Junk Food Yes

of 22

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    134
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Junk Food Yes

Junk Food Yes! Jajan Pasar No!Mungkin ini fenomena anak-anak ABG kota besar sekarang. Ingin tampil modis dan berkelas, termasuk juga selera mereka dalam memilih tempat makan. Mall, Plaza, atau pusat perbelanjaan modern adalah tempat-tempat yang ramai dikunjungi sebagai alternative mengisi waktu luang mereka atau sekedar jalan-jalan bersama teman sebaya. Saat- saat di akhir pekan biasanya saya mengajak anak-anak jalan, mereka lebih menyukai pergi ke suatu mall dan makan makanan cepat saji dari pada makan di emperan atau kaki lima, padahal banyak tempat yang menurut saya lebih menggugah selera daripada makan junk food model burger atau kentucy dan soft drinknya. Salah satu tempat yang banyak menyediakan alternative makanan juga jajanan di kota kami adalah Pasar Blauran. Lapak-lapak penjual makanan memajang berbagai menu yang menggugah selera antara lain Rujak Cingur, Lontong Balap dengan Sate Kerangnya, Soto Ayam, Nasi Lalapan, Tahu Campur dan juga segala macam jajan pasar yang hampir-hampir tidak mereka kenal lagi, bahkan namanya sekalipun. Saya yakin anak langsung tahu jika ditanya apa sih burger itu? Tapi mereka akan mengeyitkan keningnya jika ditanya apa kue kucur, apam, lepet, klanting, semar mendhem, klepon atau jajan pasar lainnya. http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2010/07/12/junk-food-yes-jajan-pasar-no/

Cara Menjauhkan Anak Dari Junk FoodBagi orang tua memanjakan anak adalah yang terbaik untuk anak, tapi itu tidak selalu benar. Seperti misalnya memberikan makanan junk food atau makanan cepat saji yang sangat disukai anak-anak, dengan dalih sayang anak maka semua permintaan anak pun diberikan. Tayangan televisi pun juga bisa mempengaruhi anak-anak untuk mengkonsumsi junk food tersebut disertai dengan hadiah yang menarik. Ingat, junk food mengandung kaya lemak dan rendah nutrisi, serta dapat mengakibatkan obesitas. Anak-anak yang kecanduan junk food tidak hanya beresiko terkena obesitas, tetapi pada saat yang sama, kehilangan nutrisi penting yang diperlukan bagi pertumbuhan kesehatan.

Didik mengkonsumsi makanan sehat Anak-anak membutuhkan asupan kalsium bagi tulang, zat besi bagi darah, protein dan vitamin bagi pertumbuhan tubuh. Biasakan anak-anak makan banyak buah-buahan dan sayuran segar. Ajarilah mereka pentingnya makan pagi. Isilah kotak makan siang mereka dengan pilihan makanan sehat. Berikan jajanan yang sehat Anak-anak sangat senang jika sudah berada di tempat perbelanjaan, oleh karena itu biasakan anak diberi jajanan yang sehat. Misalnya membelikan minuman mengandung kalsium, protein dan vitamin lainnya. Dengan dibiasakan maka anak-anak akan lebih cenderung jajan ke minuman yang sehat juga. Tentunya dengan perhatian orang tua juga. Tegas terhadap anak Kalau untuk kesehatan usahakan tegas terhadap anak, jangan selalu menuruti permintaan jajanan anak. Karena makanan yang dimakan anak-anak sangat berpengaruh terhadap kesehatannya

untuk kedepannya. Jadi, mending anak nangis untuk sementara daripada anda yang nangis ketika melihat anak anda sakit.Ketika anak-anak ingin menikmati sebuah burger, pastikan ia mengonsumsi selada dan tomat di dalamnya. Mintalah mereka untuk juga meminum susu atau air putih, daripada minuman bersoda. Sering masak dirumah Dengan memberikan kebiasaan makan dirumah sangat berpengaruh terhadap anak untuk menjauhi makanan junk food, sekali anak anda sangat suka dengan makanan anda maka dia gak akan mau makan makanan diluar. Jadi masak dirumah dengan makanan yang sehat penuh gizi. Kue juga salah satu makanan kesukaan anak-anak.http://www.oji-punya.com/blog/172/cara-menjauhkan-anak-dari-junk-food.html Ancaman di Balik Jajanan Anak-anak Mar 18, '06 2:07 PM for everyone

