Juknis Pengisian Blangko Nikah

download Juknis Pengisian Blangko Nikah

of 10

  • date post

    23-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    489
  • download

    96

Embed Size (px)

Transcript of Juknis Pengisian Blangko Nikah

  • KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BIMBINGAN MASYARAI(AT ISLAMNOMOR DJ.II/ Lr42 TAHUN zOLg

    TENTANGPETUNJUK TEKNIS PENGISIAN DAN PENULISAN BLANGKO NII{AH

    DIREKTUR JENDERAL BIMBINGAN MASYARAI{AT ISLAM,Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan

    Kantor Urusan Agama (KUA) kepada masyarakat dibidang nikah rujuk dan tertib administrasi pengisian danpenulisan blangko nikah oleh pegawai pencatat nikah(penghulu), dipandang perlu menetapkan petunjuk teknispengisian dan penulisan blangko nikah;

    Mengingat

    b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan KeputusanDirektur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tentangPetunjuk Teknis Pengisian dan Penulisan Blangko Nikah.

    : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 tentangPencatatan Nikah, Talak dan Rujuk (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1946 Nomor 98, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 69a);

    2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentangPerkawinan (Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 1 Tahun 1974 Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 3019);

    3. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun L975 tentangPelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 7974tentang Perkawinan;

    4. Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2OlO tentangPerubahan Kedua Atas Keputusan Presiden Nomor 42Tahun 2OO2 tentang Pedoman Pelaksanaan AnggaranPendapatan dan Belanja Negara;

    5. Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2OlL tentangPerubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 47Tahun 2OO9 tentang Pembentukan dan OrganisasiKementerian Agama;

    6. Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2oll tentangPerubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 24Tahun 2OlO tentang Kedudukan, T\rgas, dan FungsiKementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugasdan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;

    7. Peraturan Menteri Agama Nomor l L Tahun 2OOT tentangPencatatan Nikah ;

    8. Peraturan Menteri Agama Nomor ILT Tahun 2OO7tentang Pedoman Penilaian Kinerja Unit PelayananMasyarakat di Lingkungan Departemen Agama;

    9. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2OLO tentangOrganisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama;

  • t0. Peraturan Menteri Agama Nomor 517 Tahun 2001tentang Penataan Organisasi Kantor Urusan AgamaKecamatan;Keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2Ol2tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi VertikalKementerian Agama;

    Keputusan Menteri Agama Nomor 99 Tahun 2013 tentangPenetapan Blangko Daftar Pemeriksaan Nikah, AktaNikah, Buku Nikah, Duplikat Buku Nikah, BukuPencatatan Rujuk, dan Kutipan Buku Pencatatan Rujuk.

    t1.

    t2.

    Menetapkan

    KESATU

    KEDUA

    KETIGA

    KEPUTUSANMASYARAKATPENGISIAN DAN

    DIREKTUR JENDERAL BIMBINGANISLAM TENTANG PETUNJUK TEKNISPENULISAN BLANGKO NIKAH

    Menetapkan Petunjuk Teknis Pengisian dan PenulisanBlangko Nikah sebagaimana tercantum dalam lampiranKeputusan ini yang merupakan bagian tidak terpisahkandari Keputusan ini.

    Petunjuk Teknis sebagaimana dimaksud dalam diktumKESATU merupakan panduan bagi pegawai pencatat nikah(penghulu) dalam melaksanakan pengisian dan penulisanblangko nikah di Kantor Urusan Agama (KUA).

    Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

    Ditetapkan di Jakartapada tanggal 19 Nopember 2013

    R JENDERAL 4ISLAM,AN MASYARAKAT

    . ABDUL JAMIL, M.A f.7O414L982O310O3I /.

  • LAMPIRANKEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BIMBINGAN MASYARAI{AT ISLAMNOMOR DJ.ttl rt42 TAHUN 2OL3TENTANGPETUNJUK TEKNIS PENGISIAN DAN PENULISAN BLANGKO NIKAH

    BAB IPENDAHULUAN

    Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 2menyatakan:1. Perkawinan adalah sah, apabila dilaku.kan menurut hukum masing-masing

    agama dan kepercayaannya itu.2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut-peraturan perundang-undangan

    yang berlaku.Di sini jelas bahwa titik berat sahnya suatu perkawinan adalah padasahnya perkawinan itu menurut ketentuan hukum Agama. Disamping ituketentuan administrasi mengharuskan perkawinan yang sah dicatat.

    Setiap Warga Negara Indonesia yang beragama Istam pernikahannyadilaksanakan di hadapan Pegawai Pencatat Nikah, pejabat tersebutberkewajiban mengawasi dan menyaksikan serta melakukan pencatatan.Pencatatan ini sangat penting untuk mendapatkan kepastian hukum bagiyang bersangkutan untuk melaksanakan ketentuan pasal 32 ayat (1)Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2OO7 tentang pencatatan nikah,telah ditetapkan Keputusan Menteri Agama Nomor 99 Tahun 2Ol3 tentangPenetapan blangko daftar pemeriksaan nikah, akta nikah, buku nikah danduplikat buku nikah.

    Dalam suatu pencatatan, sekecil apapun kesalahan hendaknya dapatdihindari, khususnya akta nikah dan kutipan akta nikah. Apabila terjadikesalahan dalam pencatatan akta, akan menimbulkan dampak antara lainotentitas data dipertanyakan sehingga kebenaran data diragukan.Untuk menjaga hal-hal tersebut di atas, maka disusunlah tata cara pengisianblangko ini, untuk dapat dipedomani khususnya oleh para pelaksanaadministrasi, penghulu, dan pejabat terkait.Perlu dikutip beberapa pasal dari Peraturan Menteri Agama Nomor 11. Tahun2OO7 tentang Pencatatan Nikah antara lain :

    Penjelasan PMA 11 Tahun 2OO7

    a. Pasal 33(2) Pengisian blangko-blangko yang digunakan dalam pendaftaranpemeriksaan dan pencatatan peristiwa nikah, cerai/talak dan rujukditulis dengan huruf balok, dan menggunakan tinta hitam;(3) Penulisan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dapat dilakukan denganmenggunakan mesin ketik atau komputer.

    b. Pasal 34(1) Perbaikan penulisan dilakukan dengan mencoret kata yang salah dengantidak menghilangkan tulisan salah tersebut, kemudian menulis kembaliperbaikannya dengan dibubuhi paraf oleh PPN dan diberi stempel KUA;(2) Perubahan yang menyangkut biodata suami, istri ataupun wali harusberdasarkan kepada Keputusan Pengadilan pada wilayah yangbersangkutan.

    Dari Pasal ini diharapkan agar penulisan baru dilakukan setelah ditelitidengan cermat, sehingga terhindar dari kesalahan. Apabila ada kesalahanjangan sekali-kali kesalahan itu ditutup dengan tipp ex misalnya, tetapi harr.s

  • dicoret dua garis pada bagian yang salah dan bagian yang salah itu harustetap dapat dibaca, lalu ditulis pembetulannya pada bagian kertas yang masihtersedia, kemudian Penghulu memberikan paraf pada tiap bagian yangdibetulkan tersebut.

    BAB IITATA CARA PENGISIAN FORMULIR

    1. Daftar Pemeriksanaan Nikah (Model NBf-a. Di bawah tulisan daftar pemeriksaan nikah ada nomor yang harus

    diisi yaitu nomor dari daftar pemeriksaan nikah. Penulisan nomortersebut ditulis secara urut, yaitu nomor urut pemeriksaan dalamtahun yang bersangkutan, kode desa/kelurahan tempat tinggal calonmempelai wanita/tempat dilangsungkan akad nikah, bulandilaksanakan pemeriksaan, dan tahun pemeriksaan. Contoh Nomor :417 /l I 2OI3 Penjelasan : 417 adalah nomor urut pemeriksaan tahunitu; 1 adalah kode desa/kelurahan; 2013 adalah tahun pemeriksaan ;ditulis lengkap dan tidak disingk,r.t.

