansia sebagai
kerja dengan memberikan informed
responden, peneliti mulai melakukan
menggunakan SPSS ver. 17.
Tabel 1.
Distribusi Data Demografi Responden di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo Tahun
2018
lebih banyak responden perempuan
(60,5%) dibanding responden laki-laki
(39,5%), paling banyak responden
menyusul status pendidikan tidak
dibanding dengan responden yang
sedang bekerja (31.6%). Berdasarkan
tabel mayoritas responden mengalami
penyakit Hipertensi (57,9%), kemudian
220 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
Rematik (15,8%) serta paling sedikit
mengalami penyakit Katarak (2,6 %).
Lansia di Puskesmas Bara Permai
Kota Palopo Tahun 2018
perawatan keluarga sehat karena
anaknya. Ketika lansia mengalami
tuanya. Dengan kondisi seperti ini akan
mendorong keluarga yang sehat karena
lansia tidak merasa kesepian dan semua
kebutuhannya dapat dipenuhi oleh
anaknya. Sesuai pendapat Sutikno
merawat orang tuanya yang sudah lansia
sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi.
dapat berfungsi dengan baik.
Pada penelitian ini, ditemukan
ekonomi keluarga karena anggota
keluarga akan kesulitan untuk
memadai dan pelayanan kesehatan
maksimal yang akan mengakibatkan
Kesehatan sangat mempengaruhi fungsi
perawatan keluarga, bila terdapat
kesulitan mendapat pelayanan kesehatan
keluarga akan menjadi tidak sehat karena
anggota keluarganya tidak sehat akan
menyebabkan angka kesakitan pada
menyebabkan kualitas hidupnya buruk.
Menurut Diana (2009) menyatakan
ekonomi keluarga dengan fungsi
rendah, maka fungsi keluarga akan tidak
sehat. Sebaliknya, jika status ekonomi
keluarga tinggi, maka fungsi keluarga
akan menjadi sehat. Adanya dukungan
ekonomi yang baik, keluarga dapat
221 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
memenuhi kebutuhan anggota
pendidikan yang memadai dan pelayanan
kesehatan maksimal.
Tabel 3.
Distribusi Kualitas Hidup Lansia di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo Tahun
2018
Kualitas
menderita penyakit kronis memiliki
dapat dinyatakan memiliki tingkat
pada kondisi yang menyatakan tingkat
kepuasan secara batin, fisik, sosial, serta
kenyamanan dan kebahagiaan hidupnya
mempengaruhi kualitas hidup lansia
diantaranya faktor lingkungan sosial
keluarga, tetangga, dan masyarakat
faktor psikologis seperti sikap positif dan
optimis, berfikir ke arah masa depan,
penerimaan dan strategi koping yang
baik, aktif dalam kegiatan sosial, kondisi
keuangan yang aman dan tidak
bergantung pada orang lain (Helvik,
Engedal, & Selbaek, 2010), faktor
sosiodemografis seperti jenis kelamin,
pendidikan (Bottan, Morais, Schneider,
(Ran, Sook, & Young, 2014).
yang baik ini, yaitu sebanyak 22
responden (57,9%), disebabkan karena
keluarganya, tetangga, dan masyarakat
yang menyebutkan bahwa lansia yang
memiliki fungsi keluarga yang sehat
dengan keluarganya memiliki kualitas
dibandingkan dengan lansia dengan
(Sutikno, 2011). Responden ini
bersosialisasi dengan orang di
sekitarnya. Responden ini juga
melakukan kunjungan rutin ke
Puskesmas sehingga meskipun memiliki
222 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
penyakit, responden ini mampu
menerima dan beradaptasi dengan
penyakitnya sehingga mampu mengikuti
program pengobatan dan pemeriksaan
(42,1%) disebabkan karena faktor
Katarak. Individu dengan hipertensi
lebih buruk, gejala fisik dan
ketidakmampuan fungsional serta
didiagnosis dengan hipertensi dilaporkan
stres dalam fisiologi juga terkait dengan
sistem kardiovaskular, terutama
berhubungan dengan hipertensi.
gejala,akan menurunkan kualitas hidup
(Mei-Ling, Yu-Chun, Yi-Ying, & Tso-
keterbatasan aktivitas pada penyakit
hipertensi, stigma lansia terhadap
lansia yang menderita penyakit lain. Hal
ini didukung oleh data, dimana semua
lansia yang menderita penyakit
hipertensi dan DM (masing-masing
Faktor psikologis juga
ini, merasa lemah, cemas dan khawatir
jika nantinya penyakitnya menjadi lebih
parah. Beberapa responden juga tidak
memiliki aktivitas lain di luar rumah
karena merasa tidak dibutuhkan
sehingga tidak dapat bersosialisasi
mengakibatkan penurunan fungsi peran.
melakukan kunjungan rutin ke
223 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
Diana (2009) dalam penelitiannya
kualitas hidup lansia. Jika lansia yang
mengalami penyakit kronisyang dapat
menyebabkan mereka kurang produktif,
menjadi lebih buruk. Adanya
maupun bagi keluarganya.