Orang tua Ari (bukan nama sebenarnya, anak TK berusia 4 tahun), agak heran karena Ari masih sering kambuh asmanya, padahal semua benda yang kemungkinan memicu asma disingkirkan dari kamarnya. Kegiatannya sehari-hari dikontrol, makanannya pun telah benar-benar diseleksi. bahkan setiap berangkat sekolah pun ibunya selalu membekali jajanan sehat buatan sendiri. Tapi mengapa asmanya masih sering kambuh? Setelah diusut, ternyata diam-diam Ari sering mengkonsumsi makanan ringan dalam kemasan pemberian temannya di sekolah. Karena tubuhnya termasuk sensitif, meski makan sedikit tetap saja asmanya kambuh. Alda tidak berpenyakit asma, hanya saja badannya memang cukup sensitif dengan bahan tambahan makanan (zat aditif). Karena itu, di rumah orang tuanya selalu menyediakan makanan yang sehat dan tidak membiasakannya untuk jajan sembarangan. Tetapi suatu ketika, melihat es berwarna-warni menarik hati yang dijual pedagang di sekolah, ia tak bisa menahan keinginannya untuk membeli. Sayangnya, minuman yang kelihatan enak itu begitu diminum langsung membuat lehernya terasa seperti tercekik. Banyak orang tua yang menjadi bingung ketika anaknya sulit makan makanan rumah dan lebih suka jajan. Apalagi jika jajannya di lingkungan sekolah sehingga sulit diawasi. Bagaimana mengatasinya? Pernahkah Anda perhatikan apa saja jajanan yang dikonsumsi anak sewaktu di rumah atau di sekolah? Jajanan kaki lima, fast food, permen, soft drink, atau snack seperti keripik kentang hingga keluarga chiki? Kasus-kasus tersebut tentu bukan cerita baru. Kebiasaan jajan pada anak-anak memang sulit dihilangkan. Terkadang, saking seringnya jajan, mereka malas makan masakan rumah. Padahal apa yang dimakan anak sangat menentukan kecerdasan dan kesehatannya. Kebiasaan mengkonsumsi junk food, fast food, makanan instan dan makanan olahan yang berlebihan, mudah menimbulkan kekurangan gizi kronis pada anak-anak. Apalagi jika pola makan itu dibiasakan sejak usia pra sekolah hingga remaja. Pengaruhnya akan terasa setelah dewasa. Jadi bila selama ini Anda membiarkan saja kebiasaan jajan anak, waspadalah! Berbagai bahan tambahan makanan berbahaya yang terkandung di dalamnya, cepat atau lambat akan menurunkan daya tahan tubuh, begitu pula kemampuan belajarnya. Apalagi jika konsumsi makanan sehat sebagai penyeimbang sangat kurang. Memang ada sebagian orangtua yang cukup berhasil membiasakan anaknya mengkonsumsi makanan sehat dan jarang jajan selama di rumah. Sayangnya, begitu masuk sekolah anak-anak jadi senang jajan juga karena terbawa oleh teman-temannya. Lalu bagaimana mengatasinya?

