Jurnal Acc

Click here to load reader

  • date post

    30-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    1

Embed Size (px)

description

aadsasdddg

Transcript of Jurnal Acc

JURNAL

EVALUASI TINGKAT BAHAYA EROSI DI DAS MALANROE SUB DAS WALANAE

NURUL ILMI RASJUSTI 1115040179

INTERNATIONAL CLASS PROGRAMPROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFIJURUSAN GEOGRAFIFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR2015PENGESAHAN JURNAL

EVALUASI TINGKAT BAHAYA EROSI DI DAS MALANROE SUB DAS WALANAE

Diajukan oleh

NURUL ILMI RASJUSTI 1115040179

MenyetujuiTim Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Nasiah, M.Si.Ichsan Invanni, S.T., M.Sc.NIP. 19660707 199203 2 001 NIP. 19750714 200003 1 001

MengetahuiKetua Prodi Pendidikan Geografi

Drs. Sulaiman Zhiddiq, M.Si. NIP. 19630202 199203 1 001

6

EVALUASI TINGKAT BAHAYA EROSI DI DAS MALANROE SUB DAS WALANAENasiah, Ichsan Invanni, Nurul Ilmi RasjustiABSTRAKDAS Malanroe Sub DAS Walanae mengalami banyak kehilangan penutupan lahan dengan berbagai alih fungsi lahan. Kondisi tersebut tentu akan mempengaruhi besar erosi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah erosi yang terjadi sudah melebihi batas erosi yang diperbolehkan dan zonasi tingkat bahaya erosi. Populasi dalam penelitian ini DAS Malanroe Sub DAS Walanae, terdiri dari 32 satuan lahan yang diperoleh dari hasil overlay peta jenis tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan bentuk lahan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada 13 satuan lahan, sedangkan pengukuran variabel lainnya dilakukan pada setiap satuan lahan. Analisis data menggunakan metode USLE untuk menentukan besar erosi yang terjadi pada setiap satuan lahan. Tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan ketetapan Departemen Kehutanan (1986). Hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi yang terjadi pada 20 satuan lahan sudah melebihi batas erosi yang diperbolehkan, dengan luas 4.078,76 ha (42,29%). Tingkat bahaya erosi sebagian besar berada pada kelas sangat ringan, yaitu 2.519,37 ha. Tingkat bahaya erosi sangat berat 2.373,55 ha, berat 2.116,53 ha, sedang 1.729,76 ha, dan ringan 906,49 ha. Agihan tingkat bahaya erosi sangat berat dan berat didapati di Desa Ompo, Lapajung, Matta Bulu, Bila, Botto, dan Lalabata Rilau. Sedangkan tingkat bahaya erosi sangat ringan tersebar di Desa Pattojo, Appanang, Galung, Rompegading, Maccile, Salo Karaja, Belo, dan Ganra.