Puskesmas Bara Permai Kota Palopo
Tahun 2018
fungsi perawatan keluarganya sehat,
baik (83.3%) dan hanya terdapat (16.7%)
yang memiliki kualitas hidup buruk.
Sedangkan dari 16 orang lansia yang
fungsi perawatan keluarganya kurang
baik (43.8%). Dan dari 4 orang lansia
yang fungsi keluarganya tidak sehat,
semuanya (100%) memiliki kualitas
menggunakan chi-square test diketahui
maka Ho ditolak yang artinya terdapat
hubungan antara fungsi perawatan
semakin sehat fungsi perawatan
Fungsi perawatan kesehatan
merupakan fungsi untuk
mempertahankan keadaan kesehatan
produktivitas tinggi. Fungsi perawatan
dan dasar dalam keluarga namun fungsi
yang bertanggung jawab penuh dalam
keluarga untuk mempertahankan status
kesehatan anggota keluarga (Friedman,
224 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
Kualitas hidup lansia bisa
diartikan sebagai kondisi fungsional
atau optimal, sehingga memungkinkan
dengan penuh makna, membahagiakan,
beberapa faktor yang menyebabkan
dimasa tuanya, yakni; kemampuan
perubahan dan kemunduran yang
dialami, adanya penghargaan dan
lansia tersebut, lingkungan yang
menghargai hak-hak lansia serta
memahami kebutuhan dan kondisi
mengaktualisasikan potensi dan
memelihara dan mengembangkan
Hasil penelitian Sutikno (2011)
memiliki kemungkinan untuk berkualitas
lansia dengan fungsi keluarga tidak
sehat. Menurut Kunjoro (2002 dalam
Diana, 2009) bahwa kualitas hidup
lansia dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang menyebabkan seorang lansia untuk
tetap bisa berguna dimasa tuanya, yakni
kemampuan menyesuaikan diri dan
menerima segala perubahan dan
kemunduran yang dialami, adanya
dari lingkungan lansia tersebut
keluarga, dilibatkan dalam
berkomunikasi dan mengambil
hal mematangkan pertumbuhan dan
lansia juga merasa puas terhadap kasih
sayang serta interaksi emosional yang
berlangsung dalam keluargadan
penilaian APGAR yang tinggi
menunjukkan setiap anggota keluarga
akan saling mendukung sehingga
sehingga fungsi perawatan keluarga
225 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
tersebut sehat. Adanya dukungan
menghadapi sisa-sisa hidupnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
dengan tingkat signifikansi p=0.003 atau
p<α=0.05. Semakin sehat fungsi
perawatan keluarga, semakin baik pula
kualitas hidup lansia dan sebaliknya
semakin tidak sehat fungsi perawatan
keluarga, semakin buruk pula kualitas
hidupnya. Diharapkan penelitian ini
dapat dikembangkan dengan jumlah
yang lebih luas, mengembangkan kajian
ilmiah berupa penelitian lanjutan untuk
menyempurnakan dan memperdalam
penyakit kronis.
DAFTAR PUSTAKA
Dokter Keluarga. Jakarta:
Yayasan Penerbitan Ikatan
F., Trentini, C., & Heldt, E.
(2014). Determinants of Quality
Psychosocial Care Center in
Brazil. Informa Healthcare , 181-
Quality of Life (on-line)
mcw.edu/fastfact-pdf; diakses
Geriatrik (Ilmu Kesehatan Usia
dengan Penyakit Kronis di RSUP
H. Adam Malik Medan (skripsi).
Medan: Program Studi Ilmu
Provinsi Sulawesi Selatan (on-
226 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
Effendi, N. (2006). Dasar-Dasar
And Factors Associated With It
In The Medically Hospitalised
Elderly. Routledge : Aging and
Keperawatan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Hurlock, E.B. (2009). Psikologi
Snyder, S. J. (2010 ).
M., Bucher, L., & Camera, I.
(2011). Medical Surgical
Nursing : Assesment and
Management of Clinical
Missouri: Elsevier Mosby
& Tso-Ying, L. (2015). A
Randomized Controlled Trial of
Auricular Accupressure in Heart
life for Hypertension. ElSevier,
Masyarakat (Prinsip-Prinsip
Jakarta: EGC.
H. (2014). An Aging Nation : The
Older Population the United
States. Bureau: U.S Department
Fundamental Keperawatan, Edisi
Ran, C. Y., Sook, L. I., & Young, L. h.
(2014). Effects of Hypertension,
Individuals: A Population-based
227 | Jurnal Fenomena Kesehatan, Volume 02 No 01 Mei 2019
Siregar, S. F., Arma, A. J., & Lubis, R.
M. (2013). Perbandingan
Kabupaten Tapanuli Selatan.
Keperawatan Medical Bedah,
Ajar Keperawatan Gerontik,
Fungsi Keluarga dengan
Lansia. Jakarta: EGC.
Penyakit Kronis dan Kualitas
Jakarta Selatan. Universa
Medicina, 25(4); 164-171.
(2014). Perbedaan Kualitas
Komunitas dengan di Pelayanan
Sosial Lanjut Usia. e-Jurnal
Pustaka Kesehatan, 2(1); 87-94.