Jajanan kemasan dan kaki lima sama bahayanya Sebenarnya tanpa disadari, orang tua juga ikut andil dengan kebiasaan buruk tersebut. Tak jarang, untuk menenangkan anak yang sedang rewel, orang tua terkadang membiarkan anaknya jajan atau bahkan membelikan jajanan. Akibatnya, anak menjadi kenyang dan malas makan masakan rumah; Akibat (ainnya, lama kelamaan anak jadi punya kebiasaan jajan. Ada orang tua yang merasa sudah cukup bijaksana dengan melarang anaknya mengkonsumsi jajanan kakilima tapi membekali anaknya dengan snack seperti keripik kentang atau cokelat, soft drink, atau jenis junk food lainnya seperti permen, biskuit, krekers dan aneka fast food. Padahal junk food telah dikenal sebagai makanan miskin gizi dan mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya. Makanan-makanan tersebut tidak lagi alami, karena telah kehilangan zat-zat alaminya yang berkhasiat. Namun hal itu luput dari perhatian karena daya tarik iklan dan kemasannya. Sementara itu, ada juga orang tua yang membiarkan anaknya makan jajanan kakilima dan kue-kue tradisional dengan keyakinan bahwa jajanan tersebut lebih aman buat anaknya. Padahal kenyataannya, selain kebersihannya kurang terjamin, penggunaan MSG (vetsin), pengawet, pewarna, dan pemanis buatannya bahkan lebih sulit dikontrol. Menurut survey Yayasan Kusuma Buana, sebuah LSM di Jakarta yang bergerak di bidang kesehatan, cukup banyak anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan (16,9 % dari 3495 siswa yang diteliti). Akibatnya, mereka jajan di warung dekat sekolah atau pedagang kakilima di sekitar sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2001 / 2002 di 13 SD di Jakarta, ternyata kesibukan orang tua di pagi hari atau belum adanya selera makan di pagi hari menjadi alasan anak berangkat sekolah tanpa sarapan. Namun demikian, pola jajan di sekolah ternyata dilakukan juga oleh siswa yang sudah sarapan di rumah masing-masing. Ketika jajanan di sekitar sekolah-sekolah tersebut diteliti di Laboratorium Institut Pertanian Bogor, dari 34 sampel makanan dan 15 sampel minuman yang diteliti, temyata 58,8 persen makanan dan 73,3 persen minuman mengandung bakteri E. coli dan enterobacter(penyebab diare), zat pewarna, zat pengawet, atau pemanis buatan sakarin. Sementara para siswanya, 3160 orang, ketika diperiksa darahnya, sebanyak 1565 anak ternyata mengidap anemia (kurang darah). Saat 332 orang di antaranya diperiksa secara acak, sebanyak 1 8,1 persen menderita kurang gizi. Telmi (telat mikir) sampai kanker Hiroshi Osawa, seorang profesor dari Universitas Iwate, Jepang, sejak tahun 1984 telah meneliti perilaku kekerasan remaja Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan kekerasan tersebut diakibatkan oleh konsumsi minuman ringan dalam kaleng atau botol dan makanan junkfood yang terlalu banyak. Selain itu, hasil penelitian juga memperlihatkan hubungan antara perilaku pemarah dan menurunnya konsentrasi dengan ketidakseimbangan metabolisme glukosa pada otak. Ketidakseimbangan ini erat kaitannya dengan konsumsi gula dan karbohidrat olahan berlebihan Bagi anak yang sensitif, pengawet dan pewarna dapat mencetuskan gejala alergi baik pada tubuh dan otaknya, di samping itu juga menimbulkan gejala diare. Alergi pada zat-zat aditif atau zat-zat tertentu pada makanan, dapat mempengaruhi suasana hati, perilaku dan proses berpikir. Bahkan dalam jangka panjang akan mempertinggi risiko kanker. Zat-zat dalam makanan lain (secara tidak langsung) yang dapat mengganggu aktivitas massa penghantar saraf otak (neurotransmitter) di otak, di antaranya: aroma sintetis, mono sodium glutamat (MSG), atau salisilat sintetis. Asupan MSG dalam jumlah banyak yang terus menerus dalam jangka pendek akan membuat anak jadi haus, pusing, dan mual. Pen