Kata Kunci: Tingkat bahaya erosi, USLE, DAS Malanroe

I. PENDAHULUANKeberadaan lahan memegang peranan penting dan strategis untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, akhir-skhir ini degradasi lahan menjadi salah satu permasalahan yang paling serius untuk segera ditangani. Bukan hanya karena lahan yang terdegradasi semakin meluas, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan. FAO pada tahun 2008 melaporkan bahwa lebih dari 20% dari seluruh area budidaya, 30% hutan dan 10% padang rumput di dunia sedang memburuk. Sebagai konsekuensinya, terjadi penurunan produktivitas pertanian, permasalahan sosial ekonomi seperti ketahanan pangan, migrasi, terhambatnya pembangunan, serta kerusakan ekosistem (Food and Agricultural Organization, 2015). Erosi ditengarai sebagai penyebab utama terjadinya degradasi lahan. Tingginya laju erosi di Indonesia memberikan andil yang besar dalam meluasnya areal lahan kritis, yang mana telah mencapai 52,5 juta ha (Kementerian Dalam Negeri, 2013). Sebagaimana diperkirakan bahwa sekitar 40-250 m3 atau 35-220 ton tanah/ha tererosi setiap tahun dengan laju peningkatan 7-14% atau 3-28 ton tanah/ha/tahun, sangat berbeda jika dibandingkan Amerika Serikat, hanya 0,7 ton/ha/tahun (Adimihardja, 2008). Laporan yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 29 Januari 2015 mengenai luas lahan kritis nasional per balai pengelolaan DAS pada tahun 2013 sungguh mencengangkan. Total lahan kritis dan sangat kritis mencapai 24.303.294 ha. (Ditjen BPDAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015). Data lainnya dikemukakan oleh Balitbang Kementerian Pertanian bahwa dari 458 daerah aliran sungai di Indonesia, 60 di antaranya dalam kondisi kritis berat, 222 kritis, dan 176 lainnya berpotensi krisis (ANTARANEWS.com, 2013). Keadaan tersebut sangat mengkhawatirkan, mengingat fungsi daerah aliran sungai dalam sistem hidrologi yang sangat penting (sebagai penangkap air hujan, penyimpanan, dan penyaluran air ke sungai). DAS Malanroe Sub DAS Walanae merupakan salah satu sub DAS yang banyak mengalami kehilangan penutupan lahan. Sebagaimana hasil penelitian Asmoro (2009) bahwa indeks penutupan lahan DAS Malanroe buruk yaitu 10,39. Pada beberapa area dengan kemiringan lereng yang bervariasi, dapat ditemukan area tanpa tanaman penutup lahan. Kegiatan masyarakat yang melakukan penebangan hutan untuk kebutuhan permukiman maupun perkebunan turut memperluas lahan terbuka. Kondisi penutupan lahan yang semakin terbuka mengakibatkan meluapnya Sungai Walanae di Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo setiap musim penghujan tiba. Selain itu, kegiatan budidaya yang dilakukan penduduk juga tidak disertai dengan tindakan konservasi. Dengan berbagai perubahan penggunaan lahan tersebut akan mempengaruhi tingkat erosi. Erosi didefinisikan sebagai peristiwa hilang atau terkikisnya lapisan tanah dari suatu tempat, kemudian terangkut ke tempat lain baik yang disebabkan oleh pergerakan air, angin, dan/atau es. Di Indonesia yang merupakan daerah tropis, erosi terutama disebabkan oleh air hujan. Sementara itu, angin tidak mempunyai pengaruh yang berarti (Rahim, 2012)Untuk mengevaluasi besarnya kerusakan yang terjadi dan menentukan tindakan konservasi yang harus dilakukan, maka diperlukan suatu metode penelitian DAS yang baku. Model Universal Soil Loss Equation (USLE) merupakan salah satu model prediksi erosi yang banyak digunakan untuk memprediksi besarnya kehilangan tanah akibat erosi dalam satuan ton/ha/tahun. Alasan utama penggunaan model USLE karena model tersebut relatif sederhana dan input parameter model yang diperlukan mudah diperoleh (Parveen, 2012).Persamaan USLE dirancang untuk memprediksi rata-rata erosi tanah dalam jangka waktu panjang dari erosi lembar atau alur dibawah keadaan tertentu. Persamaan tersebut dapat juga memprediksi erosi pada lahan-lahan non pertanian, tapi tidak dapat memprediksi pengendapan dan tidak memperhitungkan hasil sedimen dari erosi parit, tebing sungai dan dasar sungai. Model USLE memungkinkan pendugaan laju rata-rata erosi suatu bidang tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam penanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang mungkin dilakukan atau sedang digunakan (Arsyad, 2010). Berdasarkan uraian di atas, maka studi ini difokuskan pada tingkat bahaya erosi di DAS Malanroe Sub DAS Walanae.II. METODE PENELITIANSasaran dalam penelitian adalah DAS Malanroe Sub DAS Walanae yang terdiri dari 32 satuan lahan, merupakan hasil overlay peta jenis tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan bentuk lahan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan purposive sampling. Pengambilan sampel tanah dilakukan di 13 titik dari 32 satuan lahan, sedangkan parameter lainnya diukur pada setiap satuan lahan.