    b. Hari, tanggal, bulan dan tahun pemeriksaan serta kecamatan danKabupaten f Kota, penulisannya adalah dengan menggunakan huquf,contoh hari senin tanggal lima belas bulan januari tahun dua ribu tigabelas bertempat di KUA Kecamatan Kabupaten lKota

    c. Kolom hari, tanggal, dan waktu pelaksanaan akad nikah,penulisannya dengan menggunakan angka seperti petunjuk padahuruf a. Sedangkan tempat dengan menggunakan huruf.Contoh :Selasa 1 Agustus 2013 M09.00Jalan Melati Putih nomor 2 G Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat

    d. Kolom CALON SUAMI1) Butir 1 Nama ditulis lengkap tidak disingkat, sesuai dengan surat-

    surat keterangan dari kepala desa/lurah dan dicocokkan denganakta kelahiran atau KTP. Ditulis mulai pada awal titik dansesudah huruf terakhir nama, dibuat garis lurus sampai akhirtitik.Contoh : Muhammad alias Mamad------Bagi yang ada perubahan nama, harus dilengkapi dengan namaaslinya.Contoh : Ahmad Khair alias Wijanarko-----Poin 2, 3, 4, 6 dan 8 (tempat dan tanggal lahir, NIK,kewarganegaraan, agama, pekerjaan dan alamat tempat tinggal)diisi sesuai dengan keterangan dari kepala desa/lurah.

    2) Butir 5 (agama) diisi sesuai dengan keterangan dari KepalaDesa/Kelurahan dan atau surat keteranganfpernyataan darilembaga pemerintah atau keagamaan;

    3) Butir 7 (pendidikan terakhir) diisi sesuai dengan keterangan yangbersangkutan.

    4) Butir 9 (orang tualayali, kandung) Nama ditulis lengkap tidakdisingkat, sesuai dengan surat-surat keterangan dari kepaladesa/lurah dan dicocokkan dengan KTP. Ditulis mulai pada awaltitik dan sesudah huruf terakhir nama, dibuat garis lurus sampaiakhir titik.Contoh : Mamad alias Mahmud----------

  • Huruf a, b, c, d, e, f, dan g (tempat dan tanggal lahir, NIK,kernarganegaraan, agama, pekerjaan dan alamat Empat tinggaljdiisi sesuai dengan keterangan dari kepala desa/rurah.5) !u!ir 10 (orang tua/ibu kandung) Na*u. ditulis lengkap tidakdisingkat, sesuai dengan surat-surat keterangan dari'kepaiadesa/lurah dan dicocokkan dengan KTp. Ditulis-rnulai pada awaltitik dan sesudah huruf terakhir nama, dibuat garis lurus sampaiakhir titik.

    8)

    e)

    Contoh: SolehahHuruf a, b, c, d, e, f, dan g (tempat dan tanggal lahir, NIK,kewarganegaraan, agama, pekerjaan dan alamat timpat tinggaljdiisi sesuai dengan keterangan dari kepala desa/lurah.6) Butir 11 (status perkawinan) apabila keterangan dari kepaladesa/lurah status yang bersangkutan perjaka rnaka dilampirkansurat pernyataan bermaterai 6000, selanjutnya kolom duda dankolom beristri di garis silang.Jika berstatus duda, maka dituliskan nama, tempat tinggal bekasistri dan bukti perceraian berdasarkan surat putusan pengadilanAgama/surat kematian, nomor dan tanggal untuk bekas istri ke I,II, dan III.Jika duda lebih dari tiga kali maka bekas istri ke IV danseterusnya ditulis dalam lembar terpisah.7l Butir 12 fiika beristri) maka dituliskan nama istri, Nomor Aktanikah, dan tanggal akta nikah baik untuk istri I, II, dan III, sertamenuliskan