Gambar 1. Peta Satuan Lahan DAS Malanroe Sub DAS WalanaeBesarnya kehilangan tanah akibat erosi ditentukan dengan menggunakan rumus Universal Soil Loss Equation (USLE) dalam Arsyad (2010) sebagai berikut:A = R x K x LS x C x P dimana,A : jumlah kehilangan tanah (ton/ha/tahun)R : faktor erosivitas hujan, yaitu daya erosi. hujan pada suatu tempat yang dihitung berdasarkan data curah hujan 10 tahun terakhir (KJ/ha) K : faktor erodibilitas tanah, yaitu daya tahan tanah terhadap erosi yang ditentukan oleh tekstur, struktur, permeabilitas, dan kandungan bahan organik (ton/KJ) LS:faktor panjang dan kemiringan lahan, merupakan gabungan dari faktor panjang lereng (L dalam satuan meter) dan faktor kemiringan lereng (S dalam satuan %)C : faktor pengelolaan tanaman, yaitu jenis tanaman penutup lahan dan pengelolaannyaP : faktor tindakan konservasi, yaitu teknik konservasi yang diterapkan dalam rangka mencegah tanah yang tererosi.Tingkat bahaya erosi diklasifikasikan berdasarkan besar erosi yang terjadi dan kedalaman efktif tanah, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi Kedalaman tanahKelas bahaya erosi

IIIIIIIVV

< 15 ton/ha/thn15 60 ton/ha/thn60 180 ton/ha/thn180 480 ton/ha/thn> 480 ton/ha/thn

> 90 cm60 90 cm30 60 cm< 30 cmSRRSBRSBSBSBSBSBBSBSBSBSBSBSBSB

Keterangan :SR: sangat ringan; R: ringan; S: sedang; B: berat; SB: sangat beratSumber: Departemen Kehutanan (1986) dalam Hardjowigeno, 2010III. HASIL DAN PEMBAHASANA. Deskripsi Lokasi PenelitianLokasi penelitian ini terletak di DAS Malanroe sub DAS Walanae yang terletak di Kabupaten Soppeng, memanjang dari arah barat daya ke timur laut menuju Sungai Walanae. Luas DAS Malanroe 96,46 km2 (9.645,7 ha) dengan panjang 112,8 km. Secara astronomis DAS Malanroe terletak pada titik 41922,8- 4 24 54 LS dan 119 48 50,4 BT - 119 57 32,4 BT. DAS Malanroe berbatasan dengan DAS Lawo di sebelah utara, DAS Dabbare di sebelah selatan, DAS Langkemme di sebelah barat, dan Sungai Walanae di sebelah timur. DAS Malanroe terdiri dari tiga sungai atau salo yaitu Salo Soppeng, Salo Malanroe, dan Salo Tonrosepee. Sungai ini mengalir melewati tiga daerah administratif kecamatan, yaitu Kecamatan Lalabata, Liliriaja, dan Lilirilau. Aliran sungai DAS Malanroe dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk mengairi sawah (irigasi). B. HasilBesar kehilangan tanah akibat erosi di DAS Malanroe adalah 657.319,40 ton/tahun, dengan laju erosi 68,15 ton/ha/tahun. Besar erosi yang paling rendah terdapat pada satuan lahan F.1.Kmr.Sw yaitu 0,43 ton/ha/tahun. Areal tersebut berupa persawahan dengan lereng yang datar. Sedangkan yang tertinggi ditemukan pada F.5.Mc.Ht, yaitu 652,68 ton/ha/tahun berupa hutan dan lereng yang curam. Sebagian besar wilayah DAS Malanroe berada pada tingkat erosi yang sangat ringan, seluas 2.519,37 ha dengan kehilangan tanah 2.202,85 ton/ha/tahun. Selanjutnya tingkat bahaya erosi sangat berat dan berat dengan luas berturut-turut 2.373,55 ha dan 2.116,53 ha. Sedangkan yang paling sedikit berada pada tingkat bahaya erosi ringan, yakni seluas 906,49 ha dengan kehilangan tanah sekitar 161,79 ton/ha/tahun. Tabel 2. Besar Erosi dan Tingkat Bahaya Erosi DAS Malanroe Sub DAS Walanae NoSatuan LahanNilai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ErosiBesar erosi(ton/ha/th)Kedalaman Tanah (cm)Tingkat Bahaya Erosi

RKLSCP

1F. 1. Alh. Kc1.508,590,700,630,2001,00133,06> 90Sedang

2F. 1. Alh. Sw1.508,590,460,840,0100,402,33> 90Sangat ringan

3F. 1. Grk. Kc1.508,590,530,670,1001,0053,57> 90Ringan

4F. 1. Grk. Pm1.508,590,480,530,5000,4076,76> 90Sedang

5F. 1. Grk. Sw1.508,590,570,400,0100,401,38> 90Sangat ringan

6F. 1. Kmr. Sw1.042,810,530,520,0100,150,4370Sangat ringan

7F. 1. Mc. Pm1.508,590,320,400,5000,4038,62> 90Ringan

8F. 1. Mc. Sw1.508,590,600,480,0100,401,74> 90Sangat ringan

9F. 1. Mct. Sw1.508,590,500,540,0100,401,6365Ringan

10F. 2. Grk. Sw1.508,590,570,650,0100,402,24> 90Sangat ringan

11F. 2. Kmr. Kc1.508,590,190,940,1000,5013,4765Ringan

12F. 2. Mc. Kc1.508,590,400,590,1001,0035,6030Berat

13F. 2. Mc. Pm1.508,590,320,560,5000,4054,07> 90Ringan

14F. 2. Mc. Sw1.508,590,600,520,0100,401,88> 90Sangat ringan

15F. 2. Mct. Sw1.508,590,500,320,0100,400,9730Sedang

16F. 3. Kmr. Kc1.508,590,191,010,2000,7543,4265Sedang

17F. 3. Kmr. Sw1.042,810,531,600,0100,151,3349Sedang

18F. 3. Mc. Ht1.508,590,520,980,2001,00153,7630Sangat berat

19F. 3. Mc. Kc1.508,590,401,630,1000,7573,7782Berat

20F. 3. Mc. Pm1.508,590,321,230,5000,40118,7680Berat

21F. 3. Mc. Sw1.508,590,601,770,0100,406,41> 90Sangat ringan

22F. 4. Kmr. Ht1.508,590,302,230,2000,90181,66> 90Berat

23F. 4. Kmr. Kc1.508,590,191,500,2000,9077,3940Sangat berat

24F. 4. Mc. Kc1.508,590,402,600,2000,90282,4130Sangat berat

25F. 5. Kmr. Ht1.508,590,303,670,0051,008,309Berat

26F. 5. Kmr. Kc1.508,590,192,260,1001,0064,7863Berat

27F. 5. Mc. Ht1.508,590,524,160,2001,00652,6880Sangat berat

28F. 6. Kmr. Ht1.508,590,303,560,2001,00322,2330Sangat berat

29F. 6. Kmr. Kc1.508,590,193,090,1001,0088,5735Sangat berat

30V. 5. Kmr. Ht1.508,590,302,020,0011,000,9150Sedang

31V. 5. Kmr. Kc1.508,590,192,090,1001,0059,9125Sangat berat

32V. 6. Kmr. Ht1.508,590,301,540,0011,000,7045Sedang

Gambar 2. Peta Tingkat Bahaya Erosi DAS Malanroe Sub DAS WalanaeC. Pembahasan1. Besar ErosiErosi merupakan interaksi antara faktor erosivitas, erodibilitas, kelerengan, pengelolaan tanaman, dan tindakan konservasi. Indeks erosivitas di DAS Malanroe berkisar antara 991,61 KJ/ha sampai 1.508,59 KJ/ha. Hujan bulanan tertinggi pada Januari dan yang terendah pada bulan Agustus dan September. Nilai R yang tinggi disebabkan karena besarnya intensitas hujan, yang dicerminkan dari tingginya curah hujan maksimum di stasiun tersebut. Dimana intensitas hujan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi kekuatan tumbuk air hujan.Nilai erodibilitas tertinggi yaitu 0,70 ton/KJ pada satuan lahan F.1.Alh.Kc. Hal ini disebabkan karena persentase debu dan pasir sangat halus pada satuan lahan tersebut sangat tinggi, yaitu mencapai 77%. Fraksi pasir halus dan debu mempunyai ukuran yang sangat halus sehingga tidak mampu membentuk ikatan dan tidak dapat berfungsi sebagai pemantap agregat. Akibatnya, fraksi tersebut kurang tahan terhadap pukulan dan daya air hujan serta peka terhadap daya angkut aliran permukaan. Sedangkan nilai K yang terendah, yaitu 0,19. Nilai indeks kelerengan yang tertinggi 4,16 pada F.5.Mc.Ht. Satuan lahan tersebut berada pada kelas lereng curam dengan panjang lereng 85 m. Sedangkan nilai LS terendah yaitu 0,32 pada satuan lahan F.2.Mct.Sw. Areal tersebut termasuk kelas lereng datar dengan panjang lereng 48 m. Nilai LS meningkat seiring dengan meningkatnya kemiringan dan panjang lereng. Selanjutnya, menyebabkan kemungkinan kehilangan tanah akibat erosi juga semakin besar. Indeks pengelolaan tanaman di DAS Malanroe terdiri dari hutan, kebun campuran, dan sawah. Nilai C yang tertinggi adalah 0,500 pada kebun campuran kerapatan rendah. Nilai C yang terendah ditemukan pada 2 satuan lahan yang berupa hutan alam dengan serasah banyak, yaitu 0,001. Di hutan alam, tajuk pepohonan biasanya tampak berlapis karena ada berbagai jenis pohon yang tumbuh pada saat yang berlainan. Sistem perakaran pohon dan pengaruh lapisan serasah sangat efektif untuk menyimpan air, sehingga dapat mengurangi besarnya aliran permukaan yang mengakibatkan erosi.Sebagian besar satuan lahan di DAS Malanroe dikelola tanpa adanya tindakan pengendalian erosi dengan nilai P tertinggi, yaitu 1,00. Praktik konservasi yang dilakukan masyarakat untuk menghambat laju erosi berupa teras tradisional, teras bangku konstruksi sedang, dan pengolahan tanaman menurut kontur. Nilai P terendah adalah 0,15 yang ditunjukkan pada praktik pembuatan teras bangku konstruksi sedang. Semakin rendah nilai P pada suatu lahan, maka kemungkinan kehilangan tanah akibat erosi di daerah tersebut semakin kecil.Hasil dari interaksi faktor-faktor penyebab erosi tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Dimana besar kehilangan tanah akibat erosi di DAS Malanroe sangat tinggi, yaitu 657.319,40 ton/tahun dengan laju 68,15 ton/ha/tahun Besar erosi yang tertinggi ditemukan pada satuan lahan F.5.Mc.Ht, yaitu 652,68 ton/ha/tahun. Hal ini disebabkan karena berbagai faktor yang mempengaruhi besar erosi. Intensitas hujan dan nilai erodibilitas yang tinggi dengan lereng yang curam, tanpa adanya tindakan konservasi mengakibatkan kemampuan air untuk mengerosi tanah besar. Selain itu, pengelolaan tanaman di daerah tersebut berupa hutan produksi rakyat yakni hutan jati dengan kerapatan yang rendah.2.Tingkat Bahaya Erosi (TBE)Tingkat bahaya erosi di DAS Malanroe diklasifikasi menjadi sangat berat, berat, sedang, ringan, dan sangat ringan. Sebagian besar wilayah DAS Malanroe berada pada kelas tingkat bahaya erosi sangat ringan, yaitu 2.519,37 ha. Sedangkan hanya sebagian kecil daerah penelitian dengan tingkat bahaya erosi ringan, yaitu 906,49 ha. Satuan lahan yang digolongkan kedalam tingkat bahaya erosi sangat ringan (SR) menunjukkan besar erosi yang terjadi sangat kecil, yaitu kurang dari 15 ton/ha/tahun dengan solum tanah yang dalam ( >90 cm). Seiring dengan berkurangnya kedalaman tanah, maka nilai besar erosi yang terjadi juga semakin besar, yaitu 15 60 ton/ha/tahun. Pada kedalaman tanah yang relatif dangkal sampai sedang, tanah-tanah tersebut dikelompokkan dalam TBE ringan ataupun sedang. Berbeda halnya pada satuan lahan dengan kelas TBE berat, solum tanahnya relatif sedang (60-90 cm) disertai besar erosi aktual yang besar, yaitu 60-180 ton/ha/tahun. Walaupun demikian, pada kelas ini dapat ditemukan satuan lahan F.5.Kmr.Ht dengan besar erosi yang sangat kecil, yakni 8,30 ton/ha/tahun. Namun, solum tanah yang sudah sangat dangkal, yaitu hanya 9 cm, sehingga dikelompokkan dalam kelas TBE berat.Kelas TBE sangat berat didominasi oleh satuan lahan dengan solum tanah yang dangkal (30-60 cm). Kondisi tersebut tidak mampu mengimbangi erosi aktual yang sangat besar, yaitu sekitar 60 hingga >480 ton/ha/tahun. Padahal pada tanah yang relatif dangkal, seharusnya besar erosi yang juga lebih kecil. Hal ini bertujuan untuk menjaga produktivitas tanah pada lahan tersebut.3.Agihan Tingkat Bahaya ErosiAgihan keruangan tingkat bahaya erosi DAS Malanroe disajikan pada Gambar 3.2. Secara umum, dapat dilihat bahwa semakin ke bagian hulu, maka tingkat bahaya erosi semakin berat. Walaupun kondisi yang ditemukan pada beberapa satuan lahan tidak demikian. Sebagaimana pada satuan lahan V.6.Kmr.Ht yang terletak di bagian hulu, yang diklasifikasikan kedalam tingkat bahaya erosi sedang. Sedangkan satuan lahan F.1.Alh.Kc dan F.1.Grk.Pm yang berada di bagian hilir termasuk kedalam tingkat bahaya erosi sedang. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor penyebab erosi yang saling berinteraksi satu sama lain serta kedalaman efektif tanah pada satuan lahan tersebut. Tingkat bahaya erosi sangat ringan (SR) tersebar di Desa Pattojo, Appanang, Galung, Rompegading, Maccile, Salo Karaja, Belo, dan Ganra. Selanjutnya, tingkat bahaya erosi ringan (R) terdapat areal permukiman yaitu Bila di Desa Bila, Lapajung dan Malaka di Desa Lapajung, Cikkee dan Maccope di Desa Lalabata Rilau, serta Lemba. Daerah tersebut tersebar di bagian hilir dan tengah DAS Malanroe. Tingkat bahaya erosi sedang (S) ditemukan pada areal permukiman Malanroe di Desa Maccile dan Cirowali di Desa Matta Bulu. Selain itu, kelas ini juga tersebar Desa Belo, Bila, Botto, Umpungeng, dan Lalabata Rilau. Adapun tingkat bahaya erosi berat (B) dan sangat berat (SB) tersebar di Desa Ompo, Lapajung, Matta Bulu, Bila, Botto, dan Lalabata Rilau.IV. PENUTUPA. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1.Tingkat bahaya erosi di DAS Malanroe Sub DAS Walanae sebagian besar berada pada kelas sangat ringan (SR), yaitu 2.519,37 ha. Tingkat bahaya erosi sangat berat (SB) 2.373,55 ha, berat (B) 2.116,53 ha, sedang (S) 1.729,76 ha, dan ringan (R) 906,49 ha.2.Tingkat bahaya erosi sangat berat (SB) dan berat (B) tersebar di Desa Ompo, Lapajung, Matta Bulu, Bila, Botto, dan Lalabata Rilau. Tingkat bahaya erosi sedang (S) tersebar di Desa Maccile, Matta Bulu, Belo, Bila, Botto, Umpungeng, dan Lalabata Rilau. Tingkat bahaya erosi ringan (R) Desa Bila, Lapajung, Lalabata Rilau, dan Lemba. Tingkat bahaya erosi sangat ringan (SR) tersebar di Desa Pattojo, Appanang, Galung, Rompegading, Maccile, Salo Karaja, Belo, dan Ganra. B. SaranHasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan perencanaan pembangunan dan pengelolaan lahan di DAS Malanroe. Pada satuan lahan dengan tingkat bahaya erosi berat dan sangat berat diperlukan perencanaan konservasi yang memperhatikan teknik pengelolaan tanaman dan praktek konservasi agar tingkat bahaya erosi di daerah tersebut menjadi lebih ringan. V. DAFTAR PUSTAKAAdimihardja, A. 2008. Teknologi dan Strategi Konservasi Tanah dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian.1(2): 105-124.ANTARANEWS.com. 2013. 282 DAS di Indonesia Kritis. Diakses pada laman http://www.antaranews.com/berita/356260/282-das-di-indonesia-kritis tanggal 1 Agustus 2015.Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua Cetakan Kedua. Bogor: UPT Produksi Media Informasi IPB. Asmoro, Y. 2009. Daerah Aliran Sungai (DAS) Walanae, Sulawesi Selatan. Diakses pada laman https://staff.blog.ui.ac.id/tarsoen.waryono/files/2009/12/das-walanae.pdf. tanggal 13 April 2015.Ditjen BPDAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2015. Penetapan Peta dan Data Hutan dan Lahan Kritis Nasional Tahun 2013 (Nomor SK.4/V-DAS/2015 Tertanggal 29 Januari 2015). Food and Agricultural Organization. 2015. Land Degradation Assessment. Diakses pada laman http://www.fao.org/nr/land/degradation/en/ tanggal 14 April 2015.Hardjowigeno, S. 2010. Ilmu Tanah. Cetakan Ketujuh. Jakarta: CV Akademika Pressindo.Kementerian Dalam Negeri. 2013. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Tugas Pembantuan Program Penanganan Lahan Kritis Dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat. Diakses pada laman http://www.bangda.kemendagri.go.id/Juklak-DKTP-2013/9.JUKNIS%20TP%20PROGRAM%20LAHAN%20KRITIS%20TAHUN%202013.pdf. tanggal 1 Agustus 2015.Parveen, R; U. Kumar. 2012. Integrated Approach of Universal Soil Loss Equation (USLE) and Geographical Information System (GIS) for Soil Loss Risk Assessment in Upper South Koel Basin, Jharkhand. Journal of Geographic Information System. (4): 588-596. Diakses pada laman http://dx.doi.org/10.4236/jgis.2012.46061. Rahim, S.E. 2012. Pengendalian Erosi Tanah. Cetakan Ketujuh. Jakarta: Bumi Aksara.Suripin. 2004. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Edisi Kedua. Yogyakarta: Andi.